Between Love and Reality [PART 2]

Title : Between Love and Reality

Author : Park Sooyun

Main cast : Lee Taemin, Choi Jinri

Minor cast : Bae Suzy, Song Seunghyun

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Rating : PG 13+

Length : Chaptered

PART 2

NORMAL POV

Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruangan kerja Taemin. Tangannya bergetar ketika ia menyentuh kenop pintu. Ia menghirup napas dalam lalu menghembuskannya. Perlahan ia membuka pintu itu.

Ia dapat melihat suaminya sedang berkutik dengan laptopnya.

“Sulli-ah? Ada apa?” tanya Taemin.

Sulli tidak menjawab. Ia berjalan mendekati Taemin lalu berhenti tepat di hadapan Taemin. Dadanya berdebar keras. Paru-parunya terasa sakit setiap ia bernapas. Dan ia tidak dapat menahan kedua tangannya yang sedari tadi bergetar.

“Oppa…” ucap Sulli pelan. Ia berusaha untuk mengumpulkan kekuatan. Ia harus mengatakannya. Harus. “Kau harus bertanggung jawab.”

Kening Taemin berkerut. “Bertanggung jawab?”

“Nikahi Suzy,” sahut Sulli cepat.

“Hah? Apa kau bercanda? Aku tidak mungkin menikahinya. Dan soal kehamilannya… Ya ampun. Kau benar-benar percaya padanya?”

Air mata menetes dari mata Sulli. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

“Aku tidak mau tahu. Pokoknya oppa harus bertanggung jawab,” ucap Sulli pelan. Nadanya terdengar bergetar.

Taemin bangkit dari kursinya. “Sulli-ah…”

“Nikahi dia, oppa!” ucap Sulli dengan nada tinggi. “Buktikan bahwa kau adalah laki-laki yang bertanggung jawab.”

“Kau tidak tahu apa yang kau katakan.”

“Tentu saja aku tahu!” seru Sulli. Untung saja Minji sedang main di rumah tetangga, sehingga ia tidak perlu mendengar pertengkaran antar suami istri ini. “Semuanya terlihat jelas di mataku! Bagaimana mungkin itu salah?”

Sulli tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Air matanya keluar semakin deras dan emosi dalam dirinya semakin menggebu-gebu seperti ingin meledak.

“Aku mohon, oppa… Nikahi dia…” Sulli memohon dengan nada memelas. “Jika kau tidak mau bertanggung jawab, sama saja kau telah membunuh seorang manusia tidak berdosa.”

Sulli benar-benar tahu apa yang dirasakan Suzy. Hamil tanpa adanya kehadiran seorang ayah si anak pastilah terasa berat, juga menyakitkan. Dan Sulli juga pernah mengalami hal seperti itu, meskipun konteksnya tidak sama seperti yang dialami Suzy.

$#@#$

Melihat istrinya seperti itu membuat Taemin tidak berdaya. Entah apa yang telah merasuki Sulli—sampai-sampai ia jatuh berlutut hanya untuk memohon supaya dirinya menikahi Suzy.

“Aku mohon, oppa. Nikahi dia…”

“Sulli…” Taemin berjalan mendekati Sulli dan meraih tangannya. Ia berjongkok di hadapan Sulli dan menatap mata istrinya. “Aku tidak bisa melakukan itu. Aku mencintaimu.”

“Kalau kau mencintaiku, tolong berikan pertanggung jawabanmu. Lakukanlah demi aku,” ujar Sulli. Ia memalingkan wajahnya. Dan air mata kembali menetes dari matanya yang indah.

Taemin tidak bisa melihat istrinya seperti ini. Melihat Sulli menangis adalah hal yang paling menyakitkan buat dirinya. Akhirnya dengan nada berat ia berkata, “Baik. Aku akan menikahinya.”

Walaupun Taemin tidak tahu siapa anak yang dikandung Suzy, ia mengatakannya. Ia akan menikahi Suzy. Ia benar-benar bingung, mengapa semua ini terjadi padanya. Terpaan badai kembali menghantam rumah tangganya. Dan ini terasa sangat berat. Semuanya terjadi begitu saja. Taemin tidak pernah merasa menghamili Suzy, karena ia juga belum pernah bertemu dengannya hampir selama lima tahun.

Emosi mendera dirinya untuk sesaat. Ia mengepalkan tangannya erat-erat. Tapi ketika ia melihat senyum Sulli, dirinya menjadi tenang kembali.

“Terima kasih, oppa…”

Walaupun ia yang harus menderita, ia menerimanya. Karena ia tahu, sesungguhnya yang paling menderita adalah Sulli. Dan ia akan melakukan semua ini demi istrinya.

$#@#$

Betapa muaknya Taemin ketika ia melihat wajah ceria yang ada di hadapannya. Wajah itu memang cantik, layaknya seorang Dewi Penghancur. Sekaligus wajah seorang aktris professional, yang dapat memerankan peran bohongannya dengan sangat lihai.

Sudah hampir berulang-ulang Taemin menenangkan dirinya sendiri. Namun setiap kali wajah itu terefleksi di matanya, emosinya kembali memuncak. Rasa benci yang begitu besar membuat urat-urat di sekitar dahinya menegang.

“Oppa,” Si Dewi Penghancur memanggil Taemin dengan nada yang kelewat manja. Dan menurut Taemin, itu terdengar sangat menjijikkan. “Ayo kita tidur. Aku lelah.”

“Tidur saja sendiri,” Taemin membalas dengan nada ketus. Ia berjalan menjauhi gadis itu.

“Jangan begitu~” Tangan gadis itu melingkar di pinggang Taemin sambil berusaha untuk menahannya supaya tidak pergi.

Taemin tersentak kaget dan ia langsung memaksa lepas kedua tangan yang sedang bergelayut manja di pinggangnya. Ia membalikkan badannya dan menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan dingin.

“Dengar, Suzy-ssi. Aku tidak tahu kenapa semua ini terjadi. Padahal aku yakin aku tidak ada sangkut pautnya dengan anak ‘itu’. Tapi dengar, aku melakukan semua ini, menikahimu, karena Sulli. Jika ia tidak berlutut untuk membujukku, aku tidak akan melakukan ini,” ujar Taemin dengan nada rendah namun tajam. Ia segera masuk ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras.

Taemin berjalan menghampiri tempat tidur sambil menghela napas. Ia harus mengontrol emosinya. Kalau tidak, ia bisa menghancurkan rumah. Ketika emosinya hampir melunak, ia melihat sebuah foto yang dipajang di sebelah tempat tidurnya. Matanya mendelik dan emosinya kembali memuncak.

Foto itu adalah foto ketika ia menikahi Suzy secara diam-diam dan terpaksa.

Taemin meraih bingkai foto lalu ia berlari ke balkon kamarnya. Dilemparnya foto itu dari atas balkon tanpa peduli jika ada korban yang terkena lemparan foto itu. Taemin kembali ke tempat tidurnya.

Berulang kali ia menarik napas. Emosinya masih berkobar-kobar dan Taemin tahu berbahaya jika ia membiarkan emosinya tidak terkontrol.

Tiba-tiba handphone Taemin berbunyi. Taemin meraih HP-nya dan membaca sebuah pesan singkat yang masuk ke HP-nya.

Hei, Bocah! Kau kemana saja seharian? Pekerjaan di kantor menumpuk. Seharusnya kau selaku direktur hadir di kantor. Cepat kau ke rumahku! Ada setumpuk dokumen yang harus kau lihat dan kau tandatangani.

Karena Taemin tadi tidak masuk ke kantor, pekerjaannya jadi menumpuk. Dan temannya, Jinki, menyuruhnya untuk mengambil dokumen yang seharusnya ia kerjakan di kantor. Kenapa pekerjaan sial ini selalu menganggunya? Mood-nya sedang kacau dan tidak cocok untuk mengerjakan sesuatu.

Taemin bangkit lalu segera pergi tanpa menghiraukan ocehan Suzy.

$#@#$

Entah keputusan yang telah diambilnya adalah keputusan yang tepat atau tidak. Membiarkan dirinya tersakiti seharusnya adalah pilihan yang salah. Namun ia sendiri tak kuasa melihat dirinya bahagia sementara ada orang lain yang akan terluka.

Rasa sakit kembali mendera hatinya. Ia meringis ketika mengingat kejadian itu lagi. Sampai sekarang ia tidak percaya semuanya terjadi.

Kenapa hal itu harus terjadi? Kenapa rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan, kembali mendera dirinya? Ia sudah merasa cukup dengan masa lalunya yang pahit, ia tidak mau merasakannya lagi.

Sekali lagi air mata turun dari matanya yang indah. Entah sudah ke berapa kali. Namun air mata itu tidak dapat menyembuhkan luka di hatinya.

$#@#$

Sudah beberapa hari Taemin tidak bertemu dengan Sulli. Hatinya merindukan sosok wanita yang murah senyum itu. Ia juga merindukan Minji, anak perempuannya. Kira-kira mereka sedang apa ya?

Sejak pernikahan Taemin dan Suzy, Sulli memutuskan untuk tinggal di rumah temannya yang bernama Victoria. Katanya untuk menenangkan diri. Sulli juga membawa Minji ke sana.

Dan soal Suzy, Taemin tidak akan membicarakan hal itu kepada siapa pun. Sulli pun setuju—itu juga yang menyebabkannya tinggal sementara di rumah Victoria, bukan orang tuanya.

Masalah ini terlalu runyam dan tidak jelas untuk diceritakan kepada orang lain. Orang lain pasti akan langsung menghakimi Taemin dengan berjuta-juta hujatan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Taemin juga tidak tahu apa yang terjadi. Kira-kira apa motif yang dimiliki Suzy untuk menjebaknya seperti itu? Ia baru bertemu Suzy sejak lima tahun yang lalu, tidak mungkin dalam sekali bertemu itu Suzy langsung hamil karena dirinya.

Apa mungkin Suzy ingin balas dendam? Memikirkan apa yang pernah terjadi pada mereka dulu, rasanya mungkin jika Suzy ingin membalas dendam. Ia pasti marah ketika tahu Taemin langsung kembali ke pelukan Sulli. Tapi, jika benar Suzy ingin balas dendam, lalu siapa anak yang sedang dikandungnya? Suzy pernah menunjukkan surat dari dokter ketika ia memeriksakan kehamilannya di rumah sakit. Hasilnya pun positif.

“Arrggghh!”

Taemin mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Semuanya terlalu sulit untuk dikuak kebenarannya. Dan jika dipikirkan, hanya akan menambah kepalanya menjadi pusing.

Taemin menatap jam dinding. Sudah hampir pukul lima. Seharusnya ia sudah pulang, tetapi ia malas jika harus bertemu dengan Suzy di rumah. Padahal biasanya waktu yang paling ia tunggu adalah saat pulang dari kantor, karena ia bisa bermain dengan Minji dan bertemu Sulli.

Tapi kalau yang ini, lain ceritanya.

$#@#$

“Oppa, ambilkan minum~”

Telinga Taemin sudah panas mendengar permintaan manja itu. Ingin rasanya ia menjejalkan sesuatu ke mulut wanita itu supaya ia diam.

“Ambil sendiri,” balas Taemin. Ia masih fokus pada laptopnya.

“Ayolah~”

“Ambil sendiri, Suzy-ssi!” seru Taemin. “Kau punya dua kaki dan dua tangan yang tidak cacat. Aku masih punya banyak pekerjaan.”

Suzy mengkerucutkan bibirnya. Ia menghampiri Taemin lalu mengelus pundaknya pelan. Taemin segera saja menepis tangan itu dari pundaknya. Ia berbalik dan menatap Suzy dingin.

“Apa yang kau inginkan? Aku masih banyak pekerjaan,” ucap Taemin.

“Aku hanya ingin melihatmu bekerja,” sahut Suzy. Nadanya terdengar sangat ceria.

“Aku sangat sibuk. Jika kau mengerti keadaan, kau akan pergi dari sini,” ucap Taemin dengan nada tegas. Ia berusaha untuk mengontrol emosinya.

“Ya sudah.” Suzy segera meninggalkan Taemin dengan raut wajah kecewa.

Taemin menghela napas. Ia menyandarkan punggung pada kursi. Sejenak ia tinggalkan pekerjaannya di laptop. Ia memejamkan matanya. Rasanya ia lelah sekali. Lelah dengan kehidupan ini. Wanita tadi benar-benar membuatnya tidak tahan.

Sulli-ah… Cepatlah pulang. Aku merindukanmu…

$#@#$

“Jadi, bagaimana?”

Sulli hanya diam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan.

“Apa kau mau terus seperti ini? Apa kau tidak merindukan suamimu?”

“Aku sangat merindukannya, Victoria eonnie,” sahut Sulli. “Tapi kau tahu sendiri ‘kan? Di sana ada…”

“—Suzy?” potong Victoria.

Sulli hanya mengangguk pelan.

Victoria mendesah. “Tapi sampai kapan kau akan seperti ini? Jika Suzy tidak pergi, apa kau akan terus menumpang padaku?”

Tak ada jawaban dari yang ditanya.

“Kau tidak bisa seperti ini terus, Sulli-ah,” lanjut Victoria. “Kau harus melakukan sesuatu. Cobalah untuk menyelidiki Suzy. Aku tahu bahwa suamimu bukanlah laki-laki yang mudah meninggalkanmu dan berbuat seperti itu. Apa kau tidak yakin dengan suamimu sendiri?”

“Aku percaya padanya,” ucap Sulli pelan. “Hanya saja…”

“Kenapa?”

“Aku merasa kasihan pada Suzy. Aku tahu bagaimana perasaannya jika ia hamil tanpa ada seorang laki-laki di sampingnya. Pasti sangatlah berat hidup seperti itu.”

Victoria memutar matanya. “Kau tahu? Kau adalah satu-satunya yeoja yang pernah kulihat yang rela melepaskan suaminya untuk wanita lain.”

“…”

$#@#$

Dengan ceria, Suzy membersihkan ruang tamu. Bukan karena ia senang bersih-bersih atau karena mood-nya yang sedang bagus. Tetapi karena hari ini adalah tepat seminggu ‘rival’nya pergi.

Sudah pasti rivalnya sangat menderita. Ia sangat yakin dengan hal itu. Mungkin ia telah melanggar batas-batas sebagai seorang manusia yang telah menyakiti orang lain. Tapi siapa peduli? Yang terpenting, ia bisa membalaskan dendamnya.

Segala skenario yang telah ia susun selama ini berjalan dengan mulus. Dasar suami istri bodoh! Dengan mudahnya mereka percaya pada cerita khayalan itu. Suzy kira Taemin dan Sulli adalah orang-orang cerdas, tapi nyatanya tidak. Bahkan IQ mereka lebih dongkol daripada IQ-nya.

Nah… Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia tidak bisa terus menerus seperti ini. Ia harus menyusun rencana baru. Supaya Sulli dan Taemin semakin menderita.

$#@#$

Sudah seminggu ia ‘melarikan diri’ dari permasalahan rumah tangganya. Sebenarnya ia tidak melarikan diri. Namun begitulah anggapan dari Victoria. Ia hanya berusaha untuk menenangkan dirinnya. Tapi, apa bedanya? Sama-sama menghindar dari masalah.

Ia tak tahu harus berbuat apalagi. Ia benar-benar tidak tahu.

Masalah itu terlalu besar dan menyakitkan buat dirinya. Jika ia kembali ke rumah, ia hanya akan menambah konflik berkepanjangan dan menyakiti dirinya sendiri. Tapi faktanya, berada di sini pun juga tidak akan mengubah apa pun.

Sekali lagi ia terperangkap dalam ruang kebingungan yang ada di otaknya. Pilihan-pilihan membingungkan kembali menyeruak dan membuatnya semakin terperosok ke dalam hidup yang tak tentu arah.

Ia tahu, kejadian itu membuatnya sakit—sangat sakit. Dan jikalau kejadian itu tidak dapat terselesaikan, manakah yang harus ia pilih? Cintanya pada suaminya—atau kenyataan yang justru berkata lain?

“Hehehe… Ayo tangkap aku!”

Ia tersadar dari lamunannya dan melihat putri kecilnya sedang berlari-lari bersama seorang laki-laki. Seulas senyum menghias wajahnya. Memang hanya putrinya yang dapat menghibur dirinya di kala ia sedih.

“Aku berhasil menangkapmu!”

“Hahahaha!!”

“Hei, Sulli!”

Sulli mengalihkan pandangan yang semula terarah ke anaknya menuju ke lelaki yang berada lima meter di depannya. Ia dapat melihat lelaki itu menurunkan anaknya ke tanah setelah menggendongnya.

“Kau tidak ingin bermain bersama kami?”

Sulli tersenyum simpul. “Tidak usah, Seunghyun oppa. Kalian bermain berdua saja.”

Seunghyun mengangkat bahunya. “Terserah.”

Ia dapat melihat Seunghyun kembali bermain dengan Minji. Mengejar Minji, bersembunyi, atau pura-pura kelelahan. Dan Minji nampak senang sekali.

Tiba-tiba saja Minji berlari ke arahnya. Oh, ternyata Seunghyun benar-benar kelelahan dan sekarang dia sedang duduk sambil menerima telepon.

“Umma, Seunghyun ahjussi sangat baik ya!” ucap Minji.

“Dia memang baik.”

“Aku senang sekali saat Seunghyun ahjussi mengajakku bermain. Seandainya saja appa seperti Seunghyun ahjussi. Sering mengajakku bermain bersama~”

Sulli terdiam ketika mendengar ucapan Minji.

“Umma, aku ingin punya appa seperti Seunghyun ahjussi~”

Dan pilihan-pilihan yang membingungkan itu kembali menghantui otaknya.

Tetap bertahan pada cintanya, atau mengubah semuanya dengan melihat seseorang yang tepat berada di depannya?

To Be Continued

Anneyeong semuanya!!😀

Author kembali lagi! Setelah berjuang menghadapi soal-soal UN yang alhamdulilah gampang-gampang *sok pinter* akhirnya author bisa dengan bebas berkutat dengan dunia fanfic …

Doain saya ya, semoga saya lulus dengan nilai yang diharapkan🙂

Dan jangan lupa buat KOMEN!!

Park Sooyun~

 

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Between Love and Reality [PART 2]

  1. tendrielfyes

    1st kah???
    setelah sekian lma ditunggu. Akhitnya dipublish jg.
    Yaahh.. Sulli, ngapain malah maksa Taemin bwat nikahin Suzy? Jdinya kesiksa gitu kan. *sotoy
    Taemin jga ngapain, mau-mau aja.. *yah krn dpksa Sulli tauuu*
    Ngerti deh ma prsaannya Minji, dy psti butuh ksih syang lbh dri appanya, tp dy dpatny malah dri Seunhyun. Huhh… Taemin, anakmu mulai kepincut pngen appa baru (?) *digampar Taem
    Eonnie.. Fighting yah nulisnya!!! Next part.nya ditunggu ^~^
    Jangan kelamaan ~.~v *bnyak maunya*

  2. Aduh, makin rumit. Seunghyun-sulli-Taemin-suzy. Astaga naga -.- tapi bagus ^^

  3. Daebakk!!
    Salut sma author yg bikin ff ini~~^.^
    penulisannya jga gak ada typonya..
    Bagus dan rapi😀

    Ahh, suzy keterlaluan bngt ._.v
    kesian taem ama sul.a pgn d’pisahin😥

    Next part.a d’tunggu ya thor^^!
    #Fighting..

  4. ih, Suzy eonni napeun yeoja!
    Cerita’y makin rumit,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: