Far Away

Title                 : Far Away

Author            : Park Sooyun

Cast                : Lee Taemin, Choi Jinri

Genre             : Romance

Length            : Oneshot

Rating              : General

 

 

 

“Aku berharap bisa menyentuhmu.

Namun aku tidak bisa. Karena kita selalu berjauhan…”

 

 

 

 

NORMAL POV

 

 

Ini adalah hari yang menyenangkan sekaligus mendebarkan bagi Choi Sulli. Hari ini adalah hari pertama ia masuk SMP dan ia begitu antusias untuk menyambut hari ini. Bertemu kawan-kawan baru adalah sesuatu yang menyenangkan, juga sedikit mendebarkan. Ia suka mendapat teman-teman baru, walaupun ia tahu untuk mendapatkannya tidak terlalu mudah. Sulli adalah anak pemalu sehingga ia perlu beberapa waktu untuk terbiasa dengan lingkungannya yang baru.

Dengan seksama Sulli memperhatikan ruang kelasnya yang baru. Kini ia duduk di barisan paling kiri, nomor dua dari depan─sendirian karena memang setiap meja didesain untuk satu anak. Matanya berpindah dari gambar bagan sistem pencernaan manusia ke sebuah lukisan abstrak karya siswa SMP ini yang sudah lulus, lalu ke arah mading yang ada di belakang kelas.

Senyum tak hilang dari wajahnya sampai ada seorang anak perempuan datang menghampirinya.

“Hai,” sapa gadis itu ceria sambil duduk di kursi depan dan meletakkan tasnya. “Hari yang cerah ya.”

Sulli semakin melebarkan senyumnya. “Ya.”

“Ahh… Kita belum sempat berkenalan,” gumam gadis itu. “Namaku Jung Soojung. Tapi kau bisa memanggilku Krystal.”

“Aku Choi Sulli.”

“Kau dari mana?”

“Dari Seoul.”

Krystal mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmm… Itu artinya kau tidak perlu jauh-jauh untuk sekolah ya. Aku bahkan harus pindah dari Amerika hanya untuk sekolah di sini.”

“Benarkah?” tanya Sulli tidak percaya.

“Iya. Aku lahir di Los Angeles dan besar di sana sampai akhirnya aku pindah ke Seoul. Ayahku bilang sekolah di Seoul akan lebih baik ketimbang di LA karena aku bisa sekaligus mempelajari budaya keluarga asliku. Selain itu aku juga tinggal di sini untuk menemani nenekku.”

“Aku tinggal bersama orang tuaku serta adikku,” kata Sulli.

“Bolehkah aku datang ke rumahmu kapan-kapan?”

Sulli mengangguk. “Tentu saja!” Akhirnya ia bisa mendapatkan seorang teman.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki masuk ke dalam kelas. Ia berhenti sejenak dan menatap seisi kelas─sepertinya ia sedang mencari tempat duduk. Pandangannya terhenti di kursi yang tepat berada di sebelah kanan Sulli. Anak itu kembali berjalan lalu meletakkan tasnya di sana.

Sulli sempat terpana melihat lelaki yang baru ia lihat itu. Matanya yang bersinar-sinar, senyumnya yang ramah… Sampai-sampai Sulli tidak sadar bahwa lelaki itu menyapanya.

“Anneyeong,” sapa lelaki itu ramah. “Namaku Lee Taemin. Salam kenal.”

Sapaan itu membuat Sulli tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru tersenyum dan langsung menyahut walaupun dengan gugup, “A-aku Choi Sulli. Dan ini temanku, Krystal Jung.”

Taemin tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas. Mengindahkan Sulli yang terpesona akan dirinya.

 

$#@#$

Uhh… Padahal ia baru masuk sekolah seminggu yang lalu. Tetapi guru-guru sudah memberinya pelajaran yang sulit dan sama sekali berbeda dengan pelajaran yang ia pelajari di Sekolah Dasar.

Sulli menghela napas dan menggerutu dalam hati. Ia mengangkat kepalanya lebih tinggi untuk melihat soal yang ditulis di papan tulis. Lalu ia kembali menghela napas ketika tahu bahwa melihat soal kembali tidak membuahkan hasil apa-apa.

“Hei, kau tahu jawabannya?”

Bisikan itu membuat Sulli menolehkan kepalanya. Ia melihat Taemin sedang menatapnya sambil menunjuk soal di papan tulis.

“Belum,” jawab Sulli sambil menggeleng pelan.

“Kita kerjakan saja bersama-sama.”

Usulan Taemin membuat Sulli terkejut.

“Memangnya tidak apa-apa jika dikerjakan bersama?”

“Kyuhyun songsaenim sedang pergi. Tidak apa-apa kok. Lagipula ini bukan ulangan. Jadi bagaimana?” tanya Taemin sambil tersenyum.

Senyuman Taemin membuat Sulli tidak berdaya. Gadis manis itu segera tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Ayo.” Sulli menggeser tempat duduknya sebelum Taemin menarik kursinya ke meja Sulli.

“Oke… Ayo kita kerjakan.”

 

$#@#$

“Wah wah wah… Kurasa ada yang sedang jatuh cinta.”

Sulli menatap Krystal dengan raut wajah heran. “Siapa?”

“Kau!” tunjuk Krytal sambil tertawa kecil. Ia meminum jus jeruknya.

“Aku?” tanya Sulli. “Jangan bicara sembarangan, Krystal-ah.”

“Siapa yang bicara sembarangan? Aku bicara sesuai dengan kenyataan kok. ‘Terima kasih ya, Taemin.’” Krystal mengulangi ucapan Sulli saat pelajaran Matematika tadi. “Jangan kira aku tidak tahu dan tidak dengar! Aku ‘kan duduk di depanmu.”

Sulli mendesah. “Aku berterima kasih padanya bukan berarti aku menyukainya─apalagi jatuh cinta.”

“Tapi aku bisa melihat senyummu berbeda.”

“Maksudmu?”

“Ya sudahlah… Nanti kau akan tahu sendiri…”

 

$#@#$

Pelajaran terakhir adalah pelajaran Elektro sekaligus pelajaran paling membosankan. Sulli hanya duduk di kursinya sambil berpura-pura menulis, padahal ia sedang asyik menggambar sketsa berbagai tokoh kartun. Ia tahu perbuatannya sama sekali tidak baik. Seharusnya ia memperhatikan pelajaran dengan seksama. Tapi ia benar-benar tidak bisa berhenti.

Semakin cepat Sulli menggoreskan pensil ke atas bukunya. Ia tersenyum puas ketika sketsa tokoh Donald Duck sudah selesai ia gambar. Lalu ia mengangkat matanya dengan hati-hati dan mengedarkan pandangannya seisi kelas─mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang bisa ia gambar.

Sulli menurunkan pandangannya ketika Jonghyun songsaenim─guru Elektronya─bangkit dari kursi lalu pergi keluar kelas. Ia mengangkat kepalanya lalu tersenyum senang dan mulai mencari obyek untuk digambar.

Tiba-tiba mata Sulli terhenti pada sesuatu yang berada di sebelah kanannya. Ia melirik Taemin yang sedang asyik membaca komik. Sulli tersenyum kecil. Rupanya Taemin sama seperti dirinya─bisa bosan dengan pelajaran lalu berbuat semaunya.

Lalu Sulli mulai memperhatikan Taemin. Dengan tidak sadar, pensil yang ia genggam bergerak semaunya dan mulai menggambarkan sketsa Taemin yang sedang membaca komik.

Sulli terus memperhatikan Taemin. Mulai dari bibirnya yang terus tersenyum dan matanya yang nampak bersinar-sinar.

Ketika Taemin meletakkan komiknya di atas meja, Sulli buru-buru membuang pandangannya sambil tersenyum. Lalu diam-diam ia menggoreskan pensilnya lagi. Beberapa menit kemudian, sketsa Taemin yang sedang membaca komik sudah jadi.

Entah kenapa Sulli bisa menggambar ini. Biasanya ia menggambar dengan obyek benda mati, namun kali ini ia menggambar dengan obyek manusia.

Hmm… Ada apa ya?

 

$#@#$

Geez… Sepertinya Sulli mulai menyadari apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa ia selalu memperhatikan Taemin. Kenapa ia selalu menatapnya diam-diam lewat ekor matanya. Kenapa ia selalu menggambar sketsa dengan obyek yang adalah Taemin…

Ia tahu. Ia menyukai Taemin.

Setiap kali akan berangkat sekolah, ia bersemangat sekali. Berbeda dari biasanya. Lalu ia akan memutar jalan yang lebih jauh. Melewati barisan rumah yang terletak di jalan Kang─padahal rumahnya sendiri ada di jalan Han. Sambil bersenandung ceria, ia akan mengedarkan pandangannya; mencari-cari sosok Taemin yang ia ketahui tinggal di sana.

Ketika ia melihatnya, ia akan bersembunyi di balik pepohonan sambil mengikuti Taemin yang berangkat dengan berjalan kaki. Jika sempat, Sulli akan meraih kamera yang ia pinjam dari ayahnya, lalu mengambil foto Taemin diam-diam. Dan dari foto itulah ia akan menggambar ulang sketsa Taemin.

Tapi walau begitu, sekali pun Sulli belum pernah berbicara dengan Taemin. Ia duduk di sebelah Taemin; sangat dekat. Namun secuil keberanian sama sekali tidak muncul dari dirinya.

Taemin memang pemuda yang ramah. Ia sering mengajak Sulli untuk mengobrol. Tapi merupakan kesalahan Sulli yang tidak bisa mengontrol rasa gugupnya ketika bertemu Taemin. Sulli akan berbicara dengan tergagap dan dengan jawaban yang singkat. Jika Taemin bertanya “Apa kabar?”, Sulli akan menjawabnya dengan “Baik”. Jika Taemin bertanya “Bagaimana hasil ulanganmu?”, Sulli akan menjawab, “Lumayan bagus. Aku dapat 85”. Dan begitu seterusnya. Sulli tidak tahu bagaimana caranya untuk memulai atau melanjutkan percakapan. Semuanya terhenti begitu saja.

Dan pada akhirnya, Sulli hanya bisa melihat Taemin lewat ekor matanya saja. Atau lewat hasil goresan tangannya di buku sketsa yang selalu ia bawa kemana-mana.

 

$#@#$

 

Sudah setahun berlalu dan kini Sulli duduk di kelas delapan. Kebetulan ia tidak sekelas dengan Krystal dan… Taemin.

Nama terakhir itu tersangkut di kepalanya. Entah sejak kapan dirinya menyukai Taemin. Ia sendiri tidak tahu, tapi yang pasti jantungnya selalu berdetak tidak karuan setiap kali bertemu atau berpapasan dengan Taemin.

Setiap istirahat atau pulang sekolah, Sulli akan ke perpustakaan, duduk di pinggir jendela dan berpura-pura membaca. Sebenarnya ia duduk di pinggir jendela untuk memandangi Taemin yang sedang bermain basket di lapangan atau sekedar ngobrol di teras kelasnya. Kemudian Sulli akan mulai menggambar sketsa Taemin.

Setelah puas dengan hasil karyanya, Sulli akan kembali ke kelas atau menemui Krystal di kelas lain.

Begitulah siklus cinta pertama Sulli. Tidak pernah berbeda dan selalu saja begitu.

 

$#@#$

Suara riuh dapat terdengar dari lapangan basket sekolah. Choi Sulli buru-buru keluar dari kelasnya lalu duduk di teras kelasnya. Matanya terus bergerak mencari-cari sosok di antara para pemain basket kelas VIII yang sedang bertanding.

Ah, itu dia!

Sulli langsung tersenyum begitu melihat sosok yang ia cari. Lee Taemin nampak sangat serius dengan bola yang sedang ia dribble. Lelaki itu berlari melewati beberapa pemain, terus menuju ring basket, melempar bola dan akhirnya menambah poin bagi kelasnya.

Tepuk tangan bergema di seluruh lapangan basket. Begitu juga Sulli, ia bertepuk tangan dengan sangat keras bahkan sampai tangannya memerah. Class  meeting kali ini jauh lebih seru daripada class meeting tahun lalu. Apalagi kelas Sulli berada di depan lapangan basket sehingga ia tidak perlu pergi kemana-mana.

“Sulli!”

Panggilan itu membuat Sulli menolehkan kepalanya. Ia melihat Krystal Jung berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar. Sulli memamerkan eyesmile-nya lalu menyuruh Krystal untuk duduk di sebelahnya.

“Akhirnya kita bisa bersama lagi,” kata Krystal. “Sejak pisah kelas, kita hanya bisa bertemu saat istirahat atau pulang sekolah saja.”

“Bukankah kita bertemu setiap hari di rumahku?” tanya Sulli. “Kau selalu main ke rumahku setiap sore.”

Krystal tidak menanggapi perkataan Sulli. Ia sibuk menonton pertandingan basket yang seru itu. Ketika ia melihat Taemin berada di tengah lapangan, ia langsung berceletuk, “Pantas saja. Memandangi pujaan hati ya?”

Celetukan itu membuat pipi Sulli merona. Ia tidak menyahut dan kembali menonton pertandingan.

Tiba-tiba wasit meniup peluit tanda babak pertama telah usai. Para pemain basket berkumpul untuk istirahat sejenak. Sulli tetap tidak melepaskan pandangannya dari Taemin.

Mata Sulli membulat ketika ia melihat seorang siswi─yang ia ketahui bernama Suzy─datang menghampiri Taemin dan menawarkan sebotol air putih. Taemin tersenyum lebar lalu menerima minuman itu. Suzy menarik tangan Taemin dan menyuruhnya duduk di pinggir lapangan. Kemudian mereka mengobrol dengan hangat.

Sesuatu yang baru ia rasakan menjalar cepat ke hati dan seluruh tubuh Sulli─membuatnya sakit tidak karuan. Jantungnya berdenyut kesakitan dan napasnya mulai memburu. Sulli menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan.

Inikah yang dinamakan cemburu?

 

$#@#$

Mungkin inilah akibat dari memendam rasa. Orang-orang tidak tahu apa yang ia rasakan dan perlahan semuanya terjadi tidak sesuai dengan harapannya.

Baru-baru ini gosip bahwa Taemin dan Suzy berpacaran telah meluas. Sontak seluruh sekolah kaget dan menjadi heboh. Taemin adalah bintang sekolah dan punya cukup banyak penggemar.

Ketika mendengar gosip itu dari Krystal, Sulli hanya bisa diam sambil berusaha untuk menenangkan hatinya yang mulai mengamuk kesakitan. Krystal juga berusaha untuk menghibur sahabatnya; ia sering mengajak Sulli jalan-jalan atau mentraktirnya makan─namun tidak berhasil. Itu tidak bisa membuat Sulli kembali seperti dulu lagi.

Sulli menundukkan kepalanya. Ia tahu ini kesalahannya. Ia seharusnya mendekati Taemin dan mengatakan perasaannya pada lelaki itu. Namun Sulli tidak mampu melakukannya. Keberanian yang ia berusaha kumpulkan ternyata sama sekali tidak cukup.

Dengan langkah goyah, Sulli berjalan keluar kelas. Ditangannya terdapat beberapa buku pelajaran kelas IX. Ia dapat melihat siswa-siswi berjalan keluar dari kelas mereka masing-masing lalu segera pergi dari sekolah.

Sulli mengangkat matanya sambil berusaha untuk menemukan Krystal. Ia akan pulang bersama sahabatnya itu. Namun yang ia temukan bukanlah Krystal. Melainkan sebuah pemandangan yang kembali membuatnya sakit.

Ia melihat Taemin berada di teras kelasnya. Di sana juga ada Suzy. Mereka berdua mengobrol dengan sangat akrab. Sepertinya mereka berdua akan pulang bersama.

Ketika menyadari bahwa pemandangan itu berbahaya bagi dirinya, Sulli segera membuang pandangannya. Ia menghela napas panjang lalu memejamkan mata. Ia tidak boleh terlalu larut dalam perasaannya sendiri. Ia akan menghadapi ujian akhir beberapa bulan lagi dan ia harus fokus dengan itu.

Ia harus berusaha untuk melupakan Taemin dan segala masalahnya.

 

$#@#$

Rasa lelah mulai mendera otak Sulli. Ia mengangkat kepalanya dari buku Matematika yang sedang ia pelajari. Ia melirik jam dinding. Hampir pukul delapan malam. Terlalu dini untuk menyudahi acara belajarnya. Tapi Sulli benar-benar lelah. Mungkin ada baiknya jika ia istirahat sebentar.

Sulli meraih buku sketsanya. Ia membuka halaman buku satu per satu. Sampai akhirnya ia tiba di halaman terakhir yang masih kosong. Ternyata hampir seluruh halaman buku ini sudah ia penuhi dengan gambar sketsa Taemin.

Mata Sulli hanya menatap kosong halaman terakhir itu. Lalu secara tidak sadar, Sulli mengambil pensilnya dan mulai menggoreskannya secara perlahan dan hati-hati. Pensilnya terus bergerak walaupun otak Sulli benar-benar kosong.

Setelah sepuluh menit, tangan Sulli berhenti. Ia menaruh pensilnya ke tempat asal dan mulai menatap hasil gambarnya. Perlahan kesadarannya muncul seiring semakin lama ia menatap gambarnya.

Gambar itu… ketika Taemin sedang mengobrol dengan Suzy.

Ia tidak percaya ia sudah menggambarnya.

Air mata Sulli menetes perlahan dari sudut matanya. Ia merasa bodoh─sangat bodoh. Ia tahu kejadian itu membuatnya sakit hati, tapi kenapa ia menggambarnya? Seharusnya ia membuang ingatan itu jauh-jauh, namun ia menggambarnya!

Ya Tuhan… Apa yang telah terjadi dengan otaknya?

Tangan Sulli menelusuri lekukan gambar Suzy. Seandainya yang berada di sana adalah dirinya, bukan gadis lain. Ia berharap sekali bisa seperti Suzy. Mengobrol akrab dengan Taemin, sekelas dengannya, dan bisa leluasa melihatnya. Ia ingin sekali bisa menyentuh Taemin. Namun ia tidak bisa. Karena ia dan Taemin selalu berjauhan.

Sulli menyadari jarak yang membentang di antara mereka sangatlah jauh. Ia hanya bisa memandangi Taemin dari kejauhan, tidak berani mendekat ataupun berbicara dengannya. Lalu ia mulai memenuhi buku sketsanya dengan gambar-gambar Taemin yang ia buat sendiri.

Sesungguhnya ia bisa berbuat lebih dari itu. Ia punya kesempatan emas saat duduk di kelas VII. Ia bisa mendekatkan dirinya dengan Taemin; berusaha untuk menjadi akrab. Namun keberaniannya langsung hilang dan ia membuang kesempatan itu sia-sia. Sampai akhirnya Taemin berpacaran dengan Suzy.

Air mata Sulli mengalir semakin deras. Sedetik kemudian ia mulai terisak. Ia… ia sendiri yang menjauhkan dirinya dari Taemin. Ia sendiri yang membiarkan gadis lain mendekati Taemin. Dan ia sendiri yang menginginkan dirinya berjauhan dengan Taemin…

 

$#@#$

“Maaf. Perpustakaan akan tutup sebentar lagi…”

Suara itu berputar-putar di kepala Sulli, namun ia menghiraukannya.

“Sulli-yah…”

Ketika mendengar namanya dipanggil, Sulli mengerjapkan matanya dan langsung terbangun. Ia duduk sambil berusaha untuk menghalau rasa kantuknya. Lalu ia mulai melihat Kim Taeyeon─si penjaga perpustakaan─sedang melambaikan-lambaikan tangan.

Seulas senyum muncul di wajah Taeyeon. “Kau sudah bangun?”

“Ah, ya…” gumam Sulli. Kesadaran mulai pulih sepenuhnya. Lantas ia tersenyum. “Terima kasih sudah membangunkanku. Dan maaf karena aku ketiduran di sini.”

“Tidak apa-apa. Tapi kau harus segera pulang. Sekolah sudah sepi dan perpustakaan ini akan kututup sebentar lagi.”

“Ya. Aku akan membereskan barang-barangku dulu.”

Taeyeon mengangguk lalu ia segera pergi. Sulli menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil bergerutu mengapa ia bisa ketiduran di perpusatakaan.

Sehabis pulang sekolah, ia langsung pergi ke sini untuk meminjam buku. Tapi saat ia menemukan sebuah novel dengan judul yang menarik, ia duduk di kursi lalu membacanya sampai akhirnya ia tertidur.

Dengan cepat Sulli memasukkan barang-barangnya yang ada di atas meja─sebuah bolpoin, kartu perpustakaan, dan… Tunggu dulu. Ada sesuatu yang hilang.

Sulli mengerjap panik ketika ia tidak menemukan buku sketsanya. Ia ingat tadi ia meletakkannya tepat di sebelah kartu perpustakaan, tapi sekarang tidak ada! Ya ampun… Benda itu sangat berharga buat dirinya!

Sambil menenangkan dirinya, Sulli mengacak-acak isi tasnya. Hanya ada beberapa buku tulis, buku pelajaran yang tebal, sebuah tempat pensil─tak ada buku sketsa! Sulli meletakkan kembali barang-barangnya ke dalam tas, lalu dengan cepat ia beranjak dari tempat duduk dan mulai mencari di seluruh perpustakaan. Ketika ia melewati meja paling belakang, ia melihat sebuah buku yang terbuka.

Sulli menghampiri meja itu sambil berharap kalau itu adalah buku sketsanya. Dan ternyata benar. Itu adalah buku sketsanya, tapi Sulli tidak tahu mengapa benda itu bisa berpindah tempat sampai ke sini.

Buku itu Sulli ambil dengan sentakan keras. Ia menggumamkan kata-kata syukur dan mendekap buku itu erat-erat lalu melihat bukunya. Alisnya terangkat sebelah ketika ia melihat bekas sobekan kertas berada di halaman paling terakhir.

Itu adalah gambar Taemin yang sedang mengobrol dengan Suzy.

Kenapa gambar itu bisa hilang? Apa ada yang merobeknya lalu mengambilnya? Tapi apa motivasi orang tersebut melakukan hal itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berputar-putar di otak Sulli. Namun ia menghiraukannya. Yang penting bukunya sudah kembali dan hanya satu gambar yang hilang.

 

$#@#$

Seharusnya Sulli merasa senang dan bangga karena bisa berdiri di atas panggung. Ia meraih nilai ujian yang sangat baik dan ia masuk dalam sepuluh besar. Namun hanya senyum kecil yang bisa diulas gadis manis itu. Karena justru dari panggung inilah ia bisa melirik Taemin yang berdiri tepat di sebelahnya dan sedang tersenyum lebar pada seorang gadis di bawah sana.

Cepat-cepat Sulli menghela napas lalu ia tersenyum lebar. Berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke orang tuanya dan Krystal yang sedang bertepuk tangan sambil tersenyum.

Berusaha untuk menghilangkan rasa sakitnya walaupun ia tahu itu tidak mungkin.

 

$#@#$

Liburan kali ini sama sekali tidak menarik buat Sulli. Ia sendirian bersama adiknya, Sunhwa. Orang tuanya sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis dan ia tidak bisa main ke rumah Krystal karena sahabatnya pulang ke Los Angeles untuk menghadiri pernikahan sepupunya yang kebetulan diadakan saat liburan.

Sulli mendesah panjang. Lalu ia mengulur tangannya untuk mengambil tasnya. Ia buka tas itu dan mengambil buku sketsa kesayangannya. Ketika ia angkat buku sketsa itu, selembar amplop jatuh dari dalam bukunya.

Ia tidak ingat menyisipkan amplop atau apa pun ke dalam buku sketsanya. Lalu milik siapa ini?

Amplop itu Sulli ambil. Lalu ia membuka isinya dan mulai membaca surat yang ada di dalamnya.

Ia mengerjap kaget ketika melihat gambar sketsanya yang hilang di perpustakaan beberapa waktu yang lalu ditempel di bagian atas surat.

 

Kau pasti bertanya-tanya kenapa gambar itu bisa ada di sana.

Tapi sebelumnya, aku ingin minta maaf karena telah melihat-lihat barang pribadimu tanpa ijin dan mengambilnya. Sungguh, aku minta maaf.

Aku pergi ke perpustakaan usai pulang sekolah dan aku melihatmu tertidur pulas dengan novel yang terbuka. Lalu secara tidak sengaja, aku melihat buku sketsamu. Iseng-iseng aku membawanya ke meja belakang dan mulai melihat-lihat isi buku itu.

Aku kaget ketika melihat gambarku berada di halaman pertama. Awalnya aku hanya mengira kau kebetulan melukisku. Tapi setelah aku buka halaman berikutnya, aku tahu itu bukan kebetulan. Kau… menyukaiku ‘kan?

Dan soal gambar itu… Kenapa kau menggambarnya, Sulli? Gambar itu membuatmu sakit hati ‘kan? Jika kau tahu, kenapa kau tetap menggambarnya? Apa kau ingin menyakiti hatimu sendiri?

Yah… Tapi bukan hanya dirimu yang suka menyakiti diri sendiri. Aku juga. Ketika Suzy menembakku, aku pikir jika aku menerimanya kau akan bereaksi dan aku akan tahu kau menyukaiku atau tidak. Tanpa pikir panjang pun, aku menerimanya. Namun aku sama sekali tidak melihat reaksi darimu.

Lalu aku berpikir bahwa kau tidak menyukaiku. Aku mulai kehilangan harapan dan keberanian. Disaat itu pun aku harus meladeni Suzy yang terus berpikir bahwa aku benar-benar ‘pacarnya’.

Seharusnya aku menyatakan perasaanku yang sesungguhnya sejak dulu─sejak kita masih sekelas. Tapi aku terlalu takut untuk melakukannya. Sampai akhirnya kita berpisah kelas. Aku terus menyesali itu. Aku mendapat kesempatan untuk dekat denganmu, tapi aku membuangnya begitu saja.

Untuk itu, aku tidak ingin membuang kesempatanku kali ini. Aku akan menanyakan sesuatu padamu. Kau tidak bisa menjawabnya sekarang, karena aku pasti sudah ada di Beijing ketika kau membaca surat ini. Kau harus menjawabnya nanti, ketika kita bertemu lagi.

Yang ingin kutanyakan adalah… Maukah kau menjadi kekasihku?

Sesungguhnya aku tidak yakin kau akan bertahan dengan perasaan itu sampai akhirnya kita bertemu lagi. Tapi aku berusaha yakin, karena aku mencintamu, Sulli.

Dan aku berharap kau juga begitu…

 

LEE TAEMIN

 

Mata Sulli membasah setelah membaca surat yang ternyata dari Taemin itu. Jadi selama ini… Taemin menyukainya? Ia benar-benar tidak menyangka jika ternyata Taemin membalas perasaannya.

Air mata Sulli menetes perlahan. Seandainya saja ia bisa memutar waktu, ia pasti akan memanfaatkan masa lalu dengan sebaik-baiknya. Sekarang ia tidak bisa melakukan apa-apa, ia sudah terlambat.

Atau mungkin… belum. Ya, ia belum terlambat. Sulli berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ia masih bisa melakukan sesuatu. Yaitu menjaga cintanya sampai ia dan Taemin bertemu suatu hari nanti.

 

$#@#$

Eight years later…

 

 

Sulli merenggangkan tubuhnya yang mulai terasa kaku. Ia sudah duduk di sini selama hampir berjam-jam. Ia kira menjadi seorang suster adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tapi nyatanya ia hanya disuruh untuk duduk di meja informasi rumah sakit. Bukannya itu pekerjaan resepsionis? pikir Sulli.

“Sulli-yah!”

“Ada apa?” tanya Sulli ketika ia melihat rekan kerjanya, Park Sunyoung, datang menghampirinya.

“Kau bisa menemui dokter baru itu? Aku harus mengurusi pasien di ruangan atas dan tidak bisa membantu si dokter. Kurasa dia butuh bantuan.”

Senyum langsung terbit di wajah Sulli. Ia langsung mengangguk dengan semangat. Kebetulan sekali, ia sedang bosan berada di sini. Mungkin ini waktunya untuk ‘praktek’ langsung menjadi seorang suster. “Tentu! Dimana dia?”

“Ada di ruangannya, di lantai tiga. Namanya Lee Taemin.”

Mendengar nama itu Sulli langsung terdiam. Lee Taemin katanya? Apa jangan-jangan… Tidak! Itu pasti pemilik nama Lee Taemin yang lain.

“O-oke. Aku akan ke sana,” kata Sulli sambil beranjak pergi menuju lantai tiga.

 

$#@#$

Ketika sampai di depan pintu bertuliskan ‘LEE TAEMIN’, Sulli tidak langsung masuk. Ia menghirup napas panjang dan mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan. Tapi itu tidak mungkin. Ia bisa dikira penguntit jika melakukan itu.

Akhirnya Sulli membuka pintu walaupun ia gugup. Di dalam ruangan, ia dapat melihat seorang lelaki tinggi dan gagah berdiri memunggunginya. Sulli menutup pintu pelan-pelan lalu ia berdehem.

“Apa Anda butuh bantuan?”

“Ya, Suster. Aku butuh data pasien bernama…” Sang dokter berbalik lalu menghentikan perkataannya ketika melihat Sulli.

Awalnya Sulli tidak tahu apa yang terjadi, tapi ketika dokter itu melepas kaca matanya, ia langsung menyadari bahwa lelaki yang ada di hadapannya ini adalah Lee Taemin. Jantung Sulli berdegup kencang. Apa Taemin masih ingat tentang surat ‘itu’? Apa Taemin masih ingat dengan pertanyaan yang harus Sulli jawab?

“Sulli…?”

“Ha-hai.”

Taemin langsung tersenyum lebar. Ia meletakkan kacamatanya di atas meja. “Jadi, kau bekerja sebagai suster di sini?”

Dengan lemah Sulli mengangguk. Sepertinya Taemin tidak ingat.

“Lalu… apa jawabanmu?”

Pertanyaan itu membuat Sulli kaget. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Taemin dengan tatapan tidak percaya.

“Maukah kau menjadi kekasihku?”

Tidak ada yang bisa Sulli lakukan. Ia hanya diam selagi kebekuan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri─berdetak kencang seperti mau pecah. Sejenak kemudian air mata mulai menetes dari mata indahnya.

Sebisa mungkin Sulli membuka mulutnya. “Ya…” Dan akhirnya ia bisa mengucapkan jawaban itu.

Taemin tersenyum hangat lalu membawa Sulli ke dalam pelukannya. Ia mendekap Sulli dan berbisik, “Terima kasih. Dan maaf sudah membuatmu menunggu selama ini. Sarangheyo…”

 

THE END

Sebenarnya ini adalah FF Seri Galau (?) ketiga saya. Dua yang lain adalah FF SuGen, jadinya gak dipublish di sini.

Disebut FF Galau karena memang dibuat saat saya sedang galau. Yah… biasalah. Masalah anak SMP yang mau masuk SMA dan harus berpisah sama orang yang disukai karena beda sekolah. Cuma itu. But it makes me really really sad until I’m crying T_T

Lebay ya? Saya juga mikirnya gitu, tapi beneran deh… Saya lagi galau banget *_*

Ya udahlah. Kalo saya ngomong lagi, malah nanti jadinya curcol.

 

Uhm, sebelum pergi, boleh gak saya minta sesuatu?

KOMEN ya??😀😀😀

 

 

 

Park Sooyun~

 

Categories: Shiny Effects | Tags: , , , , , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “Far Away

  1. scene terakhir ga kebayang gimana jadinya kalo taem jadi dokter dan sulli jadi suster.hehehe
    ini seperti diary nya sulli
    semangat keep writing

  2. Nova

    Daebak thor!
    Cerita awalnya persis banget sama aku😥
    Tapi akhirnya ngga, hehe😀

  3. kai is mine

    Wow thor *o*
    Gue ngerasa kasian sama sulli yang gaberani ngejar taemin.
    Gue kira mereka gaakan ketemu lagi, tapi ternyata ketemu lagi😀
    Daebak !!!!

  4. daebak!
    Hampir persis sama aku😦
    Tp aku gak happy ending *jd ingat ‘dia’*
    Wah, baru masuk SMA ?? Sama dong😀
    Cerita’y keren (y)

  5. GillChan

    ya ampun , sedih banget thor. tapi untung happy ending.😀
    coba aja ada sequel nya *ngarep
    TAELLI JJANG !!!!!!!!!

  6. Ya Ampuun Min.. Daebaakk bener dah~ ^.^ Udah gitu aku kan suka Baangeet sama Couple TaeLli.. Jadi Menghayati banget saya bacanya min.. Daebaak bener min.. Tapi ada yg ngga saya suka. Kenapa harus ada Suzy? >.<

  7. Bagus banget eon, ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: