Wish You Were Here [Ficlet]

Summary: Pemuda itu memang selalu berada di sisinya. Tapi bukan keberadaan seperti itu yang ia maksud. Ia ingin; tak hanya raga sang pemuda yang ada di dekatnya, namun juga hati pemuda tersebut…

 

Romance/Hurt/Comfort | Kim Jonghyun & Park Sunyoung | Ficlet

Beware of typo and AU.

 

The idea originally came from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Wish You Were Here © Park Sooyun

 

 

 

 

Ini kesekian kalinya Luna mengurung diri di dalam ruang musik. Kuliah musiknya telah usai sejam yang lalu. Karena di rumah tak ada pilihan lain selain makan, tidur dan menyanyi, maka ia langsung pergi ke sini.

Ia tengah memainkan sebuah grand piano berwarna putih yang ada di sudut ruangan. Menarikan jari-jarinya di atas tuts dan memainkan sebuah lagu karya Beethoven dengan sangat indah.

Hah… Sayang sekali ia hanya bisa begini di sekolahnya. Piano pemberian ayahnya sedang rusak dan belum diperbaiki. Luna yang biasanya menghabiskan waktu di rumah dengan bermain piano pun sempat dibuat bad mood olehnya.

Permainan pianonya berjalan dengan lancar-lancar saja, hingga pintu ruang musik terbuka. Luna merasa sedikit terganggu. Ia menolehkan kepalanya dan melihat seorang pemuda masuk.

“Sudah kuduga kau ada di sini,” ujar pemuda itu sambil tersenyum.

Luna balas tersenyum. “Hehehe~ Aku sedang tidak ada pekerjaan.”

“Tidak langsung pulang ke rumah?”

Luna menggeleng.

Pemuda itu berjalan menghampiri Luna, menarik sebuah kursi dan menaruhnya di sebelah Luna. Dia turut memainkan piano tersebut. Luna hanya tertegun melihat permainan sang pemuda yang harus ia akui jauh lebih baik dari permainannya.

“Piano di rumahmu masih rusak?”

“Ya…” jawab Luna. “Lagu apa yang sedang oppa mainkan? Rasanya aku baru mendengarnya.”

Si pemuda tersenyum. “Ini lagu yang baru kuciptakan. Belum ada liriknya, sih. Aku akan membuat liriknya nanti.”

Luna berdecak kagum. “Wow. Jonghyun oppa hebat! Aku bahkan belum pernah menulis lagu.”

Pemuda bernama Jonghyun itu tertawa. “Jika kau sudah menguasai alat musik, kau bisa menulis lagu dengan mudah.”

“Tapi alat musik yang kubisa hanya piano…”

Jonghyun menghentikan permainannya. “Mau kuajari main gitar?”

“Tentu~!” jawab Luna langsung. Gadis itu sangat bersemangat bila menyangkut tentang musik. Entah itu belajar menyanyi, mencoba menulis not balok atau mempelajari alat musik baru.

“Kalau begitu, ayo. Aku akan mengambil gitar dulu.”

 

***

“Untuk belajar bermain gitar, yang harus kau kuasai adalah chord dasar.”

Luna mengangguk-angguk.

“Ada tujuh chord dasar, yaitu A mayor sampai G mayor,” ujar Jonghyun. “Yang pertama, chord A mayor.”

Dengan sigap Luna memegang gitar coklat milik Jonghyun.

“Letakkan jari manismu di fred kedua, senar kedua.”

Jari manis Luna dengan mudah menggapai senar tersebut. Ia menyeringai layaknya anak kecil.

“Sekarang jari tengahmu di fred kedua, senar ketiga. Dan… yang terakhir, jari telunjukmu di fred kedua, senar keempat.”

Luna mencoba membunyikan chord yang pertama kali ia pelajari itu. Bunyinya cukup bagus.

“Lumayan…” puji Jonghyun. “Selanjutnya chord B mayor. Yang ini agak susah karena ada bare-nya.”

Kening Luna berkerut. “Apa itu bare?”

“Bare itu semacam… duh, agak sulit menjelaskannya. Yang pasti, kau harus menekan beberapa atau semua senar dengan satu jari. Biasanya jika belum bisa memainkan bare, orang-orang bisa menggunakan alat bernama kapo.”

Oh, otak Luna agak sedikit macet mendengar penjelasan Jonghyun. Rupanya bermain gitar lumayan rumit ya. Ada bare, kapo, fred… Berbeda sekali dengan piano.

“Letakkan jari telunjukmu…”

Tiba-tiba saja handphone Jonghyun berbunyi. Dia mengangkat tangannya seolah meminta waktu untuk menjawab panggilan itu.

Luna hanya tersenyum, namun senyuman itu langsung hilang ketika ia tidak sengaja melihat wallpaper layar handphone Jonghyun. Gambarnya seorang wanita berambut panjang yang nampak cantik.

Ah, ia tahu siapa betul wanita itu. Shin Sekyung namanya. Seorang gadis cantik yang berprofesi sebagai model dan telah dikejar-kejar Jonghyun hampir selama empat tahun.

Hal itu membuat dada Luna sesak. Ia telah menyukai Jonghyun sejak lima tahun lalu, saat mereka tidak sengaja bertemu di ruang musik SMA. Jonghyun adalah kakak kelasnya yang setahun lebih tua darinya. Kini, mereka bertemu lagi di universitas yang sama, jurusan yang sama pula. Suatu kebetulan yang menyenangkan bagi Luna.

Mereka berdua sudah cocok sejak pertama bertemu di ruang musik. Ditambah dengan minat yang sama-sama besar pada musik dan seringnya frekuensi mereka bertemu di sekolah membuat mereka bertambah akrab. Dan akhirnya Luna jatuh cinta pada Jonghyun.

Namun sayang. Jonghyun menyukai gadis lain bernama Shin Sekyung. Sekyung sendiri adalah kakak kelas Luna. Gadis itu memang cantik dan terkenal di kalangang laki-laki. Jonghyun terus mengejarnya hingga akhir SMA.

Pengejaran itu nampaknya terhenti ketika Sekyung pindah ke Amerika Serikat. Awalnya Luna berharap dengan perginya Sekyung, Jonghyun bisa berpindah hati. Namun harapannya jelas-jelas salah.

Jonghyun masih bertahan dengan perasaannya pada Sekyung. Bahkan dia telah berjanji untuk terus menunggu Sekyung.

Suatu kenyataan yang pastinya menyayat hati Luna.

“Ah, ya… Terima kasih, Minho! Aku akan datang ke rumahmu nanti.”

Jonghyun mengakhiri panggilan dari temannya dan kembali ke Luna. Keningnya berkerut ketika melihat wajah Luna yang tiba-tiba kehilangan semangat.

“Kau kenapa? Sakit?” tanya Jonghyun.

Luna segera mengangkat kepalanya, memaksakan sebuah senyum dan menggeleng. “Tidak kok~! Ayo kita latihan lagi.”

“Baiklah…”

***

Kini Luna punya hal lain untuk menghilangkan rasa hausnya akan musik. Berbekal dengan gitar yang Jonghyun pinjami, ia bersemangat untuk memperdalam alat musik tersebut layaknya ia telah mendalami piano.

Seperti biasanya, ia berada di ruang musik. Gitar coklat ada di pangkuannya. Rupanya ia sedang mempelajari sebuah lagu.

All those crazy things you said, you left them running through… Aih, perpindahan akornya terlalu lambat,” Luna merutuki dirinya sendiri.

Ia mengulangi permainannya.

All those crazy things you did. Didn’t think about it, just went with it. You’re always there, you’re everywhere. But right now I wish you were here…

Akhirnya ia sampai juga pada bagian reff.

Damn, damn, damn… What I’d do to have you here, here, here? I wish you were here.”

Suara emasnya menggema di seluruh ruangan.

“Damn, damn, damn… What I’d do to have you near, near, near? I wish you were here~

Saking asyiknya, Luna tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi tersenyum melihat permainan gitarnya.

But I’m here,” sahut pemuda itu setelah Luna selesai dengan permainannya.

Luna menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar begitu menyadari Jonghyun ada di belakangnya. Jonghyun berjalan mendekatinya lalu mengacak rambutmya.

“Permainanmu semakin bagus,” puji Jonghyun.

Semburat merah muncul di pipi Luna.

“Sepertinya kau begitu menghayati lagu tadi, ya… Pasti lagu itu untukku. Hahahaha~” ujar Jonghyun dengan narsisnya.

Luna mencibir.

“Tapi tenang saja. Aku ada di sini. You don’t have to do anything to have me near.”

Kali ini Luna hanya tersenyum. Tingkat kenarsisan Jonghyun memang cukup parah, namun bukan hal itu yang ada di pikiran Luna.

Pemuda itu memang selalu berada di sisinya. Mengajarkannya banyak hal tentang musik―tentang hal yang begitu ia sukai. Atau sekedar menghibur dan menyemangatinya ketika ia akan mengikuti lomba musik.

Secara ragawi, Jonghyun memang ada di dekatnya. Tapi tidak dengan hati pemuda itu. Hatinya hanya berada di Amerika Serikat, di sisi seorang Shin Sekyung yang tidak kunjung membalas cinta pemuda itu.

Terkadang Luna merasa miris. Apakah dirinya begitu tidak terlihat di mata Jonghyun? Mungkin bagi pria itu, semua hal yang telah dilakukannya adalah hal yang tidak istimewa. Semata-mata hanya dilakukan atas nama persahabatan.

Namun bagi Luna, semua itu dilakukannya atas perasaannya pada Jonghyun. Ia telah bersama-sama dengan Jonghyun selama hampir lima tahun, sedangkan satu hari pun ia belum melihat kebersamaan Jonghyun dengan Sekyung. Jadi, bolehkah ia sombong sekarang?

Ia sudah berharap sejak lama, Jonghyun bersamanya hanya tidak secara ragawi saja. Yang ia butuhkan adalah hati seorang Kim Jonghyun; sehingga kehadiran itu dirasanya lengkap.

“Luna? Kau melamun?”

Perkataan Jonghyun membuat Luna tersadar. Ia tersenyum kecil lalu menggeleng.

“Hanya berpikir mengapa oppa sangat narsis,” sindirnya.

“Oh… Hehehe, maaf ya untuk yang tadi. Penyakit narsisku sedang kambuh,” Jonghyun menyeringai.

Luna tertawa keras. “Tidak usah bilang pun aku tahu kalau oppa memang narsis.”

 

***

Tak seperti biasanya, kali ini Luna datang ke ruang musik dengan agak tergesa-gesa. Ia meninggalkan pekerjaan rumahnya di sana kemarin dan harus segera diambil sebelum ada orang iseng yang mengotak-atiknya.

Untung saja sahabatnya, Krystal, tadi mengingatkannya ketika mereka belajar bersama di perpustakaan. Luna memang agak ceroboh. Ia mengakui itu.

Setelah membuka pintu ruang musik, ia langsung masuk dan mencari lembaran kertas tugasnya.

“Mencari ini?”

Suara itu membuat Luna menoleh. Ia melihat Jonghyun berdiri di hadapannya.

“Oh, oppa! Kau membuatku kaget.”

Jonghyun menyeringai. “Maaf. Aku sedang duduk di sana tadi. Ini punyamu, ‘kan? Aku menemukannya tergeletak di dekat piano.”

Helaan napas keluar dari mulut Luna. Ia meraih buku berisi tugasnya dari tangan Jonghyun. “Terima kasih, oppa.”

Jonghyun hanya tersenyum simpul. Dia kembali lagi ke tempat semula; di dekat jendela dan duduk termangu di sana. Luna mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Jonghyun melamun seperti itu. Biasanya pemuda itu akan memamerkan permainan gitar atau pianonya, bahkan ketika dia sedang sedih.

Namun kali ini… benar-benar bukan Jonghyun.

Awalnya Luna ingin menghampiri pemuda itu. Namun sebuah majalah yang tergeletak di atas meja dengan keadaan terbuka menarik perhatiannya. Ah, ia tahu. Itu majalah langganan perpustakaan. Ia pernah melihat ada banyak majalah dengan jenis sama di sana.

Mata Luna membulat ketika melihat foto yang terpampang di majalah tersebut. Seorang wanita cantik yang diketahuinya bernama Shin Sekyung sedang merangkul seorang pria tampan berkebangsaan Amerika.

Di atas foto tersebut, terpampang judul artikel dengan tulisan yang cukup besar.

‘Model Cantik Shin Sekyung Akan Menikah Dengan Pengusaha Amerika’.

Oh, kini Luna tahu apa yang terjadi.

Buru-buru Luna menutup majalah tersebut dan melirik Jonghyun dengan khawatir. Lelaki itu hanya termangu di sana. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi. Namun Luna tahu ada kesenduan di matanya.

Akhirnya, Luna menghampiri pemuda itu.

Oppa…” panggilnya pelan. “Kau tidak apa-apa?”

“Kau tidak usah khawatir padaku, Luna. Aku baik-baik saja,” kata Jonghyun sambil tersenyum. Namun belum senyum itu belum mampu meyakinkan Luna.

O-oppa jangan bersedih. Mungkin Sekyung sunbae bukan yang terbaik untukmu.”

“Hei, sudah kukatakan aku baik-baik saja,” ujar Jonghyun. “Sekyung tidak berarti apa-apa untukku sekarang.”

“Tapi… oppa selalu memikirkannya, ‘kan?” tanya Luna hati-hati.

Jonghyun tersenyum lembut. Dia mengangkat tangan kanannya dan mengelus pipi Luna. “Dulu memang iya. Lalu aku berpikir; untuk apa memikirkannya jika dia tidak pernah menganggapku? Akhirnya kuputuskan untuk melihat orang lain―orang yang selalu ada untukku dan benar-benar menganggapku.

Sebelah alis Luna terangkat. “Si-siapa?”

“Kau, tentu saja,” jawab Jonghyun tanpa ragu. “Memang siapa lagi? Kau selalu bersamaku sejak lima tahun yang lalu, Luna.

Tiba-tiba otak Luna tak dapat mencerna perkataan Jonghyun. Detak jantungnya membuat telinganya tuli dan aliran darahnya rasanya berhenti total. Luna benar-benar lumpuh sekarang.

“Aku memang tidak pandai berkata-kata,” lanjut Jonghyun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jadi lebih baik aku menyanyi untukmu.”

Jonghyun mengambil gitarnya lalu mulai menyanyikan sebuah lagu.

 

I glanced upon the ground

Today I noticed something

It followed me along the way

A figure of gray

Impersonating every move I make

For now we’ll call it my shadow

And it said you will replace it

So you’ll be with me every where I go

 

Sentences of yours

Running throughout my head

Searching for a chance

 

To catch my breath, a never ending dream

You’ll become a part of me

Day or night

Dark or light, you’ll be

Taking over that thing called my shadow

 

And what happens on the days when

The clouds appeared and fade away my shade

Oh, that’s our que, babe

We’ll run away to a place where the sun always shines

 

That’s not even time could erase

You’re my weakness, babe

But you give me strength

I need you

I need you like the blood in my veins

To catch my breath

A never ending dream

Day or night, dark or light you’ll be…

 

Lagu itu diakhiri Jonghyun dengan sangat indah. Luna sempat dibuat terpesona olehnya. Ia bertepuk tangan. Diiringi dengan satu tetes air mata. Lalu dua, tiga…

Jonghyun menaruh gitarnya. Dia mengusap air mata Luna dengan kedua tangannya lalu memeluk gadis itu.

Selama ini dia memang bersalah. Tak berpikir bahwa ada orang lain yang selalu ada di dekatnya; menghiburnya, menyanyi untuknya dan menganggapnya. Hanya teringat dengan janji konyol untuk menunggu bayangan yang tak kunjung datang.

Dan kini… dia sudah sadar. Ketika menemukan buku milik Luna yang ketinggalan dan melihat kertas yang sudah terlipat diselipkan di tengah-tengah buku. Isinya berbagai lirik lagu tentang cinta. Dan dibawahnya tertulis dengan tinta biru―I sang that songs for you, Kim Jonghyun

“Terima kasih, oppa…” bisik Luna.

“Tidak, tidak,” Jonghyun menggeleng pelan. “Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Karena telah menungguku begitu lama.”

Jonghyun melepas pelukannya dan menatap Luna lekat-lekat. “Aku mencintaimu, Luna.”

“Aku juga…”

 

The End

A/N: ARRRGGGHHHH!! Ending macam apa itu??!! .________.

Padahal udah saya pikirkan sedemikian rupa, tapi endingnya tetep jatuhnya gaje -_-

Maaf ya kalo ff ini tidak memenuhi harapan memberdeul ._.v

 

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Wish You Were Here [Ficlet]

  1. Finally, I found JongNa FF! Aku suka banget…. Ficletnya keren. Bikin yang oneshoot eon. Yang castnya JongNa

  2. GillChan

    Wooooow~ kalo nemu FF JongNa pasti berbau music, ngga tau kenapa emang cocok sih buat mereka :3
    Keep Writing, author🙂🙂

  3. Ayoona

    yeiy!! akhirnya nemu ff jongna lagi#teriak GaJe🙂
    aku suka ffnya suka suka suka#upin ipin mode on

    • Ayoona

      oh ya ngomong” lagu yang dinyanyiin Jong itu lagunya siapa yah thor? aku penasaran nih soalnya liriknya bagus

  4. salma_doang

    si author.. mantep nieh ff nya…

  5. CrysanJung

    Yeay JongNa fanfic🙂
    udh jrng bnget nemu ini kopel :p
    (y) keren ficnya

  6. Asiiikk…nemu ff JongNa couple juga, jarang” ada ff JongNa, suka deh ff ttg mrka. rata” ffnya ttg musik gtu deh😀 keren pake banget thor.. ending gaje?kagak juga kok ^^
    banyak banyak bkin ff JongNa ye thor..hehehe..

  7. Nice ff.. Keep write thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: