Black Pearl [Verse 1]

Summary: Karena bagi mereka, kelima gadis itu sangatlah berharga. Bersinar layaknya mentari, tersenyum layaknya bunga yang bermekaran, memberi melodi indah layaknya nyanyian burung-burung. Because those girls are their beautiful black pearls…

 

Romance/Drama | SHINee & f(x) | Multichapters

PG rated.

 

The idea originally came from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Black Pearl © Park Sooyun

 

 

 

Verse one for Ontoria

 

 

Belajar adalah salah satu rutinitas yang selalu Onew lakukan. Atau malah mungkin satu-satunya? Tapi Onew tidak merasa begitu. Ia juga punya banyak kegiatan menyenangkan yang lain.

Jika dihitung-hitung, maka ini sudah memasuki jam keempat Onew mendekam di kamarnya. Asyik berkencan dengan trigonometri, bergaul dengan avertebrata atau menyentuh buku-buku berisi structure. Dan ia tidak bosan. Senang malah.

Banyak orang-orang yang bertanya padanya: tidakkah ia bosan atau pusing jika terus belajar? Maka Onew akan menjawab tidak, karena belajar adalah gairahnya. Lagipula, ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang peneliti di laboratorium. Dan jika ia malas belajar, maka cita-citanya tersebut akan gagal total.

Suara ketukan di pintu membuat Onew berpaling dari buku Biologi-nya.

“Ada Jonghyun di bawah,” kata ibunya.

Onew tersenyum. “Oke, aku akan turun sebentar lagi.”

Pemuda itu bangkit dari kursinya lalu membereskan buku-bukunya. Ia menempatkan buku tulis di atas meja belajar, buku berisi materi pelajaran di rak buku dan alat tulisnya diletakkan di dalam tas. Benar-benar seorang pemuda yang rajin.

Setelah semuanya rapi, ia turun ke bawah untuk menemui Jonghyun.

“Lama sekali…” kata Jonghyun.

“Tadi aku membereskan buku dulu,” Onew menjawab dengan kalem.

Mata Jonghyun membulat. “Hah? Kau sehabis belajar?”

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Ini liburan!” sahut Jonghyun.

“Lalu? Tak ada salahnya belajar, ‘kan? Lagipula ini untuk persiapan ujian masuk universitas.”

Jonghyun menepuk dahinya. “Onew hyung ini benar-benar, ya. Dengan otakmu yang hampir setara dengan Einstein, seharusnya hyung tidak perlu khawatir tidak akan lolos. Kau pasti lolos, hyung . Aku yakin itu. Lagipula semester baru juga belum dimulai! Wow, You really a god study.”

“Yang betul itu: you are really a God of study,” koreksi Onew sambil tertawa. “Ayolah! Acara belajarku sudah selesai. Katanya kau punya rekomendasi film yang bagus?”

“Tentu saja! Ayo kita ke rumah Minho!”

 

***

“Wah, wah, tumben sekali Onew hyung datang.”

Mendengar perkataan Minho, Onew hanya tersenyum. “Ya. Kebetulan aku sedang bosan. Jadi kuterima saja ajakan Jonghyun untuk menonton film di rumahmu.”

“Maksudnya bosan belajar?” tanya Key yang tiba-tiba muncul di belakang punggung Minho.

Jonghyun tertawa. “Itu tidak mungkin! Onew hyung bukan tipe orang yang bosan belajar.”

“Sudahlah… Ayo, kita tonton saja filmnya sekarang!”

Keempat pemuda itu masuk ke dalam. Minho menata DVD player yang akan mereka gunakan. Key dengan seenaknya sudah langsung menyelonong masuk ke dapur untuk mengambil makanan, Jonghyun pergi ke sudut ruangan lalu memainkan piano yang ada di sana, sedangkan Onew duduk tenang di sofa sambil membaca sinopsis film di bagian belakang tempat kaset.

“Yeah, so baby don’t cry, cry…”

Jonghyun nampak larut dalam permainan pianonya. Minho meliriknya sekilas lalu mendesis, “Dasar maniak musik.”

Onew yang mendengarnya tertawa. “Kau sendiri maniak olahraga.”

Minho pura-pura tidak mendengarnya.

Sesaat kemudian, Key kembali ke ruang keluarga. Dia membawa berbungkus-bungkus cemilan ringan yang ditemukannya di kulkas milik Minho.

“Hei, itu snack punyaku!” seru Minho.

“Kau adalah tuan rumah. Dan seorang tuan rumah harus menyediakan konsumsi bagi tamunya. Kami adalah tamu, jadi segala macam konsumsi yang kaumiliki juga diperuntukkan bagi kami,” Jonghyun menyahut dengan asal. Dia telah selesai dengan permainannya lalu mendekati ketiga sahabatnya.

Mata Minho menyipit melihat Onew dan Key yang tertawa akan lawakan Jonghyun. Dia mengambil kaset film lalu menyetelnya menggunakan DVD player.

“Judulnya apa?” tanya Key.

When The Door Opened…” jawab Minho. “Semacam film horor tapi ada selipan romance-nya.”

Yuck. Kenapa harus ada romance-nya?” Key mengeluh. “Kalau horor ya horor saja.”

Decakan keluar dari mulut Jonghyun. “Ck, kau terlalu banyak mengeluh. Film itu masuk dalam daftar box office di Amerika! Makanya aku menyewa kaset itu.”

“Key hyung jangan mentang-mentang sedang menjomblo lalu tidak mau menonton adegan romance, dong!” sahut Minho yang langsung dihadiahi jitakan oleh Key.

Onew dan Jonghyun tertawa.

“Tidak usah begitu, Key. Lihat saja Onew hyung. Dia belum pernah berpacaran dan asyik-asyik saja jika menonton adegan romance,” Jonghyun menambahi.

“Kenapa aku dibawa-bawa?” Onew menyipitkan matanya.

“Hei, hyung,” panggil Minho. “Cobalah sekali-kali mencari pacar. Jangan menghabiskan waktumu dengan belajar terus.”

“Benar. Berinteraksi dengan lawan jenis juga penting, lho,” sahut Key.

Onew memutar matanya. “Kenapa sekarang membahas tentang aku?”

 

***

Liburan telah selesai dan kini tiba waktunya memasuki awal yang baru. Ia hanya tersenyum ketika mengingat dirinya yang ternyata sudah naik ke tingkat tiga. Itu artinya, setahun lagi ia akan lulus dan kuliah. Hm, waktu berlalu dengan sangat cepat.

Sahabat-sahabatnya juga mengalami hal yang sama. Jonghyun dan Key yang semula berada di tingkat satu, naik ke tingkat dua. Lalu Minho yang baru lulus SMP memasuki tingkat pertama di SMA yang mereka tempati.

Hari pertama di sekolah selalu dibebaskan dari yang namanya pelajaran. Biasanya hari pertama digunakan wali kelas untuk menata kelas barunya, waktu untuk membiasakan diri satu sama lain serta bersenang-senang―mungkin?

Banyak murid yang menggunakan hari pertama ini dengan mengobrol, bermain-main di kelas atau berkeliling sekolah. Hanya Onew yang mampu duduk di tengah-tengah kelas yang berisik dan larut dalam buku Biologi yang sedang ia baca.

Mungkin orang-orang menganggap apa yang dilakukan Onew adalah sebuah perbuatan abnormal. Namun tentu saja Onew tidak mempedulikan hal itu. Selama ini ia begitu rajin belajar karena ia memang mencintai Biologi, ingin mewujudkan cita-citanya dan tidak ingin hal tersebut gagal di tengah jalan.

Tiba-tiba seluruh murid-murid kembali ke tempat duduknya dan seketika keadaan menjadi hening. Onew mengangkat kepalanya lalu melihat wali kelasnya masuk. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat seorang gadis yang berjalan di belakang wali kelasnya. Gadis itu cukup tinggi, berambut hitam panjang dan berwajah cantik.

“Selamat pagi, Anak-anak,” sapa sang wali kelas. “Kali ini kita kedatangan seorang teman baru. Silakan perkenalkan diriku.”

Gadis itu maju selangkah lalu membungkukkan badannya. “Perkenalkan. Namaku Victoria Song. Aku baru pindah ke Seoul seminggu yang lalu. Senang berkenalan dengan kalian semua.”

Hm, dari logatnya bukan orang Korea. Uhm, Cina mungkin? Onew menebak-nebak dalam hati.

“Kau bisa duduk dengan Lee Jinki di sana, Victoria,” kata sang wali kelas seraya menunjuk Onew.

“Terima kasih, songsaenim.”

Ketika Victoria berjalan ke arahnya, Onew tersenyum ramah. Ia mempersilakan gadis itu untuk duduk di samping kanannya.

“Namaku Lee Jinki. Tapi teman-temanku biasa memanggilku Onew.”

Victoria tersenyum. “Senang berkenalan denganmu, Onew-ssi.”

“Cukup Onew saja. Tidak perlu ditambahkan embel-embel apapun.”

“Baiklah~”

 

***

“Kau bukan orang Korea, ya?”

Victoria menoleh. Lalu ia tersenyum. “Memang. Aku berasal dari Cina. Kau tahu darimana?”

“Logatmu berbeda dari logat orang Korea.”

“Wah. Kau jeli sekali, Onew.”

Onew tertawa. “Tidak kok. Itu adalah hal umum yang bisa diketahui siapa saja. Omong-omong, kau sudah tahu semua tempat di sekolah ini?”

Gadis di sebelahnya menggeleng. “Belum. Kalau kau mau, bisakah kau mengantarku berkeliling?”

“Tentu,” Onew langsung menjawabnya tanpa ragu.

Kedua orang itu beranjak dari kelas mereka dan mulai berkeliling sekolah. Sebagai pemandu, Onew memulai dari deretan kelas satu di gedung bagian utara. Ia menjelaskan letak gerbang utama sekolah, tempat-tempat penting di sekolah (contohnya toilet, LOL), ruang kelas dan guru, kantor kepala sekolah dan gimnasium, tempat diadakannya pelajaran olahraga.

Mereka baru saja akan menyelesaikan tur itu saat seorang pemuda datang menghampiri Onew.

Hyung!”

Onew menoleh. Ternyata Jonghyun yang memanggilnya.

“Ada apa?”

Sahabatnya itu tidak langsung menjawab. Jonghyun melirik Victoria yang berdiri di belakang Onew dan sedang sibuk memperhatikan sekelilingnya. Nampaknya Victoria tidak menyadari kehadiran Jonghyun. Lalu pemuda itu mengeluarkan cengiran khasnya.

“Wah, wah. Kurasa hyung memikirkan saranku saat di rumah Minho,” kekeh Jonghyun.

Sebelah alis Onew terangkat. “Saran apa?”

“Saran supaya Onew hyung mencari pacar.”

Onew memutar matanya. “Dengar, Victoria itu temanku. Bahkan aku baru bertemu dengannya sejam yang lalu karena dia adalah murid pindahan dari Cina. Jadi, jangan berpikiran sejauh itu.”

“Hei, hei,” sahut Jonghyun. “Santai saja. Aku hanya bercanda, kok. Aku ke sini untuk mengingatkan hyung. Dua minggu lagi aku akan mengikuti lomba menyanyi. Jangan lupa untuk datang! Aku mengundangmu secara khusus, lho.”

Onew tersenyum. “Tenang saja. Aku akan datang. Dua minggu lagi berarti… hari Senin, ‘kan? Kebetulan aku tidak ada jadwal belajar.”

Mendengar jawaban Onew, Jonghyun menepuk dahinya. “Ya ampun… Hyung masih saja memikirkan soal belajar. Ya sudah, jangan lupa datang ya! Kalau bisa, sekalian ajak saja dia.” Jonghyun melirik Victoria sambil tersenyum jahil pada Onew.

“Terserah…”

Jonghyun tertawa. “Oke, hanya itu yang ingin kukatakan. Aku pergi dulu ya! Waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Dah~”

“Onew, mungkin lebih baik kita kembali―” Victoria berbalik. “Oh, ada temanmu ya? Wah, aku tidak sempat menyapanya. Maaf ya, tadi aku tidak lihat.”

“Tidak apa-apa. Malah lebih baik kau tidak menyapanya,” sahut Onew pelan.

“Hm? Kau mengatakan sesuatu?”

Pemuda itu menggeleng lalu tersenyum. “Tidak apa-apa.”

 

***

Key mengetuk-ngetukkan jarinya dengan bosan ke atas meja. Ia melirik jam dinding lalu mendengus kesal. Saking kesalnya, ia membuka buku Matematikanya dengan tenaga berlebih. Onew yang ada di depannya hanya melirik heran.

“Kenapa Jonghyun belum datang?” sahut Key sewot. “Kita sudah menunggu sejam dan dia belum muncul!”

“Sabar, Key,” kata Onew. “Kau seperti belum tahu saja kelakuan Jonghyun.”

“Sudahlah. Lebih baik hyung mulai saja acara belajarnya.”

Tiba-tiba muncul sesosok pemuda dari arah ruang tamu. Pemuda itu berlari dengan kecepatan di atas normal, langsung menyelonong masuk ke ruang tengah lalu duduk di sebelah Key dengan terengah-engah.

“Tepat waktu…” gumam pemuda itu sambil ngos-ngosan.

“Tepat waktu bagaimana?” omel Key. “Kau terlambat SATU JAM!”

“Dan kau langsung menyelonong masuk ke rumahku tanpa permisi,” tambah Onew sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Benar-benar Kim Jonghyun ya…”

Jonghyun tidak mempedulikan kedua sahabatnya. Dia membuka tasnya dan mengambil buku.

“Ayo, kita mulai,” kata Jonghyun.

“Tumben kau semangat,” cibir Key. “Biasanya kau kabur jika Onew hyung mengajak untuk belajar bersama. Apalagi jika mapelnya Matematika.”

Jonghyun hanya menggumam tidak jelas.

“Oh ya, aku lupa. Besok ‘kan Dana songsaenim akan mengadakan ulangan Matematika,” tambah Key yang membuat Jonghyun makin kesal saja.

Sebelum konflik akan dimulai, Onew langsung mengacungkan buku Matematikanya. “Oke, aku akan mulai. Materi pertama adalah trigonometri. Aku akan menjelaskan fungsi kosinus lanjutan. Materi dasarnya sudah diajari di tingkat satu, jadi seharusnya kalian sudah menguasai dasarnya.”

Key mengangguk sedangkan Jonghyun menggumam makin tak jelas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kali ini Minho tidak datang karena acara belajar ini dikhususkan untuk materi tingkat dua. Lagipula, Minho tidak terlalu tertarik dengan Matematika.

Kegiatan belajar bersama itu berjalan dengan lancar. Ya, lancar untuk Key. Sedari tadi Jonghyun hanya terpaku di tempatnya, terpana dengan penjelasan Onew tentang rumus turunan kosinus yang sepertinya tidak dimengertinya. Onew akan menghela napasnya jika begitu. Mungkin Jonghyun memang tidak cocok belajar akademik. Bakatnya lebih menonjol di musik.

Saat Onew sedang membahas beberapa soal tentang kosinus, seorang wanita paruh baya datang sambil membawa makanan dan minuman.

“Wah, makanan!” sahut Jonghyun dengan mata berbinar.

Key menjitaknya. “Jangan begitu! Ini di rumah orang, tahu!”

“Ini cemilannya, Anak-anak,” kata Nyonya Lee sambil tersenyum. “Silakan dimakan.”

Tanpa ragu, Jonghyun langsung menyambar kue coklat yang disediakan. Key yang melihatnya hanya menghela napas sedangkan Onew hanya tertawa.

“Oh ya, hyung,” panggil Jonghyun. “Kau sudah mengajak dia?”

Sebelah alis Onew terangkat. “Dia siapa?”

“Gadis itu. Siapa namanya… ah, Victoria! Kau sudah mengajaknya untuk datang ke lomba nanti?”

“Victoria?” tanya Nyonya Lee. “Siapa dia, Jinki?”

“Pacarmu ya, hyung?” Tiba-tiba Key ikut menimbrung.

“Bukan,” jawab Onew. “Dia hanya temanku.”

Nyonya Lee menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jinki, seharusnya jika kau punya teman wanita, kau mengenalkannya pada umma. Ayo, ceritakan tentang Victoria!”

Dengan mata penuh minat, Jonghyun menegakkan badannya lalu mulai bercerita. “Jadi, Victoria adalah murid pindahan dari Cina. Dia berada di kelas yang sama dengan Onew hyung. Menurut dari pantauanku selama dua hari ini, Onew hyung terlihat dekat dengan Victoria. Dia sering mengobrol dengan gadis itu saat istirahat dan kemarin aku melihatnya pergi ke kantin bersama.”

“Wow!” Nyonya Lee mengerjap kagum. “Seperti apa rupanya?”

“Victoria itu cukup tinggi, rambutnya panjang dan menurutku Onew hyung punya selera yang bagus dalam hal wanita karena Victoria memang cantik.”

“Aku bahagia akhirnya kau menemukan seorang pacar, hyung,” kata Key.

Onew memutar matanya. Ayolah, ia hanya berteman dengan Victoria. Dan pertemanan itu baru dimulai hari Senin, tepatnya dua hari yang lalu. Mana mungkin ia langsung berpacaran dengan Victoria? Lagipula, kata ‘pacaran’ belum muncul dalam kamus hidupnya. Mungkin nanti akan muncul, namun bukan sekarang.

“Aku hanya berteman dengannya,” kata Onew.

“Jinki…” sahut ibunya. “Kau ini sudah kelas tiga SMA dan aku belum pernah melihatmu menyukai gadis manapun. Ibu tidak bermaksud berkata kau itu tidak normal atau bagaimana―ibu tahu kalau kau belum memikirkan soal itu. Namun kau itu remaja, Sayang. Dan layaknya remaja lain, seharusnya kau juga tertarik dengan lawan jenis.”

Onew terdiam.

“Jangan habiskan waktumu dengan belajar terus, Jinki. Kau adalah anak yang cerdas, ibu yakin itu. Habiskanlah waktumu dengan belajar, dengan keluarga dan dengan jiwa mudamu,” kata Nyonya Lee. Beliau pergi dari situ dan kembali ke dapur.

“Dengar sendiri, ‘kan? Bahkan ibumu juga menyuruhmu untuk mencari pacar,” sahut Jonghyun.

“Aku setuju dengan pendapat ibumu,” Key menambahi. “Nikmati masa mudamu, hyung. Setidaknya, sukailah seorang gadis. Victoria―misalnya.”

“Baik, baik,” Onew menyerah. “Terima kasih atas nasehatnya. Aku akan mencoba berbicara dengan Victoria besok.”

Jonghyun dan Key tersenyum puas.

 

***

Ini sudah hari kelima sejak semester baru dimulai. Aktivitas sekolah mulai menggila seperti biasanya. Tugas-tugas mengalir, materi baru berkelimpungan dan ulangan harian mulai meneror. Membuat murid-murid yang tidak mampu mengatasinya menjadi mual.

Beruntungnya seorang Lee Jinki. Dengan kecerdasannya dan ketekunannya akan belajar (yang dianggap tidak normal oleh sebagian orang), ia bisa mengatasinya dengan mudah. Bahkan saat murid yang lain sedang mempelajari bab satu, maka Onew sudah melangkah di bab dua. Benar-benar jenius, ya?

Biasanya jam istirahat akan Onew habiskan di dalam kelas dengan belajar. Terkadang ketika ia sedang rehat dari kegiatan belajarnya, maka ia akan mengobrol dengan Victoria. Tapi hanya sebentar. Lalu setelahnya ia akan belajar lagi.

Victoria memiringkan kepalanya ketika sekilas membaca judul bab yang sedang dipelajari Onew.

“Kau sudah berada di bab sintesis protein?” tanya Victoria kagum.

Pemuda itu menoleh lalu tersenyum kecil. “Hanya membacanya sekilas, kok.”

“Tapi tetap saja itu hebat,” puji Victoria. “Omong-omong, setelah lulus nanti kau akan melanjutkan kemana?”

“Aku akan mengambil ilmu Biologi. Mungkin tepatnya mikrobiologi atau virologi. Aku ingin bekerja di laboratorium,” jawab Onew. “Kalau kau, Victoria?”

Gadis itu tertawa kecil. “Benar-benar cocok dengan kepribadianmu yang suka belajar. Kalau aku sih ingin mengambil Sastra Inggris. Aku ingin menjadi penerjemah dan bekerja di penerbitan sebagai penerjemah buku luar negeri.”

“Cita-cita yang bagus dan unik,” kata Onew.

Senyum di wajah sang gadis makin melebar. Dan entah kenapa jantung Onew sempat mengalami maraton sesaat setelah ia melihat senyum itu.

 

***

Tugas dari guru makin bertambah saja. Kali ini daftar tugas Onew ditambah dengan tugas mencari info tentang perkembangan teknologi kloning dan hubungannya dengan pewarisan sifat. Tugas tersebut harus dilakukan oleh dua orang dalam satu kelompok. Dan kebetulan sekali, Onew sekelompok dengan Victoria.

Kini mereka sedang berada di perpustakaan sekolah. Onew berada di rak bagian barat sedangkan Victoria sedang menyusuri rak bagian selatan.

“Kurasa ini buku yang tepat,” gumam Victoria. Dia meninggalkan rak tersebut dan berjalan menghampiri Onew.

“Sudah dapat?”  tanya Onew.

“Aku menemukan buku ini,” jawab Victoria sambil menunjukkan buku yang ia pegang. “Salah, ya?”

Onew menggeleng. “Tidak kok. Kurasa kita sudah menemukan buku yang tepat. Kalau begitu, aku akan meminjamnya.” Onew merogoh dompetnya dan mencari kartu anggota perpustakaannya. Namun setelah dicari, ternyata tidak ada. “Eh, aku tidak bawa.”

“Pakai saja punyaku,” kata Victoria sambil menyerahkan kartu miliknya.

Pemuda itu tersenyum dan menerimanya. Sekilas ia membaca identitas yang tertera di atas kartu. Namun keningnya berkerut samar ketika melihat tanggal lahir Victoria.

“Heran dengan tahun lahirku, ya?”

Onew mengerjap kaget lalu mendongak. “Ma-maaf. Aku tidak sengaja melihatnya…”

Gadis itu tersenyum. “Tidak apa-apa.”

“Jadi… sebenarnya kau dua tahun lebih tua dariku?” tanya Onew dengan hati-hati.

“Ya. Sebelum pindah ke Seoul, aku mengalami kecelakaan. Aku terluka cukup parah dan harus menghabiskan waktu hingga satu setengah tahun untuk memulihkan badanku. Cedera itu membuatku harus mengulang kelas di tingkat tiga. Seharusnya aku sudah kuliah sekarang,” Victoria menjelaskan. Dia tertawa kecil. “Agak aneh sebenarnya―sekelas dengan teman-teman yang lebih muda dariku. Kukira mengulang kelas adalah langkah yang buruk dan aku takut jika nanti tidak punya teman. Namun kau membuat semuanya terasa lebih baik.”

Mata Onew melebar.

“Eh, aku bicara yang aneh-aneh ya? Maaf, aku hanya ingin berterima kasih padamu.”

Sebuah senyum terbit di wajah Onew. “Sama-sama.”

Mereka berdua pergi ke meja petugas perpustakaan untuk meminjam buku. Setelah itu, Victoria pamit untuk pulang. Namun sebelum gadis itu pulang, Onew menghentikannya.

“Victoria, jika kau tidak keberatan…”

“Ya?”

“Maukah… Jika kau berkenan, aku ingin…” Tiba-tiba saja lidah Onew terasa kelu. Hei, ada apa ini? Ia hanya ingin mengajak Victoria datang ke festival menyanyi yang diikuti Jonghyun sebagai tanda pertemanan. Namun kenapa ia jadi segugup ini?

Victoria menunggu dengan sabar.

Akhirnya, Onew mengeluarkan kata-kata yang telah dirangkai di otaknya. “Temanku akan mengikuti festival musik lima hari lagi. Jika kau tidak keberatan, maukah kau datang bersamaku? Anggap saja ini sebagai tanda pertemanan kita.”

Gadis itu tersenyum. “Dengan senang hati.”

Jawaban itu membuat Onew senang.

 

***

Seperti biasanya, sebelum dimulai Jonghyun sudah meributkan segala sesuatunya. Onew harus menutup telinganya ketika mengangkat telepon dari Jonghyun dan sahabatnya itu berteriak bahwa ia harus datang ke festival musik itu.

Onew buru-buru pergi ke depan rumahnya begitu ibunya berkata bahwa ada seorang gadis yang datang. Alisnya terangkat sebelah begitu tahu yang datang adalah Victoria. Darimana gadis itu tahu alamat rumahnya?

“Hai, Onew,” sapa Victoria sambil tersenyum.

Lengkungan sabit terbentuk di wajah Onew. “Hai. Darimana kau tahu alamat rumahku?”

“Ah, itu…” Victoria merogoh tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana lalu menyerahkannya pada Onew. “Kemarin aku bertemu dengan temanmu. Lalu temanmu itu minta tolong padamu untuk mengembalikan kartu anggota perpustakaanmu yang dia pinjam.”

Nah, sekarang Onew tahu siapa biang keroknya. Jonghyun meminjam kartu anggota perpustakaannya seminggu yang lalu. Dan nampaknya dia memanfaatkan ‘kesempatan’ ini untuk memberitahu alamat rumah Onew pada Victoria secara tidak langsung.

Sebenarnya, seberapa besar niat sahabatnya itu untuk mencarikannya pacar?

Ia sendiri tidak tahu.

“Terima kasih,” Onew mengambil kartu tersebut.

“Jinki, jika temanmu datang suruh dia masuk―” Nyonya Lee baru saja menegur anak laki-laki ketika beliau melihat Victoria. Sebuah senyum langsung mengembang di wajahnya. “Siapa dia, Jinki?”

Victoria membungkukkan badannya lalu tersenyum. “Namaku Victoria Song. Aku teman Onew yang baru pindah dari Cina.”

“Ohh…” Mata Nyonya Lee langsung berbinar. “Maksudmu kau adalah Victoria yang itu?”

“Ibu, sudahlah…” rajuk Onew sambil menghela napas. “Aku dan Victoria akan pergi ke festival musik yang diikuti Jonghyun.”

“Baik. Selamat menikmati dan hati-hati di jalan~!”

 

***

“Maafkan Ibuku, ya.”

Victoria menoleh.

“Aku belum pernah memiliki teman perempuan sebelum bertemu denganmu. Jadi, ketika beliau melihatmu datang―”

“Aku mengerti,” potong Victoria. Sekiranya ia mengerti apa yang terjadi. Pasti Nyonya Lee mengira ia adalah kekasih dari putranya. Yah, Victoria tidak menyalahkan Nyonya Lee jika beliau berpikiran seperti itu. Itu hal yang wajar. Tapi jika itu adalah hal yang wajar, kenapa pemikiran itu membuatnya agak gugup?

“Ujian masuk perguruan tinggi tinggal lima bulan lagi, ya,” gumam Onew. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku sangat tegang menantinya.”

“Kenapa begitu?” tanya Victoria heran.

“Aku takut jika nanti tidak lolos. Impianku tinggal beberapa langkah lagi hingga sampai di tanganku dan aku tidak ingin semuanya gagal.”

Sebuah senyum mengembang di wajah Victoria. “Itu sebabnya kau makin rajin belajar akhir-akhir ini?”

Pemuda itu mengangguk.

“Tidak perlu khawatir, Onew,” kata Victoria. “Kau adalah siswa yang pintar. Dan aku yakin kau akan lolos ujian masuk tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Kulihat kau makin keras belajar. Itu tidak salah, tapi alangkah baiknya jika kau juga memperhatikan dirimu sendiri. Maksudku, bersenang-senanglah sedikit. Bercanda dengan teman-temanmu, membaca komik, atau mencari pacar―mungkin?”

Mereka berdua tertawa.

“Aku tahu itu,” sahut Onew sambil tersenyum. “Ibuku dan ketiga sahabatku juga bilang begitu. Kalau masalah teman sih tidak masalah, toh aku juga mendapatkan teman baru,” Dia melirik Victoria. “Tapi kalau masalah pacar… lebih baik aku angkat tangan.”

“Wah, wah. Kedengarannya kau pesimis sekali dalam hal percintaan,” canda Victoria. “Kau pasti punya seseorang yang kau sukai, ‘kan?”

Onew terdiam.

“Hm, biasanya laki-laki paling anti berbicara tentang orang yang disuka,” gumam Victoria. “Ya sudah, lupakan saja pertanyaanku yang tadi. Aku tidak mau dianggap terlalu penasaran pada urusan orang lain, hihihi~”

Keadaan hening sejenak. Tiba-tiba Onew bersuara, “Ada kok.”

“Hm?” Victoria menatap Onew. “Apanya yang ada?”

“Aku memang sedang menyukai seorang gadis,” jawab pemuda itu.

Victoria hanya tersenyum simpul.

 

***

Ujian kelulusan dan ujian masuk universitas kian dekat saja. Onew belajar makin keras hingga larut malam. Paginya, ia akan membaca berjubel-jubel buku di kelas atau di perpustakaan. Sore harinya, ia langsung belajar usai pulang sekolah.

Bisa dibilang, ia agak khawatir. Ia takut jika nanti tidak lolos dalam kedua ujian tersebut. Semua orang tahu bahwa ia adalah siswa yang cerdas, namun hal tersebut tidak diyakini oleh dirinya sendiri. Onew menganggap bahwa dirinya belum cukup mampu untuk mengikuti ujian dan harus belajar keras.

Kedua orangtua Onew merasa khawatir pada keadaan anaknya. Mereka berdua tahu bahwa Onew agak berlebihan dalam menghadapi ujian yang nanti akan datang. Rasa khawatir mereka makin bertambah ketika Onew jatuh sakit karena kelelahan di hari itu.

“Jinki-ah, sudah appa katakan, jangan terlalu banyak belajar,” kata Tuan Lee sambil mengusap dahi anaknya yang terasa hangat. “Kau ini anak yang cerdas, jadi tidak perlu khawatir karena kau pasti akan lolos.”

“Iya, Nak,” tambah Nyonya Lee. “Ingatlah untuk beristirahat.”

Onew hanya mengangguk lemah.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Tuan dan Nyonya Lee langsung beranjak dari tempat mereka.

“Kami akan membiarkanmu berisirahat,” kata Tuan Lee lalu pergi.

Onew terdiam di kamarnya. Badannya terasa lemas, sakit kepala menderanya dan tenggorokannya terasa sakit sehingga ia sulit berbicara. Jendela-jendela kamarnya sudah tertutup, namun angin masih bisa menemukan celah ventilasi dan masuk lewat sana, membuat Onew menggigil dan menenggelamkan dirinya dalam selimut tebal.

Ia memejamkan mata ketika mendengar suara langkah kaki seseorang. Mungkin saja itu ibunya yang kembali untuk memberikannya obat. Namun saat yang didengarnya justru suara kursi ditarik, ia membuka mata.

Alisnya terangkat sebelah ketika melihat Victoria.

“Victoria?!” Pemuda itu mengerjap lalu memaksakan badannya untuk duduk tegap. Buru-buru Victoria menahan badannya dan menyuruhnya untuk tetap berbaring.

“Jangan memaksakan dirimu, Onew,” ucap Victoria.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Onew.

Victoria tersenyum lalu duduk di atas kursi yang ditaruh di samping tempat tidur Onew. “Tadi kau tidak berangkat ke sekolah dan itu adalah hal yang sangat jarang. Jadi, aku memutuskan untuk menengokmu. Ternyata keadaanmu cukup kacau, ya.”

“Begitulah,” Onew menjawab dengan lemah. “Sepertinya aku terkena flu karena sering begadang akhir-akhir ini.”

“Belajar lagi?”

Ia mengangguk dan melihat Victoria menghela napas.

“Aku sudah pernah bilang, ‘kan? Kau tidak perlu khawatir soal ujian itu. Kau pasti akan lulus. Justru jika kau terlalu banyak belajar lalu jatuh sakit, usaha belajarmu yang keras itu akan sia-sia saja.”

Perkataan Victoria membuatnya terdiam. Agaknya gadis itu benar. Bila ia jatuh sakit di hari H ujian tersebut, maka ia tidak bisa mengikuti dan semuanya akan sia-sia saja.

“Lebih baik kau meluangkan waktumu untuk bersenang-senang,” tambah Victoria. “Kau memang harus memikirkan masa depanmu, tapi juga jangan lupa untuk menikmati masa muda yang sekarang hadir.”

Ya, gadis itu benar. Mungkin kekhawatirannya akan ujian yang sebentar lagi tiba terlalu berlebihan. Dan dampaknya membuat ia belajar terlalu keras hingga akhirnya jatuh sakit. Padahal kemampuan yang dimiliki Onew sudah jauh dari cukup untuk lolos dalam ujian tersebut.

Selama ini ia memang kurang percaya diri. Walaupun hampir semua orang berkata bahwa ia adalah murid yang cerdas, namun ia menganggapnya hanya sebuah pujian formal yang dimaksudkan untuk menyenangan hatinya. Ia berpikir bahwa masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih pintar darinya. Dan karenanya, ia belajar makin keras, makin keras hingga akhirnya ia jatuh sakit.

“Percayalah pada kemampuanmu sendiri,” kata Victoria dengan lembut. “Lupakan kekhawatiranmu, belajarlah dengan porsi waktu yang wajar dan jangan lupa untuk menikmati masa remaja.”

Jadi selama ini ia tidak memercayai kemampuannya sendiri, yah? Hm, benar-benar payah. Ia agak terlambat menyadari hal itu.

Onew tersenyum lemah pada Victoria. Ia menggenggam tangan kanan gadis itu dan membuatnya agak kaget. “Terima kasih, Victoria. Mungkin selama ini aku rajin belajar karena takut gagal.”

Gadis itu membalas senyuman Onew lalu mengangguk-angguk. “Mungkin. Dan sekarang kau harus menghilangkan rasa takut itu karena kau memang anak yang cerdas.”

“Jangan berlebihan begitu,” sahut Onew sambil tertawa kecil.

Dalam hati, Onew mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada Victoria. Gadis itu menyadarkannya supaya percaya pada kemampuannya sendiri, supaya ia tidak berlebihan dalam belajar. Masa depan memang harus dipikirkan, namun juga tak ada salahnya bila masa sekarang dinikmati.

Satu pelajaran yang Onew bisa petik dari perkataan Victoria adalah―jika kalian yakin dan percaya pada kemampuan diri sendiri, maka sesulit apapun rintangan yang ada pasti kalian akan mampu mengatasinya.

 

***

Enam bulan sudah berlalu. Lee Jinki atau Onew baru saja menyelesaikan studinya di jenjang menengah atas dan kini ia telah siap untuk melanjutkannya di perguruan tinggi. Dengan semangat yang tinggi, kemampuan yang memang tidak bisa dipertanyakan lagi, serta kepercayaan diri yang cukup membuatnya lolos dalam ujian kelulusan dan ujian masuk universitas.

Kini ia tidak gila belajar seperti dulu lagi. Jika dulu orang-orang melihatnya sedang membaca buku, maka yang dilihat orang-orang sekarang adalah Onew yang sedang menghabiskan waktu bersama keluarga, bercanda dengan teman-temannya, belajar dengan porsi yang wajar dan kehadiran seorang gadis yang sering menghabiskan waktu bersamanya.

Tentu saja gadis itu adalah Victoria Song. Onew makin akrab dengan dia dan mereka sering pergi ke perpustakaan bersama, berjalan-jalan di taman kota atau menonton festival musik yang selalu diikuti Jonghyun tiap tahun.

Kini, Onew benar-benar menikmati masa mudanya. Seperti yang diharapkan orangtua dan ketiga sahabatnya, Onew mulai merasakan apa yang namanya jatuh cinta.

“Penampilan Jonghyun selalu memukau seperti biasanya,” puji Victoria. Dia bertepuk tangan sambil menatap Jonghyun yang masih berada di atas panggung.

“Ya,” timpal Onew sambil tersenyum. “Jonghyun memang berbakat di bidang musik.”

“Oh ya, bagaimana dengan ujian masuk kemarin?” tanya Victoria.

Well, cukup mudah kurasa. Aku lulus dengan nilai yang kurasa sangat baik bagiku. Tapi…”

Sebelah alis Victoria terangkat. “Kenapa?”

“Sayang saat tes Bahasa Inggris ada satu soal yang tidak kumengerti jawabannya,” sahut Onew.

“Memangnya seperti apa pertanyaannya?”

“Itu adalah pertanyaan yang tidak bisa kujawab sendiri,” kata Onew. Jantungnya berdetak makin kencang. “Pertanyaannya adalah: will you be my girlfriend?

Seketika gadis itu membeku di tempatnya. Onew ingin merutuki dirinya sendiri karena mengatakan hal seperti itu di saat yang tidak ada unsur romantisme-nya sama sekali. Namun begitu melihat senyum Victoria yang terlihat sumringah, ia menjadi agak lega.

“Kau ingin tahu jawabannya?” Victoria bertanya balik.

Dengan cepat Onew mengangguk.

“Jawabannya adalah: Yes, I will,” jawab Victoria dengan pipi merona. Lalu gadis itu tertawa kecil.

Well, itu adalah jawaban yang kuharapkan,” sahut Onew sambil merangkul bahu Victoria.

 

 

 

 

The flower bloomed in the darkness

The moon risen above the sea

The secret-like place

 

My goddess, it seems like you live in a legend

I will fight time and look for you

I’ve never believed in things that are forever

 

But if I can reach you

Which I earnestly wanted

Oh, my beautiful black pearl.

 

 

(EXO Black Pearl)

 

 

End of Verse One

 

 

A/N: Inilah fanfic saya yang terbaru. Saya membuat fanfic ini berdasarkan lagunya EXO yang berjudul Black Pearl. Well, lagu itu merupakan salah satu lagu favorit saya di album XOXO. Liriknya bagus dan menurut saya cocok untuk dibikin songfic. Dan, akhirnya jadilah fanfic ini.

Seperti judulnya, ini adalah Verse 1. Saya akan membuat tiap pairing utama Shining Effects (Ontoria, Jongna, Keyber, Minstal, Taelli) dalam satu verse. Jadi, nantinya akan ada lima verse dan ini baru verse yang pertama.😀

Saya minta maaf kalau alurnya kecepetan dan konfliknya agak gaje. Saya menulis ini ditengah rasa frustasi karena beberapa hari yang lalu saya gagal mendapatkan manga Naruto, Fairy Tail, Fullmetal Alchemist atau Death Note di toko buku. /abaikan/

Tapi pada RCL, ya?😄

 

 

 

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “Black Pearl [Verse 1]

  1. laras

    aku gak bisa komen apa2 lagi..
    hanya saja… dengan baca ff ini.. aku jadi terdoromg buat lebih giat belajar lagi berhubung sudah mulai naik ke kelas tingkat 12 //abaikan//
    nice ff thor ^^
    dan… karakter pemainnya aku suka.. cocok ^^

    • uwaaa~
      saya tidak menyangka bahwa ff saya bisa mendorong (?) salah satu reader ‘-‘ /terharu/
      makasih buat komennya🙂

  2. Novy wekwekk

    halo authorrr *lambai-lambai -_-
    suka suka suka suka suka !!! ini author yg bikin ff Minstal itukan? great! aku langsung semangatt pas liatt series.nya author bakal bikin versi Minstal juga^^ aku bakal nunggu storinya deh.. demi ff keceh yg dibuatt author dengan maincast mereka!!😀
    Lanjutkan! XD/komengakjelas -_-

  3. Annisa Kpopers

    Cool bingit thor, ffnya!

  4. Annisa Kpopers

    Ah, kayaknya romancenya dapet kok, thor. Btw ff ini daebak! ^^

  5. RMD

    ff nya bagus thor… izin baca next chap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: