….Is It OK? [Part 3]

Author: taelliners =))
Main Cast: Lee Taemin / Choi Sulli
Other Cast: Kang Jiyoung, Cho Kyuhyun, Jung Krystal.
Main Cast: Tiffany Hwang, Kim Hyoyeon / Lee Hyukjae,
Lee Sunny.
Genre: Romance, Friendship, Family
Length: Sequel / Multichapter
.
…..Is It OK? [Part 3]
.

Sulli menelusuri koridor sekolah dengan santai, sambil terus memikirkan siapa Jiyoung dimata Taemin. Pacarnya? Temannya? Atau bahkan mungkin bukan siapa siapanya?
“Sulli!”
“Sulli!”
“Ya? Krystal-ah!” Sulli melambaikan tangannya pada Krystal, Krystal mendekat pada gadis itu.
“Ada apa?” Sulli dan Krystal memulai berjalan bersama dikoridor menuju kelas mereka.
“Kau kenapa? Aku memanggilmu berkali kali tapi kau lambat merespon? Ada masalah?”
“Benarkah? Kau sudah memanggilku berapa kali? Aku…..tidak mendengar hehe”
“Tidak mendengar? Aku yakin kau sedang ada masalah. Kenapa? Ceritakan padaku!” Sulli terdiam sebentar, memikirkan apakah hal ini pantas ia ceritakan pada Krystal.
“Hm, tidak. Ohya, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Apa? Tanyakan saja padaku.”
“Hnnn, kau kenala—Jiyoung?” Sulli memiringkan kepalanya sedikit, dia mengharapkan jawaban yang ia inginkan dari Krystal.
“Jiyoung? Ya, aku mengenalnya. Dia sebaya dengan kita. Kenapa?” Krystal menyentuh lengan Sulli pelan.
“Hm?” Sulli menggeleng pelan “…menurutmu dia orangnya bagaimana?”
“Hah? Jiyoung itu…..cantik, baik, sangat berperilaku sopan, dia juga pintar. Dia pernah mengikuti olimpiade sampai keluar negeri. Dan kudengar dia partner Taemin dalam urusan piano.” Sulli menghela nafasnya pelan, sehingga Krystal pun tidak mendengar helaan nafas itu.
“Memangnya kenapa kau bertanya begitu?” Sulli kembali menggeleng.
“Tidak, aku hanya penasaran padanya.”
“Oh, begitu. Kau mengenalnya?”
“Ya, aku baru saja berkenalan dengannya tadi. Hm, satu lagi, dia…kekasih Taemin?” Kali ini Sulli memelankan suaranya.
“Kekasih Taemin? Oh, tentu bukan. Dia hanya bersahabat dengan Taemin.” Sejenak Sulli sangat lega. Pertanyaan yang terus berkutat dikepalanya akhirnya terjawab.
“Tapi yang kudengar, dia menyukai Taemin.”
“Huh?” Perasaan lega Sulli kembali tersingkirkan.
“Memangnya kenapa sih? Daritadi aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu.” Krystal menggaruk kepalanya sebentar.
“Ah, tidak ada apa apa hehe” Sulli tersenyum pada Krystal, berusaha menutupi sebisanya yang sebenarnya.
“Krystal.” Panggil seorang dari belakang mereka. Krystal membalikkan badannya begitu pula dengan Sulli.
“Ya?” Krystal sedikit membungkukkan badannya pada orang yang memanggilnya tadi.
“Kudengar kau berbakat dalam bidang presenter. Bagaimana kalau kau ditawarkan menjadi presenter diacara resmi sekolah nanti?” Krystal terkejut, Park Sonsaengnim; guru kesenian mereka tiba tiba menawarkan hal yang membuat Krystal tersentak.
“Huh? Aku? Tapi aku tidak begitu pandai. Dan, sepertinya aku tidak bisa.” Krystal menolak penawaran tadi dengan baik.
“Oh, baiklah. Aku bisa mencari murid yang lain.” Park Sonsaengnim membalikkan badannya bermaksud untuk berlalu. Krystal melirik Sulli sebentar.
“Hm, tunggu Sonsaengnim.”
“Ya? Ada apa lagi, Krystal?” Park Sonsaengnim kembali membalikkan badannya.
“Kurasa Sulli bisa menjadi presenter. Aku yakin dia berbakat dalam hal itu.” Sulli melebarkan matanya sempurna. Dengan cepat ia memukul lengan Krystal.
“Eung—tidak—”
“Ya, dia bisa. Sulli bisa menjadi presenter Sonsaengnim” Krystal tetap tersenyum pada gurunya itu.
“Sulli? Oh, baiklah. Akan kucatat namamu disini. Aku harap kau melakukan yang terbaik ya.” Park Sonsaengmin menepuk bahu Sulli pelan lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Yaaaa! Jung Krystal!!!”
“Hahaha! Tenang Sulli-ah. Kau pasti bisa! Hwaiting!”
Krystal menunjukkan lidahnya pada Sulli dan berlari meninggalkan Sulli yang sedang bingung disana.

.
.

“Taeminnie, bagaimana kalau kita ketaman belakang sekolah? Tadi kudengar ada pertandingan basket.” Jiyoung menggandeng tangan Taemin seraya berjalan menyusuri sekolah.
“Hm? Ya, boleh.” Taemin tersenyum pada Jiyoung, Jiyoung pun membalasnya.

“Yah, pertandingannya sudah selesai ya?” Jiyoung mengerucutkan bibirnya saat melihat tempat yang mereka kunjungi sudah sepi.
“Hm, sepertinya begitu.”
“Yasudah, kita duduk disini dulu bagaimana? Lagian jam pelajaran dimulai masih lama, kan?”
“Ya” Mereka duduk dikursi taman belakang sekolah. Gandengan tangan Jiyoung sudah dilepasnya.
“Taemin”
“Hn?”
“Aku menyukaimu.”
Jiyoung memandang Taemin yang sedang menatap lurus taman. Taemin tersenyum padanya.
“Hanya senyuman? Apa kau menyukaiku?” Lagi lagi Taemin hanya tersenyum padanya.
“Jiyoungie, kurasa jam pelajaran dimulai 5 menit lagi. Sebaiknya kita segera masuk kekelas.” Taemin beranjak dari kursi taman, diikuti oleh Jiyoung. Jiyoung menghela nafasnya panjang.
“Hahaha, baiklah.” Jiyoung kembali tersenyum pada Taemin.
“….tapi aku harus kekamar mandi dulu. Kau duluan saja ya.” Jiyoung mengangguk dan meninggalkan Taemin berlalu menuju kelas.
Taemin berjalan kearah koridor sekolah.
“Ya Lee Taemin!” Kyuhyun merangkul pundaknya santai.
“Kau mengaggetkanku!” Taemin melepas rangkulan itu dari pundaknya.
“Hahaha ya, maaf. Hey bocah, sampai kapan kau harus menggantungkan gadis itu? Jika kau menolaknya, tolak saja.”
“Hahaha, aku tidak tega jika harus langsung mencampakannya begitu saja.”
“Jika kau memberi harapan kepadanya seperti ini terus, itu akan lebih menyakitkan.”
“Hey! Sampai kapan kau harus menjadi guruku seperti ini?”
“Sampai mati, hahaha” Kyuhyun menepuk pundak Taemin sekilas lalu kembali merangkul temannya ini.

.
.

“Sulli? Kalian sudah pulang?” Hyoyeon mendekati Sulli dan Taemin yang baru saja menapakan kakinya kerumah ini. Sulli tersenyum pada Hyoyeon, dan Taemin? Hanya berekspresi datar dan meneruskan jalannya menuju dapur.
“Bagaimana sekolahmu hari ini? Lancar kan?” Sulli mengangguk beberapa kali sambil masih tersenyum.
“Ohya, anjumma. Umma kemana?” Sulli memutarkan matanya kesemua sisi rumah.
“Oh, ibumu sedang mengurus kios bunganya. Pesan ibumu, istirahat yang cukup. Kau pasti lelah kan?” Sulli kembali mengangguk pada Hyoyeon.
“Ahjumma, aku keatas dulu ya.”
“Ya, beristirahatlah dengan nyaman!” Ujar Hyoyeon dan Sulli berlalu menaiki tangga.
Sulli menelusuri anak tangga itu dengan hati hati, tiba ia dilantai atas, terdengar bunyi piano yang mengalun ditelinganya. Didekatkannya suara piano itu. Ya, Taemin sedang memainkan piano dengan indah. Sulli kembali mengintip Taemin melalui suatu lemari yang dapat menutupi dirinya dari hadapan Taemin.
Untuk yang kedua kalinya, Sulli kagum pada Taemin. Sungguh, dia belum pernah melihat laki laki bermain piano seindah ini. Taemin memainkan piano itu dengan memejamkan matanya. Tapi sesekali ia membuka matanya juga. Sulli tersenyum melihatnya.
“Sampai kapan kau bersembunyi dibalik lemari itu?” Entah ada angin apa Taemin berbicara, berbicara pada siapa? Sulli!
“Ah—uh?” Sulli menampakkan dirinya dan mendekati Taemin yang duduk dikursi piano itu.
“Kau ingin memainkannya juga?” Sulli duduk disamping Taemin dengan hati hati.
“Aku tidak bisa bermain piano.” Sulli menggaruk kepalanya pelan. Taemin kembali menyentuh tuts-tuts piano itu, mamainkan jari jarinya disana, mambawakan nada nada yang kembali membuat Sulli kagum. Kini jantung Sulli berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
“Kenapa kau bisa memainkan piano seindah itu?” Tanya Sulli setelah Taemin berhenti memainkan pianonya.
“Karena bermain piano itu haru menggunakan hati.”
“Hati?”
“Ya, jika tidak dengan hati permainan pianomu akan standar.” Sulli mengangguk menegerti.
“Kau suka bermain piano?”
“Sangat. Hal apapun kulampiaskan dengan bermain piano.”
“Oh, aku mengerti.” Tanpa menjawab apalagi Taemin beranjak dari kursi itu dan berlalu memasuki kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Sulli sekarang.

.
.

Sulli menutupi mukanya dengan setumpuk kertas yang berisi tulisan tidak jelas.
“Aish!!! Bahkan sampai saat ini aku tidak tau harus bersikap apa dipanggung nanti. Krystal memang sangat gila! Acaranya akan diselenggarakan 2 minggu lagi! Matilah aku.” Sulli mengacak rambutnya sendiri, mengambil pena dari tempat pensilnya dan menuliskan kalimat yang harus ia ucapkan nanti.
“Selamat pagi, saya Sulli akan mambawakan acara hari ini…… Aish!!! Itu kalimat yang sangat tidak enak!” Sulli kembali mengacak rambutnya itu. Tiba tiba pintu kamarnya berbunyi, ada seseorang yang mengetuk.
“Ya? Masuk saja— Taemin?”
“Hm, aku ingin mengambil parfume Sunny noona.” Taemin menunjuk sebuah parfume yang terpajang dimeja rias.
“Y-ya, silahkan ambil” Taemin menghampiri meja rias yang dekat dengan meja belajar Sulli ini.
“Kau…..kelihatan berantakan. Sedang stres?”
“Hn? Iya, sangat. Aku tidak tau harus apakan ini”
“Perlu kubantu?” Taemin mendekati Sulli. Jantung Sulli kembali berdegup kencang. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Ah, huh?”
“Apa? Tugas? Ulangan? Atau yang lain?” Kini Taemin menduduki kursi yang terletak disamping kursi Sulli.
“Eung, 2 minggu lagi aku akan menjadi presenter acara sekolah. Dan aku tidak tau harus berbuat apa.” Sulli menggaruk kepalanya yang benar benar tidak gatal itu. Gugup? Jangan ditanyakan lagi soal ini.
“Hmmm, aku mengerti. Sini, biar kubantu.” Taemin merebut pulpen kertas ditangan Sulli dan menuliskan kelimat kalimat disana. Sulli terdiam, melihat wajah Taemin yang sedekat ini dengannya. Demi apapun, hati Sulli ingin keluar dari tubuhnya mungkin saat ini.
“Hmmmm, bagaimana? Ini sudah pantas atau belum?” Taemin menyodorkan kertas yang ditulisinya tadi pada Sulli.
“Huh? Ya, ini sudah bagus kok”
“Hm, jika ada yang kurang kau hanya perlu beritahuku saja. Kau tinggal memasuki susunan acaranya disana.” Sulli mengangguk dengan cepat.
“Dan—eum, apa kau sudah berlatih bagaimana cara membawakan acara?” Taemin beranjak dari kursinya, Sulli menggeleng pelan.
“Nah, ayo berdiri. Mungkin aku bisa mengajarkanmu.” Untuk yang kesekian kalinya Sulli terdiam. Tubuhnya ingin sekali terbang saat ini juga.
“Baikalah.” Sulli beranjak dari kursinya dan bediri disamping Taemin.
“Yang paling utama, kau harus berdiri dengan tegap. Seperti ini.” Taemin memberikan contoh pada Sulli.
“Oh, seperti ini?” Sulli mengikutinya, membuat Taemin tertawa melihat Sulli mengikuti gayanya. Sulli memperhatikan wajah Taemin, sungguh, baru kali ini Taemin tertawa dihadapannya! Sulli menyimpulkan senyumannya. Jantungnya semakin berdebar.
“Hahaha, buka seperti itu. Tapi seperti ini.” Taemin menyentuh pundak Sulli lembut. Membenarkan posisi Sulli yang lucu. Melihat Taemin menyentuh pundaknya, wajah Sulli memerah. Kenapa hari ini terasa sangat indah?! Batinnya daritadi.
“Euh?” Sulli sedikit mengeluarkan suaranya tanda terkejut.
“Hey! Jangan kaku seperti itu. Santai saja.” Taemin kembali menyentuh pundak Sulli pelan. Sedikit merubah posisi berdirinya.
“Nah, begini mungkin lebih baik dilihat dari panggung nanti”
“…. Ya” Sulli tersenyum kaku, suruhan Taemin yang bilang bahwa dia tidak perlu kaku tadi malah membuatnya menjadi tambah kaku.
“Sekarang, coba kau baca teks yang kutulis tadi.” Taemin menunjuk teks yang tergeletak dimeja menggunakan dagunya.
“Hm, baiklah.” Sulli mengambil teks tersebut dengan sigap dan membacanya perlahan.
“Ehm” diawali dengan suara itu “Selamat siang, saya—” Sulli memulai.
“Ya! Tidak seperti itu. Kau tidak perlu segugup itu. Kau perlu senyumanmu juga.” Sulli menganggukan kepalanya beberapa kali.
Ah! Dia masih saja kaku. Alasannya? Yah sudah pasti karena Taemin terus memperhatikan gerak geriknya.
Sunny— yang sedaritadi ternyata memperhatikan mereka berdua dikamar dari balik pintu tersenyum.
Baginya, mereka berdua akan lebih baik jika bersama.

.
.

“Umma, aku akan kekios bunga sepulang sekolah nanti. Akan kuhubungi bila jadi, ya” Sulli mencium pipi Tiffany kilas sebelum meninggalkan rumah untuk pergi kesekolah.
“Ya, jika kau lelah tidak perlu kekios ya.” Tiffany sedikit mengeraskan suaranya agar Sulli yang sudah jauh mendengarnya.
“Masuklah cepat. Nanti terlambat” Taemin membantu membukakakan pintu mobil dari dalam.
Beberapa detik kemudian Sulli sudah berhasil memasuki mobil itu.
“Baru jam segini, kenapa kau bilang terlambat?” Taemin tidak menjawab, hanya meneruskan menyetir mobilnya.
Sulli melihat sekeliling melalui kaca disampingnya. Terkejut, Sulli terkejut ketika ia merasa ada yang aneh dalam perjalanan ini. Ini bukan jalan menuju sekolah!”
“Kita kemana? Bukannya jalan selanjutnya ke—” Sulli menghentikan kalimatnya ketika ia melihat sebuah rumah dan didepannya berdiri seorang perempuan… Jioyoung. Dia rasa pertanyaan yang akan ia tanyakan tadi tidak perlu diteruskan. Dia sudah mengetahui jawabannya.
“Hai, oh? Sulli?” Jiyoung tersentak saat Taemin membuka kaca mobilnya dan mendapati Sulli duduk disebelahnya.
“Masuklah.” Taemin tersenyum pada Jiyoung.
“Hm, aku akan pindah kebangku belakang. Jiyoung, kau bisa duduk disini.” Sulli memegang pembuka pintu mobil bermaksud untuk turun dan pindah.
“Ah, tidak. Aku duduk dibelakang saja itu tidak masalah kok.” Sulli mengurungkan niatnya. Ternyata Jiyoung memang gadis yang manis dan sopan.
“Kau suka dijemput Taemin ya, Sulli?” Jiyoung berbicara setelah ia berhasil memasuki mobil.
“Hn? Aku—”
“Dia satu rumah denganku.” Sambung Taemin sambil menjalankan mobilnya sebelum Sulli melanjutkan kalimatnya.
“Huh? Sungguh?” Jiyoung benar benar melebarkan matanya. “Kenapa kau tidak pernah cerita padaku, Taemin?” Jiyoung sedikit menyenggol pundak Taemin dari belakang.
“Wah, pasti asik sekali ya tinggal serumah seperti itu. Ngomong ngomong, kenapa kalian bisa tinggal satu rumah? Dia saudaramu ya Taemin?”
Taemin menggeleng.
“Dia baru saja pindah ke Seoul, dan ibuku menawarkan ibunya untuk tinggal dirumahku sementara sembari dia mencari tempat tinggal”
“Begitu..”
“Ohya, kudengar kau akan membawakan acara resmi sekolah nanti ya Sulli?” Jiyoung sedikit memajukan posisi duduknya.
“Ya” Sulli menjawab sambil tersenyum kecil.
“Kebetulan sekali. Aku dan Taemin akan mengisi acar itu, hmmm, kami akan tampil dengan memainkan piano.” Jiyoung sedikit antusias dengan perkataannya.
“Uh? Oh, be-benarkah?” Senyum Sulli dipaksakannya. Sebenarnya dia tidak begitu tertarik membahas masalah ini. Apalagi jika menyangkut urusan dia dan Taemin sangat dekat.
“Sudah sampai ya? Ah tidak terasa.” Sulli menuruni mobil itu dengan hati hati, diikuti pula oleh Taemin dan Jiyoung.
“Hm Sulli, kelasmu dimana?” Jiyoung bertanya sehabis berhasil menggandeng tangan Taemin.
“Kelasku? Didekat ruang perpustakaan.”
“Oh, begitu. Sayang kau tidak sekelsan denganku. Kalau kau sekelas denganku, kurasa kita akan menjadi teman baik.” Sulli menanggapi kalimat itu dengan senyuman.
“Baiklah, kami kesana dulu ya.” Jiyoung dan Taemin berjalan meninggalkan Sulli yang masih terpaku.
“Tidak salah lagi, Taemin pasti menyukainya. Bagaimana bisa Taemin tidak menolak digandeng oleh seorang wanita kalau buka wanita yang dia sukai?” Pikir Sulli yang bisa dibilang sok tau. Untuk yang keberapa kalinya, hati Sullo mengalami kekecewaan melihat pemandangan yang baru saja ia pandang ini.
“Hey nyonya Choi Sulli!” Seseorang merangkul Sulli begitu saja sehingga lamunannya buyar.
“Ck, ada apa Krystal?”
“Kau yang ada apa? Melamun sendirian ditengah orang ramai seperti ini.” Sulli tidak menjawab, hanya melihat punggung belakang Taemin dan Jiyoung yang masih tampak oleh matanya.

.
.

“Umma, aku akan membawakan acara diacara resmi sekolah nanti.” Sulli duduk disamping kursi ummanya yang sedang menata bunga bunga.
“Benarkah? Itu terdengar bagus.”
“Ya, umma harus datang untuk melihatku ya! Ini pertama kalinya aku membawakan acara resmi”
“Pasti, umma akan menyaksikanmu nanti. Kapan acaranya?”
“2 minggu lagi. Hm, padahal aku belum punya persiapan apa apa.” Sulli sedikit menenggelamkan wajahnya.
“Masa? Bukannya kau sudah dibantu oleh Taemin tadi malam?” Tiffany tersenyum menggoda pada Sulli. Wajah Sulli sudah terlihat sedikit merona.
“Huh? Bagaimana umma bisa tau?”
“Sunny yang bercerita.”
“Sunny unnie? Bagaimana bisa dia tau?”
“Entahlah, mungkin ia tidak sengaja melihat kalian berdua. Katanya kalian sangat lucu jika bersama” wajah Sulli semakin memperlihatkan warna merah.
“Kau menyukainya?” Tiffany meletakkan pot berukuran sedang yang berisi bunga kelantai.
“Huh? Kenapa umma menanyakan hal itu?” Sulli tersenyum malu.
“Iya kan?”
“Aku…. Tidak tau juga” Sulli kembali menenggelamkan wajahnya.
“Bagaimana bisa kau menjawab tidak tau? Kau yang merasakan perasaanmu kan?”
“…. Ya, tapi aku juga bingung pada perasaanku sendiri, umma.”
Tiffany tersenyum manis pada Sulli. Memandang wajah anaknya sebentar dan kembali sibuk dengan bunga bunganya.
“Kau akan mengetahuinya nanti.”
“Mengetahui? Mengetahui apa?”
“Kau menyukainya atau tidak.” Sulli tersenyum malu lagi.
“Hey, aku ini ummamu. Jika ada yang ingin kau ceritakan, ceritakan saja.” Tiffany sedikit mengelus kepala Sulli lembut.
Sulli hanya tertawa mendengar kalimat ibunya itu.
“Yang penting, ibu harus hadir pada acara resmi sekolah nanti.” Ucap Sulli mengelak pada pembicaraan mereka sebelumnya.
“Yaaaaa” Tiffany beranjak dari duduknya setelah melihat pelanggan yang baru saja menapakkan kaki dikiosnya tersebut.

.
.

Sulli menaiki tangga dengan sedikit berlari. Sama seperti kemarin, Sulli kembali melihat Taemin menghampiri sudut ruangan; tempat dimana piano yang Taemin sayangi terletak. Didudukinya kursi disana dan memulai aksinya bermain piano dengan santai. Sulli masih diam disudut tangga, memerhatikan laki laki yang ia sukai ini memainkan piano. Sulli kembali tersenyum. Entah, hatinya pasti lega setiap mendengar permainan piano Taemin.
Tiba tiba Taemin beranjak dari duduknya dan mendekati tangga; tempat Sulli berada.
Panik. Bagaimana kalau Sulli ketauan sedang mengintip Taemin lagi?
“Aku tau kau berada disana”
Sial, dengan terpaksa Sulli harus keluar dari tempat persembunyiannya dan tertunduk malu.
“Kau sering sekali berdiri disana saat aku memainkan piano.” Sulli menaikan wajahnya perlahan. Malu sekali.
“Ti-tidak juga.”
“Sudah dua kali tertangkap. Yang belum tertangkap berapa kali?”
“Huh? Sungguh! Baru dua kali!” Taemin terkekeh melihat ekspresi Sulli.
Taemin berjalan mendekati Sulli.
“Kau menyukaiku?” Taemin semakin mendekati Sulli.
“Huh? Tidak! Aku tidak menyukaimu!” Sulli menjawab dengan gugup. Sungguh, dia tidak habis pikir kenapa Taemin menanyakan hal ini.
Tiba tiba Taemin menarik tubuh Sulli kedinding. Mengunci tubuh Sulli dengan menggunakan kedua tangannya.
“Benarkah?” Ucap Taemin.
Hati Sulli berdegup kencang. Sangat. Dilihatnya wajah Taemin yang hanya beberapa senti dari mukanya. Sampai sampai dapat terlihat garis garis wajah Taemin. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.
“Ta-Taemin..” Mata mereka saling berpandang. Sangat dalam.
Taemin mendekati wajahnya kewajah Sulli. Semakin dekat, dan dekat lagi. Sulli memejamkan matanya dengan perasaan takut.
Apa Taemin akan menciumku?; kepala Sulli penuh dengan pertanyaan ini.
“Hahahaha!”
Tawa? Taemin tertawa?
Sulli membuka matanya saat Taemin sudah jauh dari tubuhnya. Terlihat bibir Sulli mengerucut sekarang.
“Tenang, aku tidak akan merebut first kiss-mu. Aku hanya bercanda. Lagian aku tidak akan membuat kau melakukan first kiss dengan orang yang tidak kau sukai.”
Deg.
Orang yang tidak kau sukai?!
Sulli berusaha menyadarkan dirinya.
“Sudah. Maafkan aku telah mengerjaimu tadi.” Taemin berlalu memasuki kamarnya yang berada didekat sana.
Sulli masih diam. Tidak bisa berpikir jernih sekarang. Padahal dia sudah berharap Taemin mengetahui perasaannya tanpa dia beritahu.
.
.
( t . b . c )
.

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “….Is It OK? [Part 3]

  1. Kaa24des

    Lanjutin chingu!! Ini lagi seru serius deh~

  2. @Kaa24des hehe sipppp ditunggu ya^^

  3. tikatung

    Lanjuuuuut!! Wah lagi seru nih kuarng ajar taemin ngegoda ssul!

  4. @tikatung hehe sipppp ditunggu ya, makasih🙂

  5. aigoo,,
    Knp Taemin oppa nggak langsung nyium aja? :*

  6. gasela

    crita ny bgus bangettt

  7. Apa-apaan itu taemin pakek ngerjain Sulli eonni segala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: