The Wedding

Title                 : The Wedding

Main cast         : Lee Jinki, Victoria Song

Minor cast       : Nickhun Horvejkul

Genre              : Romance/Hurt/Comfort

Rating             : General

Length             : Oneshoot

.

Anneyeong lagi semuanya!!

Saya memutuskan untuk mempublish FF sebelum saya UAS. Dan untuk yang Sorrow at Your Eyes, saya publish setelah UAS. Sebetulnya, Part 3 sekaligus menjadi  part yang terakhir sudah selesai. Tapi saya simpen  buat nanti aja, biar para readers jadi penasaran 🙂 #ditimpuk sendok sama readers

Dan saya minta maaf karena FF ini gak ada posternya. Saya sebenernya mau download Adobe Photoshop. Tapi pas liat ukurannya ampe 100 mb, saya gak jadi =.=

Gomawo buat yang udah komen di FF saya sebelumnya.. Komentar kalian membawa semangat buat saya🙂

.

.

.

.

.

Ketika seseorang dari masa lalu hadir kembali,

dapatkah kau menghindar dari jebakan kenangan masa lalu yang indah?

.

.

.

.

.

Normal POV

Victoria menatap sebuah foto sambil tersenyum. Foto itu adalah gambar dirinya dan kekasihnya—Nickhun Horvejkul. Tak lama lagi ia akan menikah dengan kekasihnya itu. Tentu saja ini adalah momen yang ia nantikan sepanjang hidupnya—menikah dengan pria yang ia cintai.

Victoria teringat akan sesuatu. Dulu ia berharap akan menikah dengan pria lain—bukan Nichkun. Ya. Seorang pria dari masa lalunya.

Sebelum Victoria bertemu dengan Nichkun, ia selalu terbayang-bayang akan mantan kekasihnya. Ia seakan tidak bisa melupakannya. Tapi ia bersyukur sekarang. Ia telah bertemu dengan Nichkun dan berhasil melupakan mantannya. Atau setidaknya ia berhasil mengubur masa lalunya sebagai ‘kekasih’ dari seorang pria di masa lalunya.

Tin!!

            Suara klakson mobil mengagetkan Victoria. Ia mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari rumahnya dengan langkah terburu-buru.

“Vic! Ayo cepat! Kau tidak mau ketinggalan ‘kan?” tanya seseorang.

“Maaf. Aku baru selesai beres-beres.” Victoria masuk ke dalam mobil milik orang itu.

“Hah… Kau ini selalu saja begitu,” kata pria itu.

“Ayolah, Nickhun. Kau seperti tidak tahu saja kebiasaanku,” balas Victoria.

Nickhun hanya tersenyum.

$#@#$

“Pertunjukannya bagus sekali,” gumam Nickhun.

“Ya. Kali ini kau tidak salah memilih,” puji Victoria.

“Tentu saja. Aku tahu betul seleramu,” kata Nickhun.

Victoria termenung. Ia teringat kata-kata Nickhun tadi. Kata-katanya persis seperti yang pernah dia katakan. Dia selalu mengatakannya sambil tersenyum.

“Aku tahu betul seleramu.”

Kenapa tiba-tiba kenangan tentang dirinya muncul? Padahal Victoria sudah menguburnya dalam-dalam dan tidak berniat untuk menggalinya lagi. Dia sudah bertekad untuk melupakan masa lalunya bersama pria itu.

Pria itu telah membuat hatinya sakit. Ia meninggalkan dirinya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya alasan itu cukup jelas dan bisa dimengerti. Tetapi rasa sakit yang dialami Victoria membuatnya tak mau mengerti.

“Aku harus meninggalkanmu, Victoria. Aku harus mengejar cita-citaku sebagai seorang arsitek. Tapi aku berjanji. Aku akan kembali.”

Victoria menutup matanya ketika teringat akan kata-kata itu. Pria itu telah berjanji untuk kembali. Victoria menuruti janji itu. Tapi menunggu sekian lama membuat hatinya lelah dan menghilangkan kepercayaan atas janji itu. Dan ketika ia bertemu Nickhun, ia memutuskan untuk melupakan pria itu dan memulai masa-masa barunya bersama Nickhun.

“Vic? Kau sakit ya?” tanya Nickhun tiba-tiba.

Victoria membuka matanya. “Tidak kok. Aku hanya lelah dan sedikit ngantuk.”

“Oh,” kata Nickhun singkat. Ia kembali fokus ke jalanan.

Victoria mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia menatapnya meskipun tidak ada pemandangan yang menarik. Ia hanya berharap pemandangan di luar sana bisa membuatnya lupa akan masa lalunya.

$#@#$

“Eh? Kenapa kita berhenti disini?”

Victoria menatap Nickhun dengan pandangan heran.

“Kau bilang kalau kau agak ngantuk. Lalu kuputuskan untuk membeli kopi kaleng di minimarket,” jawab Nickhun.

“Hah… Harusnya kita langsung pulang saja.”

“Sudahlah. Kita sudah terlanjur sampai disini. Aku beli kopi kaleng dulu ya.”

Saat Nickhun akan keluar dari mobil, Victoria menahan tangannya.

“Tunggu! Biar aku saja yang beli,” kata Victoria.

Nickhun hanya mengangkat bahunya. Victoria membuka pintu mobil lalu berjalan menuju minimarket di depannya. Ia mengambil sebuah keranjang belanjaan dan berjalan menuju tempat makanan dan minuman ringan.

Tiba-tiba saja ia menabrak seseorang. Victoria mengerjap kaget ketika melihat siapa orang itu.

“J-Jinki?”

“Qian?”

$#@#$

Jinki merenggangkan punggungnya yang terasa kaku karena seharian duduk di depan komputer. Ia berjalan menuju minimarket terdekat. Sekaleng minuman akan membuatnya menjadi segar kembali.

Jinki menatap pemandangan di sekelilingnya. Rasanya kota Seoul telah berubah, padahal ia baru meninggalkannya selama tiga tahun. Ia meninggalkan kota Seoul demi cita-citanya untuk menjadi seorang arsitek. Dan untuk mewujudkan itu, ia harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga.

Cintanya.

Ia harus rela meninggalkan kekasihnya. Walaupun semua itu berat, tapi Jinki berhasil mengatasinya. Dan setelah ia berhasil mewujudkan cita-citanya, ia kembali untuk menepati janjinya. Janji yang pernah ia berikan pada Song Qian—kekasihnya.

Tapi Jinki tidak yakin Qian akan menunggunya selama itu, karena selama ia berada di Daegu, ia tidak pernah menghubungi Qian. Pekerjaannya membuatnya sibuk. Yah, namun apa salahnya berharap?

Jinki mengambil keranjang belanjaan begitu masuk ke minimarket. Ia langsung berjalan menuju tempat minuman ringan. Ia berjalan terlalu cepat sehingga ia menabrak seorang wanita. Jinki mengangkat wajahnya untuk minta maaf. Ia terlonjak kaget ketika matanya besirobok dengan mata yang sangat ia kenal.

“J-Jinki?” ucap wanita itu.

“Qian?” Jinki menatap wanita itu benar-benar.

Badannya yang tinggi. Rambutnya yang panjang kecokelatan. Kulitnya yang putih. Matanya yang sangat familiar. Benar. Dia adalah Song Qian atau Victoria—mantan kekasihnya.

“S-sedang apa kau disini?” tanya Victoria gugup.

“Aku sedang belanja. Kau sendiri sedang apa?” tanya Jinki balik.

“Sama seperti yang kau lakukan.”

Tiba-tiba atmosfer di sekeliling mereka berubah drastis. Apa mereka menjadi canggung setelah lama tidak bertemu?

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jinki berusaha untuk mengubah suasana. Senyum menghiasi wajahnya.

“Baik. Kau?”

“Aku juga baik.”

Victoria tersenyum.

Ya ampun… Betapa rindunya Jinki dengan senyuman lembut itu. Ia bisa saja memeluk Victoria saat itu juga jika ia tidak ingat apa yang telah terjadi pada mereka selama tiga tahun belakangan ini.

“Bukannya kau sedang di Daegu?” tanya Victoria.

“Aku sudah selesai dengan pendidikanku disana. Sekarang aku berhasil menjadi arsitek dan memutuskan untuk pulang ke Seoul,” jawab Jinki. “Lagipula, aku ingin menepati janjiku,” gumam Jinki pelan.

“Hah? Apa yang kau katakan tadi?”

Jinki menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan apa-apa kok.” Ia berdeham. “Bagaimana kehidupanmu sekarang?”

“Aku—”

“Vic!” panggil seseorang.

Victoria menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Nickhun berjalan menghampirinya sambil mengacungkan handphone-nya.

“Kau sudah selesai? Bos-ku meneleponku. Katanya ada rapat penting yang harus aku hadiri sekarang.” Nickhun menatap Jinki yang sedang berdiri sambil tersenyum ke arahnya.

“Siapa dia?” tanya Nickhun dengan tatapan curiga.

“Aku Lee Jinki. Teman Qi—maksudku Victoria,” jawab Jinki cepat.

“Oh,” Nickhun mengalihkan tatapannya ke Victoria. “Kau sudah selesai yeobo?”

Kening Jinki berkerut samar ketika mendengar panggilan ‘sayang’ itu.

“Ya. Aku tinggal membayar kok,” jawab Victoria sambil tersenyum manis.

Rasa sakit langsung menyeruak dari hati Jinki ketika melihat senyuman Victoria untuk Nickhun. Ia tidak dapat menahan rasa cemburu. Dulu, senyuman itu hanya untuknya.

“Ya sudah kalau begitu. Aku ke mobil dulu ya,” kata Nickhun sambil pergi.

Ketika berhasil memastikan bahwa Nickhun telah pergi, Jinki menatap Victoria. “Siapa dia?” tanya Jinki.

“Dia pacarku,” jawab Victoria sambil mengambil beberapa snack. Ia menghindari tatapan Jinki.

“Oh.”  Setelah itu suasana kembali menjadi canggung.

“Aku harus pergi dulu,” kata Victoria. “Dah.” Ia melambaikan tangannya lalu pergi ke kasir.

“Dah Qiannie—maksudku Victoria.” Jinki menatap punggung Victoria yang semakin menjauh.

Sepertinya aku terlambat ya, Qiannie?

 

$#@#$

Victoria dengan cepat menaruh belanjaannya di kasir. Dengan gugup ia memainkan jemarinya.

“Semuanya 800 won,” ucap kasir.

“Ah, ya. Ini uangnya. Kamsahamnida.” Setelah membayar belanjaannya, Victoria segera pergi dari minimarket itu. Ia masuk ke dalam mobil.

“Maaf. Kau menunggu lama ya?”

Nickhun tersenyum. “Tidak kok. Ayo kita pergi.” Nickhun men-starter mobilnya lalu pergi.

Sepanjang perjalanan, Victoria hanya diam. Ia memandangi kota Seoul dari jendela mobil. Pertemuannya dengan Jinki di minimarket tadi masih membuatnya terkejut. Terlebih lagi, tadi Victoria mendengar sendiri kalau Jinki memanggilnya ‘Qiannie’. Itu adalah panggilan ‘sayang’ Jinki pada Victoria dulu.

“Lagipula, aku ingin menepati janjiku.”

Victoria menggigit bibir bawahnya ketika kata-kata itu terngiang di kepalanya. Walaupun Jinki mengatakannya dengan sangat pelan, telinga Victoria bisa menangkapnya dengan jelas. Apa arti dari perkataan Jinki tadi?

Entahlah. Ia tidak bisa menjawabnya.

“Tadi mantan pacarmu ‘kan?” tanya Nickhun tiba-tiba.

“Ya,” jawab Victoria singkat tanpa menatap Nickhun.

“Mengapa dia ada disitu? Bukankah dia berada di Daegu?”

Victoria mengangkat bahunya. “Entahlah, Nickhun. Mungkin dia sudah selesai dengan studinya disana dan kembali ke Seoul.”

“Kau tidak ada hubungan dengannya bukan?” tanya Nickhun dengan nada curiga.

Victoria menatap Nickhun dengan tatapan kesal. “Aku sudah tidak berhubungan dengannya hampir selama tiga tahun.”

Nickhun menghela napas lega. “Syukurlah. Kukira…”

“Kau kira apa hah?” tanya Victoria dengan nada tinggi.

“Hahaha… Aku hanya bercanda, Vic.”

Victoria mendengus kesal dan itu membuat  Nickhun tertawa makin keras. Ia menatap Nickhun sambil tersenyum. Berharap dengan menatap wajah Nickhun bisa membuatnya melupakan dia.

$#@#$

“Hei Vic! Coba lihat ini!”

Victoria menolehkan kepalanya. Ia melihat Nickhun berlari ke arahnya sambil membawa sesuatu. Ia mengangkat alisnya.

“Ada apa?” tanya Victoria. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke arah bawang merah yang sedang ia potong-potong.

“Lihat ini.” Nickhun menyodorkan benda seperti kertas.

Victoria menatap benda itu. Selembar kertas putih dihiasi dengan corak bunga merah di sisi-sisinya lengkap dengan pita merah yang melingkar di tengah kertas itu.

“Apa itu?”

“Undangan pernikahan kita,” jawab Nickhun dengan riang.

Apa?! Apa Victoria tidak salah dengar? Undangan pernikahan mereka katanya?

“Eh? Ke-kenapa kau tidak memberitahuku?”

Air muka Nickhun segera berubah. “Kau tidak senang ya?”

“Bu-bukan begitu! Tentu saja aku senang. Aku hanya terkejut,” jawab Victoria. “Terima kasih ya.”

Ia kembali memusatkan perhatiannya ke acara memasaknya. Tiba-tiba saja Victoria merasa takut. Ia takut akan menikah dengan Nickhun.

Itu aneh sekali. Biasanya Victoria merasa senang jika Nickhun membicarakan atau melakukan sesuatu yang menyangkut pernikahannya. Tapi kenapa sekarang ia merasa berbeda? Apa yang membuatnya menjadi seperti ini?

Hati Victoria menjadi kalut. Ia kalut tentang pernikahannya dengan Nickhun.

Ya Tuhan… Kenapa disaat seharusnya ia merasa bahagia, justru ia merasa takut? Victoria menjadi tidak yakin dengan pernikahannya.

Apa ini ada hubungannya dengan pertemuannya dengan dia waktu itu?

$#@#$

Jinki melangkahkan kakinya menuju sebuah café. Ia mengambil tempat duduk tepat di sebelah jendela.

“Pelayan!”

Seorang wanita muda berjalan mendekati Jinki.

“Ada yang ingin Anda pesan?”

“Satu cappuccino dengan cream vanilla,” Jinki berkata sambil tersenyum. Pelayan itu segera pergi.

Jinki menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia duduki. Ia ingin memejamkan mata, sayangnya ada banyak orang di café ini. Ia lelah. Terlalu lelah. Seharian bekerja keras—melakukan apa saja asal ia bisa melupakan wanita itu. Melupakan Victoria.

Sejak pertemuan itu, ia makin tidak bisa melupakan Victoria. Sejujurnya, Jinki masih sangat mencintai Victoria—meskipun ia tahu ia terlambat karena Victoria telah memiliki kekasih. Pasti gadis itu lelah. Terombang ambing dalam ketidak jelasan hubungannya. Dan akhirnya Victoria memilih untuk mencari pria lain.

Seharusnya status Victoria sebagai ‘kekasih’ orang lain bisa membuat Jinki melupakannya. Tapi justru yang terjadi adalah sebaliknya. Jinki terus memikirkan Victoria walaupun ia tahu itu hanya akan membuat hatinya sakit.

Tiba-tiba Jinki mengangkat kepalanya. Ada ‘sesuatu’ yang membuatnya tertarik. Dilihatnya seorang wanita muda berambut cokelat sedang kebingungan mencari tempat duduk karena café ini penuh. Dia adalah Victoria. Sebuah senyuman mengembang di wajah Jinki.

“Victoria!”

Victoria membalikkan badannya. Matanya melebar ketika melihat mantan kekasihnya sedang berada di tempat yang sama dengannya.

“Kemarilah,” ajak Jinki. Victoria berjalan mendekati Jinki dengan agak ragu.

“Sedang apa kau disini?” tanya Victoria.

Jinki hanya tersenyum. “Duduklah disini. Café ini penuh.”

Victoria duduk tepat di hadapan Jinki. “Aku tidak menyangka kita bisa bertemu… lagi.”

“Ya. Kebetulan yang menyenangkan bukan?”

Alis Victoria terangkat sebelah.

“Pelayan!” panggil Jinki. Ia segera memanggil pelayan sebelum Victoria menanyakan maksud perkataannya tadi.

“Pesan satu moccacino dengan cream vanilla yang sedikit.”

“Baik. Tunggu sebentar.” Pelayan itu segera pergi.

“Bagaimana kau tahu aku akan pesan itu?” tanya Victoria heran.

“Bukankah minuman itu selalu kau pesan jika pergi ke café ini? Lagipula kau tidak terlalu suka cream vanilla karena rasanya yang terlalu manis,” jawab Jinki santai.

Victoria baru teringat kalau pria yang ada di hadapannya ini adalah ex-namjachingunya. Wajar saja jika Jinki tahu apa saja yang Victoria suka dan tidak suka. Lagipula, sudah menjadi kebiasaannya memesan moccacino jika pergi ke café ini bersama Jinki… dulu.

“Kau tidak bekerja?” tanya Jinki.

“Kantorku sedang libur. Kau sendiri?”

“Kebetulan aku sedang tidak ada proyek,” jawab Jinki. “Bagaimana kabar pacarmu?” Ia menanyakan itu dengan sangat berat.

“Dia baik,” jawab Victoria singkat.

“Oh.”

Setelah itu, keadaan menjadi hening. Tidak ada satupun yang bersuara. Jinki tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menyambung obrolan tadi dan Victoria nampaknya sedang tidak bersemangat untuk mengobrol.

Tiba-tiba pelayan datang membawa pesanan dan memecahkan keheningan.

Jinki menyesap cappuccino-nya, begitu pula Victoria.

“Aku ingin memberikan sesuatu padamu,” ucap Victoria tiba-tiba.

“Apa?” tanya Jinki sedikit terkejut.

“Ini.” Victoria memberikan selembar kertas putih. Corak bunga merah menghiasi tepi bawah kertas itu. Seuntai pita ungu juga melengkapi lembaran kertas itu.

Jinki menerimanya dengan alis terangkat. “Apa ini?”

“Undangan pernikahanku.”

Deg!

Ia sudah menduga Victoria akan mengatakan itu. Akhirnya apa yang selama ini ia takutkan terjadi juga. Rasanya hati Jinki seperti diambil dengan paksa, dibuang, dan ia tidak bisa menemukannya lagi. Intinya—hatinya hilang entah kemana sekarang.

Dengan berat Jinki tersenyum. Sebuah senyum pahit.

“Kapan kau akan menikah?” tanya Jinki. Ia berusaha menjaga agar nada bicaranya terdengar normal.

“Sekitar empat minggu lagi,” jawab Victoria datar.

Bagus. Ia terlambat—terlalu terlambat. Ia sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cintanya lagi. Jinki mengalihkan pandangannya dari Victoria ke pemandangan kota Seoul dari jendela café.

“Bagaimana kabar Jiyeon?” tanya Victoria tiba-tiba. Ia berusaha untuk mengubah suasana.

“Jiyeon?” Pandangan Jinki kembali terarah ke Victoria.

“Ya. Park Jiyeon. Teman SMA kita dulu. Yeoja yang selalu mengejarmu itu lho,” kata Victoria.

Sebuah ingatan muncul di dalam otak Jinki. Park Jiyeon. Jinki mengenali dia. Jiyeon adalah teman satu SMA-nya dulu. Bersama dengan Victoria. Dia selalu mengejar-ngejar dirinya—bahkan sampai ketika ia berpacaran dengan Victoria. Jinki selalu menolaknya dengan baik-baik. Tapi itu tidak membuat Jiyeon berhenti mengejarnya.

“Bagaimana maksudmu?” tanya Jinki.

“Bukannya kalian rekan satu kerja? Kudengar dari teman-teman kalau Jiyeon pernah satu proyek denganmu.”

Jinki tersenyum. Dia teringat saat satu proyek dengan Jiyeon. Saat itupun Jiyeon ‘menembak’nya untuk yang ke sepuluh kali. Tentu saja Jinki menolaknya. “Dia memang pernah satu proyek denganku. Tapi setelah itu aku tidak berhubungan dengannya lagi. Jadi aku tidak tahu bagaimana kabarnya.”

“Oh. Kukira kalian memiliki hubungan khusus.” Victoria tersenyum. “Dia ‘kan sudah mengejarmu selama bertahun-tahun.”

“Selalu mengejarku bukan berarti aku menjadi suka dengannya ‘kan?”

Victoria mengangkat bahu. “Kupikir kalian cocok. Jiyeon—dia pintar dan cantik. Kudengar dia juga menjadi wanita karir yang sukses di perusahaannya. Kenapa kau tidak dengannya saja?”

“Aku tidak menyukainya—apalagi mencintainya,” jawab Jinki. “Aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan wanita yang tidak aku cintai. Jika aku berpacaran dengan Jiyeon, itu sama saja dengan melukai perasaan sendiri.”

Victoria terdiam mendengar perkataan Jinki.

“Untuk apa kita menjalin kasih dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai? Apalagi jika kita menjalin hubungan itu hanya untuk melampiaskan rasa di masa lalu. Kita akan menyiksa perasaan kita sendiri. Tidak hanya diri sendiri. Pasangan kita pun akan merasa tersakiti karena selama ini kita membohonginya,” ucap Jinki panjang lebar. Senyum menghiasi wajahnya. “Karena itu aku lebih memilih untuk menyendiri.”

Victoria menunduk. “Kau benar,” ucap Victoria pelan.

Tiba-tiba ponsel milik Jinki berdering.

“Oh. Ada panggilan dari kantor. Aku pergi dulu ya.” Jinki bangkit dari kursi lalu menghabiskan moccacino-nya walaupun masih panas. “Aku akan hadir ke pernikahanmu. Jika aku tidak sibuk sih.”

“Dah Qi—maksudku Victoria.” Jinki melambaikan tangannya.

Victoria membalas lambaian tangannya sambil tersenyum. Senyum yang berbeda. Senyuman yang tidak pernah ia berikan pada siapapun—bahkan Nickhun.

$#@#$

Victoria duduk termenung di apartemennya. Matanya menatap kosong ke arah undangan pernikahannya. Sedari tadi matanya tidak beralih dari benda berwarna putih itu. Ia mulai berpikir. Apa keputusannya untuk menikah dengan Nickhun benar?

Sewaktu Nickhun melamarnya di sebuah restoran, Victoria langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Tetapi sekarang kenyataannya berbeda. Victoria mulai mempertanyakan keputusannnya sendiri. Victoria juga bingung mengapa ia sekarang ia menjadi seperti ini. Sepertinya penyebab semua ini adalah karena munculnya sang mantan.

Ya. Lee Jinki.

Tiba-tiba saja pria itu muncul lagi di kehidupannya. Seharusnya kemunculan Jinki tidak membuat keyakinan Victoria goyah. Karena Victoria telah melupakannya selama hampir tiga tahun. Lebih tepatnya berusaha untuk melupakannya.

Sebenarnya Victoria belum benar-benar bisa melupakan sosok lelaki yang ramah itu. Selama ini ia hanya berpikir, jika ia bersama Nickhun, ia bisa melupakan Jinki. Setidaknya untuk beberapa saat. Mungkin karena itu Victoria menerima lamaran Nickhun tanpa pikir panjang. Ia berpikir jika ia menikah dengan Nickhun, ia akan melupakan Jinki sepenuhnya.

Tunggu dulu!

Victoria menyadari arti pikirannya. Artinya, selama ini Victoria berhubungan dengan Nickhun hanya untuk melupakan mantan kekasihnya. Jadi, Victoria hanya menjadikan Nickhun sebagai pelampiasan untuk melupakan Jinki.

Dan kesimpulannya adalah Victoria tidak mencintai Nickhun.

Omona… Victoria baru menyadari perasaannya sekarang. Ia meruntuki dirinya sendiri. Seharusnya ia menyadarinya dari dulu. Sekarang semuanya sudah terlambat untuk diubah.

Victoria meremas rambut panjangnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Lalu ditatapnya undangan yang ada dihadapannya.

Victoria Song & Nickhun Horvejkul.

Seandainya saja ia bisa mengganti nama ‘Nickhun’ dengan Lee Jinki.

Tunggu!

Jangan-jangan ia masih …

$#@#$

Tidak seperti biasanya. Kali ini pemandangan dari atas Namsan Tower tidak membuatnya tenang. Biasanya tempat ini adalah tempat terbaik untuk menenangkan hatinya. Tapi tidak untuk kali ini.

Jinki menatap Kota Seoul dengan tatapan sendu. Ditangannya terdapat selembar kertas. Undangan pernikahan Victoria.

Padahal benda itu hanyalah selembar kertas putih yang beratnya bahkan kurang dari satu gram. Tapi benda itu sukses menghancurkan hatinya. Menghancurkan kesempatan yang ia miliki. Menghancurkan seluruh masa depannya.

Jinki menatap undangan yang digenggamnya dengan tatapan nanar. Jika saja ia tidak pergi saat itu. Jika saja ia tidak meninggalkan Victoria. Jika saja ia tidak mementingkan cita-citanya. Pasti sekarang ia bisa berdampingan dengan Victoria.

Tapi Jinki tahu. Tidak ada gunanya menyesal. Ia tahu Victoria akan dimiliki oleh pria lain, dan Jinki berusaha untuk menerimanya. Ia tidak berusaha untuk mengelak dari kenyataan yang ada. Ia terima semua itu.

Jinki menghirup udara dalam-dalam. Kali ini ia harus melupakan Song Qian.

$#@#$

“Hei Vic! Kau sudah siap?”

Victoria tersadar dari lamunannya. Ia menatap Nickhun dengan bingung.

“Siap untuk apa?” tanya Victoria.

“Kau ini bagaimana sih? Kita akan fitting baju hari ini.”

Oh ya. Hari ini ia akan fitting baju pernikahan dengan Nickhun. Bagaimana ia sampai melupakan hal sepenting itu?

“Sebentar ya. Aku mau mengambil tasku.”

Victoria berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil tasnya lalu kembali ke ruang depan. Ia berjalan dengan sangat lamban.

“Aku sudah siap,” kata Victoria sambil tersenyum. Tapi kali ini senyuman itu berbeda.

“Kau sedang sakit ya?” tanya Nickhun cemas.

Victoria menggeleng. “Tidak kok. Aku baik-baik saja.”

$#@#$

“Kau tahu? Akhir-akhir ini kau berubah.”

Victoria memandang Nickhun dengan tatapan apa-maksudmu-?

“Sekarang kau lebih sering melamun dan menyendiri. Bahkan kau sering tidak mendengar jika aku sedang bicara,” jawab Nickhun. “Sebenarnya ada apa?”

“Sudah kubilang. Aku tidak apa-apa,” balas Victoria sambil tersenyum lemah.

“Apa ini ada hubungannya dengan mantan pacarmu?” tanya Nickhun tiba-tiba.

Victoria tidak menjawab karena pertanyaan itu sesuai dengan keadaan yang terjadi. Ia hanya memandang pemandangan dari jendela.

“Sudah kuduga,” ucap Nickhun datar. Tiba-tiba Nickhun membelokkan mobilnya ke arah kanan. Lho? Bukannya jika ingin sampai di tempat fitting baju itu harus belok kiri?

“Kenapa kau belok ke kanan? Bukankah seharusnya belok ke kiri?” tanya Victoria bingung.

“Kita tidak jadi fitting baju,” jawab Nickhun datar.

“Hah? Kenapa?”

Nickhun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. “Karena kita tidak akan menikah.”

Victoria terlonjak kaget. “Wae?”

“Karena aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak mencintaiku walaupun aku mencintainya dengan segenap hati.”

Victoria terdiam.

“Aku mengamati perubahan sikapmu akhir-akhir ini,” kata Nickhun. “Seperti yang kubilang tadi, perubahanmu itu cukup mencolok. Dan itu cukup mengangguku. Karena itu, aku berpikir apa yang membuatmu berubah. Lalu pikiranku hanya tertuju pada satu hal; pertemuanmu dengan mantan pacarmu.

“Dan sekarang, aku ingin memastikan,” Nickhun mengangkat dagu Victoria. “Apakah kau benar-benar tulus untuk menikah denganku, Victoria Song?”

Victoria memalingkan pandangannya dari Nickhun. Ia tidak berani menatap matanya.

Nickhun menarik tangannya dari dagu Victoria.

“Untung saja aku belum menyebar undangan,” ucap Nickhun. Victoria masih saja diam.

Tiba-tiba Nickhun berhenti di depan apartemen Victoria. Nickhun memandangi wajah Victoria.

“Terima kasih karena sudah mau menemaniku selama ini. Maaf kalau kau terpaksa menjalani hubungan ini,” kata Nickhun.

“Seharusnya aku yang minta maaf, bukan kau. Maaf karena selama ini aku membohongimu.”

Nickhun tersenyum kecil. “Kau seharusnya minta maaf pada dirimu sendiri karena telah membohongi perasaanmu.”

Victoria balas tersenyum. “Kau benar.”

“Sebelum kau pergi, ijinkan aku untuk memelukmu untuk yang terakhir kalinya.” Victoria mengangguk. Nickhun memeluk Victoria lalu segera melepaskannya.

“Terima kasih karena telah berpura-pura mencintaiku.”

Victoria memandang wajah Nickhun dengan sedih. Ia merasa bersalah telah menyakiti hatinya. “Ya. Terima kasih juga karena telah menemani hari-hariku yang sepi.”

Victoria keluar dari mobil Nickhun. Ia berdiri selama beberapa menit di luar apartemennya lalu masuk.

$#@#$

Ia menyerah.

Seberapa besar pun usahanya untuk melupakan mantan kekasihnya, tetap saja ia tidak mampu lakukan. Terlalu berat. Walaupun pada awalnya ia bisa sedikit lupa, akhir-akhirnya ia akan teringat lagi.

Hah… Jika keadaannya seperti ini, sampai kapanpun juga ia tidak bisa melupakannya. Tapi ia memang tahu, ia tidak bisa melupakannya. Karena cinta untuknya terlalu besar dan terlalu sulit untuk dihilangkan. Ia hanya berusaha untuk membiarkan cintanya pergi.

Jinki tahu apa yang telah ia putuskan. Ia juga tahu apa dampak keputusannya pada hidupnya. Ia memilih untuk menjauhi Victoria tetapi tetap mencintainya. Dan dampaknya adalah ia akan menyakiti dirinya sendiri. Walaupun begitu, Jinki merasa jika ia tetap mencintai Victoria ia akan bahagia. Walau kebahagiaan itu tidak lengkap.

Cinta tidak membutuhkan keberadaan orang yang kita cintai. Tapi lebih membutuhkan perasaan yang berada di dalam hati kita. Walaupun orang itu ada di dekat kita, tapi tidak ada sedikit pun perasaan dari hati, kita tidak mungkin mencintainya. Cinta tidak membutuhkan ruang dan waktu. Cinta juga tidak membutuhkan wujud. Cinta hanya bisa dirasakan. Dan Jinki merasakannya.

Ia merasakan ada cinta yang begitu besar untuk Victoria. Dan cinta itu mustahil akan pergi. Jinki merasakan ia akan mencintai Victoria untuk selamanya. Dia merasa Victoria ada cinta pertama dan cinta terakhirnya.

Jinki tersenyum sendiri. Kali ini ia yakin hidupnya akan baik-baik saja walaupun tanpa kehadiran orang yang dicintainya.

“Jinki,” panggil seorang wanita.

Jinki membalikkan badannya. Matanya melebar ketika menyadari siapa yang berada di depannya. “Victoria?”

Victoria tersenyum lebar.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jinki.

“Aku kebetulan sedang jalan-jalan di taman ini. Kau?”

“Aku juga. Hanya sekedar refreshing.”

Keadaan menjadi hening sesaat.

“Kau masih menyimpan undangan itu?” tanya Victoria tiba-tiba.

Alis Jinki terangkat sebelah. “Memangnya kenapa?”

“Berikan padaku.” Victoria mengadahkan tangannya.

Jinki merogoh saku celananya. Ia mengambil selembar kertas putih yang sudah terlipat-lipat. “Ini.”

Victoria mengambil undangan itu, merobek-robeknya menjadi bagian kecil-kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Eh?! Kenapa kau membuangnya? Aku tidak hafal tempat pernikahanmu,” kata Jinki.

Victoria tersenyum. “Kau tidak memerlukan undangan itu lagi.”

“Kenapa?” tanya Jinki bingung.

“Karena aku tidak jadi menikah.”

Jinki tidak mempercayai telinganya sendiri. “Hah? Apa katamu? Aku tidak mendengarnya.”

“Aku-tidak-jadi-menikah. Kau dengar?”

Jinki membeku untuk beberapa saat. “Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai.” Victoria mengulangi perkataan Jinki saat di café.

“Kenapa?” tanya Jinki lagi. Ia masih tidak mengerti.

Victoria mendecak kesal. “Kau ini terlalu banyak bertanya ‘kenapa’.” Ia tersenyum. “Selama ini aku berpikir aku bisa melupakanmu jika aku bersama Nickhun. Memang aku bisa melupakanmu, tapi hanya untuk sesaat. Jika aku sendirian lagi, aku pasti akan mengingatmu. Lalu kuputuskan untuk menerima lamaran Nickhun. Dengan begitu, aku bisa melupakanmu untuk selamanya. Tapi pada kenyataannya, aku tidak bisa melakukan itu. Karena aku tidak mencintai Nickhun. Aku hanya ‘mengandaikan’ jika aku mencintai Nickhun. Secara tidak sadar, aku memanfaatkan Nickhun sebagai pelampiasan agar bisa melupakanmu.”

Jinki tertegun mendengar perkataan Victoria. Dilihatnya gadis itu menundukkan kepalanya.

“Setelah aku menyadari perasaanku yang sesungguhnya, aku dilanda dilema. Satu sisi aku ingin bersama orang yang aku cintai, tapi di satu sisi lainnya aku tidak ingin menyakiti perasaan Nickhun. Aku bingung. Tapi Nickhun mengerti keadaanku. Ia membatalkan pernikahan kami. Ia bilang ia tidak mau menikah dengan wanita yang tidak mencintainya dengan tulus.” Air mata Victoria jatuh. “Aku… aku merasa bodoh karena tidak menyadari perasaanku sendiri. Dan aku merasa sangat bersalah karena telah membuat Nickhun kecewa.”

Refleks Jinki memeluk gadis yang ada di hadapannya. Didekapnya gadis itu dengan penuh perasaan.

“Keputusanmu benar, Victoria. Aku tahu kau bukan orang yang egois. Kau tidak meninggalkan Nickhun hanya karena memikirkan perasaanmu. Nickhun yang menginjinkanmu pergi.” Dirasanya Victoria mulai tenang.

“Aku tahu itu. Aku juga sebenarnya tidak berniat pergi dari Nickhun karena menghargai perasaannya. Tapi Nickhun yang menyuruhku untuk pergi.”

“Kubilang apa? Menyesal itu tidak ada gunanya, Victoria.” Jinki tersenyum.

Victoria terdiam sambil memandang wajah Jinki. Ia balas tersenyum. Senyum yang sangat manis.

“Ya. Terima kasih sudah menyadarkanku.”

“Sama-sama.”

Keadaan hening sesaat.

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu, Victoria?” tanya Jinki tiba-tiba.

“Apa?” tanya Victoria.

Jinki mengambil nafas. Inilah saatnya.

“Aku tidak mau terlambat dan menyesal lagi. Aku tidak mau melakukan kesalahan seperti di masa lalu.” Jinki berlutut di hadapan Victoria. “Maukah kau mendampingiku untuk selamanya?”

Mata Victoria melebar mendengar pengakuan Jinki. Air mata turun dari sudut matanya. “Aku juga tidak mau menyesal lagi. Ya. Aku mau mendampingimu selamanya, Lee Jinki.”

Jinki bangkit lalu memeluk Victoria. Ia memeluk Victoria dengan kuat bahkan sampai Victoria kesusahan bernapas. Ia memang menantikan momen ini. Menantikannya sampai bertahun-tahun.

“Jinki—bisakah aku meminta sesuatu darimu?” tanya Victoria.

“Apa itu?”

“Tolong panggil aku ‘Qiannie’.”

Jinki tersenyum. “Tentu Qiannie. Dan bisakah kau memenuhi permintaanku?”

“Apa?” tanya Victoria.

“Panggil aku ‘Oppa’.”

“Tapi aku satu tahun lebih tua darimu!” seru Victoria sambil memukul dada Jinki pelan.

“Oh, ayolah…”

Victoria tersenyum malu. “Ne, Oppa.

“Begitu dong.”

$#@#$

EPILOG

Pada akhirnya Jinki dan Victoria sama-sama mengecap momen yang manis. Walaupun awalnya mereka sama-sama tersakiti, mereka akhirnya bersama juga.

Victoria meninggalkan Jinki karena ia merasa tersakiti. Jika kita ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, tentu kita merasa sakit. Tetapi akan lebih sakit lagi jika kita meninggalkan orang yang kita cintai.

Karena itulah, jangan pernah merasa takut untuk tersakiti. Sakit adalah bagian dari cinta. Mencintai dan dicintai tanpa merasa sakit bukanlah cinta sejati. Tetapi hanya cinta semata. Cita-cita tanpa cinta tidak akan pernah terwujud dan cinta tanpa cita-cita akan terasa hampa.

FIN

 Sebelum saya pergi dari dunia ini #plak!!

Maksud saya dari blog ini untuk sementara, saya mau ngadain polling *ceileh, bahasanya xD

Kira-kira aplikasi photo editing/pembuat poster yang bagus, mudah digunakan dan gratis di download apa yah?? #author kebanyakan mau

Yang tahu silahkan dijawab. Yang gak tahu, nanti harus remidi #plak!!

.

.

Regards,

Park Sooyun^^

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “The Wedding

  1. Keren, keren….😀
    yang ‘Sorrow at your eyes’ ditunggu…

  2. Bagus. Ngomong2 yg qi-victoria thing itu, jd inget onew suka gtu :p *emang iya?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: