Sincerity of Love [Part 7 / END]

Author: taelliners =))
Main Cast: Choi Sulli – Lee Taemin.
Genre: Sad, Hurt, Angst, Romance.
Length: Sequel/Multichapter
Hey. Meheheh ini sad ending teman teman T_T maaf kalo ngecewain banget hihi.

.
.

“Mau ini?” Sunny mengajukan sebuah gelas berukuran sedang kepada adiknya itu. Gelas yang berisikan coklat hangat yang baru saja ia bikin tadi.
Seketika Taemin yang sedang asyik melamun diberanda rumah itu tersentak sedikit.
“Oh, ya. Terima kasih, nuna” Ia tersenyum pada perempuan yang sudah dua hari kembali kerumahnya bersama ibu mereka itu.
“Kau bosan?” Sunny menyeruput coklat hangat jatahnya itu.
“….Ya, begitulah.”
“Kenapa? Tidak ada Sulli, ya?”
Sunny kemudian terkekeh jahil.
“Hm? Bukan, hanya—”
“Apa? Kau kesepian karena ia tidak lagi berkunjung kerumah kita?” Tidak henti hentinya wanita ini menggoda adiknya.
Taemin pun tersenyum tipis sebentar.
“Sudahlah…”
Ia pun meminum coklat hangat yang diberikan tadi sedikit sedikit. Terlalu panas, lidahnya juga tidak kuat.
Suasana menjadi hening. Hanya ada suara seruputan dari gelas yang diminum oleh mereka.
“Kau suka padanya kan?” Sunny memulai pembicaraan duluan.
“Hah? Padanya? Pada siapa?” Seolah pura pura cuek, Taemin mengalihkan wajahnya yang memerah kearah lain.
“Ah. Pura pura tidak tahu.” Sunny melirik Taemin dengan ekor matanya. Pemuda itu tetap mengalihkan wajahnya kearah lain.
“….Tidak.” Ia menyeruput lagi coklat hangat yang masih seperempat gelas itu.
“Dua hari tak bertemunya kau sudah rindu padanya….”
“Ck. Aku tidak mengerti.”
“Terserah kau saja jika kau tidak mau mengaku. Yang pasti saudara perempuanmu ini tahu sifat aslimu bagaimana. Dan aku tahu jika kau sedang jatuh cinta pada seseorang….” Sunny pun meletakkan jarinya pada dagunya. Menyenggol sedikit tubuh adiknya itu menggunakan sikutnya.
“Hmmmmm.” Taemin menyeruput coklat hangat itu hingga habis. Sisi sisi bibirnya terlihat bekas bekasan coklat yang habis ia minum tadi.
“Sudah, aku ingin tidur. Lelah sekali..” Taemin membuka bibirnya lebar lebar dan menutup bibirnya tersebut. Tapi Sunny tahu jika itu hanylah buatannya agara menghindari pertanyaan pertanyaan membahayakan dari dirinya.
.
IIII
.
“Ya? Halo?” Sulli mengangkat ponselnya menuju telinganya. Melihat nama kontak yang menelponnya itu ia langsung buru buru mengangkatnya.
“Ha….lo?” Seseorang laki laki diseberang sana memulai suaranya.
“Hey, mengapa?” Sulli berjalan menuju ruang tengah rumahnya.
“Tidak….aku hanya ingin bertanya….”
“Ya? Apa?”
Hening sebentar.
“Hmmm sedang sibuk?”
“Ti…dak. Kenapa?”
“Pergi keluar, yuk. Bosan.” Sulli mengerutkan dahinya untuk beberapa detik. Lalu ia tersenyum manis setelahnya.
“Tentu. Aku akan bersiap siap.” Ia tersenyum manis lagi disana. Memainkan ujung hoodie yang ia kenakan sekarang.
“Baiklah. Aku akan menjemput kerumahmu—hmmm 15 menit lagi?”
“Ya, baiklah.” Sulli berusaha tenang. Sebenarnya ia ingin berteriak sekarang.
“Oke, aku tutup, ya?”
“Baiklah….”
Percakapan di telepon berakhir. Sulli menutup telepon itu.
“YEAH!” Ia berlonjak seakan penuh kemenangan. Sudah tiga hari mereka tidak bertemu. Rasa rindu sudah menumpuk ternyata.

Disisi lain, Taemin juga melakukan hal yang sama. Berputar putar seolah pemain bola yang baru saja berhasil mencetak gol.
.
.
.
“Sudah lama menunggu?” Sulli memantapkan posisi duduknya dimobil yang baru saja ia naiki itu. Melirik Taemin yang sudah bersiap siap menginjak gas untuk melaju pergi.
“Tidak juga, kok.” Taemin melirik Sulli balik.
Suasana berubah menjadi awkward. Tiga hari tidak bertemu ternyata bisa merubah atmosfer diantara mereka. Tidak tahu apa yang harus dibicarakan, bahkan tidak ada yang bertanya ingin kemana mereka sekarang.
“Kita—ingin kemana?” Akhirnya suasana pecah juga.
“Kau ingin kemana?” Yah, malah bertanya balik.
“Hng? Terserah, sih….”
“Bagaimana kalau kita ke Pantai Ulsan? Katanya sangat indah, kan?” Taemin melirik Sulli lagi dengan ekor matanya.
“Uh? Hm baiklah! Itu kedengaran mengasyikkan!” Sulli tersenyum lebar. Memperlihatkan lagi mata indahnya kearah pemuda itu. Tiba tiba Taemin melirik kalung yang teruntai dileher Sulli. Oh, kalung itu terus dipakai olehnya ternyata.
.
“Hey, ini indah sekali!” Sulli berlari mendahului Taemin yang masih sibuk dengan kunci mobilnya itu. Pantai ini sedang benar benar sepi. Tidak ada orang sama sekali disana.
“Hey jelek, cepat kesini!”
Oh, panggilan khas mereka berdua keluar juga ternyata.
Taemin hanya terkekeh sedikit dan menyusul Sulli yang sudah mendekati air pantai itu dengan sedikit berlari.
“Cepaaat~” Sulli mendekati Taemin dan mengajaknya mendekati air pantai yang sudah mulai sedikit kencang ombaknya itu.
“Hey hey tunggu.”
“Tunggu apalagi? Ini asyik sekali!!” Sulli memulai kejahilannya. Menyerang Taemin dengan air pantai itu.
“Hey hey, aku tidak membawa baju ganti, jelek!” Ia menutupi wajahnya dengan lengan tangannya,
“Kau pikir aku bawa?” Sulli tidak menghiraukan mereka akan mengganti baju mereka atau tidak. Yang penting ia bermain main dengan air.
Semakin jauh semakin asyik. Sudah semakin jauh mereka bermain di pantai itu. Genangan air pantai itu sudah sampai lutut.
“Kau mau menantangku hah?!” Taemin menggigit bibir bawahnya sambil memulai menyipratkan air itu kearah Sulli.
“Kyak!” Terus menerus bermain air adalah hal terindah saat ini.
Baju mereka sudah basah seutuhnya. Rambut mereka pun begitu. Saling menyipratkan air satu sama lain. Oh, indah sekali.
“Sudah sudah, aku lelah!”
“Hahaha dasar lemah sekali.” Sindir Sulli sengaja. Ia tidak mau permainan air ini berakhir, ia masih ingin bermain main dengannya. Lebih lama menghabiskan waktu disini sepertinya lebih seru, bukan?
“Hey—kau!”
Permainan itu dilanjutkan kembali. Rasa lelah Taemin tadi hilang begitu saja. Diharaukan saja oleh mereka ombak yang semakin kencang itu.
.
.
“Tukhan, gara gara kau baju kita jadi basah semua!” Taemin memperhatikan bajunya yang sudah tidak ada lagi sisi yang tidak terkena air.
“Hahahaha!” Lawan bicara Taemin itu hanya tertawa puas sekali.
“Kau malah tertawa?”
“Kau lucu. Siapa suruh kau ikutan bermain air dipantai, hah?” Ia terkekeh lagi.
“Hng? Kau yang menarikku tau!”
Suasana dimobil itu menjadi suasana perdebatan.
“Sudah sudah..hahaha” Ia masih saja tertawa. Membuat Taemin ingin menjitak kepalanya sekarang.
“Ck, mobilku harus dibersihkan sepulang ini.”
Ia menggerutu sendiri. Menatap sekeliling mobilnya sekilas.
“Hahaha. Eh Taemin, besok ada acara?”
Tiba tiba Sulli melontarkan pertanyaan itu.
“Hng? Tidak, sih. Kenapa?”
“Aku sedang ingin bermain basket bersamamu. Bagaimana?” Ia mengembangkan senyumnya lagi kearah Taemin.
“Heh? Baiklah, bermainnya dilapangan depan rumahku saja ya.”
“Yap. Boleh. Jam 5 sore aku akan kerumahnmu.” Ia lempar lagi senyuman indahnya kearah Taemin.
“Yaa.” Taemin membalas senyuman itu.
.
IIII
.
Sulli membuka matanya perlahan. Menatap langit langit kamarnya selama beberapa detik. Berusaha mengimpulkan nyawanya sehabis tidur siang yang terlalu lama itu.
“Pukul 4 sore..” Ia mengeluarkan kata kata setelah melihat jam dinding disisi kiri kamarnya.
“Uhhhhm”
Pukul 5 sore ia ada janji dengan Taemin, kan?
Sulli beranjak dari tempat tidurnya perlahan. Berusaha kembali menormalkan tubuhnya.
.
Berkaca didepan selama beberapa menit dengan baju kaus berwarna ungu lembut dan celana pendek berwarna putih. Ia memajukan bibir bawahnya sebentar, masih tidak percaya diri dengan penampilan simpelnya sekarang. Ia menatap tubuhnya dari bawah sampai ke—lehernya! Lehernya!
Sulli membelalakkan matanya super lebar.
“Kalungku! Kalungku!!!” Ia terus meraba leher jenjangnya. Memastikan kalau kalung itu benar benar….tidak ada.
“Haaah! Kalungku kemana?!” Ia memutar matanya. Bingung ingin mencari kesisi mana kalung itu. Kalung yang benar benar berharga. Pemberian dari orang yang…..berharga juga…..
Ia mengingat kata kata Taemin….”Jika kalung itu hilang, aku tidak akan memaafkanmu…”
Kalimat itu terus terngiang ngiang dikepalanya. Terus terngiang ngiang.
“Pantai…..Pantai…..” Sulli benar benar cemas sekarang. Dipikirannya hanya ada kalimat kalimat tadi. Jika kalung itu benar benar hilang……sangat berbahaya.
Secepat kilat ia keluar dari rumah tanpa memikirkan apa apa lagi.
.
Pukul 5 sore sudah. Tapi orang yang ditunggu tunggu pemuda yang sudah sibuk memainkan bola basket itu belum datang juga.
“Mungkin ia sedang ada dijalan” gumamnya sedari tadi.
.
Nafas yang terengah-engah terdengar jelas. Wajah paniknya menjadi jadi. Berlari sekencang mungkin mendekati pantai itu. Ia memulai meraba raba pasir pasir pantai itu. Apa saja yang ia temukan ia angkat dan ia lihat; siapa tahu itu kalungnya.
Yang ia temukan tidak ada. Percuma juga ia mencari sampai kapanpun, sudah berselang 24 jam kalung itu hilang dipantai ini. 5 persen kemungkinannya ia bisa menemukan kalung itu kembali.
“Kalungku…..”
Suara Sulli sudah mulai melemah. Sudah mulai hilang……
.
Pukul enam. Belum datang juga. Hari sudah mulai gelap. Tapi pemuda ini masih saja menunggu ditempat yang sama. Sesekali ia mencoba memasukkan bola basket itu dengan tujuan iseng. Ponselnya mati, tidak ada yang dapat dihubungi saat ini. Tidak tau juga ia kemana. Dia juga tidak bisa menebak kenapa Sulli belum datang sampai sekarang.
.
Sulli tergolong orang yang paling nekad. Sejauh ini, ia belum menyerah mencari kalung berharga itu.
Ck. Ia benar benar.
Sudah pukul tujuh. Otomatis langit sudah sangat gelap. Tapi ia masih saja meraba raba pasir putih itu. Seperti tidak ada rasa lelah didirinya.
Napasnya semakin sesak. Tak jarang ia terminum air disana.
.
Benar benar kesal ia sekarang. Ia lempar begitu saja bola basket yang sedari tadi ia pegang itu. Sudah empat jam ia menunggu dan menganggur dilapang bola itu. Tanda tanda kedatangan perempuan itu tidak ada. Nihil.
“Ia benar benar tidak datang..”
Gerutu Taemin. Yang membuat janji dia, yang mengingkari pun dia.
“Benar benar lucu…”
.
Masih tidak ketemu juga apa yang dicari oleh sosok perempuan yang terus menerus meraba pasir paisr putih halus itu.
“Haaaah bagaimana ini?” Suaranya semakin melemah. Tangannya sudah bergetar dan bibirnya juga begitu. Wajahnya sudah pucat begitu.
Merasa benar benar lelah, ia menyerah juga. Meraba raba pasir putih diantara air dengan ombak yang super besar itu sia sia saja ternyata.
.
.
XX
.
.
“Sebentaaaar” Sunny sedikit meninggikan suaranya seraya sedikit berlari kearah pintu. Seseorang sudah menunggu dibukakan pintu dibalik sana.
“Ya—oh? Sulli-ah!” Sunny mengembangkan senyumannya. Begitu pula sebaliknya.
“Apa kabar, unnie?” Sulli sedikit membungkukkan badannya kearah wanita itu.
“Baik sekali. Taemin, ya?” Ia tersenyum menggoda kearah Sulli.
“….hmm”
“Dia sedang bermain basket sendirian disana.” Sunny mengarahkan telunjuknya kearah depan rumah itu.
Oh, bagaimana Sulli bisa tidak melihat Taemin yang sedang disana, padahal tadi ia jelas jelas melewati lapangan itu.
“Ah? Baiklah. Terima kasih.” Gadis itu kembali membungkukkan badannya sempurna.
.
.
“Hey—Taemin!” Ia melembaikan tangannya diiringi dengan senyumannya yang sedikit dipaksakan itu. Ia terus berusaha rileks. Anggap saja tidak terjadi apa apa.
Yang diajak bicara itu hanya melirik kearahnya sebentar dan terus memainkan bola basket itu. Wajahnya terlihat dingin sekali.
“Hey, kau tidak menjawab sapaanku?” Sulli memajukan sedikit bibirnya dan melangkah mendekat kearah Taemin.
“Kenapa kau tidak datang kemarin?” Taemin tidak menatap Sulli sama sekali. Ia terus sibuk mendribble bola basketnya itu.
“Uh? Kemarin……—astaga! Aku lupa!”
Tidak, Sulli tidak berbohong. Sehabis ia berusaha mencari kalung berharga itu, ia benar benar lupa kalau ia ada janji dengan Taemin. Pikirannya melayang kemana mana kemarin.
“Fffhhh.” Laki laki itu mengela nafasnya dengan berlebihan.
“Aku benar benar lupa! Yaampun. Maaf maaf!” Ia menepuk dahinya sendiri.
“Segampang itukah kau lupa?”
“Bukan begitu, Lee Taemin. Cuma—kemarin aku…..”
Ia dilema. Jika ia beralasan kalau ia benar benar lupa itu lucu sekali. Taemin akan sangat salah pengertian nantinya. Tapi jika ia memberi tahu kalau ia mencari kalung itu…….oh lebih besar lagi masalahnya.
“…..Apa?” Taemin memperhatikan wajah paniknya.
“Hng?” Sulli menaikkan kedua alis matanya. Terus berpikir apa jalan yang tepat.
“Kau—hey, tunggu….” Taemin mengalihkan pandangannya kearah leher Sulli yang tidak terhias apa apa sekarang.
Taemin menghela nafasnya dan tersenyum tipis.
“Bahkan kau melepas kalung pemberianku.” Lelaki ini kembali mendribble bolanya.
“Heh? Tidak! Tidak begitu—”
“Yah, jika kau tidak suka kalungku buang saja.” Wajahnya kembali dingin. Menatap lurus tiang tempat memasukkan bola itu.
“Buka begitu. Kalung itu…….”
Sulli memejamkan matanya. Menyiapkan diri dengan apa reaksi Taemin nanti.
“…….hilang.”
Bola yang ia dribble sedari tadi terbelenggu seketika. Ia berhenti memainkan bola itu dan menatap Sulli sebentar.
“Ah-ahah.”
Hey, respon apa itu?
“Maaf……”
“Haah.” Lagi lagi ia hanya menghela napasnya. Membiarkan bola basket yang ia lepas tadi pergi jauh kebelakangnya saja.
Sementara Sulli hanya menunduk. Tak tau ia harus melakukan apa sekarang.
Beberapa dekit kemudian lelaki itu melangkahkan kakinya mendekati Sulli—bukan, ia melewati Sulli dan meninggalkan gadis yang rambutnya dicepol menjadi satu itu.
“Tae—”
Sudah. Percuma ia memanggil.

Harus apa ia sekarang? Harus bersikap layaknya biasa saja? Oh, sangat standar. Tidak ada perubahan nantinya. Harus mencari sang kalung kepantai lagi? Huh. Hal yang sangat percuma dilakukan.
Lagi lagi ia tidak tau harus berbuat apa.
.
.
XX
.
“Hey, Taemin. Dia ada dibawah. Temuilah.” Sunny menggantungkan hoodie milik adiknya yang habis ia pinjam barusan. Ia melirik kearah Taemin; yang tidak bergerak sama sekali.
“Hey. Apa kau mendengarku?”
Ia dekati lelaki itu.
“Hm.”
Oh, ia mendengarnya.
“Lantas, kebawahlah.” Sunny menunjuk pintu kamar dengan dagunya. Mengisyaratkan sang adik untuk menemui orang yang menunggunya dibawah.
“Malas. Bilang aku sedang tidur.”
“He? Kau kenapa?”
“Apa? Aku tidak apa apa.”
Ia mengalihkan wajahnya lagi.
“Hanya karena ia tidak menepati janjinya untuk datang kearena basket depan?” Sunny duduk disamping Taemin. Berusaha mencerna apa masalah mereka berdua sekarang.
“Hng? Tidak.”
“Jadi? Apa? Ada masalah lagi? Kau begitu kekanak kanakan.” Sunny menyenggol tubuh Taemin menggunakan sikutnya. Memajukan bibirnya seolah memberi isyarat pada Taemin bahwa ia terlalu berlebihan.
Taemin diam sesaat. Ia tidak mau membuka mulutnya lagi.
“Haah.” Akhirnya Sunny menyerah. Beranjak dari samping Taemin dan keluar dari kamar itu.
Dengan berat hati gadis yang berjarak empat tahun lebih tua dari adiknya ini menghampiri Sulli.
“Sulli-ah…” Ia semakin mendekati gadis yang sedang memangku dagunya dengan tangannya itu.
“Dia tidak mau bertemu denganku?” Hah. Dia sudah tau jawabannya ternyata.
“….Ya.”
“Hmmm. Baiklah, unnie.” Ia tersenyum. Dengan keadaan yang menyakitkan seperti ini ia masih tersenyum. Yaampun.
“Maaf ya Sulli….”
“Ah, tidak apa apa…”
Semua orang tau Sulli menjawab dengan berat hati.
Salah Taemin, sih. Dia belum mendengarkan penjelasan apa apa dari gadis ini. Seharusnya ia bisa, kan mendengarkan penjelasan Sulli dulu? Huh. Dasar. Taemin memang seperti ini.
.
.
“Kau ini memangnya kenapa, sih dengannya?” Sunny memasuki kamar Taemin tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ia diam sebentar.
“Kau memang tidak mau menceritakannya padaku, ya?”
“…..Kalung yang kuberikan padanya hari lalu dihilangkannya begitu saja.”
Sekarang Sunny lah yang terdiam. Ia tak tau harus menberi masukan apa.
“Parah, kan? Semudah itu ia hilangkan? Padahal belum satu minggu kalung itu ada dilehernya.”
“Kau sudah mendengar penjelasannya?”
Seketika kemudian Taemin menggelengkan kepalanya pelan.
Sunny mengembangkan senyumnya sekarang.
“Hih. Namanya kau yang egois, bodoh!” Tangannya begitu saja melayang kekepala Taemin.
“Ke-napa?”
“Hey, kau ini seperti anak kecil. Dikit dikit kau marah padanya. Setidaknya kau harus mendengarkan dulu. Bagaimana kalung itu bisa hilang darinya? Banyak alasan yang mungkin, Lee Taemin!”
Oh. Sekarang Taemin yang terdiam. Diam dalam waktu yang sedikit lama.
“Aku ingin istirahat. Sebaiknya nuna keluar…”
Ah. Usaha Sunny gagal. Adiknya ini memang sangat keras kepala.
.
.
XX
.
Danau yang sepi ini menjadi tempat yang mungkin paling tepat untuk keadaannya saat ini.
Taemin duduk dipjpk danau itu sambil berdiam disana. Kadang ia memejamkan matanya lama dan menaruk nafas dalam dalam. Menenangnkan diri dalam keadaan sendiri dipilihnya saat ini.

Suara rumput yang bergoyang mengusik lamunan pemuda ini, seperti tapakan kaki yang menyebabkan rumput itu bergoyang.
“Taemin?”
Ups. Suara yang amat sangat Taemin kenal. Seseorang yang membuat Taemin menenangkan diri ke danau ini.
Sulli.
“Uh—Oh?” Ia berusaha tenang. Pura pura tidak terkejut melihat kedatangan perempuan yang sebenarnya masih amat ia sayangi itu.
“Taemin-ah!” Ia memekik kearah Taemin yang sudah siap untu pergi dari tempat itu. Ia berhenti sebentar. Tapi tidak menoleh kearah sang pemanggil.
“Kau bisa mendengar penjelasanku?”
Ia diam. Lebih tepatnya bingung ingin menjawab dengan kata apa.
“Kalung itu hilang waktu kita ke pantai Ulsan. Sungguh….”
Taemin masih diam. Bukannya ia tidak percaya. Cuma ia masih menyimpulkan kalau Sulli memang benar benar tidak memperdulikan kalung itu.
Oh, Lee Taemin. Ayolah..
“Taemin-ah….”
Sulli mendekati Taemin. Ingin ia raih tangannya. Tapi ia masih ragu.
“Taemin-ah!!”
Taemin meninggalkannya lagi. Lagi lagi ia ditinggalkan begitu saja.
Taemin berjalan cepat entah kemana. Mungkin mobilnya diparkirkan agak jauh dari danau.
Ia menyebrang jalan besar didekat sana.
“—Taemin-ah!!” Histeris dibuatnya. Sulli mendorong Taemin dengan tenaga super kuat kearah pinggir.
“Aaaaak!”
Burk.
Bunyi yang cukup seram ditelinga Taemin. Ia berdiri dari jatuhnya sebab didorong Sulli tadi. Ia melihat ke tengah jalan. Suatu mobil yang berhenti dan didepannya terdapat seorang gadis tergeletak lemah dengan darah dikepalanya yang deras.
Ia tak bisa bernafas sekarang. Lututnya tiba tiba melemas. Susah digerakkan. Dengan susah ia mengatur nafasnya yang sesak saat ini.
Semua orang sudah mengerubuni sosok itu. Beberapa detik kemudian ia menggerakan pelan kakinya. Mengahmpiri seseorang yang tak berdaya lagi disana.
“Ssul—Sulli-ah…..” Nafasnya masih sesak. Ia tak tahu caranya bernafas sekarang.
Semua orang meminggir dibuatnya. Ia berlutut disana. Didepan Sulli yang masih lima persen sadarnya.
“Taem….Taemin….”
Ia berusaha mengeluarkan kata sebisa mungkin.
Taemin semakin mendekati gadis itu. Air matanya tentu tidak bisa ia tahan lagi. Darah yang sudah terlihat deras pada kepala sisi kanannya, tangan kirinya juga sudah dipenuhi oleh darah, dan tubuhnya yang benar benar lemah.
“Ma-maaf….Kalung itu….akan….segera kuca-ri…” Entah apa maksudnya, Sulli tersenyum pada Taemin.
Taemin meraih kepala Sulli. Mengusap darah yang hampir menyebar keseluruh itu.
“H-hey.. Bertahanlah! Bertahanlah!”
“K-kau….memaafkanku?”
Masih sempat ia membicarakan kalung? Ya Tuhan.
Taemin menggelengkan kepalanya cepat. Sambil terus mengusap wajah Sulli.
“Lupakan itu! Lupakan, Choi Sulli. Jangan tinggalkan aku…”
“Taemin….” Suaranya semakin melemah. Kedua matanya juga sudah mulai ingin menutup.
“Ja…ngan menangis. Kau jelek!” Lagi lagi ia berusaha terkekeh. Walau Taemin pun tau keadaan kepalanya sangat sakit saat ini.
Rasa panik Taemin menjadi jadi. Ia masih berusaha mengatur nafasnya sebaik mungkin.
“Aku mencintaimu Choi Sulli! Hey! Jangan lemah seperti itu! Kau kuat, kan???” Ia mengguncangkan terus tubuh perempuan itu.
“Aku…..juga.”
Taemin melebarkan matanya sekarang.
Nafas yang terus menerus berkurang itu akhirnya berakhir juga. Tidak ada lagi hembusan nafas yang terdengar dari Sulli. Ia sudah memejamkan matanya.
Ambulance sudah tidak berfungsi lagi saat ini. Lebih tepatnya sangat tidak berfungsi.
“HEY! CHOI SULLI!”
.
.
XXX
.
.
Hujan lebat yang terus menusuk tubuh laki laki yang masih bertahan bermain basket disuatu lapangan sepi saat malam begini tak kunjung reda juga.
Sudah pukul sembilan malam. Tapi Taemin tidak juga berhenti berkeliling lapangan dan mendribble bola basket ini ditengah hujan yang lebatnya bukan main.

“Kau mau menantangku, hah?”
“Bleeeh. Tidak bisa menangkap bolaku, kan?”
“Hey. Beri aku kesempatan untuk memasukkannya kegawang, jelek!”
“Makanya, sini kuajari!”

Moment itu. Moment yang terus membuat Taemin mengeluarkan air matanya.
Sesal. Rasa menyesal yang ia alami saat ini. Mengapa ia begitu egois pada Sulli? Hanya masalah kalung? Hey, dia baru sadar sekarang kalau dia egois?
Kenapa ia sadar ketika sesuatu bencana buruk sudah terjadi, hah?
Lee Tamin bodoh. Ia benar benar bodoh.
Dua kali, Taemin.
Dua kali ia kehilangan cintanya begini.
Dan semua itu karena alasan yang sama, karena kecelakaan.
Hah. Dua kali ia kehilangan orang yang ia sayangi, bahkan ia cintai?
Bisa bisa dirinya depresi setalah ini.
Choi Sulli.
Kenapa perempuan yang sudah membuat Taemin jatuh cinta itu pergi begitu saja? Pergi begitu saja untuk selama lamanya. Pergi begitu saja sebelum Taemin menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Perasaan yang baru saja tumbuh dihatinya.
Perasaan cinta….

. E . N . D .

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , | 24 Comments

Post navigation

24 thoughts on “Sincerity of Love [Part 7 / END]

  1. salmae everything

    thor, panjangin dikit dong! Critanya si taemin kembali seperti dia ditinggal suzy. Tp cewenya diusir ama taemin takut kena ajal.

    • Aduh gatau, abisnya ini ff nya asal jadi aja. Banyak tugas+ulangan soalnya T_T
      Habis ini aku juga mau hiatus udah kelas 9 huhu

  2. chingu, critany krang pnjng…😦
    tp tetep debak chingu…

  3. T_T huahh… sulli ku meninggal… daebak cingu!! bagus cerita’a… nice ff..

  4. Wah, sad ending nih…
    nyesek….
    hehehe
    tp ffnya bgus…😀

  5. yah… sad ending😦

    menurut saya, feel-nya kurang dapet dikitttt….
    chingu kelas 9 ya?? sama dong kaya saya…
    banyak tugas dan ulangan =.=

    • Tuhkan, banyak tugas dan ulangan kan? Makanya ff ini dibuat asal jadi aja selama 1 jam tanpa penghayatan sama sekali T_T

      Btw, makasih yaaaa^^

  6. Kaa24des

    Muttttt…… Jadi sad endingnya? Huaaaaa sampe nangis aku baca nya T.T tapi bagus kok ceritanya:)

  7. Fannylovers

    Waaaah bneran sad endiiing yaaaaah pnonton kuciwaaaaa..
    Padahal pgnny taelli brsatu huuuufffttt..

  8. . Woooo~ nancep amat s taemin. Sini2, come to me ajah. Hahahaha *ngacir*

  9. Yaah~ Sad Ending😦 Malang sekali dirimu Taemiiiin~
    Unnie meskipun sad ending ini daebaaaak !😀

  10. Kenapa harus sad ending eonni?!?! Щ(°Д°Щ) kirain bakalan happy ending
    Bikin nangis aja

  11. Cedih eonni. Hiks😦 taem jadi ga cama culli *lebay*

  12. flo

    kok sad andeng. coba kalo happy ending. kekekek

  13. Kenapa harus sad ending?!?!?! T.T
    walaupun begitu, gpp thor.. aku suka ff mu.. huhuhu sangat nyesek sad ending.. awalnya akukan udh nyontek part 7 nya yang paling trakhir, bah Sulli meninggal😦 pas bru kubaca part 7 nya kukira Sullinya meninggal karena ombak di pantai itu, udh was” aja aku.. taunya kecelakaan juga T_T huaaa…
    daebak thor ff nya.. T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: