….Is It OK? [Part 5]

Author: taelliners =))
Main Cast: Lee Taemin / Choi Sulli.
Other Cast: Kang Jiyoung, Jung Krystal, Cho
Kyuhyun.
Support Cast: Lee Sunny, Kim Hyoyeon/Lee
Hyukjae, Tiffany Hwang.
Genre: Romance, Friendship, Family.
Length: Sequel, Multichapter.
.
…..Is It OK? [Part 5]
.
Kring. Kring.
Sulli berjalan dengan lemas menuju letaknya
telephone rumah berbunyi.
“Ya, halo?” Sambil seraya menguap Sulli
memaksakan matanya terbuka.
“A-apa?”
Diam. Sulli terdiam setelah mendengar orang
diseberang sana memberitahu kabar yang sangat
menyentakkan Sulli.
“Sulli? Ada apa?” Hyoyeon menghampiri Sulli
setelah menyadari keanehan ekspresinya.
Sulli tetap diam. Tidak menjawab pertanyaan
Hyoyeon.
“Sulli?” Hyoyeon sedikit mengguncangkan tubuh
Sulli dengan pelan. Tetap tidak menjawab. Sulli
malah menjatuhkan dirinya kelantai. Genggaman
telephone tadi terlepas begitu saja dari
tangannya.
.
.
“Aku menemukannya memegang kepalanya
sendiri dan tubuhnya kelihatan sangat lemah. Dan
ketika aku ingin masuk tiba tiba dia akan
menjatuhkan tubuhnya kelantai, lalu…..aku
menangkap tubuh Tiffany ahjumma dan
membawanya kesini….” Jelas Taemin pada
semuanya yang ada disana. Dia menarik nafasnya
sebentar.
“Sungguh, aku tidak melihat apa kejadian
sebenarnya. Aku hanya membawanya kerumah
sakit dan dokter menanganinya. Ketika dokter
kembali keluar…..dokter itu langsung bilang kalau
Tiffany ahjumma…..tidak dapat terselamatkan.”
Sambungnya dengan suara bergetar. Sulli tidak
dapat menahan air matanya. Bahkan suara
tangisannya terdengar sangat jelas.
“Ba-bagaimana bisa be-begitu…..?” Sulli; yang
sedang ditenangkan oleh Sunny kembali
menderaskan air matanya.
Dia masih sangat shock. Bagaimana bisa Tiffany
yang ia ketahui sangat sehat dan baik baik saja
tiba tiba dikabarkan telah pergi meninggalkannya
untuk selamanya dengan alasan yang belum ia
ketahui?
“Apa dokter menjelaskan kenapa Tiffany bisa tiba
tiba begitu?” Eunhyuk kini angkat bicara.
Taemin menggeleng pelan.
“Dokter bilang sebentar lagi tes laboratorium akan
keluar. Dan alasan Tiffany ahjumma bisa begitu
akan dilketahui dari sana.”
Semuanya menjawab dengan anggukan.
“Kenapa seperti ini? Ke-kenapa…….?” Bibir Sulli
bergetar. Semua bagian tubuhnya benar benar
lemas. Tidak percaya, sangat tidak percaya.
Matanya sudah sembab karena sedaritadi hanya
bisa menangis.
Semuanya diam. Hanya menunggu didepan
ruangan dimana Tiffany diperiksa.
“Keluarga nyonya Hwang?” Seorang dokter yang
ditunggu tunggu akhirnya keluar dari ruangan tadi.
“Ya?! Ibu saya kenapa dokter?” Sulli maju terlebih
dahulu dari yang lain.
“Maaf, apakah penyakit pasien tidak pernah
ditangani dengan baik sebelumnya?”
“Pe-penyakit? Penyakit apa?” Suara Sulli masih
terdengar gemetar.
“Kalian tidak tau?”
“Tau apa?!”
“Pasien terkena penyakit Leukimia. Sebenarnya
jika penyakit ini cepat ditangani, tidak akan terjadi
seperti ini. Tapi sepertinya penyakit ini tidak
pernah ditangani. Jadi berakhir seperti ini.” Jelas
dokter tadi. Sulli semakin shock. Tentang penyakit
ibunya ini saja dia tidak tau menau.
“Le-leukimia?” Nafas Sulli sesak. Entah dia harus
berpikir apa lagi sekarang. Apa yang ada didalam
hatinya kini pun berantakan.
Dokter tadi meninggalkan mereka semua yang
masih terpaku tidak percaya.
“U-umma…….” Sulli kembali menjatuhkan dirinya
kelantai. Mukanya semakin memerah dengan air
mata yang semakin membanjiri pipinya.
“Umma…… meninggalkanku?”
.
XX
.
Sulli menatap langit langit yang sudah gelap
sekali diteras yang berada dikamarnya ini.
Pagar teras itu dicengkramnya dengan kuat
menggunakan kedua tangannya.
Sulli kembali menangis.
“Umma.”
Sulli memejamkan matanya untuk beberapa
menit.
“Ini sudah malam. Kau tidak tidur?” Suara pelan
tiba tiba terdengar ditelinga Sulli.
“Ta-Taemin?” Sulli sedikit tersentak melihat
Taemin yang sudah berada disampingnya. Tapi
Sulli kembali menatap kelangit langit. Melihat
bintang yang tidak dapat terhitung ada berapa.
Sulli kembali meneteskan air matanya.
“Kenapa dunia ini begitu tidak adil?” Sulli
mengeluarkan suaranya.
“Dulu, appaku meninggalkanku karena
kecelakaan yang hebat. Aku dan ummaku
terpaksa hanya hidup berdua didunia ini. Dan
sekarang, ummaku……” Sulli menarik nafasnya
panjang. “Ummaku me-meninggalkanku sendirian
hidup didunia ini.”
Taemin tidak tau harus menjawab apa. Dia terus
menatap lurus, entah apa yang ditatapnya.
“Padahal….aku ingin sekali umma menyaksikanku
menjadi presenter di acara resmi sekolah
nanti….” Getaran disuara Sulli semakin jelas
terdengar.
“Aku iri padamu” Sulli kembali meneruskan
kalimatnya.
“Kau mempunyai kakak yang sayang padamu,
ayah yang memperhatikanmu, dan…….dan ibu
yang selalu ada disampingmu.” Terdengar helaan
nafas Sulli yang jelas. Air matanya pun belum
terhapus dari pipinya.
“Sementara aku?! Aku sekarang tidak mempunyai
siapa siapa lagi didunia ini…..” Tangisan Sulli
sedikit demi sedikit terdengar. Taemin melihat
kearah Sulli yang sedang menunduk dan sesekali
menyerka air matanya.
“Biasanya ketika hujan badai datang, umma
selalu menenangkanku. Tapi sekarang— aeh—”
“Siapa bilang kau tidak mempunyai siapa siapa
lagi didunia ini?”
Taemin dengan tiba tiba berjalan kebelakang
tubuh Sulli. Dengan pelan ia melingkarkan
tangannya ketubuh Sulli. Taemin memeluknya
dari belakang dengan hati hati.
“Kau masih mempunyaiku didunia ini.” Taemin
semakin mempererat pelukannya.
Sulli sedikit tersentak dan mengangkat wajahnya
yang tadi tertunduk.
“Tidak perlu khawatir. Aku akan menjagamu”
Sulli membalikkan tubuhnya dan memeluk
Taemin erat. Dicengkramnya baju bagian
belakang Taemin menggunakan jemarinya yang
bergetar.
Taemin membalas pelukan itu dan meletakkan
telapak tangan kanannya dikepala Sulli.
Sulli menangis sekencang kencangnya didada
Taemin. Sangat kencang. Keadaan Sulli sekarang
sedang berantakan. Mungkin dengan pelukan itu,
keadaannya bisa jauh lebih baik.
“Menangislah sepuasmu. Menangislah sampai
dirimu tenang”
.
.
Sulli membuka matanya perlahan. Sinar matahari
yang terbias dijendela kamarnya itu menyilaukan
matanya.
“Eung—”
Sulli mengusap matanya yang masih bengkak itu
pelan lalu bangun dari tempat tidurnya.
Kesedihannya sudah perlahan memudar karena
kejadian yang ia alami tadi malam, walau kadang
ia masih sering teringat Tiffany.
Terdengar bunyi lantunan piano dari luar kamar. Ia
sudah mengetahui benar siapa yang memainkan
piano itu.
Sulli membuka kenop pintu kamarnya itu dengan
nyawa yang belum terkumpul benar, hari ini
Chaeri High School diliburkan. Entah karena
alasan apa, Sulli tidak terlalu ingin tau dalam
urusan itu.
“Sudah bangun?” Taemin mengehentikan
permainan pianonya dan melihat Sulli yang masih
setengah berantakan keluar dari kamar.
“….. Ya, hehe” Sulli hanya melemparkan cengiran
dari bibirnya dan berjalan mendekati Taemin.
“Mauku mainkan piano?”
Sulli mengangguk cepat dan tersenyum.
Taemin memulai permainannya dengan santai.
Sulli kembali merasa hatinya sangat tenang
sekarang. Permainan piano Taemin tidak pernah
membuatnya tidak tenang.
“Yay!” Sulli bertepuk tangan seolahnya anak anak
yang baru saja diber permen sehabis Taemin
maminkan piano itu.
Taemin tersenyum padanya.
“Pergilah mandi. Bau badanmu sangat tercium!”
Taemin sedikit menyenggol lengan Sulli
menggunakan lengannya dengan pelan.
“Sungguh? Baiklah aku akan mandi.” Dengan
sigap Sulli kembali masuk kekamarnya dan
meninggalkan Taemin. Taemin hanya bisa
tertawa kecil melihat tingkah laku Sulli tadi.
.
.
“Masalah yang ini sudah, yang ini juga. Seperti
ada yang kurang?” Malam malam Taemin sibuk
berkutat pada laptop silver miliknya dikamar
sendirian.
“Hm, sepertinya tidak ada yang kurang.”
Diletakkannya setumpuk kertas yang sedaritadi
dipegangnya itu kemeja disamping laptop berada.
“Ck, malam malam begini hujan lebat sekali diluar
sana.” Taemin berdecak seraya melirik keadaan
luar dari jendela. Hujan sangat lebat diserati
dengan badai yang dahsyat.
Tunggu.
Hujan?
Badai?
Hujan yang lebat?
Badai yang dahsyat?
Taemin terdiam, memikirkan sesuatu yang
sedang mengganjal proses pikir otaknya saat ini.
“Sulli!”
Taemin beranjak dengan tergesa gesa dari
tempat duduknya dan berlari keluar kamarnya
menuju kamar Sulli.
“Sulli?!”
Benar saja. Tebakkan Taemin tidak meleset.
Dilihatnya Sulli sedang duduk memeluk kakinya
dipojok kamar dengan wajah ketakutan dan pucat.
“Sulli?!” Taemin mendekati Sulli dengan sedikit
berlali pelan.
“Kau tidak apa apa?”
Sulli hanya menjawab dengan menggelengkan
kepalanya dan menatap lurus.
Taemin membangunkan dirinya dan memegang
kedua lengan tangan Sulli. Dituntunnya Sulli
menuju tempat tidur.
Blak.
Sulli memeluk Taemin dengan tiba tiba.
Memeluknya dengan begitu erat. Sungguh, Sulli
amat ketakutan saat ini. Taemin terdiam, sejenak
kemudian ia memegang punggung Sulli dengan
pelan. Tubuh Sulli dingin, wajahnya masih pucat,
dan sorot matanya…..entah bagaimana caranya
harus menjelaskan sorot matanya sekarang.
“Aku takut……” Sulli mengeratkan pelukan itu.
“Te-tenanglah.” Taemin menyentuh kepala Sulli
dengan sangat hati hati.
“Ada aku disini.”
Untuk yang kedua kalinya, dimalam hari mereka
berpelukkan.
“Sebaiknya kau tidur.”
Taemin melepaskan pelukan itu dan kembali
menuntun Sulli ke tempat tidur. Merebahkan
tubuhnya dan menatik selimut lalu membalut
tubuh Sulli dengan selimut tadi.
“Tidurlah.”
Taemin berjalan menuju pintu luar; bermaksud
untuk meninggalkan kamar itu setelah melihat
Sulli sudah menutup matanya.
Belum 3 tapak kakinya berjalan, tangannya
ditahan oleh Sulli. Sulli meraih pergelangan
tangan Taemin.
“Jangan….” Sulli tidak membuka matanya.
Mengucapkan kalimat dengan mata tertutup.
“……. Jangan tinggalkan aku” lagi lagi Sulli
berucap dengan mata tertutup.
Taemin memandang Sulli dengan mata sendu.
Diurungkan niatnya untuk meinggalkannya lalu
kembali duduk ditepi tempat tidur itu.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Dirapikannya
selimut Sulli yang sedikit tidak beraturan itu.

Setelah hujan mereda, Taemin merasa Sulli sudah
lebih baik. Dielusnya rambut Sulli dengan pelan
agar Sulli tidak terbangun dari tidurnya.
Dengan hati hati Taemin beranjak dari tempat
tidur itu, berusaha tidak menimbulkan efek bunyi.
Ditutupnya pintu kamar Sulli dengan hati hati
setelah ia berhasil keluar dari kamar tadi.
Taemin pun masuk kedalam kamarnya sendiri.
Menutup pintu kamarnya itu dan menguncinya
satu kali. Taemin menyandarkan tubuhnya dipintu
itu, lalu memejamkan matanya dan menghela
nafasnya.
Perasaan apa ini?, batin Taemin.
.
XX
.
“Ji-Jiyoung?” Sulli sedikit melebarkan matanya
ketika dia membuka pintu rumah dan melihat
Jiyoung berdiri dengan senyumnya. Siang siang
begini Jiyoung datang kerumah?
“Hai” Jiyoung melambaikan tangannya singkat.
“…… Ya? Eung—kau mencari Taemin?”
“Ya, ada? Hari ini aku ada tugas bersama
dengannya.” Senyum Jiyoung tidak pernah pudar.
“Dia sedang keluar sebentar. Ehm, sebentar lagi
dia akan pulang.”
“Oh, begitu. Boleh aku masuk?”
“Ah, tentu.”
Sulli memundurkan sedikit tubuhnya agar Jiyoung
dapat mendahuluinya masuk kerumah.
“Duduklah disini dulu. Taemin akan tiba sebentar
lagi pasti.” Jiyoung menjawab dengan anggukan
dua kali lalu hanya memutar matanya melihat
keadaan rumah. Sulli mengikuti Jiyoung duduk
disuatu soffa ruang tamu.
“Kau—mau minum?”
“Ah tidak usah. Nanti merepotkan”
“Oh, baiklah.”
“Sulli,” Jiyoung memanggil Sulli yang duduk
didepannya dengan pelan.
“Eum, kudengar……ummamu—” Sulli
menundukkan wajahnya. Kenapa Jiyoung harus
nenvahas masalah yang dapat membuat Sulli
lemas lagi?
“— ah, maaf. Aku hanya ingin menyampaikan
turut berduka cita padamu.” Ekspresi menyesal
diwajah Jiyoung terlihat, lantas disambungnya
dengan senyuman.
“….. Ya, terima kasih.” Sulli membalas senyuman
itu dengan sekuat dirinya.
“Kau disini?” Taemin; yang baru saja memasuki
rumahnya itu sedikit kaget melihat kedatangan
Jiyoung.
“Maaf aku datang terlalu cepat.”
“Oh, tidak apa apa. Sudah lama menunggu?”
Taemin berjalan menuju soffa yang diduduki
Jiyoung.
“Ah tidak juga. Sekitar 10 menit lalu.”
Taemin dan Jiyoung berlalu meninggalkan Sulli
yang masih duduk disoffa tadi menuju kekamar
atas. Kamar Taemin.

Sulli menatap mereka dengan tatapan datar.
Helaan nafasnya terdengar jelas. Mungkin ini yang
kesekian kalinya ia merasa ‘tidak dianggap’ oleh
mereka. Padahal ia tahu Jiyoung kerumah ini
hanya untuk mengerjakan masalah sekolah.
Sulli menyandarkan tubuhnya disoffa tersebut.
Bosan. Sangat bosan.
Yap, suatu ide untuk menghilangkan bosan
akhirnya terlintas dipikiran Sulli.
Mengintip. Kekekekeke~
.
( T . B . C )
.

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “….Is It OK? [Part 5]

  1. yeahtaelli

    Aku bacanya kilat nih! Aduhhhh seruuuu🙂

  2. mwoya? Sulli eonni mau ngintip Taemin oppa ma Jiyoung? Ck!

  3. gasela

    wah mkin seru aja cerita ny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: