Sincerity of Love [Part 2]

Author: taelliners =))
Main Cast: Choi Sulli – Lee Taemin – Bae Suzy.
Genre: Romance, Hurt, Angst.
Length: Sequel/Multichapter.

.

“Hai.” Sulli menegur pemuda itu satu kali lagi dengan suara yang senada dengan sebelumnya. Taemin belum juga merespon. Entah itu karena suara Sulli yang terlalu pelan atau Taemin berpura pura tidak mendengar.
“Kau tidak punya telinga?” Sulli mendekati Taemin dengan pelan. Lalu dia duduk disamping Taemin, ditempat tidurnya itu.
Taemin mengalihkan perhatian matanya pada Sulli. Wajah kaget kini tertampak. Raut heran pun menyertai wajahnya setelah menyadari keberadaan Sulli yang ada disampingnya sekarang. Oh, jadi tadi dia tidak mendengar sapaan Sulli.
“Siapa kau?” Taemin mengarahkan tatapan datarnya pada gadis yang masih tersenyum lebar itu.
Sulli menatap heran Taemin, lalu diikuti oleh tawaan renyahnya yang lembut.
“Oh? Aku? Namaku Choi Sulli. Namamu Lee Taemin bukan?”
Taemin diam. Tidak menjawab sama sekali, malah kembali menatap lurus kearah balkon kamarnya itu.
“Hey, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
Taemin masih diam. Dia sedang dalam keadaan mood yang rendah. Sangat rendah.
“Hm, well. Jika kau tak mau berbicara padaku itu tak masalah. Tapi maukah kau makan? Hm, itu makanannya bukan?” Sulli mengalihkan pandangannya kemeja didekatnya dan mengambil sepaket makan siang yang tersedia disana.
“Waaah. Ini pasti enak! Kenapa kau tidak memakannya?” Sulli bernada yang sedikit dilebihkan. Yah, untuk menarik perhatian Taemin.
“Kau makan ini, ya? Ini enak sekali! Hm, jika aku jadi kau, aku akan menghabiskannya! Buka mulutmu ayo. Aaaaaaa.” Sulli mulai menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya tadi kepada Taemin.
“Aku sedang tidak lapar.” Taemin menjawab masih dengan nada datar.
“Bagaimana bisa kau tidak lapar? Kau belum makan dari pagi kan? Ayo! Aaaaaa.” Tanpa ada rasa menyerah, Sulli masih menyodorkan sendok tadi.
“Aku bilang aku sedang tidak lapar. Jika kau mau memakannya, makan saja makanan itu!”
Sulli menghela nafasnya. Lelah juga menghadapi pemuda keras seperti ini.
“Yaaa, ayolah. Buka mulutmuuuu.”
Prang.
Yak, Taemin sudah diluar kendali. Sendok yang sedari tadi tepampang didepan mukanya kini ia tepis kuat dengan tangan kanannya. Sulli terkejut. Dia menatap nasib sendok yang nasinya sudah tersebar dilantai kemana mana itu.
“Bukankah aku bilang aku sedang tidak lapar?!” Kini nada bicara Taemin meninggi. Sulli semakin takut dibuatnya. Namun gadis ini berusaha santai.
“Uh, baiklah baiklah. Aku tidak anak memaksamu, kok.” Sulli beranjak dari tempat tidur dan mengambil sendok yang terjatuh tadi. Sedangkan sisa nasi yang bertebaran disana dibiarkannya saja. Mungkin nanti pasti ada pekerja disini yang membersihkan ulah Taemin itu.
“Bisakah kau keluar?” Taemin menatap mata Sulli.
Astaga, baru kali ini Sulli menatap mata Taemin secara dalam. Sungguh, jantung Sulli berdetak lebih cepat sekarang, entah-kenapa! Hanya dengan melihat mata Taemin, Sulli menjadi mati kutu begini…
Sulli ingin berbicara, tapi melihat tatapan mata itu…….—ah! Dunia hanya terasa miliknya saja. Dirasakan sekarang muka Sulli memanas.
“Bisakah-kau-keluar-sekarang?” Taemin mengulangi kata katanya tadi. Sulli sedikit tersadar sekarang.
“Oh?” Sulli mengalihkan pandangannya dari mata yang ‘mematikan’ menurutnya itu. Dia terus mencoba menormalkan kembali detak jantungnya. Tuhan, kenapa susah sekali?
“Ya, aku akan keluar.”
Ah! Sulli salah tingkah sekarang. Entah mengapa dia tidak dapat mengatur tingkah lakunya setelah menatap dalam mata itu. Dan satu lagi……kenapa ia menurut disuruh keluar dari kamar itu oleh Taemin?! Tujuannya kesini adalah membujuk Taemin untuk makan dan menghiburnya!
Ck. Choi Sulli………..

.
.

Hari kedua. Sulli kembali kerumah ini lagi. Sulli berjalan menelusuri setiap bagian rumah itu. Beradaptasi. Yah, seperti itulah. Karena dia akan setiap hari mengunjungi rumah ini. Hanya karena untuk Taemin.
Sulli kembali melihat foto foto yang terpajang. Melihat foto foto tersebut adalah hobi Sulli, mungkin.
Oh, dia menemukan suatu foto yang memperlihatkan 2 orang disana, 1 orang pemuda dan yang 1 nya seorang gadis.
Ya, pemuda itu Taemin. Tapi tunggu. Gadis ini bukan Sunny. Jelas sekali bukan. Gadis yang berambut panjang, ditampah dengan poninya yang khas dan kulitnya yang sungguh putih. Em, cantik sekali. Sangat cantik. Sulli sampai kagum dengan kecantikan gadis itu.
Siapa dia? Sulli masih bertanya tanya.
Ah! Sulli rasa dia tau siapa gadis itu sekarang. Dengan pose Taemin yang merangkul pundak gadis itu, dan terlihat kerekahan senyum Taemin dan sang gadis yang manis……itu adalah mantan kekasihnya? Mantan kekasih Taemin?
Kenapa dia harus memikir lama dengan sosok gadis itu? Jelas jelas dia sudah tau kalau Taemin mempunyai kekasih yang kini sudah berstatus menjadi…….’mantan’. Tapi sayangnya Sulli juga belum tau karena apa gadis itu berstatus mantan kekasih Taemin. Hal itu belum dijelaskan oleh siapapun. Yang dia tau hanya dia harus menghibur Taemin. Ya, hanya itu.
Sulli tatap lagi foto itu. Bahkan dia sudah mengangkat foto yang terletak dimeja samping kamar Taemin dengan tangannya. Benar benar sempurna sepertinya gadis itu. Pantas saja Taemin seperti ini karena ditinggal oleh kekasihnya, pikir Sulli.
Tapi kini rasa penasaran Sulli dengan nama gadis itu muncul. Bahkan terus mengganggunya. Ehm, bukan hanya penasaran dengan nama, tapi dengan pertanyaan kenapa gadis itu meninggalkan Taemin. Dia sungguh penasaran sekali.
Cklek.
Terdengar suara bunyi pintu terbuka. Dengan sigap Sulli segera menaruh foto itu ketempat semula.
Yang keluar Taemin. Ah, akhirnya! Dia keluar dari kamar itu!
“Sedang apa kau?” Sulli kembali terdiam. Mau jawab apa dia? Haruskah ia menjawab dengan jujur kalau ia sedang memperhatikan foto itu tadi? Oh, konyol sekali…..
“Kenapa kau sentuh foto itu?” Taemin mendekati Sulli yang makin gugup sekarang. Bahkan rasa takut pun hampir datang.
“Ah—aku…hanya—”
“Siapa yang menyuruhmu menyentuh barang barangku?!” Mampuslah Sulli sekarang. Taemin semakin memperlihatkan sisi kemarahannya.
“Tidak—bukan begitu maksudku, aku hanya…….”
“Tidak usah menyentuh barang barangku sedikit pun lagi!”
“Ya—aku…”
“Tidak ada yang memperbolehkanmu melaukukan itu!”
Selesai sudah sekarang. Sulli dalam posisi bahaya.
Taemin meninggalkan Sulli dengan membawa foto tadi dan kembali memasuki kamarnya. Sorotan matanya, ermmm mengerikan…..
“Bodoh! Kau sungguh bodoh Choi Sulli!” Sulli memukul kepalanya sendiri menggunakan tangannya itu. Ck, kalau begini jadi tambah susah. Yang tadinya bermaksud untuk menghibur Taemin, tapi malah jadi begini……..
Choi Sulli! Kau mengulangi kesalahan lagi!

.
.

“Sudah berapa kali kubilang padamu bahwa aku tak mau makan! Apa kau ini tidak mengerti dengan bahasa manusia?” Lagi lagi Taemin membentak Sulli. Oh Tuhan, laki laki ini sungguh keras kepala ternyata. Diperhatikan malah tidak mau.
“Okey okey. Baiklah. Jika kau sakit pasti tidak ada yang akan memperhatikanmu! Dan kau akan diperhatikan oleh hantu!”
Dor.
Sulli mengancam. Hm, ancaman untuk anak berumur 5 tahun mungkin tepatnya. Bagaimana bisa dia mengeluarkan ancaman yang sangat mudah untuk ditertawakan? Bahkan mungkin Taemin ingin tertawa sekarang mendengar kalimat itu. Ah, mungkin Sulli sengaja memberikan lelucon supaya pemuda ini tertawa dan melupakan semuanya? Tapi sepertinya Sulli harus lebih giat lagi untuk mempersiapkan hiburan karena Taemin masih belum bereaksi sampai sekarang….
Sulli benar benar menyerah memaksa pemuda ini. Tidak ada gunanya juga ia berteriak sekencang apapun, perubahan sedikit pun tidak terjadi..
Sulli berjalan lalu duduk dikursi samping tempat tidur itu. Terdengar helaan nafas Sulli. Taemin masih diam disudut tempat tidur itu. Oke, keadaan kamar sekarang menjadi sangat sangat awkward. Sepi. Sangat. Bunyi suara nyaring nyamuk pun terdengar. Bahkan suara jangkrik dibagian luar terdengar pula sekarang.
Sulli memberanikan menatap wajah Taemin perlahan.
Tunggu. Astaga! Sulli melihat ada beberapa tetesan air dipipinya. Dikedua pipinya. Ya, Taemin menangis! Sulli membuka mulutnya lebar. Entah ia harus melakukan apa sekarang. Ia bingung sekali. Tiba tiba Taemin menangis?! Karena apa? Apa karena ancaman hantu tadi? Oh, sangat lucu. Tidak tidak…………yang pasti bukan karena itu.
“Kau—kenapa menangis?” Sulli memberanikan diri untuk bertanya.
Tuhan. Suasana semakin kaku.
Taemin tidak menjawab. Air matanya juga sudah mulai mengering sekarang.
“Kau kenapa?” Kini Sulli mendekati Taemin. Duduk disebelahnya dan mencoba memerhatikan wajahnya.
“Maukah kau ceritakan padaku?”
Yang diajak biacara malah beranjak dari tempatnya dan pergi keluar kamar. Sulli hanya bisa menatap punggung belakang Taemin. Entah mengapa, melihat pemuda itu mengeluarkan air mata, hati Sulli terasa ditekan oleh benda yang berat. Hatinya seperti ikut merasakan sakit. Walaupun dia tak tau sama sekali mengapa taemin bisa menangis secara tiba tiba seperti itu.
Baiklah, ini aneh sekali.

.

Sulli mengikuti Taemin yang sudah menghilang pergi tadi. Sulli memang sempat diam untuk beberapa menit dikamar itu. Bukan diam karena mengabaikan Taemin yang pergi, Sulli diam karena dia benar benar tidak tau kenapa hatinya sanagt sakit tadi. Alhasil sekarang ia kehilangan jejak Taemin.

Diruang tengah, diruang keluarga, diteras rumah, dihalamannya sekalipun tidak kelihatan juga sosok Taemin yang daritadi Sulli cari. Oh, Sulli tidak tau kalau dirumah ini terdapat taman belakang yang cukup luas. Baiklah, Sulli mencoba kearah sana sekarang.
Tepat, Taemin sedang duduk disuatu kursi panjang disana. Dengan sedikit perasaan agak ragu, Sulli mendekatinya. Okey, jantungnya mulai tak karuan lagi sekarang. Tapi entah walaupun ia merasa begitu, tapi ia tetap saja ingin menghampiri Taemin. Sulli mulai duduk dikursi panjang itu, disamping Taemin.
“Kenapa kau selalu mengikutiku?” Taemin bersuara dengan nada datar tampa merubah titik pandangannya yang lurus kedepan itu.
“Hm? Tidak ada apa apa. Aku hanya ingin menemanimu saja.” Sulli berusaha tersenyum. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan dogosokkannya satu sama lain.
Taemin diam. Dia tidak menjawab lagi kalimat Sulli. Tumben sekali dia tidak bilang kalau dia ingin sendiri atau dia ingin Sulli meninggalkannya—yah semacamnya lah. Mungkin Taemin juga butuh orang yang bisa diajak berinteraksi, bukan?
Suasana menjadi diam. Tapi sejenak kemudian Taemin mengambil nafasnya.
“Apa kau pernah merasakan kehilangan seorang yang sangat kau sayangi—hm bahkan kau cintai?” Taemin bertanya. God, baru kali ini Taemin memulai percakapan duluan antara mereka berdua. Tapi nada bicaranya masih sangat terdengar sinis. Em, dingin sekali nadanya.
“Hm? Aku? ………Pernah…………” Sulli menganggukan kepalanya perlahan.
“Bagaimana rasanya? Apakah rasanya sesakit ini? Sesakit yang kualami saat ini?”
Sulli tidak bisa menjawab, tepatnya dia tidak tau harus menjawab apa.
“Boleh aku tau?” Taemin memulai pembicaraan lagi.
“Tau apa?”
“Siapa orang itu?”
“Orang itu? Maksudmu orang yang meninggalkanku tadi?”
“Hm” Taemin menjawab dengan anggukan sekali. Masih dengan tatapan lurus kedepan dan wajah yang dingin.
“—Kakakku….” Sulli tersenyum manis. Tapi yang pasti hatinya tidak sesuai dengan senyumannya itu mengingat kakaknya yang…..
“Kakakmu?”
“Yah. Kakakku terkena penyakit yang sangat parah. Ia baru meninggal 1 tahun yang lalu.”
“Apa kau sangat tertekan? Apa kau mengalami sakit yang sangat dalam?”
“Hm, bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak mau terus menerus tertekan seperti itu. Karena menurutku itu tidak ada gunanya, bukan? Aku harus membanti ibuku yang sekarang hanya mempunyai satu orang anak. Aku harus menjaga ayahku yang semakin hari umurnya sudah semakin bertambah. Aku harus melakukan banyak hal yang lebih penting daripada menekan diriku terus menerus.”
Taemin terdiam. Tuhan, kenapa sekarang jadi dia yang tersentuh oleh cerita gadis ini?!
“Kau begitu kuat……..” Taemin kini menatap Sulli sekilas. Lalu dialihkannya lagi kesemula.
“Bagaimana denganmu? Apa kau mau bercerita padaku?”
“Kekasihku pergi…”
Taemin mulai bercerita. Oh, tidak tidak. Jangan sampai air matanya keluar lagi untuk yang keberapa kalinya!
“Pergi……?” Sulli memiringkan kepalanya. Dia butuh penjelasan yang lebih.
“Ya, pergi jauh dan tidak akan kembali. Seperti kakakmu.”
Sulli terdiam. Ah, ini jawaban dari pertanyaannya. Akhirnya dia tau kenapa Taemin bisa seperti ini.
“Dia mengalami kecelakaan yang parah. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku mengajarkannya bermain piano.” Taemin berhenti sebentar untuk menghela nafasnya.
“Entah, aku sungguh tertekan dengan hal itu. Kadang aku terbayang kalau Suzy ada disampingku dan melakukan aktivitas seperti biasa…..”
Yak, pertanyaan kedua Sulli sudah terjawab juga. Sekarang Sulli sudah tau kalau nama gadis itu Suzy.
“……sangat konyol memang. Tapi bayangan itu tidak bisa hilang dari pikiranku. Bayangannya terus menerus muncul. Benar benar susah dihilangkan. Terkadang jika aku makan atau minum, bayangannya muncul begitu saja dihadapanku. Maka dari itu aku tidak tau harus melakukan apa.”
Sulli tercekat mendengar penjelasannya. Sungguh, baru kali ini Taemin berbicara dengan sepenuh hatinya pada Sulli. Baru—kali—ini! Yah, walaupun nadanya (masih) dengan nada yang sangat dingin.
“Aku mengerti…. Tapi apa dengan kau diam selama berminggu minggu dikamar dan tidak mau makan itu akan merubah segalanya? Begitukah, Taemin?”
“Ya, aku tau itu tidak akan merubah segalanya. Tapi aku butuh waktu untuk menenangkan diriku.”
“Menenangkan dirimu? Apa perlu waktu lebih dari satu bulan seperti ini? Kurasa tidak.”
Taemin terdiam lagi. Sudah berapa kali ia terkagum pada kata kata gadis ini.
“Kau butuh ketenangan, memang. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Kau tau? Ibumu sudah susah membuatkanmu makanan yang sebegitu lezatnya. Tapi kau hanya membiarkan makanan itu dingin begitu saja karena udara pendingin ruangan dikamarmu dan makanannya terlantar lalu terbuang begitu saja. Itu dialami setiap hari semenjak kau tidak mau makan. Apa tidak pernah terlintas dibenakmu bagaimana susahnya Sunny unnie membujukmu untuk tidak tertekan lagi? Untuk kembali seperti Taemin yang dulu? Kau boleh saja sedih atas kepergian kekasihmu. Sangat boleh. Itu hal yang sungguh wajar. Tapi bukan hanya kau yang merasakan kesedihan. Ibumu, kakakmu, ayahmu, hmmm, kupikir mereka juga sangat sedih Taemin. Ah, ditambah lagi kau seperti ini sekarang. Mungkin jika mereka diperbolehkan untuk menangis, mereka akan menangis.”
Lagi lagi Taemin terdiam. Seakan rasanya kata kata dari bibirnya sudah habis, sudah hilang begitu saja. Sulli sungguh berpikiran dewasa.
Tapi tunggu. Tiba tiba Taemin beranjak dari kursinya, meninggalkan Sulli yang habis bercerita panjang tadi. Ada apa? Apa dia marah karena Sulli menasihatinya terlalu dalam?!

/TBC/

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , | 10 Comments

Post navigation

10 thoughts on “Sincerity of Love [Part 2]

  1. Waw, sulli dewasa bgt
    taemin, makan dong!! kan sayang makanannya…
    daebak!! lanjut yaaa

  2. weh weh weh, taem mau ngapain tuh ._.
    Sulli lahir taon 94 tapi pikirannya dewasa wow~😀

    Bagus Unnie dan sukses bikin Penasaran (lagi) !
    Ditunggu part 3nyaaa~~~

  3. Kaa24des

    Ini si mutmut seneng bgt buat orang penasaran ye! Part 3 lanjutin!!

  4. sintarahayu

    taem oppa, aku aja deh yang nyuapin…

    Aku suka banget ffnya udah baca part 1nya sekaligus sama part yang ini, ceritanya dalem. Tapi aku jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya cingu. Aku juga baru loh baca ceritanya taelli disini, biasanya aku bacanya KeyBer

  5. Good job eonni :* neomu johaeseo😀

  6. fannylovers

    waaaah bner” c taem ky hae hyung dh, doyan mewek heheheee..
    tp kamjuan nie c taem ud mw ngomng snggany sulli ga dimarahin n didiemin lg..
    knapa dy kbur tp yh abs curcol??
    liat next partny aah..

    nice chingu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: