Hopes in Words [Ficlet]

Author            : Park Sooyun

Title                : Hopes in Words

Cast                : Krystal Jung, Choi Minho

Genre              : Romance, Hurt/Comfort

Length            : Ficlet

Rating             : General

WARNING! : alur gaje, ending abal, konflik gak jelas. Berdasarkan curhatan ngenes author ._.

“Aku hanya berkata dalam hati, suatu saat kau akan tahu

bahwa orang yang selalu melihatmu dari belakang

adalah orang yang benar-benar mencintaimu. Dan orang itu adalah… aku.”

 

Kata-kata memang sebuah hal yang sangat mudah untuk dipahami, bukan?

Huh, sebenarnya aku malas mengakuinya; tapi hal itu memang benar. Sangat benar. Bahkan kata-kata sering menimbulkan salah tafsir. Dan aku mengalami hal yang kedua. Kesalahan tafsir.

Ketika dulu seseorang yang sangat aku kagumi dan aku sukai—uh, ralat—maksudku orang yang sangat kucintai bertanya padaku dengan suara lembutnya : “Siapa namamu?”, itu adalah kata-kata pertama yang aku terima darinya.

Dia hanya menanyakan namaku—si adik kelas yang kebetulan satu ekskul dengannya, namun kata-kata itu dengan segera melayang ke pikiranku. Dan membuatku mengkhayal serta mengharap hal-hal yang tidak jelas arah tujuannya.

Oke, kurasa kalian bingung. Jadi aku akan menceritakan semuanya.

Aku telah jatuh cinta pada seseorang bernama Choi Minho. Dia adalah kakak kelasku, seorang murid tampan yang sangat pandai dalam hal seni rupa. Bisa dibilang dia adalah Leonardo da Vinci versi sekolahku—walaupun julukan itu membuatku agak geli.

Minho sunbae adalah siswa kelas sebelas IPA tujuh, ia mengikuti ekskul Paduan Suara dan Seni Rupa. Hal yang sangat aku syukuri adalah aku satu ekskul dengannya. Setidaknya aku punya waktu lebih banyak untuk melakukan modus. Hahaha.

Awalnya aku hanya sebatas mengaguminya saja. Namun entah mengapa, rasa kagum itu tumbuh menjadi rasa suka dan akhirnya tumbuh menjadi rasa cinta yang sepertinya sudah tumbuh terlalu besar.

Mungkin hal itu terlalu berlebihan untuk anak SMA sepertiku; namun kenyataannya memang begitu. Aku belum pernah merasakan debaran jantung secepat ini ketika melihatnya, aku belum pernah segugup ini ketika berpapasan dengannya, dan aku belum pernah sebahagia ini ketika dia menyentuh wajahku.

Salah satu momen terbaik dalam hidupku adalah ketika aku mengikuti pelantikan ekskul Seni Rupa. Saat itu, kakak kelas mengadakan permainan. Mereka membagi anak-anak kelas sepuluh menjadi beberapa kelompok. Nanti kelompok yang kalah akan diberi hukuman.

Dan itulah yang terjadi. Kelompokku kalah dalam permainan itu. Akhirnya kami harus menjalankan hukuman yang diberikan. Awalnya aku tidak keberatan, karena kami hanya disuruh untuk menari Gangnam Style. Tapi hukuman yang kedua…

Oke, jadi hukuman yang kedua adalah corat-coret muka. Kelompok yang kalah harus rela wajahnya dicoret menggunakan tepung oleh kelompok lain. Beberapa anak dari kelompok lain maju dan mencoret wajah teman sekelompokku. Hingga akhirnya tersisa aku dan beberapa temanku yang belum dicoret.

Saat itu aku sempat heran dan melirik ke arah dua sahabatku—Sulli dan Seohyun—yang daritadi diam saja. Kukira mereka akan maju dan mencoret wajahku sepuas mereka. Tiba-tiba saja, Minho sunbae maju dan berkata, “Aku akan mencoret anak-anak yang tersisa.”

Aku kaget setengah mati. Aku tidak percaya hal ini terjadi. Detak jantungku semakin tidak karuan ketika melihat Minho sunbae berjalan ke arahku dengan sebungkus tepung di tangannya. Ia berdiri di hadapanku dan sempat menatapku. Aku tak dapat mengartikan tatapannya itu—tapi kukira ia meminta maaf sebelum mencoret wajahku?

Minho sunbae mengoleskan tepung di tangan kanannya lalu mengangkat tangannya itu ke arah wajahku. Reflek, aku menutup mataku karena aku takut tepungnya akan masuk ke dalam mataku. Namun aku segera membuka kembali ketika aku teringat film-film Jepang yang sering kutonton bersama Sulli dan Seohyun—tepatnya ketika si pria akan mencium si wanita dan si wanita menutup matanya.

Aku merasa sangat konyol dengan pemikiran tidak masuk akal itu. Setelah aku membuka mata, aku tertawa dan Minho sunbae ikut tertawa. Kami berhenti tertawa beberapa detik kemudian, dan Minho sunbae mencoret wajahku dengan tangannya.

Kemudian ia menghampiri anak-anak yang lain dan mencoret wajah mereka. Lalu aku menyadari suatu hal yang aneh. Coretan tepung di wajahku tidak sebanyak coretan tepung di wajah teman-temanku yang lain.

Hal itupun akhirnya menambah deretan panjang harapanku pada Minho sunbae.

.

.

.

Aku sangat berharap Minho sunbae tahu akan perasaanku. Terkadang, aku bermimpi suatu saat akan mengatakan perasaanku padanya. Bahkan aku sudah merencanakannya. Saat Minho sunbae akan lulus sekolah, aku akan mengajaknya ke suatu tempat dan mengatakan perasaanku.

Aku tak berharap dia akan membalas perasaanku. Yang terpenting dia sudah tahu. Tapi walaupun begitu, aku juga berharap dia akan membalas perasaanku.

Ah, kata-kataku terlalu rumit, ya? Maksudku adalah, aku tidak memaksa Minho sunbae untuk membalas perasaanku, dia sudah tahu pun itu membuatku lega. Namun angan-angan itu akan berakhir dengan indah bila Minho sunbae mau membalasnya.

Dan terkadang, perasaan ini meluap begitu saja, membuatku tidak bisa untuk menahannya. Akhirnya, untuk melampiaskan luapan itu, aku membuat suatu cerpen yang berisi tentang pengalamanku ketika aku melihat Minho sunbae, bertemu pandang dengannya, berpapasan dengannya, atau ketika ia tersenyum ambigu ke arahku.

Di cerpen itu aku juga menuliskan semua ciri-ciri Minho sunbae; mulai dari kelasnya sampai kebiasannya yang suka sekali memakai jaket dimana saja dan kapan saja.Cerpen berjudul ‘Before Its Too Late’ itu pun aku publish di blog pribadiku dan sering aku baca. Aku pun menjadi geli sendiri membaca pengalamanku itu (aku memang orang yang aneh).

Lalu hal yang sangat tidak terpikirkan olehku terjadi. Suatu hari, Seohyun bercerita padaku bahwa ia mengajak chat Minho sunbae di jejaring sosial. Awalnya ia hanya bertanya soal kegiatan ekskul, lalu tiba-tiba ia memberi link cerpen itu pada Minho sunbae dan menyuruhnya untuk membacanya!

Tentu saja hal itu membuatku sangat kaget. Dengan raut wajah tanpa dosa, Seohyun tersenyum dan membentuk tanda peace dengan tangannya.

Beberapa hari kemudian, Seohyun bercerita lagi padaku dan bilang bahwa ia mengajak chat Minho sunbae lagi. Ia bertanya apakah Minho sunbae sudah membaca cerpen itu dan bagaimana komentarnya.

Minho sunbae hanya membalas : “Ceritanya keren sekali! Yang membuat siapa? Kok ada akunya sih? o_O”

Lalu Seohyun membalas : “Yang membuat temanku, satunya Sulli :D”

Dan balasan terakhir Minho sunbae adalah : “Oh, aku tidak paham. Hehehe. Aku hanya paham wajahnya (mungkin)”

Yang membuatku heran—dan kecewa, mungkin—adalah kenapa Minho sunbae tidak mengenaliku. Kalian harus tahu bahwa aku juga menulis ciri-ciriku di cerpen itu! Kelas X-2, mengikuti ekskul Seni Rupa dan English Club, bahkan Seohyun bilang bahwa yang menulis adalah temannya dan teman Sulli. Walau aku tidak menyebut nama, seharusnya ia tahu. Jika ia memperhatikan sekelilingnya, tanpa bertanya pun dia akan langsung tahu bahwa yang menulis cerpen itu adalah aku. Lagipula, dulu Minho sunbae pernah menanyakan namaku ketika larut pertama ekskul Seni Rupa.

Lalu… kenapa ia tidak mengenaliku? Dia sebenarnya sadar atau pura-pura tidak sadar?

.

.

.

Berharap terlalu jauh terkadang bisa membuat seseorang terluka ketika akhirnya harapan itu tidak terkabul. Aku tahu hal itu, namun aku tidak bisa membendung sejuta harapanku pada Minho sunbae.

Aku adalah orang paling bodoh di dunia. Kata-kata itu sering kuteriakkan di dalam otakku. Ya, aku ini memang orang bodoh. Yang mengharapkan seseorang karena kata-kata lembutnya, yang mengharapkan seseorang karena perbuatannya yang kukira tidak biasa.

Kenyataan menyayat harapanku ketika aku mengetahui suatu fakta yang mengejutkan. Minho sunbae telah memiliki kekasih. Hal itu membuatku sakit.

Aku telah berharap begitu banyak, namun kenyataan berkata lain. Aku mengira semua itu adalah ‘tanda-tanda’ bahwa ia juga menyukaiku, namun nyatanya ia telah memiliki kekasih.

Sebelum aku tahu bahwa dia sudah memiliki kekasih, aku merasa bahwa jarak di antara kami terasa makin jauh. Dia terasa semakin sulit untuk kugapai. Ibarat menyelam ke laut dalam, semakin dalam lautnya napasmu akan semakin berkurang.

Dan ternyata… ia memang menjauh dariku. Entah apa alasannya.

Namun satu hal yang pasti. Meski ia telah membuatku berharap, membuatku jatuh terlalu dalam padanya, membuatku menangis karena telah memberiku tanda-tanda yang salah… Aku akan tetap mencintainya.

Tak peduli apakah ia akan membalasnya atau tidak.

Aku hanya berkata dalam hati, suatu saat kau akan tahu bahwa orang yang selalu melihatmu dari belakang adalah orang yang benar-benar mencintaimu. Dan orang itu adalah… aku.

.

.

.

Hidup ini memang tidak mudah. Berjuang selama empat tahun di perguruan tinggi untuk menjadi seorang dokter… bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi ketika itu kau sedang mengalami suatu kondisi yang dikenal sebagai love-sick stadium berat.

Bohong jika aku berkata kuliah kedokteranku berjalan tanpa halangan. Selain banyak tugas dan skripsi dari dosen, kisah masa laluku juga sempat menghantuiku.

Terjebak antara ruang bernama ketiadaan harapan dan dimensi aneh bernama cinta membuatku sangat pusing. Aku masih mengingat dengan jelas sosok Minho sunbae, caranya berbicara dan ketika ia serius menggambar sesuatu. Aku masih ingat ketika Minho sunbae menanyakan namaku, menyentuh wajahku saat pelantikan ekskul… Bahkan aku berharap ia akan menyentuh wajahku lagi, walaupun tangannya berlepotan tepung. Dan yang paling bodoh, aku masih berharap tentang tanda-tanda itu!

Oh God! What’s wrong with me?

Ayolah, Krystal! Sadar, sadar! Kau sudah pupus harapan, ingat itu. Jangan berharap pada masa lalu.

Aku mengacak-acak rambutku dan memukul meja dengan kedua tanganku. Dengan kesal aku bangkit dari kursi dan meninggalkan tugas skripsi yang tadi sedang kukerjakan begitu saja, padahal skripsi itu menentukan nasibku apakah lulus atau tidak.

Sambil berusaha menenangkan pikiranku, aku memutuskan untuk keluar rumah. Kurasa jalan-jalan akan membuatku tenang…

Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang lelaki bertopi hitam sedang membawa sekotak kardus. Ia berhenti di depan pintu apartemen nomor 7, yang kebetulan bersebelahan dengan apartemenku. Kurasa dia tetangga baru.

“Apa kau tetangga baru?” tanyaku pada lelaki itu.

Sebelum menjawab, lelaki itu menaruh kardus yang dibawanya di atas lantai. Ia melepas topinya. “Ya. Salam kenal—ah, Krystal… Kau tinggal di sini?”

Dan kenangan itu kembali berputar-putar di pikiranku. Aku membulatkan mataku ketika tahu bahwa tetangga baru itu adalah Choi Minho, seniorku di SMA. Seniorku yang telah membuatku jatuh cintah.

“Ya. Ka-kapan sunbae pindah ke sini?” Pertanyaan itu cukup sulit untuk kukeluarkan dari mulutku.

“Beberapa hari yang lalu,” jawab Minho sunbae. Ia tersenyum. “Bagaimana keadaanmu?”

“Baik. Lalu, bagaimana keadaan sunbae dan Yuri sunbae? Kudengar dari teman-teman Yuri sunbae bahwa kalian berencana untuk bertunangan.” Ah, dasar bodoh. Kenapa kutanyakan hal yang bisa membuatku sakit hati?

Minho sunbae terdiam sejenak. “Itu… dulu. Setengah tahun yang lalu. Hubungan kami sudah tidak seperti itu lagi, Krystal. Ada beberapa hal buruk yang terjadi dalam hubungan kami.”

“Ah, maaf… Aku tidak bermaksud membuat sunbae sedih.”

Senyum kecil muncul di wajah Minho sunbae. “Tak apa. Lagipula, dengan berakhirnya hubungan kami, aku jadi tahu… Bahwa orang yang selalu melihatku dari belakang adalah orang yang benar-benar mencintaiku.”

Eh?

“Dan orang itu adalah kau. Benar ‘kan, Krystal?”

Apa maksud pertanyaan Minho sunbae? Apa ia… Ah, tidak. Tidak boleh lagi yang namanya berharap.

“Sebenarnya aku tahu penulis cerpen itu—cerpen yang diberi Seohyun,” kata Minho sunbae. “Semuanya tertulis dengan jelas. Kelas X-2, mengikuti ekskul Seni Rupa dan English Club, seseorang yang selalu bersama Seohyun dan Sulli. Siapa lagi kalau bukan kau? Aku tahu, Krystal. Aku tahu karena aku selalu memperhatikanmu.”

Tiba-tiba tubuhku menjadi kaku. Seluruh ototku tegang, mataku tidak bisa berkedip dan detak jantungku bertambah cepat. Dadaku terasa sesak. Tidak… Jangan buat aku berharap lagi…

Minho sunbae menatapku. “Saat itu aku menjadi yakin bahwa kau juga menyukaiku. Namun entah mengapa, ketika Yuri menembakku, aku menerimanya begitu saja. Kurasa saat itu aku takut. Aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut kau hanya sebatas nge-fans saja denganku, sama seperti mantan-mantanku yang dulu. Namun ternyata, yang meninggalkanku adalah Yuri.”

Kini aku merasa, bahwa terkadang harapan itu sesuai dengan kenyataan. Namun tak jarang harus bersilangan dengan kenyataan, sesuai dengan keadaan manusia.

“Aku mencintaimu, Krystal.”

Akhirnya, aku mendengar kata-kata yang ingin kudengar sejak dulu. Dan kata-kata itu bukanlah suatu kesalahan tafsir, namun ungkapan sebuah harapan yang terkabulkan.

Aku merasa tubuhku ringan, seolah-olah bayangan ‘pupus harapan’ telah berhenti mengikutiku. “Aku juga mencintaimu…”

Terkadang harapan itu berhenti di tengah jalan, namun bukan berarti harapan itu akan lenyap selamanya.

The End

 

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “Hopes in Words [Ficlet]

  1. Byunmilla

    Keren min suka banget sama kata kata nya “Terkadang harapan itu berhenti di tengah jalan, namun bukan berarti harapan itu akan lenyap selamanya” jjang!!!

  2. Bagus kok.. feel-nya dapet. Greget banget!!

  3. naneeyy

    kerennnnn bngeeeeet! daebak! beribu ribu jempol buat authooor

  4. AyyupFlaminstalized

    Inii kiisah nyata chingu ??
    Daebak bgt..🙂
    Kata”.y juga keren” deh.. Ngena bgt..😀
    Fighting chingu . ! Haha

  5. anwook

    daebak chingu!!
    kisah kasih sekolah bgt ya itu kkk

  6. Intan

    keren , thor🙂 kata”nya itu lhoo… hh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: