Forgotten Love [1 / 2]

Title                : Forgotten Love

Author            : Park Sooyun

Main cast        : Kim Jonghyun, Park Sunyoung

Minor cast      : Kim Ryeowook

Genre             : Romance/Hurt/Comfort

Length            : Twoshoot

Rating              : PG 13+

NORMAL POV

“Kenapa kau menikah dengannya, Kim Jonghyun?!”

Jonghyun menghela napas. “Aku mencintai Sunyoung, umma.”

“Apa kau tidak sadar apa yang telah ia lakukan?” tanya Nyonya Kim keras. “Dia sudah menghancurkan bisnis keluarga kita! Bahkan gara-gara itu, appa-mu sampai terkena stroke!”

“Aku tidak peduli. Lagipula, yang melakukan semua itu adalah paman Sunyoung. Bukan Sunyoung!”

Ya. Yang dikatakan Jonghyun benar. Orang yang telah menghancurkan bisnis keluarganya adalah paman dari Sunyoung.

Tiga tahun yang lalu, perusahaan milik Tuan Kim berada di puncak kesuksesan. Dan saat itu pula, datanglah Park Minjoo. Dia mengajak Tuan Kim untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Akhirnya Tuan Kim setuju untuk menandatangani kontrak.

Harapan untuk memperoleh keuntungan lewat kerja sama itu tandas sudah. Tuan Kim hanya mendapatkan kerugian besar. Tuan Minjoo menghabiskan seluruh saham milik Tuan Kim. Setelah Tuan Kim menyadari apa yang terjadi, Tuan Minjoo telah pergi ke Amerika dan membawa semua bukti-bukti yang bisa menyeret dirinya ke meja hijau. Karena Tuan Kim tidak kuat menanggung semua kerugian, ia terkena stroke dan meninggal satu tahun setelahnya.

Tiga bulan kemudian, Jonghyun bertemu dengan Park Sunyoung di sebuah pesta yang diadakan perusahaan milik keluarga Jonghyun. Pertemuan pertama itu memang bukan momen dimana benih cinta di antara mereka tumbuh. Mereka sering bertemu secara tak sengaja karena perusahaan Jonghyun bekerja sama dengan perusahaan dimana Sunyoung bekerja. Dan setelah itu mulai tumbuh benih-benih cinta di antara mereka sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

Tapi sayangnya pernikahan itu tak mendapat restu dari Nyonya Kim. Rasa benci yang bertahun-tahun terkubur di hatinya membuatnya tidak merestui hubungan Jonghyun dan Sunyoung. Nyonya Kim selalu berusaha untuk menjauhkan Jonghyun dan Sunyoung. Ia sering berceramah pada Jonghyun. Bercerita padanya tentang apa yang telah Tuan Minjoo lakukan pada keluarganya. Tapi Jonghyun tidak peduli dan tidak mau peduli. Ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Sunyoung tidak bersalah. Yang bersalah adalah pamannya. Menurut Jonghyun, tidak patut jika kita membenci orang yang sama sekali tidak bersalah. Dalam kasus ini adalah Sunyoung.

Umma tetap tidak menyetujui hubunganmu dengan gadis itu!”

Jonghyun mengangkat bahunya. “Terserah.”

“Jika kau tetap mempertahankan pernikahan itu, silahkan keluar dari rumah ini!” bentak Nyonya Kim.

Dengan senang hati Jonghyun melakukannya. Daripada berada di rumah dan mendengar ocehan-ocehan tak jelas dari ibunya. Bisa-bisa telinganya jadi jampeng.

$#@#$

Sebenarnya Jonghyun pergi ke rumah ibunya untuk mengambil beberapa berkas kantornya yang ketinggalan. Meski berkas-berkas itu sudah usang, tetap saja itu adalah berkas-berkas yang berharga.

Itulah tujuan Jonghyun yang sebenarnya. Tapi saat ia sampai disana, ia disambut oleh ocehan-ocehan ibunya. Ia hanya masuk ke kamarnya, mengambil barang-barang yang dianggap penting lalu pergi. Ia tidak mau repot-repot berurusan dengan ibunya.

Dan Jonghyun bersyukur ia punya pekerjaan sendiri dan tidak bergantung pada keluarganya. Jika tidak, bagaimana ia bisa membiayai keluarga kecilnya?

Ngomong-ngomong soal keluarga, akan hadir seorang anak di kehidupan Jonghyun. Kini Sunyoung sedang mengandung satu bulan. Saat mendengar berita kehamilan Sunyoung, Jonghyun senang bukan main. Bahkan ia sampai melarang Sunyoung untuk bekerja.

Mungkin itu terlalu berlebihan. Tetapi Anda dapat merasakannya jika Anda memiliki seorang istri yang sedang mengandung juga.

“Tumben oppa pulang cepat. Tidak seperti biasanya.”

Jonghyun disambut oleh wajah heran serta senyuman dari istrinya. Ia hanya nyengir. “Aku sengaja membolos untuk bertemu denganmu.”

Rona merah menghiasi wajah Sunyoung. “Aissh~~ Dasar kau ini! Bagaimana jika kau dipecat?”

“Kalau aku dipecat, ya aku akan mencari pekerjaan lain,” jawab Jonghyun sekenanya.

Sunyoung memukul lengan suaminya dengan pelan. “Kau ini. Selalu saja bicara seenaknya.”

$#@#$

Kehidupan seperti inilah yang diharapkan Sunyoung. Hidup bersama orang yang dicintainya. Meskipun begitu, masih ada yang mengganjal di hati Sunyoung.

Restu sang ibu mertua yang belum ia dapatkan.

Jonghyun selalu bilang padanya agar tidak usah mengkhawatirkan hal itu. Tapi tetap saja itu menjadi beban Sunyoung. Beban seorang wanita.

Bagaimana seorang wanita bisa tenang jika ternyata pernikahannya tidak direstui ibu mertuanya? Tentu saja ia menjadi galau dan khawatir sepanjang masa. Dan begitulah yang dirasakan Sunyoung saat ini. Hatinya belum tenang selama mertuanya belum mengatakan ‘ya’ untuk pernikahannya dengan Jonghyun.

Sunyoung terlena dengan pikirannya sampai-sampai ia tidak mencium bau hangus.

“Ya! Sunyoungie! Cepat sadar!” Jonghyun mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan wajah Sunyoung.

“Eh? Ada apa?” tanya Sunyoung tanpa menyadari apa yang terjadi.

“Masakanmu gosong tahu!” seru Jonghyun sambil menunjuk-nunjuk wajan yang diselubungi asap.

“Kyaa! Telur dadarku!” Sunyoung berteriak panik setelah baru menyadari apa yang terjadi. Ia buru-buru mengambil wajan yang ia gunakan untuk menggoreng telur lalu meletakkannya di wastafel.

“Yah… Terpaksa aku menggoreng lagi,” keluh Sunyoung.

“Sudahlah. Lebih baik kita makan di restoran saja. Sudah lama kita tidak makan di luar.”

Sunyoung tersenyum. “Ide yang bagus.”

$#@#$

Setelah puas mengisi perut mereka dengan makanan lezat di restoran, Jonghyun dan Sunyoung pulang. Kebetulan sekali. Dengan gosongnya makan siang yang dibuat Sunyoung, Jonghyun bisa mengajak istrinya makan di luar. Mereka memang jarang pergi bersama. Pekerjaan Jonghyun semakin hari semakin banyak. Itulah yang membuat mereka jarang keluar. Padahal saat mereka pacaran, hampir setiap minggu mereka pergi bersama.

“Bagaimana? Kau puas dengan makan siangnya?” tanya Jonghyun sambil tetap fokus ke jalanan.

Sunyoung tersenyum. “Ya. Terima kasih oppa. Aku jadi tidak perlu memasak lagi.”

“Makanya kalau masak diperhatikan. Malah melamun,” ledek Jonghyun.

Sunyoung mencubit lengan Jonghyun.

“Aw! Sakit! Berhenti Sunyoungie! Aku sedang menyetir,” seru Jonghyun.

“Hahaha!” Jonghyun hanya tersenyum kecil melihat istrinya tertawa.

Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, melaju sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Dengan sigap Jonghyun membanting setirnya ke kanan supaya mobilnya tidak bertabrakan dengan truk itu. Tapi sayangnya ia tidak melihat pohon besar yang siap menghantamnya.

$#@#$

Tut…tut…

Suara itu membuatnya terbangun.

Sunyoung membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan matanya—berusaha untuk tahu ia sedang berada dimana.

Dilihatnya kamar berdinding putih, beberapa kursi kecil di sudut ruangan, dan sebuah gambar yang sepertinya adalah logo rumah sakit. Sunyoung terlonjak kaget ketika menyadari dirinya berada di rumah sakit.

Ia melirik jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Ia berusaha untuk melepaskan jarum itu, tapi tangannya terlalu lemah. Tiba-tiba Sunyoung mendengar suara pintu yang terbuka.

“Sunyoung… Kau sudah sadar?”

Sunyoung menatap wajah ibunya yang kelihatan letih.

“Kau tidak apa-apa?” tanya ibunya cemas.

Gwe…gwechana…” Ia menatap ruangan di sekelilingnya. “Kenapa aku disini?”

“Kau kecelakaan dan koma selama seminggu.”

Sebuah ingatan kembali berputar di kepala Sunyoung. Ia ingat saat ia pulang dari restoran, mobilnya mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang sangat mengerikan. Mobilnya menghantam pohon besar. Sunyoung ingat kepalanya sempat terbentur dashboard mobil dengan cukup keras. Lalu ia tidak ingat apa-apa lagi karena pingsan.

“Tapi kata dokter, kau dan kandunganmu baik-baik saja. Oh Tuhan… Umma bersyukur kalian baik-baik saja.”

“Lalu… mana Jonghyun oppa?” tanya Sunyoung.

Ibunya hanya terdiam sambil memandangi Sunyoung. “Kau tidak usah khawatir. Dia baik-baik saja. Yang penting, kau sudah sadar sekarang.”

“Tapi dimana dia?” tanya Sunyoung lagi. Ia benar-benar ingin bertemu dengan pria yang dicintainya itu.

“Dia baik-baik saja, Sunyoung.”

Umma… aku ingin tahu dimana dia…”

“Dia sudah berada di tempat yang lebih baik,” jawab ibunya.

Mata Sunyoung melebar ketika mendengar jawaban ibunya. Mulutnya ternganga lebar. Air mata turun dari sudut matanya.

Umma… itu tidak mungkin ‘kan? Jonghyun oppa tidak mungkin meninggal,” Sunyoung berkata dengan suara bergetar.

Nyonya Park memeluk anaknya sambil menangis. Sebagai wanita yang pernah menjadi istri, tentu saja ia tahu bagaimana perasaan Sunyoung. “Tenang, sayang. Dia tidak apa-apa. Dia telah mendapatkan hal terbaik.”

“Tapi… Jonghyun oppa tidak mungkin meninggal. Ia masih hidup,” kata Sunyoung kepada dirinya sendiri. Seluruh badannya bergetar.

“Sunyoung… kau harus mengerti, Nak. Jonghyun sudah tiada. Ia telah berada di surga.”

Sunyoung menangis. Ia tak kuasa menahan kesedihan yang sedang melanda hatinya. Pria yang dicintainya telah pergi ke surga. Tempat yang tak mungkin untuk Sunyoung susul sekarang.

$#@#$

Suasana sepi menyeruak ketika Sunyoung masuk ke sebuah pemakaman. Angin langsung menyapanya—membuatnya mendekapkan kedua tangannya.

Sunyoung melangkah dengan berat menuju sebuah makam. Dibacanya sebuah nama yang tertera di atas nisan itu. Terukirnya nama itu di atas nisan membuatnya tak berdaya mengendalikan kesedihannya.

Kim Jonghyun…

Sunyoung berlutut di hadapan makam itu. Sekali lagi ia membaca nama di atas nisan itu. Berharap bahwa matanya salah. Tetapi nama itu sama sekali tidak berubah. Seandainya ia bisa mengubah nama itu dengan nama orang lain…

Dengan tangan bergetar, ia menaburkan bunga di atas makam itu. Ditemani oleh air mata yang mengalir dari mata indahnya. Melukiskan betapa pedih penderitaannya.

Setelah bunga yang ia bawa habis, ia terdiam sambil menatap kosong nisan itu. Air matanya terus mengalir, padahal pikirannya kosong. Ia masih tidak percaya semua ini.

Rasanya baru kemarin ia bersama orang terkasihnya itu. Sekelebat kenangan berputar di otaknya. Ketika Jonghyun melamarnya, ia merasa sangat terkejut dan gembira. Lalu mereka menikmati masa-masa sebagai sepasang suami istri. Dan baru kemarin kebahagiaan mereka dilengkapi oleh kehadiran malaikat kecil yang ada di perut Sunyoung. Dan kini Sunyoung melihat semua berakhir.

Oppa… Kenapa oppa meninggalkanku?” tanya Sunyoung dengan suara bergetar. Ia menatap nanar nama yang terukir di atas nisan itu.

“Bagaimana dengan anak kita?” Sunyoung memegangi perutnya yang kelihatan sedikit membesar.

Sunyoung mengelus batu nisan itu dengan pelan. “Aku harap oppa bisa kembali. Aku… aku tidak tahu apakah aku bisa hidup tanpamu.” Air mata turun semakin deras dari sudut mata Sunyoung. “Aku tidak yakin bisa mengurus Jonghyun kecil ini sendirian. Bagiku itu terlalu berat.”

Sunyoung mengusap matanya pelan. “Aku tahu menangisi kematianmu adalah hal yang tak sepantasnya aku lakukan. Tapi hanya ini satu-satunya cara aku bisa melampiaskan kesedihanku.”

Ia berusaha sekuat tenaga. Untuk tegar dan menerima semuanya. Dengan kaki bergetar, Sunyoung bangkit dan pergi dari pemakaman itu. Meninggalkan sebuah tempat dimana semua kenangannya bersama Jonghyun terkubur.

$#@#$

At California Hospital

Nyonya Kim tersenyum sambil memandangi layar handphone-nya. Akhirnya rencana yang telah ia susun selama ini berhasil dilaksanakan. Akhirnya ia berhasil memisahkan putranya dengan gadis pembawa sial itu. Park Sunyoung.

Setelah kecelakaan mengerikan itu terjadi, Nyonya Kim langsung membawa Jonghyun ke California. Ia berbohong kepada Nyonya Park dan mengatakan pada beliau bahwa Jonghyun sudah meninggal. Dan beruntungnya, Nyonya Park percaya begitu saja.

Lalu Nyonya Kim telah menyewa seseorang untuk membuat ‘makam’ palsu. Nyonya Park tidak ikut menyaksikan ‘pemakaman’ Jonghyun karena ia sibuk mengurus keperluan Sunyoung di rumah sakit.

Dan satu hal lagi yang membuat rencananya berjalan dengan sangat mulus. Menurut dokter, luka di kepala Jonghyun membuat Jonghyun mengalami trauma dan amnesia. Ia lupa segala kejadian yang telah terjadi. Sepertinya Dewi Fortuna sedang salah alamat.

Yah… Walaupun dengan hilangnya ingatan Jonghyun akan membuatnya repot, itu sama sekali tidak masalah. Justru itu sangat membantu.

$#@#$

Five years later …

 

Sunyoung kembali menata kehidupannya yang sempat terombang-ambing. Ia berhasil melupakan kesedihannya dan bangkit. Dan satu hal yang paling membuat Sunyoung bahagia, adalah kelahiran putra pertamanya, Kim Hyunsun.

Ia tahu. Larut dalam kesedihan terus menerus bukanlah hal yang baik. Justru itu akan membuat hidupnya bertambah berantakan. Dan kini Sunyoung memutuskan untuk melihat ke depan. Ia tidak mau lagi melirik masa lalunya.

“Sunyoung, kau sudah siap?”

Mendengar seseorang bicara padanya, Sunyoung menolehkan kepalanya. “Ya. Tentu Ryeowook oppa. Aku akan segera kesana.”

Pemuda itu tersenyum lalu pergi.

Kim Ryeowook adalah anak dari teman rekan bisnis ayah Sunyoung. Lima tahun yang lalu—tepat tiga bulan setelah kematian Jonghyun, orang tua Sunyoung memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan Kim Ryeowook. Mereka ingin agar Ryeowook membantu Sunyoung menata kembali kehidupannya.

Dan Sunyoung menerima pernikahan itu. Dalam keadaan hamil empat bulan, ia menikah untuk yang kedua kalinya. Padahal ia berharap hanya menikah sekali seumur hidup.

Sunyoung menerima pernikahan itu tentu ada alasannya. Mungkin menurut orang lain, alasan itu tidak logis dan masuk akal. Ia mau menikah dengan Ryeowook hanya dengan satu alasan.

Karena marga keluarga Ryeowook sama dengan marga keluarga Jonghyun.

Hanya itu alasan yang dimiliki Sunyoung. Ia ingin agar anaknya lahir dengan marga Kim. Seperti marga ayah kandungnya.

Dan sekarang, kehidupan rumah tangga Sunyoung dan Ryeowook berjalan dengan cukup baik. Walaupun tanpa ada ‘bumbu penyedap rasa’. Ryeowook adalah pria yang baik, bertanggung jawab dan mau bekerja keras. Ia juga sering sekali membuat Sunyoung tertawa. Dan hal itu membuat Sunyoung cukup nyaman berada di dekatnya.

“Mana Hyunsun?” tanya Sunyoung.

“Aku rasa dia sedang bermain di rumah Seunri.” Ryeowook menatap Sunyoung. “Kau sudah siap?”

Sunyoung mengangguk sambil tersenyum kecil. “Ayo. Kita pergi.”

$#@#$

“Hyunsunnie!! Kajja, kita akan pergi sekarang!”

Seorang anak laki-laki dengan tampang wajah imut menatap wajah ibunya dengan tatapan memohon. “Ahh… umma… Tidak bisakah kita pergi lain kali saja?”

Sunyoung menggeleng. “Tidak bisa, Sayang. Kita harus ke rumah kakek dan nenek.”

“Tapi aku masih ingin bermain dengan Seunri,” rengek Hyunsun.

Tiba-tiba keluar seorang wanita. “Kau tidak mau mampir, Sunyoung?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ah… Anneyeong, Victoria unni,” sapa Sunyoung sambil tersenyum. “Aku ingin sekali mampir. Tapi aku sedang buru-buru.”

Victoria tersenyum. “Tapi lain kali kau harus mampir.”

“Tenang saja. Itu mudah kok.” Sunyoung menatap Hyunsun yang masih sibuk bermain dengan Seunri. “Hyunsunnie! Sudah umma bilang ‘kan? Kita mau ke rumah nenek. Ayo cepat!”

“Aku tidak mau!” seru Hyunsun.

Victoria berjalan mendekati Hyunsun. “Hyunsunnie, kau harus pulang sekarang. Nenek sedang menunggumu di rumahnya.”

“Tapi ahjumma, aku masih ingin bermain dengan Seunri,” kata Hyunsun.

“Kau bisa bermain dengannya besok. Lagipula, Seunri juga akan pergi bersama appa-nya,” kata Victoria lembut.

“Baiklah. Besok aku akan bermain dengan Seunri lagi!” seru Hyunsun.

Victoria tersenyum. “Ya. Datanglah kesini kapan saja.”

Hyunsun berlari ke arah ibunya. Sunyoung segera menangkap (?) Hyunsun lalu menggendongnya. “Terima kasih, unni. Kau selalu berhasil membujuk Hyunsun. Dan aku selalu gagal. Ibu macam apa aku ini?” Sunyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku pergi dulu ya.”

“Hati-hati!”

“Sampaikan salam dariku dan Ryeowook oppa untuk si Maniak Ayam!” seru Sunyoung.

Victoria tertawa.

$#@#$

Sunyoung menatap pemandangan dengan tatapan semu. Pemandangan desa Kwanggi memanglah indah. Tapi sayangnya itu tidak dapat menarik perhatian Sunyoung. Karena baginya itu akan membawanya kembali ke masa lalu.

Dulu, ia dan Jonghyun sering mengunjungi orang tuanya di desa Kwanggi. Jonghyun memang pria yang baik. Ia sering mampir ke rumah orang tua Sunyoung. Dan setiap kali Jonghyun ingin mengunjungi orang tuanya, Sunyoung pasti akan merasa malu karena ia tidak pernah berkunjung ke rumah Jonghyun.

Sebenarnya pernah sekali Sunyoung mengunjungi rumah Jonghyun. Tapi kunjungan itu berakhir dengan pengusiran yang dilakukan oleh ibu Jonghyun.

Sunyoung menutup matanya sejenak. Entah kenapa kenangan masa lalunya kembali berputar. Padahal ia tak pernah mengharapkan itu. Ia ingin agar semua kenangannya terkubur dalam-dalam.

“Kau baik-baik saja?”

Suara Ryeowook membuat Sunyoung membuka matanya. Ia tersenyum. “Ya. Hanya sedikit lelah.”

Ryeowook tersenyum. “Kau benar. Perjalanan kali ini memang agak melelahkan. Apalagi tadi kita harus berputar karena jalan yang biasa kita lalui sedang diperbaiki.” Ryeowook menatap wajah Hyunsun yang sedang tertidur pulas. “Bahkan Hyunsun sampai tertidur.”

Sunyoung menatap wajah anaknya lalu mengelus dahinya pelan. Memang ia telah mengubur semua kenangannya dengan Jonghyun. Tapi hanya satu-satunya peninggalan Jonghyun yang Sunyoung rawat dan tidak akan pernah membuatnya lupa terhadap orang yang dicintainya itu. Tiada lain dan tiada bukan adalah Kim Hyunsun.

$#@#$

Hari pertama di Kwanggi, Sunyoung memutuskan untuk mengajak anaknya ke taman dekat rumah orang tuanya. Kebetulan Ryeowook tidak ikut karena semalam ia mengeluh sakit pinggang.

Umma, ayo kita beli es krim!”

Hyunsun menarik-narik baju ibunya. Sunyoung hanya tersenyum melihat tingkah laku anaknya itu.

“Iya, Hyunsunnie. Ayo kita pergi ke kedai es krim itu.”

Setelah mendapatkan es krim rasa coklat, Hyunsun berlari menuju sebuah ayunan. Sunyoung mengikuti anaknya yang berlari.

“Ya! Jangan lari! Nanti kau bisa—kyaa!”

Sunyoung mengelus pelipisnya. Ada seseorang yang menabraknya dan ia terjatuh. Sunyoung membuka matanya dan melihat siapa yang menabraknya. Matanya melebar ketika menyadari siapa itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu. Ia mengulurkan tangannya.

“A… aku baik-baik saja.” Sunyoung buru-buru berdiri sambil membersihkan roknya yang terkena tanah.

“Maafkan aku. Aku agak buru-buru. Jeongmal mianhe.” Pria itu membungkuk 90 derajat.

Gwechana… aku baik-baik saja,” kata Sunyoung sambil tersenyum gugup.

“Aku rasa dompetmu terjatuh,” kata pria itu sambil menyerahkan dompet coklat milik Sunyoung.

Gomawo, oppa.” Mata Sunyoung melebar ketika menyadari apa yang telah ia katakan.

Pria itu mengangkat alisnya. “Hm? Apakah kau mengenalku?”

Sunyoung menggeleng cepat. “Ti… tidak. Aku baru pertama kali bertemu denganmu, Tuan …”

“Jonghyun,” sahut pria itu cepat.

“Ya. Aku baru pertama kali bertemu denganmu, Jonghyun-ssi. Aku rasa tadi kau salah dengar.”

Jonghyun tersenyum. “Baiklah kalau begitu, Nona Cantik. Aku pergi dulu. Maaf sudah menabrakmu.”

Sunyoung hanya mengangguk. Jantungnya berdegup sangat cepat. Sunyoung memandang punggung Jonghyun yang semakin menjauh.

Kenapa ia bisa ada disini?! Bukankah ia sudah… meninggal? Atau ia bangkit dari kematiannya?

Sunyoung menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ada hal seperti itu. Itu hanya cerita fiksi biasa. Ya ampun. Sepertinya otaknya mulai terbawa fantasi Mary Shelley.

Tapi kenapa ia bisa ada disini?

Pertanyaan itu membuat kerja otak Sunyoung lumpuh. Lebih baik ia mengajak Hyunsun pulang dan menenangkan diri.

$#@#$

Siapa wanita itu?

Jonghyun merasa kalau wanita yang ditabraknya tadi mengenalnya. Bahkan mungkin mengenalnya dengan sangat baik karena tadi wanita itu memanggilnya oppa. Apa dia temannya di masa lalu?

Entahlah. Sejak kecelakaan yang menimpanya, Jonghyun kehilangan semua ingatannya. Sekarang ia hidup dengan memulai semuanya dari awal.

Mulai dari menghafal nama-nama anggota keluarganya, alamat rumahnya, nomor teleponnya bahkan mengetik sebuah dokumen di komputer. Itu membuat Jonghyun pusing. Harus mengingat banyak hal dalam satu waktu.

Jonghyun masih ingat. Ketika ia sadar, ia berada di sebuah rumah sakit di California. Yang pertama kali ia lihat adalah seorang ibu yang mengaku sebagai ibu kandungnya. Jonghyun percaya karena ia tidak ingat apapun.

Jonghyun duduk di teras kamarnya sambil memandangi desa Kwanggi. Ia teringat akan wanita yang tadi ditabraknya. Rasanya ia mengenal wanita itu. Jonghyun menutup matanya—berusaha untuk menemukan petunjuk. Tapi sekuat apapun ia berusaha, otaknya tidak mampu untuk mengingat apapun tentang wanita itu.

To Be Continued

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan saengil chukahamnida untuk Minho oppa! Semoga panjang umur, tambah ganteng, makin sukses sama SHINee, dan semoga berjodoh dengan Krystal xD

Saya juga ingin mengucapkan saengil chukahamnida untuk appa saya tercinta, Lee Jinki alias Onew. Walaupun ulang tahunnya masih 5 hari lagi, mumpung ada kesempatan saya ngucapin juga deh😀

Dan untuk semua readers tercinta yang minta sekuel Sorrow at Your Eyes, akan saya kabulkan permintaannya. Saya sedang membuat sekuelnya dan mungkin akan selesai pada akhir Desember atau awal Januari. Yang pasti, saya mau nyelesain proyek FF saya yang lain.

Dan yang paling penting jangan lupa buat komen!

Untuk yang baca => semoga mendapatkan pahala

Untuk yang baca + komen => semoga dapat pahala + bisa bertemu dengan  bias masing-masing

Untuk yang baca + komen + like => semoga dapat pahala + bisa bertemu dgn bias masing-masing + mendapatkan tanda tangan saya (?) #plak!!

Dan untuk yang buat FF ini, semoga berjodoh dengan Jo Kwangmin. AMIN… #abaikan

Bye semua!! *ngilang*

Categories: Shiny Effects | Tags: , , , , , , , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Forgotten Love [1 / 2]

  1. Keren nih…
    sequelnya ditunggu trus lanjutan ff ini jga di tunggu….😀
    semoga berjodoh sm Jo Kwangmin trus sy sm Jo Youngmin #apadeh😀

  2. Kyaa.. FF Jongna! Aku suka. Aku suka :)) couple yg pling kusuka di shiny effects.hehe
    Kereeen ceritany! Aku kira tdiny jjong bnran meninggal *hampir nangis*,,eh..ternyata itu smua gr2 ummany jonghyun.
    Ditunggu part lanjutanny.. ;’)

  3. Ceritanya bagus *plokplokplok* pengen ke california deh *eh? Jonghyun inget dong! Jangan inget key doang *eh?

  4. salmae everything

    uawwaahhhhhhh!!!!!!!!! Daebak dor! Author!!!! Lanjut chinnn!!!!! Hiyyaaaahhhh!!!! Buruan-buruan!!!!!

  5. keren-keren aku pikir Jonghyun beneran matinya ternyata dibawa sama ibunya ditunggu lanjutannya ya Fighting

  6. loveTAETEUKforever

    ff JongNa!!!! >O<
    Lanjut ya thor!!!^^

  7. raekahyunnie14

    daebak (y) like jongna ever!!

  8. Klyy-Kris143

    Daebakk thoorr ^~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: