Forgotten Love [2/2]

Title : Forgotten Love

Main cast : Kim Jonghyun, Park Sunyoung

Minor cast : Kim Ryeowook

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Length : Twoshoot

Rating : PG 13+

NORMAL POV

Jonghyun menatap kalender di hadapannya dengan tatapan semu. Sekarang tanggal 11 Desember. Besok ia akan kembali ke California. Padahal ia belum mendapatkan petunjuk apa-apa tentang masa lalunya.

Sebetulnya, tujuan utama Jonghyun kembali ke Seoul adalah untuk mengungkap masa lalunya. Ia bisa pergi ke Seoul kapan saja karena ia tak punya masalah dengan keuangan. Tapi sayangnya ibunya selalu menghalangi niatnya untuk kembali ke Seoul. Entah apa yang diinginkan ibunya, Jonghyun tidak tahu. Beliau selalu melarang Jonghyun untuk kembali ke tanah kelahirannya. Kecuali untuk kepentingan bisnis atau sejenisnya. Bahkan ibunya tidak pernah menceritakan apa-apa tentang teman-temannya atau orang yang dekat dengannya, kecuali rekan kerja.

Jonghyun mendecak keras lalu memukul tembok. Ia belum menemukan petunjuk tentang wanita yang ia temui di Kwanggi kemarin. Ia sangat penasaran dengan wanita itu. Jika wanita itu memanggilnya oppa, itu artinya wanita itu mengenalnya dengan baik.

Tapi kenapa saat Jonghyun bertanya apakah wanita itu kenal dengannya justru wanita itu berkata kalau ia baru bertemu dengan Jonghyun? Itu aneh.

Tiba-tiba sakit kepala menyerang kepala Jonghyun. Ia memegangi kepalanya. Inilah yang terjadi jika ia berpikir terlalu keras.

Jonghyun mendongakkan kepalanya ketika sakit kepala hilang dari kepalanya. Jika ia terus memikirkan wanita itu, ia tidak akan bisa bekerja dengan baik. Mungkin wanita itu salah bicara atau saat itu telinganya tidak berfungsi dengan baik sehingga ia salah dengar.

Ya. Mungkin saja.

$#@#$

Matanya terarah ke televisi yang ada di hadapannya. Tapi pikirannya melalang buana kemana-mana.

Sunyoung tak dapat melupakan pertemuan mengejutkannya bersama Jonghyun. Ia sungguh-sungguh tak menyangka bisa bertemu lagi dengan pria itu.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati Sunyoung. Mengapa Jonghyun bisa bertemu dengannya? Bukankah ia sudah mati?

Sunyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin pria yang ia temui kemarin mirip dengan Jonghyun. Dan kebetulan namanya juga Jonghyun.

$#@#$

Hatinya tidak tenang meskipun ia berusaha untuk mengabaikan wanita itu. Sekuat tenaga ia melakukannya, namun itu sia-sia saja. Ia tetap mengingat wanita itu dengan baik.

Jonghyun menelungkupkan kepalanya di antara kedua tangannya. Ia sedang dilema sekarang. Ia yakin betul wanita yang ditemuinya beberapa minggu yang lalu di Kwanggi mengenalnya dengan baik. Dan ia ingin kembali ke Seoul untuk mencari petunjuk tentang wanita itu. Tapi ada satu rintangan yang belum bisa ia lewati. Ijin dari ibunya.

Ia tahu hal ini sangat kekanak-kanakan. Hanya untuk pergi ke kampung halamannya ia harus mendapatkan ijin dari ibunya. Padahal ia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Sungguh hal yang sangat kekanak-kanakan dan tidak masuk akal.

Excuse me.”

Tiba-tiba pintu terbuka. Jonghyun melihat asistennya, Sarah Jansen, berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa dokumen.

I’m sorry if I distrube you.” (maaf jika saya menganggu Anda)

“Oh. It’s fine. Why you come to my office?” (kenapa kamu datang kesini?)

There is some documents that you must read and sign it.” (ada beberapa dokumen yang harus Anda baca dan tanda tangani.)

Okay. Bring them to me.” (bawa dokumen itu kesini.)

Jonghyun membaca dokumen yang diberikan asistennya dengan cepat, lalu menandatanganinya. Setelah selesai, ia memberikannya pada asistennya.

Here it is.” (nih.)

Sarah menerimanya lalu meneliti (?) dokumen itu satu persatu. Mungkin saja ada satu dokumen yang belum ditandatangani.

Okay, Sir.” Sarah menaruh dokumen-dokumen yang dibawanya ke dalam sebuah amplop coklat besar. “Oh yeah. You have an appointment with Mr. Adams and Mr. Jo next week. Monday, 4 p.m. at Seoul International Hotel.” (Anda punya pertemuan dengan Mr. Adams dan Mr. Jo minggu depan. Senin, jam 4 sore di Seoul International Hotel.)

Mendengar kata-kata Seoul, Jonghyun tersenyum lebar. Ia punya kesempatan untuk mencari petunjuk tentang wanita misterius itu setelah meeting.

Okay. Thanks for your information. By the way, Mr. Jo is your husband right?” (Makasih buat infonya. Btw, Mr. Jo itu suami kamu kan?)

Sarah tersenyum malu. “Yeah. We married one month ago.” (Ya. Kami menikah sebulan yang lalu)

Jonghyun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmm. I didn’t come to your marry because I have a meeting in Birmingham. Sorry.” (saya gak datang ke pernikahanmu karena saya punya meeting di Birmingham.)

It’s okay, Sir. I have to do my work, Sir. Excuse me.” (itu tidak masalah. Saya punya pekerjaan yang harus saya selesaikan. Permisi.) Sarah pergi dari kantor Jonghyun.

Setelah menunggu Sarah pergi, Jonghyun bangkit dari duduknya lalu berjoged ria ala Briptu Norman (?)

“Yippi!!”

$#@#$

“Yippi!!”

Sarah mendengar suara teriakan Jonghyun dari luar. Ia menatap pintu kantor bosnya dengan keheranan.

What’s wrong with him?” (Ada apa dengan dia?) “It’s not usually. He never talkabout my marry or my life. Hah… I think he is going crazy because of his busy work.” (Ini tidak seperti biasanya. Dia tidak pernah bicara tentang pernikahan saya atau hidup saya. Hah… Kayaknya dia mau gila karena pekerjaannya yang sibuk.)

$#@#$

A week later …

Jonghyun menatap pemandangan kota Seoul di sore hari. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Beberapa jam yang lalu ia tiba di Seoul dan langsung melakukan meeting dengan Tuan Adams dan Tuan Jo. Dan setelah itu ia langsung mencari petunjuk tentang masa lalunya.

Ia pergi ke rumah orang tuanya dulu. Ia menemukan beberapa dokumen lama di kamarnya. Dan ia menemukan sebuah kartu nama.

Jonghyun menatap kartu nama yang dipegangnya.

Choi Minho

Gyunji, Blok A 14 – Seoul

082-09098744

Ia yakin kalau orang bernama Choi Minho adalah teman lamanya.

$#@#$

Ternyata pengungkapan masa lalunya tidak semudah yang ia bayangkan.

Jonghyun baru saja pergi ke Gyunji, tempat tinggal Minho. Tapi setelah ia sampai disana, ia diberitahu jika Minho telah pindah ke Myunggeong. Terpaksa Jonghyun harus pergi lebih jauh.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika Jonghyun sampai di Myunggeong. Jonghyun turun dari mobil lalu berjalan menuju sebuah rumah. Rumah itu bercat putih dan cukup besar. Sepertinya Minho adalah orang yang ekonominya baik.

Tok tok tok!

Jonghyun mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian, pintu dibuka dan tampak seorang wanita cantik berambut panjang. Ia terlonjak kaget ketika melihat Jonghyun.

“Kyyaaa!!” Wanita itu terjatuh ke lantai.

“Kau kenapa?” tanya Jonghyun dengan bingung.

Tiba-tiba datang seorang lelaki bertubuh tinggi.

“Soojung-ah? Ada apa?” Ia membantu wanita itu berdiri lalu menatap Jonghyun dengan tatapan tidak percaya.

“Jonghyun hyung? Ke… kenapa kau ada disini? Bukankah kau sudah meninggal?”

$#@#$

“Oh. Jadi kau masih hidup?”

Walaupun kata-kata itu sedikit nyelekit di hatinya, Jonghyun hanya mengangguk. Minho mengetuk jarinya di dagunya.

“Hm. Jadi setelah kecelakaan itu, ibumu langsung membawamu ke California?”

“Iya.”

“Lalu mengapa ibumu membuat ‘pemakaman’mu?” tanya Minho.

Jonghyun menggeleng. Ia saja kaget mendengar cerita temannya itu. Ternyata selama ini status Jonghyun di Seoul adalah ‘sudah wafat’.

“Aku tidak tahu,” kata Jonghyun pelan.

Tiba-tiba Soojung datang membawa dua cangkir teh hangat dan sepiring waffle yang terlihat lezat.

“Silahkan dinikmati,” kata Soojung sambil tersenyum. “Maaf tadi aku berteriak. Aku kira kau hantu Jonghyun oppa.

Jonghyun tersenyum. “Tidak apa-apa. Wajar saja kalau kau berteriak.”

Soojung tersenyum. Setelah menaruh jamuan itu di meja, ia segera pergi ke dalam.

“Dia istrimu?” tanya Jonghyun sambil menatap Minho.

“Ya. Dia cantik ‘kan?” canda Minho.

“Ya.” Jonghyun termenung sebentar. “Apa aku juga punya istri?”

“Tentu saja kau punya! Kau benar-benar lupa segalanya ya?”

Jonghyun mengangguk pelan. “Iya. Aku tidak ingat semua kejadian setelah kecelakaan itu. Siapa istriku?”

“Istrimu bernama Sunyoung,” jawab Minho. “Kalian menikah sekitar lima tahun yang lalu.”

“Bagaimana rupa istriku?” tanya Jonghyun. Ia nampak tidak puas dengan jawaban temannya. Hasratnya sudah menggebu-gebu untuk segera membongkar masa lalunya.

“Dia tidak terlalu tinggi, kulitnya putih, dan rambutnya dicat pirang. Ahh… Entahlah hyung. Sudah lama aku tidak bertemu Sunyoung. Terakhir kali kudengar ia menikah lagi.”

Mata Jonghyun membulat ketika mendengar penjelasan Minho.

“Apa? Menikah lagi? Kenapa?” tanya Jonghyun.

Minho mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Aku rasa ia percaya bahwa kau sudah meninggal.” Minho menatap Jonghyun dengan tatapan simpati. “Mianhe.”

Jonghyun menatap Minho sambil tersenyum. “Tidak apa-apa. Kau tahu dimana ia tinggal?”

“Setahuku, setelah kau ‘meninggal’, Sunyoung pindah ke rumah barunya. Ia juga sering mampir ke rumah orang tuanya di Kwanggi jika liburan tiba.”

Kwanggi? Bukankah itu adalah tempat dimana ia bertemu wanita misterius kemarin?

“Rumah orang tuanya—tepatnya Kwanggi bagian mana?” tanya Jonghyun.

“Aku tidak tahu, hyung. Aku juga mendengar itu dari teman-temannya.”

Jonghyun mengangguk. “Baiklah. Terima kasih atas infonya.” Ia bangkit lalu menjabat tangan Minho. “Aku harus pergi. Kamsahamnida.”

Minho tersenyum. “Sama-sama. Semoga kau mendapatkan ingatanmu kembali!”

$#@#$

Jonghyun tak habis pikir mengapa ibunya menyembunyikan semuanya selama ini. Tentang masa lalunya, teman-temannya, dan ‘pemakaman’ dirinya. Apa sebenarnya tujuan ibunya? Mengapa ibunya melakukan semua ini? Hah… Entahlah. Ia sendiri juga tidak tahu.

Jonghyun mengepalkan tangannya. Setelah ia berhasil membongkar masa lalunya, ia akan mencari tahu tentang gelagat ibunya yang aneh.

Tiba-tiba HP Jonghyun berbunyi. Ia segera membukanya.

Kau sedang dimana Nak?

Itu pasti dari ibunya. Jonghyun memutar matanya lalu mengetik dengan sangat cepat.

Seoul.

Tak lama kemudian, HP-nya berbunyi lagi.

Kapan pulang?

Jonghyun mendecak kesal. Sebenarnya ibunya kenapa sih? Kenapa setiap dirinya sedang berada di Korea Selatan, ibunya selalu cemas? Ibunya selalu saja melakukan hal-hal yang berlebihan jika ada hubungannya dengan Korea Selatan.

Karena kesal, Jonghyun melempar HP-nya ke jok mobil belakang. Ia mengerem mobilnya di depan sebuah rumah mewah lalu masuk ke dalam rumah itu.

Sayang sekali, pikir Jonghyun. Rumah sebagus dan semewah ini ditelantarkan begitu saja. Kenapa tidak dijual? Itu lebih baik daripada tidak dirawat.

Jonghyun masuk ke sebuah ruangan yang tampak berantakan. Nampaknya itu adalah kamarnya dulu. Sebenarnya Jonghyun tidak yakin dapat menemukan petunjuk masa lalunya di rumahnya yang dulu. Karena ia sudah pernah kesini sekitar sebulan yang lalu dan tidak mendapatkan apa-apa. Tapi karena ia benar-benar buta sekarang, ia memutuskan untuk pergi ke rumah ini.

Jonghyun berhenti tepat di depan sebuah cermin besar yang menempel di lemari. Ia menatap bayangan dirinya. Ia bisa menangkap makna kebingungan di matanya. Jonghyun tahu ia sedang berada di jurang pemisah antara kehidupannya yang sekarang dan masa lalunya yang gelap. Dan ia sedang bingung. Bingung bagaimana caranya menyeberang dari kehidupannya yang sekarang ke masa lalunya yang penuh misteri.

Tiba-tiba saat Jonghyun menundukkan kepalanya, ia melihat sesuatu menyembul (?) di kolong lemari. Ia berjongkok untuk mengambilnya. Ternyata sebuah kardus berukuran sedang yang diselimuti debu. Jonghyun membuka kardus itu. Alisnya terangkat ketika melihat apa yang ada di dalam kardus itu. Beberapa lembar kertas berwarna hitam putih yang nampak seperti undangan. Ia membaca undangan itu.

Kim Jonghyun & Park Sunyoung

Ia yakin kalau orang bernama Park Sunyoung adalah istrinya.

Jonghyun kembali menatap lemari besar yang ada dihadapannya. Entah apa yang merasukinya, Jonghyun membuka lemari itu. Tetapi karena dikunci, Jonghyun membukanya dengan paksa.

Brakk!

Pintu lemari terbuka lebar.

Jonghyun membelalakkan matanya ketika melihat isi lemari itu. Ada sepasang baju pengantin. Satu gaun berwarna putih untuk pengantin wanita dan satu lagi jas hitam untuk pengantin pria. Jonghyun mengelus kedua baju pengantin itu. Perasaannya campur aduk sekarang.

Ya Tuhan… Tolong kembalikan ingatanku sekarang…

Jonghyun menatap sesuatu yang berada di dasar lemari. Ia mengambil benda itu. Ternyata itu adalah sebuah album foto. Ia membuka satu persatu halaman album itu.

Halaman pertama memperlihatkan sebuah selca antara ia dan Minho di sebuah bar. Dibawahnya terdapat sebuah foto lagi. Ia bersama Minho, dan tiga orang pria yang tidak ia kenal—satu bermata sipit, satu berwajah seperti anak-anak dan satu lagi berwajah unik (?) serta berambut pirang—sedang menenggak botol cola.

Jonghyun kembali membuka halaman selanjutnya. Banyak sekali foto-foto masa lalunya. Ia hanya tersenyum.

Tangannya berhenti di sebuah halaman yang menunjukkan foto dirinya bersama seorang wanita. Wanita itu pendek, berambut pirang dan pipinya agak sedikit chubby. Persis seperti wanita yang dulu ia temui di Kwanggi. Jonghyun sudah mengira wanita itu punya hubungan dengannya.

Ia kembali membuka halaman selanjutnya. Ia terlonjak kaget. Sebuah foto pernikahan. Ia sedang berdiri dan disampingnya ada seorang wanita memakai gaun putih sambil membawa sebuket bunga. Walaupun wajahnya tidak terlalu jelas karena foto itu diambil dari jarak jauh, Jonghyun dapat menyadari kalau wanita itu adalah wanita yang ia temui di Kwanggi.

“Arrggghhh!” Tiba-tiba saja rasa sakit menyerang otak Jonghyun. Ia menjatuhkan album foto itu dan memegangi kepalanya. Kemudian semuanya menjadi gelap.

$#@#$

Ryeowook menatap wajah istrinya yang sedang duduk disamping dengan gelisah.

“Kau kenapa?” tanya Ryeowook.

“Aku? Oh… Aku baik-baik saja,” jawab Sunyoung sambil tertawa.

Ryeowook mengangkat alisnya. Kenapa Sunyoung tertawa? Ahh… Ini pasti masalah tentang orang yang ditemui Sunyoung beberapa minggu yang lalu.

Sunyoung bercerita kalau ia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Jonghyun saat mereka pergi ke Kwanggi. Dan Sunyoung merasa gelisah atas pertemuan itu. Ryeowook sudah berusaha untuk menenangkannya, tetapi tetap saja Sunyoung merasa gelisah.

“Apa karena orang yang kau temui kemarin?”

Sunyoung menatap Ryeowook sambil tersenyum. “Tidak kok. Sudah kubilang, aku baik-baik saja.”

Walaupun Sunyoung tersenyum padanya, Ryeowook tahu bahwa itu adalah senyum palsu.

“Besok kita akan ke Kwanggi,” kata Ryeowook tiba-tiba.

“Eh? Kenapa?” tanya Sunyoung heran.

“Kupikir kau harus menenangkan dirimu—atau setidaknya melupakan kegelisahanmu yang berlebihan itu. Mungkin saja disana kau akan bertemu dengan orang itu lagi. Kau bisa menanyakan secara langsung padanya apakah ia memang Jonghyun yang kau kenal. Jadi kau tidak merasa gelisah lagi,” jelas Ryeowook.

Sunyoung menatap Ryeowook. “A… aku rasa itu ide yang bagus.”

Ryeowook tersenyum. “Baiklah. Besok kita akan ke Kwanggi.”

$#@#$

Jonghyun menatap pemandangan kota Seoul dari balkon rumahnya. Kini ia ingat semuanya. Ia ingat teman-temannya, keluarganya, istrinya—termasuk masalah antara dia, istrinya dan ibunya.

Masih jelas di ingatannya ketika ia menikah dengan Sunyoung di gereja, hanya ibunya yang tidak datang. Masih jelas di ingatannya ketika ia berseteru dengan ibunya tentang pernikahannya dengan Sunyoung. Dan masih jelas di ingatannya ketika Sunyoung memberitahunya bahwa ia hamil.

Jonghyun menundukkan kepalanya. Sekarang bagaimana kabar anaknya itu? Dia laki-laki atau perempuan? Berwajah tampan atau cantik? Apakah dia sudah sekolah? Lalu bagaimana dengan Sunyoung?

Pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak dari hatinya. Dan Jonghyun tidak tahu apa jawabannya.

Sebulir air mata jatuh dari sudut mata Jonghyun. Ia tidak menyangka hidupnya akan setragis ini. Kehilangan semua memori masa lalu dan mendapatkannya kembali ketika semuanya sudah terlambat. Terlambat.

Mengapa ibunya sekejam ini? Mengapa ibunya tega untuk memisahkan dia dengan Sunyoung? Apa ibunya tidak sadar kalau Sunyoung sedang mengandung anaknya?

Jonghyun menghapus air matanya. Ia akan mencari tahu jawaban itu sebelum terlalu terlambat.

$#@#$

Sebenarnya Sunyoung tidak yakin kalau orang itu akan kembali lagi ke sini. Dan menurutnya, usul Ryeowook tidak terlalu masuk akal. Tapi karena kegelisahan itu terus menganggunya, Sunyoung memutuskan untuk mengikuti usul Ryeowook.

Sunyoung hanya duduk di bangku taman sambil memandangi anaknya yang sedang sibuk bermain. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Sekarang ia tidak peduli. Ia tidak peduli apakah akan bertemu orang itu lagi atau tidak. Karena ia tidak mau mempermasalahkan masa lalunya. Ia hanya mau menatap masa depan yang harus dijalaninya. Masa lalu ya masa lalu. Harus dilupakan.

“Hai.”

Merasa ada yang menyapanya, Sunyoung mengalihkan tatapannya. Senyum diwajahnya hilang ketika menyadari siapa orang itu.

Anneyeong. Tak kusangka kita akan bertemu lagi disini,” kata orang itu sambil tersenyum.

Sunyoung memaksakan seulas senyum. “Ya. Aku juga kaget melihat kau disini, Jonghyun-ssi.”

Dia benar-benar Jonghyun oppa, batin Sunyoung.

Jonghyun duduk tepat di sebelah Sunyoung. “Kau sendirian?”

“Tidak. Aku—”

Umma!” Tiba-tiba Hyunsun berlari ke arah Sunyoung lalu memeluknya.

Sunyoung tersenyum lalu memangku anaknya. “Kau mau apa?”

“Aku mau es krim,” kata Hyunsun. Matanya beralih ke Jonghyun. “Ahjussi siapa?”

Dia ayahmu, batin Sunyoung. “Dia teman umma. Katanya kau mau beli es krim? Ini uangnya. Kau bisa beli sendiri ‘kan?”

Hyunsun mengangguk lalu mengambil uang yang diberikan Sunyoung. “Anneyeong umma. Anneyeong ahjussi.” Ia berlari ke kedai es krim.

“Dia anakku,” kata Sunyoung.

“Anakmu atau anak kita?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

“Eh?” Sunyoung menatap kaget ke arah Jonghyun. Apa maksud perkataannya tadi? Sunyoung tertawa paksa. “Itu tidak mungkin, Jonghyun-ssi. Aku baru mengenalmu. Mana mungkin—”

“Aku serius, Sunyoung,” ucap Jonghyun sambil memandang Sunyoung.

Sunyoung melihat keseriusan di mata Jonghyun. Sesuatu yang pernah dilihatnya, ketika Jonghyun menikahinya di gereja. Ya. Tatapan yang sama.

“Ba… bagaimana kau tahu namaku?” tanya Sunyoung.

Jonghyun membelai pipi Sunyoung lembut. “Kau benar Park Sunyoung ‘kan? Istriku lima tahun yang lalu.”

Tanpa perintah apa-apa, sebulir air mata turun dari sudut mata Sunyoung. Ini bukan air mata kesedihan. Ini air mata kebahagiaan. Jika saja Sunyoung tidak sadar, ia akan memegang tangan kanan Jonghyun yang sedang membelai pipinya. Ya Tuhan… Betapa ia rindukan sentuhan lembut itu.

“Kau kenapa?”

Sunyoung menatap mata Jonghyun lalu menghapus air matanya cepat. Ia buru-buru bangkit. “Aku… aku harus pergi, Jonghyun-ssi.”

“Jangan bohongi masa lalumu, Sunyoung.”

Sunyoung tertegun mendengar perkataan Jonghyun. Ia masih berdiri di tempat yang sama.

“Masa lalu tidak bisa diubah—apalagi dibohongi.”

Ya. Jonghyun benar. Bagaimanapun masa lalu tidak dapat diubah. Di masa lalu ia adalah istri Jonghyun. Dan itu tidak dapat diganti.

Sunyoung kembali duduk. “Ya. Aku memang Sunyoung—istrimu lima tahun yang lalu.” Ia menatap Jonghyun. “Apa tujuanmu kemari?”

“Aku—”

“Kalau kau menginginkanku untuk kembali, itu tidak mungkin,” potong Sunyoung. “Aku sudah punya suami.”

“Dan akulah suamimu,” kata Jonghyun.

“Itu lima tahun yang lalu. Sebelum kau meninggal,” kata Sunyoung pelan. Ia menatap wajah Jonghyun. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Jonghyun menghela napas. “Kau tahu sendiri ‘kan? Lima tahun yang lalu kita mengalami kecelakaan. Setelah kecelakaan itu, ibuku langsung membawaku ke California. Dan ia membuat kebohongan yang mengatakan bahwa aku sudah meninggal. Ia merencanakan semuanya.”

“Jika itu yang terjadi, mengapa baru sekarang kau mencariku?” tanya Sunyoung dengan nada sedikit terisak.

“Aku memang selamat. Ya. Tapi sayangnya ingatanku hilang. Aku lupa segala hal. Aku lupa siapa namaku, orang tuaku, tempat tinggalku… dan lupa akan dirimu. Lalu aku berusaha untuk membongkar masa laluku. Dan aku baru bisa melakukannya kemarin. Aku ingat semua memoriku. Dan baru aku ingat tentang dirimu,” jelas Jonghyun.

Sunyoung hanya terdiam mendengar penjelasan Jonghyun. Semuanya masuk akal. Sangat masuk akal. Tapi sekarang sudah terlambat untuk kembali ke masa lalu. Ia sudah punya suami. Suaminya yang mencintainya dengan sepenuh hati. Meskipun Sunyoung tidak bisa membalasnya.

“Bagaimana perasaanmu? Maksudku setelah ingatanmu kembali.”

Jonghyun tersenyum kecil. “Senang. Ya. Tentu saja aku merasa senang. Aku bisa kembali mengingat kembali masa laluku yang berharga.” Senyum hilang dari wajahnya. Ia menatap wajah Sunyoung dengan tatapan sendu. “Dan juga sedih. Ketika aku menyadari bahwa aku sudah terlambat.”

Sunyoung membalas tatapan Jonghyun. Badannya bergetar dan air mata turun dari sudut matanya. “Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku tidak bisa menjaga cinta kita berdua. Aku akui, aku memang masih mencintaimu. Tapi beban yang kutanggung terlalu besar. Dan aku butuh seseorang untuk berbagi beban ini.”

“Lalu kenapa kau mau menikah dengan pria lain meski kau masih mencintaiku?” tanya Jonghyun sambil menghapus air mata Sunyoung.

“Satu-satunya alasan kenapa aku mau menikah dengan Ryeowook oppa adalah karena marganya Kim,” Sunyoung menatap wajah Jonghyun. “Seperti marga keluargamu. Aku ingin—meskipun aku menikah dengan pria lain, anak yang kulahirkan bermarga sama seperti ayah kandungnya. Hanya itu alasan yang kupunya.”

Refleks, Jonghyun memeluk Sunyoung. Ia ikut merasakan kegelisahan yang melanda Sunyoung. Ikut merasakan beban yang dipikul Sunyoung. Ikut merasakan cinta yang mengalir di sepanjang aliran darahnya.

“Aku tahu bagaimana perasaanmu. Dan kau tidak perlu merasa bersalah karena semua itu bukan salahmu. Yang terpenting, kau telah menjaga anak kita dengan baik.” Jonghyun melepas pelukannya lalu tersenyum. “Kau tidak usah memperdulikan aku. Kembalilah ke suamimu yang sekarang. Karena ia sudah mau berbagi beban denganmu.”

Sunyoung menunduk. “Maafkan aku.”

“Sudah kubilang kau tidak usah minta maaf.”

Keduanya terdiam untuk sesaat. Jonghyun menatap Hyunsun yang sedang bermain ayunan sambil memegang es krim.

“Ngomong-ngomong, siapa nama anak kita?” tanya Jonghyun sambil menatap Sunyoung.

Sunyoung mengangkat kepalanya. Ia tersenyum. “Hyunsun. Itu singkatan dari nama kita berdua, JongHYUN SUNyoung.”

Jonghyun tersenyum. “Nama yang bagus.”

Suasana kembali hening.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki.

“Sunyoung!”

Sunyoung mengalihkan pandangannya. Matanya membulat ketika melihat siapa yang datang.

“Ryeowook oppa?” ucapnya pelan.

Jonghyun melirik Sunyoung. Matanya berpindah dari Sunyoung ke wajah Ryeowook. Ia dapat melihat sesosok pria dengan wajah sedikit… uhm… kekanak-kanakan. Tinggi badannya setara dengan Jonghyun.

Itu pasti ‘dia’, batin Jonghyun.

“Sunyoung, kita harus kembali ke Seoul sekarang. Besok aku ada rapat. Aku rasa kau bisa mengobrol dengan temanmu…” Ucapan Ryeowook terpotong ketika melihat Jonghyun.

“Hai,” Jonghyun bangkit dari duduknya. “Aku Lee Daewoo. Teman lama Sunyoung. Kau pasti suaminya.” Ia tersenyum, meskipun kata-kata suaminya membuat hatinya sakit. “Oh ya, Sunyoung,” Jonghyun menatap Sunyoung. “Aku harus pergi sekarang. Aku baru ingat aku masih punya banyak pekerjaan. Anneyeong.”

Jonghyun melangkahkan kakinya. Matanya masih tertuju pada Sunyoung. Ia melambaikan tangannya. “Oh ya, Ryeowook… Tolong jaga Sunyoung ya,” teriak Jonghyun. Ia tersenyum. Aku percayakan dia padamu.

Sambil memantapkan hatinya, Jonghyun pergi dari tempat itu. Tempat dimana ia bertemu Sunyoung. Tempat dimana ia mulai menemukan jejak masa lalunya. Tempat dimana ia bisa bertemu dengan buah cintanya. Dan tempat dimana ia baru menyadari kalau ia punya cinta yang terlupakan.

$#@#$

Rasanya Ryeowook tidak tahan melihat istrinya yang terus murung. Baru pertama kali ia melihat Sunyoung seperti itu. Ia yakin, semua ini karena orang tadi. Orang tadi pasti adalah Kim Jonghyun—meskipun orang tadi berkata kalau namanya Lee Daewoo. Ryeowook sudah pernah melihat orang itu di album foto milik Sunyoung. Dan orang itu persis seperti yang ada di foto.

Ryeowook memang mencintai Sunyoung. Dan ia ingin memiliki Sunyoung seutuhnya. Tapi sayangnya Sunyoung tidak bisa menghapus rasa cintanya pada Kim Jonghyun. Itu membuat Ryeowook tersiksa. Tapi yang lebih membuatnya tersiksa lagi adalah melihat Sunyoung bersedih.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ryeowook ketika Sunyoung duduk di sebelahnya.

Sunyoung hanya mengangguk pelan. Ia menyalakan televisi dan mengganti channel berulang-ulang. Karena tidak ada acara yang bagus, Sunyoung mematikan televisi. Padahal tadi ada acara drama kesukaannya. Tetapi entah kenapa Sunyoung sedang tidak ingin menonton.

Ryeowook memperhatikan istrinya yang nampak tidak seperti biasanya. Ya Tuhan… Ia sudah tidak tahan!

“Sunyoung, sebenarnya ada apa?” tanya Ryeowook.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Sunyoung datar.

“Apa ini semua karena Kim Jonghyun yang kau temui kemarin?”

Sunyoung menatap Ryeowook. “Bukan. Lagipula, teman yang kemarin namanya Lee Daewoong.”

Rasanya Ryeowook sudah tidak mau berpura-pura lagi. “Bukankah orang kemarin mengatakan bahwa namanya Lee Daewoo?”

Sunyoung terlonjak kaget. Ia menatap Ryeowook sesaat lalu menunduk.

“Pergilah.”

$#@#$

“Pergilah.”

Sunyoung kaget mendengar perkataan Ryeowook. Apakah Ryeowook mengusirnya?

“Aku tidak tahan melihatmu terus bersedih. Lebih baik kau pergi dan menemui Jonghyun,” kata Ryeowook. “Bersamaku justru akan membuatmu semakin tidak baik.”

Oppa, aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya,” ucap Sunyoung. Ia berusaha untuk tertawa.

“Kau memang tidak punya hubungan dengannya. Tapi kau masih mencintainya.”

Apa yang dikatakan Ryeowook memang seratus persen benar. Ya. Ia masih mencintai Jonghyun. Ia tidak mungkin bisa mengelak akan hal itu. Tapi ia tidak mau menyakiti Ryeowook yang selama ini sudah peduli padanya.

“Aku tidak bisa kembali padanya, Oppa,” Sunyoung berkata dengan nada bergetar.

“Kenapa? Bukankah kau mencintainya?”

“Sekalipun aku mencintainya, aku tetap tidak bisa bersamanya. Ibunya tidak merestui hubungan kami sejak dulu.”

Ryeowook memegang bahu Sunyoung. “Bawalah Hyunsun ke hadapan beliau. Aku yakin, setelah melihat Hyunsun, hatinya akan luluh. Beliau juga seorang ibu, jadi ia pasti mengerti perasaanmu.”

Sunyoung menatap Ryeowook. Ya Tuhan… Ia ingin sekali bisa mencintai pria yang ada di hadapannya ini. Pria ini begitu mencintainya dengan tulus. Dia juga rela berkorban untuk dirinya. Ingin rasanya Sunyoung membalas semua cinta kasih Ryeowook. Tapi sayangnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah menyangkut hati.

Gomawo…” ucap Sunyoung sambil meneteskan air mata.

Ryeowook hanya tersenyum.

$#@#$

“Apa yang telah umma lakukan?!”

Kata-kata itulah yang pertama kali meluncur dari mulut Jonghyun saat ia menelepon ibunya.

Apa yang kau katakan, Jonghyun? Umma tidak mengerti.”

“Tega-teganya umma berbuat seperti itu pada Sunyoung!”

Aku melakukan itu demi kebaikanmu, Jonghyun.”

Jawaban ibunya membuat Jonghyun menjadi bertambah geram. Bagaimana perbuatan menyakiti orang lain disebut sebagai kebaikan?

“Apa umma tidak tahu kalau saat itu Sunyoung sedang hami?!”

Kau pasti bohong. Jangan menggunakan itu sebagai alasan.

“Tapi dia benar-benar hamil! Dia sedang hamil tiga bulan! Aku memang tidak memberitahu umma soal kehamilan itu.”

A… apa?! Kau tidak bercanda ‘kan?

“Apa aku harus bilang ribuan kali untuk meyakinkanmu?” tanya Jonghyun dengan nada sinis.

“Umma…. Umma tidak tahu kalau Sunyoung sedang hamil.

“Jangan gunakan itu sebagai alasan,” ucap Jonghyun meniru kata-kata ibunya. “Apa umma tidak tahu bagaimana perasaan Sunyoung? Ditinggal suaminya dengan segala kebohongan keji yang dibuat oleh mertuanya sendiri ketika dirinya sedang hamil. Dan sekarang ia merawat anakku dengan penuh kasih sayang walaupun kenangan sedih terus menghantuinya. Apakah umma benar-benar tega pada Sunyoung?!” bentak Jonghyun. Ia benar-benar tidak tahan sekarang. Baru kali ini dia membentak ibunya sendiri.

“Umma minta maaf.”

Jonghyun menghela napas dengan keras. “Setelah apa yang umma lakukan, umma baru minta maaf? Seharusnya umma melakukan itu sejak lima tahun yang lalu! Aku… aku benar-benar kecewa pada umma. Tidak pernah kusangka ibu yang sangat kusayangi selama ini tega menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri dan kebahagiaan cucunya.”

Jonghyun, umma…”

Tut tut….

Dengan keras Jonghyun mematikan teleponnya. Ia menendang barang-barang yang ada di sekitarnya tanpa peduli ia akan dimarahi pihak hotel. Kemarahannya sudah mencapai puncaknya. Ia benar-benar tidak menyangka ibunya akan melakukan semua itu.

Jonghyun jatuh berlutut di lantai. Air mata turun dari pelupuk matanya.

Ya Tuhan… Ijinkan aku untuk memutar ulang waktu…

$#@#$

Setelah hampir tiga minggu melewati proses sidang perceraian yang rumit, Sunyoung kembali ke rumah orang tuanya. Pada awalnya, orang tua Sunyoung menentang perceraian Sunyoung dengan Ryeowook. Tetapi setelah Sunyoung menjelaskan alasannya untuk bercerai dengan Ryeowook secara baik-baik, orang tuanya mengerti.

Meskipun begitu, sebenarnya memberi penjelasan pada Hyunsun-lah yang paling sulit untuk dilakukan. Sunyoung sempat kebingungan bagaimana ia menjelaskan perceraiannya dengan Ryeowook.

Apa maksud umma dengan bercerai?” tanya Hyunsun beberapa hari sebelum Sunyoung mengajukan perceraian ke pengadilan.

Err… Umma akan berpisah dengan appa,” ucap Sunyoung sembari memutar otaknya.

Kenapa?” tanya Hyunsun dengan mata polos.

Karena umma sudah menemukan appa-mu yang sesungguhnya.”

Jadi appa-ku selama ini bukan appa-ku yang sesungguhnya?”

Sunyoung mengangguk pelan. “Ya, Hyunsunnie. Kau ingat teman umma yang kau temui di taman?”

Aku ingat,” jawab Hyunsun sambil mengangguk.

Dialah appa-mu yang sesungguhnya,” ucap Sunyoung.

“Jeongmal? Tapi kenapa baru sekarang umma mengatakannya?”

Kalaupun aku bercerita sekarang, kau tidak akan mengerti. Jika kau sudah besar, aku akan mengatakan alasannya padamu, batin Sunyoung. “Kau akan mengerti suatu hari nanti.” Sebuah senyum kecil menghiasi wajah Sunyoung.

Betapa beruntungnya Sunyoung memiliki anak yang pengertian dan tidak terlalu banyak bertanya. Sifat anaknya itu sepertinya diwarisi dari ayahnya.

Dan untuk masalahnya dengan Jonghyun, Sunyoung telah memikirkan pemecahannya. Ia akan mencari Jonghyun dan menjelaskan segalanya. Ia tahu ia tidak mungkin meminta Jonghyun untuk kembali dengannya. Bukannya tidak mungkin. Hanya saja Sunyoung merasa kalau itu tidak pantas untuk dilakukannya.

$#@#$

Orang yang pertama kali dikunjungi Sunyoung adalah sahabat lama Jonghyun, Choi Minho.

“Sunyoung-ssi! Sudah lama tidak bertemu.”

Sunyoung tersenyum. “Iya.”

“Ada keperluan apa kau datang ke sini? Oh… Pasti kau mencari Jjong hyung,” tebak Minho.

“Memang itu tujuanku ke sini. Apakah kau tahu dimana dia sekarang?” tanya Sunyoung.

“Ya. Dia tinggal di apartemen Dongshan.”

“Terima kasih, Minho-ssi.”

$#@#$

Rasa gugup memenuhi diri Sunyoung. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Berdiri di depan pintu apartemen nomor 778 itu membuat seluruh badannya menjadi dingin. Tapi untunglah, ada sebuah tangan hangat yang menggenggam pergelangan tangan Sunyoung.

Umma, sebenarnya kita mau kemana?” tanya Hyunsun. “Kenapa dari tadi kita terus berdiri di sini?”

Sunyoung berjongkok di depan Hyunsun lalu menggenggam tangannya. “Umma ingin bertemu dengan seseorang.” Ia bangkit lagi lalu mengetuk pintu dengan pelan.

Lama tak ada jawaban.

Sunyoung berusaha untuk mencari bel. Akhirnya ia menemukan bel yang tersembunyi. Ia menekannya sekali. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah kaki. Sunyoung mundur selangkah ketika pintu mulai dibuka.

“Siapa? Kau—”

Sunyoung menatap orang yang ada di hadapannya. “Ma… maaf aku datang di saat seperti ini. Aku tahu aku tidak seharusnya menemuimu, tapi—”

Tiba-tiba saja orang itu memeluknya. Sunyoung mengerjap kaget. Saking kagetnya, hampir saja ia melepas tangan Hyunsun.

“Jonghyun oppa…”

$#@#$

Betapa kagetnya Jonghyun ketika ia melihat Sunyoung berdiri di depan apartemennya. Rasa rindu segera membanjiri dirinya.

“Ma… maaf aku datang di saat seperti ini. Aku tahu aku tidak seharusnya menemuimu, tapi—”

Perkataan Sunyoung terpotong olehnya. Jonghyun langsung memeluk wanita yang ada di hadapannya ini. Ia tak mau kehilangan Sunyoung lagi.

“Jonghyun oppa…”

Hati Jonghyun berdebar dengan keras ketika mendengar Sunyoung menyebut namanya. Hatinya bertambah berdebar ketika merasakan tangan kiri Sunyoung melingkar di pundaknya dan Sunyoung menyandarkan kepalanya di bahu Jonghyun. Entah kapan ia terakhir kali merasa seperti itu.

Umma…”

Jonghyun melepaskan pelukannya lalu menatap anak kecil yang dibawa Sunyoung. Bukankah itu adalah anak yang pernah ia temui di taman? Anak Sunyoung dan… anaknya.

“Apakah ahjussi adalah ahjussi yang aku temui di Kwanggi?” tanya anak itu dengan nada imut.

“Iya,” Jonghyun berusaha menahan senyumnya.

Anak memiringkan kepalanya. “Berarti ahjussi adalah appa-ku yang asli.”

Akhirnya Jonghyun tidak dapat menahan senyumannya. Ia berjongkok dan menatap anak laki-lakinya itu. “Itu benar. Aku adalah appa-mu. Panggil aku Jonghyun appa.”

“Jonghyunnie appa,” tiru Hyunsun dengan menambahkan aegyo-nya.

“Aigoo… Anak appa lucu sekali,” ucap Jonghyun sambil membawa Hyunsun ke gendongannya. *gak enak bahasanya =.=*

“Masuklah ke apartemenku.”

$#@#$

“Aku senang kau mencariku.”

Sunyoung hanya tersenyum menanggapi perkataan ex suaminya itu.

“Terlebih kau membawa Hyunsun. Itu membuatku… merasa bahagia,” sambung Jonghyun.

“Sebenarnya, aku ke sini untuk menjelaskan sesuatu…” ucap Sunyoung pelan. Ia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia memainkan jarinya, sembari berpikir dan mengumpulkan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Jonghyun pun tampak sabar menunggu Sunyoung.

“Aku sudah memikirkan semuanya,” Sunyoung mulai berkata. “Aku telah bercerai dengan Ryeowook oppa.”

Ekspresi terkejut jelas terpasang di wajah Jonghyun. “Lalu? Apa kau ingin—”

“Tidak,” ucap Sunyoung memotong perkataan Jonghyun. “Sama sekali tidak,” jelasnya dengan nada tegas. “Aku datang ke sini bukannya aku ingin menuntut agar aku kembali bersamamu. Tapi itu bukan berarti bahwa aku tidak mencintaimu, bukan seperti itu. Aku hanya… aku ke sini hanya untuk membawa Hyunsun dan mendiskusikan sesuatu denganmu.”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Sunyoung,” ucap Jonghyun.

“Biarkan aku menjelaskannya lebih dahulu. Mungkin oppa ingin Hyunsun tinggal bersamamu. Setiap single parent pasti inginnya begitu ‘kan? Jadi, aku membolehkan Hyunsun untuk tinggal bersamamu beberapa hari, atau beberapa minggu. Setelah itu, Hyunsun akan tinggal denganku lagi. Setidaknya, kita bisa berbagi waktu dalam menjaga Hyunsun,” jelas Sunyoung. Ia menghela napas. “Itulah yang ingin kujelaskan padamu. Jadi bagaimana pendapatmu?”

“Maaf, Sunyoung. Sepertinya aku tidak bisa melakukan hal yang kau sarankan.”

“Oh?” Sunyoung tampak kaget. “Ba… baiklah.”

“Aku tidak terlalu suka menjaga anak sendirian dan menjadi single parent. Aku ingin menjadi orang tua yang sesungguhnya. Kehilangan ingatan tentang segalanya—terutama keluarga—itu adalah hal yang sangat buruk. Aku bahkan lupa bagaimana rasanya saat aku tahu kau sedang hamil. Apakah kau ingin—ketika ingatanku hampir seluruhnya kembali—aku merasakan bagaimana menjadi seorang single parent?” tanya Jonghyun.

Sunyoung nampaknya tidak terlalu paham arah pembicaraan Jonghyun.

“Aku sudah terlalu lama merasakan hidup seorang diri—tanpa orang-orang yang kucintai. Dan sekarang kau memintaku untuk menjadi single parent? Melakukan hal yang dilakukan ayah dan ibu olehku seorang diri? Aku tidak bisa melakukannya, Sunyoung…”

Sepertinya sekarang Sunyoung sudah bisa membaca arah pembicaraan Jonghyun. Jangan bilang kalau dia memintanya untuk…

“Menikahlah denganku, Park Sunyoung.”

Sunyoung tidak bisa berkata-kata. Seluruh sarafnya lumpuh. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan tentang anaknya, bukan untuk kembali bersama Jonghyun—meskipun ia juga menginginkan itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia hanya menatap Jonghyun dengan tatapan kosong.

“Hah?” Dan itulah yang keluar dari mulut Sunyoung.

“Ayolah, Sunyoung… Hyunsun juga pasti akan senang,” Jonghyun mengalihkan tatapannya ke arah Hyunsun yang sedang asyik menonton kartun di televisi. “Hyunsun, kau ingin tinggal bersama siapa? Umma atau appa?”

Hyunsun menolehkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan wajah polos. “Apa aku tidak bisa memilih kedua-duanya?”

Jonghyun tersenyum. Ia kembali menatap Sunyoung dengan tatapan puas. “Lihat? Hyunsun juga ingin kita bersama.”

“A-aku…”

“Apa kau tidak ingin kita memulai hidup bersama-sama lagi?” tanya Jonghyun. “Aku tahu bahwa kita harus memulainya dari nol. Tapi setidaknya, kita akan melakukannya bersama-sama.”

“Baiklah. Aku… aku mau menikah denganmu,” ucap Sunyoung. Ia tersenyum.

Tiba-tiba saja Jonghyun memeluk Sunyoung. Sunyoung mengerjap kaget. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Jonghyun. Rasa hangat dan nyaman yang hampir selama lima tahun tidak dirasakannya menjalari tubuhnya.

“Aku berjanji setelah ini kau tidak akan merasakan sakit lagi,” bisik Jonghyun.

$#@#$

“Kalau dipikir-pikir, kenapa kita harus menikah dua kali? Maksudku, kita belum pernah bercerai dan kita harus menikah lagi.”

Sunyoung menatap wajah suaminya dengan heran. “Hei, oppa yang memintaku untuk menikah dengan oppa. Jadi semuanya adalah idemu.”

“Aku sama sekali tidak memikirkan itu,” ucap Jonghyun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ah… Sudahlah. Yang penting kita sudah bersama lagi.” Ia menyesap kopi yang ada di hadapannya.

Appa!!”

Tiba-tiba Hyunsun berlari masuk dan langsung menyerbu ke pangkuan Jonghyun. Jonghyun buru-buru menaruh minuman yang sedang ia minum sebelum tumpah.

“Ada apa Hyunsunnie?” tanya Jonghyun.

“Aku iri pada Seunri,” ucap Hyunsun.

Oh, pasti yang dimaksud Hyunsun adalah Lee Seunri, anak tetangganya sekaligus teman baiknya dulu.

“Kenapa?”

“Dia punya sesuatu. Dan aku juga ingin seperti itu juga!”

“Katakan saja apa yang kau inginkan. Appa akan menuruti keinginanmu.”

“Aku ingin adik!” seru Hyunsun yang pasti membuat Jonghyun dan Sunyoung kaget.

“HAH??!!”

THE END

Weird ending?? Mianhe =.=

Otak saya lagi macet nih. Apalagi habis UN, tambah bebel =.=

Semoga endingnya gak mengecewakan ya🙂

Maukah Anda memberi komentar untuk FF ini?

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Forgotten Love [2/2]

  1. Keren. Suka :’D yeeyy,jongna happy ending~~❤

  2. aaaaaa jinjja hahahhahaha Ending.a lucu eon

  3. Keren!! But I feel bad for jjong~😦 ga weird kok. Sama2 abis UN :p

  4. Blue_icegirl

    Yey.. J0ngNa. . .
    Daebak..daebak..🙂

  5. flo

    cool B)

  6. Keren banget thor!!!
    Daebak!! Daebak!!!

    Yah!! Jonghyun hilang ingatan???
    Berarti jonghyun ΠğğãЌ inget aku dong.ak̶̲̥̅̊υ̲̣̥ kan pacar nya dulu (ngarep)
    #di gebukin blingers

  7. cheny

    Bagus ending nya.. Pertama” aku kira bkal sad ending.. Wkwkw hyunsun lucu banget

  8. Kyyaaaa~~~ tak bisa berkata”… aku suka bngt sm JongNa couple, makin suka lg krna ff author yg satu ini kkk~
    di awal sad bngt, kirain sad ending..untung aja enggak… wkwkwk Hyunsun lucu amat sih, paksa appa dan ummanya dong biar pnya adek wkwkwk xD
    bagus bngt thor, bkin banyak” ff JongNa couple okeh?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: