Between Love and Reality [Part 4 / END]

Title                 : Between Love and Reality

Author              : Park Sooyun

Main cast       : Lee Taemin, Choi Sulli

Minor cast      : Song Seunghyun, Bae Suzy

Genre             : Romance, Hurt/Comfort

Length               : Chaptered

Rating                : PG 13+

 

 

 

NORMAL POV

 

Suzy menatap laki-laki yang berada tepat di hadapannya dengan tatapan penuh ketakutan. Ia harus pergi dari. Harus…

“Suzy-a? Sedang apa kau di sini?”

Mulut Suzy terbuka, namun tidak ada satu pun kata yang keluar, karena ia tidak berhasil menemukan kata-kata yang tepat. Akhirnya, Suzy memilih untuk berlari meninggalkan laki-laki itu.

“Hei! Tunggu!”

Suzy melirik ke belakang. Ia dapat melihat kalau laki-laki itu mengejarnya. Suzy terus mempercepat langkahnya. Saat ia melihat sebuah taksi melintas, ia segera menghentikan taksi itu dan naik.

“Ayo cepat pergi!” seru Suzy pada sopir taksi.

“Kemana?”

“Ke Myeongdong. Ayo cepat!”

Taksi segera melaju cepat. Suzy membalikkan wajahnya dan dapat melihat laki-laki yang mengejarnya telah tertinggal jauh di belakang. Suzy menyandarkan badannya lemas di bangku taksi sambil menghela napas lega. Untung saja ia bisa lolos. Jika tidak, sesuatu yang berbahaya bisa terjadi.

 

$#@#$

Taemin tidak dapat menahan rasa lelahnya lagi. Namun ia tahu bahwa ia harus bersikap professional. Hari ini ada seorang klien bisnisnya yang baru. Taemin sudah mempersiapkan semuanya sejak beberapa hari yang lalu. Tapi sialnya kejadian kemarin membuat dirinya kacau. Ia tidak pulang ke rumah dan lebih memilih untuk lembur di kantornya—padahal seharusnya kemarin ia libur.

Ketika mendengar suara pintunya diketuk, Taemin menghela napas panjang dan sedikit merapikan jasnya.

“Masuk.”

Pintu terbuka dan masuklah seorang wanita muda yang membawa beberapa dokumen. Ia menghampiri meja Taemin dan meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja.

“Pak, tamu Anda sudah ada di depan ruangan.”

“Suruh dia masuk,” ucap Taemin.

Wanita itu mengangguk lalu keluar dari ruangan. Tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki.

Taemin mengamati laki-laki itu dengan seksama. Lelaki itu masih muda, berusia sekitar dua puluh lima—sama seperti dirinya. Wajahnya kelihatan sekali bahwa laki-laki itu adalah orang yang bertanggung jawab dan mudah dipercaya.

Taemin segera berdiri lalu membungkukkan badannya. “Selamat datang di perusahaan ini.”

Laki-laki itu balas membungkukkan badan. “Terima kasih, Taemin-ssi.”

“Silahkan duduk,” ucap Taemin. Ia membuka dokumen yang dibawa sekretarisnya. “Nama Anda adalah Shin Dongho, bukan?”

“Benar. Itu nama saya.”

“Jadi, Dongho-ssi. Jika Anda berkenan, saya ingin bertanya. Keuntungan apakah yang sekiranya akan didapatkan melalui kerjasama dengan perusahaan Anda?”

“Ada banyak keuntungannya, Taemin-ssi,” ucap Dongho. “Pertama, Anda bisa memasarkan produk perusahaan Anda ke Amerika Serikat. Kedua, Anda tidak perlu mengurusi masalah transportasi, karena perusahaan saya yang akan mengurusnya. Ketiga, prospek kerjasama ini akan membawa laba yang banyak karena Anda dapat menggunakan label perusahaan saya yang cukup terkenal.”

Taemin tersenyum. “Kurasa itu keuntungan yang cukup. Saya setuju untuk bekerja sama dengan Anda.”

“Terima kasih, Taemin-ssi.”

 

$#@#$

 

“Anda belum pulang, Taemin-ssi?”

Mendengar ada seseorang yang berbicara padanya, Taemin segera menghentikan kegiatannya dari mengetik. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Shin Dongho—kolega bisnisnya yang baru—berdiri di depan mejanya.

Taemin tersenyum. “Belum. Anda sendiri belum pulang?”

“Tadi saya sedang mengurus beberapa berkas dengan sekretaris Anda. Jika Anda sudah selesai, mungkin Anda mau pergi minum dengan saya.”

“Oh, dengan senang hati, Dongho-ssi,” ucap Taemin seraya mematikan laptopnya. “Kita pergi sekarang?”

“Ya.”

 

$#@#$

“Anggap saja ini sebagai tanda kerja sama kita, Taemin-ssi,” ucap Dongho ketika ia menghampiri meja yang Taemin tempati. Ia menaruh beberapa botol soju dan gelas kecil lalu duduk di depan Taemin.

“Terima kasih, Dongho-ssi,” balas Taemin sambil menggerakkan tangannya menuju botol soju. Tiba-tiba ia menghentikan tangannya.

“Ada apa, Taemin-ssi?”

“Sebenarnya istriku melarang supaya aku tidak minum…” Perkataan Taemin menggantung ketika ia mengingat larangan yang pernah diberikan Sulli padanya. Tapi dalam sekejap ia menghiraukan larangan itu. Sulli sudah melupakannya, jadi seharusnya ia juga melupakan Sulli dan segala yang pernah diomongkannya ‘kan? “…tapi kurasa minum sedikit tidak masalah.”

Dongho tersenyum kecil. “Silahkan, Taemin-ssi.”

Tanpa ragu Taemin meraih botol lalu menuangkan isinya ke gelas. Ia meneguk minuman itu.

“Saya dengar perusahaan Anda sangat sukses di bidang produksi jasa,” ucap Dongho seraya membuka percakapan.

“Bisa dibilang cukup sukses. Tapi masih memerlukan peningkatan mutu,” Taemin meneguk gelasnya lagi. Ia menatap Dongho sekilas. “Tidak perlu berbicara seformal itu. Kita sedang berada di bar, bukan di kantorku.”

“Baiklah.”

“Aku juga mendengar bahwa kau punya beberapa perusahaan di dunia, termasuk di Amerika.”

“Itu milik orangtuaku,” kata Dongho merendah.

“Apa yang menyebabkan kau datang ke Korea?” tanya Taemin.

“Kau juga pasti tahu, Taemin-ssi. Aku datang ke Korea untuk bekerja sama dengan perusahaanmu. Sebenarnya selain itu, aku juga ingin… mencari seorang wanita.”

“Ahh… Masalah cinta rupanya.”

Dongho tertawa kecil. “Bisa dibilang begitu. Aku sudah berpacaran dengan wanita itu selama hampir empat tahun. Tapi aku meninggalkannya tiga bulan yang lalu tanpa memberitahunya bahwa aku pergi ke Amerika. Lalu kudengar dari sahabatnya, bahwa ia sedang hamil.”

“Jadi, kau mencarinya untuk…”

Dongho mengangguk. “Bertanggung jawab.”

Taemin memandang Dongho sejenak lalu tersenyum. “Kau adalah pria yang baik, Dongho-ssi.”

“Terima kasih.”

 

$#@#$

“Sulli, aku benar-benar tidak tahan dengan sikapmu ini.”

Yang diajak bicara hanya menatap kosong sambil terdiam.

“Kau hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa.”

“Lalu sebaiknya aku bagaimana?” tanya Sulli sambil menatap Victoria tajam. “Aku benar-benar bingung, Eonnie. Kau tahu, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa mengusir Suzy begitu saja dan menganggap semuanya sudah selesai.”

“Kau memang tidak bisa melakukannya, Sull,” ucap Victoria. “Tapi setidaknya kau bisa memilih.”

“Memilih…?”

“Ya. Memilih antara mempertahankan cintamu pada Taemin atau membuka hati untuk pria lain.”

Sulli terdiam. Perkataan Victoria ada benarnya juga. Tidak seharusnya ia berdiam diri seperti ini karena tidak menghasilkan apa-apa kecuali luka yang bertambah besar. Kini Sulli mulai menimbang-nimbang. Memilih Taemin atau Seunghyun. Sulli menghela napas. Jujur, ia tidak bisa memilih.

“Aku tidak bisa,” ucap Sulli.

“Kau bukannya tidak bisa. Kau hanya belum bisa,” sergah Victoria. Ia memandangi Sulli lalu mengelus kepala Sulli pelan selayaknya seorang ibu. “Aku yakin kau akan tahu jawabannya. Tapi kalau aku boleh menyarankan; pilihlah Taemin. Aku tahu Taemin adalah pria baik-baik yang mencintai keluarga kecilnya dengan tulus. Ia bukanlah pria yang mudah menyakitimu.”

“Kalau Taemin oppa adalah pria yang mencintaiku, lalu kenapa hal ini bisa terjadi?”

“Mungkin ini terjadi secara tidak sengaja. Mungkin saat ini terjadi situasi yang sama sekali tidak terduga dan seseorang berusaha untuk menjebak Taemin dalam situasi itu; dan berhasil.”

Sulli terdiam.

“Kau telah mengecap momen indah bersama Taemin hampir selama lima tahun. Apakah sekarang kau ingin menghancurkan semuanya hanya karena masalah yang terjadi selama dua bulan ini? Jangan menghapus hujan setahun dengan kemarau sehari, Sulli-ah.”

“Tapi…”

“Sstt,” Victoria meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri. “Jangan katakan apa pun karena kau belum siap menjawabnya sekarang.”

 

$#@#$

 

“Umma, aku kangen appa.”

Sulli mendongakkan kepalanya dan menatap Minji yang sedang duduk di hadapannya. Ia tersenyum lembut lalu mengelus rambut Minji pelan.

“Kapan kita akan pulang?” tanya Minji.

“Nanti…”

“Nanti itu kapan? Kita sudah lama tinggal di rumah Bibi Victoria. Ayolah umma. Aku mau pulang,” Minji mulai merengek.

“Iya… Kita akan pulang, tapi nanti,” ujar Sulli sambil menenangkan Minji. Sejujurnya, ia tidak tahu kapan akan pulang. Bahkan ia juga tidak tahu apakah ia mau pulang. Permalasahan rumah tangganya sudah membuatnya cukup menderita.

“Umma~”

“Sudahlah, Sayang. Sana… Kau main dengan Seunghyun ahjussi.”

Minji menggeleng. “Aku tidak mau. Aku sudah bosan bermain dengannya.”

“Bukankah kau senang jika bermain dengan Seunghyun ahjussi? Bahkan kau pernah bilang kau ingin punya appa seperti dia.”

“Tapi dia bukan appaku.”

Perkataan Minji membuat Sulli terdiam.

“Appaku tetap Lee Taemin~” ucap Minji sambil tersenyum. “Memang sih Seunghyun ahjussi sering bermain denganku. Tapi tetap saja dia tidak seperti appaku yang asli. Taemin appa memang jarang mengajakku bermain atau jalan-jalan. Tapi dia sering membacakanku cerita sebelum tidur~”

Sulli kembali mengingat-ingat. Dulu Taemin memang sering membacakan cerita sebelum tidur untuk Minji. Ia rela melakukannya demi anaknya walaupun saat itu ia sedang lelah setelah melakukan berbagai rapat perusahaan.

“Taemin appa sudah menemani umma dan Minji lama sekali,” lanjut Minji. “Kalau Seunghyun ahjussi ‘kan baru bertemu sebentar.”

Perkataan Minji mengingatkan Sulli pada Victoria.

Jangan menghapus hujan setahun dengan kemarau sehari…

“Ayolah, umma~” Minji kembali merengek sambil meraih baju Sulli dan menarik-nariknya.

“Baiklah, Minji…” ucap Sulli pada akhirnya. Ia membawa Minji ke dalam gendongannya. “Kita akan pulang ke rumah. Tapi minggu depan.”

 

$#@#$

Berulang kali Taemin membaca e-mail yang dikirim ke handphone-nya. Seakan tak percaya apa yang ia baca.

Aku dan Minji akan pulang nanti. Sampai jumpa minggu depan ^^~ From : Sulli~

Ini pertama kalinya Sulli mengirim email padanya setelah dua bulan dan Sulli juga langsung mengabarkan jika ia akan pulang minggu depan.

Senyum segera tersungging di bibir Taemin. Sebenarnya ia tidak tahu mengapa Sulli pulang. Mungkin saja Sulli sudah memaafkannya? Ah, sudahlah. Taemin tidak mau memikirkan itu. Sulli dan Minji pulang saja sudah membuatnya sangat senang.

“Ini bagus,” gumam Taemin senang.

 

$#@#$

“Sudah kuduga bekerja sama dengan Anda membuat prospek kerja perusahaan saya meningkat. Bahkan sangat pesat.”

Taemin tersenyum menghadapi pria yang ada di hadapannya. Baginya pujian itu hanyalah sebuah kalimat biasa yang sering diucapkan kolega kerjanya. “Terima kasih, Dongho-ssi. Awalnya saya ragu dengan kerja sama ini, namun sepertinya keraguan itu harus hilang karena peningkatan laba.”

“Mari kita rayakan keberhasilan kita ini,” ajak Dongho.

“Tentu. Minggu depan di rumah saya? Kebetulan istri saya baru pulang dari luar kota. Dia bisa memasak makan malam.”

“Baik. Minggu depan pukul tujuh di rumah Anda.”

 

$#@#$

Suzy memandangi layar handphone dengan kening berkerut dan wajah yang sengaja dimanyunkan. Ia menolehkan kepalanya dan menatap Taemin yang sedang membuka pintu kulkas.

“Kenapa Sulli mau pulang?” tanyanya dengan suara kesal.

“Bukan urusanmu,” sahut Taemin datar. “Lagipula jika Sulli ingin pulang, itu keinginannya. Rumah ini adalah milikku dan milik Sulli. Ia bisa pulang dan pergi kapan saja.”

“Tapi aku tidak suka dia ada di sini~” ucap Suzy dengan nada manja.

“Dengar, Wanita Menyebalkan. Sulli sudah pergi dari sini selama hampir dua bulan. Dan sekarang ia mau kembali. Aku tidak peduli kau suka atau tidak, tapi kau harus menerimanya. Jika kau membuat masalah, aku tidak akan segan-segan menguncimu di gudang belakang!” ancam Taemin.

“Oppa~ Kau ini kejam sekali.”

“Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’!” seru Taemin. Ia berjalan menghampiri Suzy dan langsung merebut handphone yang sedang dipegangnya. “Kau tidak pantas memanggilku dengan itu. Kau juga tidak pantas menjadi seorang istri. Seenaknya saja kau membaca email yang masuk ke HP-ku. Bahkan Sulli tidak pernah melakukannya,” gumam Taemin lalu meninggalkan Suzy di ruang tengah.

Suzy menyandarkan kepalanya di sofa. “Aisshh… Kenapa wanita itu harus kembali?” Ia mengacak-acak rambutnya sendiri. “Sekarang aku harus menyusun rencana baru untuk menyingkirkannya lagi.”

 

$#@#$

Angin sepoi menyibak rambut panjang Sulli yang sengaja dibiarkan tergerai. Sulli mengedarkan pandangannya─berusaha untuk menemukan orang yang telah berjanji untuk menjemputnya di halte bus ini. Tangan kiri Sulli memegang sebuah tas besar dan sebelahnya lagi menggenggam erat tangan mungil Minji.

“Umma, kapan appa datang?” tanya Minji sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

Sulli tersenyum pada anaknya. “Sebentar lagi, Sayang. Sabar ya…” ucapnya sambil berusaha untuk menenangkan anaknya. Padahal sebenarnya ia juga tidak tenang.

Ya. Sulli sangat gugup sekarang. Sebenarnya ia belum siap untuk kembali dan bertemu Suzy. Bagaimana jika ternyata Suzy masih berada di rumah Taemin? Apakah ia akan sanggup melihat… perut Suzy yang semakin membesar?

Sulli menarik napas perlahan. Ia harus siap. Ia melakukan ini demi Minji.

“Itu appa!”

Seruan Minji membuat Sulli tersadar lalu mengikuti arah pandangan Minji. Ia dapat melihat sebuah mobil─yang tentu saja sangat familiar─melaju ke arahnya. Mobil itu berhenti tepat di depan halte bus.

“Anneyeong, Sulli-ah.”

“Hai, Taemin oppa,” balasnya sambil tersenyum.

Taemin ikut tersenyum. Lalu ia memandang Minji yang berada di samping Sulli. “Minji! Lama tidak bertemu. Uhh… Kau tidak tahu betapa rindunya appa padamu.”

“Hehehe,” Minji menunjukkan eyesmile-nya. “Aku juga rindu appa. Makanya aku meminta umma untuk pulang~”

“Kalau begitu, ayo masuk ke mobil. Appa tahu kalian sudah menunggu lama.” Taemin membuka pintu mobil. Sulli tidak langsung duduk di kursi depan. Pertama-tama, ia menyuruh Minji untuk duduk di kursi belakang. Baru setelah itu, ia duduk di samping Taemin.

Keadaan menjadi hening seketika. Yang terdengar hanyalah suara deru mesin mobil.

“Jadi, bagaimana keadaanmu selama di rumah Victoria?” tanya Taemin sambil berusaha mengubah suasana yang kaku.

“Uhm… Baik. Victoria unnie sangat baik padaku,” jawab Sulli sambil tersenyum. “Bagaimana dengan Oppa?”

“Kau tahu ‘kan… Segalanya tidak menjadi baik setelah kau pergi….” Taemin berkata dengan lirih.

Sulli hanya memandangi Taemin tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

 

$#@#$

“Aku minta maaf jika kau tidak merasa nyaman, Sulli-ah. Aku sungguh ingin mengusirnya, tapi aku tidak bisa.”

Sulli tersenyum kecil. “Tidak apa-apa kok.”

Taemin menghela napas lalu menjatuhkan dirinya di sebelah Sulli. Sebenarnya ia sendiri tidak yakin ancamannya akan berhasil. Suzy selalu saja membuat repot dan ia sudah mengancam wanita itu, jika Suzy mengacau maka ia akan mengurungnya di gudang belakang. Tapi sepertinya itu tidak terlalu berhasil karena beberapa menit yang lalu Taemin melihat Suzy terus menganggu anaknya yang sedang bermain.

“Appa…” Minji naik ke pangkuan Taemin sambil merengek. “Tante Suzy mengambil bonekaku.”

“Sabar ya, Sayang. Nanti appa akan belikan boneka yang jauh lebih bagus.”

“Baiklah~ Tapi, sebenarnya Tante Suzy itu siapa? Kok dia ada di sini? Bukankah ini rumah appa?” Minji bertanya dengan polosnya.

“Itu…” Taemin tidak menyangka jika anaknya sepintar ini.

“Tante Suzy adalah sepupu jauh appa. Kau mungkin belum pernah melihatnya karena dulu Tante Suzy tinggal di luar negeri,” sela Sulli. Wanita itu melirik Taemin sambil tersenyum. “Ya ‘kan, oppa?”

“Tentu saja,” balas Taemin sambil tersenyum. “Nah, sekarang kau kembali ke kamarmu ya. Umma dan appa akan bersiap-siap karena teman appa akan datang ke sini.”

“Arraseo~” Minji beranjak dari pangkuan ayahnya dan berlari kecil ke kamarnya.

“Terima kasih atas bantuannya, Sulli-ah.”

“Sama-sama, oppa.”

 

$#@#$

Ting tong!

 

Bunyi bel berulang kali terdengar. Minji mengangkat kepalanya lalu mengintip ke ruang tamu. Ada orang rupanya. Tapi orang tuanya tidak membukakan pintu.

Umma dan appa kemana ya? pikir Minji. Mungkin mereka ada di belakang, jadi tidak dengar.

Dengan inisiatif sendiri, Minji berlari keluar kamar. Ia menarik gagang pintu depan, tapi tidak terbuka. Ketika Minji mendongakkan kepalanya ke atas, ia dapat melihat bahwa pintu dikunci. Minji berusaha untuk meraih kunci pintu yang berada di atas, namun ia terlalu pendek.

Akhirnya ia berlari ke dalam untuk mencari orang tuanya. Ketika ia melewati ruang keluarga, ia dapat melihat wanita yang ia kenali sebagai Tante Suzy sedang menonton TV dengan wajah cemberut. Ia menghampiri Tante Suzy sambil berhati-hati.

“Tante~” panggil Minji pelan.

Suzy membalikkan badannya dan menatap Minji sebal. “Apa?” bentaknya.

“A-ada tamu.”

“Suruh dia masuk dong. Dasar anak bodoh…”

“Tapi pintunya dikunci. Aku tidak bisa membukanya.”

Dengan cepat Suzy memutar matanya. “Kau ini diajari oleh orang tuamu atau tidak sih?! Membuka pintu saja tidak bisa. Ya sudah. Aku akan membukanya.”

Suzy beranjak dari sofa menuju ruang tamu. Ia menarik kunci pintu yang ada di atas lalu membukanya. Matanya membulat ketika melihat siapa tamu tersebut.

“Suzy-a?” panggil lelaki itu. “Sedang apa kau di sini? Kenapa kau ada di rumah Taemin?”

“Dongho oppa…” gumam Suzy. Ia segera menutup pintu lalu menguncinya kembali.

“Hei! Suzy-a! Buka pintunya! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!!” seru Dongho dari luar. Lelaki itu menggedor-gedor pintu dengan keras.

 

$#@#$

Sepertinya Taemin mendengar keributan di depan. Ia menolehkan kepalanya ke arah Sulli yang sedang mempersiapkan makan malam. Sama seperti dirinya; Sulli juga terlihat bingung.

“Kenapa ada ribut-ribut?” tanya Sulli.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Jangan-jangan itu Suzy…”

Taemin segera berjalan ke ruang depan, diikuti Sulli yang sudah melepaskan apronnya. Ketika sampai di ruang tamu, mereka berdua dapat melihat Suzy yang menahan pintu dengan wajah ketakutan dan Minji yang berdiri di sudut ruangan dengan tatapan tidak mengerti.

“Ada apa ini? Kenapa ribut sekali? Siapa sebenarnya orang yang ada di luar? Aisshh… Sudah kuduga kau hanya akan membawa masalah,” semprot Taemin langsung. Ia menyingkirkan Suzy dari pintu dan hendak membukanya.

“Jangan buka pintunya!” seru Suzy.

“Memang kenapa?” tanya Taemin sambil mengerutkan alisnya.

“Pokoknya jangan!”

Terbentuklah dua buah kerutan di dahi Taemin. “Dengar Suzy-ssi. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi mungkin saja itu adalah temanku. Dia adalah rekan bisnisku. Jika dia tersinggung dengan kelakuanmu yang seperti idiot ini, dia bisa membatalkan kerja sama.” Taemin tidak peduli pada Suzy. Ia membuka pintu dan melihat Dongho.

“Taemin?” panggil Dongho. “Ke-kenapa Suzy bisa berada di rumahmu?”

“Kau… mengenal Suzy?”

 

$#@#$

“Kau harus menjelaskan banyak hal padaku, Suzy-a.”

Perkataan itu membuat Bae Suzy semakin ketakutan. Ia menundukkan kepalanya tanpa berani melirik dua laki-laki yang duduk di hadapannya.

“Kenapa kau menyembunyikan kabar kehamilanmu? Kenapa kau…”

“Dongho-ssi…” potong Taemin. “Tunggu sebentar. Anakku ada di sini. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalah ini,” Ia beralih ke Sulli. “Sulli-ya, bawa Minji ke kamarnya.”

Tanpa banyak bicara Sulli membawa Minji ke kamarnya di atas lalu kembali lagi ke ruang tamu. Ia menempatkan dirinya di sebelah Taemin.

“Kau mau diam terus atau mulai menjelaskan?” hardik Taemin.

“Ba-baiklah…” ujar Suzy tergagap. “Aku… sebenarnya ayah dari anak yang kukandung ini adalah Dongho oppa, bukan Taemin oppa. Aku sengaja menjebak Taemin oppa karena aku marah padanya. Sungguh, aku bukannya bermasuk apa-apa, aku hanya…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!” bentak Dongho. “Aku memang tidak tahu masalah yang terjadi antara Taemin juga istrinya, tapi jelas perbuatanmu telah mengusik rumah tangga mereka. Apa kau tidak merasa malu dengan hal itu?”

Kalimat panjang dengan nada tinggi itu membuat Suzy tak berkutik. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Ma-maafkan aku…” ujar Suzy pelan. Air matanya mulai menetes.

“Rasanya aku sudah pernah melihat air mata itu,” kata Taemin tajam.

Dongho menghela napas. Ia memperbaiki posisi duduknya dan menatap Taemin. Otaknya berusaha untuk merangkai kata-kata. “Taemin-ssi, aku minta maaf atas hal ini. Suzy adalah tanggung jawabku dan ia telah melakukan hal yang benar-benar jahat. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Kuharap kau mengerti, Taemin-ssi,” Mata Dongho beralih ke Sulli. “Anda juga, Sulli-ssi.”

Senyum kecil muncul di wajah Sulli. “Tak apa-apa. Aku sudah memaafkan Suzy dan aku akan berusaha untuk melupakan kejadian itu. Serta menganggapnya tidak pernah terjadi.”

“Terima kasih, Sulli-ssi… Terima kasih. Aku berjanji Suzy tidak akan mengganggu hidup kalian lagi.”

Taemin tersenyum. “Tak apa-apa, Dongho-ssi. Oh ya, kita masih menjadi partner bisnis ‘kan?”

Sejenak Dongho kaget dengan pertanyaan Taemin. Laki-laki itu masih mau bekerja sama dengannya walaupun kekasihnya telah membuat masalah pelik dalam rumah tangganya? Sungguh, Taemin terlalu baik.

“Tentu saja, Taemin-ssi,” balas Dongho sambil tersenyum.

 

$#@#$

Langit malam nampaknya sedang memamerkan keindahannya pada penduduk kota Seoul. Bintang-bintang pun muncul untuk menemani bulan dalam pertunjukan drama yang tidak bergerak itu. Hanya kerlap-kerlip; namun mampu membuat semua orang berhenti mengedipkan mata.

Tangan Sulli menyusuri pagar pembatas balkon rumahnya. Ia masih ingat dengan kejadian empat tahun yang lalu. Setelah masalah itu selesai, ia berada di tempat ini. Begitu juga sekarang. Setelah ‘konflik batin keduanya’ selesai, ia pergi ke tempat ini─lagi.

Sedikit aneh rasanya. Beberapa hari yang lalu ia sempat meragukan antara cintanya pada Taemin dengan sikap kepedulian Seunghyun padanya dan Minji. Namun ia berusaha untuk menunggu saat yang tepat; mungkin ketika saat itu datang ia bisa menemukan jawaban atas keraguannya.

Dan benar. Taemin memang benar-benar mencintai dirinya juga Minji. Lelaki itu hanya terjebak dalam keadaan yang memang dimanfaatkan orang lain untuk mencelakakan rumah tangganya.

Mungkin ini akhir segalanya.

Ya, Sulli benar-benar ingin agar ini adalah akhir dari kisah hidupnya yang pahit. Ia ingin bab kehidupannya yang selanjutnya akan dipenuhi dengan cerita-cerita romantis tanpa unsur angst dengan akhir yang happy ending.

“Sudah berakhir ya…”

Suara itu membuat Sulli menolehkan kepalanya. Seulas senyum langsung ia ukir begitu melihat suaminya berada di depannya. Taemin berjalan mendekati Sulli lalu merangkul lengan wanita itu.

“Kukira kau akan meninggalkanku karena kejadian itu, Sulli. Aku bersyukur kau tidak melakukannya,” gumam Taemin.

Sulli terkekeh pelan. “Aku tidak mungkin meninggalkan kenangan indah yang telah kita ukir bersama selama empat tahun hanya karena kejadian yang terjadi dua bulan lalu.”

Taemin tersenyum. “Kau benar. Itu tidak pantas dilakukan.”

Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah teriakan kecil. Disusul oleh derap langkah kaki yang sedang berlari.

“Appa, Umma~” panggil Minji. Gadis kecil itu berdiri di pintu balkon sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.

“Hello, Sayang. Kemarilah, peluk ayahmu ini.”

Minji berlari ke pelukan Taemin.

“Kau tidak tidur?”

“Ini ‘kan masih jam tujuh.”

Jawaban polos itu membuat Taemin tertawa. “Baiklah, kau bukan bayi lagi yang suka tidur. Jadi katakan pada appa, kau ingin jalan-jalan kemana?”

“Maksudnya kita akan jalan-jalan?”

“Tentu saja. Besok appa libur. Kita bertiga bisa jalan-jalan ke tempat manapun yang Minji mau.”

Sinar bahagia segera muncul di mata Minji. Gadis itu tersenyum manis─menunjukkan eye smile yang diturunkan oleh ibunya. “Jinjja? Kalau begitu, Minji ingin pergi ke toko mainan! Lalu pergi ke taman, ke kedai es krim dan mengunjungi Tante Victoria~”

As your wish, dear~

 

The End

 

 

 

Akhirnya selese juga.

Eittss, walaupun ini udah selesai, tapi masih ada prolognya *kalo gitu namanya belum selesai dong ==’

Prolognya menceritakan soal kelanjutan nasibnya si Seunghyun. Kalo mau baca, klik aja di sini. Saya sengaja gak publish di Shining Effection, soalnya couple utama prolognya bukan Shining Effects, jadi saya takut nanti menyimpang (?)

 

Tapi yang terpenting, pada KOMEN yak??😀😀😀

 

 

 

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Between Love and Reality [Part 4 / END]

  1. shofie

    bagus eonni, aku suka endingnya… sering2 bikin pairing ini ya eon

  2. Endingnya bagus chingu,keep writing ya🙂

  3. yeey,,,,happy ending \(^^)/
    Daebak thor!

  4. Waah, aku FFnya! bagus n.n keep writing, ne? lebih sering bikin pairing Taelli ya.. aku suka mereka >\\<

  5. lia

    akhirnya happy ending hoho

  6. Lee Minhyuk Btob ♡ Nam Jihyun 4minute

    Taelli jjang

  7. ffangirll

    Yee happy ending…
    Daebak author

  8. nice thooooorrr^^^^^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: