….Is It OK? [Part 4]

Author: taelliners =))
Main Cast: Lee Taemin / Choi Sulli
Other Cast: Kang Jiyoung, Cho Kyuhyun, Jung Krystal.
Support Cast: Tiffany Hwang, Kim Hyoyeon / Lee
Hyukjae, Lee Sunny.
Genre: Romance, Friendship, Family
Length: Sequel / Multichapter
.
…..Is It OK? [Part 4]
.
“Tidak tidak! Hilangkan pikiranmu dari laki laki itu
Choi Sulli!” Sulli mencengkram sebagian
rambutnya. Hal yang baru saja ia alami tadi
membuat jantungnya belum bisa berhenti
berdegup kencang.
Sulli duduk ditepi tempat tidurnya. Menutup
mukanya menggunakan tangannya.
“Aish! Dia kenapa harus menggodaku dengan
cara seperti itu sih? Ck.” Sekali lagi Sulli berdecak.
Pikirannya sekarang dipenuhi oleh kejadian tadi.
Dimana Taemin mendekati mukanya, ingin
melakukan sesuatu yang—ah Sulli tak bisa
membayangkannya, dan ternyata? Itu hanya
lelucon?
Cklek.
Bunyi pintu terbuka.
“Uh? Ma-mau apa?” Sulli melangkah mundur
sedikit.
“Hey, ada apa? Apa aku tidak boleh masuk kamar
ini? Aku hanya ingin mengambil ini.” Taemin;
orang yang baru saja masuk tadi mengambil
sebuah mantel yang tergantung dibalik pintu.
“Kau kenapa? Rambutmu terlihat berantakan?”
Taemin bertanya dengan ekspresi cuek.
“Ti-tidak apa apa. Hanya…..bukan apa apa.” Sulli
menjawab dengan canggung. Jujur saja, ia masih
tidak kuat melihat wajah Taemin.
“Ah, kau masih kepikiran dengan hal tadi? Oh,
kalau begitu aku minta maaf sekali lagi.”
Brak. Ingin sekali Sulli menjatuhkan tubuhnya
kelantai. Kenapa Taemin tidak begitu peka
dengan perasaannya sih? Apa ia perlu mengaku
kalau ia begitu mengagumi—ah menyukai
Taemin?
“Aku tidak perlu ucapan itu.”
“Lalu?” Taemin sedikit membuka pintu kamar
yang tadi hanya terbuka setengah saja tadi.
“Ah, bukan apa apa. Lupakanlah” Sulli
mengibaskan tangannya keudara.
“Oh, baiklah.” Taemin berbalik tanpa menutup
pintu itu sama sekali.
“Ta-Taemin!” Sulli kembali memanggilnya.
“Ya?” Tanpa membalikkan badannya menatap
Sulli, Taemin menjawab.
“Aku…ah tidak jadi.”
“Kau sungguh labil” Taemin meneruskan
menapakkan kakinya menuju kamar yang terletak
disebelah kamar Sulli.
Sulli kembali mengacak rambutnya. Kenapa aku
begitu bodoh?, pikir Sulli.
.
.
“Hey” Sunny menegur Taemin yang baru saja
memasuki kamarnya itu. Yah, kalian sudah tau
kan kalau kakak beradik ini untuk sementara
sekamar selama Sulli memakai kamar Sunny?
“Hm?” Taemin duduk ditempat tidurnya. Memang
dalam kamar ini ada dua tempat tidur. Satu
tempat tidur Taemin dan satunya tempat tidur
tambahan untuk Sunny. Taemin menghampiri
Sunny yang sedang berkutat pada laptopnya itu.
Duduk disamping Sunny dan ikut menyaksikan
apa yang Sunny lakukan dilaptop itu.
“Ada apa?” Sunny masih dengan tatapan kelayar
laptop.
“Noona,” Taemin memulai ucapannya. “Ya?”
Sunny melirik Taemin sebentar lalu kembali sibuk
dengan laptopnya.
“Tidak jadi.”
“Kenapa? Kau mau bertanya sesuatu bukan?”
Sunny sudah bisa menebak apa maksud Taemin
duduk disebelahnya dan ikut menyaksikan laptop
tadi.
“….. Ya”
“Apa itu?”
“Hm, tapi tidak jadi.”
“Tentang Sulli bukan?” Sunny kembali melirik
adiknya. Kali ini cukup lama.
“Huh?” Taemin membelalakan matanya—pura
pura terkejut tepatnya.
“Jangan menyembunyikan suatu hal pada
kakakmu sendiri. Aku melihat semua apa yang
kau lakukan padanya tadi didinding depan kamar
ini.”
Taemin tersentak kaget. Yang dia lakukan pada
Sulli tadi? Yang…..dia menggoda Sulli untuk
menciumnya?
“A-ah?”
“Ya, kau suka padanya kan?” Sunny kini menutup
laptopnya setelah ia pikir selesai dengan
urusannya.
“Jangan asal menyimpulkan sesuatu. Itu
kebiasaan buruk noona” Taemin beranjak dari
kursi itu dan pindah kekursi disudut kamar.
“Begitukah?” Sunny berbicara dengan nada
menggoda.
“Y-ya….”
“Kau terlihat gugup” Sunny berpindah dan menduduki tempat tidurnya lalu memeluk satu bantal.
“Gugup apa? Kurasa tidak.”
“Benarkah?” Sunny kembali dengan nada yang
menggoda.
“Hey Taemiinie. Jika kau menyukainya kenapa
tidak mengaku saja? Aku melihat bagaimana
ekspresimu ketika kau ingin berpura pura
menciumnya.” Sunny memainkan ujung bantal
menggunakan jemarinya.
“Apa ekspresiku? Aku memang murni ingin
mengajaknya bermain.”
“Bermain bagaimana?” Lagi lagi dengan nada
menggoda Sunny melontarkan kalimat.
“Ah, seperti itulah. Tidak usah membahas itu.”
Taemin beranjak dari kursi tadi dan pindah
ketempat tidur miliknya.
“Bukankah kau yang tadinya ingin menanyakan
soal Sulli padaku?”
“Ahhhh, terserah noona saja!” Taemin
menenggelamkan wajahnya dibawah bantal
miliknya.
“Tapi aku salut padamu. Kau berhasil menutup
rapat rapat rasa sukamu terhadapnya.” Sunny
tidak kapok untuk menggoda Taemin.
“Ya! Aku sudah bilang aku tidak punya rasa apa
apa padanya!” Taemin melemparkan satu bantal
pada Sunny dan ditangkap Sunny dengan tepat.
“Ck. Ya, aku mengalah” Sunny kembali
melemparkan bantal tadi kearah Taemin.
.
.
“Aku tau kau pasti bisa membawakan acara itu.
Percaya padaku.” Krystal merangkul Sulli dengan
santai sambil berjalan menelusuri koridor sekolah.
“Ya ya ya. Ini atas keinginanmu.” Sulli sedikit
menyikut Krystal.
“Kau mau kekantin? Aku lapar sekali.” Krystal
melepaskan rangkulan tadi dan memegang
perutnya.
“Hm. Boleh. Tapi aku ingin kekamar mandi
sebentar. Aku akan menyusul.”
“Ya, baiklah. Tidak usah lama lama”
“Ya, tenang saja”
Sulli berjalan berlawanan arah dengan Krystal.
Diteruskannya tubuhnya berjalan menuju kamar
mandi. Tapi tunggu, Sulli melihat jam yang
melingkar ditangannya.
Oh, jam segini biasanya Taemin berada diruang
musik dan memainkan piano. Haruskah Sulli
kesana? Ia ingin melihat Taemin memainkan
piano—walau dia sudah hampir setiap hari
melihatnya dirumah.
Yap, Sulli tidak jadi masuk kedalam kamar mandi
dan mecari ruang musik. Ruang musik yang tepat
disebelah ruang laboratorium fisika, tidak jauh
dari kamar mandi.
Sulli menapakkan kakinya mendekati ruang yang
termasuk surga baginya ini. Kenapa? Karena ia
merasa nyaman setiap kali melihat Taemin
memainkan pianonya diruang musik ini.
Sulli terus berjalan. Pintu ruang musik itu seperti
biasa, tidak pernah tertutup rapat.
Sulli semakin mendekati pintu itu. Sudah
terdengar hawa hawa bunyi suara piano yang
dilantunkan. Tunggu, tidak seperti biasanya bunyi
piano yang dimainkan Taemin sedikit lebih ramai,
seperti dimainkan oleh………dua orang? Sulli
melirik orang yang sedang memainkan piano itu.
Tepat, tebakan Sulli tidak meleset. Jiyoung berada
disebelahnya, disebelah Taemin. Dia ikut
memainkannya. Ohya, Jiyoung kan partner
Taemin dalam urusan piano. Sepertinya Sulli
melupakan kalimat yang dijelaskan Krystal
tentang Jiyoung padanya waktu itu. Permainan
piano mereka berdua sungguh indah. Sangat
menawan. Sulli tersenyum lagi, tapi kali ini
senyumnya tidak sesempurna biasanya.
“Permainanmu bagus” Jiyoung memuji Taemin
ketika mereka sudah selesai berkolaborasi tadi.
“Kau lebih indah” Taemin tersenyum pada
Jiyoung.
Deg. Sakit.
Entah, hati Sulli menjadi sakit melihat mereka
saling memuji seperti itu. Ditambah lagi melihat
senyuman Taemin yang……
“Sulli? Kau disana?” Sulli tersentak kaget ketika
terdengar Jiyoung menyebut namanya.
Sial.
Jiyoung menyadari keberadaannya dibalik pintu
itu.
Mau-tidak-mau Sulli harus masuk kedalam surga
yang—ehm—panas menurutnya itu.
“……hehehe” cengiran polos diberikan Sulli pada
mereka. Dibalas dengan senyuman Jiyoung dan
ekspresi biasa Taemin.
“Kau mau ikut memainkan piano bersama kami?”
Jiyoung berdiri dari tempat duduknya dan
mengajak Sulli duduk disampingnya; satu kursi
bertiga dengan Taemin.
“Hm? Ah, tidak. Aku tidak bisa memainkan piano
sebagus kalian.”
“Oh, tidak masalah. Kau mendengarkan saja. Ah
atau mungkin kau bisa bernyanyi dan kami
bermain piano?”
“Hn, tidak tidak. Aku juga tidak pandai bernyanyi.
Lagipula aku akan mengganggu kalian disini.
Eum, aku….pergi dulu. Ah, bye.” Sulli
melambaikan singkat tangannya lalu pergi
dengan sedikit berlari meninggalkan mereka
berdua.
“Dia aneh sekali ya.” Jiyoung kembali duduk
dikursinya semula. Taemin tidak menjawab,
hanya mengangkat kedua alisnya dan disambung
dengan lemparan senyumnya pada Jiyoung.
.
XX
.
Taemin menelusuri jalanan yang cukup sepi
karena malam gelap ini sedang hujan yang benar
benar hebat lebatnya. Dengan bermodalkan satu
payung, Taemin pergi mencari Sulli malam malam
begini. Pesan ibunya, jemput Sulli disuatu toko
perbelanjaan karena Sulli tidak membawa payung
dan keadaan hujan begini tidak memungkinkan
dia pulang tanpa payung. Taemin tidak
menggunakan mobilnya, tempat Sulli berada
sekarang memang tidak jauh dari rumahnya.
Taemin terus melewati beceknya permukaan dan
cipratan cipratan air hujan yang mengenai
bajunya.
“Maaf menunggu lama.” Sulli sedikit kaget
melihat Taemin sudah dihadapannya. Tunggu,
sebelum Taemin menegurnya tadi, Sulli menutup
mukanya. Ada apa?
“Ya, tidak masalah.” Sulli memperlihatkan
mukanya, tidak ada yang aneh dari dia. Dengan
baju yang sudah setengah basah kuyub Sulli
masuk kepayung itu bersama Taemin.
“Ayo jalan” dengan ragu, Sulli mengikuti jalan
Taemin.
Mereka berjalan berdua melawan badai hujan
yang dahsyat ini.
“Taemin, bagaimana jika kita kesana dulu saja?
Badainya sangat kencang” Sulli sedikit berteriak
agar Taemin bisa mendengar suaranya.
“Ya.” Taemin menuntun Sulli dengan payungnya
meminggir kesuatu tempat dengan tenda tipis
diatasnya.
Payung tadi Taemin letakkan dipinggir mereka.
Sulli kembali menutup mukanya. Entah kenapa alasannya.
“Kau…kenapa?” Taemin memberanikan diri
menanyakan hal itu pada Sulli.
“Aku….takut hujan” Sulli masih menutup mukanya
dengan tangan.
“Begitu..”
Sejenak kemudian, Sulli merasakan tubuhnya
dibalut dengan sesuatu. Sulli memutuskan untuk
membuka wajahnya.
“Uh? Apa ini?”
“Ini jaketku. Pakailah.” Taemin membenarkan
posisi jaket yang baru saja ia pakaikan pada Sulli.
Jaket yang tadi ia pakai.
“Ti-tidak perlu. Nanti kau kedinginan”
“Tidak, aku baik baik saja. Kau yang lebih
penting.”
Oh – My – God
Dapat dirasakan Sulli, wajahnya mulai memanas.
Sulli memeluk dirinya sendiri, mengusap
lengannya satu sama lain sambil tersenyum
manis.
Taemin hanya dapat menatap langit langit yang
sangat tidak dapat dilihat dengan jelas karena
hujan turun sangat lebat.
“Sebenrtinya hujannya meredah. Sekarang?”
Taemin melirik Sulli.
“Boleh.” Sulli kembali masuk dalam payung yang
dipegang Taemin.
.
.
Hari minggu, hari bebas bagi Taemin.
“Taemin, tolong ambil sepaket bunga dikios milik
Tiffany ahjumma sekarang. Aku
membutuhkannya.” Suruh Sunny dengan tingkah
terburu buru.
“Untuk apa?”
“Aku mempunyai tugas tentang itu. Dan sepaket
bunga yang sudah kupilih tertinggal disana.”
“Ck, merepotkan.” Keluh Taemin yang hanya
dibalas oleh tatapan tajam mata Sunny.
Taemin menjalankan mobilnya ketempat kios
milik Tiffany.
Sampai. Tamin turun dari mobil dan memasuki
kios tersebut.
“Tiffany ahjumma?!” Kaget. Taemin
membelalakan matanya setelah melihat Tiffany
yang memegang kepalanya dan tubuhnya terlihat
ingin runtuh.
“Tiffany ahjumma?!” Taemin menangkap tubuh
Tiffany sebelum tubuh itu benar benar jatuh
kelantai.
Tanpa berpikir panjang Taemin segera
memasukkanya kedalam mobil dan membawa
Tiffany kerumah sakit.
.
( T . B. C )
.

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “….Is It OK? [Part 4]

  1. Chingu.. Aku udah baca sampe part 6:) part 7nya doong~

  2. @Kaa24des Ha?! Udah sampe part 6? Ih curang nih haha, kamu baca dimana say? Okeee ditunggu ya^^

  3. Di SMTown CubeUnited FF chingu~ abis aku penasaran^^ secepatnya ya chingu😀

  4. Ohhh disitu okeoke hihi sipppp tunggu aja ya chingu^^

  5. ayoo lanjut part 7nya😀 aku udaa baca yang sampai part 6 di smtown cubeunited *ngikut kaa24des* hehe~

  6. feel nya dpt bnget…🙂
    Jd nyesek nie aku….😦
    Fany eonni knp??

  7. gasela

    wah crita ny wow bget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: