Machine [2 / 2]

Author                        : Park Sooyun

Title                            : Machine

Cast                             : Choi Minho, Krystal Jung

Genre                         : Romance

Length                       : Twoshoot

Rating                        : General

 

 

 

 

 

“Her heart is closed up. Her gaze doesn’t give me a clue.

Is she a doll, doesn’t breathe? Making a cold smile.

She’s really a cold machine…”

 

 

 

 

NORMAL POV

 

“Sebenarnya, Krystal…” Jessica menghela napasnya. “Dulu… Dulu saat ia berumur tiga belas tahun, ada seorang teman pria Krystal yang menyukai Krystal. Anak itu segera menyatakan cintanya pada Krystal, namun Krystal menolaknya baik-baik karena saat itu dia merasa bahwa ia masih terlalu kecil untuk pacaran. Sepertinya penolakan Krystal membuat anak laki-laki itu marah. Beberapa hari kemudian, sesudah pulang sekolah, Krystal diculik. Ia dibawa ke sebuah gudang pabrik di pinggir kota Los Angeles. Dan ternyata yang menculik Krystal adalah laki-laki yang sempat ia tolak.

“Anak laki-laki itu membawa ikut serta kawan-kawannya. Mereka hampir saja memperkosa Krystal jika saja seorang pegawai gudang pabrik tersebut tidak lewat. Kawanan laki-laki biadab itu segera kabur begitu si pegawai pabrik muncul. Sejak saat itu, Krystal berubah… Dari seorang gadis yang ceria menjadi gadis pendiam dan lebih suka menyendiri. Ia masih trauma dengan kejadian di masa lalunya.”

“Jadi, karena itu Krystal begitu dingin dan sulit didekati…” gumam Minho.

“Ya. Krystal berusaha untuk mencegah kejadian itu terulang lagi dengan menutup dirinya. Supaya tidak ada seorang pun yang menyukai dirinya dan tidak ada yang mencelakakannya.”

Minho terdiam. Ia berusaha untuk mencerna kata-kata Jessica. Perlahan ia tersenyum kepada Jessica. “Terima kasih, noona. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Jessica balas tersenyum. “Sama-sama, Minho.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Donghae.

“Aku akan melindungi Krystal dari belakang. Dan berusaha untuk membuatnya tersenyum lagi.”

“Aku tidak menyangka kau sedewasa ini, Minho…” gumam Donghae.

 

$#@#$

“Mau apa kau mengikutiku, Minho-ssi?”

Upps… Rupanya ia telah ketahuan. Akhirnya Minho keluar dari tempat persembunyiannya.

“Apa kau tahu menguntit orang lain itu perbuatan kriminal?”

Lagi-lagi kata-kata dingin nan menusuk itu keluar dari mulutnya. Tapi Minho tidak peduli karena ia sudah tahu semuanya dan niatnya baik.

“Aku hanya ingin memastikan kau selamat sampai rumahmu, Krystal,” ucap Minho.

Tatapan Krystal belum berubah─masih datar. “Aku bisa pulang sendiri.”

“Apa kau ingin kejadian kemarin terulang lagi?”

Tiba-tiba saja tubuh Krystal menegang. Tatapan matanya menyiratkan rasa trauma yang menakutkan dan tangannya menjadi kaku.

“Aku bukan seperti orang seperti mereka, Krystal. Yang tertarik dengan kecantikanmu dan berusaha memilikimu dengan cara yang tidak baik.”

“Apa maksudmu?”

Minho melangkahkan kakinya mendekati Krystal. “Kau tidak ingin kejadian itu terulang untuk yang ketiga kalinya, ‘kan?”

Mata Krystal membulat seketika. “Da-darimana kau tahu?!”

“Kakakmu yang menceritakannya padaku.”

“Maaf, Minho-ssi,” ucap Krystal dengan mata disipitkan. “Aku tahu kau telah menolongku beberapa hari yang lalu, dan aku berterima kasih untuk hal itu. Tapi kau tidak boleh seenaknya bertanya pada kakakku tentang kehidupanku dengan menganggap itu sebagai imbalan atas perbuatanmu.”

“Aku memang penasaran denganmu, Krystal. Tapi kakakmu sendiri yang menceritakannya padaku. Aku tidak menganggap hal itu sebagai imbalan karena telah menolongmu. Dialah yang menganggapnya seperti itu.”

Nampaknya Krystal tidak terlalu peduli dengan pembelaan Minho. Ia menatap Minho dengan tatapan benci lalu segera pergi.

Kali ini Minho membiarkan gadis yang disukainya itu berlalu begitu saja. Mungkin jika ia membiarkan Krystal untuk sendirian dan berpikir adalah tindakan yang baik. Ia yakin, suatu hari nanti Krystal akan mengerti, mengubah pemikirannya tentang dirinya dan perlahan akan menyukai dia. Ya, semoga saja keyakinannya akan terjadi.

 

$#@#$

Tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, Krystal langsung masuk ke dalam rumah milik kakaknya. Ia menelusuri seisi rumah sampai akhirnya ia menemukan kakaknya sedang memasak.

“Kenapa eonni memberitahunya?” tanya Krystal.

Jessica membalikkan badannya dan menatap Krystal dengan tatapan tidak mengerti. “Memberitahu apa dan siapa?”

“Tentang masa laluku pada Minho,” jawab Krystal tidak sabar. “Sudah kubilang supaya eonni tidak memberitahu tentang itu pada siapapun.”

“Eonni tahu kau tidak suka jika masa lalumu diketahui orang lain. Tapi eonni benar-benar tidak tahan. Melihat perubahan sikapmu itu tidak enak, Krys. Dulu kau adalah gadis yang periang dan murah senyum. Tapi sejak peristiwa itu, kau berubah menjadi gadis yang dingin.”

“Bukankah eonni juga begitu?”

Jessica menghela napas. Jujur, berdebat dengan adiknya adalah perbuatan yang melelahkan baginya. “Memang eonni dulu mempunyai sifat yang dingin. Tapi tidak separah kau. Setidaknya eonni punya beberapa teman dekat seperti Yuri dan Taeyeon,” ucap Jessica. “Lalu apakah kau punya teman dekat? Eonni bahkan tidak pernah melihat kau mengobrol dengan seseorang lebih dari lima menit.”

“Itu kulakukan supaya kejadian itu tidak terulang lagi,” kilah Krystal. “Jika orang-orang tidak menyukaiku, itu artinya mereka akan menjauhiku dan peluang aku tersakiti akan semakin sedikit.”

“Aku tidak tahu kau mendapat pemikiran itu darimana Krys,” ucap Jessica datar. “Jika kau berpendapat seperti itu, lalu mengapa beberapa hari yang lalu kejadian itu terulang lagi?”

Krystal terperanjat mendengar pertanyaan kakaknya. “I-itu hanya sebuah ketidak sengajaan.”

“Sengaja atau tidak sengaja, itu tetap terulang. Artinya, perubahan sikapmu itu tidak membawa dampak baik. Justru sebaliknya, kau akan dijauhi oleh teman-temanmu dan kau akan kesepian.”

Perkataan Jessica membuat Krystal terdiam. Memang benar apa kata kakaknya. Selama ini ia kesepian dan tidak punya teman bicara satu pun.

“Eonni tidak mengerti tentang perasaanku!” seru Krystal. Rupanya ego masih menguasai otaknya.

“Tentu saja eonni mengerti. Karena itu eonni menyarankan appa dan umma supaya mengirim kita ke Seoul. Agar traumamu bisa hilang dan sikapmu akan kembali normal,” ucap Jessica lembut. “Kami selalu peduli padamu, Krys. Bahkan Donghae oppa juga begitu. Apa kau lupa kalau Donghae oppa yang selalu membelikan makanan kesukaanmu setiap hari Sabtu? Dan ia terus berusaha untuk mengajakmu liburan walaupun kau selalu menolak? Apakah semua itu membuatmu lupa bahwa kami selalu memperhatikanmu?”

Krystal terdiam. Ia menundukkan kepalanya dan matanya mulai basah. Ia tahu jika kakaknya dan semua orang peduli padanya. Hanya saja ia tidak mau mengerti. Rasa trauma yang begitu besar membuat sikapnya berubah. Selama ini Krystal selalu berpikir, jika ia berubah menjadi dingin dan menjauhi orang lain, ia tidak akan tersakiti. Namun kenyataan terjadi sebaliknya.

“Eonni, mianhe…” ucap Krystal terbata. “Aku tahu bahwa kalian selalu peduli padaku. Hanya saja… aku takut…”

Jessica segera menghampiri adiknya dan memeluknya erat. “Tidak apa, Krystal. Eonni tahu bahwa kau sangat trauma dengan masa lalumu. Tapi sekarang, kau harus berjanji pada eonni. Kau akan merubah sikapmu seperti yang dulu.”

“Ya…”

“Dan kau akan berterima kasih pada Minho karena dia sangat peduli padamu dan telah menolongmu,” ucap Jessica sambil melepas pelukannya. Ia tersenyum kecil. “Ia juga menyukaimu, kau tahu?”

“Entahlah. Meskipun dia menyukaiku, kurasa aku tidak akan menyukai seseorang seperti dulu lagi,” sahut Krystal pelan.

“Kau tidak bisa menghukum semua lelaki hanya karena perbuatan seseorang di masa lalu, Krys. Itu tidak adil.”

Krystal menatap Jessica. “Ya. Eonni benar…”

 

$#@#$

“Kalau aku tahu kita akan mendapat pelatih seperti itu, aku tidak akan masuk ke klub basket ini.”

Minho melirik Suho yang sedang cuhat tentang pelatih baru mereka. Ia tersenyum kecil. Pemikiran Suho ternyata sama dengannya.

“Aku juga,” sahut Jonghyun. “Mentang-mentang aku ini pengurus, seenaknya saja menyuruhku untuk melatih anggota-anggota baru. Padahal itu tugas pelatih. Bukan tugas pengurus!”

“Benar, hyung! Pelatih itu seenaknya saja. Bahkan dia tidak memberi kita kesempatan untuk istirahat lima menit. Selalu menyuruh kita untuk berlatih dari jam dua siang sampai jam lima sore. Padahal ‘kan kita juga ada tugas kuliah!” ujar Suho sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

Sepertinya Jonghyun dan Suho benar-benar tidak menyukai pelatih baru itu. Sebenarnya Minho juga tidak suka, namun ia memilih untuk tidak mengeluarkan unek-uneknya secara blak-blakan seperti Jonghyun dan Suho. That’s not his style.

Tiba-tiba saja Minho melihat Krystal sedang berjalan menyusuri lapangan basket. Sedang berjalan ke arahnya─mungkin? Minho menertawai khayalannya sendiri sampai-sampai Jonghyun dan Suho melirik dirinya dengan tatapan aneh. Namun Minho segera membungkam mulutnya ketika Krystal benar-benar menghampiri dirinya.

“Minho-ssi?” panggil Krystal. Uhh, Minho merasa ada yang berbeda dengan nada bicara Krystal. Biasanya Krystal akan berbicara dengan suara yang dingin dan menusuk. Namun sekarang rasanya lain. “Aku tidak menganggu waktumu ‘kan?”

Minho menggelengkan kepalanya cepat. Bahkan terlalu cepat. “Tentu saja tidak.”

“Aku tahu kemarin kau telah menolongku dan aku tidak berterima kasih dengan cara yang baik. Sekarang aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih kau telah menolongku, Minho-ssi. Dan maafkan aku karena telah bersikap tidak baik padamu.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti kok.”

Perlahan Krystal mengulum senyum. Namun kali ini senyum yang berbeda. Tersiratkan ketenangan dan ketulusan di senyum itu. Minho sedikit terkejut dengan hal itu, namun dengan segera ia membalas senyuman Krystal.

“Sekali lagi terima kasih, Minho-ssi.” Krystal membungkuk. Lalu ia segera pergi.

Entah apa yang telah terjadi pada Krystal sehingga ia bisa tersenyum dan berkata sehalus itu pada Minho. Tapi Minho tidak peduli. Yang penting ia bisa mendapatkan senyum Krystal untuk yang pertama kali.

“Apa aku tidak salah lihat? Krystal tersenyum padamu?” tanya Jonghyun pada Minho.

“Tidak mungkin…” gumam Suho. “Krystal bisa berubah secepat itu padamu, hyung!”

Minho hanya nyengir. “Sudah kubilang, aku akan menjadi orang pertama yang membuatnya tersenyum.”

“Memangnya kapan kau bilang seperti itu, hyung?”

“Oh iya… Aku ‘kan berkata seperti itu pada Kris, bukan kalian,” ucap Minho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Jonghyun.

“Dekati dia dan rebut hatinya secara perlahan…”

 

$#@#$

 

Krystal menata buku-bukunya dan menaruhnya di dalam tasnya. Ia melirik jam tangannya sekilas. Hampir pukul dua siang. Ia harus pulang sekarang. Krystal membawa tasnya dan segera keluar dari kelas.

Ia terus saja berjalan menyusuri lorong-lorong tanpa memperdulikan keadaan kampusnya yang mulai sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang mondar-mandir di lorong. Selebihnya tak ada siapa pun.

“Anneyeong…”

Krystal mengangkat kepalanya dan melihat Minho sedang berdiri di hadapannya. Segera saja ia mengulum senyum pada Minho.

“Hai, Minho-ssi.”

“Kau mau pulang?” tanya Minho.

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Aku hanya ingin bertanya… Apakah kau mau pulang bersamaku?”

Krystal terdiam. Haruskah ia menjawab ya? Tapi bagaimana jika di tengah jalan Minho melakukan sesuatu yang buruk padanya lalu… Stop! Krystal merutuki dirinya sendiri yang telah berpikiran macam-macam pada Minho. Trauma masa lalunya belum hilang sepenuhnya dari otaknya. Namun Krystal akan terus mencoba untuk menghapusnya.

“Kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku akan pulang sendiri,” ucap Minho karena ia tidak kunjung mendapat jawaban dari Krystal.

“Hm… Kurasa tidak ada salahnya pulang bersamamu, Minho-ssi.”

Raut wajah Minho berubah menjadi ceria. “Baiklah. Haruskah kita pulang sekarang?”

Krystal mengangguk. “Tentu.”

 

$#@#$

Berulang kali Minho mencubit pahanya sendiri. Ia berusaha untuk membuktikan bahwa ini mimpi atau bukan. Bayangkan saja. Saat ini ia sedang mengantar pulang Krystal yang terkenal dengan julukan ‘The Ice Princess’. Mimpi apa dia semalam?

“Kau tidak berlatih basket, Minho-ssi?” tanya Krystal tiba-tiba.

“Ahh… Tidak. Hari ini pelatih kami sakit. Jadi latihan terpaksa diliburkan,” jawab Minho. Dalam hati ia bersorak kegirangan. Jika saja pelatihnya berangkat, mungkin ia tidak akan mendapat kesempatan yang baik seperti ini. ‘Kenapa tidak sakit saja terus?’ pikir Minho. “Kau sendiri tidak ke perpustaaan?”

Kedua alis Krystal bertautan. “Dari mana kau tahu jika aku sering ke perpustakaan usai kuliah?”

“Aaa… Itu…” Minho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku sering melihatmu mampir ke perpustakaan.”

Krystal tersenyum kecil. “Aku sedang malas ke perpustakaan. Lagi pula buku yang kupinjam kemarin belum selesai kubaca.”

“Ohh…”

“Kudengar kau adalah junior Jessica eonni dan Donghae oppa.”

“Ya, itu benar. Dulu Donghae hyung juga masuk klub basket bersamaku. Kalau kakakmu sih, aku tidak terlalu tahu. Yang kutahu dia pacaran dengan Donghae hyung sampai akhirnya menikah.”

Krystal mengangguk lalu terdiam. Ia menundukkan wajahnya. Minho yang baru pertama kali mengalami situasi seperti ini dengan wanita hanya bisa memandangi Krystal. Jujur, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia memang sudah membuat Krystal sedikit melunak padanya. Namun ternyata mengajak bicara Krystal adalah hal yang cukup sulit. Sepertinya Krystal memang jarang berbicara─atau perasaannya saja kalau Krystal sedang canggung? Dari raut wajah Krystal, terlihat ekspresi gugup. Tadi Minho juga melihat kalau Krystal memainkan jarinya sendiri.

Dulu ia pernah membaca sebuah komik. Di komik itu, sang tokoh wanita sering memainkan jarinya ketika ia sedang malu atau bertemu dengan orang yang disukainya. Aisshh… Kenapa ia harus percaya dengan komik? Mungkin saja itu memang kebiasaan Krystal.

“Ahh… Sudah sampai.”

Minho tersadar lalu menatap sebuah rumah yang ada di hadapannya. “Jadi ini rumahmu?” tanya Minho walaupun ia sudah tahu jawabannya.

“Ya. Terima kasih telah mengantarku, Minho-ssi,” ucap Krystal sambil membungkukkan badannya.

“Tak perlu berterima kasih,” balas Minho. “Bahkan jika kau ingin diantar lagi, aku akan dengan senang hati melakukannya~”

 

$#@#$

Dengan gugup Krystal menutup pintu rumahnya. Perasaan apa itu tadi? Sewaktu ia berjalan dengan Minho, jantungnya berdebar tidak karuan. Dan saat mendengar Minho berbicara, ia semakin gugup dan ia hanya bisa memainkan jarinya untuk melampiaskan rasa gugup itu. Ada apa ini? Apakah ini efek trauma yang belum sepenuhnya hilang dari dirinya? Atau jangan-jangan ia…

Tidak! Jangan berpikiran seperti itu. Krystal terus memperingatkan dirinya sendiri. Sejenak kemudian Krystal pergi ke dapur dan meminum segelas air putih dingin. Perlahan rasa gugup yang tadi menguasai dirinya mulai menguap.

Krystal terperanjat kaget dan hampir menjatuhnya gelas yang ia pegang ketika ia mendengar suara bel pintu. Siapa itu? Semoga saja bukan Minho. Aissh… Kenapa ia bisa berpikir bahwa itu Minho?

Dengan langkah terpaksa, Krystal membuka pintu. Ternyata Suho. Laki-laki itu tersenyum ramah pada Krystal.

“Anneyeong, Krystal-ssi. Maaf jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin mengembalikan bukumu yang kupinjam tiga hari yang lalu. Maaf aku baru mengembalikannya sekarang.”

Oke, gumam Krystal dalam hati. Ini saatnya untuk mencoba merubah sikapnya. “Tidak apa-apa, Suho-ssi,” ucap Krystal sambil tersenyum kecil. “Bahkan jika kau ingin pinjam lagi, kau tinggal bilang padaku.”

Suho terlihat sedikit kaget. “Eh? Ya, terima kasih atas bantuannya, Krystal-ssi. Namun aku berusaha untuk tidak terus merepotkanmu. Sekali lagi terima kasih.”

“Sama-sama.”

 

$#@#$

“Kau ini benar-benar gila, hyung!”

Minho mengerutkan keningnya ketika melihat Suho yang baru datang langsung berkata seperti itu padanya. Apa yang terjadi pada bocah ini?

“Mantra apa yang kau gunakan pada Krystal, hah?”

“Hei, ada apa ini? Berbicaralah dengan jelas, Suho,” ucap Jonghyun yang mulai jengkel karena tiba-tiba saja Suho muncul dan berbicara tidak jelas.

“Kemarin aku pergi ke rumah Krystal untuk mengembalikan bukunya yang aku pinjam,” Suho bercerita dengan sangat antusias. “Dan coba tebak? Krystal terlihat sangat ramah dan ia tersenyum padaku. Berbeda sekali dengan yang dulu.”

Senyum segera mengembang di wajah Minho.

“Aku benar-benar tidak percaya kalau Krystal bisa berubah seperti itu. Apa yang kau lakukan padanya sampai ia menjadi seramah itu, hyung?”

Minho tertawa. “Sudah kubilang. Aku akan membuatnya tersenyum dan merubah sikapnya yang dingin itu. Aku hebat ‘kan?” ucap Minho narsis.

Jonghyun berdecak kagum sementara Suho bertepuk tangan.

“Baiklah. Kuakui kau memang hebat,” sahut Jonghyun.

“Yah. Walaupun sejauh ini aku bisa melihatnya tersenyum tulus, tapi aku belum berhasil membuatnya menyukaiku.”

“Kau benar-benar menyukai Krystal ya?” tanya Suho.

“Aku tidak menyukainya lagi. Sekarang aku mencintainya.”

 

$#@#$

 

Minho menatap dua lembar tiket bioskop yang ia pegang. Sebenarnya satu lembar tiket itu adalah miliknya dan satunya lagi milik Jonghyun. Ia sudah berencana untuk menghabiskan waktu akhir pekan dengan Jonghyun dan Suho. Rencananya mereka bertiga akan menonton film James Bond terbaru di bioskop.

Namun sayangnya Suho membatalkan rencananya untuk ikut karena ia ada ujian susulan. Sedangkan Jonghyun memberikan tiket yang sudah ia beli pada Minho karena ia harus pergi menjenguk pacarnya yang sedang sakit.

Lalu masalahnya, akan diapakan tiket yang satunya lagi? Kalau tidak dipakai, sayang sekali rasanya. Mungkin sebaiknya ia mengajak seseorang. Bagaimana kalau Krystal? Eh, tapi gadis itu suka James Bond atau tidak ya? Isshh… Sudahlah. Lebih baik Minho menanyakannya langsung pada Krystal.

Baru saja akan melaksanakan niatnya, tiba-tiba ia melihat Krystal melintas di depan supermaket yang terletak di seberang rumahnya. Minho beranjak dari kursi teras dan segera menghampiri Krystal.

“Hai, Krys.”

Krystal berbalik dan tersenyum. “Hai, Minho-ssi.”

“Aku ingin bertanya sesuatu… Apa kau suka film James Bond?”

“James Bond? Hm… Lumayan suka. Memangnya kenapa?”

“Aku punya dua tiket menonton bioskop besok. Sebenarnya tiket yang satunya punya Jonghyun. Tapi ia tidak bisa pergi lalu memberikannya padaku. Jadi, daripada tidak terpakai, aku ingin mengajakmu menonton besok malam.”

Krystal diam sejenak. Terlihat ia seperti sedang berpikir. “Baiklah. Kurasa besok aku tidak ada pekerjaan.”

Minho tersenyum lebar. “Oke. Aku akan ke rumahmu besok, tepat jam tujuh malam.”

“Aku akan menunggu~”

 

$#@#$

Dengan resah, Krystal melirik jam tangannya. Hampir pukul sembilan malam. Tadi ia habis menonton film dengan Minho. Namun sebelum mereka berdua keluar dari bioskop, tiba-tiba Minho ijin pergi ke toilet. Dan sekarang Krystal tengah berdiri di lobi depan bioskop. Sendirian.

Bioskop ini akan tutup sepuluh menit lagi dan nampaknya seluruh karyawannya sudah pulang. Hanya ada beberapa orang petugas keamanan bioskop yang dari tadi mondar mandir keluar masuk bioskop.

Sungguh, Krystal benar-benar tidak merasa nyaman. Ia benci suasana seperti ini. Sunyi dan ia hanya sendirian. Memang ia terbiasa tinggal sendiri setelah kakaknya menikah. Namun itu kasus yang berbeda. Setidaknya rumahnya adalah tempat yang aman dan jauh dari jangkauan orang-orang asing.

“Maaf. Kau sudah menunggu lama.”

Krystal berbalik dan melihat Minho. Ia menghela napas lega.

“Kau kenapa?” tanya Minho. “Apa ada orang asing yang menganggumu?”

“Bukan apa-apa kok,” ujar Krystal sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang.”

Minho menarik tangan Krystal dan segera keluar dari bioskop yang akan tutup ini. Sekilas tidak ada yang terjadi di antara mereka. Mereka berdua hanya diam sambil berjalan pulang. Minho sepertinya sedang asyik menikmati pemandangan malam kota Seoul dan Krystal sibuk menangkan detak jantungnya yang sudah berdebar tidak karuan.

Ada apa ini? Krystal bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa jantungku tidak karuan seperti ini?

“Kita sudah sampai.”

Ucapan Minho menyadarkan Krystal. Rupanya mereka berdua sudah sampai di depan rumah Krystal.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Minho-ssi,” Krystal membungkuk pada Minho.

“Sama-sama,” ucap Minho. “Lain kali aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi.”

Krystal tersenyum. “Aku akan menantikan itu.”

“Selamat malam, Krystal~”

 

$#@#$

“Yeah~ Ijeneun kkaeeona*…”

Dengan perasaan senang, Minho menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang sangat tepat dengan perasaannya.

Setelah berbulan-bulan tenggelam dalam rasa penasarannya, akhirnya Minho berhasil membuat Krystal ‘terbangun’. Setidaknya Krystal tidak sedingin dulu. Sekarang ia menjadi lebih ramah, terbuka dan sering tersenyum.

Entah mengapa Krystal bisa berubah secepat itu. Ia ingin berkata bahwa itu karena dirinya, tapi ia takut menjadi terlalu percaya diri. Yah, mungkin saja itu benar.

Kemarin ia bertemu Donghae di jalan. Donghae bercerita bahwa perubahan sikap Krystal sangat membuat Jessica, dia dan keluarga Krystal sangat senang. Jessica bahkan berulang kali mengatakan bahwa perubahan Krystal─selain karena Krystal sendiri─adalah karena Minho pada keluarganya. Dan keluarga Jessica ingin sekali bertemu Minho. Mungkinkah ini pertanda bahwa ia telah mendapat ‘restu’ dari keluarga Krystal?

Hahaha. Sepertinya pemikiran itu terlalu konyol. Tapi mungkin saja benar. Isshh… Daripada memikirkan hal seperti itu, lebih baik ia berpikir bagaimana caranya untuk menyatakan perasaannya pada Krystal.

Namun Minho tahu, ia harus sangat berhati-hati. Ia masih ingat pada cerita Jessica dulu. Meskipun Minho sangat mencintai Krystal, ia harus menahan perasaannya untuk sementara. Krystal masih terlihat trauma dengan masa lalunya. Dan Minho tidak boleh egois. Jika ia memaksa keinginannya, bisa-bisa yang terjadi adalah Krystal menjauhi dirinya.

Dan itu akan menjadi mimpi terburuk bagi Minho.

 

$#@#$

“Jangan bermain-main air terus, Krystal. Kau bisa sakit.”

Krystal menjulurkan lidahnya. “Kau tidak bisa melarangku, Minho-ssi.”

“Hei, bisakah kau memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’? Kurasa panggilan ‘Minho-ssi’ terlalu formal,” ucap Minho sambil mendudukkan dirinya di samping Krystal. Ia ikut-ikut memasukkan kedua kakinya ke dalam air.

“Baiklah, Minho oppa~” sahut Krystal sambil tersenyum. Ia menggerakkan kedua kakinya di dalam air sehingga menimbulkan cipratan.

“Baguslah kalau begitu.”

Minho mengalihkan pandangannya dari Krystal ke sekelilingnya. Tempat ini sebenarnya sudah ada sejak dulu. Namun baru kali ini Minho datang ke sini. Itu juga dengan Krystal.

Sebuah taman kecil di sudut kota Seoul. Taman ini tidak terlalu luas. Namun pemandangannya sangat indah. Terdapat beberapa pohon rindang dan kursi-kursi taman yang terletak di sepanjang jalan setapak. Juga terdapat sebuah kolam kecil di tengah taman. Dan di sanalah Minho sedang bercengkrama dengan Krystal.

“Aku baru melihat taman ini,” gumam Krystal.

“Sebenarnya aku sudah pernah melihat taman ini sebelumnya. Namun baru kali ini aku datang ke sini,” sahut Minho.

“Terima kasih sudah mengajakku ke sini.”

“Sama-sama,” Minho terdiam lalu memandangi kaki Krystal. “Ayo keluar dari kolam! Kakimu sudah berada di sana sejak lima belas menit yang lalu.”

“Sudah kubilang aku tidak mau.”

“Kau bisa kedinginan.”

“Aku tidak mau!” Krystal berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Minho. Minho juga tidak mau kalah. Ia terus menarik tangan Krystal dan sekarang mereka berdua terlihat sedang tarik menarik.

“Kalau kau sakit, aku bisa dimarahi kakakmu,” ucap Minho.

Krystal menjulurkan lidahnya. “Aku tidak peduli.”

“Seenaknya bicara begitu. Rasakan ini~” Minho melepaskan tangan Krystal dan segera menggelitiki pinggang Krystal.

“Aduh! Geli!” seru Krystal. Ia tertawa sambil berusaha untuk menepis tangan Minho.

“Tidak mau.” Minho semakin menggelitiki Krystal. Lalu ia berhenti dan memandangi Krystal yang masih tertawa. Perlahan senyum mengembang di wajahnya. Mungkin inilah saat yang tepat…

 

$#@#$

Minho melangkahkan kakinya sambil berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia sudah membuat keputusan. Hari ini ia akan menyatakan peraaannya pada Krystal. Sudah terlalu lama ia menahan perasaannya. Dan menurutnya kali ini adalah waktu yang tepat.

Ketika Minho melihat Krystal sedang duduk di pinggir lapangan, ia segera tersenyum. Ia sudah menyuruh Krystal untuk menunggunya di tempat itu. Minho mengedarkan pandangannya ke sekeliling─berusaha untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun. Sepertinya aman. Jam pelajaran sudah berakhir setengah jam yang lalu dan seluruh siswa sepertinya sudah pulang.

“Hei, Krystal.”

Krystal menolehkan kepalanya dan tersenyum. “Hello, Oppa.”

“Sudah menunggu lama?”

“Belum kok. Ada apa Oppa menyuruhku ke sini?”

“Uhm… Sebenarnya…” Perkataan Minho terhenti sejenak. Ia sedang berusaha untuk menemukan dan merangkai kata-kata yang tepat. Minho menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya. “Aku menyukaimu, Krystal Jung.”

Krystal terdiam dan menatap Minho dengan tatapan tidak percaya.

“Ah─tidak,” ralat Minho. “Aku mencintaimu. Aku akan berusaha untuk melindungimu walau aku harus merenggang nyawa untuk melakukannya. Dan aku berharap─kau bisa percaya padaku.”

Seulas senyum nampak di wajah Krystal. Gadis itu berdiri dan memeluk Minho. “Tentu saja aku percaya padamu,” ucap Krystal pelan. “Dan kau tidak perlu berusaha untuk melindungiku, karena kau sudah melakukannya.”

Minho ikut tersenyum dan membalas pelukan Krystal. “Aku mencintaimu, Krystal.”

Krystal menyandarkan dagunya di pundak Minho. “Aku juga…”

 

$#@#$

“Ckckck. Aku tidak menyangka Minho hyung bisa membuat Krystal jatuh cinta padanya.”

“Turunkan kepalamu, Suho! Kalau kau menyembulkan kepalamu seperti itu, kita bisa ketahuan dan Minho bisa membunuh kita! Kau tahu sendiri ‘kan kalau Minho tidak suka momen romantisnya diganggu? Dan jangan berisik!”

Suho berdecak kesal. “Kau ini yang berisik, Jonghyun hyung!”

“Hah? Kau bilang aku berisik?” ulang Jonghyun. “Justru kau yang terlalu menonjol! Ehh… Aku salah. Mana bisa kau menonjol? Kau ini ‘kan pendek.”

“Kau juga pendek, hyung! Aisshh… Sudahlah! Terima saja kenyataan kalau kita memang sama-sama pendek!”

Jonghyun membekap mulut Suho. “Sudah kubilang jangan berisik. Ehh! Lihat! Minho berjalan ke tempat persembunyian kita!”

“Kita harus lari!”

Jonghyun dan Suho baru saja akan lari sebelum sebuah teriakan menggema.

“Suho! Jonghyun hyung! Sudah kubilang jangan mengintip seperti itu!”

“Minho hyung, tadi aku seperti melihat drama~” seru Suho. “Tapi sayang sekali tidak ada adegan ciumannya…”

Jonghyun segera membekap mulut Suho dan menariknya. “Kau ini bodoh ya?! Kau hanya membuat Minho marah! Ayo lari!!”

 

 

The End

 

(*translate : Yeah, now you are waking up*)

 

Awalnya udah bagus, tapi kenapa endingnya malah jadi begini? ==’

Padahal udah saya rancang sedemikian rupa (?), tapi masih aja jadinya ancur begini. Maaf ya, readersdeul. Endingnya gaje banget ==’

Yah… tapi ‘kan yang penting Minho & Krystal udah jadian.

Saya boleh minta satu permintaan gak?

 

KOMEN ya?? #lari sebelum di timpuk kaleng bekas

 

 

 

Park Sooyun~

 

Categories: Fanfiction | 12 Comments

Post navigation

12 thoughts on “Machine [2 / 2]

  1. fishata

    akhirnya
    happy ending😀

  2. akhirnya~~ happy ending🙂
    kependekan thor ._.v hahaha tapi bagus kok ceritanya.
    sering sering buat ff minstal lagi ya, sekarang udah jarang ff minstal /bawel/ ditunggu karya selanjutnya ^^

  3. wah krystal sudah mencair,aku kira krystal robot.hehehe
    good job chingu

  4. edrarybelvi

    Yeay!
    Akhirnya minstal bersatu juga..
    Suka deh ama ceritanya..
    DAEBAK THOR!!😀

  5. SJE

    Daebak thor! Simple, tapi ngena, cuma ya kalo buatku konfliknya kurang greget hehe. Tapi keseluruhan bagus kok! d^^b

  6. DEE

    chuaaaaa….

  7. loveTAETEUKforever

    like like🙂

  8. Gpp kok thor aku tetep suka sama ceritanya🙂 , gomawo🙂

  9. anwook

    yeeee daebak chingu!!!!!!!!

  10. Chingu, gak ada niat buat sequel unt FF ini ??
    Rasanya aku masih kurang . . . ceritanya terlalu pendek . ..
    Terlalu bagus kalo harus tiba2 berhenti …
    But, it’s daebbak … !!!

  11. vankaka

    daebak! ni ff keren dah pokonya.. suka banget lah. ditunggu ff marriage life nya hahah^^

  12. yoonjunghae11

    Gpp kok thor,ff nya keren bgt sumpah! ,akhirnya minho berhasil mencairkan(?) hati nya krystal ^^ ,dan makasih banyakkk author udh masukin otp favorite aku a.k.a haesica kesini,kyaaaa aku seneng bgt mereka disini udh nikah :3 *shipperkumat,hehehe ditunggu ff minstal nya yg lain thor 💞

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: