Sorrow at Your Eyes [Part 3 / END]

Author              : Park Sooyun

Cast                  : Lee Taemin, Choi Jinri

Genre              : Romance/Hurt/Comfort

Rating             : PG 13+

Length             : Chaptered

 

Anneyeong semuanya!

Maaf saya telat update. Saya lagi banyak tugas sama ulangan. Ditambah lagi ada remidi. Untung pas Ujian RSBI kemarin yang remidi cuma IPA. Haduh… Padahal nilainya nyerobot banget!!

Aishh… Kenapa Biologinya susah banget?? Sapa sih yang bikin soal?? Pengen saya tendang deh =.=

Oke, sebelum Anda membaca FF ini, saya ingin minta maaf jika ada typo atau kesalahan lain atau endingnya yang ngegantung. Otak saya lagi bobol gara-gara mikirin Neurit, dendrit, cerebellum, beserta kawan-kawannya.

.

.

.

NOT FOR PLAGIATORS AND SILENT READERS!

 

Sorrow at Your Eyes

 

Normal Pov

 

Ia berjalan menyusuri jalanan gelap dengan langkah pelan. Matanya terasa panas karena tadi ia menangis. Kedua tangannya terkepal seolah menahan sakit yang sedang ditanggungnya. Ia menghembuskan napas dengan berat. Saat ia menghirup udara lagi, dadanya terasa sakit. Apa bernapas membuatnya sesakit ini?

Badannya bergetar ketika ia mengingat kejadian tadi. Ingin rasanya ia menangis, tapi air matanya telah habis. Ingin rasanya ia menarik rasa sakit dari dadanya, menghempaskannya, dan hatinya kembali seperti dulu lagi. Tapi ia tidak bisa melakukan itu.

Ya Tuhan…. Tidak bisakah Engkau membuang jauh-jauh rasa sakit ini dari hatiku?!

Ia berhenti melangkah dan menatap sekeliling. Kini ia bingung harus pergi kemana lagi. Tiba-tiba ia teringat akan seseorang. Mungkin hal terbaik yang bisa dilakukannya saat ini adalah menemui orang itu.

 

$#@#$

            Seunghyun menatap layar televisinya dengan tatapan kosong. Ia sedang mengalami insomnia dan tidak ada acara satupun yang bagus di televisi. Ia sudah minum obat tidur, tapi sekalipun ia tidak mengantuk—menguap saja tidak. Seunghyun melirik jam dinding. Ternyata sudah jam sebelas malam. Ia kembali menatap layar televisinya.

Ting tong!

Bel rumahnya berbunyi.

Siapa yang bertamu semalam ini? Pikir Seunghyun.

Ia berjalan menuju pintu dan membukanya dengan malas. Ia mengerjap kaget ketika melihat si tamu. Seorang yeoja berambut panjang dan berwajah cantik berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum lelah.

“Anneyeong Oppa. Maaf aku datang di waktu yang tidak tepat,” kata si yeoja.

“Ada apa Sulli-ah?” tanya Seunghyun.

Sulli menunduk. “Akan lebih baik jika aku menceritakannya di dalam.”

 

$#@#$

Seunghyun menatap Sulli yang duduk di hadapannya sambil menundukkan wajah. Kenapa Sulli datang malam-malam ke rumahnya? Lagi pula, bukankah ia sudah menikah? Saat Seunghyun memikirkan kata-kata menikah hatinya mencelos. Ia tidak suka dengan pernikahan itu karena sesungguhnya ia menyukai Sulli.

“Sebenarnya ada apa, Sulli-ah?” tanya Seunghyun.

“Aku… Sebenarnya… Bolehkah aku menginap di rumahmu untuk beberapa hari?”

Pertanyaan Sulli membuat Seunghyun mengerutkan kening. Ada apa dengan gadis ini?

“Kenapa kau ingin menginap di rumahku? Bukankah kau sudah menikah?” Seunghyun balik bertanya.

Sulli mengerjap kaget. “Oppa sudah tahu tentang pernikahanku?”

Seunghyun mengangguk singkat. “Orang tuamu yang menceritakannya padaku,” kata Seunghyun datar.

Sulli kembali menundukkan wajahnya. “Sebenarnya, ada alasan aku memintamu untuk mengijinkanku menginap disini. Dan itu berhubungan dengan pernikahanku…” Akhirnya Sulli menceritakan semuanya, kecuali tentang berita kehamilannya.

“Apa?! Jadi suamimu sudah menyakitimu?!” seru Seunghyun. Ia mengepalkan kedua tangannya. Berani-beraninya ada orang yang menyakiti Sulli.

Sulli hanya terdiam.

“Aku akan menghajar pria brengsek itu!”

Seunghyun berjalan menuju pintu dengan wajah emosi. Buru-buru Sulli menahan tangannya.

“Jangan Oppa!” pintanya.

“Kenapa? Dia sudah menyakitimu, Sulli!”

“Biarkan saja. Lagi pula tidak ada gunanya berurusan dengan dia,” kata Sulli sambil menatap Seunghyun.

Seunghyun akhirnya luluh setelah melihat tatapan Sulli. “Baiklah. Aku tidak akan berurusan dengannya.”

Sulli tersenyum. “Baguslah. Lalu, apa aku boleh tinggal disini untuk sementara?”

“Selamanya tinggal disini juga boleh kok,” canda Seunghyun.

Sulli tertawa dan memukul pundak Seunghyun.

Bahagia sekali melihat Sulli tertawa, pikir Seunghyun.

 

$#@#$

Taemin menatap layar televisinya dengan tatapan kosong. Wajahnya tampak kusut dan bajunya kacau balau. Rumahnya pun sama seperti pemiliknya: berantakan dan kotor. Semenjak Sulli pergi, ia tidak pernah membersihkan rumahnya.

Sulli…

Memikirkan nama itu membuatnya hatinya perih. Ia sadar. Selama ini ia tidak pernah memperlakukan Sulli layaknya seorang istri. Perkataan Sulli selalu membekas dihatinya. Ia benar-benar khilaf. Seandainya ia dapat memutar waktu, ia pasti akan memperlakukan Sulli dengan baik.

Sudah tiga hari berlalu setelah kepergian Sulli. Dan semenjak itu, hidup Taemin menjadi berantakan. Ia sudah tidak nafsu makan lagi. Ia juga malas untuk pergi bekerja. Semuanya berubah 180 derajat ketika ia pergi.

Apa arti dari semua ini?

Taemin mulai memikirkan semuanya. Ia tidak dapat menghilangkan rasa bersalahnya pada Sulli. Kehidupannya pun berubah setelah Sulli pergi. Mungkinkah ia mencintai Sulli?

Rasanya iya. Taemin merasa bahwa kini ia membutuhkannya. Ia tidak bisa hidup tanpa Sulli. Hidupnya tak berarti apa-apa jika Sulli tidak ada disamping.

Taemin berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil handphone miliknya. Ia menekan beberapa nomor. Kini ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan dari dulu.

 

$#@#$

Sudah satu minggu sejak Sulli pergi dari Taemin. Perasaan Sulli kini campur aduk. Antara senang, bingung dan… sedih. Ya. Ia merasa sedih ketika memikirkan Taemin. Ia tidak tahu kenapa. Seharusnya ia merasa senang karena telah bebas dari suaminya yang egois itu.

Sulli menatap kosong ke luar jendela. Cuaca di luar sangatlah cerah, berbeda dengan suasana hati Sulli yang mendung. Sulli teringat akan Taemin.

Entah kenapa ia tidak bisa melupakannya. Padahal dia telah melukai hatinya.

Tiba-tiba air mata Sulli menetes. Dasar bodoh! Kenapa kau terus memikirkannya?! Sulli meruntuki dirinya sendiri. Ia menghapus air matanya dengan kasar.

Tiba-tiba saja HP-nya berbunyi.

Sulli melirik HP-nya dan membaca nama yang tertera di sana.

Lee Taemin.

Sudah beberapa hari ini Taemin terus meneleponnya. Tapi Sulli enggan untuk menjawab karena sudah terlanjur sakit hati. Ia tidak mau bertambah sakit ketika mendengar suara Taemin.

HP-nya terus berbunyi dan itu membuat Sulli terganggu. Ia menatap HP-nya dengan tatapan bingung. Apa sebaiknya ia mengangkat teleponnya? Sulli menimbang-nimbang. Akhirnya ia memilih untuk mengangkat telepon.

“Halo?” Suara Taemin terdengar ketika Sulli mengangkat teleponnya.

“…” Sulli hanya terdiam. Mulutnya malas untuk memberikan respon.

“Sulli-ah? Kau disana?”

Sulli menghela napas. “Iya. Ada apa kau meneleponku? Kalau kau meneleponku hanya untuk menghinaku, lebih baik kau tutup pembicaraan ini. Aku tidak punya waktu,” katanya dengan dingin. Entah kenapa Sulli bisa berbicara seperti itu pada Taemin.

“Eh… aku…” Sepertinya Taemin kaget dengan perkataan Sulli tadi. “Sebenarnya aku ingin minta maaf atas kejadian waktu itu.” Sulli bisa mendengar jika Taemin menghela napas. “Aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan itu. Aku sudah menjadi suami yang jahat dan ditambah lagi aku menyakiti hatimu. Aku minta maaf…”

Sulli masih terdiam.

“Aku sungguh menyesal telah melukai hatimu. Aku benar-benar laki-laki yang kejam. Aku sudah mencampakkanmu dan selingkuh di belakangmu. Aku ini suami yang egois. Setelah kau pergi, aku menjadi sangat kesepian. Aku juga malas untuk melakukan sesuatu kecuali melamun. Ya. Setiap hari aku selalu memikirkan dirimu. Aku tidak tahu kenapa. Lalu, baru aku tahu jawabannya. Aku membutuhkanmu.”

Deg! Sulli terlonjak kaget mendengar perkataan Taemin. Matanya mulai basah oleh air mata, tapi ia berusaha untuk menahannya.

“Aku merasa mati jika tanpa dirimu. Dunia seakan tidak berarti lagi untukku.” Taemin terdiam sejenak. “Aku tahu kau membenciku. Dan aku tahu kau tidak akan memaafkan kesalahanku. Tapi, aku ingin meminta satu keinginan. Tolong jaga anak kita. Dia tidak tahu apa-apa dan dia tidak bersalah. Maka dari itu, rawatlah dia dengan baik. Dan jangan ceritakan padanya apapun tentang ayahnya. Aku tidak mau dia tahu bahwa ayahnya telah membuangnya dan ibunya begitu saja.”

Sulli mati-matian menahan air matanya. Ia menggenggam HP-nya dengan sangat erat.

“Semoga kau menemukan laki-laki lain yang lebih baik daripada aku.” Terdengar Taemin sedang menghela napas. “Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi… Saranghae.”

TUUTT

Taemin memutuskan hubungannya.

Dalam sekejap, air mata yang Sulli tahan mati-matian jatuh juga. HP-nya terlepas dari genggamannya. Ia menangis dengan keras. Sulli menatap langit-langit kamarnya, berusaha agar air matanya berhenti jatuh. Akhirnya ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

Ia harus kembali pada Taemin.

 

$#@#$

Taemin memutuskan teleponnya. Ia menggenggam ponselnya dengan erat sambil menatap langit kota Seoul dari jendela kamarnya.

Hatinya sudah sedikit lega karena ia sudah menelepon Sulli. Walaupun begitu, masih terbesit rasa menyesal di hatinya. Tapi ia tidak peduli. Yang terpenting, ia sudah meminta Sulli untuk menjaga anak mereka dan ia juga sudah mengatakan perasaannya walau ia tahu Sulli tidak akan membalasnya.

 

$#@#$

“Oppa, aku mau pulang.”

Seunghyun mengalihkan matanya dari layar TV ke seorang yeoja yang berdiri di hadapannya.

“Kau mau pulang ke rumah orang tuamu?” tanya Seunghyun.

Yeoja itu—Sulli—menggelengkan kepalanya. “Aku mau pulang ke rumah Taemin oppa,” jawabnya dengan suara pelan.

“Apppaaa?!” Seunghyun terlonjak kaget. Apa gadis ini gila? “Apa kau tidak sadar? Dia telah menyakitimu. Lagipula dia…”

“Aku sadar kalau aku membutuhkannya,” potong Sulli cepat. “Aku tidak bisa hidup tanpa dia.”

“Apa kau membutuhkan orang yang telah menyakitimu?” tanya Seunghyun.

“Dia suamiku. Dan aku istrinya. Aku harus ada disampingnya karena dia suamiku.”

“Tapi, Sulli-ah! Kau tidak tahu betapa breng**k-nya dia! Dia sudah berselingkuh di depanmu dan…”

“Aku mengandung anaknya, Oppa,” kata Sulli.

Seunghyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? “Apa katamu?”

“Aku mengandung anaknya,” jawab Sulli dengan nada keras sambil menekankan kata-kata ‘mengandung’.

“Kau bercanda kan?”

“Inilah alasanku yang sebenarnya mengapa aku ingin kembali pada Taemin oppa,” kata Sulli tanpa menjawab pertanyaan Seunghyun. “Aku sedang mengandung. Dan anak yang kukandung ini adalah anak dari Taemin oppa. Anakku membutuhkan seorang ayah.”

“Tapi…”

“Aku tidak bisa terus berada disini. Aku tidak ingin tetanggamu mengira jika aku ini wanita yang tidak benar karena sering keluar masuk rumahmu. Lagi pula, aku punya kewajiban sebagai seorang ibu.”

“Tapi Sulli… Aku mencintaimu,” aku Seunghyun. Ia sudah mencintai Sulli sejak lama.

“Apa kau tidak dengar? Aku sedang mengandung.”

“Aku tidak peduli. Aku bisa menjadi ayahnya jika kau mau. Aku akan menjadi ayah yang lebih baik dari Taemin. Aku mau menerimamu apa adanya,” kata Seunghyun.

Sulli menggeleng. “Tidak bisa. Ayah dari anak ini hanyalah Taemin oppa. Tidak ada laki-laki lain yang bisa menggantikan ayah kandungnya.”

“Tapi aku tulus mencintaimu Sulli. Aku tidak peduli dengan keadaanmu sekarang.” Seunghyun berjalan mendekati Sulli untuk memeluknya, tapi Sulli bergerak menjauh.

“Aku berterima kasih karena kau telah mencintaiku. Tapi sayangnya aku telah mencintai Taemin oppa.”

“Kau tidak akan bahagia dengan Taemin!” seru Seunghyun. “Aku mohon. Aku hanya ingin membuatmu bahagia.”

“Satu-satunya hal yang bisa membuatku bahagia adalah kembali pada Taemin oppa. Seunghyun oppa, aku mohon. Jika kau benar-benar mencintaiku, tolong biarkan aku kembali pada Taemin oppa,” kata Sulli sambil menatap Seunghyun dengan tatapan nanar.

Seunghyun akhirnya luluh setelah melihat Sulli. Ia berbalik agar tidak bisa melihat Sulli. “Baiklah. Jika itu maumu. Aku akan membiarkanmu kembali pada Taemin.”

Sebuah senyuman terukir di wajah Sulli. “Terima kasih…”

 

$#@#$

Tidak ada gunanya menyesali itu.

Taemin terus mengulang kata-kata itu di dalam otaknya. Tidak ada gunanya memikirkan dia. Dia membencimu. Taemin meruntuki dirinya sendiri. Dibantingnya remot TV yang ia pegang ke lantai. Ia mencoba untuk melupakan Sulli tetapi ia tidak bisa. Tidak akan bisa.

Taemin termenung. Kenapa ia baru menyadari senyuman Sulli? Kenapa ia baru menyadari kehadiran Sulli? Kenapa ia baru menyadari bahwa ia mencintai Sulli? Kenapa?! Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa ia tidak menyadarinya sejak dulu, sejak ia melihatnya?

Arrggh!!!

Semua pemikiran itu membuat Taemin kesal. Sekarang hidupnya benar-benar berantakan. Hancur lebur. Dan ia tidak yakin dapat memperbaikinya lagi.

Ting tong!

Tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi.

Siapa sih?! Menganggu saja!

Taemin tidak memperdulikan orang di luar yang tadi menekan bel rumahnya. Mungkin saja itu orang minta sumbangan atau semacamnya. Ia sedang tidak mood untuk berhadapan dengan dunia luar beserta orang-orangnya.

Ting tong!

Lagi-lagi, pikir Taemin. Kenapa ia tidak pergi?

“Pergilah! Lain waktu saja!” teriak Taemin dari dalam rumah. Setelah itu ia tidak mendengar suara bel lagi. Bagus. Dari tadi kek.

“Kau mengusirku?” Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah Taemin.

Taemin menolehkan kepalanya. Dilihatnya seorang yeoja cantik sedang berdiri di hadapannya sambil memanyunkan bibirnya. “Kau tidak berharap aku kembali?”

Sulli…

Ketika nama itu muncul, Taemin bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Sulli. Sulli mengerjap kaget dan menjatuhkan tas yang ia bawa.

“Syukurlah kau baik-baik saja…” kata Taemin. Ia mengeratkan pelukannya. “Aku minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu. Aku benar-benar menyesal.”

Sulli tersenyum lalu perlahan ia menyandarkan kepalanya ke bahu Taemin. “Aku memaafkanmu, Lee Taemin.”

Taemin melepaskan pelukannya dan menatap Sulli lekat-lekat. “Apakah kau kembali padaku?”

“Tentu saja. Aku kembali padamu,” jawab Sulli sambil tersenyum.

Mendengar jawaban dari mulut Sulli, Taemin tersenyum. Hatinya lega, sangat lega. Belum pernah ia merasa selega dan sebahagia ini.

“Lalu? Bagaimana keadaanmu selama tanpa aku?” tanya Sulli.

“Err… ya… begitulah,” jawab Taemin asal.

Sulli mengedarkan pandangannya ke ruang keluarga. Matanya melebar ketika melihat ruangan itu sangat berantakan.

“Ya! Kotor sekali!” Ia menatap Taemin dengan tatapan horror.

“Kau jangan marah. Nanti aku akan membersihkannya,” janji Taemin.

“Aku tidak mau membantu!”

“Iya iya,” kata Taemin sambil merangkul pundak Sulli. Melihat perlakuan Taemin padanya, membuat pipi Sulli memerah.

“Bisakah kau membuat makanan? Aku lapar,” pinta Taemin.

“Tentu saja. Aku akan memasak untukmu,” kata Sulli senang.

“Tapi jangan masak nasi goreng rasa garam lagi ya.”

“Kau ini!”

 

$#@#$

 

Sulli memandang langit malam dari balkon rumahnya. Pemandangan langit kota Seoul pada malam hari sungguh indah.

“Kenapa nodanya tidak hilang-hilang?”

Sulli mengalihkan pandangannya ke arah dapur. Dilihatnya Taemin sedang kerepotan mencuci piring. Ia tersenyum.

“Ya! Choi Sulli! Tidak bisakah kau membantuku?”

“Ingat. Kau sudah berjanji,” kata Sulli.

Taemin hanya mendengus kesal. Sulli kembali menatap langit malam.

Ia memejamkan matanya. Ia mencoba untuk merasakan suasana. Merasakan kebahagiaan yang sedang melandanya. Meresapi nikmat yang tiada tanding. Tiba-tiba Sulli merasa jika ada yang memeluknya dari belakang. Ia langsung membuka matanya.

“Kau sedang apa?” tanya Taemin. Ia memeluk Sulli dengan erat.

“Menikmati pemandangan,” jawab Sulli sambil memegang tangan Taemin yang melingkar di perutnya. “Kau sudah selesai mencuci piring?”

“Tentu saja sudah.”

Mereka berdua terdiam.

“Apa yang mendorongmu untuk kembali kesini?” tanya Taemin tiba-tiba.

“Alasan yang paling utama adalah karena aku sedang mengandung anakmu. Aku tidak mau menjadi pemisah antara kau dan anak kita.”

Taemin tersenyum mendengar perkataan Sulli.

“Ya… Anak kita.” Ia mengelus perut Sulli pelan. Pipi Sulli memerah ketika mendengar kata-kata ‘anak kita’.

“Lalu, apa yang mendorongmu untuk meneleponku tadi siang?” tanya Sulli balik.

“Ada banyak alasannya. Salah satunya adalah aku ingin minta maaf padamu dan aku ingin agar kau menjaga anak kita. Dan alasan yang paling utama…” Taemin tersenyum. “…saranghae,” bisiknya.

Sulli tersenyum. “Na do saranghae.”

 

THE END

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , | 23 Comments

Post navigation

23 thoughts on “Sorrow at Your Eyes [Part 3 / END]

  1. qinqin

    senangnya mereka bersama,bahasanya bagus mudah dimengerti.terus berkarya

  2. Bikin sequelnya dong chingu~~

    • waduh… sekuel??

      saya pikir-pikir dulu deh…
      yang penting sekarang saya mau fokus ke UAS #ceileh bahasanya xD

      thanks for your comment!🙂

  3. Fannylovers

    Waaaaaah ud abs critany, pdahal bgt nie..

    Chingu bkin sequelny, ksih drama antara seunghyun suzy taemin n sulli, nice chingu..

  4. Kaa24des

    TT.TT terharu bacanya nyaaa!! Knp harus end?! Aaaaaa bagus ffnya :’)

  5. bgus author akhirnya taemin mencintai sulli..

  6. Bagus loh. Seunghyunnya siapa yah? *takut salah mengartikan*. Kelas 9 kah? Saya jga belajar tentang saraf, indera.. Hahaha, akson dendrit, sama otak kecil :p

    • Seunghyun FT Island…
      tapi saya gak tau FT Island itu membernya ada yang namanya Seunghyun atau enggak o.O
      saya pernah baca FF terus ada yang namanya Seunghyun membernya FT Island.. jadi saya asal tulis aja deh😀

      iya… kelas 9 banyak tugasnya yah??
      mumet dah.. mikirin nefron, glomerulus, badan malphigi sama akson =.=

      gomawo dah komen ^^

  7. chadelr

    . Taelli taelli taelli.. >.< .. Daebak,, nt buat crita taelli lagi ya ,, *haus taelli* hahaha

  8. Happy ending^^,, Nice ff~
    Taelli forever ever after🙂 hhe

  9. deaaaaa

    Halooo author.. maafin ya sebelumnya thor, aku baru keluar dari persembunyian. Sebenernya aku udh baca ff ini 2x loh, tp baru komen._.v
    pasti usernameku asing ya? Hehe

    sukaaaaa bgt sama ff ini *kalogasukagabakalbacalagi*
    mau bikin sequelnya ya? Cepetan ya thor di tunggu, janji deh langsung komen hehe.
    Sekali lagi maaf ya author *bow*
    di maafin kaga? Jangan di marahin ya ._.v

  10. akhirnya happy ending juga hore *nari-nari gaje* keren thor bikinin sequelnya dong thor heheh

  11. Pingback: Between Love and Reality « Shining Effection

  12. icecreamjinri

    MIIIN ! SAYA SUKA BGT SAMA FF INI !!! <3<3<3
    Feelnya dapet bgt sangat sekali~ (?)
    Dan bahasanya mudah dimengerti tapi menyetuh juga..

    Buat FF taelli lagi ya. yang banyak.
    Pokoknya ini salah satu FF favorite ku !

    thousand tumbs up for you !
    Tetap berkarya ya. ^^b

  13. daebak!
    Ending’y so sweet bnget…😉
    Aku suka cerita’y😀

  14. lia

    cepet banget ya berubah pikirannya…
    seunghyun juga baik mau melepas sulli…..

  15. lee Airin

    horee ,
    happy endding ,🙂
    gak bsa byangin ank.na sulli ama taemin kyak apa🙂

  16. choi minrin

    omo,,, daebakkkk,,, buat lagi dong chingu,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: