[One Shot – Sequel] B.E.L.I.E.V.E

The sequel for Y.O.U, L.O.V.E and S.I.G.N, this is B.E.L.I.E.V.E

 

__

 

 

“Jadi, apa yang kita lakukan?” Tanya Amber pada Jonghyun.

“Tidak. Tidak ada.”

“Tidak ada?”

Jonghyun mengangguk atas perkataannya barusan. Jonghyun tahu, seberapa sering ia bersenbunyi, pasti Minho akan dengan mudah menemukannya dimana pun itu. Dia itu Choi Minho. Choi Minho yang hebat. Choi Minho yang tak terkalahkan, anak dari marga terlarang.

“Benar-benar tidak ada? Lalu, aku dan Key?”

“Lupakan dulu Key-mu itu. Dia tidak akan kemana-mana. Kecuali .. “

Amber segera mearik kerah baju yang Jonghyun kenakan. Ia menariknya dengan keras dan membawa dagu Jonghyun sedikit lebih ke atas.

“Kecuali apa?!”

“Minho mempunyai maksud tertentu karena ia melihatmu bersama dia. Kau tahu, Kim Kibum akan .. “

“Shit!”

Amber segera melepas kerah baju Jonghyun dan meninggalkan Jonghyun sendirian. Amber pergi dan ingin keluar dari dunianya sekarang, menuju dunianya yang bebas. Dunia manusia. Dunia dimana ia bisa merasakan kasih sayang. Bisa merasakan kehangatan, dan juga bisa merasakan cinta. Ia tak tahu arah mana yang harus ia tuju sekarang. Walau ia ingin menemui Key. Namun hati kecilnya melarangnya. Seperti aka nada bahaya besar yang menunggu Amber jika Amber tetap pergi menemui Key.

Amber memutuskan untuk berhenti di sebuah atap yang kebetulan tidak terlalu tinggi. Ia menapakkan kedua kakinya di tanah dan berusaha untuk merapikan bajunya yang sedikit berubah karena arah angin barusan. Ia juga berusaha merapikan sepatu hitamnya dan juga topi LA-nya yang ia beli bersama Jonghyun sewaktu mereka benar-benar tinggal di Los Angeles.

Saat ia sedang merapikan dirinya, sebuah suara datang menghampirinya dan mengganggu pikirannya. Ia tahu, ia seharusnya tidak bisa mendengar ini karena ini terkesan jauh. Jauh dan ada di lebih dari 5 kilometer dari tempat ia berdiri sekarang. Bukan kebisaan manusia biasa, ini kebisaan makhluknya. Makhluknya atau kaumnya yang dinamakan Cliferus Paitonumerus. Salah satu kaum yang memang tidak ada dalam kisah-kisah vampire atau makhluk apapun yang pernah dicatat oleh orang-orang ternama. Tapi, kaumnya mempunyai kekuatan yang hebat.

Menyesuaikan diri, salah satu kehebatan kaumnya. Ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan manapun tanpa harus khawatir tersingkirkan atau bahkan ketahuan. Bukan hanya sekali, namun bisa berkali-kali. Beberapa tetua juga bisa menyesuaikan tubuh mereka dan segala bentuk fisik mereka dalam segala kondisi, tempat dan waktu.

Bisa dibilang, Cliferus adalah sebagai pengikut dan penyembah Lucifer. Namun, juga tidak. Cliferus pada tingkatannya hanya dijadikan budak. Budak yang menempati tingkat kehormatan kedua, setelah Amartea. Dan dibawah Cliferus sendiri, tersisip satu marga yang sudah jarang disebutkan, Etralia. Etralia adalah kaum sebangsa budak yang sering diangkat menjadi budak terhina Lucifer. Tetapi setelah itu, nama itu dihapuskan dan tidak pernah terdengar semenjak kepergian Lucifer.

Lucifer tidak pernah muncul saat Allah telah menguncinya, dan semua budak hidup tenang. Hidup seperti layaknya kaum yang berbeda alam dan berbeda langit dengan manusia. Amartea, Cliferus, Etralia, bahkan kaum bangsawan agung Nocchia hidup berdampingan sehingga pintu gerbang menuju dunia manusia dengan leluasa terbuka lebar. Namun semua itu berubah, saat Minho datang dan merebut semua kebebasan itu.

Amber mendengar suara itu lebih jelas dan berusaha menjernihkannya. Itu seperti suara panggilan masa depan. Pada suara itu, Amber meminta untuk sebuah izin, mendengarkan apa yang terjadi. Dan suara itu semakin jelas.

“Nicole, aku rindu dengan Amber.”

“Iya. Tapi kau hati-ha … “

BRUAK!!

“KEY!!”

Amber terdiam. bukan kilasan masa depan ini yang ingin ia dengar. Atau apapun yang buruk mengenai Key. Ia percaya, Key akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi, Amber akan berusaha menjadi yang nomor satu. Walau waktu dan alam memisahkan keduanya begitu jauh. Sejauh saat Minho datang.

“AMBER!”

Amber menoleh. Ia melihat seseorang tengah mendarat setelah terbang jauhnya dari alamnya. Itulah orang yang selama ini ia tunggu, kembali dari perjalanan jauhnya. Orang ini, orang yang selalu menjadi gerbang penyelamatannya. Dialah, Lee Jinki.

“Jinki-ah! Kau kemana saja? Lama sekali. Ada apa, tiba-tiba menemuiku?” Tanya Amber. Jinki menggeleng.

“Bukan aku. Kau. Kau yang sedang mencariku akhir-akhir ini, bukan? Katakan jika aku benar.” Ucap Jinki. Amber, dengan agak ragu, ia mengangguk pelan.

“Ah! Sudah kutebak. Aku dengan, kau diburu oleh Minho? benar? Poor you, Amber. Hati-hati.” Ucapnya. Ia lalu terbang meninggalkan Amber yang hatinya merasa semakin memburuk.

Amber memutuskan untuk kembali menggunakan sayap hitamnya, bergegas menelusuri jalanan kota Seoul. Ia melihat sekeliling, mendapati apakan ada seseorang bernama Key diantara kerumunan orang banyak itu. Dari Hongdae, ia mengarah ke Apgujeong. Ia tidak tahu pasti kemana ia terbang. Yang ia tahu, ia hanya mengikuti firasat dan kata hatinya.

“Amber Josephine Liu. Aku perintahkan kau untuk pulang.”

“Tidak mau! Apa urusanmu memanggilku, Kim Jonghyun jelek!”

Ia memutar-mutar kepalanya, berusaha menghilangkan suara Jonghyun dari pikirannya. Tetapi percuma saja. Jonghyun sudah hidup ratusan tahun lebih dulu jika dibandingkan dengan Amber. Jonghyun masih bisa mengendalikan Amber sesuka hatinya. Terkadang, Amber bisa melawan. Lalu tidak. Seperti itu seterus dan selanjutnya.

“Tidak, kau harus pulang. Minho, dia sekarang dalam masa Primera Feria-nya. Kau harus segera kembali. Jika tidak .. “

“Apa?! Dia dalam masa Primera Feria-nya? Secepat ini?!”

Amber tak bisa menahan diri lebih lama. Sebenarnya ia masih ingin mencari Key. Tapi semuanya itu berbuah manis. Ia tak bisa mencari Key. Karena jika ia tetap mencari Key, maka akibatnya adalah Minho ..

~

“Jonghyun!!”

“Oh, Amber! Syukurlah kau kembali.”

Jonghyun segera memeluk adik kesayangannya itu sesaat setelah ia melihat Amber muncul dihadapannya. Seperti akan ada sesuatu yang cukup berarti atau bahkan sangat berarti.

“Ada apa? Ada apa dengan Minho? Dia baru benar-benar 67 tahun bukan? Cepat sekali!” Ucap Amber. Jonghyun mengangguk.

“Ya, aku tahu itu. Primera Feria-nya terbilang cepat. Aku rasa, tak lama lagi ia akan meraih Secondaria Feria-nya.” Ucapan Jonghyun membuat darah Amber semakin cepat mengalir. Darah Amber yang berwarna hitam itu sangat terlihat jika ia berada di tempat yang gelap. Aneh? Itu mengapa Amber dan Jonghyun takut akan gelap. Takut jika jati diri mereka akan benar-benar terbongkar.

“Kau .. mengapa memanggilku?” Tanya Amber pada Jonghyun. Jonghyun memberikan sebuah benda padanya. Benda berbentuk batu itu cukup membuat rasa penasaran Amber.

“Ini apa?”

“Milikmu. Gunakan batu itu untuk benar-benar menghentikan Minho. Jangan sampai dia yang menguasai matahari. Musnahkan dia. Atau setidaknya, ganti tandanya, dengan itu.” Ucap Jonghyun. Amber masih tidak mengerti, namun dengan sesegera ia mengangguk.

Amber segera pergi menuju tempat yang cukup jauh. Tempat dimana semua makhluknya yang mengalami masa Feria-nya dikumpulkan menjadi satu. Sebuah tempat yang jauh, karena jika seseorang makhluknya sedang mengalami Feria-nya, ia akan menjadi tak terkendali.

Amber sudah mendapatkan masa Feria-nya. Tepatnya Primera Feria-nya. Setiap mereka yang berumur 93 tahun atau lebih, mereka akan mendapatkan Primera Feria. Primera Feria adalah tahap pertama untuk perubahan sesungguhnya. Dimana kekuatan mereka akan bertambah besar. Dan mungkin tak terkendali. Tetapi ada satu cara untuk mengendalikannya. Yaitu dengan memanggil salah satu kaum atas, entah itu Nocchia atupun Verdias. Mereka mempunyai kemampuan untuk membatasi kemampuan itu saat tidak terkendali.

Amber segera mencari dimana Minho berada. Tempat itu. Ia sangat mengingat tempat itu, saat ia benar-benar menjadi tidak terkendali dan menjadikan seorang bangsanya pergi entah kemana, karena kekuatannya. Ia menghilang. Tidak ada yang mengetahui kemana perginya orang itu. Yang jelas, dia adalah satu-satunya Etralia muda yang masih hidup. Para tetua menyarankan agar menjaga dia baik-baik. Namun tidak. Dia malah menghilang entah kemana.

Minho terlihat sedang diam, tak bergerak di salah satu sisi tempat ini, Placatorium. Amber mencoba mencari semak-semak agar Minho tidak dapat melihatnya. Di tengah-tengah semak belukar itu, Amber kembali memperhatikan benda yang diberikan Jonghyun padanya. Atau tepatnya, batu. Batu itu oval dan sederhana seperti batu-batu yang lain. Bahkan ada bekas tali yang menandakan ada seseorang yang pernah menggantung benda ini dimana saja. Mungkin sebagai aksesoris.

Amber tidak tahu akan menjadi seperti apa dan bagaimana cara kerja alat ini pada Minho. Dia tidak pernah mencobanya. Apalagi, ia baru mengetahui batu itu sekarang. Namun ia tahu, ia harus bergerak. Terlebih ia juga tahu, Minho mempunya tanda yang berbentuk matahari itu tidak pada tangannya, tetapi pada leher sebelah kiri. Bukan di tengkuk pula. Amber tidak mengetahui terlalu banyak tentang sejarah itu. Ia hanya mengetahui apa yang harus ia ketahui.

Amber terbang perlahan. Ia mendekati Minho dan mencoba menggosokkan batu itu kearah lambang Minho. Satu dua senti, ia bergerak. Dan, berhasil. Setidaknya untuk sesaat. Ia berhasil mengubah satu dari delapan ekor sinar matahari menjadi sesuatu yang – entahlah, warnanya hitam dan belum begitu jelas. Yang pasti sekarang, Amber harus tahu bagaimana caranya ia keluar dari tempat ini.

~

“Bagaimana kabarmu?” Amber tersenyum saat laki-laki ini benar-benar berdiri di hadapannya sekarang. Laki-laki yang sangat ia rindukan. Key.

“Aku baik-baik dengan masalah yang tidak baik. Kau?”

“Buruk. Karena aku harus kehilangan kau.” Ucap Key. Amber hanya tersenyum. Key menggandeng tangan Amber dan mengajaknya berjalan-jalan di sekitar Hongdae.

“Kau, sungguh? Kau terlihat buruk, Amber. Ceritakan padaku apa yang terjadi di dunia-mu. Apa ini tentang laki-laki yang tiba-tiba muncul itu? Siapa namanya-“

“Minho. Atau terkadang kusebut gumiho. Kekeke.” Ucap Amber yang membuat Key tertawa kecil.

“Hati-hati jika kau menyebrang. Nanti kau malah – AMBER!!”  Key berteriak kaget saat melihat Amber jatuh dan terkulai di jalanan kota Seoul. Amber terluka, tetapi ada yang aneh. Orang-orang berhamburan keluar, namun seketika itu juga Amber menjadi sorotan public. Amber terluka, dan dia tidak mengeluarkan darah biasa. Darahnya hitam pekat, seperti apa yang ada di film Harry Potter atau Blade lainnya. Orang-orang bahkan menyimpulkan kalau Amber bukan manusia. Bahkan seorang yang jahat.

Key tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ia mengangkat tangannya, membuat beberapa lambang dari tangannya. Ia menggerakkan dan memejamkan matanya, lalu semua berubah. Semua orang diam, tak bergerak. Mematung seakan waktu memang berhenti berputar. Ia segera menggendong Amber, berlari dengan sangat cepat dan membawanya ke rumahnya untuk sementara waktu. Ia rasa, dengan kecelakaan ini, ia dan Amber tidak bisa selamanya seperti ini. ia harus bertindak. Demi Amber.

“Amber, bangun.” Key mencoba mengajak Amber berbicara ditengah perjalanan mereka. Amber tetap diam, masih dalam keadaan tak bergerak. Lama kelamaan, Key berubah menjadi panic. Jika nanti ada sesuatu yang terjadi pada Amber. Sesuatu yang sangat diluar dugaannya.

“Amber! Aku mohon bangun dan kembali. Aku disini, bersamamu.”

Seketika itu, Key meraih pintu rumahnya dan membawa Amber ke kamarnya. Ia meletakkan Amber perlahan diatas kasurnya yang cukup besar untuk dua orang. Ia pun segera keluar untuk mengambil beberapa peralatan untuk merawat Amber sementara waktu sebelum akhirnya dia kembali ke alamnya yang Key sendiri tidak tahu dimana. Ia hanya tahu bahwa Amber bukan seorang manusia sejati.

Key mengambil kompres dan juga air es, tak lupa beberapa perban untuk menutupi luka Amber. Ia harus berusaha, menutupi luka Amber agar tidak diketahui orang lain. Ia takut, setelah peristiwa tadi, akan ada banyak orang yang akan mengenali Amber. Si perempuan berdarah hitam, manusia atau perempuan. Sebuah judul headline yang melihat Amber tadi siang. Key juga menyalahkan keadaannya saat Amber kecelakaan. Ia malah tidak sedang memperhatikan.

Saat Key masuk ke kamarnya, ia melihat Amber tengah merintih kesakitan karena luka yang ia terima. Luka itu mungkin bisa Amber sembuhkan sendiri. Tapi, entah kenapa ia ingin Amber tahu ia peduli padanya.

“Amber, kau baik-baik saja?” Tanya Key cemas. Key tersenyum saat Amber membalas senyumannya. Amber membalasnya dengan satu anggukan.

“Sungguh? Kau tidak bohong?” Amber mengangguk sekali lagi, lalu tersenyum.

“Aku baik-baik saja, Key. Sungguh. Hanya saja, terlalu sakit untuk luka hitam ini. Aku tak habis pikir mengapa aku harus mengalami ini. aduh, cairan ini .. “

“Biar aku bersihkan untukmu, Amber?”

“Ah, baiklah.”

Amber hanya diam sementara Key berusaha membersihkan darah hitam milik Amber. Dengan telaten dan berhati-hati, Key mengusap dahi dan tangan Amber yang terluka. Lukanya cukup parah, sampai-sampai terdapat luka robek di lengan. Tetapi Amber adalah orang yang kuat, ia tidak mudah menangis. Walau Key sendiri tidak tahu apa luka itu sangat sakit atau tidak. Karena, sedari tadi Amber tidak meringis sedikitpun.

“Lukanya .. tidak sakit?”  Tanya Key penasaran. Amber menggeleng.

“Tidak. Kenapa?”

“Ah, tidak. Hanya ingin memastikan.”

Sementara Key membersihkan lukanya, Amber berkutat dengan pikirannya. Jonghyun dan dirinya sama-sama tahu kalau Amber berumur dua puluh tahun, umur manusia. Tapi, mengapa seakan-akan Minho lebih tua darinya? Atau lebih muda? Entahlah, banyak yang menghantui pikiran Amber. Termasuk umur Minho dan tanda Minho itu. Dalam Cliferus, umur Amber adalah Sembilan puluh Sembilan tahun. Tetapi Minho yang baru berumur enam puluh tujuh bisa mendapatkan Primera-nya secepat ini.

“Sudah. Kau bisa pu .. “

“Tunggu! Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tentang kau, aku, dan tentang kita.” Amber menahan tangan Key dan mulai merasakan perubahan suhu tubuh Key.

“Apa? Tentang kita? Sudah jelas bahwa kau milikku, Amber.”

“Diam! Tutup mulutmu, duduk, dan jawab pertanyaanku!”

Key terpaksa duduk diam dan menunggu Amber tenang untuk sementara waktu. Ia tak bisa mengajak Amber jika emosi Amber sedang dalam puncaknya. Amber bisa menjadi manusia yang amarahnya tidak terkendali. Jadi, ia terpaksa duduk dan diam.

“Apa .. yang ingin kau tanyakan padaku?” Tanya Key pada Amber yang sudah mulai tenang.

“Aku harus tahu siapa aku sebenarnya. Jonghyun pernah bilang, ibumu adalah ibuku, seorang makhluk sepertiku yang dibuang dari duniaku dan hidup bersama ayahmu. Jawab Key?!”

“Ibuku? Kau ini omong kosong? Semua hal magis yang terjadi padaku dan keluargaku, ya hanya dari dirimu dan Jonghyun. Serta orang asing yang aneh itu.” Jawab Key pada Amber yang membuat Amber jatuh terduduk dihadapan Key.

“Aku .. aku tidak tahu hal apa yang harus aku percaya. Tentu aku tidak bisa percaya dengan Minho karena dia .. ya, kau tahu. Jong? Mungkin. Terkadang dia bisa dipercaya. Dan perkataan para soul-taker tentang ibuku, sama tentang apa yang Jonghyun ceritakan padaku. Dan .. “

“Kau, bisa percaya padaku?” Ucap Key yang membuat Amber menoleh. Amber melihat Key tengah mengeluarkan sesuatu dari balik lemari bajunya. Sebuah kotak asing bagi Amber. Saat Key membuka kotak itu, sebuah cahaya menyinari ruangan itu dengan sangat terang dan menyilaukan.

“Halo, Key. Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?”

Amber tertegun. Seorang manusia – entahlah, seperti seorang peri yang cantik dan berambut panjang, seperti yang terdapat pada khayalan anak-anak tentang bagaimana wujud ibu peri. Seperti dia?

“Ah, Qian. Aku baik-baik saja. Kau, bisa bantu kekasihku ini? Dia ingin tahu tentang masa lalunya sendiri. Tentang keberadaan ibunya.” Ucap Key padanya. Amber menyenggol lengan Key pelan.

“Ada apa, Amber?”

“Dia .. Dia siapa?”

“Ah! Aku lupa! Halo, nona. Aku Qian. Baiklah Key, sebutkan jati dirimu, dan kau bisa membantu temanmu ini.” Ucap Qian. Amber hanya diam, tak mengerti.

“Tapi dia ..”

“Baiklah, kau duluan. Siapa kau dan ucapkan padaku jati dirimu.”

Amber menarik nafas, lalu membuangnya melalui kata-kata yang ia lontarkan. “Aku Amber Josephine. Cliferus Paitonumerus. Umur, Sembilan puluh sembilan tahun.”

“Ah! Cliferus! Senang bertemu denganmu lagi. Sepertinya sudah lama tidak bertemu? Ah, mungkin tidak. Dan kau juga, Key. Hati-hati.” Ucap Qian. Amber masih tidak mengerti apa yang terjadi dengan Key dan Qian ini.

“Aku, Kim Kibum. Umur, seratus Sembilan belas tahun. Etralia Vandamalen.”

Amber terdiam. Sepertinya ia pernah mengetahui sesuatu tentang nama itu. Segera ia putar seluruh isi otaknya tentang ingatan apa yang pernah ia dengan dari Minho, Jonghyun, ataupun kedua orang tuanya. Saat ia mengingatnya, semua terasa seperti jalan yang terbuka lebar untuknya.

“Apa?! Kau .. Etralia?!”

 

 

To Be Continued at = F.A.I.T.H

Sinopsis :

Amber mengetahui rahasia bahwa Key adalah orang yang ia cari seumur hidupnya. Seseorang yang sangat penting bagi kehidupan dan masa lalunya. Ia berhasil menghapus tanda Minho – satu seperdelapannya saja – walau ia tahu semua harus tepat pada waktunya. Mengapa? Karena sepertinya tanda itu semakin sulit dihapus dan diganti. Amber mengalami kesulitan!

Amber merasakan keputus-asaan terbesar dalam hidupnya. Sementara Jonghyun harus pergi meninggalkannya bersama sahabatnya, Luna. Tinggalah Amber bersama Key. Key yang ia cintai. Dan Key yang tidak bisa ia ajak ke dunianya karena satu alasan. Jadi, Amber memutuskan untuk menarik dirinya kepada Key, dan menjauh dari Minho. Tapi tidak, tidak semudah yang ia bayangkan.

Satu persatu kenyataan dan kebenaran mulai terungkap. Termasuk identitas asli dan sejarah keluarganya. Siapakah ibu dari Amber? Bagaimana Key dan Amber menghadapi Minho yang sudah mencapai Secondaria Feria-nya dalam waktu tujuh bulan pada waktunya?

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “[One Shot – Sequel] B.E.L.I.E.V.E

  1. aaa AAAAAAAAAA AAAA*triakpakeTOa keren chinguuuu!!! LANJUT YAAA

  2. ah iyaaa~~~~ makasiiiihhhh *hug*😀 sipsip. nanti lanjutkan~~~

  3. kereennnnnnn . . . gk sabar buat baca sequelnya😉

  4. Daebakdaebakdaebak !!!😀
    Keren thor ! Lanjut ya🙂

  5. aku suka banget ceritanya,
    fantasi2 gi mana gitu,
    pen liat lanjutannya,
    dilanjut dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: