Sincerity of Love [Part 1]

Author: taelliners =))
Main Cast: Choi Sulli – Lee Taemin – Bae Suzy.
Genre: Romance, Hurt, Angst.
Length: Sequel/Multichapter.

Sincere…
Really…
But…
Why you don’t want respond it?
Hurt…
Yeah…

.

Tulus…
Sungguh…
Tapi…
Kenapa kau tidak mau menanggapinya?
Sakit…
Yah…

.

Brak!
Itu bukan bunyi barang yang jatuh. Tapi bunyi suara pintu kamar yang dengan sengaja dibanting oleh seseorang.
Pemuda dengan kemeja hitam dan celana jeans dengan warna senada memasuki kamarnya.
Taemin.
Taemin berjalan dengan lambat menuju tempat tidur, kepalanya masih terasa sakit. Sakit sekali. Dipejamkannya kedua matanya. Entahlah, badannya terasa berat sekarang.
“Taemin…” Seorang wanita cantik dengan rambut yang diikat seutuhnya keatas mengahampirinya dengan pelan. Oh, dia membawa suatu nampan yang berisikan piring dan satu gelas panjang disana. Ya, sepaket makanan dibawanya.
Taemin tidak merespon, hanya menghela nafasnya dalam. Berlebihan memang.
“Aku tidak mau diganggu noona.” Taemin bersuara tanpa membuka matanya. Matanya masih terpejam.
“Aku tau keadaanmu sedang tidak baik..” Sunny—perempuan yang dipanggil noona oleh Taemin tadi semakin mendekati Taemin. “…tapi bisakah kau mengisi perutmu dulu?”
Taemin membuka matanya, menatap jendela kamarnya dan membelakangi Sunny.
“Aku tidak lapar…..”
“Mau sampai kapan kau menjawab dengan jawaban itu, huh?”
“Aku memang sedang tidak lapar.”
“Kau harus makan, jika kau sakit—”
“Bisakah noona mengerti keadaanku?”
“—Ya, aku sangat mengerti keadaanmu. Tapi setidaknya jangan terlalu berlebihan seperti ini Lee Taemin!” Sunny kini mulai meninggikan suaranya; membentaknya.
Taemin diam, dia malas menjawabnya lagi.
“Kapan kau akan makan?” Sunny berusaha membujuk lagi.
“Jika Suzy kembali…….” Taemin masih menatap nanar kearah jendela.
Sunny menghela nafasnya. Dapat terdengar jelas helaan nafas itu.
“Kau gila, Lee Taemin!”
“Ya! Memang aku gila! Sudah, kan?”
Kini Sunny yang terdiam. Dia sudah lelah membujuk adik kandungnya ini untuk makan. Sudah siang—menuju sore. Tapi dari pagi tadi dia belum memberikan perut kosongnya sesuap nasipun.
Tidak ingin makan.
Bukan.
Lebih tepatnya tidak nafsu makan.
“Yah, jika itu maumu. Aku letakkan piringnya disini. Terserah kau mau makan atau tidak.” Sunny keluar kamar Taemin setelah berhasil menaruh apa yang dibawanya tadi dimeja dekat lemari kamar itu.
Sunny menutup pintu kamar itu dengan sedikit kasar. Ya, dia sudah kesal dengan tingkah laku Taemin yang kekanak-kanakkan ini.
Taemin masih menatap lurus. Air matanya jatuh lagi.
Agak cengeng memang. Tapi beginilah dia. Tidak bisa menahan emosinya.

.
.

“Bagaimana? Sudah mau makan?” Hyoyeon dengan wajah panik langsung menyerbu Sunny yang baru saja turun dari tangga.
Sunny menjawab dengan gelengan lemah.
“YaTuhan! Anak itu!” Kini Eunhyuk bangkit dari kursinya tadi dan menuju tangga. Eunhyuk sudah bosan dengan anaknya yang daritadi tidak mau makan. Mungkin dengan cara memaksanya, Taemin akan mau makan.
Tapi Hyoyeon menahan tangan Eunhyuk.
“Jangan……..biarkan saja dia. Jika dipaksa nanti keadaannya tambah buruk.”
Eunhyuk mengurungkan niatnya lagi. Lalu kembali duduk ditempat semula.
“Dia benar benar tertusuk atas kecelakaan itu..”

.

***
.

“Taemin-ah! Lihat! Aku sudah mempelajarinya! Ternyata main piano itu tidak sesusah yang kubayangkan ya”
“Benarkah? Ah! Hahaha baguslah.”
“Ya! Aku tidak akan kalah darimu!”
“Ya Suzy! Coba mainkan. Aku ingin mendengarnya.”

“Aaaah! Kau tidak bisa memainkan piano itu sebagus aku yang memainkannya, Bae Suzy!”
“Yaaaa! Jangan mengejekku!”

Taemin lagi lagi meneteskan air matanya. Mengingat percakapan percakapan tadi kini hanya tinggal kenangan saja. Sudah tidak ada yang menemani Taemin memainkan pianonya.
Taemin menyentuh grand piano yang terpajang rapi disudut kamarnya. Ditekannya satu persatu tuts tuts piano itu dengan asal. Bunyi yang keluar tidak beraturan….
Seperti isi hatinya saat ini.

Bae Suzy.
Gadis yang sebaya dengannya. Hm, cantik, mempunyai tubuh yang sempurna, berkepribadian baik, pintar, pengertian.
Ya, Taemin suka gadis yang seperti itu.
Suzy adalah kekasih Taemin—hm—bukan, mantan kekasih Taemin lebih tepat mungkin. Gadis yang sangat dicintai Taemin ini sudah pergi meninggalkannya. Bukan meninggalkan keluar negeri atau meninggalkan Taemin dan menikah dengan pemuda lain. Melainkan pergi jauh dan sudah tidak mungkin kembali lagi; meninggal.
Kemarin malam Taemin tiba tiba mendapat kabar dari teman Suzy sendiri dan menyatakan kalan Suzy kecelakaan. Taemin memang awalnya tidak terlalu cemas menanggapi kabar itu. Dipikirannya hanya terlintas—-yah seperti kecelakaan ringan biasa.
Pukul 3 malam(pagi) Taemin kembali mendapat kabar. Kabar yang membuatnya tidak dapat bernafas untuk beberapa detik. Yang membuatnya merasa bahwa dunia ini sudah tidak ada gunanya lagi. Suzy meninggal dunia karena kecelakaan itu.
Dipemakaman tadi pun, Taemin nyaris tak mau pulang. Gila, memang. Tapi beginilah Lee Taemin. Jika mencintai seseorang. Dia tak akan bisa secepat itu melepaskannya.

Taemin mengelilinhkan matanya disekitar kamar itu. Disamping kanan grand piano itu terdapat lemari bajunya, dan disamping kirinya ada sebuah meja panjang. Taemin memilih berjalan kesamping kiri piano itu. Sebuah meja panjang yang dimana terpajang foto foto mereka berdua. Yaampun, rasa sakit dihati Taemin bertambah. Sepertinya salah sekali dia memilih sisi kiri piano dan melihat foto foto itu. Disentuhnya pelan satu persatu. Ah sial, air matanya jatuh lagi!

.
.

Sudah 4 minggu berlalu sejak kepergian Suzy. Tapi tidak ada perubahan dari Taemin. Tidak ada sedikit pun. Walaupun ia sudah mau makan, tapi untuk keluar kamar pun dapat dihitung dengan jari berapa kali ia keluar kamar.

“Oh, baiklah! Terima kasih banyak Nyonya Choi! Ah aku tidak bisa mengungkapkan rasa terima kasih seperti apa!” Hyoyeon tersenyum riang dengan suatu ponsel yang didekatkannya ketelinganya itu.
“Ah, ya pasti. Sekali lagi terima kasih banyak!”
Hyoyeon menutupnya duluan. Senyuman puas pun terukir lagi.
“Bagaimana?” Eunhyuk mendekati Hyoyeon dengan cepat.
“…….Dia mau!!!”
“Sungguh? Yaampun beruntung sekali!”
“Ya! Sore ini juga dia akan kesini! Sunny!!!” Hyoyeon berteriak kencang. Memanggil anak pertamanya yang sedang berada dikamar atas.
“Yaaaa?” Sunny bergegas turun kebawah setelah mendengar teriakan Hyoyeon yang seolah olah terburu buru itu.
“Cepat ambil kunci mobilmu dan kau pergi kealamat ini!” Hyoyeon memberi Sunny sepucuk kertas yang sudah terisi dengan alamat yang tadi dicatatnya.
“Bukankah ini alamat rumah teman umma yang—”
“Ya benar. Ini rumah teman umma waktu umma menyuruhmu mengambil bunga pesanan umma. Kau masih ingat kan?”
Sunny mengangguk lalu mengambil kunci mobil disamping meja tamu.
“Untuk apa aku kesana lagi? Umma memesan bunga lagi?”
“Tidak. Kau hanya harus menjemput anak perempuan yang bernama Sulli.”
“….Sulli? Siapa dia?”
“Tidak perlu banyak tanya. Dia anak keluarga Choi.”
“Hm? Baiklah baiklah aku pergi sekarang.”
“Bagus!” Hyoyeon mengacungkan jempolnya.
“Memangnya dia kenapa?” Sunny belum juga habis dalam rasa penasarannya.
“Ck! Nanti umma jelaskan! Kau sekarang pergi saja kesana, cepat!”
Tidak menjawab, Sunny langsung pergi keluar rumah dan menjalankan tugas dari ibunya tadi.

.

“Oh? Kau yang bernama Sulli?” Sulli tersenyum menanggapi pertanyaan Sunny sambil membungkukkan badannya.
“Ah~ begitu.. Baiklah. Saya permisi dulu anjumma.” Sunny berpamitan kepada ibu Sulli. Lalu menuntun Sulli mendekati mobilnya tadi.
“Hai Sulli, kau bisa memanggilku Sunny.” Sunny tersenyum pada Sulli saat mereka sudah berhasil memasuki mobil.
“Ah, baiklah Sunny unnie.” Sulli membalas senyuman itu. Senyuman yang sangat manis. Bahkan Sunny sampai terkagum dengan senyuman itu.

“Ah, sampai.” Sunny melepaskan seat-belt yang dipakainya lalu membuka pintu mobil. Diikuti oleh Sulli.
Sulli melihat duli kesekeliling rumah itu. Untuk yang pertama kalinya ia berkunjung kerumah teman dekat ibunya ini.
“Masuklah Sulli.” Sunny membuka pintu rumah itu.
“Ahh~ Sulli-ah!” Hyoyeon berhambur memeluk Sulli dengan erat. Sulli tersenyum lagi.
“Ahjumma, apa kabar?”
“Begitulah.” Sulli terkekeh kecil mendengarnya. Lalu ia kembali mengelilingkan matanya disekitar rumah itu. Matanya tertuju pada suatu foto yang terpajang didinding. Foto dua orang, laki laki dan perempuan. Dan Sulli tau perempuan itu adalah Sunny. Tapi sosok laki lakinya? Apa itu yang bernama Taemin? Pertanyaan itu terus berkutat dibenak Sulli.
“Ah Sulli, kau bisa langsung keatas. Kamarnya berada diatas..” Hyoyeon mengalihkan pembicaraan.
Kamar’nya’? Yah, Sulli tau yang dimaksud ‘nya’ adalah Taemin. Lee Taemin, sosok yang belum pernah ia kenal sama sekali. Bertemu saja……….mungkin tidak pernah. Sulli tau namanya pun dari kedua orang tuanya.
“Oh, baiklah.” Sulli membungkuk singkat dan menelusuri tangga—tanpa diarahkan oleh siapapun. Mungkin pikir Sunny dan Hyoyeon, Sulli tidak perlu dituntun kekamar Taemin.

Sulli menelusuri lantai atas rumah mewah itu. Lagi lagi ia memutar matanya. Yap, dia mendapatkan foto lagi yang terpajang dimeja. Kini foto keluarga. Tidak salah lagi, mungkin inilah sosok Taemin, pikir Sulli. Sulli belum berniat untuk mencari kamar Taemin—yang menjadi tujuan utamanya datang kemari. Dia masih mau melihat foto foto yang terpajang disana.

Oh, belum dijelaskan. Tujuan Sulli kemari adalah usulan dari Hyoyeon. Sulli diminta untuk merubah Taemin yang selama 1 bulan lebih ini hanya diam seperti orang gila. Mungkin dengan adanya Sulli, Taemin bisa berubah. Dan mungkin melupakan hal yang membuatnya seperti ini sampai sekarang. Tapi itu cuma kemungkinan.. Sebab Hyoyeon dan Sunny, serta Eunhyuk sudah menyerah dengan Taemin. Sulli yang mengiyakan saja langsung menurut disuruh kerumah ini.
Sulli tertuju pada suatu kamar yang masih tertutup rapat. Entah kenapa, perasaannya sungguh berbeda melihat kamar itu. Dia menebak bahwa orang yang bernama Taemin tiu berada dikamar itu.
Sulli mendekati pintu itu.
Cklek.
Ah, dia tidak mengetuk pintu itu dulu. Langsung dibukanya saja.
Terlihat sosok pemuda yang memakai baju santai, ia duduk ditepi tempat tidur sambil membelakangi Sulli yang baru saja membuka pintu kamar itu. Taemin sedang menatap lurus kearah balkon kamarnya yang terbuka. Sulli mengerutkan dahinya untuk beberapa detik. Ia belum berani bersuara. Ia masih menatap sekeliling kamar dan dapat ditemukan lagi suatu foto. Kini foto itu seorang diri. Ya, dapat diyakini orang yang Sulli tebak Taemin sedari tadi adalah benar.
“Hm, Hai.” Sulli memberanikan dirinya menyapa pemuda itu.
Sapaan yang konyol, memang. Tapi entah bagaimana kata itulah yang terlintas dibenaknya.

T.B.C😉

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “Sincerity of Love [Part 1]

  1. Kaa24des

    Lanjutin!!!!

  2. Woaw woaww~~~ Lama lama jadi Taelli shipper nih gara gara ff unnie😀
    Ahh~ selalu bikin penasaran ! Lanjutkaan !

    Ditunggu lanjutanya atau part 2 nya🙂
    Really great FF😀

  3. Lanjutkan!!! *gaya sby
    wkwkwkwkwk
    bagus nih ceritanya…..

  4. @kaa24des siiiiiip wkwk

  5. @firaeffects bhahahaha hah? ayooo jadi taelli shipper deh kamu harus! Wkwk sip thankyou dear {}
    @lockeybersism wkwk sippp thanks ya🙂

  6. qinqin

    taem kenapa sedih??semangat ya buat ff nya!!

  7. fannylovers

    readeeer baru slm knaaal..
    bru liat ni taelliny, shining fx copel yg sya sukaaa..

    kcian amadh c taem, ky hae hyung y sipatny heheheee…
    syg c suzy cm cameo aj nie ga kliatan pdahal mw tw jg taem ky ap ma dy..
    wah sulli brani bgt y mngiyakan twaran kluarga lee untuk ngbantu taem, ap yg bkal trjadi y..
    mw liat next partny ah..

    nice chingu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: