S N O W

S N O W
.
Choi Minho/Krystal Jung
.
Romance-Oneshot
Special Krystal Jung’s Birthday🙂
.
Author: taelliners =))
.

Hari yang special. Ya, itulah yang ada dibenak gadis cantik dengan rambut panjangnya yang sedang menatap langit langit kamarnya. Ia baru membuka mata sehabis terbangun tidur tadi. Tanggal 24 Oktober, hari yang memang sengaja ia tunggu. Hari ulang tahunnya.
“Hnnggg” Krystal merubah posisi tidurnya. Ia masih butuh waktu untuk benar benar bangun dari tempat tidur itu.
“Hey! Ini sudah jam 9, masa belum mau bangun, sih?” Victoria yang baru saja memasuki kamar itu langsung berceloteh setelah tau bahwa Krystal baru bangun dari tidurnya.
“Hm, aku masih mengantuk.” Krystal kembali memejamkan matanya itu.
“Ini hari ulang tahunmu, masa masih bangun siang begini.”
Efek tidur kemalaman, mungkin. Semalam mereka ber-5 bergila gila didorm merayakan hari ulang tahunnya sampai jam 1 pagi.
“Tadi Minho menghubungi ponselmu, dan—”
“Hah?! Mana? Mana ponselku?” Krystal refleks membuka matanya dan berdiri dengan posisi tegak, seperti benar benar tidak kelihatan mengantuk sama sekali.
“Hmmmm, giliran kusebut namanya saja kau langsung semangat.” Victoria membuka gorden disebelah tempat tidur Krystal itu. Cahaya matahari pun sudah mulai membias kekamar melalui jendela itu.
“Ponselku manaaaa?” Ia mengelilingkan kepalanya. Masalahnya, ponselnya tidak ada dimana mana.
“Tadi Luna yang mengangkat, mungkin—”
Victoria menghentikan kalimatnya, percuma ia lanjutkan, gadis itu sudah berlalu cepat keluar kamar. Pastinya mencari Luna.
“Ck, anak satu itu!” Sang leader hanya bisa menggelengkan kepalanya.
.
“Mana ponselku?!” Krystal mendekati Luna yang kelihatan asyik dengan tontonannya sekarang.
“Tadi dipinjam Amber.”
Sial, ponselnya senang sekali berpetualang kemana mana hari ini.
“Ck.”
Krystal berlalu lagi, mencari Amber yang ia yakini sedang ada dikamarnya.
“Ponselku? Ponselku?” Krystal menggelayutkan lengan baju Amber yang sedang mendengarakan musik dengan santainya disana.
“Hah? Itu.” Amber menunjuk kesisi meja kecil dipojok dengan dagunya.
Akhirnya dapat.
“Tidak ada pesan sama sekali….”
Krystal menggerutu sendiri sambil berjalan pelan keluar kamar.
“Tadi Minho menelponmu dan aku yang mengangkatnya.” Luna berbicara santai seraya masih fokus pada tontonannya itu.
“Huh? Apa yang ia bilang?”
“Ia tidak bilang apa apa. Aku hanya bilang kalau kau masih tidur.”
“Ya! Aish kenapa tidak membangunkanku saja tadi?!” Krystal malah marah sendiri. Seperti berharga sekali satu orang itu.
Memang, hanya Minho yang belum sama sekali mengucapkan selamat ulang tahun pada dirinya. Dia mengerti, kekasihnya bergabung digroup yang super sibuk. Apalagi sekarang mereka sibuk sekali di Jepang. Dia berusaha mengerti keadaan itu. Tapi bodohnya, saat Minho menghubunginya dan otomatis Minho sedang ada waktu kosong, kan? Ia malah masih terlelap tidur.
“Victoria unnie sudah membangunkanmu tapi kau hanya bertukar posisi tidur dan melanjutkan tidurmu.”
Sulli yang entah sejak kapan sudah keluar kamar itu menyambung dengan tiba tiba.
“Ck, kan. Ponselnya mati. Pasti ia sedang kembali sibuk lagi. Harusnya tadi aku mengangkatnya…” Krystal menatap layar ponselnya dengan sebal.
“Sudah, nanti pasti ia akan menghubungimu lagi.” Sulli duduk disamping Luna. Ingin ikut menyaksikan apa yang Luna tonton tadi.
“Tapi kapan? Mereka itu sangat sibuk.”
“Hari ini mereka pulang ke Korea. Pasti ia akan menghubungimu lagi. Tenanglah.”
Sulli memang bisa tenang, tapi Krystal tidak. Hanya dengan tidak mengangkat telepon dari Minho saja ia bisa tidak tenang begini. Ckck, Krystal, Krystal…..
.
IIII
.
“Menghubungi siapa?” Taemin mendekati Minho yang sedang mendekatkan ponselnya ketelinganya. Mereka baru saja sampai dibandara Incheon. Sehabis dari Jepang pastinya.
“………Krystal.” Mereka berjalan santai mengikuti menejer yang menduluinya berjalan.
“Masih belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya?” Taemin bertanya lagi.
“Ya, jadwal membuatku tidak sempat mengucapkannya.”
Taemin mengangguk mengerti. Ia juga merasakan jadwal yang super duper padat itu.
“Halo?” Minho memulai pembicaraan.
“Halo? Minho oppa!” Suara gadis itu terdengar exited sekali.
“Ya! Kenapa kau bangun tidur lama sekali, huh?”
“Ehehehe, aku lelah tadi. Ck, ponselmu mati terus…..” Nada kesal terdengar jelas dari seberang sana. Sementara Taemin yang dapat mendengar samar samar suara itu hanya bisa terkekeh saja.
“Maaf, jadwal—”
“Ya, jadwalmu padat. Aku sudah tau.”
Hening sebentar. Minho sepertinya lupa apa tujuan utama ia menghubungi Krystal.
“Hey jelek. Selamat ulang tahun!” Minho mengakhiri kalimat tadi dengan tawaan. Taemin juga ikut tertawa entah kenapa.
“Ya! Jelek? Aku tidak jelek!”
“Hahaha, kau jelek. Selamat ulang tahun! Semoga menjadi gadis yang lebih baik, lebih pintar, lebih semangat, jangan sering marah marah, lebih cantik lagi. Dan yang lainnya!”
“Huh. Ya, terima kasih jelek.” Krystal membalasnya pula.
“Heh, apa begitu cara berterima kasih padaku? Berterima kasihlah dengan nada yang sopan.” Minho menaruh tas berukuran sedang kesuatu troli. Lalu berjalan lagi kearah luar bandara dengan santai.
“Hahaha. Okey, terima kasih Minho oppaaaaaa.”
Minho tertawa lagi.
“Kau tidak pantas berbicara dengan gaya manis seperti itu.” Minho lagi lagi menjahilinya.
“Benarkah? Huh. Dasar.”
“Dan semoga kau lebih sayang padaku……” Sambung Minho.
“Itu sudah pasti, haha.”
Hening lagi untuk beberapa detik.
“Oppa sudah sampai di Seoul?”
“Ya, ini baru saja sampai di bandara. Kenapa? Sudah rindu padaku?”
Gadis itu tertawa puas disana. Sedangkan Minho refleks ikut tertawa.
“Ya. Sangaaaat rindu!”
“Hahaha. Dasar.”

“Tidak ada acara kan malam ini?” Minho bertanya lagi.
“Tidak, kenapa memangnya?”
“Aku ingin bertemu denganmu. Sekalian makan malam bersama. Aku akan menjemputmu di Gyeol Park, jam 7 malam. Bagaimana? Kau tunggu saja disana, ya.”
“Tentu bisa!”
“Jangan sampai telat. Jika telat kuhukum kau!”
“Jika Minho oppa yang telat, akan kuhukum juga!”
“Hahahaha, baiklah. Kututup dulu ya. Dah.”
“Ya, dah.”
Percakapan pun berakhir sampai disitu. Minho memasuki mobilnya dan Krystal hanya bisa menikmati kepuasannya saja. Lega sudah bisa berbicara pada Minho…
…Walaupun hanya beberapa menit saja.
.
IIIII
.
Baru pukul 6 sore menuju malam. Tapi Krystal sudah sigap bersiap siap menata dirinya sebaik mungkin untuk pergi sesuai dengan janjinya pada Minho tadi.
“Mau kemana?” Sulli memasuki kamar dan duduk disudut tempat tidur disana. Menatap Krystal yang terus berdiri didepan kaca. Dengan kaus berwarna soft-purple dan dibalut dengan blazer yang warnanya senada. Bawahannya cukup celana jeans biasa. Simple. Gaya andalan Krystal.
“Hng? Ingin pergi keluar. Hehe.”
“Aaahhh aku tau.” Sulli tidak butuh penjelasan lebih jauh lagi, dia sudah tau dengan siapa dan mau kemana Krystal pergi keluar.
Krystal hanya menjawab dengan senyuman manis.
“Yap. Aku pergi dulu.” Gadis itu mengambil tas miliknya dan ia gantungkan kelengan tangan kanannya. Diambinya pula penutup telinga disamping tasnya tadi. Udara diluar sangat dingin.
“Hmm, hati hati!” Sulli meneriakinya sebelum Krystal benar benar keluar kamar. Krystal hanya menjawab, “Yaaaa”.

“Kemana?” Sang leader menatap Krystal bingung. Ia sudah siap memakai sepatu boots yang berukuran tidak terlalu sedang itu.
“Pergi keluar. Bersama Minho.” Ia tetap fokus memasang bootsnya.
“Aaahhh, baiklah. Hati hati. Salju diluar sangat lebat.”
“Pasti.” Krystal mengacungkan jempolnya. Membuka pintu dorm dan melambaikan tangan pada Vicitoria kilas lalu mulai berdiri dipinggir untuk menunggu taxi. Dia malas menggunakan mobil. Repot, katanya.

Taxi lewat, ia stop-kan taxi itu dan menaiknya. Dengan hanya menyebutkan nama taman itu saja supirnya langsung tau.
.
Sampai.
Krystal memberikan uang dan tersenyum pada pengemudi taxi itu.
Ia menapakkan kakinya kearah suatu kursi taman disana. Ia duduk disana sambil memeluk tubuhnya sendiri. Saljunya bukan main main. Bola bola putih yang super lembut itu sering sekali menghampiri wajahnya, melewati pipinya. Udaranya benar benar dingin.
Sudah jam tujuh tepat. Mungkin Minho sebentar lagi datang. Dan dinginnya salju ini akan hilang pasti.
.
IIII
.
“Kemana?” Jonghyun—dengan segelas susu putih ditangannya menghampiri Minho.
“Pergi keluar. Ada janji dengan Krystal.” Minho mengambil kunci mobil yang tertera dimeja kecil sudut dorm sana.
“Bilang pada Onew hyung aku meminjam mobilnya. Mobilku sedang bermasalah.” Minho menggelayutkan kunci mobil itu didepan wajah Jonghyun. Jonghyun menjawab dengan anggukan pasti dan senyuman.
“Minho-ah.Sudah bilang menejer?” Key menimpal tiba tiba keruangan itu.
“Bilang? Memangnya harus bilang?” Laki laki itu mengurungkan niatnya untuk membuka pintu utama dorm.
“Hey, hari ini ada jadwal latihan dance. Sudah janji pada pelatihnya. Kau lupa?!” Key mendekatinya. Minho membeku. Bukan karena salju diluar, tapi karena kata kata Key. Bagaimana bisa ia lupa?
Key melirik jam dinding yang menggantung didinding sana.
“Janjinya jam 7, sebentar lagi, Minho.”
“Bolehkah aku izin untuk hari ini saja? Aku akan berbicara pada menejer.”
“Mungkin menejer akan mengizinkan, tapi pelatih dance-nya?” Jonghyun yang angkat bicara sekarang.
Minho memejamkan matanya untuk beberapa detik.
“Ada apa, sih?” Onew keluar dari kamarnya. Sepertinya dia baru terbangun dari tidurnya.
“Dia ingin pergi bersama Krystal, sedangkan kita ada jadwal latihan, dan pelatihnya itu tidak suka jika ada salah satu yang bolos latihan…. ” Jonghyun yang menjelaskan. Minho menatap Onew dengan penuh harapan. Mengharap memberi saran yang tepat.
“Ah! Coba minta bantuan Taeminnie!” Key bersuara. Yang lain hanya menatap Key bingung. Taemin? Apa hubungannya?
“Taeminnie!!” Key memekikkan nama maknae itu. Yang dipanggil keluar dari suatu ruangan disana.
“Ya? Kenapa?”
“Kau mau membantu Minho? Tolong jelaskan pada pelatih dance bahwa Minho tidak bisa ikut latihan untuk hari ini saja. Kau kan anak kesayangan pelatih dance itu.” Key menjelaskan tujuannya memanggil Taemin. Semuanya mengerti sekarang. Memang, Taemin adalah member yang paling disenangi oleh pelatuh dance itu. Selain pemuda ini cepat mengerti, Taemin juga mendengar kata kata pelatih dance dengan sangat baik.
“Ha? Aish, aku tidak berani. Tidak semudah itu, hyung!”
“Ck, Krystal pasti sudah menunggu. Ya sudah, aku ikut latihan. Cepat, kita pergi menemui pelatihnya sekarang.” Minho mengambil jaket yang terletak dipinggir soffa.
Terpaksa semuanya mengikut tanpa berganti baju terlebih dahulu. Bahkan si leader tidak berganti baju dulu sehabis tidur tadi….
.
IIIII
.
Pukul setengah delapan.
Krystal terus menerus melirik arloji ditangan kirinya. Minho tidak biasanya terlambat seperti ini. Salju juga turun semakin menjadi jadi. Bajunya sudah sebagian dipenuhi oleh es es halus putih itu. Tubuhnya mulai merasakan dinginnya. Setengah jam lebih berdiam ditaman dengan salju yang lebat sudah tidak wajar, bukan?
Diraihnya ponsel miliknya disaku jeans. Menekan tombol ponsel itu dengan cepat. Dingin sekali.
“Ck, tidak diangkat. Kemana, sih?” Krystal mulai menggerutu. Benar benar lama. Minho bukan tipe pemuda yang tidak on-time seperti ini.
.
.
“Minho, kau kenapa?” Pelatih dance itu melirik Minho dengan senyuman. Gerakan Minho benar benar berantakan tadi. Tidak teratur, asal gerak saja. Jelas, ia sedang khawatir saat ini. Mana ponselnya ada disaku jaketnya, dan jaketnya itu ada dimobil. Salahnya, dia lupa mengabari Krystal terlebih dahulu tadi.
“Huh? Tidak. Baik baik saja, kok.” Ia balas tersenyum pula. Padahal apa salahnya ia mengaku kalau ia sedang tidak tenang sekarang.
Minho melihat kearah jendela besar yang menampakkan pemandangan luar. Salju terus menerus turun. Laki laki ini semakin khawatir tentunya. Ditaman sendirian, dengan salju begini. Ck, kepalanya penuh dengan nama perempuan itu saja sekarang.
.
.
“Sshhh….” Ia memeluk dirinya sendiri dengan erat sekarang. Sudah 1 jam, dan gadis ini masih bertahan disini. Kuat sekali.
Tidak mau berhenti untuk menghubungi Minho, ia terus mengulanginya. Penasaran, kemana Minho sekarang.
Rambut Krystal kini telah dilumuri salju pula. Dinginnya buka main.
Kenapa ia tidak memilih untuk pulang saja?
.
.
“Selesai. Latihan cukup disini. Terima kasih semuanya.” Pelatih dance itu berceloteh sendiri. Minho tidak menggubrisnya lagi. Langsung meraih sepatu miliknya dan memakainya asal. Tanpa meminta izin dulu pada siapapun. Ia yakin pasti member lain akan menjelaskannya pada pelatih.
Ia menuruni tangga dengan cepat. Sangat cepat.
Ia melihat keadaan luar. Yaampun. Saljunya…………..
“Minho, tolong berikan ini pada menejermu, ini penting.” Seorang koordinator memanggil Minho.
“H-huh?”
“Terima kasih ya, Minho.” Koordinator itu menyerahkan seberkas kertas kepada Minho. Yaampun, padahal Minho belum menjawab ‘Ya’, orang itu asal pergi begitu saja.
Terhalang lagi. Terpaksa ia mencari menejernya sekarang. Secepat petir ia berlalu, menanyakan kesana kemari dimana menejernya sekarang.
Oh, ternyata dilantai atas. Astaga, kembali keatas lagi? Minho menghela nafasnya. Kesabarannya sedang benar benar diuji.
.
Akhirnya. Semua sudah selesai. Kunci mobil sudah ditangan Minho. Ia naiki mobil dan secepat kilat menyalakan mesinnya. Dua kali ia coba, baru bisa dihidupkan.
Tanpa memikirkan apa apa, ia menjalankan mobil itu. Tidak ada yang ia pikirkan selain wajah gadisnya yang pasti sedang membeku disana sekarang. Semuanya ia trabas, lampu lalu lintas pun ia lewati begitu saja. Untung polisi tidak terlalu memperhatikannya. Wajahnya sungguh panik. 2 jam itu bukan waktu yang sebentar!

Oh, akhirnya sampai. Ia parkirkan asal mobil itu. Terserah saja dimana ia memarkirkannya, yang penting ia sudah sampai.
“Krystal!” Minho meneriakkan nama itu. Krystal yang sedang meringkuk kedinginan disudit kursi panjang taman itu.
Minho berlari dengan kecepatan yang maksmial menghampiri Krystal.
“O-oppa!” Krystal berdiri dari sana. Minho memeluk dirinya erat. Minho merasakan dinginnya tubuh Krystal. Sangat dingin. Tangannya sudah hampir membeku.
“Kau tidak apa apa?” Minho bersuara panik. Wajah Krystal pucat sekarang.
“Kau kedinginan? Ck maafkan aku Krystal-ah!”
“Tidak…. Kenapa lama sekali?!” Ia mencoba marah, tapi entah nada bicaranya jelas terdengar lemah. Karena kedinginan mungkin.
“Tidak bagaimana??? Wajahmu pucat seperti ini!!” Minho menuntunnya menuju mobil. Jika ia lebih lama disana, pasti Krystal akan menjadi es.
Krystal berjalan dengan tidak seimbang. Efek sedang menggigil, bisa jadi kan?
Minho tidak tega melihatnya. Ia gendong gadis itu menuju mobilnya. Krystal sedikit tersentak. Ah tidak apa apa, lagian ia sungguh lemah harus berjalan kearah parkiran mobil Minho. Lumayan jauh….
“Op-oppa…” Ia sedikit menepuk punggung Minho.
“Sudah, tidak apa apa. Ini salahku. Sekali lagi maafkan aku.” Minho terus menggendongnya menuju arah parkiran mobil itu.
“Sudah kubilang aku tidak apa apa….”
“Bagaimana aku bisa percaya kau tidak apa apa sementara tubuhmu membeku seperti es begini hah?”
Sampai didepan mobil, ia membuka pintu mobil bagian depan menggunakan tangan kanannya dengan sedikit menunduk; masih menggendong Krystal.
Ia letakkan Krystal dikursi mobil depan. Lalu ia naik dikursi pengemudi.
“Kenapa kau tidak pulang saja, hah? Lihat, tubuhmu dingin sekali. Ck.” Minho mulai mengoceh panjang. Beginilah kalau ia khawatir pada seseorang.
Minho mengambil sebuah selimut yang ada dibagian kursi belakang. Selimut yang biasa digunakan member SHINee jika kedinginan dijalan.
“Pakai ini. Ya Tuhan, bibirmu….” Minho balut tubuh Krystal dengan menggunakan selimut kecil tadi.
“Tunggu disini sebentar.” Minho keluar dari mobil. Kemana pemuda itu?!
“Op-oppa!” Percuma Krystal melarangnya. Ia sudah menutup kencang pintu mobil itu.
.
“Ini, minum ini!” 5 menit ia sudah kembali lagi. Dengan membawa sebotol air mineral yang hangat ditangannya. Astaga, ia rela mencari air mineral hangat demi Krystal….
“Terima kasih oppa…” Krystal menjawab masih dengan nada yang lemah.
“Pukul setengah sembilan? Ya! Kau belum makan malam, bukan?”
Minho menyadari sesuatu. Pukul setengah sembilan belum makan malam dan kedinginan seperti ini.
“Kita makan malam dulu… Kau akan sakit.” Raut kepanikan diwajah Minho tidak henti hentinya tergambar.
Krystal menahan tangan Minho yang sudah siap untuk menyalakan mesin mobil.
“Aku tidak lapar….. Sungguh, oppa. Jangan berlebihan seperti itu….”
“Tapi—”
“Oppa, sudahlah. Kau juga pasti kedinginan kan?” Krystal mencoba menggerakkan tubuhnya yang masih membeku. Mengambil sebuah jaket dibelakang yang entah Krystal juga tak tau milik siapa.
“Pakailah ini. Kau juga membutuhkannya….” Krystal menutupi tubuh Minho dengan jaket tadi. Minho terdiam. Menatap wajah Krystal dalam.
“Nah, jadi sekarang kita impas. Tidak ada yang kedinginan lagi….” Krystal tersenyum pada Minho. Dibalas pula dengan senyuman dari Minho. Kepanikannya berkurang sekarang, berkat Krystal.
“Maafkan aku, aku telah membuatmu menunggu lama.”
“Tidak apa apa. Aku tau kau sibuk.”
Lagi lagi Krystal tersenyum. Dihari ulang tahunnya begini, saat saat inilah yang ia anggap sebagai saat saat indah…….
“Selamat ulang tahun Krystal….” Minho tersenyum lembut pada kekasihnya itu. Ah, saat saat yang benar benar manis. Didampingi dengan salju salju yang masih bertahan turun lebat diluar sana.
“Oppa, kau terlambat, kau harus dihukum!”

/ e n d /

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “S N O W

  1. Ya ampun Krystal rela rela aja ya nunggu 2 jam :O pacar yang baik😀

    Good Good FF Unnieeee !😀

  2. marya

    Woaaah daebak! Keren keren!!😀

  3. Nisa

    Waw waw waw.
    Minstal. . .
    Krystal pngrtian skli sih?

    Minho dpt hkuman ap y?

  4. Hajarnana11

    Minstal minstall….. Huuuyyyy

  5. Ayoona

    Yeah MinStal jjang!!!
    Krystal setia banget🙂
    Nice FF chingu😉

  6. siskaloveMinStal

    yeyyy.. MinStal!! Keren thor…hheehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: