Before Its Too Late [Oneshot]

Author            : Park Sooyun

Title                : Before Its Too Late

Cast                : Choi Minho, Krystal Jung

Genre              : Romance/Hurt/Comfort

Length            : Oneshot (mungkin bisa dibilang Longshot, karena sampai 5000 words)

Rating              : General

“Percayalah… Kata-kata ‘Aku mencintaimu’

akan membawa perubahan besar dalam hidupmu.

Katakanlah… Sebelum terlambat dan kau menyesalinya.”

 

 

NORMAL POV

Sekolah.

Sebuah kata yang bahkan tidak ingin Krystal dengar. Rasanya ia terlalu jenuh untuk merasakan bagaimana mengecap ilmu di sekolah barunya. Mendengar kata sekolah saja sudah membuat Krystal merinding, apalagi sekarang ia sedang berdiri di tengah-tengahnya. Dikelilingi ratusan siswa-siswi yang mondar-mandir dan berpenampilan aneh. Memakai topi berwarna-warni dan membawa tas yang terbuat dari kardus.

Ia sama sekali tidak ada mood  untuk melakukan semua ini. Kegiatan MOS membuatnya lelah. Terutama dengan kakak-kakak pengurus OSIS yang nampak sombong dan bossy—itu cukup membuatnya muak. Ditambah lagi perutnya mulai melilit. Ini sudah hampir jam satu siang dan ia sama sekali belum makan.

“Krystal-ah, ayo kita kembali ke kelas.”

“Ya…” sahut Krystal pelan sambil membalikkan  badannya. Ia menatap sekilas pada Sulli—teman SMP-nya yang sekaligus satu kelas dengannya—lalu mulai menyamakan langkahnya dengan langkah gadis itu.

“Sudah dapat tanda tangan berapa?” tanya Sulli.

Krystal membuka buku MOS-nya dan menghitung dalam hati. “Baru tiga belas. Itu saja tanda tangan kakak kelas. Aku belum minta pada guru.”

Desahan keluar dari mulut Sulli. “Kau saja belum, apalagi aku. Aku terlalu malas minta tanda tangan pada kakak kelas. Mereka semua menyuruhku yang aneh-aneh. Ada yang menyuruhku menyanyi, lari-lari, bahkan memintaku melakukan aegyo.”

“Pufft—” Krystal menahan tawanya. “Kau serius? Ada yang menyuruhmu melakukan aegyo?”

Sulli mengangguk dengan malas. “Yaa… begitulah. Omong-omong, nanti kau mau ikut ekskul apa?”

“Ekskul seni rupa—dan mungkin aku akan mendaftar English Club.”

“Ahh, bahasa Inggrismu memang baik, Krys. Tidak heran kau akan ikut English Club,” gumam Sulli. “Aku akan coba peruntunganku di Paduan Suara. Kalau tidak terima, aku ikut seni rupa saja.”

“Kalau begitu aku akan mendoakanmu supaya tidak diterima. Jadi kau bisa menemaniku,” canda Krystal.

“Doamu jelek,” kata Sulli sambil memanyunkan bibirnya.

Krystal tersenyum lebar sambil membentuk tanda peace. “Hanya bercanda kok.”

.

.

.

Berulang kali ia membolak-balik bukunya. Berusaha untuk menemukan rumus yang tepat. Sayangnya ia tidak menemukannya.

Krystal Jung memutar otaknya sekali lagi. Ia kembali menorehkan tinta ke atas kertas. Mengutak-atik sebuah soal logritma yang cukup sulit. Sekilas ia melirik Sulli yang duduk di sebelahnya. Wajah gadis itu terlihat hopeless—yah, tidak jauh dengan dirinya.

Setelah merasa kepalanya berdenyut-denyut, Krystal meletakkan bolpoinnya dan mendesah. Kembali ia membaca soal logaritma tersebut, dan saat itu pula juga kepalanya berdenyut lagi.

“Sudah menemukan jawabannya?”

Krystal memutar kepalanya dan menggeleng. “Belum. Bagaimana denganmu, Sulli-yah?”

“Aku menyerah. Uhh, kenapa pelajaran SMA terasa sangat sulit?” erang Sulli.

“Ya,” angguk Krystal. “Ingin rasanya aku kembali ke SMP.”

“Oh ya, soal SMP… Uhm, bagaimana dengan ‘dia’?”

Krystal melirikkan matanya. “’Dia’ siapa?”

“Myungsoo,” bisik Sulli.  “Kau masih menyukainya?”

Ah, nama itu.

Krystal terdiam sejenak. Memori di otaknya berputar sesaat dan berhenti sewaktu ia masih SMP. Sekilas ia melihat wajah Myungsoo dalam pikirannya. Lalu ia ‘menggeser’ wajah itu dengan ingatan yang lain.

Kim Myungsoo adalah teman satu SMP Krystal. Lelaki baik, ramah dan pintar yang sangat Krystal segani. Tak heran jika ia menyukainya. Sejak satu kelas dengan Myungsoo, ia mulai menyukai laki-laki itu. Sampai akhirnya waktu berjalan selama dua tahun. Sampai akhirnya mereka lulus dan berpisah.

Setahu Krystal, Myungsoo sekolah di luar Seoul. Tentu saja, ia merasa sedih dengan hal itu. Dan ia merasa menyesal. Kenapa ia tidak mengungkapkan perasaannya pada Myungsoo. Sekalipun Myungsoo tidak bisa membalas perasaannya, bagi Krystal itu tidak masalah. Yang penting, ia bisa membebaskan beban menyimpan perasaan ini.

Mungkin perpisahan itu adalah faktor dominan yang membuat Krystal malas bersekolah. Ia sama sekali tidak punya gairah untuk bersekolah. Di kelas pun ia tidak menaruh perhatian pada mata pelajaran. Yang ia pikirkan hanya kapan hari libur akan tiba.

“Krystal?”

Sebuah tangan melambai-lambai di depan wajahnya, dan Krystal mulai sadar. Ia menatap Sulli dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Entahlah. Kurasa aku masih menyukainya.”

“Kulihat kau sedang berusaha melupakan Myungsoo,” kata Sulli. “Biasanya kau semangat sekali jika pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Tapi sekarang kau tidak menampakkan semangatmu yang biasa itu.”

Krystal tersenyum. Ah, ia lupa. Choi Sulli adalah temannya sejak Taman Kanak-Kanak. Tidak heran jika gadis manis itu tahu betul bagaimana sifatnya.

“Perkataanmu ada benarnya…”

.

.

.

Lagi-lagi hari ini ia harus pulang siang.

Dengan malas Krystal melirik jam tangannya. Hampir pukul dua siang. Seharusnya ia sudah pulang sekarang. Namun berhubung hari ini ada pendaftaran ekskul seni rupa, ia harus tetap berada di sekolah untuk sementara.

Ia memandangi sekitarnya. Sama sekali ia tidak melihat Luna. Padahal temannya itu berkata bahwa dia juga akan ikut ekskul seni rupa.

Ah, sudahlah. Mungkin Luna sudah pergi dulu, pikir Krystal simpel. Ia berjalan menuju stand ekskul seni rupa. Ada beberapa kakak kelas yang tidak ia kenal di sana.

“Selamat datang,” sapa seorang kakak kelas perempuan berambut lurus dan berkacamata.

Krystal tersenyum. “Aku ingin mendaftar.”

“Silahkan tulis biodatamu di sini,” kata kakak kelas itu sambil meyodorkan selembar kertas dan pulpen. “Jika sudah selesai, kau bisa ikut kumpul di ruang B1.1.”

Setelah selesai mengisi biodatanya, Krystal berterima kasih kepada kakak kelas itu dan pergi ke ruang B1.1. Ketika sampai di ruangan itu, Krystal melihat Luna duduk di bangku paling belakang dan melambaikan tangannya. Ia pun menghampiri temannya lalu duduk di sebelahnya.

“Aku mencarimu kemana-mana.”

Luna hanya nyengir. “Maaf, Krys. Tadi aku bersama Taeyeon, tapi sekarang dia menghilang. Omong-omong, kau akan ikut kelas apa?”

Krystal mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. “Kelas?”

“Di ekskul seni rupa ini ada tiga kelas. Desain grafis, manual drawing dan video editing. Kau akan ikut yang mana?”

“Uhm… kurasa aku akan ikut yang desain grafis dan manual drawing.”

“Baiklah. Aku akan mengikutimu.”

“Hah? Kenapa ikut-ikutan?”

“Biar saja,” sahut Luna sambil menjulurkan lidahnya.

Hanya senyum yang bisa Krystal tunjukkan.

Beberapa menit kemudian, kakak-kakak kelas masuk untuk memberi arahan. Awalnya Krystal tidak peduli. Namun seorang kakak kelas menarik perhatiannya. Lelaki berbadan tinggi dan memakai jaket yang sekarang sedang duduk di depan.

Bukan wajah tampannya yang membuat Krystal menaruh perhatian, namun senyum ramah yang tersungging di wajahnya. Tanpa sadar, Krystal ikut tersenyum. Meskipun tidak mengenal kakak kelas itu, Krystal berpikir bahwa dia adalah orang yang baik dan ramah terhadap adik kelas. Entah darimana pemikiran itu datang.

“Baiklah adik-adik,” kata seorang kakak kelas bertubuh kurus. “Kami akan menjelaskan tentang ekskul seni rupa ini. Ada tiga kelas yang disediakan, yaitu desain grafis, manual drawing  dan video editing. Kalian bebas mau mengikuti yang mana—semuanya pun boleh kalian ikuti. Untuk itu, tulis nama kalian dan kelas di kertas ini,” ia mengangkat selembar kertas putih, “serta kelas apa yang akan kalian ikuti. Jangan lupa cantumkan nomor hand phone kalian.”

Krystal hanya mengangguk-angguk dari belakang.

“Kakak kelas yang itu tampan, ya,” bisik Luna.

“Yang mana?”

“Yang itu lho… Sedang duduk di depan dan memakai jaket,” tunjuk Luna.

Ah, ternyata orang itu. Krystal pun sudah menduga kalau akan ada banyak teman-temannya yang tertarik dengan kakak kelas itu. Ia tersenyum kecil. “Yaa… Lumayan.”

“Kudengar namanya Choi Minho.”

Krystal terdiam sejenak. “Hm, Choi Minho ya…” gumamnya.

.

.

.

“Huwaa… Aku tidak diterima di Paduan Suara.”

Krystal tersenyum dan menepuk pundak Sulli—berusaha menenangkan sahabatnya. “Sabar, Sulli-yah. Masih ada ekskul yang lain kok.”

“Tapi satu-satunya ekskul yang paling aku minati hanya Paduan Suara,” kata Sulli. “Lalu aku harus ikut ekskul apa, Krystal-ah?”

“Ikut seni rupa saja denganku,” tawar Krystal. “Kakak kelasnya mengasyikan lho.”

“Memangnya mereka masih menerima anggota?”

“Tentu saja,” jawab Krystal. “Selama belum mengadakan pelantikan, mereka masih menerima anggota baru.”

“Baiklah. Nanti temani aku menemui kakak kelas ya.”

Krystal mengangguk. “Ya. Nanti aku akan bilang pada Tiffany unnie.”

Mata Sulli bersinar-sinar mendengar ucapan Krystal. “Terima kasih, Krystal-ah.”

“Sama-sama.”

Tiba-tiba bel berbunyi. Krystal mengeluarkan beberapa buku pelajaran yang nanti akan ia pakai.

“Selamat siang, Anak-anak,” Seorang guru muda masuk dan menyapa murid-murid kelas X-2.

“Selamat siang.”

“Nama saya Lina songsaenim. Hari ini kita akan mempelajari…”

Pada awalnya Krystal terfokus pada guru bernama Lina itu. Namun saat ‘sesuatu’ lewat di depan kelasnya, harus ia akui bahwa fokusnya terpecah.  Ia mengikuti sosok—yang ternyata adalah Choi Minho—itu melewati ekor matanya. Ia tersenyum kecil lalu kembali terfokus pada pelajaran.

“Tersenyum pada siapa?” tanya Sulli.

“Hm?” Krystal menolehkan kepalanya. “Bukan siapa-siapa.”

.

.

.

Sosok Choi Minho sebenarnya bukanlah orang yang ingin Krystal temui setiap hari. Tapi sekarang ia merasa aneh sendiri. Hampir setiap hari ia bertemu dengan Minho secara tidak sengaja. Baik di depan kelas, di depan ruang seni, di lapangan basket, bahkan di kolam ikan depan sekolah. Namun yang paling aneh adalah rasa senang yang tiba-tiba saja terbit di hatinya ketika ia bertemu dengan laki-laki itu.

Ada apa ya?

Apa mungkin ia menyukai kakak kelasnya sendiri? Tapi rasanya tidak mungkin. Ia… ia masih menyukai Myungsoo. Lagipula Minho adalah salah satu lelaki populer di sekolah dan mempunyai banyak penggemar. Peluangnya sangat kecil untuk mendekati dia. Yang ada Krystal akan sakit hati—mengingat banyak perempuan yang menganggumi Minho.

Lalu kenapa ia merasa senang bila bertemu Minho? Ahh… entahlah. Yang pasti ia tidak menyukai Minho, ia hanya mengagumi kakak kelasnya itu.

Ya, hanya menganggumi.

.

.

.

Kenapa ia baru menyadarinya sekarang?

Harus diakui, kini Krystal termakan omongannya sendiri. Jika dulu ia berkata tidak mungkin jatuh cinta dengan Choi Minho, yang terjadi justru kebalikannya. Kini ia sudah terjatuh dalam lubang bernama ‘cinta’. Dan yang mengejutkan, sekarang ia sudah melupakan Myungsoo—lelaki yang ia sukai selama dua tahun.

Terlepas dari kenyataan itu, sekarang ia punya hobi baru. Yaitu mengumpulkan informasi apa saja tentang Choi Minho. Setahu Krystal, Minho hobi sekali menggambar—bahkan tak jarang lelaki itu mengikuti kompetisi menggambar tingkat nasional. Selain itu, Minho selalu memakai jaket ke sekolah, bahkan disaat hari paling panas.

Mengikuti ekskul Paduan Suara, sering berada di Ruang Seni usai pulang sekolah, anak kelas sebelas IPA tujuh; adalah beberapa fakta yang berhasil Krystal kumpulkan.

Sekarang Krystal sedang sibuk mencari tahu jadwal dan ruangan yang ditempati Minho. Berhubung sekolah mereka menggunakan sistem moving class, ia tidak tahu ruangan mana saja yang akan Minho tempati. Yang pasti, pada hari Rabu jam pertama ruangan mereka bersebelahan, begitu juga saat hari Sabtu pelajaran kedua.

“Kau nampak semangat sekali, Krys…”

Krystal Jung hanya menampakkan senyum lebarnya yang sangat tidak biasa. “Memangnya kenapa? Bukankah bagus jika aku semangat sekolah?”

“Bukan begitu~” gumam Sulli sambil memutar matanya. “Tentu saja itu bagus. Hanya saja, biasanya kau mengeluh padaku soal sekolah. Hampir setiap hari. Namun sekarang aku melihatmu tersenyum lebar saat di sekolah.”

“Ah, itu…” Krystal tersenyum rahasia. “Tidak ada apa-apa kok.”

“Aaaa, kenapa?” Sulli mendekatkan badannya. “Ceritakan padaku~”

Krystal nampak ragu sejenak. Namun tidak ada salahnya jika ia bercerita pada Sulli. “Sebenarnya… Eh, tapi sebelumnya jangan bilang siapa-siapa ya!”

“Aku janji!”

“Aku… sedang menyukai kakak kelas,” gumam Krystal pelan.

“Siapa?”

“Dia anak seni rupa.”

“Choi Minho, ya?”

Perkataan Sulli membuat Krystal terkejut. “Da-darimana kau tahu?”

“Dia cukup terkenal dan punya banyak penggemar. Tentu saja aku tahu. Tapi, dia memang tampan sih.”

Senyum malu-malu nampak di wajah Krystal. “Ya, aku menyukainya. Jangan bilang siapa-siapa ya.”

.

.

.

Teett!

Bel tanda akhir jam pelajaran Ekonomi telah berbunyi. Krystal segera memasukkan buku-bukunya dan peralatan tulisnya ke dalam tas. Lalu ia mengingat-ingat. Sehabis pelajaran Ekonomi ia harus pergi ke laboratorium komputer atas untuk mengikuti pelajaran ICT.

“Ayo, Krys.”

Tanpa banyak bicara, Krystal mengikuti Sulli yang rupanya telah berdiri di depan pintu. Ia menyamakan langkahnya dengan temannya itu, lalu mulai berjalan melewati ruang A1.5—yang sekarang sedang ditempati oleh kelas sebelas IPA tujuh.

Ruang A1.5 memiliki jendela-jendela yang cukup banyak dan lebar, sehingga dari luar orang-orang bisa melihat ke dalamnya. Dan itulah yang Krystal lakukan. Mencuri-curi pandang ke dalam ruangan itu sambil mencari sosok Minho.

Ia menemukannya.

Laki-laki itu duduk di barisan paling belakang. Jaket yang abu-abu yang biasa dia pakai disampirkan di belakang kursinya. Krystal tersenyum kecil.

Tiba-tiba saja Minho melirikkan matanya ke luar jendela. Dan akhirnya mata Krystal pun bertemu dengan mata Minho. Krystal mengangkat sebelah alisnya kaget. Ia terkejut dengan tatapan Minho yang nampak… ah, entahlah. Yang pasti tatapan itu membuat Krystal membeku.

Jantung Krystal berdetak dua kali lebih cepat. Nafasnya sedikit memburu dan perutnya terasa mual.

Merasa terus dilirik seperti itu, Krystal membuang pandangannya dengan malu. Terkadang ia mencuri-curi pandang—dan ia terkejut lagi karena ternyata Minho masih meliriknya.

Oh my God… What should I do?

.

.

.

Hari Sabtu.

Hari yang sangat menyenangkan karena hari ini adalah larut pertama ekskul seni rupa. Kebetulan hari Sabtu adalah jadwal untuk kelas manual drawing. Krystal sudah menyiapkan segala sesuatunya. Buku gambar, pensil, dan alat menggambar yang lain.

Tak dapat dipungkiri. Ia memang menyukai kegiatan manual drawing. Karena itu dia sangat semangat hari ini.

Namun terbesit pertanyaan di benak Krystal.

Ia semangat untuk mengikuti manual drawing atau untuk bertemu dengan Minho?

Pertanyaan konyol yang tiba-tiba muncul itu membuat Krystal tertawa. Ia segera membungkam mulutnya begitu sadar bahwa ia masih ada di ruang kelas dan Sulli tengah menatapnya aneh.

Sebuah cengiran yang jarang Krystal tunjukkan muncul di wajahnya.

“Kau aneh sekali, Krys.”

“Hahaha~ Aku hanya teringat film komedi yang kutonton kemarin,” kilah Krystal.

Sulli memutar matanya. “Baiklah. Kurasa hari ini kau memang sedang tidak waras.”

Bel tanda akhir sekolah pun berbunyi. Krystal bersiul-siul ria sambil memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas dengan semangat. Ia segera memakai tasnya dan berjalan ke luar kelas.

“Ayo, Sulli-yah! Hari ini larut pertama manual drawing.”

“Iyaa… Kau ini cerewet sekali,” gerutu Sulli. Gadis itu mengikuti Krystal dari belakang. “Tidak sabar bertemu Minho sunbae, ya?”

Krystal terkikik. “Hehehe. Kau tahu saja.”

“Ya ampun, Krys… Aku belum pernah melihatmu sesemangat dan sekacau ini. Dulu sewaktu dengan Myungsoo kau nampak biasa saja. Bahkan tidak terlihat kalau kau menyukainya. Tapi sekarang… jauh berbeda.”

Tentu saja rasanya berbeda, batin Krystal. Setiap jatuh cinta, rasanya akan bermacam-macam. Cinta pertama Krystal tidak terlalu membawa dampak apa pun dalam hidupnya—bahkan suatu kesan yang mendalam. Krystal sama sekali tidak merasakannya. Cinta keduanya juga begitu. Cukup banyak kenangan yang dilaluinya bersama Myungsoo sebagai teman, tapi yang spesial tidak terlalu banyak apalagi berarti. Dan sekarang cinta yang ketiga… jauh lebih indah dari cinta-cinta yang sebelumnya.

Memang ia belum mengecap kenangan apa pun bersama Minho. Tapi entah kenapa, walaupun kenyataannya begitu Krystal merasa bahagia.

Sangat bahagia.

.

.

.

Uhh…

Entah kenapa tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Krystal kembali mengingat-ingat. Tadi pagi ia sarapan nasi goreng seperti biasanya. Kemarin ia juga tidak makan yang aneh-aneh. Lalu kenapa perutnya terasa mual?

Ia melirikkan matanya ke arah Sulli yang sedari tadi asyik dengan novel barunya. Ia menggigit bibir bawahnya pelan sambil meremas perutnya.

Ish, sakit perut ini betul-betul menganggunya. Ini adalah larut pertama manual drawing dan harus hancur hanya karena perutnya mual? Sungguh tragis.

Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi berjaket hitam masuk ke dalam Ruang Seni. Tanpa melihat wajahnya pun Krystal sudah tahu bahwa laki-laki itu adalah Choi Minho.

Krystal terkejut ketika Minho meliriknya. Tatapan lelaki itu membuat Krystal membeku—sama seperti biasanya. Rasa mual yang sebelumnya menyerangnya, bertambah frekuensinya.

Dengan cepat, Krystal mengalihkan pandangannya. Akhirnya ia sadar, sedari tadi perutnya mual karena gugup menantikan kedatangan Minho.

Ah… Dasar cinta.

.

.

.

Sambil memikirkan makanan apa saja yang akan dibelinya nanti di kantin, Krystal meletakkan tasnya di atas meja. Lalu ia menghampiri Sulli yang sedang mengobrol dengan Yoona dan Sooyoung.

“Ayo kita ke kantin. Aku sangat lapar~”

“Ayo!” sahut Sooyoung dengan semangat. “Aku juga lapar.”

“Kau keluar kelas saja dulu, Krys. Aku  mau mengambil uang,” kata Yoona.

“Baiklah.”

Tanpa banyak bicara, Krystal melangkahkan kakinya ke luar kelas. Ia berhenti sejenak di depan pintu kelas. Reflek, ia menolehkan kepalanya ke kiri. Sudah menjadi kebiasaannya melihat keadaan yang ada di sekelilingnya.

Tiba-tiba saja ia melihat Minho. Lelaki itu memakai jaket hitam. Krystal dapat melihat jika Minho menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya nampak terkejut—dan Krystal tidak dapat mengartikan ekspresi terkejut itu. Kaget, takut, atau… senang?

Tidak. Hapus kata yang terakhir tadi.

Dan yang nampak aneh, Minho nampak ingin tersenyum, namun ditahannya.

Menyadari bahwa dirinya mulai blushing, Krystal segera membalikkan badannya. Ia menggigit bibir bawahnya gemas. Saat itu ketiga temannya keluar dari kelas. Nampaknya, ketiga temannya itu menyadari situasi yang sedang terjadi.

“Ciieee…” sahut Sulli, Sooyoung dan Yoona bersamaan.

Krystal mendorong ketiga temannya dan segera pergi ke kantin.

Pertemuan tidak sengaja yang menyenangkan, pikirnya.

.

.

.

Kepala Krystal terasa berdenyut-denyut. Ia menghentikan aktivitas belajarnya sejenak lalu memijit kepalanya pelan. Dua hari lagi ia akan menghadapi Ulangan Tengah Semester. Dan Krystal berjanji, ia akan melakukan yang terbaik untuk menghadapi tes kali ini. Demi orang tuanya, demi dirinya sendiri, dan… demi Minho.

Eh? Kenapa nama terakhir itu muncul?

Menyadari apa yang dipikirkannya, Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama ini Minho memang telah menjadi semangat baginya untuk belajar lebih giat lagi.

Ia masih ingat dengan jelas. Saat dulu pertama masuk sekolah, ia sama sekali tidak punya gairah untuk belajar. There is no passion at all. Materi logaritma, vektor dan ikatan kimia sama sekali tidak masuk ke otaknya.

Sampai akhirnya ia ingat bahwa Minho adalah anak kelas sebelas IPA tujuh—yang pintar menggambar dan jago berbahasa Inggris. Fakta itu membuat semangat Krystal yang sempat redup, kembali hidup dan berkobar-kobar. Cita-citanya adalah ingin menjadi dokter, dan ia harus masuk jurusan IPA. Oleh sebab itu, Krystal belajar lebih giat lagi supaya bisa masuk jurusan itu—jurusan yang sama dengan Minho.

“Ayo, ,Krystal! Fighting!” serunya.

Krystal menyisingkan lengan kaosnya dan membuka buku Matematikanya, lalu mulai mengerjakan sederet soal logaritma yang ada di sana. Ketika rasa sakit kembali menyerang kepalanya, ia akan mengingat tentang Minho. Dan rasa sakit itu akan berubah menjadi api semangat yang membara di dadanya.

.

.

.

Padahal ia sudah sangat yakin bisa mengerjakan soal Matematika. Tapi nyatanya ada tujuh puluh persen soal yang tidak bisa ia kerjakan. Ia juga kekurangan waktu.

Sedari tadi Krystal terus memaki si pembuat soal UTS Matematika yang nampak seperti soal masuk universitas tersebut. Ia juga memaki kenapa waktu yang diberikan hanya sembilan puluh menit.

“Krystal…”

Mendengar ada yang memanggilnya, Krystal membalikkan badannya. Ia melihat Sulli menatapnya dengan nanar. Sepertinya gadis itu juga mengalami masalah yang sama.

“Bagaimana? Kau bisa mengerjakan?” tanya Krystal.

Sebelum menjawab, Sulli membanting peralatan tulisnya. “Soal-soalnya sangat sulit! Bayangkan saja. Dari dua puluh soal pilihan ganda, hanya lima yang berhasil aku kerjakan.”

Krystal mendesah. “Aku juga seperti itu.” Ia melirik jam tangannya lalu melihat keadaan sekitar. “Daripada memikirkan soal Matematika, lebih baik kita pulang sekarang. Lihat, kelas yang lain juga sudah pulang.”

“Ayo,” sahut Sulli lemas.

Kedua sahabat itu pun meninggalkan ruang ujian. Mereka menuruni tangga dan berjalan di koridor melewati aula tengah.

Tiba-tiba saja Krystal melihat sosok Minho ada di aula tengah. Sedang duduk bersama seorang gadis berkacamata yang tidak ia kenal. Sambil mengobrol dan terlihat akrab.

Jantung Krystal berpacu lebih cepat. Entah kenapa nafasnya terasa sesak dan kakinya terasa lemas. Ia berusaha untuk kuat, walaupun rasanya sulit.

Jadi, selama ini apa arti dari tatapan itu? Apa arti dari senyuman itu? Apakah Minho hanya memberikannya harapan sesaat? Atau ia sendiri yang mengganggap tatapan dan senyum itu untuknya?

Sia-sia ia berharap. Sia-sia selama ini ia bermimpi. Semuanya semu. Klise. Hanya terjadi dalam dunia khayalnya.

Krystal menghela nafasnya. Ia agak terkejut ketika Minho meliriknya—lagi—dengan tatapan yang sulit diartikan. Dengan cepat Krystal membuang pandangannya.

Tatapan itu bukan untukmu, Krystal…

Ia membatin dengan sedih.

.

.

.

Semua yang Krystal harapkan telah terjadi. Ia berhasil menjadi juara kelas dan masuk jurusan IPA. Baru saja ia akan memasuki semester kedua, namun sayangnya orang tuanya akan pindah ke Amerika Serikat.

Kenyataan itu membuat Krystal sedih. Itu artinya ia tidak bisa bertemu dengan kawan-kawannya di sini, terutama Sulli. Bayangkan saja, gadis manis itu telah menemaninya sejak Taman Kanak-Kanak. Dan satu hal yang paling membuatnya sedih. Ia tidak bisa lagi bertemu Minho.

Walaupun ada desas-desus Minho telah memiliki kekasih, tidak membuat Krystal melupakan cintanya begitu saja. Bahkan, cinta itu tumbuh semakin subur seiringnya waktu berjalan.

Mengingat bahwa Minho telah memberinya harapan palsu tidak cukup membuat Krystal membenci lelaki itu. Ia masih tetap menyayangi dan mencintainya, seperti dulu.

.

.

.

Dengan berat, Krystal menyingkap selimutnya yang menutupi sepertiga tubuhnya. Ia terduduk sebentar sambil merapikan rambutnya. Lalu ia bangkit dan bersiap-siap ke sekolah untuk yang terakhir kalinya.

Setelah semuanya siap, Krystal turun ke bawah. Ia dapat melihat kedua orang tuanya dan kakak perempuannya sedang duduk di meja makan.

Good morning, Krystal,” ucap ibunya. “Did you sleep well last night?”

Senyum samar muncul di wajah Krystal. “Yes, Mom.

“Baguslah kalau begitu. Karena kau harus dalam keadaan yang baik untuk menjalani hari terakhirmu di Seoul. Semangatlah, Sayang.”

“Ya…”

Sarapan itu dimulai dan diakhiri dengan canda tawa dari orang tua Krystal dan kakaknya. Namun Krystal hanya sibuk dengan nasi gorengnya dan hanya memberikan respon pendek pada candaan-candaan itu. Terkadang ia tertawa, namun ia akan kembali menggeluti menu sarapannya.

Pukul tujuh kurang lima belas menit, Krystal berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Sulli. Sama seperti dirinya, Sulli juga nampak tidak semangat untuk sekolah.

Mereka berdua sempat menangis di jalan ketika mengingat mereka tidak akan bisa bersama-sama lagi setelah Krystal pindah.

Di sekolah pun tidak jauh berbeda. Krystal hanya pamit pada teman-temannya dan guru-gurunya, lalu mengikuti pelajaran seperti biasa.

Setelah bel akhir berbunyi, Krystal membereskan bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Ia akan pulang sendiri, karena hari ini Sulli harus mengikuti les usai pulang sekolah.

Ketika Krystal sedang bersiap-siap, ia melihat Minho melewati kelasnya. Ia terdiam sejenak. Memikirkan apa yang terjadi dalam hidupnya.

Hari ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu dengan Minho. Bahkan bisa menjadi kesempatan terakhir untuk berbicara dengannya.

Sungguh, memendam perasaan sendiri tanpa kepastian yang jelas membuat Krystal sangat sakit. Karena itu Krystal ingin mengungkapkan perasaannya pada Minho. Ia tidak berharap Minho akan membalasnya atau tidak.

Tapi ia kembali ragu. Desas-desus Minho memiliki kekasih masih santer terdengar. Dan ia tidak mau mengganggu hubungan itu—jika ternyata gosip itu benar.

Krystal kembali berpikir.

Dulu, cinta pertamanya tidak berakhir dengan baik. Tanpa kepastian, namun Krystal tidak menyesalinya. Karena cinta pertamanya tidak terlalu berarti. Cinta keduanya juga sama saja. Berakhir tanpa kejelasan, dan Krystal mulai merasa ada penyesalan di hatinya. Cinta ketiganya… masih membutuhkan sebuah akhir. Dan ia sendiri yang harus menentukan akhir tersebut. Bahagia, tragis, atau tanpa kejelasan?

Apakah ia akan mengulangi kesalahan masa lalunya? Apakah ia akan membiarkan cinta ketiganya berakhir sama dengan kisah cintanya yang dulu?

Jika ia tidak merasakan apa-apa saat merasakan akhir cinta pertama dan ia mulai merasa menyesal saat merasakan akhir cinta keduanya, maka ia akan sangat menyesal jika cinta ketiganya berakhir tanpa kejelasan.

Keberanian mulai tumbuh di hati Krystal. Namun runtuh kembali bila mengingat gosip tentang Minho. Dan akhirnya ia berperang dengan hatinya sendiri.

Jika dipikir-pikir, apa salahnya bila ia mengungkapkan perasaannya pada Minho? Bukankah ia tidak berharap jawaban apapun dari lelaki itu? Ia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Hanya itu dan tidak lebih.

Setitik keberanian tumbuh kembali. Krystal berbicara pada dirinya sendiri.

Ayo, Krystal. Bicaralah pada Minho sunbae. Katakan perasaanmu yang sesungguhnya.

Sisi penakut Krystal mulai muncul.

Tapi kudengar ia sudah punya kekasih. Dan aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaanku.

Sisi yang lain membalasnya.

Percayalah, Krystal… Kata-kata ‘Aku mencintaimu’ akan membawa perubahan besar dalam dirimu. Katakanlah sekarang. Sebelum terlambat dan kau menyesalinya…

Ya, itu benar, Krystal membatin. Ia memejamkan matanya sejenak dan mulai merangkai kata-kata dalam otaknya. Setelah semuanya tercacat rapi, ia meraih tasnya dan mulai mencari Minho.

Ia akan ungkapkan perasaan ini.

.

.

.

Sesuai dugaannya. Minho sedang berada di Ruang Seni. Dan yang paling bagus, tidak ada seorang pun di dalam sana. Hanya ada Minho.

Dengan kaki gemetar, Krystal mulai melangkah ke dalam Ruang Seni. Ia berjalan sambil mengumpulkan segenap kekuatan. Ia dapat melihat bahwa Minho mengangkat sebelah alisnya ketika melihatnya.

“Sunbaenim…” panggil Krystal. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Ah… Halo, Krystal,” balas Minho kikuk. Maklum saja, baru kali ini mereka berdua berbicara secara langsung. “Kudengar kau akan pindah ke Amerika.”

Krystal mengangguk. “Ya. Aku akan berangkat nanti sore.”

“Jadi, apa yang kau ingin bicarakan padaku?”

Rasa gugup menyerang Krystal. Ia memainkan jarinya sambil berusaha untuk mengatur nafas.

“Aku… aku menyukai Minho sunbae.”

Ekspresi kaget muncul di wajah Minho.

Krystal mulai berani menatap Minho secara langsung. “Saat pertama kali masuk sekolah, aku sama sekali tidak bergairah untuk belajar. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan wajah ditekuk dan mengeluh pada temanku kenapa aku harus sekolah. Namun, setelah bertemu sunbae… Aku merasa semangat kembali untuk bersekolah. Mengingat sunbae adalah murid IPA, membuatku semangat untuk masuk IPA.

“Mungkin, jika aku tidak bertemu dengan sunbae, aku tidak akan belajar segiat ini. Aku tidak akan berangkat sekolah dengan semangat, dan aku tidak bisa masuk jurusan IPA. Karena itu aku ingin berterima kasih…” Krystal membungkukkan badannya dengan kaku. “Terima kasih untuk semangat yang telah kau tularkan padaku. Terima kasih untuk gairah belajar yang telah kau tiupkan untukku. Terima kasih untuk… cinta yang diam-diam telah kau berikan untukku…”

Krystal kembali menegakkan badannya. Air mata telah menetes dari pelupuk matanya. “Aku tidak mengharapkan jawaban apa-apa darimu. Yang kuinginkan hanyalah perasaan ini supaya bisa terungkapkan. Maaf bila aku mengganggu waktumu. Dan… terima kasih telah mendengarkanku.”

Perlahan Krystal membalikkan badannya. Lalu ia berlari meninggalkan Minho sendirian. Berlari meninggalkan semua kenangannya dulu. Berlari meninggalkan semangat baru dalam hidupnya. Berlari meninggalkan cintanya di sana.

.

.

.

Six years later…

 

Ia memfokuskan lensa kameranya ke arah kumpulan anak kecil yang sedang bermain balon. Setelah berhasil mengambil gambar, diturunkannya kamera itu lalu ia mengamati hasil jepretannya sendiri.

Cukup bagus untuk pemula seperti dia.

Belum puas dengan yang didapat, ia kembali mencari obyek yang dapat difoto. Serumpun bunga merah yang ada di tengah-tengah taman menarik perhatiannya. Ia mengambil gambar lagi dan menyimpannya ke dalam memori.

Krystal menurunkan kameranya. Selain belajar ilmu kedokteran di Amerika, ia juga belajar ilmu memotret dari teman kuliahnya. Dan ternyata memotret adalah suatu hobi yang mengasyikan.

Sambil tersenyum Krystal berjalan ke tengah taman. Sesekali ia mengambil gambar dengan kameranya. Enam tahun belajar di Amerika Serikat ternyata membuatnya jenuh. Karena itu, setelah lulus dari Universitas Harvard, ia kembali lagi Seoul dan menjadi dokter di salah satu rumah sakit.

Dan kali ini Krystal sedang menikmati hari liburnya. Dengan melakukan hobi barunya—tentu saja.

Krystal mengarahkan kameranya ke kerumunan orang-orang yang berada di pinggir taman. Ia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat sesuatu yang nampak akrab di matanya. Ia memfokuskan lensa kameranya.

Tidak percaya apa yang ia lihat dari lensa, ia menurunkan kameranya lalu menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.

Tak salah lagi. Orang itu…

Kenapa ia harus bertemu orang itu lagi?

Walau tak dapat dipungkiri, bahwa rasa yang dulu masih ada. Sampai sekarang dan tidak pernah berubah.

Krystal dapat menyadari bahwa orang itu juga melihatnya. Tubuh Krystal mendadak beku ketika mendapati bahwa orang itu berjalan menghampirinya.

“Hai, Krystal…” sapa orang itu ramah dan dengan senyum khasnya—senyum yang sangat Krystal sukai dan ia rindukan.

“H-hai, Minho sunbaenim.”

Choi Minho melebarkan senyumnya. Membuat Krystal semakin mengkhayal yang tidak-tidak. “Jadi kabar bahwa kau sudah pulang benar ya?”

“Darimana sunbae tahu?”

“Panggil saja ‘oppa’,” ralat Minho. “Aku tahu dari Sulli. Kebetulan dia juniorku di kampus.”

Rona merah muncul di pipi Krystal. “Ah, begitu… Ya. Lusa yang lalu aku pulang dari Amerika.”

Tiba-tiba saja hening menyergap mereka berdua. Rasa canggung menguar begitu saja. Krystal mengalihkan perhatiannya pada kameranya, sedangkan Minho sedari tadi menundukkan kepalanya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi…” kata Minho tiba-tiba.

Krystal mengangkat kepalanya. “Jadi kenapa?”

Sebuah tatapan yang tidak bisa diartikan muncul di wajah Minho. “Apa kau tidak penasaran dengan jawabanku?”

Kedua alis Krystal bertautan. Apa maksud perkataan Minho?

“Saat itu kau langsung pergi,” lanjut Minho. “Aku belum mengatakan apapun tentang jawabanku.”

Mata Krystal membulat. Jantungnya berdebar keras. Badannya menjadi kaku dan rasanya ia tidak bisa bernapas. Jangan katakan bila Minho…

“Aku juga menyukaimu, Krys,” ucap Minho. “Aku mencintaimu sejak pertama melihatmu. Kau berhasil membuatku terperangkap dengan ekspresi datarmu yang khas itu. Dan kau berhasil membuatku terpesona dengan senyum manis yang sering kau tunjukkan.”

Kaki Krystal terasa lemas. Pandangan matanya mulai kabur.

“Gosip tentangku saat SMA dulu…  itu hanyalah cerita yang aku karang. Aku ingin menguji reaksimu. Maaf bila aku membuatmu terluka.”

Air mata menetes dari sudut mata Krystal. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Minho. Sebuah senyum bahagia muncul di wajahnya. “Terima kasih…”

Minho ikut tersenyum. Lelaki itu membuka kedua tangannya lebar-lebar dan membawa Krystal dalam pelukannya.

Akhirnya, Krystal mendapatkan akhir yang jelas untuk kisah cintanya yang ketiga—dan terakhir. Ending yang membahagiakan, dan ia tidak perlu menyesalinya seperti ia menyesali kisah cintanya yang kedua. Berkesan, dan ia tidak perlu membuangnya seperti kisah cintanya yang pertama.

Suatu kisah cinta hanya kita yang bisa menentukan bagaimana akhir kisah tersebut. Menunggu saat yang tepat memang tindakan yang baik, namun menunggu tiada akhir hanya akan membawa penyesalan di masa depan.

Karena itu, jika engkau punya sebuah kisah cinta yang belum jelas akhirnya, ungkapkanlah. Sebelum terlalu terlambat, dan sebelum engkau menyesalinya.

THE END

 

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , | 10 Comments

Post navigation

10 thoughts on “Before Its Too Late [Oneshot]

  1. loveTAETEUKforever

    huwa, minstal cocwiiittt ><
    eciee, kisah nyata toh *lirik2 author
    ohya, annyeong, saya readers baru… tapi sering nyasar kesini juga sih… kekeke~
    aku suka deh sama critanya, cwit cwit gitu *bahasa apaan tuh-__-*

  2. anita

    y ampun ternyata emg dr kisah nyata toh, hmm bagusss 2 jempol buat author…
    andai py keberanian gtu

  3. Park Rae Rim

    Keren… *acungin 2 jempol*

  4. SJE

    sama, saya juga pernah ngerasain hal itu pas di SMA dulu, seru banget ya? ^^ eh ternyata pas udah kuliah pun kejadian kaya gini terjadi lagi haha emang dasar. dari awal aku udah nebak ini pasti pengalaman pribadi author, dan yg bikin aku suka itu ceritanya simpel dan ‘ngena’ banget, cara kamu men-deksripsikannya itu ga ribet hehe..
    jadi.. gimana nih sama sunbae-nya di sekolah thor? bentar lagi kayanya ada yg jadian hehehe.. :p

  5. lee princess bbuing

    waah.. keren,mantap. .

  6. choihyemin

    Keren !!
    Akhirnya minstal ketemuan jga🙂

    Aku readers bru disni slm kenal yah *bow

  7. choi minho

    bagus. ffnya.
    romantis banget.
    temanya jg cocok bwt anak seumuran authornya.
    slam kenal.🙂

    aku readers baru.

    • SHINee

      bagus banget ceritanya.
      trnyta dr kisah nyata.
      maju trus bwt authornya ya.

      and salam kenal.🙂

  8. anwook

    daebak chingu!!!!!!!!!!!!
    cinta remaja bangeut wkwk

  9. hi chingu🙂
    Nice fanfic,couple fav ku ini:)
    write more ne…
    n ngomong2 iliat liat ari ciri2(?) sekolahnya..
    mirip sekolahku hehe…
    sebelas ipa 7,x-2,kantin kejujuran..haha
    tapi sekolah lain banyak juga kan ya? O.o
    suahlah yang penting nice ff :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: