Analogi Hujan [Ficlet]

Summary: Ia pernah merasakan hujan terpahit dalam hidupnya dan ia belum benar-benar bisa meredakan hujan kesedihan itu. Namun, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Ia hanya perlu meraih uluran tangan gadis di hadapannya, berjalan bersama dan melihat hadirnya pelangi di bawah payung merah itu.

 

Romance/Drama | Lee Taemin & Choi Jinri | Ficlet

 

The idea originally came from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

 

Analogi Hujan © Park Sooyun

 

 

 

Ini sudah yang kesekian kalinya Taemin menghilang. Sulli hanya bisa menghela napas ketika ibu Taemin datang ke rumahnya sambil memintanya untuk mencari Taemin.

Sulli melihat ke luar jendela. Hujan masih turun. Memang tidak terlalu deras, tapi tetap saja anginnya bisa membuat badannya menggigil. Karena merasa tak enak pada Nyonya Lee, ia menyambar jaket dan payung merahnya lalu pergi ke luar rumah.

Mungkin ini sudah menjadi kebiasaan seorang Choi Sulli. Menjemput temannya yang sering keluyuran di kala hujan turun. Ia mengerti mengapa Taemin begitu giat keluar rumah ketika hujan. Namun terkadang ia heran juga. Kenapa lelaki itu mau bersusah payah―kesepian dan kedinginan hanya untuk mengenang cinta pertamanya?

Pikiran itu membuat Sulli merutuki dirinya sendiri. Ia tidak mau dianggap tidak bersimpatik terhadap temannya sendiri. Ia hanya… entahlah. Cemburu, mungkin?

Tapi dirasanya kecemburuan itu sedikit konyol. Untuk apa cemburu pada orang yang sudah benar-benar pergi?

Namun pada kenyataannya ia memang agak cemburu. Ia telah menyukai Taemin sejak mereka pertama kali berteman. Taemin belum menyadarinya, namun Sulli sangat berharap suatu hari pemuda itu akan sadar dan mulai beranjak dalam masa lalu yang sering menariknya ke dalam kesedihan.

Butuh sedikit waktu untuk sampai di halte bus yang biasa Taemin datangi ketika hujan turun. Letaknya di dekat bekas sekolah mereka. Jaraknya sekitar beberapa blok dari rumah Sulli.

Sulli dapat melihat sesosok laki-laki sedang duduk di halte bus. Lelaki itu mengenakan jaket abu-abu dan celana hitam. Pandangannya kosong ke arah jalanan yang basah terkena hujan.

Tanpa ragu Sulli menghampiri laki-laki itu.

“Taemin oppa…” panggilnya.

Lelaki bernama Taemin itu menoleh lalu tersenyum kecil pada Sulli. Ia menggeser badannya dan membiarkan Sulli duduk di sebelahnya.

“Lee ahjumma mencarimu,” kata Sulli.

Taemin hanya diam.

“Seharusnya oppa tidak begini terus. Bukannya aku tidak mengerti perasaan oppa, hanya saja aku kasihan pada ahjumma yang sering kebingungan mencari dimana oppa ketika hujan turun,” Gadis itu menghela napas. “Oppa tahu sendiri hanya aku yang tahu ‘tempat persembunyian’ oppa dan… alasan kenapa oppa bersembunyi.”

Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Sulli. Tanpa disadarinya, Taemin menjadi sedikit tersinggung. Lelaki itu melirik Sulli dengan tajam.

“Ma-maaf. Aku tidak bermaksud…” ujar Sulli.

“Aku tidak bersembunyi, Sulli-ah,” tegas Taemin. Dia membuang pandangannya.

Lalu apa? Sulli membatin.

Jika bukan bersembunyi, lalu apa namanya? Bukankah selama ini Taemin bersembunyi dalam kubangan bernama kesedihan akan masa lalu? Sulli ingin menyuarakan hal itu, namun rasanya tidak mungkin. Taemin hanya akan tambah marah padanya.

Pada akhirnya, Sulli hanya terdiam sembari menunduk.

“Aku… tidak bermaksud menyinggung perasaan oppa,” gumam Sulli.

Lelaki itu menghela napas. “Tidak apa-apa. Aku saja yang terlalu sensitif.”

Dan keheningan menyeruak di antara mereka. Taemin masih bertahan pada kesenduannya, sedangkan Sulli hanya berpusat pada hujan yang intensitasnya semakin berkurang.

Rupanya hujan itu indah ya, pikir Sulli. Ia tersenyum kecil.

Taemin agaknya tertarik pada senyuman Sulli.

“Kenapa tersenyum?” tanyanya.

Sulli mengalihkan pandangannya dan tersenyum simpul pada Taemin. “Aku hanya baru menyadari kalau hujan itu indah.”

Perkataan gadis itu membuat Taemin tertegun.

“Walaupun hujan terkadang membuat orang-orang menjadi sendu, tapi setelah hujan orang-orang akan dibuat tersenyum oleh hadirnya pelangi,” ujar Sulli sambil memandang ke arah langit. “Sayang kali ini pelanginya tidak muncul.”

Tanpa disadari, Taemin ikut tersenyum. Senyuman pertamanya di kala hujan turun. “Ya… Mungkin lain kali akan ada pelangi.”

Sulli mengalihkan wajahnya ke Taemin. “Oppa mau pulang kapan? Hujannya sudah tidak terlalu deras. Kalau oppa belum mau pulang, aku akan menemani oppa.”

“Bisakah kita di sini sebentar lagi?”

“Tentu,” jawab gadis itu sembari tersenyum manis.

 

***

Lagi-lagi ia datang ke sini. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak datang ke tempat ini lagi. Namun apa daya. Magnet masa lalu rupanya bisa menariknya hingga sejauh ini.

Seperti biasa, Lee Taemin berlari menerjang derasnya hujan menuju halte bus dekat bekas sekolahnya. Ia menepuk-nepuk jaketnya yang basah dan menggosokkan kedua tangannya lalu duduk. Kembali lagi ia pada rutinitasnya.

Sebenarnya ia tahu ini adalah sesuatu yang buruk. Kenangan lama yang sering dibiarkan bermain di otaknya lama-lama bisa membuat otaknya rusak. Dan dapat mengacaukan kehidupannya.

Namun ia belum benar-benar bisa melupakan cinta pertamanya.

Taemin jatuh cinta pertama kali ketika ia baru masuk SMA. Seorang gadis berambut panjang dan berparas manis telah memikat hatinya. Dulu ia begitu pemalu sehingga tidak mampu menyatakan cinta kepada gadis itu.

Ketika ia sudah berhasil mengumpulkan seluruh keberaniannya, nasib tragis menerjang sang gadis. Gadis itu terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Ketika hujan turun dengan lebat, mobil yang dikendarai supirnya tergelincir, terguling lalu menabrak sebuah toko.

Dan kecelakaan itu terjadi tepat di depan halte bus ini.

Taemin menghela napas.

Itulah sebab mengapa ia sering ‘kabur’ ke tempat ini ketika hujan turun. Saat ia duduk di sini, ia merasakan hadirnya masa lalu ke hadapannya. Ia mengingat cinta pertamanya, sekaligus menyesal karena tak langsung menyatakan cinta kepada gadis itu.

Walaupun ia tahu, terlalu lama bersembunyi dalam kesedihan tidak akan membantunya.

“Hanya aku yang tahu tempat ‘persembunyian’ oppa dan… mengapa oppa bersembunyi.”

Tiba-tiba saja Taemin teringat dengan perkataan Sulli. Benar apa kata gadis itu. Dirinya memang bersembunyi. Kini ia merasa menyesal telah berkata yang tidak-tidak pada temannya itu.

Taemin menolehkan kepalanya ke arah kanan, belokan dimana Sulli sering muncul untuk menjemputnya. Biasanya jika ia sedang kabur, gadis itu akan menyusulnya ke sini. Dengan jaket putihnya dan payung merahnya yang mencolok.

Entah kenapa. Kini Taemin menginginkan kehadiran Sulli di sini.

Aneh, ya?

Baru sekian menit lalu Taemin mengenang cinta pertamanya. Dan kini ia sudah terpikir akan hal lain.

Alis Taemin terangkat sebelah ketika melihat siluet gadis berpayung muncul di belokan itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tahu betul siapa gadis di bawah payung merah itu.

Gadis itu berlari kecil ke arahnya. Dia menurunkan payungnya dan menepuk-nepuk jaket putihnya yang agak basah.

“Kau datang lebih cepat kali ini…” gumam Taemin.

“Memang,” sahut Sulli sambil tersenyum. “Aku datang ke sini lebih awal sebelum Lee ahjumma meminta tolong padaku.”

Taemin hanya tersenyum.

“Hujannya cukup deras, ya,” gumam Sulli. Baru saja ia akan duduk sebelum Taemin menarik tangannya.

“Kita pulang sekarang saja, ya?” pinta Taemin.

Sulli mengangkat sebelah alisnya. “E-eh? Biasanya oppa pulang setelah hujannya benar-benar berhenti.”

“Anggap saja ini sebagai kali terakhir aku kabur ke sini,” ujar Taemin sambil tersenyum.

Perkataan itu butuh waktu untuk dicerna otak Sulli. Pada akhirnya gadis itu hanya tersenyum, sembari bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada Taemin.

Sulli mengangkat payung merahnya. Awalnya, Taemin terdiam.

Hujan akan selalu turun dalam kurun waktu yang dibutuhkan dalam hidup. Ia pernah merasakan hujan yang terpahit―empat tahun lalu ketika semuanya terjadi. Dan ia belum benar-benar bisa meredakan hujan kesedihan itu.

Namun mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Ia hanya perlu meraih uluran tangan gadis di hadapannya, berjalan bersama dan melihat hadirnya pelangi di bawah payung merah itu.

Sembari berjalan menuju rumah, Taemin meraih tangan Sulli yang bebas. Gadis itu agak kaget, namun kekagetan itu segera terganti dengan semburat merah di wajahnya.

“Terima kasih telah menarikku dari hujan, Sulli-ah,” kata Taemin sambil tersenyum lembut.

Sulli balas tersenyum. “Sama-sama.”

Lalu ia membatin dalam hati. Dan kurasa aku menyukaimu…

 

The End

 

 

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “Analogi Hujan [Ficlet]

  1. loveTAETEUKforever

    huwaaa cocweet ;_;
    bagus eonn critanya greget😄 tapi…boleh tau nggak siapa cinta pertamanya taem?? :3
    oke sekian. maaf kalo singkat DX

  2. So sweet… Walaupun cuma ficlet tapi keren….

  3. via

    wuuaa~ ceritanya manis sekali😀
    *duing duing
    Ayoo author, lestarikan ff couple sulli-taemin😄
    Aku sllu disini menemanimu *jiiaar
    Bagus author, suka ceritanya🙂
    Cinta itu memang datang disaat yg tak terduga😀
    Good job buat ff yg lain, ttp semangat, dan ttp berkarya🙂

  4. salma_doang

    author daebak ikh…

  5. CrysanJung

    Keleeen😀
    btw syp cinta pertamanya Taem?

  6. Choi Miyoung

    sumpah soswit maxi :3

  7. eria08

    krenn min,tapi kurang panjang,hehehe:D

  8. Lee Minhyuk Btob ♡ Nam Jihyun 4minute

    Cinta pertama taemin kan aku
    #di tendang author hahaha xd
    Di tunggu ff taellinya author ^^

  9. telat banget aku baru baca sekarang ;;
    so sweet, pendek tapi ngena/? ><

  10. vousmevoyez

    kyaaa ceritanya bikin senyum* sendiri. sosweet
    ngena kak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: