Sincerity of Love [Part 4]

Author: taelliners =))
Main Cast: Choi Sulli – Lee Taemin.
Genre: Romance, Fluff.
Length: Sequel/Multichapter.

.

“Kau ingin pulang?” Sulli melirik Taemin yang masih asyik dengan pemandangan danau itu.
“Hng?” Taemin membalas lirikan Sulli, namun ia tujukan matanya kembali pada pemandangann danau.
“Belum. Danau ini menarik sekali untukku.” Taemin menarik nafasnya panjang. Sulli tersenyum manis mendengarnya. Ah, akhirnya sedikit demi sedikit Taemin yang terus menerus menakan dirinya bisa melupakan masalah itu.
“Jadi kapan kau akan pulang?”
“Kapan ya?” Taemin menerawang jauh—seolah berpikir keras. “Besok mungkin” Candanya.
“Hahaha aish! Yang benar?”
“Tentu tidak! Kau percaya saja! Hahaha” Suasan kembali dipenuhi oleh tawaan mereka. Hm, sungguh suasana yang sangat manis. Suasana yang berharga bagi Sulli. Mungkin juga berharga bagi Taemin.
“10 menit lagi kita pulang.” Taemin masih memandang sekeliling danau.
“Oh? Baiklah.”
10 menit lagi? Sebenarnya Sulli tidak mau secepat itu. Huh, padahal yang bertanya untuk pulang duluan tadi dirinya.
“Baiklah, kita pulang sekarang.” Taemin sudah bersiap untuk membalikkan badannya.
“….. Kau yakin pulang sekarang?” Sulli mengikutinya perlahan. Namun langkah Taemin terhenti dan menatap Sulli dengan alisnya yang terangkat. Oh, Sulli tidak sengaja melontarkan pertanyaan itu.
“Maksudmu?”
“Hng? Tidak tidak. Tidak apa apa. A-ayo kita pulang.” Sulli mendahului Taemin dengan langkah yang…..aneh. Dia benar benar menyayangkan secepat ini akan meninggalkan danau.
Tungu…….
Sulli mengharapkan waktu lebih didanau ini? Bersama Taemin? Untuk apa? Karena dia senang melihat Taemin tersenyum? Karena dia senang bercanda dan menghabiskan waktu pada pemuda itu? Pemuda yang hampir setiap hari membentaknya dan menolaknya jika diberi bantuan? Oh…..apa ini yang namanya……cinta?
Tapi—ah! Bagaimana bisa?!
Sulli menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ini tidak mungkin. Ia hanya senang melihat usahanya untuk merubah Taemin berhasil. Itu saja kan? Tidak lebih. Ya, tidak lebih.
“Oh? 14 missed call?!” Taemin menatap layar ponselnya dengan mata terbelalak. 14 missed call…….sedikit berlebihan. Bagaimana bisa 14 telepon masuk dan ia tidak mengetahuinya. Ah, lupa. Ia sedang menikmati masa asyiknya tadi.
“Siapa?” Sulli mendekatinya dan sedikit berjinjit untuk melihat layar ponsel itu.
“Sunny nuna. Kenapa dia?” Taemin mengerutkan dahinya. Sunny mencoba menghubunginya 14 kali? Sepenting apa?
“Coba kau hubungi dia.”
“Ck, sial! Baterai ponselku low!” Taemin menggerutui ponselnya sendiri. Baterainya low, dan sebentar lagi nyawa ponsel itu tidak dapat dihitung dalam hitungan menit.
“Yak, mati.” Taemin menghela nafasnya panjang. Ponselnya benar benar drop saat ini.
“Pakai punyaku!” Sulli meraba saku pakaiannya.
Plap, Sulli menepuk jidatnya sendiri.
“Ponselku tertinggal disoffa ruang utama!” Sulli bernada sedikit kecewa. Ponselnya ia tinggalkan, ck, dasar pelupa.
“Sudah, kita pulang sekarang.” Taemin melanjutkan tapakan kakinya dan memasuki mobil. Diikuti oleh Sulli.
“Kau lapar?” Taemin melirik Sulli seraya berkonsentrasi pada kemudinya.
“Hng?” Sulli melirik Taemin sebentar. “Tidak, kok.”
“Sungguh? Bukankah kau belum makan siang?”
“Uh? Iya sih. Tidak masalah. Kita pulang saja. Itu urusan belakang.” Sulli berusaha mengelak. Lagian ia mengerti keadaan sekarang. Taemin yang sedang terburu buru pulang kerumah dan penasaran pada Sunny yang menghubunginya 14 kali.

.
.

“Kenapa ini?” Taemin menggerutu pada dirinya sendiri. Terlihat wajah Sulli yang sudah terlihat bosan.
“Tidak ada yang membuka!” Taemin tidak henti hentinya berusaha mengetuk pintu rumahnya itu.
“Mungkim mereka sedang pergi, Taemin.” Sulli berpendapat.
“Oh, apa ada hubungannya dengan 14 missed call itu?” Taemin menatap ponselnya yang sudah tidak bernyawa itu.
“Hey! Ada kertas disana!” Sulli menghampiri sebuah meja yang terpajang didekatnya dan diambilnya sebuah kertas kecil disana.
‘Kunci ada dibalik pot bunga anggrek samping pintu. Kami akan pergi untuk beberapa waktu. Besok sudah pulang. Terima kasih, ya!’
Oh, inilah alasan mengapa Sunny menghubunginya sampai 14 kali.
“Bagaimana bisa?!” Taemin terlonjak sedikit membacanya. Berarti, ia akan sendirian dirumah ini?!
Hyoyeon dan Sunny—sang penulis surat itu pergi, sementara ayahnya sedang ada diluar kota. Yah, urusan pekerjaan.
Okey, Taemin sedang membayangkan bagaimana jika ia kelaparan, jika ia sendirian dirumah, hanya bisa berdiam dikamar atau memainkan piano. Tidak mungkin kan memainkan piano terus menerus. Uh, membosankan pasti.
“Ini kuncinya.” Sulli menyerahkan kunci yang baru saja ia raih dari belakang pot bunga anggrek tadi. Yang diberikan kunci hanya diam masih menatap surat itu.
“Hey! Ini! Ck.” Sulli lelah menunggu Taemin menerima kuncinya. Ia buka sendiri pintu rumah itu.
Cklek.
“Kau ini kenapa sih?” Sulli menatapi Taemin dengan wajah polos.
“Tidak, hanya—”
“Kau belum pernah tinggal dirumah sendirian ya?” Dengan nada menggoda, Sulli menahan tawanya.
“Ya! Itu tidak benar!! Hanya saja…..”
“Phffft,” Sulli mendekatkan telapak tangannya menuju bibirnya, menahan tawa. “Hanya saja apa? Sudahlah, lebih baik mengaku! Bagaimana bisa lelaki sepertimu takut menjaga rumah sendirian.” Sulli masih bernada mengejek. Oh, gadis ini jahil sekali.
“Aish kau ini!”
Sulli masih saja menahan tawanya.
“Sulli-ah,” Taemin memanggil Sulli yang sedang asyik dengan pekerjaannya sendiri.
“Apa?” Yang dipanggil pun menoleh.
“Kau menginap disini ya?”
Dang!
Sulli tersentak. Gila. Apa Taemin lupa jenis kelamin Sulli itu apa?
“A-apa?” Sulli memiringkan kepalanya. Siapa tahu ia salah mendengar.
“H-hey! Hanya 1 hari saja! Tidak masalah kan?” Ucap Taemin santai. Sementara Sulli masih dalam fikirannya.
“Lagian besok minggu kan? Kau bisa tidur dikamar Sunny nuna.”
“Hnnnn? Tunggu, biar kupikirkan lagi.”
“Yaaa!! Pikirkan apa? Hanya 1 hari! Sudahlah, menginaplah disini!” Taemin beralih duduk disoffa dekat sana.
“Hm, dasar penakut! Kan, kau penakut! Tadi tidak mau mengaku!” Cibir Sulli disertai dengan juluran lidahnya yang panjang.
“Ck! Terserah kau saja. Yang penting kau menginap disini kan?”
“….. Ya! Aku menginap disini! Aku akan memberitahu ibuku dulu.”
Senyuman simpul Taemin kembangkan kearah gadis itu. Okey, Sulli terpesona (lagi).

.
.

“Kenapa?” Taemin melihat kearah pintu. Dimana Sulli dengan wajah lemasnya berdiri.
“Mana kunci pintu kamar Sunny unnie?”
“Kunci pintu kamar? Aku…………tidak tau……” Taemin menggaruk kepalanya. Dia benar benar tidak memegangnya.
“Jadi?! Aku tidur dimana???”
“Hm? Dikamar orang tuaku saja sana!”
“Kamar itu juga dikunci, Lee Taemin!!” Sulli sudah keabisan kesabaran. Janji Taemin yang mengatakan kalau dia akan tidur dikamar Sunny telah hilang sudah.
“Yasudah, kau tidur disini saja.” Taemin merapikan laptop serta kertas kertas yang tak tau juga itu apa.
“Di-disini? Dimana?!”
“Dikamar ini! Ah, kau ini bodoh sekali!”
Yaampun, Taemin sepertinya benar benar lupa jenis kelamin Sulli itu perempuan.
“A-apa? Kau gila? Kau—“
“H-hey! Jangan salah paham dulu! Kau bisa tidur disoffa itu. Atau membentang sesuatu dilantai dan tidur disana. Kita tidak akan satu ranjang! Dasar, sudah berpikiran yang tidak tidak!” Taemin selesai dengan aktivitasnya merapikan barang barang miliknya tadi, lalu duduk ditepi tempat tidur itu. Sementara Sulli, masih berdiri didepan pintu kamar.
“Tapi……….”
“Lagipula aku tidak akan menyentuh tubuhmu sedikit pun, bodoh! Aku tidak seperti kebanyakan laki laki!”
Entah, kalimat akhir yang diucapkan taemin sedikit menggelitik telinga Sulli.
Sulli masih diam. Memikirkan bagaimana nasibnya saat ini.
“Kenapa kau diam begitu? Ck, tenang saja. Jika kau hamil aku akan bertanggung jawab.”
Prang. Ingin sekali Sulli menampar dirinya saat ini.
“APA KAU BILANG?!” Sulli melebarkan matanya.
“HAHAHAHA, sudah sudah! Aku lelah bertengkar denganmu!” Taemin membaringkan tubuhnya ditempat tidur dan memejamkan matanya. Sulli menatap wajah Taemin dalam. Hm, polos sekali. Sejenak ia membayangkan bagaimana nanti malam kalau ia benar benar sekamar dengan pemuda ini.
“Taemin-ah!” tegur Sulli pelan. Takut ia mengganggu Taemin yang sedang tidur itu.
“Apa lagi?!”
Sial, ternyata laki laki ini belum tidur sama sekali.
“Aku ingin mandi.”
“Mandi saja sana.” Taemin masih dengan matanya yang terpejam.
“Kau gila?! Cepat keluar!”
“Ck, cerewet sekali!” Taemin membuka matanya dan beranjak dari tidurnya.
“Tidak usah lama lama! Biasanya perempuan itu mandi sampai 3 jam!” Taemin keluar dari pintu kamar setelah melihat tatapan super tajam dari Sulli. Oh, Sulli berlagak seperti kamar ini miliknya selkarang.

Setelah dipikir pikir, semenjak Taemin melupakan masalah ‘itu’, mereka jadi sering bertengkar begini. Sudah tidak kaku jika saling mengata-ngatai satu sama lain. Hm, tapi ini menarik.

.
.

“Sulli-ah!” Taemin yang sedang menikmati acara tv entah itu apa memanggilnya dengan santai. Bukan memanggilnya, meneriakinya lebih tepat mungkin.
“Ck, apa?”
Oh, Sulli sudah selesai mandi rupanya.
“Aku lapar, hehehe” Taemin hanya bisa terkekeh jika ingin meminta bantuan.
“Jadi? Kalau kau lapar kenapa?”
“Aish, tolong buatkan aku makan malam. Kau kan baik!”
Beginilah, jika Taemin ada maunya.
“Hm, kau mau makan apa?”
“Terserah kau saja, yang penting enak. Aku belum makan dari tadi pagi.”
“Siapa suruh tidak makan.” Sulli berlalu begitu saja. Sebenarnya Taemin ingin membalas perkataan gadis itu. Tapi ia tahan, jika Sulli marah, diserahkan dengan siapa nasib perutnya ini?

“Hey, cepat kesini!” Sulli memanggilnya dengan sedikit teriakan.
“Sudah selesai?” Taemin dengan wajah berseri mengahmpiri meja makan. Hmmm, perutnya sudah berteriak minta diisi sekarang.
“Aku hanya bisa memasakkanmu ini. bahan yang tersedia tidak begitu banyak.”
Taemin tidak menjawab, ia lebih memilih asik memandang makanan yang sebentar lagi menghilangkan penderitaannya ini.
“Selamat makan!!”
Taemin memulai menyicipi masakannya.
“Uhuk—“
Dengan makanan yang baru saja ia suapkan kedalam mulutnya itu, Taemin tersedak.
“Kau, kenapa?!”
“Uhuk—Sulli-ah! Kau memasukkan apa saja kedalam makanan ini?!”
Yaampun, wajah Taemin tidak enak sekali.
“Uh? Memasukkan apa ya? Aku hanya memasukkan banyak gula. Biar terasa manis.” Dengan wajah yang sangat polos tingkat akut Sulli menunjukkan suatu tempat kecil yang menurut Sulli berisikan gula itu.
“GULA?! Aish! Ini garam, Choi Sulli!!!” Taemin raih air minum disampingnya dengan cepat. Diteguknya sampai benar benar habis.
“H-huh? Benarkah? Kukira….ini gula.” Gadis itu menggaruk kepalanya yang jelas jelas tidak gatal itu. Dia membuat kesalahan besar.
“Astaga! Membedakan gula dan garam pun kau tidak bisa! Ck.”
“Ya! Masih mending, daripada kau? Dirumah sendirian saja takut!’
“Hey! Tidak usah mengungkit masalah itu!”
“Habisnya kau seperti meremehkanku saja. Lagian salahmu juga. Kenapa memintaku untuk membuatkan makanan?”
“Yasudah sudah, terserah! Kau masak ulang saja, ya?” Tiba tiba nada bicara Taemin berubah drastis menjadi lembut. Benar benar, laki laki ini!
“Bahan makanannya……….sudah habis.”
Taemin membelalakkan matanya.
“HAH?” Nada lembut tadi hilang begitu saja. “Aaargh! Bisa stress lama lama satu rumah dengan gadis yang tidak bisa membedakan garam dan gula ini!”
“Ya! Siapa suruh kau memintaku mengnap disini?”
Taemin menghela nafasnya. Perutnya sudah kembali memberontak ingin diisi makanan.
“Terpaksa kita makan diluar!” Taemin beranjak dari kursinya. Hal yang benar benar ia malas kerjakan; makan malam diluar.
Sulli hanya memajukan bibirnya. Dengan pasrah ia mengikuti langkah Taemin.

.

“Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?” Sapaan ramah dari pelayan restaurant itu membuat mood Taemin sedikit bertambah.
“Hm, kau mau pesan apa?” Taemin melirik Sulli yang berada didepannya.
“Aku memesan yang ini.” Sulli menunjuk suatu porsi makanan didaftar menu itu.
“Aku yang ini.” Disusul oleh Taemin yang memesan makanan disebelahnya.
“Minumnya?” Pelayan itu kembali bertanya.
“Coklat hangatnya satu!”
Oh? Taemin dan Sulli berkata berbarengan dengan tidak sengaja.
“Kau juga suka itu?”
“Kau mengagumi coklat hangat juga?”
Okey, kini suasana penuh dengan pembahasan coklat hangat.
“Ya! Aku sangat suka.”
“Sama, malah hampir setiap malam aku meminumnya!”
Pelayan yang tadi sudah mulai lelah menunggu.
“Jadi, coklat hangatnya dua?”
“Ya!” jawab Sulli sambil melemparkan senyum manisnya. Begitu pula dengan Taemin.
Sulli tidak menyangka, laki laki ini mempunyai hobi yang sama dengannya. Oh, sangat kebetulan. Jangan saja bilang kalau Sulli juga hobi memaikan piano.
“Sejak kapan kau mengagumi coklat hangat?” Sulli memulai percakapan dahulu.
“Hm, sejak kecil. Aku sangat mengaguminya. Kalau kau?”
“Ya, sama. Setiap malam aku selalu membuatnya dan meminumnya sebelum tidur. Kadang aku tidak bisa tidur jika satu hari belum meminum coklat hangat.”
“HAHAHA! Kau lebih gila daripada aku ternyata. Jika aku sedang ingin sekali coklat hangat, aku hanya memaksa Sunny nuna untuk mecarinya keluar kalau persediaan dirumah sudah kosong.”
Suasana benar benar indah saat ini. hanya gara gara sebuah coklat hangat. Ah, berterima kasihlah pada coklat hangat.

.
.

Sulli memasuki kamar Taemin dengan ragu. Ia belum sepenuhnya yakin kalau ia akan tidur satu kamar dengan pemuda itu.
“Masuklah cepat.” Taemin yang sedang merapikan tempat tidurnya sendiri itu memanggil Sulli.
“Jadi aku tidur dimana?” Sulli menduduki soffa ditepi kamar. Taemin tidak menjawab, masih sibuk dengan tempat tidur itu.
Sulli mengerucutkan bibirnya melihat Taemin mengabaikan begitu saja pertanyaannya.
“Aku tidur disini?”
Sulli bertanya lagi ketika ia melihat Taemin menaruh sebuah selimut tebal disoffa dimana ia duduk.
Lagi lagi tidak dijawab.
“Hey!” Sulli sudah kesal kali ini.
“Tidurlah ditempat tidurku sini.” Taemin menunjuk tempat tidur yang tadi ia rapikan mati matian.
“A-apa?” Sulli tersentak. Entah kenapa hatinya terasa tersentuh sekarang.
“Lalu kau?”
“Aku tidur disoffa itu.” Taemin menunjuk soffa yang diduduki Sulli.
“Tapi—“
“Tidurlah, tempat tidurnya sudah kubereskan.”
Sulli masih diam menatap Taemin. Astaga, mengapa ia menjadi kagum tingkat akut pada laki laki ini?!
“Tunggu apalagi? Aku sudah mengantuk. Sana!” Lagi lagi Temin menyuruhnya.
Sulli berjalan menuju tempat tidur itu. Lalu sebaliknya, Taemin menghampiri soffa tadi dan berbaring diatasnya. Menutupi tubuhnya dengan selimut tebal tadi dan sudah memulai memasuki alam mimpinya.
Sulli ingin sekali berteriak terima kasih pada Taemin sekarang. Tapi itu sangat gila. Sulli pun menarik selimut itu dan memulai tidurnya. Lampu kamar pun sudah padam.
Benar benar tidak bisa disangka. Tempat tidur yang tadinya ia bereskan dengan susah payah yang Sulli kira ia bereskan untuk diri Taemin sendiri tidur itu salah. Itu semua untuk Sulli. Oh, Sulli menjadi senyum senyum sendiri sekarang. Sesekali menggigit bibir bawahnya. Laki laki yang belakangan ini sering beradu mulut dengannya ini ternyata bisa membuat hati Sulli berdebar kencang. Ah, tidak habis pikir. Taemin benar benar membuat Sulli terbang. Sulli menyempatkan diri untuk melirik kearah soffa dimana Taemin terlelap. Ah, Taemin sudah terlelap ternyata. Sulli tersenyum kearah wajah polos Taemin itu.
Masih tidak menyangka, laki laki ini rela berkorban untuk dirinya….
“Terima kasih..” Sulli mengucapkannya dengan nada pelan. Bukan pelan lagi, tapi ia berbisik. Ya, ia tau Taemin tidak akan mendengarnya. Tapi entah kenapa ia mengucapkannya.

/TBC/

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , | 10 Comments

Post navigation

10 thoughts on “Sincerity of Love [Part 4]

  1. Kaa24des

    Gantung lagi kan!! Taelli lagi sekamar nih!! Lanjutin lagi yaak!!

  2. Taelli sekamar. Jangan sampe mereka berbuat macem macem :O
    Woah~ Akhirnya yang ditunggu tunggu datang~ Unnieeee lanjutinya cepet yaaa~ abisnya tambah penasaran sama Taelli ~😀

  3. kyaaa…kereen-kereen…
    lanjut thor!

  4. qinqin

    wah wah wah!

  5. jojo

    lanjut!!

  6. dddandyu

    Aku bner2 jd taelli shipper abis baca ini lho!
    Lanjut ya
    Bkin taem suka sama ssull
    Jgn2 sunny sama hyo itu sengaja bwt bkin mereka bdua hahah
    Lanjut ya thor🙂

  7. fannylovers

    waaaah akhirny chemistry taelli ud kbangun nie, gud guuud..
    tp kyany ni ga bkal ad NC y chingu??mumpg lg skamar yaaak hahahaaa.. #otakyadongnykumat
    nice chinguuu..

    bca updetanny dlu ah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: