my Love or my Freind

Title : My Love Or My Friend

Author : Nadia Novita .A (shinstarkey)

Place : Unknown

Genre : FriendShip, Romantics

Languange : Indonesian

Main Cast : f(x) Sulli, SHINee Taemin, Kara Jiyoung

(Sulli P.O.V)

Aku menghela napas pada saat pelajaran matematika dimulai. Aku rasa aku benar-benar muak dengan pelajarin ini. pelajaran yang selalu membuatku bingung dan pusing. Tapi lain dengan sahabatku Kang Jiyoung. Dia sangat gemar berhitung dan itulah yang menjadi daya tariknya selama ini. sudah cantik, pintar dan banyak lelaki yang suka dengannya. Berbeda denganku. Aku tidak pintar, aku bodoh, aku malas dan selama ini tidak ada lelaki yang mendekatiku.

Aku berteman dengan jiyoug sudah sejak kami duduk di bangku SD. Dia adalah satu-satunya sahabat baikku, satu-satunya sahabat yang takpernah meninggalkanku walau aku terjatuh. Dan kamipun berjanji kami tidak akan terpisahakan sampai kami dewasa, sampai kami sudah tua.. haha sebenarnya itu janji yang konyol. Kami bisa mengendalikan emosi satu samalain, bila di antara kami ada masalah pasti ada yang mengalah duluan, entah aku duluan atau jiyoung, atau mungkin kami berdua sama sama mengalah. Begitulah kami. Tepatnya kami sudah seperti saudara kandung. Bahkan lebih. Orang tuaku juga sangat mengenal jiyoung. Begitu juga denganku, aku juga sangat mengenal kedua orangtua jiyoung.

__

Aku membuka buku matematikaku dan aku hanya menatapnya tidak membacanya atau menghitung angka yang ada di dalam sana. Bagaimana aku bisa mengerjakan semua ini bila aku tidaqk mengerti sama sekali caranya.

Aku merasakan seseorang melempar sebuah kertas ke arahku dari belakang. Aku segera membalikan badanku dan menatap jiyoung.

“Heii Sulli !!” sahutnya agak berbisik ke  arahku. Aku mengerutkan keningku menatapnya.

“kau kenapa?” sahut jiyoung lagi. Aku segera menggelangkan kepala. Menandakan bahhwa tidak ada apa-apa. Aku tidak mau dia tahu aku lagi kesusahan mengerjakan semua soal ini. yang ada aku malah merepotkannya. Aku tahu dia paling tidak tega membiarkanku kesusahan sepeti ini. mungkin kalau saja aku bilang padanya, dia pasti akan langsung membantuku dan mengabaikan pekerjaannya sendiri.

“sulli-ah..Hwaiting!!” jiyoung memberikan semangat untukku. Aku senang dia sangat perhatian denganku. Dan membuatku ingin berjuang mengerjakan semua soal matematika ini.

__

Aku berjalan di lorong sekolah. Menuju sebuah perpustakaan. Aku tidak bersama jiyoun. Karena jiyoung sedang ada keperluan pada sains club yang ia tekuni. Dan selama jiyoung mengurusi keperluannya itu aku akan menuju perpustakaan untuk berdiam diri sambil mendengarkan ipod ku. Dan kemudian jiyoung akan menyusulku disitu.

Aku membuka pintu perpustakaan dengan sangat pelan, aku tahu disini tidak boleh berisik dan ternyata aku berpapasan dengan seseorang yang selama ini aku mengaguminya. Tapi tak pernah aku menyatakan perasaanku padanya. Karena ku pikir aku tak akan cocok dengannya. Sebenarnya ia sangat tertutup dan tidak banyak orang mengenalnya, tapi kalau sudah melihat senyum darinya mungkin semua wanita akan terpanah. Contohnya aku. Yang ku maksud adalah Taemin. Lelaki kurus tinggi yang sering ku lihat pada saat di perpustakaan. Ia juga sering Berdiam diri sambil mengenakan headset besar yang memenuhi seluruh kupingnya seakan tidak ingin di ganggu orang.

Aku berpandangan beberapa detik dengannya. Wajahnya sangatlah angkuh tapi aku menyukainya. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan berjalan keluar dari perpustakaan. Aku segera masuk kedalam perpustakaan masih dengan tampang tercengang karena taemin tadi.

Aku memang sudah menyukai taemin sejak lama tapi aku tidak pernah bercerita pada jiyoung. Mungkin dia akan marah kalau tau aku menyimpan rahasia yang tak dia ketahui.  Maaf jiyoung mungkin untuk urusan taemin aku tidak berani cerita denganmu. Aku cukup memendam perasaan ni sendiri agar tidak ada yang tahu.

__

Aku duduk  sendiri di sudut perpustakaan sambil memeluk kedua lututku. Ipod yang terpasang dengan lagu you are My destiny dari Krystal dan Luna f(x) membuatku terbayang sosok lelaki yang selama ini aku harapkan. Aku berfikir bisakah aku menjadi kekasih Taemin. Itu sepertinya mustahil. Dia sangat dingin, angkuh dan tidak mudah bergaul, itulah pengamatanku saat ini.

Aku memejamkan mataku dan terus terbayang Taemin di otakku. Tiba-tiba semuanya itu buyar karena sebuah sentuhan pada bahuku.

Aku membuka kedua mataku dan menemukan jiyoung di hadapanku.

“Sulli ?? Kau kenapa?” jiyoung menatapku dengan tampang yang sedikit khawatir, aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum ke arahnya. “aku tidak apa-apa.. aku hanya kelelahan..” jawabku sambil terus tersenyum kepadanya.

“baiklah mungkin kau butuh istirahat.. ayo kita pulang. “

__

Aku menjatuhkan diriku di sebuah sofa yag ada di kamarku. “lelahnya” keluhku pelan. Jiyoung menghampiriku dan duduk di sampingku. Ia memang sering sekali kerumahku, hampir setiap hari. Karena rumahku paling dekat dari sekolah di banding rumahnya.

“sulli-ah… Kau mau tahu ? “ jiyoung tersenyum ke arahku menunggu respon dariku.

“apa?” aku membetulkan posisi badanku menjadi terduduk.

“ tadi aku baru saja bertemu dengan cinta pertamaku waktu kecil, di depan perpustakaan?” jiyoung kembali memnunjukan senyumnya. “Cinta pertamamu? Siapa? Di juga sekolah di sekolah kita?” aku memancarkan tampang bertanya-tanya, aku memang sangat penasaran dengan seseorang yang di ceritakan jiyoung tersebut. Karena jiyoung sering menceritakan masa kecilnya bersama orang itu, seperti cinta sejati yang tidak pernah terpisahkan, dan aku rasa itu benar, selama ini mereka terpisahkan oleh jarak tetapi sekarang mereka bertemu lagi.

jiyoung menganggukan kepalanya, sepertinya dia sangat senang sampai-sampai tidak berhenti memancarkan senyumnya. “iya, dia satu sekolah dengan kita.. aku saja tidak menyangka.. kau mau tahu namanya?”.

Aku membalas dengan anggukan kepala dan wajah penasaran, jiyoung mulai membuka mulutnya. “namanya Lee Taemin…”

Sebuah nama yang tak asing bagiku dan aku sangat tercengang dengan perkataan jiyoung. Cinta pertama jiyoung adalah taemin ?? itu membuat napasku mendadak sesak dan tidak ada wajah penasaran lagi yang terlihat pada diriku.

“TAEMIN?” sahutku agak spontan dan langsung membuka mataku lebar-lebar. Jiyoung menganggukan kepalanya lagi. “iya.. Taemin.. atau jangan-jangan kau sudah kenal dengannya?” jiyoung terus menatapku dengan sedikit wajah penasaran menunggu jawabanku.

“Tidak.. aku tidak mengenalnya.. bahkan aku tidak tahu yang mana orangnya.” Aku sengaja berbohong pada jiyoung, aku tak mungkin bilang bahwa aku tahu taemin, apa lagi aku bilang bahwa aku suka dengan taemin. Itu pasti sangat menyakitkan perasaannya.

“Oke.. kalau begitu besok aku akan mengenalkanmu dengannya.” Jiyoung menunjukan sederet gigi nya dengan tampangnya yang terus-terusan memancarkan kesenangan. Aku hanya tersenyum kecil ke arahnya.

__

Aku tidak menyangka apa yang aku dengar tadi siang. Taemin cinta pertama jiyoung. Ini sedikit menyakitkan hatiku dan aku jadi selalu memikirkan hal itu. Aku rasa aku patah hati.. Aku sadar aku tidak dapat bersama taemin. Dia cinta pertama jiyoung, sahabat baikku sendiri. Dan lagi pula aku juga tidak lebih baik dari jiyoung. Aku urungkan niatku untuk mengejar taemin lagi. Aku rasa aku harus melupakannya. Dia adalah cinta sejati sahabatku, aku tidak akan mungkin menghianatinya. Aku akan mencoba mengalah.

__

Aku berjalan ke sebuah meja kantin yang terletak agak memojok pada tembok. Aku duduk di sana sambil membawa kotak makanku dan sebotol jus jambu kesukaanku. Jiyoung mengikutiku dari belakang yang juga sembari membawa kotak makannya. Aku duduk di kursi yang bersandar pada tembok dan jiyoung duduk tepat di depanku. Tiba-tiba jiyoung melambaikan tangan ke arah meja sebelah, dan aku mulai menoleh ke arah meja sebelah itu. Aku melihat Taemin yang duduk tepat pada meja yang ada di sebelah meja kami. Taemin tersenyum pada jiyoung, senyum yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Senyum itu di tunjukan untuk jiyoung, sungguh beruntungnya jiyoung.

Taemin berjalan ke arah kami dan duduk tepat di samping Jiyoung. Aku hanya menarik napas pelan saat memandang mereka berdua.

“Sulli.. ini yang namanya Taemin.. “ jiyoung mulai memancarkan kesenangannya. Aku menganggukan kepalaku ke arah taemin yang sebelumnya belum pernah aku lakukan padanya. “Aku sulli..” sahutku pada taemin. Taemin pun membalasku dengan anggukan kepala juga. “ Aku Taemin” sahutnya.

Aku hanya terdiam sambil memakan bekalku, sebenarnya aku tidak kuat melihat Taemin dan jiyoung yang sedang mengobrol sambil memancarkan kesan bahwa mereka saling merindukan selama berpisah.

“Sulli-ah.. kau mengapa hanya diam?” Jiyoung tiba-tiba mengalihkan pandangannya dari taemin dan menatapku. Aku tersenyum ke arahnya walaupun agak sedikit terlihat rasa terpaksa pada senyumku.

“Aku tidak apa-apa.. aku hanya tak enak badan.. sebaiknya aku ke kelas duluan.. dan juga kalian pasti ingin mengobrol tanpa di ganggu orang lain” aku merapihkan kotak makanku dan aku segera pergi dari situ.

__

Aku hanya terdiam dalam kelas sambil memandangi sebuah buku tulis di hadapanku. Aku menyadari seharusnya aku tidak boleh bersikap seperti itu di depan jiyoung dan taemin. Aku memang menyukai taemin tapi aku harus melupakannya. Sudah terbukti bahwa taemin sangatlah dekat dengan jiyoung, dan aku yakin mereka akan bersatu lagi. Aku harus melupakan taemin. Daripada aku terus merasa sakit melihat sahabatku sendiri bersamannya. Aku rasa aku agak sedikit Egois.

Bell tanda istirahan berakhir berbunyi nyaring di telingaku. Aku menoleh ke arah pintu yang sekarang berdiri jiyoung yang sedang berjalan ke dalam kelas sambil terus tersenyum. Ia menghampiriku dan  duduk di bangku depanku.

“Sulli.. kau sudah tidak apa-apa?” tanyan jiyong sambil menatapku.

Aku hanya menganggukan kepalaku kearahnya dan agak menundukan kepalaku, aku tidak mau ia melihat wajahku yang sekarang sedang tidak jelas apa ekspresi yang di pancarkan disana.

“Aku sangat senang.. Taemin sangat baik denganku, ia masih sama seperti dulu.” Sahut jiyoung tiba-tiba yang mengapa agak membuatku lemas mendengarnya. Aku mulai tersenyum lagi pada jiyoung “selamat yah.. kau sudah menemukan cinta pertamamu lagi.. aku sangat senang mendengrnya.” Sahutku padanya. Walau agak berbohong tetapi aku sangat senang melihat sahabatku senang seperti ini.

__

Semua cara untuk aku melupakan Taemin sudah aku lakukan.. tapi tetap saja bayangan taemin selalu memenuhi seluruh pikiranku, aku bisa melupakannya, sosok taemin selalu sempurna di mataku dan itu membuatku tambah menyukainya. Dan begitu juga dengan jiyoung yang aku rasa dia juga semakin menyukai taemin. Ia setiap hari selalu bercerita tentang taemin kepadaku. Hal ini sangat membuatku bingung. Aku sepertinya terjebak di antara taemin dan jiyoung.

Jiyoung sering menunjukan kedekatannya dengan taemin di hadapanku, dan aku hanya bisa menghela napas dan menahan emosiku, aku harus bisa menerima ini semua.

Selepas adanya jiyoung aku dan taemin juga sering bertemu, tepatnya kami bertemu di perpustakaan. Tidak ada kata-kata yang kami keluarkan saat bertemu tidak seperti layaknya taemin dan jiyoung saat bertemu, kami hanya saling menatap, tidak ada kata sapaan atau semacamnya. Kami hanya melakukan kebiasaan yang kami lakukan dulu sebelum kami saling kenal. Bukan ini yang aku harapkan setelah berkenalan dengannya, mengapa ia selalu bersikap dingin terhadapku?

__

“Sulli, kau di panggil oleh guru olahraga, kau disuruh menemuinya di ruang guru.” Seorang Temanku menghampiriku sambil menyampaikan berita tersebut. Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan hendak menuju ruang guru.

Aku berjalan pelan menyusuri lorong-lorong sekolah yang mengarah ke ruang guru. Dan lagi-lagi hal yang sama ku alami. Aku berpapasa dengan Taemin lagi. Taemin juga hendak masuk kedalam ruang guru. Awalnya kami saling bertatapan tapi taemin segera mempercepat langkahnya untuk masuk duluan ke ruang guru.

Aku terus memandang taemin dari arah belakang hingga kami berjalan berlawanan arah. Aku berjalan ke arah meja guru olahragaku dan sepertinya Taemin berjalan ke arah meja guru kesenian.

“Permisi pak,ada apa bapak memanggil saya?” sahutku saat aku sampai di depan meja guru tersebut. Guru olahraga itu membalikan badannya ke arahku, dia bernama pak Donghae.

“Oh Sulli, kau sudah datang menemuiku.. Nilai olahragamu kurang, sulli..dan banyak nilai yang di bawah rata-rata.” Pak donghae serius memandangi buku nilainya. Aku hanya terdiam sambil menndukan kepala. pak Donghae menatap ke arahku dan tersenyum ke arahku. Bukan senyum yang pernah aku lihat sebelumnya dari sosok guru muda tersebut. Aku jadi takut menatapnya, karena sepertinya senyum yang ia pancarkan adalah senyum yang terlihat ‘Genit’.

Aku terus menundukan kepalaku tanpa melihat ke arah pak Donghae. Tiba-tiba kedua tangan pak donghae menggenggam tanganku dan menarik ku hingga berdiri agak dekat dengannya. Ada apa dengan guru ini ?

“Sulli, kalau begitu kau akan mengikuti pengambilan nilai sendiri, karena hanya kau yang mempunyai nilai seperti ini.” Pak donghae kembali menunjukan senyumnya itu tapi itu malah semakin membuatku takut, sikapnya bukan seperti  sikap yang biasa ia tunjukan kepada murid yang lain. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, aku takut tetapi aku tidak berani melawan guruku sendiri.

Pak donghae kembali menggenggam tanganku, rasanya aku ingin berteriak minta tolong karena ini bukan sikap yang wajar. Tapi mulutku serasa tak bisa terbuka.

“Pak, bolehkah saya kembali ke kelas?” sahutku yang agak sedikit takut.

“Jangan.. Kau disini dulu, urusan kita belum seleai.” Sahutnya yang semakin membuatku takut. Aku sedikit memejamkan mataku. Aku takut melihat wajah pak donghae yang terus memancarkan wajah nakalnya. (?)

Dan tiba-tiba terdengar suara yang menghampiriku dari belakang dan melepaskan tanganku dari genggaman pak donghae. Aku membuka mataku dan mendapatkan Taemin yang sudah berdiri sambil menggenggam erat kerah baju pak Donghae.

“Anda adalah seorang guru disini. Apakah pantas melakukan Hal seperti itu pada muridnya sendiri?” sahut Taemin agak dingin ke arah pak donghae.

“Ya!! Lee taemin!! Lepaskan baju saya! Saya ini guru mu! Kau sudah bertingkah kurang Ajar.!” Pak donghae memasang Tampang marah nya pada taemin.

“Dalam kasus ini yang di anggap kurang ajar adalah bapak.” Balas Taemin  yang langsung membalikan badannya ke arahku dan tiba-tiba ia menggandengku keluar dari ruang guru.

__

Taemin membawaku keluar ruang guru, aku tak percaya dia melakukan ini padaku. Yang aku tahu ia tidak perduli denganku. Taemin melepaskan tangannya ketika kami sampai di luar. Ia membalikan badannya ke arahku. orang yang selama ini aku kagumi sekarang tepat di hadapanku.

“Kau tidak apa-apa?” tiba-tiba taemin membuka mulutnya. Sambil terus memasang tampang dingin padaku.

“iya. Aku tidak apa-apa… terimakasih” balasku. Aku terus menundukan kepala, karena aku sadar bila aku terus memandanginya, rasa suka ku padanya tidak akan hilang. Aku tidak mau mengecewakan jiyoung, lagian taemin memang untuk jiyoung.

“Sama-sama.. lain kali kau tidak boleh takut pada guru yang berbuat seperti itu.” Taemin sedikit memberlihatkan senyum manisnya padaku, dan itu membuatku tidak dapat menahan perasaan suka ku padanya.

“Sulli~” dari arah belakang terdengar suara orang memanggilku, aku segera mebalikan badanku. Di sana terdapat jiyoung yang tengah berlari ke arahku dan taemin. Oh sial.. mengapa dia datang saat keadaan seperti ini, aku tidak mau di anggap sedang mengambil pacar temanku sendiri. Aku takut jiyoung akan salah paham denganku.

“sedang apa kalian berdua disini?” jiyoung mendekat ke arahku, sambil memasang tampang curiga.

“Aku habis dari ruang guru, dan ternyata aku bertemu dengan Sulli” sahut taemin tiba-tiba. Dia membuatku tenang setelah mendengar pertanyaan jiyoung yang tadi membuatku bingung.

“baiklah.. Ayo sulli, kita ke kelas.. pelajaran selanjutnya akan di mulai..” jiyoung tersenyum ke arahku dan merangkul ku berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke kelas.

__

Semakin hari aku semakin menyukai taemin, ini memang salah dan sangat salah. Aku merasa telah menghianati temanku sendiri. Mengapa aku tidak bisa melupakan Taemin?? Padahal itu ingin sekali aku lakukan. Tapi mengapa sosok taemin di hadapanku selalu terlihat sempurna dan terus mebuatku menyukainya. Tapi selain itu jiyoung juga semakin menunjukan kerekatannya denngan taemin, mereka sering jalan berdua dan sering peri berduaa. Dan itu sedikit membuat aku iri dengan jiyoung, aku juga ingin seperti itu.

Tapi beberapa hari terakhir ini taemin sudah menunjukan perubahan saat bertemu denganku, ia sudah mau tersenyum padaku dan menyapaku, itu sudah menunjukan kemajuan yang pesat menurutku.

__

“sulli-ah apa besok kau mau ikut dengan ku dan Taemin.. kami akan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan..?” tanya jiyoung saat meneleponku.

“Apa aku tidak mengganggumu dan taemin bila aku ikut?”

“Tidak.. kau kan sahabatku.. hehe besok kita bertemu langsung di sana yah..”

“Oke.. “

Aku segera menutup telephone genggamku, dan menjatuhkan diri ke arah tempat tidurku, apa aku salah yah bila ikut dengan mereka , yang ada aku hanya mengganggu mereka dan mungkin itu juga akan membuatku semakin iri dengan jiyoung. tapi tak apa-apa.. Aku harus kuat.

__

“Maaf aku terlambat..” sahutku sambil membungkukan badanku 90 drajat. Aku agak sedikit terlambat menemui taemin dan jiyoung yang sepertinya sudah menungguku dari tadi.

“tenang saja.. ga apa-apa kok.” Jiyoung menepuk pundaku. “ayo kita jalan!!” sahutnya lagi sambil menggandeng tangan Taemin.

Sekarang jiyoung tidak lagi merangkul atau jalan bersamaku ketika kami jalan-jalan. Karena kehadiran taemin dia jadi selalu bersama taemin. Terlihat sangat mesra di antara mereka berdua. Aku hnya mengikuti mereka dari belakang. Aku menghela napas dan tetap meneruskan langkahku mengikuti mereka.  “Ayolah sulli, apa yang sedang kau pikirkan.. kau tidak boleh cemburu dengan jiyoung. Taemin memang milik jiyoung.. mereka saling mencintai..” sahutku pada diri sendiri.

Kemesraan mereka selalu nampak di mataku. Seharusnya dengan melihat seperti itu rasa suka ku pada taemin berkurang, tapi entah mengapa aku malah tetap menyukai taemin, aku merasa aku ingin sekali merebut taemin dari jiyoung. aku rasa aku sangat egois.

__

“sulli, taemin .. aku ke kamar mandi dulu yah.. kalian boleh makan duluan kok” Jiyoung meninggalkanku dan taemin di sebuah restoran. Rasa canggung menguasai suasana. Aku hanya terdiam menyantap makanan yang ada di depanku. Begitu juga dangan taemin. Rasa deg-degan menguasai diriku. Tiba-tiba taemin memecahkan keheningan.

“Sulli, kau sudah lama berteman dengan jiyoung?” tanya taemin tiba-tiba ke arahku.

“sejak kami SD.. “ sahutku agak tegang. Aku tak terbiasa mengobrol dengan taemin seperti ini. dan kalau jiyoung tidak mengenal taemin seperti ini mungkin aku tidak akan mengenalnya seperti ini juga.

“Kau sudah mempunyai pacar?” perkataan taemin itu membuatku tersentak dan hampir memuncratkan makanan yang ada di mulutku. Bagaimana tidak, ia bertanya hal yang tidak aku bayangkan sebelum nya. Aku hanya menggelengkan kepalaku ke arahnya. Dan ia hanya membalasku dengan senyuman.

Tak lama jiyoung datang menghampiri kami dan duduk tepat di sebelah taemin.

“wah kalian sudah berteman yah? Akrab sekali. Haha” jiyoung  kembali menggandeng tangan taemin. Dan taemin hanya terdiam. Aku melihat mereka memang sangat serasi, jiyoung sangat cantik, pintar begitu juga dengan taemin, di sangat tampan , pintar…

__

Aku masih terbayang dengan perkataan taemin yang tadi, mengapa ia harus bertanya tenang pacar?  Aku jadi menghayal yang tidak-tidak. Sayang aku tidk bisa mendapatkan taemin. Sepertinya aku harus mencari laki-laki lain. Aku tidak boleh terus berharap pada taemin.

__

Aku berjalan menuju perpustakaan seusai pelajaran terakhir. Seperti bisa aku menunggu jiyoung disana. Aku harap aku tidak bertemu taemin disana, karena aku ingin melupakan taemin.

Aku membuka pintu perpustakaan pean dan langsung berjalan ke arah sudut ruangan dimana aku bisa menyendiri sambil mendengarkan musik ke sukaan ku. Aku mengelurarkan ipod dari dalam tasku dan memasang headset di telingku. Lagu mulai mengalun di kuping ku. Aku mulai memejamkan mataku dan seperti biasa dalam ke adaan seperti ini aku akan berhayal.

Bayangan taemin muncul lagi dalam pikiranku, ya tuhan.. mengapa aku tidak bisa melupakan taemin. Mengapa aku tidak bisa melepaskan taemin untuk jiyoung? Aku bingung. Jiyoung adalah sahabatku, dan taemin adalah cinta pertamanya. Aku tidak mungkin menghancurkan hubungan mereka, dan kalau itu terjadi mungkin hubunganku dengan jiyoung juga akan berakhir. Aku bingung.

Seseorang menyentuh pundakku dan aku segera membuka mataku lebar-lebar. Aku menrira orang itu adalah jiyoung dan ternyata tebakanku salah. Orang itu adalah taemin, haduh mengapa harus taemin sih?

“Sulli.. ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Sahut taemin pelan ke arahku sambil membantuku berdiri dalam posisi yang benar. Aku menganggukan kepalaku perlahan, aku memasang tampang bingung ke arahnya, tapi sepertinya ia tak perduli. Ia menggandeng tanganku hingga keluar dari perpustakaan. Apa yang ingin ia lakukan?

Jantungku berdetak semakin kencang. Aku takut kalau taemin bisa merasakan juga detak jantungku ini. Tiba-tiba aku teringat pada jiyoung. Seharusnya aku tetap berada di perpustakaan. Ia pasti mencariku disitu.

“Taemin! Tunggu.. bagaimana dengan jiyoung? Aku berjanji menunggunya disana, dan ia pasti ia akan mencariku bila aku tak ada..” aku menghentikan langkahku sambil memandang taemin yang dari tadi terus menuntunku. Taemin membalikan badanya dan menatapku.

“baiklah.. kita bisa berbicara disini..” sahutnya pelan sambil tetap menatapku. Tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya karena tidak ada kesan dingin di dalamnya. Dia bukan seperti taemin yang aku kenal.

“Sulli.. maukah kau jadi pacarku?”

Aku membuka mataku lebar-lebar dan menatap taemin. Oh God! Apa yang ku dengar ini benar? Ini sangatlah tidak mungkin. Aku sangat tercengang mendengar perkataannya. Tetapi aku masih teringat pada jiyoung. Aku tidak boleh berkhianat padanya.

“Taemin maaf.. Aku tidak bisa.” Tak terasa kata-kata itu keluar sendiri dari bibirku dan entah mengapa airmata jatuh di pipiku. Tiba-tiba taemin  menggenggam tanganku.

“Mengapa? Kau tidak suka denganku? Dan mengapa kau menangis?” taemin menghapus airmataku pelan dan mengangkat wajahku agar aku menatapnya. Aku semakin tidak kuat menhan isak tangisku. Aku memang masih belum bisa menerima semua ini. Aku menyukai taemin tapi aku harus menolaknya.

“Jiyoung… dia sangat mencintaimu. Dan aku tidak mungkin merusak itu semua. Dia sahabatku.” Aku kembali menundukan kepalaku. Aku tidak ingin menatap taemin lagi karena itu semakin membuatku sakit.

“Jiyoung adalah masalalu bagiku. Dan sekarang aku menyukaimu. “ Aku tahu taemin sekarang sedang meyakinkanku tapi aku tetap saja tidak bisa. Walaupun sakit tapi ini yang harus aku lakukan.

Aku menepis kedua tangan taemin sambil menahan airmataku untuk keluar lagi.

“Taemin. Maaf aku tidak bisa. Sebaiknya kau tetap bersama jiyoung.”

Aku segera berlari meninggalkan taemin dan langsung menuju perpustakaan lagi.

__

Aku menemukan jiyoung yang tengah berdiri di depan perputakaan. Ia menghampiriku dengan tampang sedikit khawatir. Sepertinya ia melihat wajahku yang habis nangis itu.

“sulli? Kau kenapa? Siapa yang membuatmu menangis?” jiyoung memelukku saat aku tepat di hadapannya.

“aku tidak apa-apa.. aku ingin pulang. Bisa kita pulang sekarang?”

Balasku sambil sedikit menundukan kepalaku. Jiyoung menganggukan kepala sambil terus merangkulku.

__

“SULLI!! Mengapa kau masih terus menangis!! Lupakan taemin!!” Aku berteriak pada diri sendiri. Hatiku terasa sakit setelah kejadian tadi siang.

Ini adalah cobaan untukku, dan aku sudah mencoba untuk bisa kuat. Tapi tetap saja aku tidak bisa.. ini sangat menyakitkan..

Tiba-tiba suara telephone genggamku berbunyi aku segera melihat ke layarnya dan mendapatkan nama jiyoung yang melephone ku itu.

Aku segera mengangkatnya dan menghapus semua armataku.

“jiyoung-ah.. ada apa?” sahtku pelan.

“sulli? Mengapa dengan suaramu? Kau menagis lagi?” terdengar nada khawatir pada kata-kata jiyoung.

“aku tidak apa-apa. Hanya sedikit flu.” Aku berbohong pada jiyoung.

“kau harus minum obat yah.. jangan sampai kau sakit parah..”

“iya.. aku mengerti.. ada apa kau menghubungiku?”

“aku ingin bercerita.. tadi siang aku baru saja jadian lagi dengan taemin.. aku menyatakan perasaanku padanya. Dan ia menerimaku lagi…aku sangat senang…!!” terdengar nada gembira di balik perkataan jiyoung. Tapi itu malah menambah rasa sakit pada hatiku.

__

Semalaman jiyoung hanya bercerita tentang taemin padaku. Aku terus menanggapinya walaupun agak sakit. Tapi aku kuat untuk mendengarkan semua ceritanya.

Aku berjalan bersama jiyoung menuju kelas kami berdua. Tak sengaja kami bertemu taemin. Jiyoung langsung berjalan ke arah taemin dan menggandeng tangannya.

Taemin terus memadangku dengan tampang dinginnya lagi..

Aku tahu, pasti ia sangat marah padaku.

Tapi itu tidak masalah, aku bisa merelakan taemin untuk jiyong.

__

Hari-hari sudah berlalu semenjak taemin dan jiyoung menjalin hubungan cinta mereka lagi. Dan aku sudah mulai bisa menerima walalupun masih ada yang mengganjal dalam hatiku. Karena aku masih mencintai taemin. Taemin masih terlihat dingin padaku. Dia selalu mengalihkan pandangannya saat bertemu denganku. Seperti dulu pada saat kami belum kenal. Mungkin ini cara yang baik untuk aku melupakannya.

Hari ini jiyoung akan pergi untuk home stay di luar negri. Dan aku mengantarnya sampai bandara. Terasa aneh bagiku saat mengantarkannya pergi. Seperti tak rela ia akan pergi jauh. Padahal ia hanya pergi hanya untuk sebulan.

Aku memeluknya erat serasa tak mau pisah.

“jiyoung.. kau harus jaga dirimu baik-baik..” sahitku sambil terus memeluknya.

“iya.. pasti..kau juga yah.. “ jiyong tersenyum ke arahku. Mungkin aku akan rindu senyum dari sahabatku itu.

Jiyoung melepas pelukanku dan memeluk taemin yang ada di sebelahku.

“jagiya.. aku titp sulli padamu.. jangan sakiti dia.. mengerti.” Sahut jiyoung pada taemin, yang sedikit membuatku bingung dengan perkataannya. Tapi aku tidak menghiraukannya.

Jiyoung membalikan badannya dan melambaikan tangan ke arahku dan taemin. Kemudian ia berjalan mennggalkan kami berdua.

__

Aku terduduk di sofa sambil iseng menyalakan TV di kamarku.

Sebuah berita yang ku tonton.

Kecelakaan pesawat. Bayanganku sudah berarah ke hal yag negatif. Aku takut bahwa itu adalah pesawat yang jiyoung gunakan.

Aku terus memperhatikan dengan teliti berita tersebut.

Dan dugaanku benar. Itu pesawat jiyoung.

Airmataku terus mengalir kencang. Aku tak bisa menahan lagi. Dan di kabarkan bahwa tidak ada korban selamat di dalamnya.

__

Aku telah kehilangan sahabatku. Sahabat yang selama ini menemaniku. Dia adalah sahabat terbaikku. Dan aku belum bisa menerima kepergiannya.

Hari pemakaman jiyoung di selimuti oleh rintik-rintik hujan. Seperti langit juga menangis karena kepergiannya. Perasaanku bercampur aduk. Aku tidak henti-hentinya mengeluarkan airmata. Seseorang yang sangat aku sayang sekarang sudah tidak ada.

Tiba-tiba seseorang memelukku dan membelai halus rambutku. Aku tahu dia taemin. Taemin yang memelukku. Aku tak bisa menahan tangisku di hadapannya.

“sulli, kau pasti kuat.” Taemin membelai halus rambutku lagi. Aku hanya mencoba menahan tangisku.

__

Ibu jiyoung menghapiriku yang tengah terduduk di sofa rumah jiyoung bersama taemin yang terus menenangkanku,

“Sulli.. sebelum dia pergi. Dia sempat menitipkan surat ini untukmu..” ibu jiyoung memberikan secarik kertas padaku. Aku segera menerimanya.

Aku membuka kertas itu perlahan dan membacanya.

Untuk Sulli..

Sahabat baikku.

Aku ingin meminta maaf pada mu.

selama ini aku selalu menyusahkanmu

Aku selalu mempersulitmu. Kau selalu mengalah padaku.

Maaf aku telah merebut taemin darimu.

Sebenarnya aku tahu Taemin menyukaimu. Dan aku juga tahu kau menyukai Taemin.

Tapi karena ke-egoisanku aku merebut taemin darimu.

Hubunganku dan Taemin memang sudah masalalu yang tidak dapat kembali. Dan sekarang taemin menemukanmu, seseorang yang benar-benar di cintainya.

Seharusnya kau tidak usah mengalah, aku yang harusnya mengalah.

Aku sangat minta maaf padamu.

Dan aku berharap kau bisa menjalin hubungan baik dengan taemin.

Salam sayang jiyoung

-Kang JiYoung-

Airmata turun dengan derasnya di pipiku.

Taemin memlukku erat dan menghapus airmataku.

Dan aku hanya menangis di pelukannya.

__

Seminggu sudah kepergian jiyoung. Dan kemudian taemin menyatakan perasaannya lagi padaku. Dan aku menerimannya..

Aku tidak akan lupa dengan sosok jiyoung sebagai sahabatku..

Tidak akan pernah terlupakan untuk selama-lamanya..

Aku bersama taemin sekarang juga karenanya. Ia sudah banyak berkorban untukku.

Aku menyayangimu Jiyoung.. semoga kau pergi dengan tenang disana…

[END]

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , | 13 Comments

Post navigation

13 thoughts on “my Love or my Freind

  1. terlalu keren T_____T
    Daebak sekali .
    Aku terharu baca ceritanya *lebay
    Fighting !!😄

  2. Aku nangis waktu baca suratnya (˘̩̩~˘̩̩ƪ)

    Sulli tegar bgt ya..

    Daebak!!

  3. gyah..keren~

  4. SooYeon Choi

    Huaaaah *nangis dipelukan Taemin*
    Author yang buat cerita ini DAEBAK!!!
    Ga bisa berkata apa-apa lagi deh

  5. hiks,hiks,.
    Sedih, tp Happy ending😀
    Daebak!

  6. RaChan Jung

    TERHARU T___T
    DAEBAK DEH!!

  7. Daebak! Poster juga mendukung nihh,,😀 Good Luck min🙂

  8. huwaaa aku jadi ikut terharu#lebay

  9. Taellitaelli

    Huuuaaa … Persahabatan dan Cinta🙂
    Daebakk !!! Cerita dan alurnya bagus thor , feel nya dpt … Terharu bacanya😥 bkin taelli lg yah yg banyak .. Hehehe😀 *plak

  10. fai

    Huaaaaaaa author aku terharu *hiks…hiks T(T ceritanya mengharukan! Apalagi kang ji young !! Sulli yg tabah ya!

  11. ¤Babyhyo¤

    Ceritanya aku banget !!! :’
    tapi aku ga tau gimana nanti endingnya !? *miancurcol*
    ffnya ddaebak banget !! Fighting thor !!!

  12. ffangirll

    Ffnya daebak ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: