Sincerity of Love [Part 6]

Author: taelliners =))
Main Cast: Choi Sulli – Lee Taemin.
Genre: Romance, Fluff.
Length: Sequel/Multichapter

Maaf telat update T_TTTTTT.

.
.

Taemin sungguh marah?
Sulli terpaku pada pintu kamar yang tertutup itu. Sebegitukahnya?
Sulli menyandar pada pintu itu dan memejamkan matanya, helaan nafasnya terdengar dalam.
Merasa bersalah. Itulah yang ada dibenak Sulli sekarang.
.
IIIII
.
“Tae….Taemin….” Sulli beranjak dari kursinya. Mencoba mendekati Taemin yang baru saja berhasil menuruni tangga.
Laki laki itu tidak menjawab, hanya berhenti dan menatap Sulli sebentar.
“Aku—“
Sulli tidak melanjutkan kalimatnya. Orang yang ia ingin ajak biacara itu sudah berlalu entah kemana.
Lagi lagi gadis ini menghela nafasnya. Sepertinya kemarahan Taemin tidak main main kali ini. Sulli tau betul apa yang ia pecahkan barusan itu benda yang sangat berharga. Tapi dia kan tidak sengaja, Lee Taemin..

“Taemin-ah! Mau sampai kapan kau tidak mau mendengarkanku begini?!” Sulli mengikutinya berjalan kearah belakang. Tetap diam dia.
“Ayolah, Lee Taemin.. Akan kuganti, kok. Kalau bisa kubelikan kau 10!” Terus saja Sulli kejar kemana saja lelaki ini menapakkan kakinya.
“Ck, Taemin-ah! Mau berapapun kau minta aku menggantinya, akan kuganti. Sung—“
Sulli terdiam. Taemin kini berhenti berjalan dan menatap matanya dalam.
“Sudahlah.” Kini jantung Sulli berdetak lebih cepat lagi.
“Aku…..maaf.”
“Ck. Lupakan saja.” Taemin duduk dikursi yang terdapat dihalaman belakangnya itu. Menatap lurus.
Oh, Sulli mengikutinya lagi. Ia ikut duduk disebelah Taemin. Sepertinya rasa bersalahnya ini sungguh besar.
“Kau memaafkanku?”
Diam sejenak.
“Ya Taemin-ah~”
“……Aku sudah memaafkanmu, tau.”
Sulli tersenyum singkat. Akhirnya, ia lega juga.
“Jangan mengulanginya lagi. Aku tidak suka itu.” Taemin belum mau menatap wajah Sulli sekarang.
“Ya…. Sekali lagi maafkan aku.” Sulli menundukkan kepalanya. Taemin tersenyum melihatnya. Entah, melihat Sulli menunduk begitu membuatnya ingin tersenyum.
“Tidak usah terus menerus meminta maaf. Barang itu juga tidak akan utuh kembali jika kau terus menerus minta maaf kan?”
Sulli mengangguk satu kali.
Yaampun, wajahnya polos sekali jika sedang sedih seperti itu.
“Sudah, jangan menunduk begitu. Kau terlihat jelek jika wajahmu kusut!” Ejek Taemin asal.
Sulli terkekeh perlahan.
“Benarkah? Aku jelek seperti itu?”
“Ya…” Tidak, Sulli. Sebenarnya Taemin ingin bilang kalau kau cantik dengan ekspresi muka apapun….
“Perlu kuganti? Aku akan mencarinya yang sama persis dengan itu.”
“Tidak perlu. Mungkin barang itu memang ditakdirkan untuk hancur hari ini.” Taemin tersenyum lagi pada Sulli. Begitu pula sebaliknya.
Oh, dapat Sulli ambil kesimpulan. Taemin adalah laki laki yang pemaaf. Tidak susah juga meminta maaf pada pemuda ini.

“Taemin-ah! Aku lapar……….” Sulli melebarkan senyumannya kearah Taemin. Jika ada maunya, Sulli pasti memperlihatkan aegyeo-nya yang sedikit kaku itu.
“HAHAHA. Kau terlihat seperti orang aneh seperti itu!”
.
IIIII
.
“Oh? Kalian akan pulang pukul berapa?” Taemin berbicara pada seseorang yang berada diseberang sana.
“Ah, ya. Akan kami tunggu.” Taemin tersenyum manis seraya menutup telepon itu.
“Ibumu dan Sunny unnie akan pulang hari ini?” Sulli mematikan tv yang sedari tadi ia tonton itu. Lalu mendekati Taemin kearah sebelah soffa.
“Ya, hehe. Kau bisa pulang hari ini.”
“Oh, baiklah….” Sulli tersenyum kearah pemuda itu. Sepertinya Taemin sudah tidak butuh Sulli lagi untuk merubah dirinya. Dirinya yang sekarang sudah kembali normal, kembali seperti biasa—tanpa ada beban lagi. Beban yang membuat dirinya begitu terpukul. Itu berarti……
Sulli sudah tidak perlu datang kerumah ini lagi dan bermain bersama Taemin?
Entah, rasanya berat bagi Sulli. Taemin sudah ia anggap sebagai sahabat? Oh, sahabat? Tidak, mungkin Sulli sudah menganggap Taemin orang yang lebih tinggi tingkatnya dari sahabat…
.
“Sulli-ah…..” Taemin menegur gadis yang duduk disampingnya itu. Duduk diberanda rumah sambil melihat siapa saja yang berlalu lalang dijalanan menjadi pekerjaan mereka berdua. Tidak ada yang harus dikerjakan saat ini. Mereka bosan.
“….Ya?”
“Apa kau akan bermain kerumahku lagi nanti?” Taemin melirik Sulli menggunakan ekor matanya.
“Hng? Tentu! Ahahahaha.” Mungkin akan setiap hari, Taemin…
“Hmmmm. Terima kasih…” Taemin mengangkat kepalanya. Menatap langit langit diatas.
“Terima kasih? Untuk apa?”
“Karena kau telah membuatku seperti ini. Kau membuatku kuat. Kau yang membuatku tidak melakukan apa yang harusnya tidak dilakukan….”
Mengapa ia rasanya ingin menangis seperti ini?
“Oh? Ya, hahaha. Sebenarnya kau harus berterima kasih pada dirimu sendiri. Kerana dirimulah yang mau kau merubah semuanya. Bukan karena aku…” Sulli tersenyum lagi. Senyuman yang sangat tulus.
“Ya, jika tidak ada kau juga, aku tidak akan merubah diriku seperti ini.”
“Hahaha. Kau terlalu berlebihan…”
Percakapan mentok sampai disitu. Tidak tau lagi harus membicarakan apa.

Suasana menjadi sunyi selama beberapa menit.
“Bagaimana kalau kita membereskan rumah? Sebentar lagi kan ibumu dan Sunny nuna akan datang!” Ide iseng Sulli itu membuat Taemin menyetujui apa pekerjaan yang harus dilakukan mereka sekarang.
“AYO!”
Mereka beranjak dari kursi diberanda itu dan masuk kedalam rumah.
Menuju tempat penimpanan alat alat pembersihan dan mengambil beberapa dari situ.
Sapu sudah berada ditangan Taemin. Pembersih meja sudah berada ditangan Sulli.
Taemin mulai menyapu dari sudut ruang tengah dan Sulli membersihkan meja meja yang sudah menumpuk debunya itu.
Merasa garing, Sulli mempunyai ide yang jahil untuk meramaikan suasana.
“Hey jelek!”
Buk. Sulli melempar bantal kecil yang tertata disoffa ruangan itu.
Tepat! Mengenai wajah Taemin yang sedang serius menyapu lantai itu.
“YA!”
“HAHAHAHAH lemparanku tepat mengenaimu kan?” Sulli tertwa puas. Sementara Taemin meringis disana.
Buk! Bantal soffa yang ukurannya lebih besar dilemparkannya pada wajah Sulli.
“HAHAHAHA lemparanku juga tepat mengenaimu kaaan?”
“Ck, kau tidak bilang ingin melempar bantalnya, sih.”
“Kau juga tadi tidak bilang!”
Buk! Taemin melempar bantal lagi. Oh, perang bantal?
“Hey! Aku hanya satu kali!” Sulli meraih bantal lain disana. Sial, Taemin sudah duluan berlari menyelamatkan diri.
“Tunggu kau, jelek!” Diletakkannya begitu saja pembersih meja itu dilantai. Sementara Taemin sudah berlari asal menjauhi Sulli masih dengan membawa sapu ditangannya.
“Hey! Hey! Kau yang memulainya duluan!”
“Tapi kau melakukannya dua kali!”
Mereka saling kejar mengejar mengitari meja, kursi, dan yang lainnya.
Buk.
Oh meleset! Bantal yang Sulli lempar hanya mengenai dinding karena sasaran yang ingin Sulli lempar itu menghindar.
“CK! Kau curang! Jangan mengihindar jika dilempar!”
“HAHAHA siapa yang membuat peraturan seperti it—ya!”
Oh, Sulli melempar satu bantal lagi yang terkapar dilantai. Dan mengenai wajah Taemin kali ini.
“Huahaha!! Akhirnya kau kena!”
Taemin ambil lagi bantal yang Sulli lempar kearahnya itu.
“Sudah sudah! Jangan lempar kearahku, jelek!” Sulli berlari sambil terkekeh melihat Taemin mengejarnya terus menerus.
“Jangan lari kau!” Taemin terus mengikutinya. Bantal yang ia pegang itu sudah siap melayang kearah Sulli.
“Kyaaak!” Taemin melempar bantal itu dan lemparannya tepat lagi.
“Ya! Kau ini!”
“Hahahah lemparanku kena lagi? Ah aku jadi bingung kenapa aku bisa sehebat ini.”
Yaampun, Sulli ingin muntah rasanya mendengar itu.
“Taemin-ah, bagaimana kalau kita bermain basket saja?” Sulli melirik kearah luar rumah. Didepan rumah ini terdapat lapangan basket yang super luas. Asyik sekali jika bermain basket disana.
“Eh? Ide bagus! Kau menantangku?” Taemin melipat tangannya didada dan meletakkan asal sapu yang sedari tadi masih dipegangnya itu.
Dan sekarang pekerjaan rumah itu terabaikan sudah.
.
“Woaaaah ternyata kau hebat bermain basket.” Sulli seolah berekspresi berlebihan ketika Taemin baru saja memasukkan bola basket kedalam ring itu.
“Hahahha. Coba kau.” Taemin melempar bola basketnya kearah Sulli.
Hap. Ia tangkap bola itu dengan sempurna.
“Kau mau melihat kehebatanku?”
Sulli mulai mendribble bola itu dengan lincah.
Yap. Ia berhasil memasukkan bola itu tepat pada ring.
“Mau melawanku?” Sulli meraih bola itu dan dipegangnya ditangan kanannya.
“Tentu.” Taemin mengambil begitu saja bola yang ada ditangan Sulli tadi.
“Hey! Ck dasar.”
Taemin terus mendribble bola itu kearah dimana ring berada. Sulli mencoba untuk merebut bola tadi.
“Bleeeh. Tidak bisa merebuut~” Taemin menghindar lagi. Sulli terus menerus gagal merebut bola itu.
“Ya! Aish giliranku!”
Berhasil. Sulli berhasil merebut bola itu. Ia mendribble bola itu kearah ring. Mencoba memasukkan bolanya kesana dan……..gagal.
“Hahahaha!! Bagaimana, sih? Katanya hebat?” Taemin meraih bola itu. Mendribble nya beberapa kali dan memasukkan bola itu kedalam ring.
Yap. Ia berhasil lagi.
Sulli mendengus kesal. Kenapa Taemin bisa masuk sementara ia tidak bisa masuk?
“Lalalala~” Keberapa kalinya Sulli mencoba memasukkan bola basket itu, tapi gagal. Pemuda itu terus mengejeknya.
“Mau kuajarkan tidak?” Taemin mengatur nafasnya terlebih dahulu sambil mendribble bola basket ditempat.
“Tidak! Aku bisa sendiri, tau!” Sulli kembali merebut bola basket itu. Mencoba memasukkannya lagi.
“Argh!” Meleset lagi.
Taemin terkekeh puas disana.
“Makanya. Diajari tidak mau.”
Taemin mengejar bola basket yang lumayan jauh perginya itu.
“Begini, posisimu harus santai. Jangan kaku seperti itu!” Sulli mengikuti gerak Taemin juga akhirnya.
“Ck, kan sudah kubilang jangan kaku, jelek!” Taemin menuju belakang tubuh Sulli. Meraih kedua tangannya dan mengajarkan posisi yang benar. Ya Tuhan. Manis sekali posisi mereka saat ini…..
Tiba tiba hening…. Tangan Taemin yang menyentuh tangan Sulli itu membuat dirinya tidak bergeming. Sementara Taemin masih tidak sadar apa yang ia lakukan. Jantung Sulli berdetak cepat sekarang.
“Dan masukkan seperti ini, yap!”
Sulli mengangguk mengerti. Posisi sudah kembali seperti biasa.
“Biar kucoba.” Sulli meminta bola basket yang berada ditangan Taemin itu.
Ia mulai memainkan bola itu kesana kemari. Tiba didepan ring, ia mengikuti gaya yang diajarkan oleh Taemin tadi.
“Yap—YEAH!!! Aku berhasil!”
Akhirnya. Ia berhasil memasukkan bola basket tadi. Berhasil memasukkan bola basket senangnya seperti berhasil memenangkan hadiah jutaan.
Taemin hanya tersenyum melihat ia berlonjak lonjak.
“Kau berlebihan!!”
Sulli terus menerus berputar putar sambil berlonjak lonjak hanya karena memasukkan bola basket.
“Yeaaaah! Aku bis—aw!”
Oh, Sulli terjatuh. Saking asyiknya berlonjak ia tidak melihat ada batu dibelakang kakinya dan…..ia tersandung.
“Hey, Sulli!”
“Awww sakit.”
Taemin mengahampiri gadis itu dengan wajah yang super panik. Sulli yang terduduk disana hanya bisa merintih dan memegangi lututnya yang sudah terlanjur mengeluarkan darah.
“Kau ini! Harus hati hati!” Taemin berusaha meluruskan kaki Sulli dengan perlahan.
Oh rasa sakitnya buka main main ternyata. Ini sangat sakit.
“Aw aw—hey sakit!” Ia memukul lengan tangan Taemin pelan. Tapi diabaikan saja oleh pemuda itu.
“Lihat! Darahnya banyak sekali, ck!” Taemin sungguh panik rupanya.
“Masuk kerumah sekarang.” Taemin membantu Sulli beranjak.
“Bisa jalan?”
“Yaa, bisa.”
Bohong. Jelas jelas kakinya sudah super nyeri seperti itu. Bagaimana bisa ia bilang kalau ia masih bisa jalan.
“Aw—hey Taemin!”
Sulli terkejut sungguhan. Taemin mengangkat dirinya begitu saja dengan kedua tangannya. Ya, dia menggendong Sulli begitu saja.
“Diam.” Taemin mulai berjalan kearah rumah berada. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Cuma……ini indah sekali….
Sulli terdiam memperhatikan rahang Taemin dari bawah. Wajahnya yang begitu serius menggendong dirinya. Yaampun, Sulli menikmati ini.
“Apa…aku tidak berat?” Sulli kecilkan suaranya untuk bertanya. Untuk menghilangakan rasa sunyi.
“Sangat berat tau, jelek!”
Sesaat kemudian Sulli mendengus kesal. Disaat yang super unyu seperti ini, Taemin masih saja mengejek dirinya.
Ah wajah Taemin jika dilihat dengan sisi seperti ini rasanya lebih menarik…..
.
“Ini,” Taemin mendekati Sulli yang sudah terduduk dikursi ruang tengah.
Taemin berlutut didepannya dan menyentuh luka dilutut itu dengan sangat pelan.
“Haaw~” Sulli memejamkan matanya; menahan perih yang sudah sangat parah itu.
“Memangnya sakit sekali?” Taemin memandang luka itu sembari mengoleskan obat merah menggunakan kapas.
“Ya….” Gadis itu menggigit bibir bawahnya saking sakitnya luka ini.
“Tahan ya.” Taemin sedikit menekan luka itu menggunakan kapas agar obat lukanya benar benar menempel.
“Hey! Sakit sekali!”
Lagi lagi Sulli memukul lengan Taemin.
“Kataku kan tahan! Jika tidak dibegitukan akan bertambah parah, bodoh!”
Taemin meniupi luka itu dengan pelan. Astaga, tampaknya ia benar benar serius dalam mengobati luka Sulli ini.
Dan Sulli pun menatap wajah Taemin lagi. Benar benar dalam.
“Terima kasih…..”
Kata itu muncul begitu saja dari mulut Sulli.
“Hm?” Taemin mengertukan dahinya.
“……Ya, sama sama…”
Ia tersenyum kearah gadis itu. Dibalas pula oleh Sulli.
Suasana seperti ini adalah suasan yang langka, bukan?
.
XX
.
“Oh, mau makan dimana? Disana atau disana? Sepertinya disana enak..” Taemin mengelilingkan pandangannya disekitar sana. Banyak resto yang berjajar, tinggal pilih saja mau kemana.
Keadaan Sulli? Sudah cukup membaik. Walaupun Sulli berjalan dengan aneh sekarang.
“Bagaimana kalau kita mencoba itu?” Sulli menunjuk suatu resto khusus makanan Jepang. Ya, Sulli suka makanan khas Jepang.
“Oh? Boleh. Baiklah.”
.
“Kau mau memesan apa? Jangan lama lama. Kebiasaanmu memesan makanan lama.” Sulli menggerutu panjang sambil membolak-balik menu makanan disana.
“Hmmm” Taemin menempelkan jari jarinya didagunya.
“Yang ini, mengandung udang, tidak?” Tanyanya pada sang pelayang.
“Ya, tapi tidak banyak. Apa anda ingin memesan itu?” Tegur pelayan itu ramah.
“Tidak tidak. Aku alergi udang. Bagaimana kalau yang ini?”
“Tidak, bahan utama menu itu adalah ikan.”
“Tuhkan, kau lama jika memesan makanan!” Sulli menopangkan dagunya.
“Yang ini saja, ya.” Akhirnya ia selesai memlihi menu makanan.
“Lama…..” Gerutu Sulli lagi.
“Hih, pelayannya saja tidak mengeluh, kok malah kau yang mengeluh.” Balas Taemin pula. Perdebatan berhenti sampai disana. Sudah malas untuk dilanjutkan.
.
Makanan datang. Oh, butuh waktu yang lama menunggu makanan ini.
“Woaaah! Selamat makan!” Girangnya Sulli membuat Taemin hanya terkekeh geli sambil meraih sumpit didekatnya.
“Hmmmm punyaku enak!” Lagi lagi Sulli over-exited.
“Kau mau mencoba punyaku?” Taemin meraih satu buat sushi dipiringnya dan mendekatkannya pada mulut Sulli.
Maksudnya? Ia ingin menyuapi Sulli?
Manis. Sekali.
“Hng?” Pertamanya gadis ini mengerutkan keningnya. Bingung. Tapi ia langsung mengerti dan membuka mulutnya.
“Bagaimana? Enak, bukan?”
“Hmmm” Sulli mengangguk sambil tersenyum. Lengkungan kedua matanya membuatnya terlihat lebih imut.
“Kau mau mencoba punyaku?” Giliran Sulli yang melakukan hal yang sama dengan Taemin.
“Ummm” Taemin menganggukkan kepalanya pula. Meraih tangan Sulli dan memakan makanan itu. Perlu digaris bawahi. Taemin meraih tangannya.
Kejadian yang langka banya terjadi hari ini.
Entah mengapa Sulli sudah tidak kaget lagi dengan sentuhan sentuhan yang dilakukan Taemin ditangannya. Dia sudah terbiasa sekarang. Taemin sering sekali mengagetkannya dengan memegang tangannya tiba tiba begini.
“Wah, punyamu lebih enak!!”
Terjadilah moment suap suapan direstoran itu. Ah, menyenangkan.
.
XX
.
“Woah. Kalungnya indah sekali….” Sulli menelpelkan dua jarinya disuatu kaca toko perhiasan disana.
Taemin melirik kalung yang dimaksud Sulli tersebut. Dilihatnya sekilas. Biasa saja. Tapi kenapa Sulli seperti sangat terkagum pada kalung itu.
“Mau masuk?” Sulli mengajak pemuda yang sedang asyik memandang sekitar.
“Hng? Boleh.” Sekedar iseng, sih. Tapi apa salahnya jika melihat lihat.
“Bisa lihat kalung yang ini?”
Kalung yang sejak awal Sulli incar itu langsung menjadi sasaran utamanya.
“Waaah. Indah, ya?” Sulli menyenggol lengan Taemin mengginakan sikunya.
“Hng? Ya ya. Indah.” Hanya pasrah mengikuti pendapat Sulli. Ia tak tau harus berbuat apa ditoko perhiasan yang serba bling bling. Pastinya untuk perempuan.
“Ini, terima kasih.” Sulli mengembalikan kalung tadi kepada sang penjaga toko.
Hanya dilihat saja? Tidak dibeli?
“Untuk apa kau melihatnya jika tidak dibeli?” Taemin menatap Sulli aneh.
“Hanya sekedar melihat. Memangnya tidak boleh? Masih banyak barang yang lebih penting dan berguna yang harus dibeli..”
Taemin mengangguk saja. Kadang ia mengakui, Sulli sangat bersifat dewasa. Ia sering iri pada wanita ini.
“Yuk, pulang. Aku lelah.” Sulli mendorong pintu utama untuk keluar dari toko perhiasan tersebut. Taemin menggelengkan kepalanya. Kalau begini namanya buang buang waktu saja.
.
.
“Lama sekali!!” Sulli mengerucutkan bibirnya ketika melihat Taemin baru sampai dengan dua buah minuman ditangannya.
Barusan Taemin kalah bermain game dan hukumannya harus membeli minuman untuk mereka.
Taemin duduk disamping Sulli. Taman dengan anak anak yang berlarian kesana kemari dipilih mereka untuk beristirahat sementara. Padahal tadi Sulli mengajak pulang, tapi ia ingin duduk ditaman itu sebentar.
“Ini.” Taemin menyerahkan sesuatu pada Sulli.
“Hng? Apa?” Ia meraihnya. Membukanya dan menyadari kalau itu…
“Kalung tadi?!” Sulli membelalakkan matanya. Kalung yang ia kagumi dan puja puja tadi. Kalung yang simple memang. Tapi Sulli suka.
“Kau membelinya untuk siapa? Waaah kau membuatku iri!”
“Untukmu, bodoh.”
A-apa? Apa perlu Sulli tes kenormalan telinga?
“Hah?”
“Jaga kalung itu dengan baik! Jangan sampai hilang. Aku sengaja membelikanmu untuk kenang kenangan…..”
Kenang kenangan? Terdengar lucu. Seperti Sulli akan pergi ketempat yang jauh saja.
“Tapi—ini serius unutkku?” Sulli menatap Taemin dengan serius. Dia masih tidak percaya. Dihari yang biasa saja—maksudnya tidak spesial, Taemin memberikan kalung ini begitu saja.
“Ya! Tidak usah banyak tanya. Pokoknya kalau sampai hilang aku tidak akan memaafkanmu sampai kapanpun! Mengerti?!”
Tidak memaafkan sampai kapanpun? Wah. Ini adalah kalung berharga.
“Siap! Hehehe ngomong ngomong, terima kasiiiiiih!” Sulli memeluk lengan tangan Taemin. Oh? Hanya lengan tangannya saja?
“Yaaaa.”
Aneh, kan? Sebuah kalung diberikan pada seseorang yang notabenenya bukan siapa siapa.
Bukan. Siapa. Siapa. Ingat itu.
Dihari yang tidak spesial sama sekali. Tidak mungkin Taemin hanya iseng membelikannya untuk Sulli? Pasti, dia menyimpan sesuatu rasa yang…..belum juga ia ketahui rasa apa itu…..
.
/ t.b.c /

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Sincerity of Love [Part 6]

  1. lanjuuuutttt chingu…

  2. Lanjuuuuut….!!!!!!

  3. Fannylovers

    Waaaah ud mkin banyk momenny taelli..
    Jd mkin banyak skinship nie c taelli jgn” nti mkin mnjurus” k NC nie haahahaaa.. #otakyadongnykumat
    ditunggu next partny chingu jgn lma”

  4. Ya ampun Taem udah lanjut bilang suka aja sama Sulli~ Ditunggu nih acara yang lebig romantis lagi~

    Unnie dabeka akhirnya yg ditunggu dipost~

  5. wew….
    bagus nih…
    udah nungguin lama, akhirnya di update juga…
    lanjut ya!

  6. . Wewewew~ akui lha dengan cepat Taemiiiiin… Hahaha

  7. Kaa24des

    Telat baca nya!! Aaaaa lanjut mut!!

  8. ciiyyyeeee taemin nd sulli…
    lnjut chingu..

  9. lanjut lanjut..
    #jadi pengen kayak sulli dibeliin kalung ma taem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: