Heal One Another [Part 2]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

 

PART 2 ― His Curiosity

 

Agak kesal, Minho melempar tas kerjanya ke atas meja. Ia melepas dasi, melemparnya asal lalu berbaring di tempat tidur. Ia berdecak.

“Ayah tidak mungkin menjodohkanku,” katanya pada dirinya sendiri. “Oh, ya ampun… Beliau hanya bercanda, ‘kan?”

Minho mengacak-acak rambutnya.

Kenapa ayahnya mengambil keputusan sepihak? Ia tahu perbuatannya yang suka menggoda karyawati dan calon klien memang sedikit kurang ajar, tapi ayahnya tentu bisa mendiskusikan hal itu, ‘kan? Ayolah, Korea Selatan adalah negara demokrasi, jadi ia bisa memberikan pendapatnya tentang perjodohan itu.

Suara dering handphone membuatnya makin kesal. Ia meraih handphone-nya dan melihat nama yang tertera di layarnya.

Kim Hyuna.

Ck, untuk apa dia menelepon? Minho membatin. Ia sudah cukup capek dengan masalah keluarganya dan kini ia tidak mau berurusan dengan Hyuna.

Tanpa semangat, Minho mengangkat telepon itu.

“Oppa~!”

“Ada apa?” tanya Minho datar.

“Oppa sedang sakit, ya? Kok suaramu berat begitu?”

“Tidak apa-apa.”

“Hmm… Kalau begitu, kita pergi makan, yuk! Aku tahu restoran yang enak lho~”

“Aku sedang capek. Maaf, lebih baik kau pergi sendiri.”

“E-eh? Oppa yakin?”

“Sudah kubilang aku sedang capek!” Tanpa sadar Minho membentak. Namun apa pedulinya? “Jangan ganggu aku!”

Dan Minho menutup telepon itu secara sepihak. Ia kembali membaringkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya, sembari berpikir bagaimana caranya ia meminta putus pada Hyuna lalu mempersiapkan segala mentalnya untuk perjodohan sial itu.

 

***

Satu-satunya hal yang bisa membuatnya lupa kenyataan untuk sementara adalah tenggelam dalam pekerjaannya.

Krystal Jung semakin menajamkan konsentrasi pada hal yang sedang ia kerjakan. Kebetulan, Krystal bekerja sebagai web designer dan freelance editor―dua pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah sekalipun. Dan tidak membutuhkan yang namanya interaksi dengan orang lain, terutama laki-laki.

Gadis itu menghela napas lalu memejamkan matanya sejenak. Kenapa ia tidak bisa menghilangkan keparanoidannya pada laki-laki? Setiap kali ia memikirkan laki-laki, melihatnya di dunia nyata atau bahkan di televisi, badannya akan langsung menggigil. Hal itu tidak normal, ia tahu. Namun ketidak normalan itu agak sulit untuk dihilangkan. Butuh mental yang kuat untuk menghadapinya.

Jika memikirkan pernikahan yang nanti akan terjadi, dahi Krystal langsung mencucurkan keringat. Sulit untuk membayangkan dirinya bersanding dengan seorang pemuda di altar, menggunakan gaun pengantin serba putih, mengucapkan ikrar sehidup semati lalu sang suami mencium dahinya. Dan tiba waktunya untuk malam pertama…

Stop!

Krystal memerintahkan otaknya untuk berimajinasi lebih jauh lagi. Ia menghela napas.

Terkadang ia bertanya-tanya, kenapa dulu saat ia masih berumur tiga belas tahun ia harus menjadi korban penculikan seorang laki-laki pengidap pedofilia? Kenapa ia harus menjadi saksi atas kebrutalan si penculik pada korban lain yang juga seumuran dengannya?

Namun seberapa buruknya masa lalu itu, Krystal masih bersyukur bahwa ia bisa selamat dalam keadaan ‘utuh’. Walaupun ia merasa sangat kasihan pada dua korban lain yang tidak semujur dirinya.

Krystal memutuskan untuk kembali fokus pada pekerjaannya.

Tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya terbuka.

“Sayang?”

Krystal menoleh dan melihat ibunya berdiri di ambang pintu.

“Besok calon suamimu akan datang. Jadi bersiaplah,” kata Stephanie sambil tersenyum.

“Te-tentu,” balas Krystal. Ia menggigit bibir bawahnya.

Jujur saja, ia sama sekali belum siap.

 

***

“Bersikaplah sopan pada Krystal.”

Dengan malas Minho mengangguk. Ia melirik sang ayah yang berdiri di samping kanannya. Ayahnya menatap Minho dengan tatapan tajam seolah-olah beliau akan memakan Minho jika ia membuat kekacauan dan tak bisa menjaga sikap. Minho meneguk salivanya lalu tersenyum gugup.

Pertemuan ini―kata ayahnya―merupakan sebuah pertemuan yang penting. Bisa dibilang, ini adalah peringatan terakhir bagi Minho. Jika ia memberi kesan yang tidak baik bagi keluarga Jung, maka ia tidak akan bermarga Choi lagi.

Pintu rumah keluarga Jung terbuka. Seorang pelayan mempersilakan Minho dan kedua orangtuanya masuk. Pelayan tersebut mengarahkan mereka ke ruang keluarga Jung.

“Siwon, selamat datang di rumahku, Kawan,” sambut Yunho ketika melihat keluarga Choi datang.

Siwon tersenyum lalu memeluk sahabat lamanya itu.

“Terima kasih, Yunho.”

Mata Yunho beralih pada istri Siwon. Ia tersenyum dan mengucapkan selamat datang. Lalu ia beralih ke Minho yang berdiri di belakang kedua orangtuanya. Ia agak tertegun melihat sikap Minho yang kalem dan tersenyum layaknya seorang gentleman.

Apa benar jika Minho adalah seorang playboy yang katanya kurang ajar? Pikir Yunho. Dia terlihat sangat berwibawa…

“Ah, ini putraku, Choi Minho,” kata Siwon.

Minho membungkuk sekilas. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan Jung.”

“Tidak usah formal begitu. Untuk sementara ini, kau bisa memanggilku Paman Yunho,” balas Yunho kalem.

“Selamat datang di rumah kami,” sapa seorang wanita yang muncul dari dalam. Dia tersenyum. Di belakang wanita tersebut, berdiri seorang gadis yang mengikuti dengan langkah ragu-ragu.

Tiba-tiba Minho merasa dirinya tidak bisa bernapas. Agaknya ia terpesona dengan kehadiran gadis itu. Sang gadis berambut hitam panjang, memakai dress putih polos selutut dan sepasang sepatu flat berwarna senada. Penampilannya sederhana, namun entah kenapa gadis itu  bisa membuatnya terlihat sempurna.

Hei, inikah gadis yang akan dijodohkan dengan dirinya?

“Perkenalkan, ini putri bungsuku. Krystal Jung,” Yunho menggandeng tangan putrinya hingga mendekat.

Mata Minho tak bisa lepas dari gadis bernama Krystal itu. Sayangnya, sedari tadi Krystal hanya menatap ayah dan ibunya lalu orangtua Minho. Dia sama sekali tidak menatap Minho.

Jika biasanya saat bertemu gadis cantik ia akan mengeluarkan rayuan mautnya, kali ini Minho tersenyum dan membungkuk. Siwon ikut tersenyum melihat sikap anaknya yang berjalan sesuai dengan harapannya.

“Aku Choi Minho. Senang bisa bertemu denganmu, Nona Krystal Jung.”

Krystal membungkuk dengan agak kaku. “Se-senang bisa berkenalan denganmu.” Gadis itu tersenyum kecil. Senyum yang bagi Minho terasa janggal, karena ia bisa melihat keterpaksaan di antara sudut bibir yang terbentuk itu.

“Kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan kalian berdua,” kata Yunho. “Kalian bisa berkeliling rumah atau jalan-jalan di kebun sambil membiasakan satu sama lain.”

Krystal mendongak mendengar perkataan ayahnya. Ia melirik cemas ke arah Stephanie, namun wanita itu hanya tersenyum lembut seolah-olah berkata, ‘Semuanya akan baik-baik saja’.

Setelah keluarga Jung dan orangtuanya pergi, Minho tersenyum pada Krystal.

“Jika kau bersedia, maukah kau berjalan-jalan di kebun bersamaku?” tanyanya sopan.

“Te-tentu.”

 

***

Kejanggalan tidak hilang juga dari benak Minho ketika melihat tingkah aneh Krystal. Gadis itu memang berjalan di sampingnya. Tepatnya lima langkah di samping kanannya. Ia maklum saja jika Krystal masih canggung padanya. Tapi secanggung-canggungnya seseorang tidak sampai berjalan berjauhan seperti ini.

“Kau baik-baik saja?” tanya Minho ketika melihat wajah Krystal yang nampaknya agak tertekan.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Krystal cepat sambil tersenyum kaku.

“Santai saja.”

Krystal melirik Minho dari sudut matanya. Lalu dia menghela napas pelan supaya Minho tidak menyadarinya.

“Keluarga Jung memiliki kebun yang sangat indah,” puji Minho. Ia berhenti di depan rimbunan berbagai tanaman bunga.

“Terima kasih,” kata Krystal pelan.

“Terutama dengan bunga melati ini,” lanjut Minho sambil memetik sekuntum melati. “Warnanya putih. Indah sekali… dan entah kenapa mirip sekali denganmu.”

Mata Krystal menyipit.

Saat sadar apa yang sudah dikatakannya, Minho tersenyum gugup. “Itu pujian untukmu.”

Sungguh, tadi ia bermaksud untuk memuji Krystal. Sama sekali tak ada niat untuk menggombal, bahkan sedikitpun ia tidak memikirkannya. Yang dikatakannya tadi seratus persen murni pujian.

Namun ketika melihat Krystal mundur selangkah, ia menghela napas. Menyesal karena telah mengucapkan pujian yang sepertinya Krystal anggap sebagai rayuan. Dan ia juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sejak kapan ia benar-benar memuji seorang wanita?

 

***

Alarm di dalam diri Krystal berbunyi.

Reflek, ia mundur selangkah. Mungkin ia tak tahu banyak soal laki-laki. Tapi ucapan Choi Minho tadi ditangkapnya sebagai sebuah rayuan. Yang mengartikan bahwa Minho adalah tipe pria perayu. Playboy.

Dan ia benci playboy. Ia benci laki-laki yang hanya menyukai perempuan dari fisiknya, lalu setelah mereka bosan wanita itu akan ditinggalkannya. Bagi Krystal, tipe pria seperti itu hampir tak ada bedanya dengan penculik pedofilia di masa lalunya. Hanya ingin memanfaatkan wanita sesuai keinginan mereka.

Perbedaannya hanya ada di sebutannya saja. Playboy adalah sebutan untuk halusnya, yang mungkin perbuatannya yang sering mempermainkan wanita tidak dianggap sebagai pelanggaran nilai dan norma. Sedangkan penculik dengan kelainan pedofilia adalah sebutan untuk kasarnya, yang telah melakukan pelanggaran sosial secara serius.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk merayumu―jika itu yang kaurasakan―aku hanya berniat memuji,” kata Minho.

Namun Krystal belum sepenuhnya percaya. Ia hanya menyipitkan matanya, tak percaya bahwa ia harus menikah dengan seorang lelaki playboy.

Dan kini, ia menjadi agak takut. Takut jika peristiwa yang dulu nyaris terjadi akan kembali kepada dirinya.

 

***

“Semuanya lancar, ‘kan?”

Minho hanya bergumam tak jelas. “Begitulah…”

“Satu peraturan untukmu: jangan sekali-kali merayu atau menggombalinya.”

Kali ini, Minho memutar matanya. “Oke. Ada lagi?”

Siwon menggeleng. “Tidak ada. Yang terpenting, don’t flirt her.”

Okay, okay. No flirting.”

“Dan jangan buat dia takut dengan kelakuanmu yang macam-macam. Krystal agak canggung dengan laki-laki, jadi sebaiknya kau menjaga sikap. Jika sekali saja kau bertindak sesuatu yang membuatnya takut, dia akan menjauhimu,” kata Siwon tajam. “Dan jika dia menjauhimu, artinya perjodohan ini batal. Kesimpulannya, kau tidak bisa mengubah sikapmu yang suka jelalatan dengan perempuan dan kau tahu apa yang akan terjadi nanti padamu.”

Pergi dari keluarga Choi, batin Minho sebal. Ya ya ya, Ayah telah mengucapkannya ratusan kali.

“Memangnya dia kenapa sih?” tanya Minho. “Apa dia sebegitu canggungnya dengan laki-laki?”

“…kau akan tahu nanti.”

Jawaban sang ayah tidak membuatnya puas. Mungkin, ia harus mencari tahu sendiri.

Ya. Mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sini. Apa yang dirasakan gadis itu dan kenapa dia begitu canggung pada laki-laki.

 

***

Sesungguhnya apa perbedaan dari rasa canggung dan rasa takut?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dua hari setelah pertemuan pertama Minho dengan Krystal. Ia akui, ia tertarik dengan gadis itu. Krystal adalah gadis cantik yang cerdas dan baik. Minho mengetahuinya dari ibunya sendiri. Ibunya berkata bahwa Krystal adalah seorang web designer yang cukup sukses dan dulu dia sering pergi bersama komunitas kakak asuh yang mengurus anak-anak.

Tak hanya dua hal itu saja sebenarnya yang membuat Minho tertarik. Namun yang paling membuatnya penasaran adalah sikap canggung Krystal. Eh―atau jangan-jangan rasa takut?

Entahlah. Rasanya ia belum bisa membedakannya.

Namun kilatan yang terpancar di mata Krystal berbeda. Minho yang dikenal sebagai playboy kelas kakap pasti sudah tahu tipe-tipe wanita yang pernah didekatinya. Termasuk tipe gadis yang sering canggung (karena dulu ia pernah mendekati adik kelasnya yang agak canggung padanya).

Awalnya Krystal memang terlihat canggung, pikir Minho. Namun sesaat setelah ia melemparkan pujian―yang sayangnya dikira Krystal sebagai gombalan―kilatan takut bisa ia lihat dari mata Krystal. Hanya sedikit dan jika ia bukan laki-laki yang tahu banyak soal wanita, maka tentu saja ia tidak akan menyadari kilatan ketakutan itu.

Kening Minho berkerut. Ia benar-benar penasaran dengan gadis itu. Gadis-gadis lain yang sering didekatinya biasanya adalah tipe wanita ‘mudah’. Sekalipun ia mendekati wanita tipe ‘canggung’, setelah mengobrol sekali maka ia akan langsung akrab dengan wanita itu dan kecanggungan seketika menguap.

Tapi gadis yang ini?

Agak sulit dan membuat Minho makin penasaran saja.

Oke, rasanya ia harus berterima kasih pada ayahnya yang telah merencanakan perjodohan ini. Karena jujur saja, ia belum pernah sepenasaran ini pada seorang gadis.

 

***

Usai jam kantornya berakhir, Minho keluar dari ruangannya. Ia melewati sekretarisnya―Kwon Yuri―yang nampaknya masih sibuk dengan berkas-berkas kantor. Minho termenung sebentar sebelum akhirnya menghampiri Yuri.

“Yuri-ssi?” panggil Minho.

Wanita itu mengangkat kepalanya lalu menyunggingkan senyum kecil.

“Ada apa, Tuan Minho?”

“Aku ingin minta maaf soal sikapku yang dulu,” kata Minho. “Saat itu… aku benar-benar kurang ajar, ya?”

Yuri mengedipkan matanya beberapa kali sembari mencerna perkataan bosnya. Seorang Choi Minho mengucapkan permohonan maaf atas perbuatannya yang dulu pernah menggodanya? Wow.

“Ya, Tuan Minho. Saya sudah memaafkan Anda, jadi tidak apa-apa,” balas Yuri.

Minho tersenyum. “Terima kasih. Jangan bosan untuk tetap bekerja di sini. Aku membutuhkanmu sebagai seorang asisten.”

“Tentu.”

Lalu, Minho pamit pada asistennya dan pergi ke basement. Ketika sudah berada di dalam mobilnya, Minho tak lantas menyalakan mesin. Ia terdiam sambil berpikir.

Sebenarnya untuk apa ia meminta maaf pada Yuri?

Minho benar-benar tak tahu apa motivasinya hingga ia minta maaf. Namun yang pasti, ia merasa agak bersalah karena dulu sering mengganggu wanita itu dengan rayuannya serta ajakan kencan yang rasanya kurang pantas dilontarkan oleh seorang atasan.

Kenapa ya?

Dan pertanyaan itu kembali muncul.

Bukannya menyalakan mesin, justru Minho menyambar handphone-nya dan mencari sebuah kontak. Tanpa ragu-ragu, ia menelepon kontak bertitel Seo Joohyun.

“Halo? Apakah ini Nona Seo Joohyun? … Maaf sudah mengganggu Anda. Ini saya, Choi Minho dari Choi Corporation. Saya ingin minta maaf atas semua kelakuan saya yang tidak pantas pada Anda…”

Sesaat kemudian, Minho memutus teleponnya. Ia tersenyum ketika mengingat perkataan Nona Seo Joohyun yang ternyata memaafkannya.

Minho menyalakan mesin. Ia baru saja akan menjalankan mobilnya sebelum sebuah telepon masuk.

Kening Minho berkerut ketika melihat nama kontak yang tertera di sana.

Kim Hyuna.

Ah ya, ia masih punya satu tanggungan lagi yang harus diselesaikan. Jika semuanya tidak diakhiri secara cepat, maka Hyuna hanya akan menjadi parasit dalam rencana perjodohan itu. Lagipula ayah Minho telah memperingatkannya untuk memutuskan gadis itu.

Minho mengangkat telepon itu.

“Halo? … Aku masih di kantor. Kau ada dimana? … Di kafe dekat taman? Ya sudah, aku akan ke sana. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. … Pokoknya aku ingin berbicara tentang sesuatu. Tunggu di sana.”

Lalu Minho memacu mobilnya menuju kafe dekat taman kota.

 

***

Oppa, kau kemana saja? Aku terus meneleponmu tapi kau tidak mengangkatnya!”

Ocehan itu diabaikan begitu saja oleh Minho. Ia duduk berhadapan dengan Hyuna lalu menatap gadis itu dengan tampang malas. Kebetulan, mereka berdua duduk di bagian luar kafe.

“Dan kenapa wajah oppa kusut begitu?”

“Dengar, aku ke sini untuk membicarakan sesuatu denganmu,” kata Minho.

Hyuna memanyunkan bibirnya. “Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Ayolah! Aku tidak punya waktu lagi untuk membicarakannya.”

“Memangnya oppa ingin membicarakan apa?”

Minho menimang kata-kata yang akan dikeluarkannya lalu menghela napas. “Lebih baik kita putus.”

Mata Hyuna membulat. “K-kok begitu? Oppa egois sekali! Kenapa oppa ingin putus? Apa ada gadis lain?”

“Ya,” jawab Minho secara tidak sadar. “Ada gadis lain yang membuatku tertarik.”

“Hanya karena dia kau memutuskanku?” tanya Hyuna tidak terima.

“Gadis itu dijodohkan denganku,” sela Minho.

“Pokoknya aku tidak mau putus.”

Minho menghela napas. “Hubungan ini tidak bisa dipertahankan lagi, Hyuna. Aku benar-benar tidak bisa berkelit dari perjodohan ini. Intinya, kita putus.”

Mungkin Minho memang egois, tapi ia bisa apa lagi? Perjodohan ini telah menarik rasa penasarannya sejauh mungkin terhadap sang gadis yang dijodohkan padanya.

Akhirnya, Minho berdiri lalu pergi. Tanpa disadarinya, Hyuna mengejarnya dan menarik tangannya hingga mereka saling berhadapan.

Oppa tidak bisa melakukan sesuatu?” tanya Hyuna.

“Aku tidak bisa―” Perkataan Minho terpotong ketika ia melihat sesosok gadis di depan kafe―berjarak hanya tiga meter darinya―yang tengah menatapnya dengan ekspresi terkejut. Seorang gadis berambut hitam panjang dengan wajah yang sangat dikenali Minho.

Krystal Jung.

Gadis itu bergantian menatap Hyuna. Kening Minho berkerut ketika ia melihat suatu emosi di mata Krystal yang seolah-olah mengatakan bahwa gadis itu jijik melihatnya bersama Hyuna.

Tiba-tiba, Krystal membalikkan punggungnya lalu pergi.

Minho melepaskan tangan Hyuna dari pergelangan tangannya dan mengejar Krystal.

“Minho oppa!” seru Hyuna. Dia berdecak kesal. “Dasar laki-laki playboy. Untung saja aku masih punya Hyunseung oppa…” Hyuna menjulurkan lidahnya ke arah Minho.

 

***

Matanya tak salah lihat, ‘kan?

Krystal mengerjapkan matanya sekali lagi, berharap bahwa penglihatannya salah. Di matanya terefleksi sesosok Choi Minho bersama seorang gadis cantik yang tengah memegang pergelangan tangannya.

Bukannya ia cemburu―itu sangat jauh dari apa yang ia rasakan kini. Ia hanya merasa… bahwa pilihan orangtuanya salah.  Kejadian itu memberitahu Krystal bahwa gadis cantik itu adalah pacar  Choi Minho.

Krystal baru saja pulang dari rumah sepupunya yang berada tidak jauh dari sini. Lalu ia memutuskan untuk mampir ke kafe ini. Dan secara tidak sengaja, ia melihat sebuah adegan drama sabun murahan tentang seorang laki-laki playboy yang dengan seenaknya memutuskan pacarnya.

Ya, ia mendengar semuanya. Karena saat ia sampai di sini, ia melihat Minho bersama gadis itu duduk di sana dengan jarak sekitar tiga meter.

Ia dengar saat Minho mengucapkan kalimat ingin putus. Ia dengar saat gadis itu meminta penjelasan pada Minho mengapa dia memutuskannya. Dan ia dengar ketika Minho menjawab bahwa dia memutuskan si gadis karena tertarik dengan gadis lain.

Seketika Krystal merasa jijik. Ia benar-benar benci dengan laki-laki hidung belang, playboy atau semacamnya. Yang sukanya mempermainkan wanita.

Akhirnya, Krystal membalikkan badan dan segera pergi dari situ. Ia akan langsung pulang ke rumahnya, menjelaskan segala sesuatunya pada orangtuanya dan sebisa mungkin menolak perjodohan itu.

 

To Be Continued

 

 

A/N: Hello, hello~😀

Akhirnya bisa update juga… Maaf ya kalo kelamaan. Saya lagi fokus buat penjurusan (masih kelas sepuluh sih).

Gimana fanficnya? Gaje, ya? -_-a

Maaf kalo lebih jelek dari chapter satu. ._.

Pada RCL ya~~

 

 

 

Park Sooyun

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , | 15 Comments

Post navigation

15 thoughts on “Heal One Another [Part 2]

  1. putpitput

    i’m da first???

    part 2, makin bikin penasaran bisa nggak tuh si Minho ngejar Krystal???

    update soon ya ^^

  2. via

    Ceritanya dapet bgt author,, walau jarang ada perckpan tpi kalimat penjelasnya itu keren.. Serasa nyata😀
    Selalu pertahankannya, kalau bisa lebih dikembangkan😀
    Ciee si Minho udah tertarik aja sama krys xD
    Ayoo author, bikin minho susah dpetin cintanya krystal😀
    Oh iya, bisa di tambah cast couple lain ngk author, kaya Sulli-taemin😀 kan tambah seru😀 ya ya ya😀
    Next, selalu semangat & sllt ttp berkarya ya.. Fighting author !!😀

  3. githapril

    wieuhh jadi makin penasarann selanjutnya gimana ?? ><

  4. Minho udah mulai tertarik kan sama krystal? Hoho..
    Tinggal krystal tuh yg salah paham, salut sama minho yg bener2 mau berubah🙂
    ayo minho buktiin ke krystal kalo kamu udah enggak playboy lagi! :p

  5. BestariIntanK

    PENASARAN bgt😀

  6. choihyemin

    ayolah krystal eonni jgn salah paham dlu😦 ~
    Minho oppa udh mulai trtarik yah ama krystal eonni ? Baguslah🙂

  7. Lynstal

    Yah,kok tbc?lanjutin dong,kyanya bkal seru nih..
    Mian baru coment d part 2

  8. huaaa saia penasaran u.u
    Traumanya kle beneran berat ya?? smpe segitunya masa…

    Pliss kle jangan salah paham, mino udah naksir beneran noh, bahkan baru kenal kle 1 hari udah berubah gtu minta maaf sm orang2 yang digodanya..
    Jangan smpe dibatalin ne perjodohannya u.u
    Lanjut terus chingu🙂

  9. achan gimbelz

    part selanjutnya ditunggu secepatnya yaa thor !! ceritanya baguuuusss ^^b

  10. Part 3-nya ditunggu ya….. Penasaran…

  11. BlossomFlow

    Comment dulu deh… FF nya bagus thor…😀

  12. Makin seruuu ceritanyaa^^)b

  13. Ancaman siwon serem nih..
    Makin seru.. Lanjut ke part 3..😀

  14. kartika melia

    Duhhh krystal….semoga bisa sembuh dari trauma nya itu:’)

  15. vankaka

    makin rumit bung!!
    Minstal harus menikah *plak
    next next..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: