….Is It OK? [Part 7]

Author: taelliners =))
Main Cast: Lee Taemin / Choi Sulli.
Other Cast: Kang Jiyoung, Jung Krystal.
Support Cast: Lee Sunny, Kim Hyoyeon/Lee
Hyukjae.
Genre: Romance, Friendship, Family.
Length: Sequel, Multichapter.
.
…..Is It OK? [Part 7]
.

“Mau bicara apa?” Sulli duduk mengikuti Jiyoung disalah satu kursi yang terletak ditaman itu.
“Aku tidak punya siapa siapa lagi untuk berbagi cerita. Bolehkah aku bercerita kepadamu?” Jiyoung tersenyum tulus pada Sulli.
“Eh? Ya. Apa?”
“Kau tau? Aku ingin bertunangan dengan Taemin! Itu karena perusahaan ayahku membutuhkan satu laki laki yang akan menjadi bagian dari perusahaan itu.” Sulli tercekat mendengar penjelasan Jiyoung. Kenapa Jiyoung harus bercerita padanya sih? Okey, Jiyoung memang tidak tau apa apa tentang perasaan Sulli.
“Sulli? Kau kenapa?” Jiyoung mengibaskan tangannya didepan wajah Sulli.
“A-ah? Ya? Ah aku ikut senang jika kau senang Jiyoung.” Sulli memaksakan senyumannya yang sangat berat itu.
“Hehe ya, terima kasih. Ohya, kata ayahku juga, jika nanti kami lulus dari sekolah menengah atas ini, mungkin bisa jadi kami akan menikah. Astaga, aku senang sekali Sulli!” Kini Jiyoung meraih lengan Sulli. Sulli masih tersenyum.
“Me-menikah? W-wah! Selamat sekali lagi ya..”
“Ya! Kami tau itu terlalu capat, tapi ayahku membutuhkannya. Dan ayahku juga sudah lama sekali menyetujui Taemin sebagai kekasihku. Yah—walaupun selama ini kami belum menjadi kekasih.”
“Ah, aku mengerti.”
Diam, tak ada lagi yang berbicara diantara mereka berdua. Hanya ada suara hembusan nafas dan angin yang lewat menghampiri mereka.
“Eung, Jiyoung. Aku pergi dulu ya. Krystal pasti menunggu disana.” Sulli beranjak dari kursi tadi.
“Oh, baiklah. Dah.” Jiyoung melambaikan tangannya dengan cepat dan dibalas dengan Sulli.
Jiyoung memandang sekeliling taman seraya terus menyimpulkan senyumannya. Sungguh, dia benar benar tidak tau apa isi hati Sulli sekarang.
Bagaimana jika ia tau perasaan Sulli yang sebenarnya? Oh, astaga. Apa yang akan terjadi?

.
.

“Ya Choi Jinri! Apa yang dia lakukan padamu tadi huh?” Krystal menarik lengan Sulli ketika Sulli belum niat untuk duduk disamping Krystal.
“Yah, begitulah. Dia hanya menceritakan semua kesenangannya padaku..” Sulli menatap lurus kedepan. Entah apa yang ia tatap.
“Ffffuuuhh. Sepertinya kau harus jujur pada mereka kalau kau itu menyukai—”
“Ya! Apa kau gila?! Bagaimana bisa aku langsung mengaku begitu saja pada mereka? Lagipula…”
“Lagipula apa? Kau mau menyiksa dirimu seperti ini?”
“Sudahlah Krystal, biarkan saja. Jika ini sudah menjadi jalannya, mau diapakan lagi? Lagian mungkin Jiyoung memang tepat untuknya”
Sulli sedikit menundukkan wajahnya. Dia memang menyukai Taemin. Yah, walau termasuk baru. Lagian Jiyoung berusaha mendapatkan Taemin lebih lama daripadanya kan?, pikir Sulli.
“Hmmm ya ya. Itu tergantung padamu juga sih.” Krystal menyerah, ingin berusaha membangkitkan Sulli? Entah bagaimana caranya.

.
.

“Taemin.”
Taemin menghela nafasnya setelah mendengar panggilan namanya dari ayahnya yang sedang bersantai disoffa ruang tamu.
“Ya?” Taemin yang tadinya berbiat untuk menaiki tangga kembali turun dan mendekati ruang tamu itu.
“2 minggu lagi.” Eunhyuk menaruh secangkir kopi yang baru saja ia seruput sedikit tadi.
“Apa? 2 minggu? Astaga.” Taemin memejamkan matanya sambil memegang kepalanya yang sedang tidak dalam kondisi baik itu. “Apa ini tidak terlalu gila? Bagaimana dengan pelajaranku? Bagaimana dengan nasib sekolahku? Apa aku harus terus mementingkan kepentingan keluarganya saja?”
“Taemin, tidak seperti itu. Kau hanya harus bertunangan dengannya saja. Masalah sekolahmu tidak akan terganggu.”
“Hah? Hanya? Kata appa tadi hanya? Ya Tuhan.. Apa kalian semua lupa apa arti pertunangan itu? Apa kalian semua tidak tau apa arti sebuah pertunangan?” Taemin meninggikan suaranya. Dia benar benar kesal dengan keputusan yang diterima dengan sepihak ini.
“Ya Lee Taemin! Hentikan membentak appa seperti itu!” Sunny, yang entah sejak kapan berada dilingkungan pembicaraan ayah dan anak itu berbicara.
“Ya, aku tidak akan membentak seperti itu lagi. Tapi…….hhhhh” Taemin kembali menghela nafasnya panjang. Pusing sekali dia saat ini.
“Kau tenang saja. Urusan perusahaan keluarga mereka yang akan kau pegang itu masih lama. Keluarga Kang meminta Jiyoung menikah karena Jiyoung adalah anak tunggal dan satu satunya pewaris perusahaan itu. Dan—yah, kau tau keluarganya sangat suka padamu.”
“Hft, jika aku tidak mau?” Taemin berjalan menjauhi ruangan itu dan menaiki tangga dengan cepat. Eunhyuk ingin sekali memanggilnya kembali. Tapi dia tau akan percuma jika ia memanggil Taemin kembali.
Taemin benar benar tidak setuju dengan keputusan ini. Yah, salah siapa yang menerima keputusan tanpa menanyai masalah ini dengan orang yang disangkutkan? Taemin sangat bingung, tapi sepertinya Eunhyuk lebih bingung lagi menghadapi masalah ini.
Diibaratkan, jika ia bergerak kekiri, bertemu dengan harimau. Jika ia bergerak kekanan, bertemu dengan singa. Jika ia kebelakang, bertemu dengan buaya. Jika ia kedepan? Didepannya adalah jalan yang buntu. Semua serba salah.
“Yaaaa! Appa!” Teriak Sunny dari arah pintu. Astaga, Eunhyuk terlalu hanyut dalam pemikirannya tadi sampai tidak sadar sudah berpulu kali Sunny memanggilnya.
“Oh? Ada apa? Ah? Jiyoungie?” Eunhyuk beranjak dari kursinya dan mendekati Sunny kearah pintu. Disebelahnya terdapat Jiyoung yang sepertinya baru saja datang. Ck, dalam keadaan yang stres begini dia malah datang. Sungguh tidak tepat.
“An-annyeong.” Jiyoung membungkukkan badannya sempurna kepada Eunhyuk.
“Ah, ya. Silahkan masuk. Kau mencari Taemin bukan?” Tanya Eunhyuk yang hanya dibalas dengan senyuman Jiyoung.
“Taem—”
“Tunggu sebentar ya.” Sunny menyambar Eunhyuk yang baru saja ingin berteriak keras memanggil Taemin yang sedang ada diatas.
Lagi lagi Jiyoung melempar senyumnya dan mengangguk beberapa kali.
Sunny meninggalkan mereka berdua dan menuju kamar dimana ada Taemin disana.
“Taeminnie?” Sunny memulai pembicaraan setelah ia berhasil memasuki kamar itu dan melihat Taemin sedang berkutik pada laptopnya.
“Ya?”
“Ada Jiyoung dibawah.” Taemin langsung menatap Sunny dengan setengah kaget. Lalu ia kembali mengalihkan tatapannya kepada laptop miliknya.
“Bilang saja aku sedang pergi.”
“Taeminnieeeee..” Sunny mengelus kepala Taemin lembut.
“Ck” Taemin berdecak dengan suara keras yang sepertinya disengaja. “Ya, aku akan kebawah.” Taemin menutup laptonya dalam keadaan ‘stand by’ dan mendahului Sunny keluar kamar. Dengan tampang seadanya Taemin menuruni tangga dan mendekati Jiyoung bersama Eunhyuk.
“Hai!” Jiyoung melambaikan tangannya dan melemparkan senyumnya pada Taemin. Sepertinya dia tadi asyik sekali berbincang dengan Eunhyuk.
“Ya, hai.” Taemin membalas dengan senyuman yang hanya bertahan 2 detik saja.
“Ada apa?” Sambungnya seraya duduk disoffa yang berada diseberang soffa yang didudukki Jiyoung.
Eunhyuk yang mengerti dengan keadaan mereka langsung berpindah tempat entah kemana.
“Hm? Tidak. Tidak ada apa apa.”
“Hah? Lalu?” Taemin menyandarkan tubuhnya disoffa tersebut dengan santai.
“Lalu apa? Aku hanya ingin berkunjung kesini.”
“Oh, aku sedang mengerjakan tugas.”
“Hah? Benarkah? Aku mengganggu ya?” Taemin tersenyum, lagi lagi bertahan hanya 2 detik saja.
“Tidak. Biasa saja.”
Padahal Taemin ingin sekali membalas dengan jawaban ‘Ya’.
Entah, semenjak keluarga Jiyoung mengusulkan tentang ‘itu’, Taemin menjadi agak risih dengan Jiyoung.
“Ohya, ada yang aku ingin bicarakan padamu.” Kini Taemin yang memulai topik pembicaraan baru. Tumben.
“Ada apa ada apa?!” Jiyoung segera pindah kesoffa yang sama dengan Taemin.
“Jiyoungie..” Taemin menarik nafasnya dalam dalam. “Bisakah kita membatalkan pertunangan ini?”
Yap.
Akhirnya kata kata yang ingin sekali Taemin lontarkan pada Jiyoung keluar juga dari bibirnya.
Jiyoung tidak merespon, perlahan senyuman yang terus merekah dibibirnya itu pudar begitu saja setelah mendengar ucapan Taemin barusan.
Tapi sejenak kemudian Jiyoung kembali menyimpulkan senyumannya.
“Taeminnie, aku membawakanmu makanan tadi. Cobalah makanan ini.”
H-a-h-?
Taemin tercekat mendengar respon Jiyoung. Apa ini?! Apa dia mendengar ucapan Taemin tadi? Apa dia memang tidak mendengar? Tapi itu tidak mungkin.
“H-huh?” Taemin sedikit menaikkan alisnya.
“Cobalah ini. Banyak orang yang bilang enak sekali.” Jiyoung menyodorkan setumpuk sandwich yang masih tertata dalam kotaknya.
Sungguh, apa maksudnya ini? Taemin berusaha mencerna kalimat yang baru saja ia lontarkan tadi. Apa itu kurang jelas? Apa kalimatnya susah dimengerti sampai sampai diabaikan begitu saja?
Okey, kini Taemin bingung. Tapi sepertinya kita semua sudah tau, jawaban dari pertanyaan Taemin tadi adalah ‘tidak’.
“Jiyoung?” Taemin memanggil namanya pelan.
“Ya?”
“Kau—”
“Ah, masalah pertanyaanmu tadi. Hahaha yayaya. Tapi aku tidak bisa. Ah maaf ya, aku…menyayangimu. Dan aku tau kau tadi hanya bercanda kan?”
Deg.
Bodoh. Entah siapa yang bodoh saat ini.
“Uh?”
“Sudah lupakan saja. Makanlah ini. Enak!” Jiyoung kembali menyodorkan setumpuk makanan tadi kepada Taemin. Okey mungkin dilain hari ia bisa menanyakan ini pada Jiyoung lagi. Masih ada waktu minimal 1 minggu lagi, kan?
“Sulli? Hai!” Jiyoung melemparkan senyumnya pada seorang yang berada didepan pintu itu, Sulli. Spontan Taemin ikut menoleh kearah orang yang diberikan Jiyoung senyuman tersebut.
“Ah—ya, Hai.” Sulli membalas senyuman manis itu. Dengan masih menggunakan baju seragamnya Sulli masuk kerumah dengan langkah ragu. Entah, ia menjadi grogi begini.
“Duduklah disini! Kita mengobrol bertiga. Pasti asyik!” Jiyoung bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Sulli menuju soffa.
“A-ah, Jiyoungie, sepertinya aku tidak bisa. Hm, tugasku banyak sekali yang belum dikerjakan.” Sulli melepas rangkulan tangan Jiyoung dilengannya itu dengan hati hati.
“Begitukah? Ah yasudah. Tidak masalah. Kerjakan saja tugasmu. Apa perlu kubantu? Siapa tau aku bisa—”
“Aaaahhhh tidak usah! Nanti aku…..akan mengganggu kalian saja. Ahahaha” Sulli tertawa garing pada Jiyoung. Tapi entah apa sebabnya Jiyoung tidak mencurigai tingkah laku Sulli yang ‘aneh’ ini.
“Ahahaha yayaya. Baiklah.”
Sulli meninggalkan mereka berdua saja.
Tiba tiba Jiyoung mendekati Taemin dan menarik lengan kanannya untuk beranjak dari soffa yang didudukinya.
“Mau kemana?” Taemin sedikit menyeka tarikan itu.
“Kekamarmu!”
“Apa? Untuk apa?”
“Tidak apa apa. Ayo!” Jiyoung kembali menarik tangan Taemin dengan sedikit paksaan.

“Naaah, aku sangat rindu dengan keadaan kamarmu!” Jiyoung merentangan tangannya setelah ia berhasil masuk kekamar itu.
“Bukankah kau dua hari yang lalu sudah kekamarku?”
“Benarkah? Ah aku tidak ingat. 2 hari itu seperti 2 tahun bagiku.”
Taemin tersenyum tipis pada Jiyoung. Yah, memang dia tidak mencintai gadis ini. Tapi entah mengapa ia tidak bisa berlaku dingin kepada gadis ini.
Taemin berjalan kebalkon depan kamarnya. Belum sampai ia berjalan 3 tapak..
Blak.
Jiyoung yang entah ada angin apa memeluk Taemin dari belakang dengan tiba tiba.
Taemin tersentak dibuatnya. Kaget, sangat! Belum ada satu perempuan saja yang pernah memeluknya. Ah! Tapi Sulli pengecualian.
“K-kau?”
“Taeminnie, biarkan aku memelukmu.”
“Ck, Ya Jiyoungie!”
Taemin terus berusaha melepaskan tangan Jiyoung yang melingkar ditubuhnya. Tapi entah tenaga Jiyoung kenapa bisa sekuat ini.
“Aku mohon..” Jiyoung mengeratkan pelukan itu.
Cklek.
Pintu kamar terbuka.
“Jiyo— Oh, astaga! Ma-maf. Aku minta maaf.”
Refleks Taemin melepas begitu saja pelukan Jiyoung dengan paksa setelah melihat Sulli membuka pintu kamar.
“Ah tidak apa apa Sulli.” Jiyoung tersenyum padanya. Hanya senyuman? Ck, gadis ini terlalu polos.
“A-aku…cuma ingin memberikan ini…padamu. A-ah, kau meninggalkan ini diruang tamu tadi..” Sulli menyodorkan sebuah tas kecil pada Jiyoung. Kagek, sangat kaget ia melihat apa yang ia barusan lihat tadi. Sulli mencoba menenangkan dirinya sekarang.
“Ah, baiklah. Terima kasih Sulli.”
“Y-ya. Sama sama. Aku—keluar dulu ya. Sekali lagi aku minta maaf telah mengganggu kalian tadi.” Sulli membungkukkan badannya sempurna. Taemin hanya terpaku tidak tau harus mengeluarkan kata apa saat ini.
Sulli segera menutup pintu kamar itu dengan cepat dan berlari menuju kamarnya.
“Huffffhufff tenangkanlah dirmu Choi Jinri! Tenangkanlah dirimu!!!” Sulli menyandarkan dirinya dipintu kamar yang sudah ia tutup itu.
Sesekali dikibaskannya telapak tangannya kearah mukanya yang sekarang sedikit panas itu.
Entah, hatinya tak bisa berhenti berdetak cepat sekarang. Rasanya jantungnya ingin sekali diikutkannya dalam pertandingan balap mobil.
“Ck, kenapa kau tidak bisa tenang Choi Jinri???” Sulli menepuk-nepukkan dadanya sendiri sekarang. Kejadian yang ia lihat tadi sudah berlalu sekitar 15 menit. Tapi bayangan kejadian itu masih saja ada dibenaknya.

.
.

Sulli menutup buku buku yang baru saja ia pelajari itu. Dengan belajar semua masalah yang dia lihat tadi mungkin akan hilang. Tapi sudah hampir 2 jam ia berkutat pada buku buku pelajaran ini, masalah tadi belum saja hilang dari pikirannya.
Helaan nafas berkali kali terdengar jelas. Sungguh berantakan pikirannya saat ini.

“Sulli?” Sulli sedikit kaget mendengar namanya yang tiba tiba dipanggil.
“Sunny unnie?” Sulli tersenyum tipis pada Sunny. Sunny memasukki kamar Sulli dan duduk ditepi tempat tidurnya.
“Kau kenapa? Sudah beberapa jam tidak pernah keluar kamar. Kau belum makan siang bukan?”
“Ya……hehehe” Sulli hanya bisa terkekeh garing pada Sunny. Memang sejak kejadian tadi sampai sekarang dia belum sekalipun keluar kamar. Hanya tiduran, membuka buku; dan tidak membacanya, menonton tv, dan hal hal sepele yang ia kerjakan dikamar ini.
“Pergilah keluar. Makanlah..” Suruh Sunny yang sedikit menyenggol tubuh Sulli.
“….Ya unnie. Nanti saja.”
Tiba tiba suasan kamar menjadi sepi, tidak ada yang memulai pembicaraan dan hanya ada suara hembusan nafas mereka saja.
“Unnie…” Sulli memulai.
“Ya?”
“Aku…….ingin pindah dari rumah ini..” Sulli sedikit menundukkan kepalanya.
“Hah? Maksudmu?!” Sunny membelalakkan matanya sempurna. Apa maksud ucapan Sulli barusan?!
“Ya, aku ingin mencari nenekku dan kembali ke Daeyo unnie..”
Sunny menambahkan bulatan pada matanya. Marah? Mungkin.
“Ya! Choi Sulli! Apa apaan? Kau tidak boleh pergi begitu!”
“Unnie, sampai kapan aku harus tinggal dirumah ini? Itu juga hanya membebankan kalian saja kan?”
“Siapa yang berbicara seperti itu huh?”. Sulli menggeleng cepat.
“Tidak ada. Cuman, aku….”
“Tidak boleh! Umma dan appa, tentu Taemin juga tidak akan pernah setuju jika kau pergi dari rumah ini!”
“Tapi unnie……”
“Tidak Sulli. Hhhhhh kuharap kau memikirkan kembali keputusanmu ini..” Sunny meninggalkan Sulli begitu saja. Entah, pikiran Sulli terlalu berantakkan sampai ia berpikiran seperti itu.
.
T.B.C
.

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , , | 10 Comments

Post navigation

10 thoughts on “….Is It OK? [Part 7]

  1. songhye

    makin seru…
    Lanjut.. Jgn kelamaan ya

  2. Kaa24des

    Aaaaaa sedih ff ;(( part 8 nya buruan!!

  3. @songhye: hehe siiiip thanks ya^^

  4. @Kaa24des siiiiip thanks deaaar {{

  5. Update kilat chingu!

  6. yaowohhh~
    itu jiyoungnya kok jadi nyebelin siihhh :(( kan kasian sullinya u,u
    lanjut yaa😀
    bagus kok ffnya :DD

  7. chinguuuuuuuuuuu…..!!
    maaf nih bru comment di part 7..kemaren bcanya di hp sih..susah komennya..
    lanjuuutt donk…aisshh..kok disini jiyoung menjengkelkan ya..walopun dy baik ttep aj aq ga suka T.T
    taelli jjang…

  8. @arara09 sip chinguuuu hehe😀

  9. @Intan hahaha entah tuh nyebelin ya hahaha
    @pettytaem92 haha gapapa kok chingu🙂 sipppp hehe iyanih maaf jiyoungnya nyebelin, tapi dia baik sebenrnya kok xD

  10. mwo? Kya! Sulli eonni, apa yg kau pikirkan? Knp ingin pindah rumah?
    Keren ceritanya (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: