Just a Word for Us

Author                        : Park Sooyun

Title                 : Just a Word for Us

Cast                : Onew/Victoria & Jonghyun/Luna

Genre             : Romance

Rating                        : General

Length           : Drabble

PS                   : Maaf karena judul yang pasaran dan isi yang tidak nyambung dengan judul *plak!*. Juga untuk FF-nya yang pendek, namanya juga drabble. Mian ya *bow

Enjoy it!

 

 

NORMAL POV

 

Onew/Victoria

 

MATURE

 

 

 

“Umur memang tidak dapat mendeskripsikan kedewasaan seseorang…”

.

.

.

.

.

 

Dalam berhubungan, banyak faktor-faktor yang harus diperhitungkan. Kecocokan, kepribadian masing-masing, latar belakang, dan… usia.

Oh, untuk yang satu itu, Victoria sudah memikirkannya. Bahkan ketika ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada seniornya yang juga dongsaengnya sendiri—Lee Jinki. Dan saat Jinki menyatakan cinta padanya, Victoria juga meminta waktu untuk memikirkan soal perbedaan usia itu.

Memang umur mereka tidak berpaut terlalu jauh—hanya dua tahun. Tapi itu tidak masalah jika yang lebih tua adalah si lelaki, bukan si wanita. Dan inilah yang membuat Victoria dilema.

Jinki sudah ribuan kali meyakinkan Victoria bahwa hubungan mereka baik-baik saja walaupun dengan usia Victoria yang lebih tua. Orang tua Jinki juga tidak mempermasalahkan umurnya yang lebih tua dari anak mereka. Bagi mereka, Victoria adalah wanita yang baik, dan itu sudah cukup.

Namun masih ada janggalan di hati Victoria. Yaitu bagaimana pendapat orang-orang tentang hubungan mereka. Orang-orang pasti akan mencemooh Victoria yang lebih tua daripada Jinki.

Victoria mendesah pelan. Ia menyandarkan kepalanya ke meja. Memikirkan itu saja sudah membuatnya merasa pusing.

“Qian? Kau baik-baik saja?”

Mendengar suara lembut itu, Victoria segera menegakkan badannya. Dilihatnya sang kekasih ikut duduk di sebelahnya.

“Iya. Aku baik-baik saja,” jawab Victoria. “Kau sudah memesan pesananku?”

“Pasti kau memikirkan soal itu,” ucap Jinki tanpa memperdulikan pertanyaan Victoria.

“Hmm,” gumam Victoria sambil memalingkan wajahnya.

“Kau tahu? Kau terlalu mempermasalahkan hal itu. Jangan memikirkan sesuatu yang sia-sia, Qiannie. Kau terus saja berbicara soal umur. Kau memang lebih tua dariku. Dan itu tidak membuatku berhenti menyukaimu.”

“Tapi Jinki-yah,” Victoria membalikkan wajahnya dan menatap Jinki. “aku khawatir pada persepsi orang-orang. Mereka pasti akan berpikir kalau kita lebih terlihat seperti adik kakak dibandingkan sepasang kekasih.”

“Terserah mereka akan berpikir begitu. Mereka hanya melihat kita dari umur. Mereka pikir kau lebih ‘menggurui’ku, padahal tidak begitu. Kita saling mengajari.”

Perkataan Jinki membuat Victoria terdiam.

“Bukankah umur tidak bisa menggambarkan kedewasaan seseorang?”

Victoria menundukkan kepalanya. Memang umur tidak bisa menggambarkan secara pasti kedewasaan seseorang. Ada anak kecil yang bersikap dewasa, tapi banyak juga orang dewasa yang bersikap seperti anak-anak.

Akhirnya Victoria menyadari. Bukanlah umur yang patut dipertimbangkan dalam berhubungan. Tetapi kedewasaannya, itu jauh lebih penting.

Perlahan Victoria mengangkat kepalanya. Ia tersenyum pada Jinki.

“Terima kasih, Jinki-yah. Kau membuatku lebih baik.”

Jinki balas tersenyum. “Kita sama-sama memperbaiki sisi masing-masing.”

Walaupun Jinki dua tahun lebih muda dari Victoria, dia juga lebih dewasa dari Victoria. Dan Victoria tahu, inilah yang ia butuhkan. Pria yang lebih dewasa darinya, bukan pria yang lebih tua darinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jonghyun/Luna

 

MELODY

 

Kepala Jonghyun berdenyut pelan. Ia memijit pelipisnya.

“Ya! Minho! Mana kameraku yang kau pinjam kemarin?” tanya Key.

“Aku tidak lihat,” jawab Minho cuek.

“Ya! Kau ‘kan meminjamnya kemarin! Sekarang kembalikan!”

“Aku tidak tahu dimana kameramu! Dan aku sudah menaruh kameramu di kamarmu!” ujar Minho tak mau kalah.

“Hei! Jangan ribut! Apa kalian tidak kasihan pada Jonghyun?” Sekarang giliran sang leader yang berbicara untuk melerai Key dan Minho.

“Tapi Minho sudah menghilangkan kameraku, hyung!” seru Key.

“Aku tidak menghilangkannya!”

“YA!! TIDAK BISAKAH KALIAN TENANG?! KEPALAKU SEDANG PUSING!!” Jonghyun mengerahkan segenap suaranya dan mengeluarkannya dengan nada setinggi mungkin. Ia menenggelamkan kepalanya ke bantal. Ia memang butuh ketenangan.

“Jonghyun, kau akan baik-baik saja ‘kan?” Tiba-tiba Onew masuk ke kamarnya. “Key dan Minho memang tidak tahu situasi.”

Dengan perlahan, Jonghyun membalik badannya dan melihat Onew yang sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan khawatir.

“Tidak apa-apa, hyung. Aku hanya butuh ketenangan,” jawab Jonghyun lemah.

“Baiklah. Kalau begitu, kami akan pergi ke tempat shooting. Telepon kami jika terjadi apa-apa.”

“Oke.”

Jonghyun melihat Onew dan ketiga member SHINee yang lain berjalan keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu ditutup. Jonghyun mendesah lalu memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.

Hari ini badannya terasa sangat tidak enak. Suhu tubuhnya meningkat, hidungnya tersumbat dan tenggorokannya terasa sakit. Sepertinya ia butuh minum. Ya, ia sangat membutuhkannya. Tapi Jonghyun tidak bisa pergi ke dapur. Jangankan pergi ke dapur, untuk menggerakkan tangannya saja, ia tidak bisa karena badannya terlalu lemas.

Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Jonghyun menjulurkan tangannya berusaha untuk menggapai HP yang ia letakkan di atas meja yang terletak di sebelah tempat tidurnya.

“Yoboseo?” tanyanya dengan suara serak.

“Oppa? Kau baik-baik saja? Ada apa dengan suaramu?”

Oh. Ternyata si penelepon adalah Luna, lead vocal f(x) sekaligus kekasihnya. Jonghyun memutar matanya sembari berusaha untuk menemukan alasan yang bagus. Bisa gawat jika Luna tahu kalau ia sedang sakit. Jonghyun tahu kalau kekasihnya adalah tipe orang yang mudah khawatir.

“Aku baik-baik saja, Luna,” jawab Jonghyun. “Aku hanya sedang serak.”

“Jangan bohong. Oppa pasti sedang sakit, iya ‘kan? Aku bisa tahu dari suaramu.”

Jonghyun menyerah. Kekasihnya memang gadis yang tidak mudah untuk dibohongi. “Baiklah. Aku memang sedang tidak enak badan…”

Tut tut…

Tiba-tiba saja Luna memutuskan teleponnya. Kening Jonghyun berkerut. Ia menatap layar HP-nya. Sambil mendesah, ia meletakkan HP-nya di sebelahnya.

 

 $#@#$

Jonghyun mencoba untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Kepalanya terasa sangat pusing dan tenggorokannya bertambah sakit. Sebaiknya ia menelepon Onew atau Key. Oh, jangan. Ia tidak mau menganggu photo shot SHINee.

Tiba-tiba saja jam weker miliknya berdering keras. Jam wekernya memang sedang error. Jonghyun mengernyitkan keningnya ketika rasa pusing kembali mendera kepalanya. Jam weker itu membuatnya bertambah pusing. Ia butuh ketenangan.

Jonghyun mendesah keras lalu ia mengambil jam weker tersebut dan membantingnya ke lantai. Ia menghela napas lega ketika jam weker itu sudah wafat (?)

Brakk!!

Tiba-tiba saja, Jonghyun mendengar seperti pintu yang habis dibanting. Ia berusaha untuk mengintip ke depan, tetapi badannya terasa lemas. Detak jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Bagaimana kalau tadi perampok?

“Oppa…”

Jonghyun menghela napas lega ketika tahu siapa orang itu. Ternyata dia adalah Luna. Luna terlihat membawa sekantung plastik yang entah apa isinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Luna khawatir. Ia mendekati ranjang Jonghyun dan duduk di pinggir ranjang.

“Iya… Kau tidak perlu….”

“Seharusnya oppa tidak memaksa diri,” sela Luna. “Aku tahu kemarin jadwal oppa benar-benar habisan-habisan.”

Jonghyun menghela napas. Kekasihnya mulai lagi… Ia yakin Luna akan menceramahinya dan ia tidak bisa menghentikannya.

“Oppa harus menjaga kesehatan oppa. Kalau oppa merasa lelah, istirahat dulu. Jangan langsung memaksa badanmu.”

“Aku tahu itu, Luna.”

“Hah… Bicara pada oppa memang sulit. Ini, aku sudah membelikan obat untuk oppa. Kata apoteker, obat ini bisa menurunkan demam. Kalau oppa sudah minum obat ini, nanti oppa harus minum sirupnya, supaya tenggorokan oppa tidak sakit lagi. Dan oppa tidak boleh makan makanan yang digoreng untuk sementara.”

Jonghyun tidak menghiraukan ocehan Luna. Ia memejamkan mata dan berusaha menikmati suara Luna. Meskipun tadi ia bilang kalau ia butuh ketenangan, nyatanya sekarang ia menikmati suara ocehan Luna.

Karena baginya ocehan Luna terdengar seperti melodi merdu, sehingga ia tidak membutuhkan ketenangan lagi.

 

 

 

THE END

Ya ampun… FF apa ini?? ==’

Yang buat sapa sih?? #kan elu yang buat bego

Mian kalo ceritanya gaje. Soalnya dari kemarin saya ngebet banget pengen nge-post FF Shining Effects. Akhirnya jadilah drabble tidak bermutu (?) ini. Pengennya sih nanti aja, nunggu proyek FF Minstal terbaru saya dan kelanjutan Between Love & Reality selesai. Tapi berhubung saya sudah tidak tahan, akhirnya saya paksain deh post drabble ini ==’

Maaf ya chingudeul…

Oh ya, satu lagi…

 

Komen ya?? #dilempar

 

 

 

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Just a Word for Us

  1. Ayoona

    Daebakk chingu!!!! FFnya keren!!!!
    Yg paling bagus ntuh plotnya OnToria🙂 Aku ska banget ama gaya bahasanya chingu🙂
    Aku tunggu karya FFmu yg laen yach😉
    FIGHTING!!!!

  2. YAAA~
    Keren!!!

  3. Daebak!!!! Daebak!!! #sambil tepuk tangan…
    Keren thor yang Jongna….emg my jjong itu suka memperhatikan Eoon luna… ‎​​​​‎‎​H̲̣̣̣̥ǎ̜̣̍²H̲̣̣̣̥ǎ̜̣̍²H̲̣̣̣̥ǎ̜̣̍²H̲̣̣̣̥ǎ̜̣̍².. (Sok ŤåƱ) #sambil di tabok author…

  4. RMD

    kereenn

  5. vankaka

    tuh kan jongna emang manis banget, bikin senyum” gk jelas hahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: