Sorrow at Your Eyes (Part 2)

Title                  : Sorrow at Your Eyes

Author            : Park Sooyun

Cast                  : Choi Jinri, Lee Taemin

Genre              : Romance/Hurt/Comfort

Rating             : PG 13+

Length            : Captered

Hello all!!

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada chingu-chingu yang telah mengomen FF Sorrow at Your Eyes Part 1. Sekarang saya mau bawain yang part 2 ^_^

Saya juga minta maaf karena part kali ini gak ada gambarnya. Modem saya lemotnya minta ampun. Dan saya gak bisa upload gambar. Jeongmal mianhe … Nanti lain kali saya upload deh🙂

Now, reading and enjoy …

Sorrow at Your Eyes

 

AUTHOR’S POV

 

Sulli menatap bayangan dirinya di depan cermin. Ia nampak cantik dengan balutan busana pengantin berwarna putih. Rambutnya digulung ke belakang sehingga tidak berantakan. Ia menatap sebuah notes yang ditempel di cermin.

            Sulli-ah! Selamat atas pernikahannya! Maaf aku tidak bisa datang. Hwaiting!!

Itu pesan dari Victoria onnie.

Sulli menundukkan kepalanya. Apa ia benar-benar sudah siap untuk menikah dengan Lee Taemin? Ia adalah seorang namja dingin dan benar-benar jutek dengan orang lain. Tidak. Bukan jutek. Lebih dari itu. Sulli merasa kalau Taemin membencinya. Entah kenapa Sulli merasa seperti itu. Padahal mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin ‘kan Taemin membenci Sulli yang notabene baru ia kenal?

Kemarin Sulli pulang dengan wajah kecewa bersama orang tuanya. Setelah Taemin meninggalkan dirinya sendirian, ia hanya duduk di ruangan selama hampir satu jam. Setelah itu, barulah ia menemui orang tuanya dan minta pamit. Tentu saja itu ia lakukan agar ia terlihat sedang mengobrol dengan Taemin tadi.

Ia tidak menyangka akan mendapatkan calon suami seperti Taemin. Bagaimana dengan kehidupannya setelah menikah nanti? Apakah Taemin akan terus bersikap seperti ini padanya?

$#@#$

Pernikahan Sulli dan Taemin diadakan secara tertutup. Hanya kerabat dan beberapa orang saja yang tahu tentang pernikahan mereka. Satu-satunya teman Sulli yang tahu tentang pernikahannya hanyalah Victoria. Sayang sekali ia tidak datang.

Setelah menjalani resepsi pernikahan yang melelahkan, Sulli dan Taemin pulang ke rumah. Kali ini mereka tidak pulang ke rumah orang tua Taemin, tapi ke sebuah rumah di tengah kota Seoul.

Selama resepsi tadi, perasaan Sulli terus tidak enak. Saat Sulli berjalan mendekati *bahasanya gak enak banget* altar, Taemin terus menatapnya dengan tatapan dingin. Sulli merasa sangat terintimidasi. Akhirnya ia mengucapkan sumpah *maaf kalo salah soalnya saya gak tahu apa namanya* pernikahan walaupun dengan gugup.

Setelah Sulli menganti gaun pernikahannya dengan baju tidur, ia berjalan menuju dapur untuk makan sesuatu. Perutnya sangat lapar.

“Taemin oppa, apa kau mau kumasakkan sesuatu?” tanya Sulli sambil tersenyum.

“Tidak usah. Aku tidak lapar,” jawab Taemin dengan dinginnya.

“Oh. Ya sudah kalau begitu,” kata Sulli sambil menundukkan kepalanya. Ia membuka kulkas dan mengambil setangkup roti beserta selai cokelat. Ia menggigit roti itu dan mengunyahnya perlahan.

Sulli melirik Taemin dengan pandangan was-was yang sedang menonton acara TV.

Kenapa dengan pria itu? Pikir Sulli. Apa ia begitu dingin? Bahkan ketika menonton TV tatapannya juga dingin. Dasar namja aneh.

Setelah kenyang, Sulli berjalan menuju kamarnya. Ia capek sekali. Ingin rasanya ia cepat-cepat berbaring dan tidur. Tiba-tiba langkah Sulli terhenti ketika ia sampai di kamar dan pandangannya terarah ke tempat tidur.

Apakah ia nanti akan menjalani ritual malam pertama dengan Taemin?

Muka Sulli langsung memerah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan melakukan ‘itu’ nanti. ‘Ayolah Sulli!’ batinnya. ‘Jangan berpikiran seperti itu!’

Sulli masih saja berdiri di pinggir tempat tidur sampai Taemin masuk ke dalam.

“Kau belum tidur?” tanya Taemin dengan nada seperti biasanya, dingin.

Sulli menggeleng.

“Ya sudah. Aku tidur dulu.” Taemin naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut. Ia menyandarkan kepalanya di atas bantal yang empuk.

Mata Sulli melebar. Apa ia tidak tahu ‘kebiasaan’ pengantin baru? Ahh… Sudahlah. Mungkin Taemin terlalu capek. Sulli mengikuti Taemin dan naik ke atas tempat tidur.

Ia menatap punggung Taemin.

“Selamat tidur.”

Tidak ada balasan.

Sulli hanya menghela napas lalu tidur.

$#@#$

Matahari menyambut Sulli yang masih tertidur. Sulli mengerjapkan matanya lalu ia duduk di pinggir tempat tidur. Ia melirik ke arah kanannnya. Taemin tidak ada. Sepertinya ia sudah bangun. Sulli menghela napas.

Ia segera bangkit dan pergi ke dapur. Ketika sampai di dapur, ia hanya berdiri memandangi kitchen set yang ada dihadapannya.

Apa yang kira-kira harus kumasak? Pikir Sulli.

Ia sama sekali tidak tahu tentang masak-memasak dan bagaimana selera makan Taemin. Ia memutuskan untuk masak nasi goreng berhubung nasi goreng adalah makanan universal (?)

“Kau sudah mandi?” tanya Sulli ketika Taemin datang dan duduk di meja makan. Tangannya masih mengutak-atik nasi goreng yang sedang dibuatnya.

“Hm,” jawab Taemin pendek.

Sulli menata nasi gorengnya sedemikian rupa agar terlihat cantik. Ia membawa piring berisi nasi goreng itu ke Taemin.

“Ini sarapannya,” kata Sulli sambil tersenyum manis.

Taemin hanya menatap nasi goreng buatan Sulli dengan tatapan seperti merendahkan. Sulli menatap Taemin dengan was-was. Taemin mengambil sesuap nasi dan menyuapkannya ke mulutnya. Ia menguyahnya dan tiba-tiba…

“Bwehh! Rasanya terlalu asin!” Taemin meletakkan sendoknya ke piring dan langsung menyambar air putih yang ada didekatnya.

Sulli terlonjak kaget. “Benarkah?” Ia menyendokkan suapan pertama. Kening Sulli berkerut samar. Taemin benar. Rasanya terlalu asin.

“Kau ini bisa masak atau tidak sih!?” bentak Taemin.

“A…aku akan membuatkan yang baru.”

“Tidak usah! Lebih baik aku makan di luar saja!” Taemin menyambar tasnya dan pergi ke luar. “Kenapa aku mendapatkan istri yang tidak bisa diandalkan seperti dia?!”

Sulli hanya mematung ketika mendengar perkataan Taemin. Ia terduduk lemas di kursi. Air matanya meleleh. Kerja kerasnya untuk membuat sepiring nasi goreng hilang sudah. Ia tahu nasi gorengnya terlalu asin, tapi tidak bisakah Taemin menghargainya sedikit saja?

Sulli menyeka air matanya. Ia harus kuat. Ini baru ujian pertama menjadi seorang istri Lee Taemin.

$#@#$

Tok tok tok!

“Iya! Sebentar!” Sulli berjalan menghampiri pintu. Ia membuka pintu.

“Cepat bantu aku! Carikan sebuah map merah. Aku membutuhkannya sekarang.” Taemin langsung nyelonong masuk dan mengubrak-abrik semua laci dan lemari.

Sulli ikut membantu Taemin mencari map merah. Dalam hati Sulli merasa kesal. Tiba-tiba saja Taemin pulang ke rumah dan seenaknya menyuruhnya untuk mencari dokumennya. Ia membuka laci dan menemukan sebuah map merah diantar dokumen-dokumen lain.

“Ini map-nya,” kata Sulli pada Taemin.

Taemin melirik Sulli lalu mengambil map itu dengan kasar.

“Aku membutuhkan ini untuk rapat,” katanya lalu pergi begitu saja dari rumah.

Apa yang dilakukan Sulli? Tentu saja ia hanya berdiri mematung sambil menatap kepergian suaminya.

Setelah ia membantu Taemin mencari map itu, Taemin tidak berterima kasih padanya. Tersenyum pun tidak. Tangan Sulli gemetaran.

Ayo Sulli… Bertahanlah…

$#@#$

Sulli menenteng keranjang belanjanya dengan susah payah. Hari ini dia sedang berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari.

‘Beras sudah. Telur dan ayam juga sudah. Apalagi ya?’

“Kau Sulli ‘kan?” tanya seseorang.

Sulli membalikkan badannya. Seorang namja berdiri dihadapannya sambil tersenyum. Dia tinggi, berkulit putih, dan wajahnya menunjukkan kalau dia adalah orang baik.

“Iya. Aku Sulli. Apakah aku mengenalmu?” tanya Sulli sopan.

“Kau pasti tidak mengenalku,” kata namja itu. “Namaku Lee Jinki. Aku adalah rekan bisnis Taemin. Waktu itu aku datang ke pesta pernikahan Taemin, jadi aku mengenalmu.”

Sulli membungkukkan badannya 90 derajat. “Senang berkenalan denganmu, Jinki-ssi.”

Jinki tersenyum. Ia mengambil sebungkus sereal di rak lalu menaruhnya di keranjang.

“Kau pasti wanita yang tabah,” kata Jinki.

“Maksudmu?” tanya Sulli tidak mengerti.

“Taemin adalah orang yang dingin dan cuek pada orang lain. Dia jarang sekali berbicara kecuali pada teman dekatnya, aku misalnya. Bagi kebanyakan orang, Taemin adalah orang yang tidak menyenangkan. Tapi ia punya alasan untuk hal itu.”

“Alasan apa?”

“Ayah Taemin selalu mengekang hidup Taemin sejak kecil. Beliau memaksa Taemin untuk menuruti perkataannya. Karena sikap ayahnya, Taemin tidak punya teman. Ia selalu menyendiri sampai akhirnya ia bergabung di klub fisika dan bertemu denganku. Setelah itu kami berteman. Taemin pernah berkata padaku, ‘Kau harus mensyukuri hidupmu, hyung. Orang tuamu tidak pernah memaksamu untuk menjadi seseorang yang mereka kehendaki.’”

Sulli terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Selain itu,” lanjut Jinki. “Taemin pernah pacaran dengan seorang yeoja bernama Suzy. Tapi ayah Taemin tidak merestui hubungan Taemin dengan pacarnya. Aku tidak tahu alasannya, tapi yang pasti ayah Taemin tidak menyukai Suzy. Setelah Taemin putus dengan Suzy, Taemin berubah menjadi semakin dingin.”

Ternyata Taemin oppa punya alasan atas sikapnya, batin Sulli.

“Kau pasti wanita yang kuat karena bisa menghadapi Taemin selama itu.”

Sulli tersenyum dan menggeleng. “Aku bukan wanita sekuat itu. Pada kenyataannya, aku adalah wanita yang lemah.”

“Kau harus kuat,” kata Jinki. “Menghadapi Taemin adalah hal yang sulit—kuakui hal itu. Tapi jika kau terus bersabar, aku yakin Taemin akan berubah. Sampai saat ini, belum ada orang yang bisa merubahnya. Aku berharap kaulah orangnya karena kau adalah istri Taemin.”

Perkataan Jinki membuat Sulli terdiam. Jinki percaya bahwa Sulli bisa merubah Taemin suatu hari nanti. Sulli bahkan tidak pernah berpikir tentang semua itu.

Sulli tersenyum dan membungkuk pada Jinki.

“Terima kasih, Jinki-ssi.” Perkataanmu membuatku bertambah kuat.

$#@#$

Sudah hampir satu setengah bulan Sulli menyandang status sebagai istri Lee Taemin. Tapi status itu tidak membuat Taemin berubah. Justru Sulli merasa statusnya itu membuat Taemin semakin membenci dirinya.

Selama ini, Taemin tidak pernah menyentuhnya. Taemin tidak pernah berbicara banyak padanya. Ia tidak pernah mengucapkan terima kasih setelah Sulli membantunya. Ia sering pulang larut malam dan pergi lagi tanpa berkata apapun pada Sulli. Taemin bahkan tidak pernah tersenyum padanya.

Sulli makin merasa kalau ia dibenci Taemin. Wajar saja kalau Taemin membencinya. Ia pasti merasa terbebani ketika harus menikahi perempuan yang sama sekali tidak dicintainya.

Ia tahu Taemin tidak mencintainya. Tapi ia berharap Taemin mau menghargainya walaupun sedikit saja. Ia ingin Taemin menghargainya sebagai seorang istri. Selama ini, Sulli merasa sama sekali tidak dihargai. Ini membuatnya merasa semakin terbebani. Tapi ia tahu, dirinya haruslah kuat.

Tok tok tok!

Sulli bangun dari tidurnya.

‘Siapa yang mengetuk pintu malam-malam?’ pikirnya. ‘Mungkin Taemin oppa.’

Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Matanya melebar ketika melihat seorang namja yang sedang berdiri di depan rumahnya dengan sempoyongan.

“Taemin oppa?!” Sulli langsung memapah Taemin ketika Taemin akan jatuh. Ia mencium aroma soju dari mulut Taemin. “Kau mabuk?”

“Aku tidakkkk…. Mabukkkk…..”

Sulli langsung membawa Taemin ke dalam.

“Kenapa kau bisa sampai mabuk?”

“Suuudaahh kubiilllaanggg…. Aku tiiidaakk mabukkk… Kau inii cereweett sekalii…”

Sulli hanya memutar matanya. “Sudahlah. Aku akan membawamu ke dalam.”

“Aku tidak mau!” Taemin menepis tangan Sulli. “Kau pikir aku mabuk? Aku tidakkk mabukk… Hu ughh *maksudnya Taemin lagi cegukan*” Taemin berdiri dengan sempoyongan.

“Apa maumu?” tanya Sulli.

“Aku ingin bersenang-senang… Hu ugh…”

Alis Sulli terangkat. “Maksud… Kyaaa!!”

Tiba-tiba saja Taemin mengangkat badan Sulli dan membopongnya menuju kamar. Taemin menaruh Sulli di atas kasur.

“Oppa… Apa yang mau kau lakukan?” tanya Sulli.

“Sudah kubilang ‘kan… Aku ingin bersenang-senang… Hiks…”

Taemin mencium bibir Sulli dengan kasar. Sulli terlonjak kaget.

“Le…pas…” Ia berusaha mendorong badan Taemin tetapi ia tidak kuat.

Taemin melepaskan ciumannya dan menatap wajah Sulli. “Ternyata kau cantik juga ya…”

Ia kembali mencium bibir Sulli dengan ganas. Sulli hanya terdiam dengan air mata meleleh dari matanya.

$#@#$

Kepala Sulli terasa pusing.

Ia mengerjapkan matanya lalu bangun dari tidurnya. Aww! Ia merasakan sakit ketika ia menggerakkan pahanya ke kiri. Ia terlonjak kaget ketika menyadari kalau ia tidak berbusana satupun. Lalu matanya melebar saat ia melihat bercak darah di selimut.

Sulli mengalihkan pandangannya ke arah orang yang ada disebelahnya. Taemin masih tertidur pulas. Sulli melihat dada bidang Taemin yang terbuka dan menyadari kalau Taemin juga tidak berbusana seperti dirinya.

Apakah ia sudah melakukan itu dengan Taemin?

Ya Tuhan… Ia tidak mungkin melakukan hal itu dengan Taemin.

Apa yang harus kuperbuat?

Sulli bangkit dari tidurnya dan langsung memakai baju. Ia mencoba untuk tenang walaupun ia masih agak shock. Ia berjalan menuju dapur untuk memasak sarapan.

$#@#$

Taemin memegangi kepalanya yang terasa seperti dihantam palu besar. Ia mencoba untuk duduk di pinggir tempat tidur. Setelah sakit kepalanya hilang, ia mencoba-coba untuk mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam.

Yang ia ingat, semalam sehabis pulang dari kantor, Jinki, rekan bisnisnya, mengajaknya untuk minum-minum di bar. Ia juga ingat kalau ia meneguk berbotol-botol soju sampai akhirnya ia mabuk total.

Sambil menguap, Taemin berdiri dan memandangi tempat tidurnya yang nampak berantakan.

‘Kenapa berantakan sekali?’

Ia terlonjak kaget ketika mendapati bercak darah menempel di selimut. Otaknya berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi.

‘Apakah aku sudah melakukan itu dengannya?’

$#@#$

Sulli membalik telur dadar yang sedang digorengnya dengan tangan gemetar. Kejadian semalam membuatnya takut. Bagaimana kalau nanti Taemin memarahinya? Tapi jika Taemin memarahinya karena kejadian semalam, itu tidak masuk akal. Kejadian itu terjadi karena Taemin mabuk. Itu kesalahannya, bukan kesalahan Sulli. Walaupun begitu, Sulli masih saja merasa takut.

Ayo, Sulli! Tenangkan dirimu!

Tiba-tiba terdengar suara kursi yang digeser. Sulli membalikkan badannya dan mendapati Taemin sedang menatapnya dengan tatapan aneh.

Deg! Sulli merasakan ketakutannya bertambah. Ia segera berbalik lalu mengangkat telur dadar yang sedang digorengnya ke atas nasi goreng. Ia mengambil dan meletakkannya di hadapan Taemin.

“Ini sarapannya,” kata Sulli sambil mencoba untuk tersenyum.

Taemin memandanginya sebentar lalu menyuapkan suapan pertama. Sulli berbalik lagi dan memutuskan untuk mencuci peralatan masak yang tadi dipakainya. Daripada memandangi si namja aneh itu, pikir Sulli.

“Apa semalam aku mabuk?” tanya Taemin tiba-tiba.

Sulli terlonjak kaget. Ia menatap Taemin dengan takut. Lalu ia menganggukkan kepalanya pelan.

Setelah tahu jawaban Sulli, Taemin kembali menyuapkan nasi gorengnya ke mulutnya. Ia meminum air putih setelah nasi gorengnya habis. Taemin berdiri dan menyambar tas kantornya.

“Aku pergi ke kantor dulu,” katanya sambil berlalu.

Sulli menatap Taemin dengan pandangan bertanya-tanya.

Hanya itu?

 

$#@#$

Ini aneh, pikir Sulli. Sudah lewat hampir satu setengah bulan tapi aku belum dapat juga.

Sulli mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia bingung. Sudah hampir satu setengah bulan, tapi ia belum datang bulan juga. Jangan-jangan ia terkena penyakit? Kanker? Atau kista?

Ahh!! Ayo Sulli! Hilangkan pikiranmu yang paranoid itu.

Sulli berusaha untuk menghilangkan pikirannya yang kelewat batas itu. Akhirnya, daripada berdebat dengan otaknya yang paranoid, ia memilih untuk tidur karena hari sudah malam.

$#@#$

“Huekk!!”

Setelah bangun dari tidurnya, Sulli langsung pergi ke kamar mandi. Ia memuntahkan isi perutnya di wastafel. Ini aneh. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Apa ia benar-benar sakit?

Atau jangan-jangan…

Sulli segera pergi ke kamarnya dan kembali lagi ke kamar mandi dengan sebuah test pack atau alat penguji kehamilan *mian kalo namanya salah*

Ia segera mengetes urine-nya menggunakan alat itu. Setelah menunggu beberapa lama, alat itu bereaksi. Sulli membalikkan alat itu dengan perasaan berdebar-debar. Ya Tuhan… Apakah ia benar-benar hamil? Tapi semuanya pas. Ia tidak datang bulan sudah hampir satu setengah bulan dan perutnya sering terasa mual. Bukankah itu tanda-tanda kehamilan?

Mata Sulli melebar ketika melihat dua buah strip merah di ujung test pack yang ia pegang. Positif. Sulli terlonjak kaget. Perlahan, senyumnya mengembang. Ia berharap, dengan kehamilannya, Taemin dapat berubah.

Sulli segera pergi menemui Taemin yang sedang menonton televisi. Ia tak lupa membawa test pack yang tadi ia pakai.

“Taemin oppa! Aku ada kabar baik!” seru Sulli.

Taemin mengangkat alisnya. “Apa?” tanyanya acuh tak acuh.

“Aku hamil!” jawab Sulli sambil mengacungkan test pack yang ia pegang.

“Benarkah?” Taemin memandang test pack yang Sulli pegang. Ia berbalik menghadap TV lagi. “Baguslah kalau begitu.”

Sulli terdiam. Mengapa reaksinya hanya seperti ini? “Apa kau tidak senang?”

“Untuk apa aku senang? Anak itu bukan keinginanku. Lagipula aku melakukannya ketika aku tidak sadar.”

Perkataan Taemin membuat Sulli kaget setengah mati. Apa benar Taemin telah bicara seperti itu? Apa Taemin sebegitu tidak pedulinya pada Sulli?

Seluruh badan Sulli bergetar. Ingin rasanya ia menangis. Perkataan Taemin membuat hatinya sakit. Harga dirinya sebagai seorang wanita telah hilang. Ia merasa seperti wanita murahan yang tersebar di jalanan. Kenapa bisa-bisanya Taemin mengatakan hal yang menyakitkan hati seperti itu? Apa ia benar-benar tidak mengerti perasaan Sulli?

Mati-matian Sulli menahan air matanya. Meskipun begitu, rasa sakit di hatinya belum hilang juga. Sabar Sulli… Kau pasti bisa melewati semua ini, batinnya.

Sulli membalikkan badannya agar ia bisa menyembunyikan matanya yang mulai basah.

“Kau tidak pergi ke kantor?” tanya Sulli dengan nada seperti biasanya. Ia mengelap matanya yang basah.

“Hari ini aku libur,” jawab Taemin dingin.

Sulli hanya mengangguk. Ia berjalan menuju kamarnya. Sejenak ia berpikir. Ia membutuhkan seorang teman untuk diajak mengobrol. Selama tinggal dengan Taemin, Sulli belum pernah mendapatkan teman bicara yang menyenangkan. Apa ia sebaiknya pergi ke rumah orang tuanya?

Mungkin iya. Nanti Sulli bisa mengunjungi chingu-nya, Victoria. Betapa rindunya Sulli pada chingu-nya yang satu itu. Selain itu, sudah lama sekali Sulli tidak melihat appa dan umma-nya.

Sulli kembali lagi ke ruang TV.

“Nanti aku akan pergi ke rumah orang tuaku,” kata Sulli.

“Mau kuantar?” tanya Taemin.

Sulli menggeleng. “Tidak usah. Aku tidak mau menganggu liburanmu. Aku akan pergi dengan bis. Kemungkinan aku pulang besok pagi. Tidak apa-apa ‘kan kau ku tinggal sendiri?”

Taemin mengganti channel TV-nya. “Tidak masalah.”

“Baik kalau begitu.” Sulli mencoba tersenyum.

Ia kembali ke kamarnya dan mulai memberesi pakaiannya.

$#@#$

Setelah Sulli bertemu dengan orang tuanya dan Victoria, ia merasa mendapat kekuatan baru. Ia merasa bersemangat lagi untuk menjalani kehidupannya bersama Lee Taemin, sekalipun namja itu sering menyakitinya secara batin. Ia tahu bahwa sikap Taemin yang dingin padanya karena berbagai alasan. Ternyata Taemin sering mengalami tekanan yang berasal dari keluarganya sendiri. Dan Sulli yakin, suatu saat Taemin akan berubah. Keyakinan aneh itulah yang membuat Sulli bertahan menjadi istri Lee Taemin.

Dan tentang masalah kehamilannya, Sulli memutuskan untuk tidak menceritakannya pada orangtuanya atau siapapun. Menurutnya, ini bukanlah waktu yang tepat. Ia akan menceritakannya nanti.

Bis berhenti di sebuah halte. Sulli terpaksa berjalan ke rumahnya sambil membawa tasnya. Sebenarnya, Sulli ingin tinggal di rumah orang tuanya malam ini. Tapi entah mengapa, hatinya mengkhawatirkan Taemin.

Sulli tersenyum ketika melihat rumahnya. Tidak lama setelah itu alisnya terangkat saat melihat sebuah mobil silver terparkir di depan rumahnya. Seingatnya, mobil Taemin berwarna hitam, bukan silver.

Apa itu rekan bisnis Taemin oppa? Tapi oppa jarang sekali kedatangan rekan bisnisnya.

Daripada penasaran, Sulli memilih untuk masuk ke dalam rumahnya.

Saat Sulli memasuki rumah, terdengar suara Taemin yang sedang mengobrol dengan seseorang.

“Tentu saja Suzy-ah.”

Suzy-ah? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, pikir Sulli. Tunggu! Bukankah Suzy adalah mantan pacar Taemin oppa yang diceritakan Jinki-ssi?

Ketika ia masuk ke ruang keluarga, ia melihat Taemin sedang merangkul seorang yeoja. Ia terlonjat kaget. Taemin mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja itu lalu memiringkannya, seperti akan menciumnya.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak Sulli. Ia membanting tas-nya ke samping.

Sontak Taemin dan si yeoja melepaskan pelukan mereka dan menatap Sulli dengan tatapan kaget.

“Siapa dia, oppa?” tanya si yeoja.

Taemin hanya diam dan menundukkan kepalanya.

“Apa yang sudah kau lakukan, Taemin oppa?!” tanya Sulli dengan nada tinggi. Lalu ia memandangi si yeoja dengan tatapan tajam. “Siapa kau? Dan mengapa kau ada disini?!”

Yeoja itu menatap Sulli dan Taemin secara bergantian. “A…aku Suzy. Kau siapa?”

“Aku istri Lee Taemin!” seru Sulli.

Suzy terlonjak kaget. Lalu ia menatap Taemin dengan pandangan heran. “Kau tidak bilang padaku kalau kau sudah menikah.”

Air mata Sulli meleleh. Ia tidak kuat menghadapi kejadian tadi.

“Ma…maafkan aku,” kata Suzy terbata-bata. “Aku sama sekali tidak tahu kalau Taemin oppa sudah menikah. Lebih baik aku pergi.” Suzy menyambar tas-nya dan segera pergi.

“Suzy-ah! Tunggu!” Taemin berusaha untuk mengejar Suzy.

“Kau mau kemana?!” seru Sulli sambil menarik tangan Taemin.

Taemin menatap Sulli dengan pandangan dingin dan segera melepaskan tangannya dari cengkeraman Sulli. “Apa maumu?”

Sulli tersenyum sinis. Air mata masih mengalir dari pelupuk matanya. “Aku hanya ingin tahu. Ternyata ini yang dilakukan seorang suami ketika istrinya sedang pergi.”

“Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Suzy.”

“Kau yang seharusnya tidak melakukan itu padaku!” teriak Sulli. Air mata mengalir deras dari matanya. “Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku? Aku ini istrimu!”

“Secara hukum kau memang istriku. Tapi aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai istriku,” kata Taemin dingin.

“Jadi ini balasan yang aku terima setelah semua pengorbanan yang telah kulakukan? Aku telah mengorbankan semuanya. Keluargaku, teman-temanku, pekerjaanku, dan yang paling penting. Pendidikanku. Apa kau tidak tahu betapa pentingnya semua itu dalam hidupku?!”

“Lalu bagaimana denganmu?” Taemin balik bertanya. “Apa kau mengerti bagaimana perasaanku ketika aku harus menikahi yeoja yang sama sekali tidak aku cintai?”

Sulli menatap Taemin dengan tatapan nanar. “Kau kira aku tidak merasakan apa yang kau rasakan? Aku juga merasakannya!” Sulli mengusap matanya dengan tangan kanannya. “Kau tidak tahu bagaimana perasaanku menjadi istrimu bukan? Aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik. Melakukan ini, melakukan itu. Tapi semuanya serba salah. Kau selalu menyalahkanku. Dan ketika yang kulakukan benar, kau tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatapku dengan tatapan dingin.

“Aku tahu kau tidak mencintaiku dan aku sama sekali tidak berharap kau akan mencintaiku. Aku hanya berharap kau mau menghargaiku walaupun sedikit saja. Walaupun itu hanya sekedar ucapan terima kasih atau senyuman singkat.”

Taemin memandang Sulli dengan tatapan kaget. Ia tidak menyangka Sulli akan mengatakan itu.

“Aku sebenarnya tidak kuat menjadi istrimu. Tapi kau tahu apa yang bisa membuatku bertahan?” tanya Sulli. “Aku percaya kau akan berubah. Aku percaya suatu hari nanti kau akan menganggapku sebagai seorang istri. Tapi lihat apa yang kudapat sekarang? Aku hanya mendapat penghinaan dan pengkhianatan.

“Tadi pagi, aku memberitahumu kalau aku hamil. Aku berharap dengan kehamilan itu, kau akan merasa senang. Tapi apa yang kudapat? Kau hanya mengucapkan, ‘Untuk apa aku senang? Anak itu bukan keinginanku. Lagipula aku melakukannya saat aku tidak sadar.’ Lalu malam harinya, aku melihatmu hampir berciuman dengan wanita lain. Hati wanita mana yang tidak sakit melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain saat dirinya sedang hamil?!”

Sulli mengusap air matanya dengan kasar. Ya Tuhan… Aku sudah tidak kuat lagi…

“Aku…aku selalu berharap keajaiban akan datang. Keajaiban yang bisa membuatmu berubah. Tapi itu tidak kunjung datang. Aku tidak tahu kapan itu akan datang.” Air mata Sulli semakin deras. Ia mulai tersedu-sedu. Belum pernah dalam hidupnya, ia menangis seperti ini. Ia sudah mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini pada Taemin.

Taemin menatap Sulli dengan sedih. “Sulli… Aku tidak bermaksud…”

“Cukup,” potong Sulli. “Kalau kau tidak mencintaiku dan tidak mengharapkanku menjadi istrimu, lebih baik aku pergi sekarang.” Sulli menyambar tas-nya yang tadi ia lempar. “Maaf karena aku telah membebanimu selama ini.” Setelah mengatakan itu, Sulli melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini.

“Sulli! Tunggu!” Taemin berlari mengejar Sulli.

Mata Sulli berkeliaran kesana kemarin mencari taksi.

“Taksi!” panggilnya ketika ia melihat sebuah taksi melintas. Ia segera masuk ke dalam taksi dan menutup pintunya dengan keras.

“Kau mau kemana Choi Sulli?!” teriak Taemin sambil berusaha untuk membuka pintu taksi.

Sulli hanya diam. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan semua perlakuan Taemin terhadapnya. Apalagi setelah kejadian tadi, Sulli merasa Taemin tidak membutuhkannya lagi.

“Cepat pergi,” kata Sulli pada supir taksi.

“Kemana?”

“Kemana saja asal pergi dari sini!”

Taksi pun melaju dengan kencang dari rumah Taemin.

“Arrgggghhhh!!!” Taemin berteriak sekencang-kencangnya. Ia menendang sebuah kerikil dan menatap bulan yang kelihatan pucat. Sang bulan balik menatap dan seolah-olah berkata ‘Inilah balasan atas keegoisanmu, Lee Taemin.’

‘Ya Tuhan… Apa aku sekejam itu?’ batinnya dalam hati.

To Be Continued

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , | 29 Comments

Post navigation

29 thoughts on “Sorrow at Your Eyes (Part 2)

  1. Hebat!!
    keren deh,, akhirnya si taemin ada rasa menyesal…
    kasian sullinya…
    lanjut yaa

  2. Fannylovers

    Waaah kcian c sulli, wah taemin nie gmn c msa ud ky gt msih aj kaku, klian tu ud suami istri yg cair dkit donk suasanany jgn ky gt aturan, lu mw taem predikat sica sbg ice princess pindah k elu??ga mw kn?? #clingakclinguktakutdilemparsendalmasica

    chingu diupdet y bruan heheeee

  3. qinqin

    tes tes tes air mataku sampe turun deres nih.kasian sulli.Chingu part selanjutnya kapan nih???

    • waduh… berarti nasib kita sama dong??
      saya juga nangis pas ngetik FF ini😦

      part selanjutnya tahun depan #plak!!
      engga ding… kalo gak sibuk, saya update secepatnya…🙂

  4. Nyaris nangis…
    Akhirnya taemin nyesel!!
    Gitu dong oppa

    Lanjuuut chinguuu!!!!!

  5. wahhh bagus..ffnya kahirnya taemin sadar kalau dia bersalah…

  6. Hyukminchul shippers

    waaahh keren bgt ceritanya chingu…
    Ngena banget,,,
    pngen nngis liat pndritaannya sulli sadis bgt sih baby taem
    lanjuuutttt chingu….!
    Wahhh baby taem mau ngpain yah di part 3 nya???????
    *Pnsaran tngkat dewa*LOL

  7. Kaa24des

    Sedih bacanya sambil nangis ;'( lanjutannya kapan? Segera ya!🙂

  8. sintarahayu

    hwaa, sedih banget part 3 nya dong lanjut. padahal belom baca part1 nya tapi seru banget.
    Sadis banget Taeminnya. salah tuh thor pacarnya bukan suzy tapi saya #jleggeeer

  9. please tolong lanjutin part 3 nya, seru bangat ceritanya…

  10. salmae everything

    hua!!!! Daebak nii! Inti ffnya mah sama ama ff tentang keluarga rumah tangga yg lain. Tapi pokoknya yg bikin kesan beda. Keren deh pokoknya!

  11. keren-keren aku sampe nangis bacanya *cengeng ah *🙂

  12. Pingback: Between Love and Reality « Shining Effection

  13. akhirnya sadar juga oppa ^ ^

  14. kapan ni min lanjutnyaa ,, aku sampek nangis bacanya…..

  15. huaaaah..!
    Kasian bnget Sulli eonni….😦
    Rasain loe Taemin oppa, menyesalkan jadinya ?? :-p
    Gmana klanjutan hbungan TaeLli ya?

  16. lia

    wah wah jangan terlalu lelah sulli kau kan lagi hamil
    ckckck taemin benar2
    aku lanjut ya.

  17. Park_Hawoo

    Taemin nappeun..😥

  18. lee Airin

    kashan sulli ,
    ak bsa meraskan.a ,
    pendrita.an yg dy alami ,
    hhuuuu😦
    jdi sdih thor .

  19. maria ulfah

    sumpah ni ff keren bgt,beda dr yg laen. daebak mampussss hwaaaaaa,
    author nya top

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: