Heal One Another [Part 4]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

 

Part 4 ― Does He Know?

 

Jarum jam hampir menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Krystal bolak-balik mengecek handphone-nya. Ibunya mengirim SMS padanya dan berkata akan menjemputnya pukul delapan. Namun sekarang sudah lewat tiga puluh menit. Krystal makin gelisah.

Gadis itu menggeser duduknya sedikit. Keadaan bertambah aneh setelah ia dan Minho keluar dari ruang musik. Ia langsung menuju ruang tamu keluarga Choi tanpa banyak bersuara, sedangkan Minho ijin pergi ke kamarnya untuk mengurus pekerjaannya yang beelum selesai.

Krystal mengela napas lega ketika ia mendengar suara Sulli. Gadis manis itu masuk ke dalam rumah dan langsung menghempaskan diri di samping Krystal yang sedang duduk di sofa. Krystal tersenyum melihatnya.

“Kukira kau sudah pulang,” kata Sulli.

Krystal menggeleng. “Sebenarnya aku ingin pulang naik taksi, tapi setengah jam yang lalu ibuku mengirim pesan bahwa beliau akan menjemputku. Jadi, aku sedang menunggu jemputan.”

“Ah, rupanya begitu,” gumam Sulli. Dia mengipas-ngipas rambutnya dengan tangan. “Ya ampun, bosku cerewet sekali. Banyak pekerjaan yang beliau limpahkan padaku.”

“Memangnya kau bekerja sebagai apa, Sulli-ah?” tanya Krystal.

Editor-in-chief di majalah fashion mingguan,” jawabnya sambil tersenyum. “Kita sama-sama editor, kekeke~”

Krystal tertawa kecil. “Wah, aku tidak menyangka. Kau hebat, Sulli-ah. Diusia yang sebaya denganku sudah menjadi editor-in-chief, aku saja baru menjadi freelance editor.”

“Pekerjaan utamamu adalah web designer, ‘kan?”

“Ya. Menjadi editor hanya pekerjaan yang kulakukan di waktu senggang,” sahut Krystal. Tiba-tiba saja handphone-nya bergetar, membuatnya agak kaget. Ia membuka satu pesan yang masuk.

 

From: Mom

 

Maaf, Kle. Ternyata umma mendapat klien yang harus ditangani sekarang juga. Sepertinya umma tidak bisa menjemputmu. Ini sudah hampir jam sembilan, tidak baik untukmu jika pulang sendiri. Aku tahu akan merepotkan keluarga Choi jika kau meminta untuk diantarkan pulang, tapi sepertinya tidak ada jalan lain…

 

Usai membaca pesan tersebut, Krystal menghela napas. Jika tahu begini, ia akan pulang jam delapan saja. Menjelang pukul sembilan taksi makin susah dicari. Berjalan kaki sebenarnya mungkin-mungkin saja dilakukan Krystal, tapi diwaktu seperti ini? Seseorang dengan mental paranoid seperti Krystal tidak akan mau melakukannya.

“Ada apa?” tanya Sulli sambil menggeser posisi duduknya semakin dekat dengan Krystal.

“Sepertinya aku akan pulang sendiri,” jawab Krystal. Tidak enak jika ia meminta diantar pulang oleh Tiffany. Merepotkan orang lain sama sekali bukan gayanya.

“Eh? Tapi sekarang hampir jam sembilan malam,” sahut Sulli sambil melirik jam tangannya. “Tidakkah ini termasuk larut untuk seorang gadis pulang sendirian?”

“Aku akan baik-baik saja,” balas Krystal sambil tersenyum, walaupun dalam hati ia ketakutan setengah mati. “Bisakah kau memanggil orangtua dan kakakmu? Aku ingin berpamitan dengan mereka.”

Sulli mengangguk dan langsung melesat pergi ke lantai atas. Beberapa menit kemudian, anggota keluarga Choi turun. Di antara mereka, yang wajahnya terlihat paling lelah adalah Siwon dan Minho. Mungkin karena mereka sibuk mengurusi pekerjaan.

“Apa kau yakin ingin pulang sendiri?” tanya Siwon.

Krystal mengangguk. “Ya. Aku akan pulang menggunakan taksi. Lagipula, aku tidak ingin merepotkan keluarga Choi.”

“Tidak apa-apa, Sayang,” balas Tiffany lembut. “Kami sama sekali tidak merasa keberatan. Aku memiliki urusan rumah yang belum selesai―kau bisa lihat sendiri jika kami tidak menggunakan jasa pembantu di rumah ini. Suamiku rasanya masih memiliki tumpukan dokumen yang belum selesai. Mungkin Sulli atau Minho bisa mengantarmu pulang.”

Diantar pulang oleh Minho? Pikiran paranoid langsung merasuk ke dalam otak Krystal tanpa bisa ditahannya. Ia langsung menggeleng.

“Tidak apa-apa. Aku akan pulang sendiri,” katanya dengan nada tegas, seolah hanya itu pilihan yang dimilikinya. “Minho pasti masih sibuk dengan pekerjaannya. Sulli juga sehabis dari tempat kerjanya, dia pasti lelah. Aku tidak ingin merepotkan kalian.”

“Aku tidak merasa repot sama sekali, Krystal,” sahut Minho. “Jika kau mau, dengan senang hati aku akan mengantarmu pulang. Pekerjaanku memang masih ada, tapi aku bisa menyelesaikannya nanti.”

“Itu benar, Krystal-ah,” tambah Sulli. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Biarkan Minho oppa mengantarmu pulang. Lagipula ini sudah malam.”

“Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku benar-benar tidak ingin membuat semuanya repot,” kata Krystal yang masih berusaha untuk bertahan pada pendiriannya.

Siwon menghela napas lalu tersenyum. “Well, baiklah jika itu maumu. Aku dan Tiffany tidak bisa mengantarmu pulang karena kami berdua memiliki urusan masing-masing. Hanya Minho dan Sulli yang bisa, tapi kau lebih memilih untuk pulang sendiri. Kalau begitu, hati-hati di jalan, Krystal. Sampaikan salamku untuk Yunho dan Stephanie.”

Krystal tersenyum lalu membungkuk sekilas. “Tentu saja, Siwon ahjussi. Terima kasih untuk makan malamnya, Tiffany ahjumma. Masakannya sangat enak. Lalu untuk Sulli, terima kasih sudah menemaniku. Dan untuk Minho…” Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Namun Krystal berhasil memaksa suaranya untuk keluar. “…terima kasih sudah menghiburku dengan permainan pianomu yang bagus itu. Aku berharap bisa… mendengarnya lagi.”

Seulas senyum terukir di wajah Minho. “Jika kau meminta, aku akan memainkannya lagi.”

Sedetik kemudian, Minho menerima tatapan tajam dari ayahnya yang seolah mengatakan, “I’ve told you, don’t be TOO cheesy!”. Tapi dia tidak peduli. Toh, ia memang tidak bermaksud untuk bertingkah cheesy atau merayu Krystal. Itu reflek saja, di luar kebiasaannya selama ini.

“Kalau begitu, aku permisi dulu,” ucap Krystal. Beberapa saat kemudian, gadis itu keluar dari rumah keluarga Choi. Mereka mengantar Krystal hanya sampai teras rumah saja.

Sementara itu, Minho yang masih berada di teras menerima tatapan tajam dari ayahnya lagi.

Appa, aku tidak menggodanya,” desis Minho.

Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Siapa yang bilang kalau kau menggodanya? Tadi aku sudah memberi kode padamu di dalam untuk mengikuti dan mengawasi Krystal diam-diam, setidaknya sampai dia mendapatkan taksi.”

“Eh, jadi itu maksud dari tatapan tajam yang tadi?” tanya Minho.

“Tentu saja. Seharusnya kau memiliki inisiatif sendiri,” hardik Siwon.

Minho memutar mata. “Oke, oke. Itu ide yang bagus, appa. Ide yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.”

 

***

Sudah hampir lima belas menit Krystal menyusuri trotoar, namun ia belum melihat satupun taksi yang lewat. Krystal melirik jam tangannya, ternyata sudah pukul sembilan lebih beberapa menit. Pantas saja dari tadi yang lewat hanya sebatas kendaraan-kendaraan pribadi.

Jarak rumahnya masih setengah perjalanan. Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Choi, hanya berjarak sekitar lima ratus meter. Tapi tetap saja rasanya melelahkan jika harus berjalan.

Krystal melirik sekitarnya dengan was-was. Walaupun ini di tepi jalan besar, tapi suasanya cukup sepi. Apalagi toko-toko di sepanjang trotoar sebagian besar telah tutup dan hanya beberapa orang yang lalu lalang. Telinga Krystal langsung berdiri ketika ia mendengar derap langkah kaki seseorang dan suara batuk dengan nada berat. Ia mempercepat langkahnya.

Suara bersin yang berasal dari belakangnya membuat Krystal makin paranoid. Sebenarnya ia tidak berani menoleh ke belakang, namun ia berhasil memaksa tubuhnya. Mata Krystal membulat begitu melihat sesosok pria tinggi dengan kaus lengan panjang berwarna coklat dan baggy pants warna gelap.

“Minho-ssi??”

Pemuda itu bersin lagi. “Pergi malam-malam tanpa menggunakan jaket adalah ide yang bodoh. Seharusnya tadi aku mengambil jaket dulu,” gumamnya yang lebih terdengar pada dirinya sendiri.

Krystal melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa kau ada di sini? Kau tidak mengikutiku, ‘kan?” tanyanya dengan nada penuh curiga.

“Tidak,” jawab Minho kalem. “Well, bagaimana menjelaskannya, yah? Intinya aku dan keluargaku khawatir jika kau pulang sendiri. Jadi aku mengikuti dan mengawasimu dari belakang, setidaknya hingga kau mendapatkan taksi.”

Rasa bersalah langsung memenuhi batin Krystal. Baru saja ia menuduh Minho sebagai seorang stalker, namun nyatanya pemuda itu hanya ingin memastikannya pulang dengan selamat.

“Tapi sepertinya kau tidak mendapat taksi, ya?” tambah Minho. Dia maju beberapa langkah. Pikiran Krystal langsung awas.

“B-begitulah,” gumam Krystal gugup.

“Aku tidak bisa membiarkan seorang gadis pulang sendiri di jam seperti ini. Sekarang sudah jam setengah sepuluh malam dan banyak bahaya yang mengintai,” kata Minho.

Ya, batin Krystal. Dan mungkin saja bahayanya bersumber dari Minho.

Beberapa saat kemudian, Krystal menyesali pemikirannya yang kelewat jahat. Ia tidak bisa berhenti waspada, tapi ia harus menghentikan otaknya yang selalu mengeluarkan bayangan tidak baik tentang laki-laki. Maksudnya, tidak semua laki-laki seperti itu. That’s right, isn’t it?

“Tidak apa-apa, Minho-ssi,” tolak Krystal dengan halus. “Setengah perjalanan lagi kutempuh maka aku akan sampai di rumah.”

“Tapi apa kau tidak takut berjalan kaki sendirian di jalanan yang sudah mulai sepi seperti ini?”

Krystal terdiam. Dalam hati sebenarnya ia lebih memilih ditemani oleh pemuda yang dikenalnya seminggu lalu daripada bertemu pria-pria hidung belang yang suatu saat bisa muncul dan menggodanya.

“Kurasa… kau benar, Minho-ssi,” balas Krystal.

Seulas senyum muncul di wajah Minho. “Asal kau mau, aku akan menemanimu hingga kau sampai di rumah.”

Krystal menatap mata pemuda di hadapannya. Berusaha untuk menemukan jika ada pikiran licik di sana. Namun yang ia temukan hanya tatapan normal, tanpa adanya pikiran licik dan seperti tersirat suatu ketulusan yang tidak bisa ditebak maksud dan tujuannya.

Akhirnya ia mengangguk. “…terima kasih banyak.”

“Tidak masalah.”

Krystal berbalik dan mulai berjalan sementara Minho mensejajarkan langkah dengannya. Selama perjalanan ia hanya diam dan sesekali melirik jam tangan. Jantungnya berdetak kencang. Jujur saja, ia masih gugup jika berdekatan dengan laki-laki. Namun sepertinya sekarang sudah lebih baik. Setidaknya tangannya tidak gemetaran seperti dulu.

Tiba-tiba saja ia teringat suatu artikel yang pernah ia baca di internet tentang fobia. Seorang psikolog pernah menulis di artikel tersebut dan menyebutkan bahwa fobia bisa dihilangkan jika si penderita dihadapkan dengan sumber fobianya sendiri.

Ia juga pernah menonton di televisi, seorang wanita yang fobia terhadap arachnida atau laba-laba ingin menghilangkan fobianya. Wanita itu tinggal di salah satu kota besar di Australia dan akan pindah ke desa di pedalaman Australia karena masalah pekerjaan. Sedangkan daerah pedalaman Australia terkenal akan banyaknya kalajengking dan laba-laba, anggota dari filum Arthropoda, tepatnya kelas Arachnida. Wanita itu mengunjungi seorang psikolog dan meminta bantuan untuk menghilangkan fobianya. Psikolog tersebut lalu membawa sumber fobianya ke hadapannya langsung. Dan beberapa bulan setelah terapi, wanita tersebut berhasil menghilangkan fobianya.

Mungkinkah ini alasan sesungguhnya yang membuat ayahnya setuju dengan perjodohan ini? Krystal berpikir. Ayahnya adalah orang yang cerdas dan mungkin saja beliau berpikir―bahwa untuk menghilangkan fobia adalah dengan menghadapi sumber fobia tersebut. Jika Krystal memiliki trauma dengan laki-laki, maka untuk menghilangkan traumanya adalah dengan berhadapan laki-laki.

Krystal menghela napas. Mungkin saja ayahnya berpikir seperti itu. Dan agaknya pemikiran ayahnya benar. Terbukti kini ia sudah tidak segugup dulu jika berdekatan dengan lelaki. Walaupun pikiran paranoid terkadang masih menghantuinya.

Perlahan Krystal menatap Minho yang sedang bersiul-siul asal. Tanpa disadarinya, ia tersenyum kecil.

 

***

Setelah waktu lima belas menit dilalui, Krystal dan Minho sampai di rumah keluarga Jung. Krystal membuka gerbang lalu masuk ke dalam, diikuti Minho di belakangnya. Ia melirik ke jendela kamar tidur orangtuanya. Jendelanya terbuka. Itu artinya salah satu dari mereka sudah di rumah dan masih bekerja. Tanpa buang waktu, Krystal menekan bel.

“Pembantu kami sudah pulang pukul lima sore dan ayah atau ibuku masih bekerja di ruangan mereka, jadi mungkin agak lama hingga pintunya dibuka,” kata Krystal.

Minho tersenyum. “Tidak masalah.” Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Minho mengulurkan tangannya ke arah rambut Krystal. Gadis itu mengerjap kaget dan mundur selangkah. Tangannya gemetaran sedikit dan pancaran rasa takut kembali terlihat di matanya. Minho menyadari perubahan itu, dan ia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Krystal. Namun ia tetap mengulurkan tangannya, lalu mengambil sehelai daun yang mendarat di kepala Krystal.

“Ada daun,” kata Minho sambil membuang daun tersebut ke tanah. Kedua alisnya bertaut ketika melihat pundak Krystal yang menjadi relaks kembali.

“Oh…” gumam gadis itu.

Minho memiringkan kepalanya. “Kau baik-baik saja, Krystal?”

“Ya.”

Namun ia belum yakin sepenuhnya. Berbagai pertanyaan kini memenuhi otaknya dan membuatnya makin penasaran. Terutama dengan pancaran rasa takut yang tadi ada di mata indah itu. Ia ingin mengerti alasan kenapa pancaran tersebut muncul setiap kali ia berada di dekat Krystal. Perasaannya saja atau…

“Apa kau takut padaku?” tanya Minho.

Krystal mengerjap. Dia berkedip beberapa kali lalu menggerak-gerakkan jarinya dengan gelisah. “Apa maksudmu, Minho-ssi?” Krystal justru balik bertanya. “Kurasa tidak ada alasan yang membuatku harus takut padamu.”

Sebenarnya Minho belum puas dengan jawaban itu dan merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Namun jawaban Krystal ada benarnya, untuk apa gadis itu takut padanya? Kecuali ia pernah bertemu Krystal dan pernah membuat suatu kesalahan, mungkin saja Krystal masih marah atau takut. Tapi masalahnya adalah ia baru mengenal Krystal dan ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.

Walaupun rasa penasaran makin menggerogoti Minho, ia hanya tersenyum simpul. “Kurasa kau benar, Krystal. Malah akan menjadi aneh bila kau takut padaku.”

Gadis itu tersenyum gugup.

Setelah lima menit menunggu di depan pintu, akhirnya ada yang membukakannya. Terlihat sosok Stephanie Jung berdiri di sana dengan wajah lelah.

“Oh, dear…” erangnya lalu memeluk Krystal. “Maafkan aku, Kle. Umma baru sampai di sini sepuluh menit yang lalu dan saat umma menelepon Tiffany, dia berkata bahwa kau telah pulang dengan Minho.”

“Tidak apa-apa, umma,” balas Krystal sambil tersenyum. “Aku tahu umma sedang sibuk. Lagipula Minho telah menemaniku sepanjang perjalanan sehingga aku baik-baik saja.”

Stephanie melepas pelukannya lalu tersenyum pada Minho. “Terima kasih banyak, Minho. Aku sangat khawatir pada Krystal  karena hari sudah malam begini. Apalagi Krystal…” Stephanie segera menghentikan ucapannya ketika menyadari serangkaian kata yang hampir keluar dari mulutnya.

“…pernah dikuntit oleh seorang pemuda asing yang mengaku menjadi fansku,” sambung Krystal.

Minho menautkan kedua alisnya. “Kau pernah dikuntit?”

Gadis itu mengangguk. “Ya. Kejadiannya sudah agak lama. Aku tidak tahu kenapa pemuda itu menganggapku sebagai idolanya. Padahal aku hanya seorang web designer biasa. Mungkin dia memang gila.”

“Hm, jadi itu sebabnya kau agak canggung dengan laki-laki?”

Krystal terdiam sejenak. “…mungkin.”

“Sekali lagi terima kasih, Minho,” kata Stephanie yang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Dia tahu putri bungsunya tidak suka topik tersebut, terlalu sensitif untuk diperbincangkan.

“Sama-sama,” balas Minho sambil tersenyum. “Aku pamit dulu, Stephanie ahjumma. Dan jaga dirimu, Krystal.” Pemuda itu membalikkan badan lalu pulang.

 

***

“Maafkan umma karena hampir membicarakan hal itu.”

Krysal memandang ibunya lalu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa,” Ia termenung sebentar. “Lagipula suatu saat dia akan tahu…”

Pardon me? Umma tidak dengar apa yang kaukatakan tadi.”

“Bukan sesuatu yang penting, kok,” balas Krystal.

Kedua orang tersebut masuk ke dalam ruang keluarga. Krystal duduk sendirian di sofa sambil termenung, sementara Stephanie kembali ke kamarnya. Mungkin dia ingin menyelesaikan pekerjaannya.

Hari ini adalah hari yang aneh, Krystal merasa begitu. Ia bukan orang yang bisa membaca pikiran orang lain, namun ia begitu ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran seorang Choi Minho. Pemuda itu seolah-olah mengerti betul dirinya, padahal mereka baru berkenalan sekitar seminggu yang lalu.

Krystal menyadari jika Minho memiliki perasaan yang tajam. Ia mulai mengetahuinya saat kejadian di ruang musik keluarga Choi. Sebagai seorang gadis yang memiliki trauma dengan laki-laki, berada di dalam ruangan tertutup bersama seorang pemuda tentu saja membuat Krystal takut. Ruang musik itu penerangannya agak remang dan tirainya tertutup rapat. Krystal hanya diam di ambang pintu karena ragu untuk masuk. Namun seakan menyadari apa yang dirasakannya, Minho membuka tirai jendela sehingga tempat tersebut menjadi lebih terang.

Lalu saat Minho mengantarnya pulang. Pemuda itu mengambil sehelai daun yang tersangkut di rambut Krystal. Gerakan tangan Minho yang tiba-tiba membuat Krystal kaget. Minho mengambil daun tersebut dan Krystal mulai merasa diamati. Ia tercengang ketika Minho bertanya, “Apa kau takut padaku?”, seolah pemuda itu merasakan ketakutan yang ada di hatinya.

Apa mungkin Minho telah tahu rahasia tentang masa lalunya yang hanya diketahui oleh keluarganya saja? Atau Minho memang seorang yang memiliki perasa tajam dan dengan mudahnya membaca ekspresi Krystal?

Entahlah. Ia tidak tahu jawabannya. Tapi Krystal tidak mau mempermasalahkan hal itu. Justru ia merasa nyaman. Setidaknya ia tidak perlu mengatakan secara gamblang bahwa ia memiliki trauma tertentu pada laki-laki dan belum mau terlalu dekat dengan Minho. Lalu―entah benar atau tidak―Minho seakan memahami perasaannya dan bergerak secara perlahan.

Padahal dulu pemuda itu dikenal sebagai playboy kelas kakap. Tapi ketika ia berkenalan dengannya, sikap Minho tidak mencerminkan layaknya seorang player. Yah, mungkin pengecualian untuk rayuan yang diberikan pemuda itu saat pertemuan mereka.

Jika hal itu benar, apa mungkin Minho sudah berubah?

Pertanyaan yang menumpuk di kepala Krystal membuat gadis itu makin bingung. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Mungkin pertanyaan itu akan terjawab seiringnya waktu berjalan.

 

***

Double Date?”

“Iya! Kau mau tidak?”

Krystal menahan handphone miliknya menggunakan bahu sebelah kanan sementara tangannya masih sibuk mengurusi komputer. Ia berpikir sebentar tentang tawaran yang diajukan Sulli beberapa saat lalu tentang double date.

“Kapan?” tanya Krystal pada akhirnya.

“Jumat lusa, bagaimana?”

“Hm… Kedengarannya oke.”

“Wah, itu bagus Krystal-ah! Sampai jumpa di hari Jumat~”

Krystal tersenyum samar ke arah layar ponselnya lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak tahu darimana Sulli mendapatkan ide tentang double date itu, namun sepertinya hal itu adalah ide yang cukup bagus. Lagipula ia belum berani untuk melakukan single date dengan Minho, jadi setidaknya dengan hadirnya Sulli dan pacarnya, Taemin, akan mencairkan suasana dan membuatnya menjadi lebih menyenangkan.

Ia melirik kalender meja. Jumat artinya lusa. Tiba-tiba saja ia merasa gugup. Seumur hidup, Krystal belum pernah merasakan apa yang namanya kencan. Walaupun banyak antrian lelaki yang berharap bisa berkencan dengannya, ia selalu menolak mereka.

Terkadang ia merasa menjadi gadis yang kehilangan kesenangan masa remajanya. Pada masa-masa itu, sering tumbuh yang namanya perasaan cinta monyet atau semacamnya. Namun karena trauma selalu menghantuinya, yang dirasakan Krystal saat berhadapan dengan laki-laki adalah rasa takut, bukan cinta atau suka.

Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin merasakan yang namanya jatuh cinta…

 

***

Hari yang disepakati Krystal dan Sulli telah tiba. Krystal datang menggunakan taksi, Sulli dan Taemin datang berdua menggunakan sepeda (wow, pasangan itu masih muda tapi benar-benar romantis), sedangkan Minho datang belakangan menggunakan mobil. Kencan kali ini diadakan di taman bermain Lotte World.

Saat pertama kali melihat Lee Taemin, Krystal berpikir bahwa pemuda itu mirip dengan Sulli. Sama-sama memiliki berwajah manis dan sangat ramah pada orang lain. Taemin tersenyum padanya dan dengan sangat sopan memperkenalkan diri.

“Namaku Lee Taemin,” kata pemuda itu sambil membungkukkan badan sekilas. “Kau pasti Krystal. Sulli pernah bercerita tentangmu padaku.”

“Ya, aku Krystal Jung. Senang berkenalan denganmu,” balas Krystal sambil tersenyum kecil.

“Hai, Taemin.”

Sosok tinggi Choi Minho muncul di belakang Krystal. Pemuda itu tersenyum pada Taemin.

“Oh, hai hyung,” Taemin menyapa balik Minho dengan tambahan sebuah senyum penuh keramahan.

Sulli tertawa dalam hati. Pasti Minho termakan omongannya yang pernah berkata bahwa Taemin adalah seorang bad boy. Heh, bagaimana seseorang dengan wajah manis dan senyum ramah seperti itu dikatakan sebagai bad boy?

“Kita langsung masuk, yuk,” ajak Sulli.

Keempat orang itu membeli tiket lalu masuk ke dalam Lotte World. Ternyata di dalam, Sulli dan Taemin memutuskan untuk berkeliling sendiri. Sulli menyuruh Krystal dan Minho untuk berkumpul di kafe depan Lotte World jika sudah selesai.

Sebenarnya Krystal agak menyayangkan keputusan itu. Dikiranya double date kemana-mana bersama, tapi ternyata bisa juga dipisah seperti ini, ya? Namun ia tidak mau memaksakan keinginannya. Setiap pasangan pasti juga menginginkan waktu sendiri.

“Kau ingin menaiki wahana apa?” tanya Minho. Kini mereka berdua sedang melewati wahana roller coaster yang terlihat menakutkan untuk dinaiki.

Krystal menundukkan kepalanya. “Uhm… sebenarnya aku tidak terlalu menyukai wahana ekstrem seperti ini.”

“Begitu ya…” Minho bergumam. “Ayo kita berkeliling lagi. Siapa tahu ada wahana yang cocok untukmu.”

Kedua orang itu kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti sejenak di teater empat dimensi, membeli tiket lalu menonton film di sana. Setelah selesai, mereka mampir di wahana rumah hantu. Sayangnya wahana tersebut kurang seru. Krystal sudah sering menonton film horor jadi ia terbiasa dengan hantu, sedangkan Minho hanya menguap bosan ketika hantu-hantu palsu muncul di hadapannya. Mereka berkeliling lagi, mencoba berbagai wahana yang tidak menyandang kata ‘ekstrem’.

Tak terasa waktu yang mereka habiskan bersama. Krystal baru sadar ternyata mereka sudah berada di bagian Lotte World yang paling belakang, sekaligus yang paling sepi pengunjung. Di sana hanya ada penjual makanan ringan dan beberapa wahana anak-anak seperti komedi putar. Mereka berdua duduk di sebuah kursi taman.

“Aku akan membeli minuman,” kata Minho.

Krystal hanya mengangguk kecil sambil memperhatikan Minho yang sedang mampir di kedai penjual minuman. Saat ia sedang melamun sendirian, ada seorang laki-laki paruh baya lewat di depannya dan menjatuhkan dompet. Krystal mendongak lalu memanggil orang itu, sayangnya dia tidak dengar.

Ia meraih dompet itu. Walaupun ragu, ia memutuskan untuk mengembalikannya. Krystal mengikuti orang tersebut yang berbelok ke jalan sempit yang dikelilingi bangunan kecil.

Ahjussi, Anda menjatuhkan sesuatu!”

Orang tersebut berhenti lalu menoleh. “Ah, dompetku…”

Krystal tersenyum kecil lalu menghampiri orang itu. Walaupun dalam hati ia merasa agak takut, namun perasaan itu dikesampingkannya. Ia hanya ingin berbuat baik.

Orang itu tersenyum lalu mengambil dompetnya. Tiba-tiba, senyum ramah itu berubah menjadi sebuah senyum licik. Krystal terperanjat saat orang itu menangkap pergelangan tangannya dan menggenggamnya dengan sangat erat.

“Kau terlalu mudah untuk dijebak, Nona Cantik,” kata si penipu sambil tertawa.

Krystal memukul-mukul kepala si penipu, namun karena perbedaan kekuatan si penipulah yang menang. Si penipu menyumpal mulutnya menggunakan sapu tangan dan menariknya ke sudut gelap. Krystal hanya bisa menangis tanpa suara saat si penipu hampir membuka jaket yang dikenakannya.

Dalam sekejap, peristiwa beberapa tahun yang lalu seakan terulang kembali.

 

***

Begitu kembali dan melihat Krystal tidak berada di tempatnya, Minho membuang minuman yang dibelinya ke tempat sampah dan langsung berlari mencari gadis itu. Entah kenapa, namun perasaannya sangat tidak enak.

Krystal bukan tipe gadis yang cepat bosan jika ditinggal dan tidak akan pergi jauh-jauh. Jikalau Krystal ingin berkeliling sendiri, pasti gadis itu akan bilang padanya.

Minho mendesah ketika tidak melihat Krystal dimanapun. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang nampak sepi. Jalan tersebut berakhir dengan dikelilingi oleh bangunan kecil. Mata Minho menyipit ketika ia melihat sebuah jalan sempit seperti gang terlihat diapit oleh dua bangunan.

Memangnya Krystal akan pergi ke tempat itu? Sudahlah, lebih baik dipastikan.

Ia menghampiri jalan kecil tersebut dan tercengang ketika melihat sesosok perempuan yang tergeletak di tanah dan di atasnya ada seorang laki-laki paruh baya.

Minho mengepalkan tangannya ketika menyadari bahwa perempuan itu adalah Krystal. Seketika amarahnya langsung mendidih. Baru pertama kali dirinya dikuasai amarah sebesar ini.

Tanpa ragu, ia mendekati laki-laki itu, mengangkat kerah bajunya dan menghajarnya. Ia mengangkat kerah bajunya lagi dan menghajar perutnya hingga si laki-laki jatuh kesakitan. Minho benar-benar termakan oleh api amarah. Yang ada di otaknya hanyalah menghajar siapapun yang telah menyakiti Krystal.

Laki-laki tersebut menggeser duduknya sambil mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya. Dia bangkit dengan tertatih lalu lari secepat mungkin. Minho membiarkannya begitu saja. Sebenarnya ia ingin menghajarnya sekali lagi dan membawanya ke kantor polisi, namun ia lebih mengkhawatirkan keadaan Krystal.

Gadis itu duduk sambil memeluk lututnya dengan erat. Dia menangis. Minho mendekati Krystal, namun gadis itu mundur sambil menggelengkan kepalanya cepat. Kening Minho berkerut ketika melihat sinar ketakutan di mata Krystal. Namun kali ini berbeda, berbeda dengan apa yang ia amati selama ini. Ketakutan yang kini ada di mata Krystal jauh lebih besar dari yang biasanya. Gadis itu menatap Minho dengan takut. Seluruh badannya gemetaran.

“Krystal, ini aku…” kata Minho lembut sambil berjongkok di hadapan Krystal. Namun dia menggeleng dan memeluk kakinya makin erat, seolah dia mengira Minho adalah laki-laki yang tadi.

“Laki-laki tadi sudah pergi. Tenang saja. Selama ada aku, dia tidak akan menganggumu lagi,” tambah Minho.

Krystal mengerjap dan mengedipkan matanya beberapa kali, seolah dia telah sadar bahwa yang di hadapannya adalah Minho. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya lalu mulai terisak.

Perlahan, Minho merangkul bahu Krystal. Ia mendesah lega ketika gadis itu tidak menolak rangkulannya.

Namun satu pertanyaan besar kini terbentuk di otak Minho. Kenapa tadi Krystal seolah-olah menganggapnya orang lain? Ia merasa bahwa Krystal mengalami hal yang lebih menakutkan dari kejadian tadi. Bisa dilihat dari kilatan ketakutan yang tidak wajar di matanya. Ia tahu, perempuan manapun pasti akan ketakutan bila mengalami insiden seperti itu. Namun mengapa Krystal sampai sempat tidak mengenalinya tadi?

Minho memang tidak bisa membaca pikiran orang lain. Namun ia bisa melihat sesuatu yang disembunyikan dalam diri Krystal. Seperti ada yang membuatnya takut, membuatnya menghindar…

Tapi apa?

 

To Be Continued…

 

 

A/N: Nanggung lagi ya, TBC-nya? /digebuk readers/

Kan yang penting chapter kali ini lebih panjang dari sebelumnya.😀 /apa hubungannya?/

Semoga chapter kali ini bisa memuaskan readers. Jika ada typo yang terselip, maka saya minta maaf karena saya agak malas untuk mengedit. -_-

Pada RCL yaaaa~

 

 

Park Sooyun

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , , , , | 21 Comments

Post navigation

21 thoughts on “Heal One Another [Part 4]

  1. ChanHwaBaek

    Lanjut yaaa ^^
    Keren banget ceritanya !!! >o<

  2. Next!! Kajja kajja!
    Daebaaakk

  3. Inddyybee

    Seru nih,
    Lanjut ^.^

  4. B Intan K

    Mantap😀 lanjuut terus yaa🙂

  5. Magdalena

    cepetan di next thoorrrrr ><
    nangggung😀

  6. achan gimbelz

    hiiyyaaaakkkkk !!! kenapa tbc nyempil siih thor ?? nunggu lanjutannya pasti lama deeh -,-

  7. cheny

    keren nih.. kasian krystal..😐 syukur aja ada minho

  8. BlossomFlow

    Makin seru nih…🙂 Lanjut ya..

  9. parkyurin

    Keren ff nya.. Lanjutin, thor ^^
    Gomawo

  10. githapril

    poor krystal T_T,, d saat udah mo sembuh eh jadinya gini,, -_- lanjutt🙂

  11. Keren thor)b next chapter ditunggu secepatnya. Fighting(y)

  12. Keren banget thor.. huuu Krystal kasihan banget😦 untung aja Minho tepat waktu… sudah kuduga pas dri Minho mau bli minum firasatku gk enak, eh taunya bener..
    Next thor.. ditunggu kelanjutannya.. lanjut yang makin seru dan romantis ok thor??*kedip”in mata#disambitsapusamaauthor*

  13. Novy wekwekk

    lanjutttttttt!!!! keren bgtt ini!!!!
    Minho heroic :3
    kapan nih.. Kryss buka hatinya buat Minppa? perasaan.. dia parnooo mulu O.O

    ayooo.. lanjuttnya cepett!!!

  14. keren banget, ikut deg-deg an bacanya

    next chapter ya author yang baik *reader sok manis ^^

  15. sisca WK

    Huahhh makin seru…
    Itu aku kira Mino ngikutin Kle pake mobil, eh ternyata juga jalan kaki xD

    Tuhkan , udah firasat pas Mino beli minum pasti bakal terjadi sesuatu.. Itu si Kle belom diapa2in kan? U.U andwee u.u

  16. Santi PyrotecnicsElfYoonhaesuju

    Wah makin penasaran lanjut thor, kelanjutannya jangan lama”,,

  17. via

    Thor.. waktu minho dtang tadi krystal sempat ”di apa-apain” ngk sama penjahatnya?😐
    ceritanya smkin menarik author, kayaknya krystal susah lagi dideketin..
    Hah.. Orang yg tadi jahat banget -_-
    Good job author🙂

  18. Daebak (y)
    Huhuhu, Krystal eonni kasian..:'(
    Sperti’y Minho oppa udah mulai ‘sembuh’..kekeke~

  19. kartika melia

    Ngeselin tuh orang!krystal udh mau sembuh tapi malah diingetin kejadian2 yg bikin dia trauma lagi-_- untung minho cepet2 dateng

  20. vankaka

    wow wow!! super hero minho dataaaang
    mereka makin akrab mungkin,
    krystal benci flashback
    NEXT!!

  21. semua ff mu udah q masukin di daftar fanfic. silahkan cek ya. kalo ada yg kurang atau salah tulis kamu perbaiki aja ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: