…..Is It OK? [Part 8 / END]

Haaaaaai! Finally~ ini last chapter teman teman. Kyaaaaaw~ aku 4 taun bikinnya hiksss T_T /dibuang.
Pertama saya mau makasih sama Intan yang udah ikut berpartisipasi(?) dalam ff ini HAHAHA terus aku mau terima kasih sama Kharisaaaa yang udah nyemangatin aku dan ngebet buat lanjutin(?) {} Buat temen temen yang nunggu ff ini (anjir pede parah-_-) Aku sayang kaliaaaan(???)
Tapi buat yang kecewa sama endingnya maaf ya hehehe /dilemparin/
Udahan ah gila kan-_- yukmarinari😀

.

Author: taelliners =))
Main Cast: Lee Taemin / Choi Sulli.
Other Cast: Kang Jiyoung, Jung Krystal.
Support Cast: Lee Sunny, Kim Hyoyeon/Lee
Hyukjae.
Genre: Romance, Friendship, Family.
Length: Sequel, Multichapter.
Rating: PG-13 :p

.
…..Is It OK? [Part 8]
.

“Apa? Kau bercanda Sulli?!”
Sulli menggelengkan kepalanya seraya menundukkannya sedikit. Sepertinya keputusan yang ia buat itu sepenuhnya bulat.
“Kau gila! Daeyo itu jauh sekali! Bagaimana bisa kau pergi kembali kesana seorang diri!” Krystal terus menerus membentak Sulli. Bukan bentakkan yang terlalu, tapi bisa dikategorikan dengan kekecewaan.
“Aku tidak percaya dengan keputusanmu Sulli.” Krystal menyerah, lalu duduk disamping Sulli yang masih menundukkan kepalanya.
“Mau bagaimana lagi? Sampai kapan aku akan merepotkan keluarga Lee? Tidak lucu jika kau menjawab selamanya..”
“……. Ya, tapi Sulli—”
“Krystal-ah, aku tidak mau membebankan keluarga yang terlalu baik denganku itu..”
“Sulli, aku tau alasanmu kembali ke Daeyo bukan karena kau tidak mau merepotkan keluarga Lee. Pasti karena hal itu kan?!” Ucap Krystal dengan pemikiran otaknya.
Sulli terdiam. Dia tidak bisa berbohong memang pada orang yang sudah termasuk sahabatnya ini.
“Aku……” Mata Sulli sudah berkaca kaca sekarang.
“Sulli-ah~” Krystal memeluk tubuh Sulli erat. Dia tau dan bisa merasakan apa yang dirasakan Sulli sekarang.
“Krystal..” Sulli hanya bisa diam dipelukan Krystal. Sesekali ia menyeka air matanya yang sudah terlanjur tumpah itu.

.
.

“Kau kenapa Sulli?” Hyoyeon menaruh secangkir kopi hangat yang sengaja ia buatkan untuk Eunhyuk diatas meja. Sulli yang baru saja sampai pulang dari sekolah hanya bisa menyimpulkan senyuman tipis pada Hyoyeon.
“Tidak ada apa apa ahjumma..”
Hyoyeon mengangguk dan tersenyum. Sulli duduk disamping Hyoyeon.
“Ahjumma. Aku ingin berbicara sesuatu..”
“Ya? Bicarakan saja Sulli.”
“Aku…..ingin kembali ke Daeyo..”
Piring kecil yang berisi brownies buatan Hyoyeon yang dipegangnya tadi terjatuh begitu saja kemeja dan berhasil menghasilkan suara yang mengagetkan.
“Apa? Kau bercanda?!”
Sulli menggeleng pelan.
“Tidak.. Aku akan mencari nenekku.”
“Nenekmu?! YaTuhan Choi Sulli~” Hyoyeon memegangi kedua pipi Sulli dengan lembut. “Bagaimana bisa kau memutuskan hal seperti itu?”
Sulli tidak menatap wajah Hyoyeon, hanya menundukkan kepalanya saja.
“Aku akan merepotkan keluarga ini jika aku terus terusan tinggal disini..”
“Siapa yang bilang begitu? Ya! Ummamu pasti akan marah besar padaku. Ummamu menitipkanmu denganku Sulli..”
“Tapi—”
“Sulli-ah~ dengarkan aku. Itu adalah keputusanmu. Aku tidak akan memaksakannya. Tapi aku mohon, perjalanan dari Seoul ke Daeyo itu sangat jauh. Dan kau ingin melakukannya seorang diri? Itu tidak mungkin sayang..”
Hyoyeon melepaskan tangannya dari kedua pipi Sulli. Lalu berpindah memegang bahu Sulli.
Sulli mengangguk dengan cepat. “Aku tau itu akan berbahaya, tapi aku bisa melakukannya sendirian kok”
“Ya, terserah kau saja. Tapi aku mohon kau memikirkan lagi keputusanmu ini ya..”
Sulli tersenyum, lalu meninggalkan Hyoyeon.

Sulli menaiki tangga dengan pelan dan membuka kenop pintu kamarnya.
Kaget.
Sangat.
Tiba tiba Taemin sudah berada didalam kamarnya sambil bersender santai disamping lemari.
“K-kau?” Sulli mendekati Taemin.
Taemin tidak menatap Sulli sama sekali, hanya menatap lurus kearah balkon kamar itu.
“Kau mau pergi?” Tanya Taemin dengan nada yang sangat datar.
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Aku tanya kau mau pergi?”
“….. Ya.” Sulli kembali menundukkan wajahnya.
“Kembali ke Daeyo?” Masih dengan tatapan lurus dan suara yang datar.
Sulli menjawab dengan anggukan 3 kali.
“Untuk apa?”
“Aku—”
“Untuk alasan yang kau bicarakan kepada umma tadi?”
“K-kau mendengar semuanya?!”
“Sangat konyol” Taemin tersenyum tipis. Masih dengan tatapan lurus.
“Konyol?”
“Ya, sangat konyol.” Kini Taemin menatap mata Sulli. Dalam sekali.
“Aku tidak mengerti Taemin.”
“Kau tau? Hanya orang bodoh yang beralasan seperti itu.”
“Apa maksudmu?” Sulli menatap Taemin dengan lekat pula. Taemin membenarkan posisinya menjadi tegak.
“Pikirkan saja sendiri” Taemin menuju pintu dan keluar dari kamar meninggalkan Sulli begitu saja. Sulli menatap kearah pintu keluar. Pikirannya masih sangat kacau.

Taemin membanting pintu kamarnya. Lalu ia bersandar dipintu yang baru saja ia banting itu. Taemin menghela nafasnya panjang sambil menutup matanya. Hatinya juga tak karuan saat ini. Banyak sekali hal yang ‘tidak dia inginkan’ terjadi belakangan ini. Ya, hal yang tidak dia inginkan..

.
.

“Sulli?” Sulli menengok kearah pintu kamarnya dimana panggilan suaranya berasal.
“Ya? Ah Sunny unnie?” Sunny masuk kedalam kamar Sulli perlahan, lalu duduk disamping Sulli, di pinggir tempat tidurnya.
“Kau yakin dengan keputusan yang kau bicarakan padaku kemarin itu?”
Sulli yang tadinya berbaring ditempat tidur kini mengikuti Sunny yang duduk.
“……… Ya unnie. Aku tidak mau—”
“Merepotkan keluarga ini?” Tebak Sunny dengan tepat.
Sulli menganggukkan kepalanya pelan.
“Dengan siapa kau pergi kesana?”
“Sendiri……”
“Menggunakan apa?”
“……… Tidak tahu.”
Sunny mengehal nafasnya panjang.
“Sulli-ah~ itu akan berbahaya. Kau masih muda. Banyak hal yang tidak diinginkan akan terjadi padamu nanti. Kau mau ummamu akan kecewa dengan kelakuan anaknya yang melukai dirinya sendiri?”
Sulli diam. Tak berani menjawab apa apa lagi. Ya, keputusan yang diambilnya ini memang gila. Tapi bagaimana lagi? Tujuan utama ia pergi dari rumah ini adalah untuk menghindari kesakitan hatinya akan pertunangan yang menyesakkan itu..
“Aku tau kau ingin kembali ke Daeyo bukan karena kau tidak ingin merepotkan keluarga ini..” Ucap Sunny tiba tiba sambil berdiri dan menuju meja belajar Sulli.
“H-huh?” Sulli mengangkat alisnya. Bingung.
“Kau tidak bisa menyembunyikan kebohongan dariku Choi Sulli.” Sunny mengambil sebuah buku pelajaran Sulli.
“Unnie—”
“Karena pertunangan itu kan?”
Tepat.
Sulli diam lagi sesaat. Hatinya masih belum mempersiapkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Sunny sekarang.
“Unnie..”
“Aku tau semuanya Sulli.”
“Bagaimana bisa……?”
“Lihat, nilai sekolahmu bagus bagus. Sangat disayangkan jika kau meninggalkan ini semuanya dan pindah kesekolah lain kan?”
“Tapi aku tidak bisa.”
“Tidak bisa kenapa? Sulli-ah, kau tau? Aku juga pernah mengalami ini. Tapi akhirnya batal karena keinginanku sendiri yang meminta pada si ‘calon’.” Sunny menaruh buku pelajaran Sulli yang dipegangnya tadi dan menyandarkan tubuhnya dimeja belajar itu.
Sulli tetap diam.
“Choi Sulli. Aku yakin nanti pasti ada jalan keluarnya.” Sunny tersenyum dan mendekati Sulli yanh masih menundukkan kepalanya.
Sunny memegang bahu Sulli dan menuntun tubuh Sulli untuk berdiri dari tempat tidur.
“Jodoh itu bukan kita yang mengatur. Bukan kita yang dapat memilih jodoh. Sama halnya dengan Taemin dan Jiyoung. Jika memang mereka tidak berjodoh, pasti nanti ada jalan keluarnya. Jika memang kau dan Taemin tidak berjodoh, pasti ada yang lebih baik dari Taemin yang pantas untukmu, Sulli..” Sunny menatap Sulli dengan serius.
Air mata Sulli sudah mulai jatuh satu persatu. Baru kali ini dia menangis didepan Sunny.
“Lihat mataku Sulli,” Sulli memberanikan dirinya untuk menatap Sunny.
“Aku yakin nanti akan ada jalan keluarnya..”
Sunny memeluk Sulli yang sudah tidak dapat menahan emosinya.
Astaga, betapa beruntungnya Sulli mengenal Sunny. Sungguh beruntung.

.
.

“Taeminnie, kenapa kau selalu mengabaikan pertanyaanku? Aku ajak bicara kau hanya diam” Jiyoung menyenggol lengan Taemin yang masih menatap lurus kamarnya itu.
“Aku sedang tidak dalam mood yang bagus.”
“Kenapa? Ada masalah ya?”
Taemin hanya menjawab dengan gelengan. Entah apa yang ia sedang pikirkan sekarang. Banyak sekali yang memutar mutar dalam otaknya saat ini.
Taemin menghela nafasnya.
“Tidak perlu tau.”
“Kau ini kenapa?”
“Bisakah kau tidak memaksaku Jiyoung?”
Jiyoung tersenyum pada Taemin. Tersenyum? Ckck
“Okey, aku menyerah.”

“Jiyoungie..” Taemin menegur Jiyoung yang sedang asik membaca majalah dengan santai dikursi dekat tempat tidur Taemin.
“Ya Taemin?”
“Bisakah kita batalkan pertunangan ini?”
Yap, untuk yang kedua kalinya Taemin mengajukan pertanyaan yang sama dengan kemarin.
“Huh?”
Jiyoung terdiam, begitu pula dengan Taemin.
Senyuman Jiyoung kembali memudar mendengar pertanyaan itu.
“Ya!! Majalah ini kau beli dimana? Isinya bagus sekali..” Jiyoung kembali berkutik pada majalah yang dipangkunya itu.
Yah, seperti halnya dengan kemarin. Jiyoung selalu menghindar dari pertanyaan Taemin itu.
Taemin menutup matanya dan beranjak dari kursi yang ia tempati. Ia sungguh lelah dengan respon Jiyoung saat ia menanyakan hal tadi.
“Aku keluar dulu”
“Mau kemana?” Jiyoung ikut beranjak dari kursinya dan mendekati Taemin.
“Bukan urusanmu”
Jiyoung meraih pergelangan tangan Taemin dan memegangnya dengan erat.
“Lepaskan aku..”
Entah ada angin apa, Jiyoung menarik bahu Taemin dan membalikkan tubuhnya.
Cup.
Jiyoung mencium bibir Taemin dengan sedikit paksaan. Kedua telapak tangan Jiyoung memegang leher Taemin dan terus mencium bibirnya dengan mata tertutup.
Taemin berusaha melepaskan dirinya dengan cara mendorong bahu Jiyoung sekuat tenaganya.
Tapi entah kenapa, Taemin malah berhenti mendorong tubuh Jiyoung lalu meletakkan kedua tangannya dipinggang Jiyoung dan ikut menutup matanya.
Gila. Taemin sungguh gila saat ini. Entah apa maksud semua perlakuannya sekarang.

.

Sulli berjalan keluar kamarnya bermaksud untuk kebawah. Dengan perlahan ia menapakkan kakinya menuju tangga.
Ups, pintu kamar Taemin terbuka sedikit. Penasaran, Sulli mendekati kamar Taemin untuk menutup pintu kamar itu.
Sulli terdiam, sangat tercekat. Kaget sekali.
Shock, Oh Tuhan..
Nafas Sulli kini sesak, kakinya entah mengapa tidak bisa bergerak, lututnya kini lemas. Ingin sekali ia mencampakkan dirinya saat ini juga. Ingin sekali ia berlari dari pemandangan yang membuat air matanya jatuh ini, tapi entah kakinya benar benar tidak sesuai dengan hatinya. Kakinya tidak bisa bergerak. Seperti tertahan begitu saja didepan pintu kamar ini. Nafas Sulli masih sesak.
Dilihatnya Taemin dan Jiyoung berciuman dengan…..astaga mesra sekali. Ditambah lagi dengan raut Taemin yang sepertinya sangat menikmati ciuman itu. Seperti tidak ada yang mengganjal dalam benak Taemin. Seperti………Yaampun.
Belum selesai dengan kemarin ia tidak sengaja melihat Taemin dan Jiyoung berpelukan, dan sekarang? Hal yang lebih gila lagi dilihat olehnya!
Sungguh, waktu Sulli mendengar nasihat Sunny kemarin, dia ingin sekali mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah ini. Tapi melihat kejadian ini, keputusan yang ia buat kemarin sepertinya tidak salah

Taemin dan Jiyoung belum melepaskan ciuman mereka.
Kaki Sulli sudah bisa digerakkan sekarang, Sulli berlari meninggalkan pemandangan yang tidak mengenakkan itu dan menuju kamarnya.
Blak.
Sulli menumbur seseorang. Sunny.
“Sulli? Kau kenapa? Kau menangis?!” Sunny memegang bahu Sulli yang menunduk. Sungguh, Sulli tidak bisa menahan air matanya.
“Kau kenapa?!”
Sulli langsung memeluk Sunny dengan erat. Emosinya kini tidak dapat terkendali. Tangisannya menghasilkan suara. Sulli menangis dipelukan Sunny dengan sepuas dirinya.
“Tenanglah Sulli. Tenanglah..” Sunny mengelus rambut Sulli dengan pelan. Tanpa dijelaskan saja Sunny sudah bisa menebak apa sebab Sulli menjadi begini.
Sulli masih menangis dipelukan Sunny. Air matanya entah mengapa tidak bisa berhenti.

.
.

Sulli menutup pintu kamarnya; yang tidak akan menjadi kamarnya lagi itu. Sulli mengangkat sebuah koper dengan susah payah.
Koper? Ya, hari ini juga Sulli memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Malam malam begini. Sepertinya dia sudah terlanjur sesak dengan kejadian tadi.
Sulli berjalan menyeret kopernya yang luamayan berbobot berat itu.
Sulli menghentikan jalannya. Taemin sudah ada didepan dirinya sekarang, dengan kedua tangannya yang dimasukkan kesaku celananya.
Sulli menatap Taemin. Begitu pula sebaliknya. Kini hati Sulli sudah berdegup kencang.
“Mau kemana?” Taemin memulai pembicaraan.
“Aku—”
“Pulang ke Daeyo?”
“….. Ya.”
Taemin mendekati Sulli. Kini jarak diantara mereka tidak terlalu jauh.
“Untuk apa pulang?”
“Aku tidak mau merepotkan keluarga ini…”
“Bohong.” Taemin menatap mata Sulli dengan tajam.
“Apa maksudmu?”
“Bukankah kau menyukaiku?”
Sulli tersentak mendengarnya. Sungguh. Tidak tau harus menjawab apa.
“K-kau—”
“Kau menyukaiku kan?”
“Tidak!” Sulli menjawab dengan sedikit meninggikan suaranya. “Siapa bilang huh? Aku sama sekali tidak menyukaimu!” Sulli menatap tajam Taemin sekarang. Berusaha tenang, tetapi hatinya sungguh tidak karuan.
“Kau menyukaiku bukan?”
“Ti-tidak!!”
“Jangan berbohong!” Taemin semakin mendekatkan dirinya kepada Sulli.
“Y-ya! Ya ya! Benar! Benar, aku menyukaimu! Aku mencintaimu Lee Taemin!” Sulli semakin meninggikan suaranya, lebih tepatnya berteriak pada Taemin.
Kini Taemin yang terdiam.
“Aku, aku mencintaimu. Bukan hanya sekedar menyukai. Aku menyayangimu! Sekarang kau puas? Sekarang kau sudah senang? Hhhh, betapa bodohnya aku mencintai seseorang yang tidak mencintaiku.”
Nafas Sulli kini sesak kembali. Dadanya sudah susah mengatur nafasnya sekarang.
“Memang aku mencintaimu, tapi aku akan berusaha melupakanmu dan mencintai laki laki lain.” Sulli merendahkan nada suaranya. Dia sudah lelah berteriak terus menerus.
Blak.
Tiba tiba Taemin memeluk Sulli. Memeluknya dengan erat.
“Ta-Taemin..”
“Jangan pergi dari rumah ini. Aku mohon jangan..” Taemin semakin mempererat pelukannya.
“K-kau—”
“Jangan tanya kenapa aku melarangmu pergi dari rumah ini. Karena aku mencintaimu.”
Mata Sulli sudah berkaca kaca, kelopak matanya mulai ingin mengeluarkan cairan sekarang.
“Jangan tanya kenapa aku mencintaimu. Karena aku tidak tau kenapa aku bisa sangat mencintaimu.”
Yap, air mata Sulli kini sudah keluar mengalir kepipinya. Dibalasnya pelukan Taemin.
“Dan satu lagi, jangan pernah mencoba melupakanku dan mencintai orang lain. Karena aku tidak ingin orang yang kucintai mencintai orang lain.”
Sulli semakin mempererat pelukan Taemin. Dia tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Benar benar tidak menyangka.
“Aku tidak akan melupakanmu dan mencintai orang lain. Karena aku tidak yakin aku bisa melakukan itu.”
Taemin tersenyum, sangat puas karena dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Sulli.
“Soal ciumanku ke Jiyoung kemarin. Itu akan kujelaskan..”
.
.

“Taemin?” Jiyoung mengibaskan tangannya didepan muka Taemin.
“Eh? Kau sudah satang Jiyoung?” Taemin sedikit tersentak melihat Jiyoung. Jiyoung tersenyum lalu duduk dibangku yang sama dengan Taemin.
“Ada apa? Tumben kau mengajakku ketaman seperti ini?” Jiyoung tersenyum pada Taemin.
“Aku ingin membicarakan tentang pertunangan kita.”
Jiyoung mengubah ekspresi wajahnya. Menjadi ekspresi yang beda dari yang tadi.
“Jika kau ingin membicarakan hal yang kemarin, sebaiknya tidak usah.” Jiyoung mengambil ponselnya dari tasnya dan menyandarkan tubuhnya dikursi taman itu.
Taemin beranjak dari kursi itu, berjalan kedepan tubuh Jiyoung dan meletakkan lututnya ditanah. Taemin berlutut didepan Jiyoung sekarang.
“Aku mohon.. Batalkan pertunangan ini..”
Spontan Jiyoung membelalakkan matanya melihat Taemin melakukan hal gila ini.
“Y-ya! Lee Taemin! Kau—”
“Aku mohon dengan hormat kepadamu Kang Jiyoung..”
“Kau sudah gila??? Apa yang kau lakukan? Berdiri Lee Taemin!”
Jiyoung beranjak dari kursinya dan menuntun Taemin untuk berdiri. Tapi Taemin menepis tangannya. Taemin sungguh gila memang. Dia rela merendahkan dirinya sampai seperti ini.
“Aku mohon, aku tidak mencintaimu..”
Sakit. Ya, sakit sekali hati Jiyoung mendengar Taemin berkata seperti itu. Tapi cara inilah yang pantas dilakukan bagi Taemin.
Jiyoung terdiam. Tidak tau harus merespon apa.
“Aku mencintai perempuan lain. Maaf Jiyoung.” Taemin kini membungkukkan badannya. Taemin-sungguh-nekat.

.
.

“Kau kenapa Jiyoungie?” Ayah Jiyoung mendekati Jiyoung yang sedang melamun dikursi depan.
“Ah? Aku tidak apa apa ayah.” Jiyoung tersenyum pada Tuan Kang itu.
“Jangan berbohong pada ayah Kang Jiyoung.” Ayah Jiyoung duduk disampingnya.
Jiyoung kembali tersenyum. Lalu menggosok gosokkan tangann.
“Ayah..”
“Ya? Ada apa?”
“….. Hm, aku ingin pertunanganku dengan Taemin dibatalkan..”
Ayah Jiyoung terkaget mendengarnya. Dibatalkan? Sementara pertunangan itu berlangsung 4 hari lagi..
“Jiyoungie? Kau serius?”
Jiyoung tersenyum.
“Ya ayah.”
“Tapi kenapa sayang?”
“Aku…..tidak mau orang yang tidak mencintaiku memaksakan dirinya untuk mencintaiku.”
Ayah Jiyoung menaikkan sebelah alisnya.
“Apa maksudmu, nak?”
“Cinta itu tidak harus memiliki kan, yah?” Jiyoung lagi lagi mengembangkan senumannya.
“Ya, itu benar..”
“Itu alasanku ayah..”
“Alasanmu? Apakah ayah harus menegur Taemin tentang masalah ini?”
Jiyoung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Tidak! Itu sangat tidak diperlukan ayah. Aku tidak mau memaksakan yang sebenarnya. Lagipula jika Taemin tidak mencintaiku, apakah harus dipaksakan? Itu tidak baik kan?”
Kini ayah Jiyoung tersenyum pada anaknya itu.
“Ayah bangga padamu, nak..”
Ayah Jiyoung mengacak rambut Jiyoung dengan penuh kasih sayang

.
.

“Kau mencari Taemin? Ah Taemin sedang keluar dan—”
“Tidak, aku mencarimu Sulli.”
Jiyoung tersenyum pada Sulli. Ya, kemarin malam dia mengurungkan niatnya untuk pergi. Karena apa? Tidak usah ditanyakan karena apa. Kalian semua pasti tahu kan? Sulli hanya membelalakkan matanya bingung. Untuk apa Jiyoung mencarinya?
“Si-silahkan masuk.”
Jiyoung mengikuti Sulli yang masuk kedalam rumah dan duduk disoffa ruang tamu.
“A-ada apa Jiyoung?”
Entah ada angin apa Jiyoung memegang tangan Sulli sekarang. Sulli semakin bingung dibuatnya.
“Sulli, aku mohon kau harus menjaga Taemin sepenuhnya. Tolong sayangilah dia dengan sepenuh hatimu.” Jiyoung tersenyum padanya. Sulli terdiam. Tidak tau harus merespon apa.
“Mak-sudmu?”
“Aku tau Taemin menyukaimu dan kau menyukai Taemin..”
“H-huh? Bagaimana bisa—”
“Taemin yang menjelaskan semuanya pasaku Sulli. Maaf selama ini aku telah membuatmu sakit hati atau semacamnya. Sungguh, jika aku tau bahwa kau menyukainya aku tidak akan seperti itu Sulli.” Sejenak Jiyoung menundukkan kepalanya. Perasaan menyesal menyelimuti dirinya sekarang.
“Ah, itu tidak masalah Jiyoung.” Sulli tersenyum, lalu memegang bahu Jiyoung.
“Dan masalah pertunangan, aku sudah membatalkannya….” Jiyoung tersenyum (lagi) pada Sulli.
“HUH? Kau bercanda?!” Sulli membulatkan matanya sempurna. Kagek. Sangat.
“Hahahaha tenanglah Sulli. Aku bukan tipikal perempuan yang harus bisa memiliki segalanya yang ia mau.”
Jiyoung memeluk Sulli. Senyuman Jiyoung sangat tulus, tidak ada rasa mengganjal yang terbenak disenyumannya itu. Dia sungguh berlapang dada menerima keputusan yang ia buat semalam.
Cklek.
Bunyi pintu rumah terbuka terdengar oleh mereka. Lantas mereka melepaskan pelukan itu.
“Jiyoung? Kau disini?!” Taemin yang baru saja datang.
“Hahaha kenapa kau kaget begitu? Seperti melihat monster!” Jiyoung mengajak Taemin bercanda. Ya, supaya menghilangkan rasa ke-awkward-an mereka. Jiyoung mau dia dan Taemin tetap bersahabat dekat walau kejadian apapun yang akan datang nanti.
Jiyoung meraih pergelangan tangan Sulli dan membawanya mendekat dengan Taemin.
“Apakah kalian bersedia menjadi sepasang kekasih?” Jiyoung memandang Taemin dan Sulli secara bergantian. Dirasakan wajah Sulli sekarang sudah memerah.
“Pasti bersedia!” Jawabnya sendiri. Jiyoung meraih tangan Taemin pula. Lalu disatukan tangan Taemin dan Sulli tersebut.

.
.

“Ya!! Cepat! Apa kau mau terlambat kesekolah Lee Taemin?” Pagi pagi yang sangat buta begini, Sulli sudah mengomel tak jelas dikamar Taemin.
“Eunnnngg” Taemin hanya membenarkan posisi tidurnya dan kembali memasuki mimpi mimpinya.
“Lee Taemin!!!” Kini Sulli berteriak tepat didepan telinga Taemin. Keras sekali.
“Aish!!! Berisik sekali kau!” Taemin memegangi telinganya. Suara Sulli tadi membuat telinganya tidak terasa nyaman.
“Pergilah mandi!!!”
“Ya ya! Aku akan pergi mandi bawel!” Taemin beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi. Sulli hanya bisa tersenyum jahil melihat cara jalan Taemin yang seperti orang mabuk itu-_-

.

“Masuklah.” Sulli tersenyum pada Jiyoung dari dalam mobil. Jiyoung segera membuka pintu mobil itu dan susuk dikursi belakang.
“Kenapa terlambat?” Jiyoung bertanya sambil sedikit memajukan dirinya mendekati bangku mobil depan.
“Biasa, tuan tidur ini susah sekali dibangunkan!” Sulli melirik Taemin yang serius menyetir itu dengan tatapan tajam.
Ya, walaupun mereka sudah dihadapi dengan masalah yang hampir saja membuat mereka gila, tetapi persahabatan mereka semakin erat sekarang.
“Hanya terlambat 10 menit kan?” Tanggap Taemin santai.
“Hahahaha yasudah. Nanti Krystal menunggu, ayo jemput kerumahnya”
Krystal juga ikut dalam segerombolan sahabat ini. Setiap hari sekolah mereka selalu pergi bersama. Begitu pula dengan sepulangnya.
Kyuhyun? Ya, dia juga tergabung. Tapi dia tidak pergi sekolah bersama. Dia memilih pergi sekolah bersama kekasih barunya yang belum diketahui juga oleh mereka siapa..

END🙂

Maaaaaf bagi yang kecewa end nya nggak memuaskan hehe xD
Ohya! Follow ya yoongless @twitter hehe /plak
Pasti difollowback :p

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , | 20 Comments

Post navigation

20 thoughts on “…..Is It OK? [Part 8 / END]

  1. Kaa24des

    Sempet nangis baca yg awalnya tapi akhirnya bagus~ daebak!!😉

  2. @Kaa24des hehe bisa aja(?) Wkwk makasih yaaaaa aku sayang kamu /eh {}

  3. speechless…aku hanya bisa bilang ff ini awesome!!
    I Love Jiyoung in this story..!!
    serius,ceritanya baguss…
    buat authornya,Good Job!!
    nice ending ^^

  4. @pettytaem92 HAHAHA aduuuuh bisa banget nih bikin nge-fly ampe surga(?) Wkwk makasih yaaaaaaaaa ah aku sayang kamuuuuu {} Iya, Jiyoungnya baik tuh sebenernya hahaha.. Makasih banyaaaak!

  5. Keren……..
    speechless…
    i’ll cry now… #lebay
    4 thumbs up!!!

  6. @LocKeyBerism hahahaha makasih yaaa😉

  7. qinqin

    wah ending!buat cerita taelli lagi ya. . .ceritanya bagus,semangat buat kreasi selanjutnya

  8. Tuh kan mut aku bilang apa~ cerita kamu tuh bagusss😀

  9. @qinqin hahaha sippp ntar lagi coba dibuat🙂 thanks ya {}
    @kharissa whahahaha makasih dear😀

  10. whoaaaa~ endingnya bagus mut :DD aku sampek terharu *srooootttt #elap ingus di baju minho -_-*
    jiyoungnya baik yaahh?? dia merelakan TaeLli bersatu :’) *hug jiyoung (?)*
    namaku ada di daftar ‘thanks to’😀 kyaaaa~ #lebay kumat -____- *ditendang ke laut

  11. @Intan eleeeh itu kasian bajunya minho /plakkkk
    HAHA iyaaa si jiyoung tuh baik sebenernya *ikutan nimbrung peluk* (??)
    Hahaha iya nama kamu ada tuh, ayo tumpengaaan~ (??)

  12. Greaaatttt😀😀

  13. flychicken97

    Waa! Ada author taelliners juga! Hai mutmut😀
    kita emangh jodoh ya *eh ketemu dimana2 hahaha

  14. Ismy_hyoyeon

    Ceritanya sangat bagussssssss author,
    terharu banget….
    Daebak buat author……..

  15. Iam-Sparkyu

    Kyaaa… Daebak bgt ff-nya..
    Hemm.. Jiyoung tabah bgt.. Jarang” ada yg ikhlas membatalkan pertunangannya… Nahh itu kenapa pacar Kyuhyun gak dikasih tau thor?😀

  16. pas awal’y aku nangis…😥
    Tp skrng udah gak…hahaha
    Daebak! Cerita’y keren (y) (y)

  17. Keren,thor !! Daebakk😀
    Bikin sequelnya dong… Soalnya agak krg jelas *mian heheheh..*
    Trus ortunya Taemin tau klo TaeLi pacaran gak ??

  18. Indah aff(x)tionshanwolandELF

    Daebakkkk!!!!!

    Kereen aku ska

    tp aku penasaran
    siapa pacar kyuhyun y….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: