Heal One Another [Part 3]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

 

Part 3 ―  A Chance?

 

Semuanya akan sia-sia saja jika ia tidak bisa meraih gadis itu. Ia harus membuat gadis itu percaya bahwa yang tadi dilihatnya hanyalah sebuah kenyataan yang salah mampir. Demi apapun ia tidak akan membiarkan gadis itu menjauhinya―apalagi membencinya. Bisa-bisa, pilihan terburuklah yang akan terjadi nanti.

Choi Minho semakin mempercepat laju larinya, berusaha untuk menyusul gadis yang berada beberapa meter di depannya.

“Krystal!” panggilnya. Namun gadis bernama Krystal itu tetap berlari.

Pada akhirnya, Minho-lah yang menang. Berkat fisiknya yang memang kuat, ia berhasil menyusul Krystal. Menahan pergelangan tangan gadis itu dan memaksanya untuk tetap diam. Kening Minho berkerut ketika Krystal buru-buru menarik tangannya dan mundur beberapa langkah, seolah-olah dia takut padanya.

“Aku ingin menjelaskan kejadian tadi…” ucap Minho.

Pandangan mata Krystal menajam. “Kurasa tidak ada yang perlu dijelaskan.”

“Gadis yang tadi memang mantan pacarku―”

“Kau memutuskannya karena tertarik dengan orang lain, ‘kan?” potong Krystal dengan nada sedingin es. “Aku bisa mendengar apa yang kaukatakan tadi. Kau berkata bahwa kau tertarik dengan orang yang dijodohkan denganmu…”

“Tolong jangan salah paham dulu, Krystal,” Minho memohon. “Biarkan aku menjelaskan semuanya.”

Krystal hanya diam.

“Sebagian yang kukatakan memang benar. Tapi bukan itu alasan utama yang membuatku memutuskan dia,” Minho menjelaskan. “Aku melakukan itu karena ayahku sendiri yang menyuruhku begitu. Bukannya aku egois atau bagaimana, tapi jika aku tidak melakukannya, maka aku akan membuat ayahku marah dan kecewa.”

Tertawaan bernada sinis keluar dari mulut Krystal. “Kaukira aku akan percaya dengan omonganmu?”

“Aku harap kau percaya.”

“Maaf, tapi hal itu tidak akan terjadi,” balas Krystal dingin. Ia berbalik, mencegat sebuah taksi dan langsung naik ke dalamnya tanpa memerdulikan Minho yang memanggil-manggil namanya. Lebih baik ia pulang dan melaporkan semua hal yang dilihatnya pada kedua orangtuanya.

 

***

“Apa yang ingin kaubicarakan pada kami, Krystal?”

Pertanyaan sang ayah langsung menyambut Krystal begitu ia menemui kedua orangtuanya di ruang keluarga. Krystal menundukkan kepalanya, sejenak ia menarik napas dan menatap orangtuanya perlahan.

“Aku ingin membicarakan tentang perjodohan itu, Ayah,” kata Krystal. Ia berusaha untuk tetap kalem.

“Ada apa, Krystal?” tanya ibunya dengan nada khawatir. “Apa ada sesuatu yang buruk terjadi?”

Krystal menghela napas. “Mungkin bisa dibilang begitu.”

“Minho tidak berbuat macam-macam padamu, ‘kan?” Nada tajam keluar dari mulut Yunho.

Gadis itu menggeleng pelan. “Bukan begitu, Ayah… Aku hanya ingin…” Suaranya bertambah pelan. “…menolak perjodohan itu.”

Sontak Yunho dan Stephanie terlonjak kaget mendengar perkataan anaknya. Sebelum membuat keputusan tentang perjodohan itu, mereka sudah menduga Krystal akan menolaknya. Namun pemikiran tersebut segera hilang ketika pertemuan pertama keluarga Jung dengan keluarga Choi berjalan dengan lancar-lancar saja.

Ada apa ini?

“Kenapa, Krystal?” tanya Yunho.

“Aku tidak ingin menikah dengan seorang playboy,” jawab Krystal tegas. “Ibu dan Ayah tidak tahu apa yang sudah terjadi. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri…”

Lalu Krystal menceritakan semua kejadian yang dilihatnya di taman kota. Nadanya terdengar tajam ketika menceritakan inti kejadian tersebut: Minho yang memutuskan pacarnya karena alasan tidak bisa mengelak dari perjodohan ini dan berterus terang bahwa dia tertarik pada gadis yang dijodohkan dengannya.

Yunho menatap anaknya dengan sabar. “Dengar, Krystal. Ayah dan Ibu tidak sembarangan dalam membuat keputusan. Apalagi jika keputusan itu menyangkut tentangmu. Kau harus tahu tujuan sebenarnya dari perjodohan ini.”

Kerutan terbentuk di kening Krystal.

“Bukan hanya kami yang berharap supaya kau sembuh,” sambung Stephanie. “Keluarga Choi juga berharap kau bisa menyembuhkan anak mereka.

“Apa maksud Ibu?” tanya Krystal dengan nada penuh tanda tanya.

“Prasangkamu tentang Minho memang benar,” kata Yunho. “Menurut penuturan ayahnya sendiri, Minho adalah seorang playboy. Ayah tidak tahu betapa parah ke-playboy-an pemuda itu, tapi―”

Dengusan yang keluar dari mulut Krystal memotong perkataan Yunho. “Bahkan Tuan Choi juga mengakui anaknya adalah seorang playboy! Aku tidak mau dijodohkan dengan orang itu!”

“Dengarkan cerita Ayah!” tegas Yunho. “Kami telah membuat keputusan ini secara matang-matang dan segala aspek juga telah kami pertimbangkan. Perbedaan sifat yang krusial jelas sekali terlihat antara kau dan Minho. Tapi itu tidak berarti kau harus menolaknya mentah-mentah, ‘kan?”

Stephanie mendekati putri bungsunya lalu mengelus bahunya. “Kau tadi juga bercerita jika Minho memutuskan kekasihnya karena tidak bisa mengelak dari perjodohan ini dan tertarik denganmu. Bukankah itu berarti Minho telah membuka kesempatan pada dirinya sendiri? Mungkin dia memang benar-benar ingin berubah, Sayang. Apalagi sifat ke-playboy-an Minho membuat ayahnya sangat jengkel. Dia pasti tidak ingin mengecewakan keluarganya.”

Tatapan Yunho melunak setelah melihat putrinya agak tenang.

“Apa yang dikatakan ibumu benar, Krystal. Minho telah membuka kesempatan pada dirinya sendiri untuk berubah. Kau juga seharusnya begitu. Kita memang tidak bisa mengubah orang lain, karena perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Tapi setidaknya kita bisa membantu mereka supaya perlahan berubah, bukan?”

Ternyata perjodohan ini tidak sesimpel yang Krystal kira. Ia menghela napasnya begitu tahu alasan sebenarnya dibalik perjodohan ini.

Bukan hanya ia yang memiliki ‘penyakit’, ternyata Minho juga memiliki ‘penyakit’ yang harus disembuhkan. Dan keluarga Choi berharap penyembuhnya adalah ia sendiri. Krystal tidak berharap ini semua terjadi. Ia tidak ingin keluarga Choi berharap pada dirinya untuk menyembuhkan Minho. Karena ia merasa tidak bisa, tidak berani.

“Kau baru bertemu Minho seminggu yang lalu,” kata Stephanie. “Tentunya pertemuan itu tidak bisa membuatmu paham akan kepribadiannya yang sesungguhnya.”

Yunho menyambung, “Kami akan memberimu waktu untuk mengenal kepribadiannya. Jika kau tidak nyaman dengan sikapnya, maka perjodohan ini bisa dibatalkan.”

Mungkin perkataan ayah dan ibunya benar, batin Krystal. Ia tidak bisa mengetahui dengan gamblang kepribadian seorang Choi Minho. Peristiwa yang lalu mungkin bagian yang tidak ia mengerti alurnya―mungkin itu penggalan dari kepribadian Choi Minho yang mulai berubah. Mungkin memang benar bahwa Minho memutuskan pacarnya karena tidak ingin mengecewakan keluarganya dan ingin memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk berubah.

Mungkin… memberi kesempatan pada pemuda itu adalah sebuah hal yang bijak.

Krystal meneguk salivanya begitu ia tahu harus bertemu dengan pemuda itu lagi.

 

***

Tanpa buang waktu, keesokan harinya Stephanie langsung mengantar Krystal untuk berkunjung ke rumah keluarga Choi. Krystal tidak terlalu antusias dengan hal itu, apalagi begitu ia tahu bahwa ibunya hanya akan mengantarnya lalu pulang dan meninggalkannya di kediaman keluarga Choi.

Krystal berdiri di depan sebuah rumah mewah bergaya minimalis moderen. Sebuah papan nama dari plat putih mengkilat dipasang di sisi kanan pagar dan bertuliskan: Keluarga Choi. Bukan hanya pagar berbaja hitam yang sangat eye-catching, namun kehadiran sebuah taman di sudut sana juga menarik perhatiannya.

Ada jalan setapak di sana yang menghubungkan gerbang kecil dan pintu samping rumah. Berbagai jenis bunga bermekaran dengan indah. Hanya ada satu pohon di sana―sebuah pohon mapel yang besar dan kelihatan sangat rindang, mengundang siapapun untuk duduk di sana.

Semilir angin membelai rambut hitam Krystal. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Beberapa menit terbuang sia-sia sebelum ia membunyikan bel. Agak lama ia menunggu, bahkan ia berpikir untuk pulang saja ketimbang menunggu seperti ini. Namun niatnya batal begitu pintu dibuka dan terlihat seorang gadis seumuran dirinya berdiri di depan pintu.

“Selamat sore,” sapa Krystal kikuk. “A-aku ingin bertemu Tuan dan Nyonya Choi.”

Gadis berparas manis itu tersenyum. “Tentu. Namun kau harus menunggu Tuan Choi karena beliau masih berada di kantornya.”

“Terima kasih…” ujar Krystal dengan agak risih karena gadis itu memandangnya lekat-lekat.

“Namamu Krystal Jung, ya?” tanya gadis itu.

Krystal membulatkan matanya. “Iya. Da-darimana kau tahu namaku?”

Gadis itu tertawa ringan. “Aku tahu soal perjodohan itu. Dan Minho oppa pernah bercerita tentangmu.”

“Minho… oppa?”

“Eh, aku belum memperkenalkan diri, ya?” Gadis itu membungkuk sekilas. “Namaku Choi Jinri, adik dari Choi Minho. Namun aku biasa dipanggil Sulli.”

Ah, ternyata gadis ini adalah adik Minho. Krystal tidak menyangka bila Minho memiliki adik yang seramah dan semanis ini.

“Silakan masuk~”

 

***

Kehangatan yang tak terkira diterima Krystal dari ibu dan adik Minho. Kini ia sedang duduk di ruang keluarga Choi bersama Sulli. Tiffany Choi kebetulan sedang mengurus keperluan di belakang sehingga hanya menemani Krystal sebentar.

“Kata Minho oppa kita seumuran,” ucap Sulli. Senyum lebar masih terpasang di wajahnya. “Jadi aku memanggilmu ‘Krystal’ saja, ya?”

“Tentu,” balas Krystal sambil tersenyum.

“Kau seorang web designer, ‘kan?”

“Iya. Tahu darimana?”

“Dari Minho oppa.”

Tiba-tiba mulut Krystal menjadi kering. “Di-dia menceritakan semuanya tentangku, ya?”

Sulli tertawa kecil. “Hehehe, sebenarnya aku yang memaksanya menceritakan tentangmu.”

Rasa penasaran Krystal makin besar. Mungkin ini kesempatannya untuk mengorek informasi tentang kepribadian Minho yang sebenarnya.

“Memangnya dia cerita apa saja?”

“Semuanya berawal sehari yang lalu. Kemarin Minho oppa tidak pulang ke apartemennya dan menginap di sini. Saat itu oppa ketiduran di depan televisi. Lalu aku lewat dan mendengarnya mengigau. Itu hal yang sangat langka karena Minho oppa jarang sekali mengigau. Yang ada biasanya dia mengorok.”

Sulli tertawa sedangkan Krystal hanya tersenyum menahan geli.

“Aku mendekatinya dan mendengar apa yang diucapkannya. Oppa berkata, ‘Krystal… tunggu… dengarkan aku…’―pokoknya dia mengucapkan namamu beberapa kali. Aku tidak tahu saat itu oppa sedang bermimpi apa, tapi raut wajahnya seperti orang frustasi.”

Tiba-tiba Krystal merasa sulit bernapas.

“Akhirnya aku membangunkan oppa dan memaksanya untuk menceritakan orang bernama Krystal yang ada di mimpinya,” Sulli terkekeh. “Sebenarnya aku tidak boleh menceritakan ini. Oppa pasti akan marah padaku kalau dia tahu. Tapi biarlah. Toh, nanti kau juga akan tahu.”

Krystal terdiam sejenak. “Kakakmu itu… menurutmu dia orang yang bagaimana?”

Sulli mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagunya. “Uhm, menurutku Minho oppa adalah kakak yang baik. Dia peduli pada keluarganya. Satu sikapnya yang cukup menyebalkan adalah terkadang dia terlalu protektif padaku. Yah, aku tahu itu karena dia menyayangiku. Tapi terkadang itu mengangguku.”

Oke, setidaknya Krystal tahu sekilas kepribadian Minho dari perspektif adiknya. Ia belum mau menyimpulkan apapun, karena ia mendengarnya dari perspektif anggota keluarga.

“Aku dengar…” Krystal terhenti sejenak sambil meremas jarinya. “Minho-ssi itu populer di kalangan wanita, ya?”

Raut wajah Sulli sedikit berubah. Senyum memang tidak lepas dari wajahnya, namun sinar matanya agak berbeda. Sulli termenung sebentar sebelum akhirnya tersenyum simpul.

Well, kurasa kau sudah tahu soal  hal itu, Krystal-ah,” kata Sulli. “Bukan hanya kau, semua orang juga tahu. Ayah, Ibu, orang-orang di Choi Corporation dan teman-teman Minho oppa.”

Krystal terdiam.

“Kuharap hal itu tidak akan mengacaukan perjodohan yang sudah direncanakan Ayah dan Ibu,” renung Sulli.

“Eh?” Krystal mengangkat wajahnya. “Me-memangnya kenapa?”

Gadis itu tertawa ringan. “Hehehe, tidak apa-apa sih. Hanya saja, rasanya menyenangkan jika aku memiliki kakak ipar yang cantik dan baik sepertimu.”

Pujian tersebut hanya ditanggapi Krystal oleh sebuah senyum kecil. Ia mengusap tengkuk belakangnya yang tidak gatal.

“Kami sangat berharap Minho oppa akan berubah,” kata Sulli. Wajahnya terlihat murung. “Aku tidak suka ketika melihat perempuan berbeda wajah datang ke sini dan mencari oppa. Itu menjijikkan.”

Memang, batin Krystal. Ia juga jijik dengan lelaki penyuka banyak wanita seperti itu. Tidak menghargai perempuan dan ketika mereka bosan, dengan seenaknya mereka akan meninggalkan perempuan tersebut.

“Krystal-ah…”

Panggilan tersebut membuat Krystal menatap Sulli. Gadis itu tersenyum simpul padanya.

“Tolong ubah Minho oppa, ya…” mohon Sulli.

Sepertinya harapan besar sudah benar-benar tertanam di dalam hati keluarga Choi. Harapan supaya Krystal dapat menyembuhkan pewaris sulung Choi Corporation.

Tapi… apa benar ia bisa melakukannya? Mungkin ia bisa menyembuhkan Minho, namun apakah Minho bisa menyembuhkannya?

“Ah ya, kau mau kuajak berkeliling?” tawar Sulli.

 

***

Setengah jam kemudian dihabiskan Krystal dengan berkeliling rumah keluarga Choi. Sulli selalu setia di sampingnya, bercerita banyak hal tentang hobinya, keluarganya bahkan hal-hal kecil sekalipun. Saat itu Krystal menyadari bahwa Minho memiliki seorang adik yang sangat ramah dan playful.

Mereka berdua kembali ke ruang keluarga. Di sana Tiffany sedang duduk sambil membaca buku di sofa. Dia meletakkan bukunya lalu menghampiri mereka sambil tersenyum.

“Aku harap kau betah di sini, Krystal,” kata Tiffany. Lengkungan di wajahnya terlihat indah berpadu dengan eyesmile yang dimilikinya.

“Minho oppa mungkin akan pulang sebentar lagi. Kau tidak perlu khawatir karena aku akan menemanimu,” tambah Sulli.

Setelah diperhatikan, ternyata senyum manis dan sikap ramah Sulli diturunkan oleh ibunya. Krystal hanya tersenyum kecil sambil mengangguk. Keluarga Choi rupanya adalah sebuah keluarga yang hangat.

Sesaat kemudian, terdengar suara mesin mobil dari luar. Tiffany bangkit dari duduknya lalu berkata pada Sulli dan Krystal bahwa dia akan menyiapkan makan malam untuk mereka semua.

“Nah, appa dan Minho oppa sudah pulang,” Sulli berkata. “Krystal-ah, kau ingin menemui mereka? Kalau aku ingin pergi ke dapur dan membantu umma menyiapkan makan malam.”

Suara Krystal tercekat di ujung lidahnya. Sekilas ia melirik ke arah ruang tamu. Sosok tinggi Tuan Choi dan putranya terlihat di sana. Ia meneguk salivanya. Rasanya ia belum siap untuk bertemu Minho, terutama setelah kejadian kemarin. Akhirnya, Krystal menggeleng pelan dan berkata, “Aku akan membantu Tiffany ahjumma saja.”

“Baiklah~” Sulli terkikik bahagia. “Ayo~”

Kedua gadis itu berjalan menuju dapur. Sementara Tiffany sedang menyeduh teh, Sulli dan Krystal bersama-sama membawa makanan ke atas meja makan dan menatanya dengan rapi. Berulang kali Sulli melontarkan candaan dan Krystal dibuat tertawa olehnya.

Terkadang gadis itu bertingkah lucu, membuatnya terlihat seperti anak perempuan usia sembilan tahun. Imut sekali.

“Aku tidak memiliki adik,” ujar Krysal. “Tapi setelah bertemu denganmu, rasanya aku seperti memiliki adik kandung, hehehe~”

Sulli tertawa renyah. “Aku juga. Sebelumnya aku belum pernah benar-benar berteman dengan seseorang. Namun bercanda denganmu terasa seperti aku memiliki seorang sahabat. Sekaligus kakak perempuan~”

“Wah, wah… Sepertinya kalian sudah akrab, ya.”

Mereka berdua menoleh dan melihat Tuan Choi Siwon telah berdiri di ambang pintu ruang makan. Beliau sudah mengganti pakaian kerjanya dengan celana hitam panjang dan kemeja putih.

“Krystal sangat baik~!” tutur Sulli. Dia menggenggam tangan Krystal. “Aku baru bertemu dengannya setengah jam yang lalu, tapi kami sudah akrab.”

Siwon tersenyum. “Itu bagus. Nah Anak-anak, mari kita makan,” katanya begitu Tiffany datang membawa teh.

Krystal tersenyum gugup dan mengambil tempat duduk di sebelah kanan Sulli. Matanya melirik kesana kemari, bertanya-tanya kemanakah perginya Minho. Namun sesaat setelah Minho datang, ia menyesali pertanyaannya.

Pemuda itu duduk berhadapan dengan Krystal. Sebuah senyum terpasang di wajahnya. Krystal membalas senyum itu dengan kikuk lalu mulai memakan makan malamnya dengan kepala tertunduk.

“Jadi, kau datang kemari sendirian?” tanya Siwon.

Krystal mengangkat kepalanya lalu menggeleng pelan. Senyum kecil dibuatnya. “Aku datang bersama Ibu. Namun Ibu tidak sempat mampir karena ada pekerjaan yang harus beliau urus.”

“Ah, rupanya begitu,” gumam Tiffany. “Stephanie menjadi sangat sibuk setelah ia membuka butik barunya di tengah kota.”

“Ya,” timpal Krystal. “Beliau ingin membuka beberapa cabang baru.”

“Mungkin seharusnya kau juga terjun ke dunia bisnis seperti Stephanie, Tiff,” sahut Siwon.

Tiffany menghela napas. “Tidak, tidak. Mengurus suami, seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang mulai menikmati masa pubertasnya sudah cukup rumit. Aku belum mau menambahnya lagi dengan urusan bisnis.”

“Menikmati masa pubertas?” tanya Minho sambil menyipitkan matanya ke arah Sulli.

Gadis itu memeletkan lidahnya. “Memangnya hanya oppa yang boleh punya pacar?”

“Siapa dia?” Sebuah pertanyaan bernada protektif keluar dari mulut Minho.

“Namanya Lee Taemin.”

“Kenapa tidak menceritakannya padaku?”

“Memangnya kenapa?” balas Sulli. “Oppa juga tidak pernah bercerita padaku sebelumnya. Itupun oppa baru menceritakan tentang Krystal setelah aku memaksa.”

Minho memutar matanya dan sekilas melirik Krystal. Gadis itu masih tersenyum kecil. “Bagaimana jika Taemin adalah seorang bad boy?”

“Taemin oppa adalah pemuda yang baik dan lembut!” sahut Sulli. “Dia bukan playboy, mafia atau semacamnya.”

“Oke, oke,” kata Minho. “Terserah saja.”

Krystal hanya tersenyum menahan geli melihat keributan kecil tersebut. Hal itu mengingatkannya pada Jessica. Dulu kakaknya itu juga sangat protektif padanya―apalagi setelah peristiwa penculikan terjadi. Jessica akan memaksanya untuk menemaninya jika ia pergi ke luar, merawatnya ketika ia jatuh sakit atau membantunya belajar.

Hubungan kakak-adik antara Minho dan Sulli membuatnya rindu akan kakaknya.

 

***

Usai makan malam, Krystal berusaha untuk menyingkir sejauh mungkin dari Minho. Ia masih membatasi jarak di antara mereka. Sebenarnya Krystal ingin menghabiskan waktu dengan Sulli, tapi sayang gadis itu harus pergi setelah makan malam karena tiba-tiba bosnya memanggilnya ke tempat kerja.

Ia hanya duduk di kursi taman keluarga Choi. Matanya menerawang jauh ke arah langit berbintang. Angin malam membuatnya menggigil sedikit, namun Krystal masih betah duduk di sana. Hingga ia tak menyadari ada seseorang yang datang.

“Jika kau terus duduk di sana, kau bisa sakit.”

Krystal menolehkan wajahnya dan melihat Minho. Pemuda itu tersenyum.

“Lebih baik kau masuk. Atau jika kau masih ingin duduk di sana, aku bisa meminjamkan jaket,” tawarnya.

“Tidak perlu,” jawab Krystal cepat. “Aku akan masuk sekarang.”

Krystal bangkit dari kursi dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan kaku. Minho mengikutinya dari belakang sembari menyenandungkan sebuah lagu secara tidak jelas. Keadaan menjadi sangat awkard, apalagi ditambah dengan sibuknya Tuan Choi Siwon di ruang kerjanya serta Nyonya Tiffany Choi yang masih berada di dapur.

Keadaan tersebut bertahan hingga sepuluh menit lamanya.

“Kau mau ikut denganku?”

Pertanyaan yang tiba-tiba tersebut sangat mengagetkan Krystal. “Ke-kemana?”

Kerutan terbentuk samar di dahi Minho. Ia bisa melihat kilatan takut yang sama pada saat mereka pertama bertemu di mata Krystal. Sebisa mungkin, ia tersenyum lembut dan berusaha untuk membuat gadis itu tidak takut.

“Ke ruang atas. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” Namun kilatan di mata Krystal belum berubah. “Atau jika kau keberatan, kita akan tetap di sini,” tambah Minho.

“Ti-tidak masalah,” sahut Krystal. Dia meremas jemarinya lalu mengikuti Minho dari belakang.

 

***

Ia agak tercengang ketika Minho masuk ke sebuah ruangan di lantai dua. Bukan desainnya yang terlihat sangat moderen atau hiasan-hiasan dinding yang kelihatan mahal―namun karena adanya berbagai macam set alat musik di sana.

Ada seperangkat drum di sudut ruangan, sebuah grand piano putih yang elegan di sisi kanan, satu gitar akustik dan satu gitar elektrik di tengah-tengah ruangan, serta bermacam alat musik tiup yang ditaruh di dalam lemari kaca. Krystal dapat mengenali alat musik tiup tersebut sebagai harmonika, flute dan klarinet.

Awalnya ia ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika Minho berada di tengah ruangan dan ia menyadari keadaan di sekelilignya. Ruangan tersebut agak remang dan tirainya tertutup rapat.

Pemikiran paranoid kembali muncul di otak Krystal.

Agaknya Minho menyadari sikap Krystal. Dia berjalan ke arah jendela lalu membuka tirainya lebar-lebar hingga cahaya bulan menambah penerangan di ruangan tersebut.

“Nah, ini lebih baik,” gumamnya. “Terlalu remang juga tidak bagus.”

Krystal menghela napas lega dan masuk ke dalam secara perlahan.

“Kenapa ada banyak alat musik di sini?” tanya Krystal sambil memperhatikan sebuah klarinet dari balik lemari kaca.

“Keluargaku suka bermain alat musik,” jawab Minho. “Dulu kami sering memainkan alat musik secara bersama. Ayah bermain drum, Ibu memainkan klarinet atau flute, aku akan bermain piano dan Sulli akan menyanyi atau bermain gitar. Tapi karena sekarang kami makin sibuk, kami hanya melakukan ini di hari libur.”

Krystal mengangguk sambil tersenyum kecil. “Hm, keluargaku tidak pernah begitu. Aku dan kakakku suka menyanyi, namun orangtuaku tidak bisa bermain alat musik. Jadi biasanya mereka akan mendengarkan kami bernyanyi…” Perkataan Krystal terhenti ketika ia sadar bahwa ia telah bercerita tentang keluarganya Minho. Dan itu adalah pertama kalinya ia benar-benar mengobrol dengan seorang laki-laki. Well, ia terkejut dengan kenyataan tersebut.

Keadaan hening seketika. Krystal termenung di tempatnya berdiri sedangkan Minho tanpa disadarinya sudah duduk di hadapan grand piano. Dia membunyikan beberapa tuts hingga menghasilkan nada yang bagus.

“Permainan pianomu sangat bagus, Minho-ssi,” kata Krystal. Ia ingin sedikit mencairkan suasana.

Pemuda itu tersenyum. “Terima kasih.” Dia kembali melanjutkan permainan pianonya. “Ah ya, masalah kemarin…” Sesaat kemudian permainan pianonya terhenti. “Aku ingin minta maaf. Aku tahu aku seharusnya tidak memutuskan dia begitu saja, tapi aku melakukannya karena desakan ayahku sendiri. Kau tahu sendiri ‘kan apa yang akan terjadi jika aku masih berhubung dengan gadis itu? Kuharap… kau percaya ceritaku, Krystal.”

Gadis itu terdiam. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan tersenyum, “Tidak apa-apa, Minho-ssi. Aku agak tersinggung dengan kejadian kemarin sebelumnya, karena aku tidak menyukai laki-laki playboy. Salahku juga karena sudah men-jugde-mu yang macam-macam.”

“Terima kasih, Krystal,” ujar Minho dengan tulus. Pemuda itu memainkan sebuah lagu. “Tadi kau berkata bahwa kau tidak menyukai laki-laki playboy, bukan?”

Alis sebelah Krystal terangkat, namun ia mengangguk.

“Tapi… kau bisa memberi kesempatan pada seorang mantan playboy, ‘kan?”

Nafas Krystal tercekat dan seketika badannya terasa beku.

 

To Be Continued

 

 

A/N: Ya ampun, cerita macam apa ini???? -_-

Sumpah, gaje banget! Saya minta maaf pada seluruh readers yang sudah capek-capek membaca ff ini, namun ternyata tidak sebagus yang diharapkan. Jujur saja, otak saya langsung bodol ketika memikirkan lanjutan ff ini!

Sekali lagi saya minta maaf. /bow/

Saya akan berusaha membawakan cerita yang lebih baik pada chapter selanjutnya. Dan jika Anda berkenan, silakan tinggalkan jempol atau komentar di tempat yang tersedia.🙂

 

 

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , | 17 Comments

Post navigation

17 thoughts on “Heal One Another [Part 3]

  1. sisca WK

    (y)

    Untung kle mau dengerin ayah ibunya🙂
    Wahh JungLli udah main deket ajaa😀
    berharap mereka bisa menyembuhkan satu sama lain🙂
    Ahh itu suka deh pas adegan di ruang musik itu.. Kkk~
    Lanjut okay😀

  2. laras

    cieee taelli dimention xD

  3. Santi PyrotecnicsElfYoonhaesuju

    Annyeong thor aku readers bru,,
    wah gmna klnjutan’y ya smga krystal eonnie bsa brbah di tnggu part slnjut’y thor,,

  4. Ah.. Minho keren :3
    dia udah berubah ya.. Tinggal krystalnya yang musti berubah🙂
    next part ya chingu..

  5. Novy wekwekk

    baguss bgtt thor!! aku suka karakter Minho ama Jungie dsinii.. smoga di part selanjutnya Jungie bisa kasih kesempatan buat Minppa U,U
    lanjutnya jangan lama-lama yaa thorr, aku suka bgtttt ama ff ini !!!!! Unik😀

    next harus cepett yaa^^ cemungudhhh

  6. via

    Wkwk.. Ga bgs gmna thor,, crtanya bagus gni ko😀
    Yes..ada couple taemin-sulli😄
    aku suka adegan minho krystal d ruang musik, aplgi waktu minho nanya. Hohoo😀
    Next chapter aku yakin pasti lebih seru😀
    Ok, good job author😉

  7. nggak sabar nunggu kelanjutannya🙂

    eciyeee Krystal, kasih kesempatan ya sama si mantan playboy ^^

  8. chikaciiflaminstalized

    Gx sbar nggu part slanjutnya
    Yg cpet ya thor
    Minstal jjang

  9. githapril

    wieuhh makin seru nih >< thx update, wait next part dear~ ^^b

  10. BlossomFlow

    Lanjut thor…🙂

  11. Inddyybee

    Waaah,makin penasaran nih thor. Hihi..
    Kalo blh jujur,sblmnya aku gak suka pairing minstal hehe (^_^)v
    tapi,tetep aku baca. Mgkn krn kebawa ama jalan ceritanya kali ya. Dan menurut aku seru.
    Okeeh,di lanjut ya thor.. ^.^

  12. Ah minho cool bgt sikapanya wkwk, awas aja pnykitnya kumat–” bisa di jauhin krystal lagi -,-

  13. Ah minho cool bgt sikapnya wkwk, awas aja pnykitnya kumat–” bisa di jauhin krystal lagi -,-

  14. vankaka

    jiah, apa jadinya jika ‘anak playboy’ bersama dengan ‘anak polos’? haha
    makin so sweet aja nih minho..

  15. (Y)
    Telat ya x_x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: