Between Love and Reality [PART 3]

Title : Between Love and Reality

Author : Park Sooyun

Main cast : Lee Taemin, Choi Jinri

Minor cast : Bae Suzy, Song Seunghyun

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Rating : PG 13+

Length : Chaptered

PART 3

NORMAL POV

Rasanya ada yang berubah. Dan perubahan itu sama sekali tidak membuatnya nyaman.

Taemin menyingkapkan selimut yang tadi menutupi sepertiga tubuhnya. Ia terduduk di pinggiran tempat tidur lalu menghela napas panjang. Ia menolehkan wajahnya ke kanan—berharap ia akan menemukan senyum yang selalu mengawali hari-harinya. Namun nyatanya ia tidak menemukan senyum itu. Hanya tempat tidur kosong lengkap dengan bantal dan guling yang awut-awutan.

Sekarang wajahnya berubah menjadi kesal. Bae Suzy. Selalu saja menjadi kebiasaannya, setiap bangun tidur tidak membereskan tempat tidur dan langsung keluyuran entah kemana. Berbeda sekali dengan… wanita yang ia kenal selama ini. Yang selalu menemaninya selama ini.

Rasa sakit menyergap hatinya. Ia merindukan wanita itu. Sangat.

Taemin bangkit dari tempat tidurnya dan sekilas memandang ke luar jendela. Ia harus bertemu wanita itu. Harus.

$#@#$

Jika biasanya hari-hari Sulli dipenuhi dengan kemuraman, sekarang kebalikannya. Ia lebih banyak tersenyum dan mulai menerima apa yang terjadi. Kejadian itu memang membuatnya sakit, dan akan begitu terus jika ia mengingatnya. Karena itu, ia memutuskan untuk melihat ke depan dan tidak ingin mengingat-ingat kejadian itu.

Setidaknya ia punya sesuatu hal yang lebih patut untuk dipikirkan. Siapa lagi jika bukan Lee Minji? Gadis kecil yang cantik itu sekarang sudah menjadi gadis yang periang dan ceria. Berbeda sekali dengan dulu. Mungkin karena Sulli lebih banyak menghabiskan waktunya mengurus rumah dan Minji. Tidak seperti dulu. Ia harus membagi fokusnya pada rumah, Minji dan… yah, kau pasti tahu siapa ‘kan?

Sulli tersenyum miris ketika mengingat-ingat nama itu. Ia memang masih mencintai pemilik nama itu. Tapi rasa ragu langsung hinggap dihatinya ketika ia teringat akan kenyataan yang terjadi.

Kenyataan adalah kenyataan. Tidak bisa diubah, barang sedikit pun. Karena itulah Sulli memutuskan untuk menyerah pada kenyataan yang telah terjadi. Ia mencoba untuk melihat seseorang yang lebih nyata… dan berada di hadapannya.

Sulli-ah, mungkin lebih baik jika aku yang mengantar Minji ke kedai es krim. Aku tahu kau sedang sibuk mengurus rumah.”

Ucapan itu membuat Sulli tersenyum. Ia berusaha untuk tersenyum semanis mungkin. Tapi tidak bisa. Ia hanya bisa tersenyum seperti ini pada orang yang ada di hadapannya—senyum dari seorang sahabat.

Sulli-ah?”

Hm? Y-ya. Kau boleh pergi, Seunghyun oppa.”

Seunghyun tersenyum. “Baiklah. Aku pergi dulu. Dah~”

Dah.”

Mata Sulli hanya bisa memandangi punggung Seunghyun yang semakin menjauh. Ia tidak bisa melakukannya… Tidak bisa…

$#@#$

Rencana Taemin berjalan dengan baik.

Hanya berbohong pada Suzy, dan sekarang ia sudah berada di dalam mobilnya. Wanita itu mudah sekali dibodohi. Ia masing ingat ketika ia berkata akan membelikannya roti coklat dan wanita itu tersenyum seperti orang gila. Apa Suzy pikir ia mau melakukannya? Pada Sulli dan Minji, mungkin iya. Tapi jika dia? Secuil pun Taemin tidak akan melakukannya.

Taemin melirik jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Kebetulan hari ini perusahaannya sedang diliburkan. Dalam hati Taemin mengumpat kesal. Kenapa perusahaannya harus libur sekarang? Kenapa tidak saat dulu—saat rumah tangganya masih normal sehingga ia bisa bermain dengan anak kesayangannya? Ah, sudahlah… Kesal pun tidak ada gunanya. Justru seharusnya ia bersyukur. Dengan liburnya perusahaan, ia bisa pergi untuk melihat Sulli.

Sudah hampir dua bulan ia tidak bertemu Sulli. Rasa rindu tentu mengakar dihatinya. Kira-kira bagaimana keadaan Sulli? Apakah ia baik-baik saja… setelah kejadian itu? Dan bagaimana dengan Minji?

Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Taemin sampai akhirnya ia sadar ia telah sampai di seberang rumah Victoria—yang ia ketahui adalah teman baik Sulli.

Tak lama kemudian, ia melihat sosok gadis kecil seperti Minji yang sedang berjalan dengan seorang pria. Taemin mempertajam penglihatannya. Gadis kecil itu memang Minji. Minji terlihat sangat senang dengan es krim coklat di tangan kanannya dan ia tertawa pada pria yang menggandeng tangan kirinya.

Rasa khawatir muncul dihati Taemin. Bagaimana kalau pria itu ingin berbuat jahat pada Minji? Ketika ia akan turun, ia melihat Sulli keluar dari dalam rumah Victoria. Ia dapat mendengar Minji berteriak memanggil Sulli, dan Sulli melambaikan tangannya pada Minji.

Taemin menghentikan tangannya yang akan membuka pintu mobil. Sepertinya Sulli mengenal pria yang menggandeng tangan Minji. Terbukti saat ia melihat Sulli tersenyum pada pria itu. Senyum yang sangat… berbeda. Seolah-olah terlukiskan kebahagiaan di sana.

Sekarang Sulli sedang berkata sesuatu pada pria itu. Tentu saja Taemin tidak dapat mendengarnya karena jaraknya jauh. Beberapa detik kemudian pria itu tertawa. Mereka berdua terlihat akrab sekali.

Lalu Taemin melihat Minji seperti merajuk pada pria asing itu. Si pria berbicara pada Minji dan tertawa—sepertinya sedang menggoda Minji. Kemudian Minji berlari mengejar pria itu dan pria itu juga berlari menghindari Minji.

Taemin hanya bisa melihat kejadian itu dengan perasaan campur aduk. Kaget, sedih dan… mungkin rasa cemburu. Sulit sekali bagi dirinya untuk bisa bermain dengan Minji seperti itu. Tapi pria itu. Dia bisa melakukannya dengan mudah.

Bagaimana mungkin Taemin membiarkan anaknya dengan mudah akrab bersama orang lain? Bukannya apa-apa, hanya saja Taemin merasa bahwa ia memanglah ayah yang payah. Saat ini ia sedang melihat Minji bermain dengan pria di seberang sana. Wajahnya terlihat sangat senang, dan Taemin belum pernah melihat Minji sesenang itu ketika bermain dengannya. Sungguh ironi. Anaknya bisa mengakrabkan diri dengan orang lain, sedangkan dengan ayahnya sendiri tidak. Paradoks yang sangat aneh.

Taemin menghela napas. Semua ini membuat hatinya bertambah sakit. Ditambah dengan sikap Sulli yang terlihat sangat mesra dengan pria itu. Taemin dapat melihat jika Sulli dan pria itu tengah bercanda.

Perlahan Taemin menutup matanya. Mungkin ia harus menyerah. Menyerah tentang semuanya.

$#@#$

Umma!”

Panggilan—atau yang lebih cocok disebut teriakan—itu membuat Sulli menolehkan kepalanya. Baru saja ia keluar untuk membeli sesuatu di supermarket. Tapi ketika ia melihat Minji sudah kembali, ia memutuskan untuk tidak pergi.

Sulli melambaikan tangannya. “Sudah membeli es krimnya?”

Sudah. Seunghyun ahjussi sangat baik. Bahkan aku boleh membeli dua es krim~” ucap Minji sambil memamerkan eyesmile-nya.

Kini tatapan Sulli beralih dari Minji ke arah Seunghyun yang sudah berdiri di depannya. “Terima kasih, Seunghyun oppa,” ucapnya sambil tersenyum.

Seunghyun membalas senyuman Sulli. “Sama-sama, Sulli-ah.”

Apa benar kau membelikan Minji dua es krim?”

Sebenarnya tadi aku hanya membelikannya satu. Tapi kuberikan es krim-ku padanya dan sudah dihabiskan langsung olehnya.”

Benarkah? Berarti aku sudah berhutang satu es krim padamu,” canda Sulli.

Seunghyun tertawa. “Tidak kok. Kau tidak berhutang apa pun. Aku memberikannya karena aku ingin.”

Ahjussi~”

Seunghyun menolehkan kepalanya ke arah Minji. “Ada apa?”

Nanti belikan aku es krim lagi ya~” rajuk Minji.

Tidak boleh! Kau bisa gendut jika kebanyakan makan es krim,” ucap Seunghyun sambil mencubit pelan pipi chubby Minji.

Minji menggembungkan pipinya sebal lalu berusaha untuk memukul lengan Seunghyun. Namun Seunghyun menghindar.

Wee… Tidak kena!” seru Seunghyun.

Minji tersenyum lebar lalu mengejar Seunghyun. Tentu saja Seunghyun menghindar dari kejaran Minji. Dan begitulah yang terjadi. Mereka berdua saling mengejar.

Sulli yang melihat itu hanya tertawa. Melihat Minji bermain dengan Seunghyun membuatnya senang. Setidaknya Minji merasa senang. Mungkin karena ia jarang bermain dengan ayahnya. Dan rupanya Seunghyun adalah pria yang suka dengan anak-anak. Ia juga bisa memainkan peran ayah yang baik.

Eh? Tunggu dulu. Apa maksud Sulli berpikir seperti itu? Apakah ia berpikir jika Seunghyun dapat menggantikan peran Taemin sebagai sosok ayah yang dibutuhkan Minji? Sulli menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sulli-ah, kau kenapa?” tanya Seunghyun tiba-tiba. Ia sudah berhenti bermain kejar-kejaran dengan Minji.

Eh? Aku baik-baik saja kok,” jawab Sulli sambil tersenyum.

Ohh… Kukira otakmu sedang bermasalah karena tadi kau geleng-geleng sendiri,” canda Seunghyun.

Sulli tertawa lalu memukul lengan Seunghyun pelan. “Oppa ada-ada saja.”

Hahaha. Maaf. Aku hanya bercanda kok,” ujar Seunghyun.

Iya. Aku tahu kau hanya bercanda,” balas Sulli. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling rumah Victoria. Alisnya terangkat sebelah ketika ia melihat sebuah mobil terpakir di seberang jalan. Warnanya hitam dan modelnya sama persis dengan mobil milik Taemin. Sulli memicingkan matanya. Seorang pria ada di kursi pengemudi. Namun Sulli tidak tahu siapa pria itu karena ternyata si pria keburu memacu mobilnya.

Mungkin hanya perasaanku saja.

$#@#$

Suzy memandang jam dinding. Sudah hampir jam tujuh malam, tapi Taemin belum pulang juga. Seingatnya tadi laki-laki itu pamit untuk membelikannya roti coklat. Tapi sekarang ia belum juga kembali. Kemana laki-laki bodoh itu?

Tiba-tiba terdengar seperti pintu terbuka. Suzy segera berjalan ke arah ruang tamu untuk meihat siapa yang membuka pintu. Saat ia melihat Taemin, ia segera memasang wajah polosnya.

Oppa, kenapa baru pulang?” tanya Suzy dengan nada dibuat-buat dan itu membuat Taemin ingin muntah.

Bukan urusanmu,” jawab Taemin datar.

Mana roti coklatku? Kau bilang kau akan membelikannya untukku~” Sekarang Suzy tidak tinggal diam. Ia segera mengaitkan tangannya ke lengan Taemin dan bergelayut manja. Sontak Taemin langsung melepaskan tangan Suzy.

Pergilah! Aku sedang lelah!” teriak Taemin.

Suzy terkesiap kaget. Baru kali ini Taemin berteriak seperti itu. Sepertinya mood Taemin kali ini memang sedang tidak bagus.

Hhh,” Taemin menghela napas kesal lalu segera pergi ke kamar tidur tamu lalu menguncinya.

Suzy menyipitkan matanya lalu berkacak pinggang. Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Ah… Sudahlah. Ia tak mau ambil pusing. Biar saja jika Taemin tidur di kamar tamu. Ia tidak perlu repot-repot memaksanya untuk tidur seranjang dengannya.

$#@#$

Secercah cahaya matahari masuk lewat celah-celah tirai kamar seolah-olah berusaha mengintip isi kamar itu. Namun di kamar itu tak ada apa-apa. Hanya sebuah lemari dan tempat tidur. Serta suasana sunyi yang menyelimuti kamar itu.

Sebenarnya Taemin sudah bangun sejak setengah jam yang lalu. Namun ia terlalu malas untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia sedang tidak bersemangat hari ini. Yang ia lakukan hanyalah tiduran di atas tempat tidur.

Taemin melirik jam dinding. Sudah pukul enam lebih empat puluh menit. Ia harus bangun sekarang. Jika tidak, ia bisa diberhentikan dari perusahaan. Akhirnya Taemin memaksa badannya untuk bangun. Ia terduduk sebentar lalu berdiri. Dengan gontai ia berjalan mendekati pintu lalu membukanya.

Seisi rumah masih sepi dan suasana sepi itu membuat Taemin sadar bahwa hanya ia penghuni rumah yang sudah bangun. Taemin mengerang pelan. Wanita pemalas itu pasti belum bangun.

Daripada menggerutu pada dirinya sendiri, Taemin memutuskan untuk mandi lalu sarapan. Jika dulu ada istri yang mengurusnya, sekarang keadaannya berbeda. Walaupun secara hukum ia punya dua istri, Taemin tidak mau mengakui Suzy sebagai istrinya dan tidak akan pernah. Suzy memang tidak layak menjadi seorang istri. Kerjanya hanya tidur, makan, nonton TV, jalan-jalan dan membuat rumah berantakan.

Rasanya Taemin rindu dengan keadaan yang dulu. Saat ia dan keluarga kecilnya tinggal di rumah ini dengan bahagia. Saat kehidupannya masih normal. Saat kejadian itu belum datang…

Taemin menghela napas pelan. Ia meletakkan roti yang baru setengah ia makan ke atas piring. Seharusnya ia tidak mengingat hal itu lagi. Mengingat ia tidak bisa membuat Sulli dan Minji bahagia. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ia juga tidak tahu siapa anak yang ada di kandungan Suzy. Ia berani bersumpah ia tidak pernah menyentuh Suzy satu inci pun sejak hubungannya dengan Sulli semakin baik. Tapi kenapa Suzy bisa hamil? Siapa ayah dari anak itu?

Sudahlah… Sebaiknya ia jangan memikirkan Suzy lagi. Karena masih ada yang patut untuk dipikirkan daripada Suzy. Yaitu bagaimana caranya menyelamatkan keluarga kecilnya.

Namun Taemin tahu. Sekali pun ia berusaha untuk menyelamatkan keluarganya, ia tidak akan berhasil. Karena ia melihat—dengan mata kepalanya sendiri—Sulli dan Minji bisa tertawa dengan orang lain.

Apa ini saat baginya untuk menyerah?

$#@#$

Apa kau tidak merindukan suamimu?”

Pertanyaan itu membuat Sulli mengalihkan pandangannya ke lelaki yang sedang duduk di sebelahnya. Ia tersenyum simpul.

Tentu saja aku merindukannya.”

Lalu kenapa kau tidak kembali? Sudah dua bulan kau tinggal bersama Victoria nuna. Sebenarnya masalah apa yang terjadi antara kau dan suamimu?”

Sulli menunduk. “Masalahnya cukup rumit dan panjang. Aku tak bisa menceritakannya padamu, Seunghyun oppa.”

Seunghyun tersenyum. “Ya sudah. Tapi kalau aku boleh menyarankan, daripada kau menghindari suamimu terus, lebih baik kau temui dia dan bicarakan masalah kalian. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini terus. Daripada kau menanggung luka karena suamimu, mungkin akan lebih baik jika kau melihat orang lain.”

Eh?” Sulli mengangkat kepalanya dan menatap Seunghyun. “Apa maksudmu?”

Cari saja pria lain jika ternyata suamimu hanya membuatmu terluka,” ucap Seunghyun. Ia menatap mata Sulli dalam. “Masih banyak pria yang selalu memperhatikanmu. Contohnya… aku.”

Sulli melebarkan matanya. Apa yang Seunghyun maksud dengan perkataannya? Apakah ia mencoba untuk menyadarkan Sulli, jika ia selalu memperhatikannya? Sulli tahu kalau Seunghyun selalu memperhatikannya. Tapi perasaan Sulli tak dapat diubah—ia hanya merasa Seunghyun adalah sahabatnya. Tidak lebih.

Tatapan Seunghyun membuat Sulli berpikir lagi. Ia sangat tahu jika Seunghyun sangat menyayanginya—entah sebagai apa. Namun Sulli merasa jika Seunghyun merasa ‘lebih’ padanya.

Kejadian yang lalu membuatnya ingin melarikan diri dari kenyataan. Ia ingin mencoba untuk berpindah hati. Tapi ia masih mencintai Taemin dengan segenap hatinya. Apakah cinta yang telah ia rasakan selama hampir lima tahun akan terhapuskan hanya karena luka yang bersarang dihatinya sejak dua bulan ini?

Sungguh tidak adil. Tapi Sulli juga merasa bahwa kejadian itu tidak adil baginya.

Oh tidak… Ia dilema sekarang. Terjebak diantara pilihan-pilihan yang menentukan hidupnya. Ia kembali menatap Seunghyun. Tatapan itu membuatnya bertambah bimbang. Ia ingin mencoba untuk benar-benar ‘melihat’ pria yang ada di sebelahnya ini.

Hanya saja…

$#@#$

Kemana laki-laki itu?

Suzy mengedarkan pandangannya sambil berusaha untuk menemukan Taemin. Tapi ia tidak menemukan sosok laki-laki itu. Ia mengangkat bahu lalu berlari kecil ke luar rumah. Tidak ada Taemin itu artinya tidak ada yang melarangnya untuk pergi!

Biasanya Taemin akan memarahi dirinya jika ia akan pergi. Taemin selalu bilang, “Kau ini harusnya di rumah! Memasak dan bersih-bersih! Bukannya pergi shopping atau menggosip dengan temanmu di café!”

Isshh… Terkadang Taemin bisa menjadi pria yang menyebalkan. Tapi ada untungnya juga menikah dengan pria kaya seperti Taemin. Suzy bisa mengambil beberapa ‘uang receh’ dari tabungan Taemin tanpa diketahui pria itu. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain bisa balas dendam, ia bisa hidup enak juga.

Suzy menutup pintu lalu menguncinya. Ia merogoh isi tasnya dan menemukan selembar brosur. Menurut brosur itu, ada diskon lima puluh persen di Myunggeong untuk busana wanita dan berlaku hari ini sampai lima hari yang akan datang. Suzy meremas kertas brosur itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia segera berjalan ke Myunggeong.

Sebenarnya Suzy tidak suka berjalan kaki. Tapi ia harus berhemat. Jika uang hasil ‘rampok’nya habis, ia tidak bisa mengambil lagi dari rekening Taemin. Taemin bisa curiga saldo rekeningnya berkurang banyak dalam waktu sehari.

Ketika Suzy melewati taman, ia melihat beberapa orang sedang berdiri di pinggir jalan sambil menyodorkan sebuah kardus. Sepertinya mereka sedang mengumpulkan sumbangan untuk panti asuhan atau apalah.

Nona, sumbangkanlah uang Nona untuk anak-anak yatim piatu,” ucap seorang pria yang menghampiri Suzy untuk meminta sumbang.

Tidak,” balas Suzy.

Ia terus berjalan tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya. Memang apa untungnya ia menyumbang untuk anak yatim piatu? Lebih baik ia simpan uangnya sendiri, toh ia juga adalah anak yatim piatu. Jadi apa bedanya?

Tiba-tiba saat Suzy sedang berjalan, seseorang menabraknya. Suzy langsung membalikkan badannya dan akan menyemprot orang itu dengan omelannya.

Kau ini punya mata atau tidak…” Ucapan Suzy terhenti ketika ia melihat siapa orang itu.

Suzy-a?”

O-oppa??!!”

Suzy terbelalak kaget. Ia harus kabur dari sini. Jika tidak, rahasianya bisa terbongkar dan semuanya akan sia-sia.

To Be Continued

Hello hello!!

Akhirnya setelah berjuang dengan soal-soal UN RSBI dan tes PPDB SMA, saya bisa membawa lanjutan Between Love and Reality.

Gimana readers? Kemarin ada yang komen kalo konflik tambah ribet dan berbelit-belit. Hehehe😀

Tapi di chapter ini sudah mulai muncul titik terang (?) Kalian pasti udah bisa nebak siapa orang yang ketemu Suzy di taman itu.

Pada komen ya!! Soalnya di chapter 2 yang komen sedikit banget T_T

Kalo komennya sedikit, saya kan jadi males buat ngelanjutin…. So, jangan pada jadi Silent Reader!

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , , | 10 Comments

Post navigation

10 thoughts on “Between Love and Reality [PART 3]

  1. Annyeong.. Ini aku yg dlunya nyamar sbg CassiELFyes.. Hehehee.. Bosen dg nama lama *nggak nanya*
    Entah knpa klo baca ff ini tuh, jdi kyak ikut galau jga (?) ksiand mereka #kcuali Suzy.. msih saling mncntai, tpi ad aj hlangan+rintangan yg ngebuat mrka pisah.. *namanya hidup*
    Hmm.. Sbnerenya cukup kagum jg sma sosok Seunghyun dsini.. Dy baek sih eon.. Klo suaminya Sulli dsni bkan Taemin, mngkn bkal aq restui klo Seunghyun sma Sulli..
    Tapi krn aq adlh Taelli shipper.. Maka TAEMIN dan SULLI..
    TAK BOLEH DIPISHAKAN!!! *apaan sihh(?)

  2. Mdh2an taelli bs brsatu lg ! Dn suzy enyah (?)
    Fighting author !!😀

  3. yeaahh !!! lanjutinnya cepte2 yah😀

  4. chadelr

    . Taemiiiiin TT_TT , jgn jd dodol gt dong (?) . Jdohmu it Sulli~ kmbalilah k’jln yg benar~

  5. Daebakk thor~
    pnsrn sma lnjtn.a🙂
    cz ff mu ini sngguh sngt mengesnkan😀

    *HWAITING ya thor!

  6. Aff(x)tion Shawol Indonesia

    SUZY KEJAM!!! #Jambakauthor

  7. lanjutin cepet cepet ya min🙂 ramee!

  8. kristi

    Unni ayo cepet dilanjut🙂
    ceritanya Kuerenn banget nyesek juga sih😦
    heheheh😀
    keburu ya thor🙂

  9. Sulli eonni gak boleh pindah ke Seunghyun…!!
    Pasti yg hampir nabrak Suzy eonni, Dongho oppa kan?

  10. lia

    ceritanya bikin aku agak sebal haha
    aku lanjut ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: