I’m a fool, Goodbye Summer

goodbye summer (2)I’m a Fool, Goodbye Summer..

Starring : Choi Minho, Jung Krystal

Genre : Friendship, hurt, romance

Type: OneShot

Rating : PG 13

Author: Patty

Background Music : f(Amber, Luna, Krystal) Ft. D.O EXO – Goodbye Summer

Desclaimer:

This plot was inspirated by the SONG above, Goodbye Summer.

The casts aren’t mine. They’re all belong to God & theirself

Please, if u come here just to read it n don’t want to show ur respect by commenting, just don’t read it! I hate silent reader d most when it comes to fanfiction.

Happy Reading guys ==>

Ku pejamkan mataku pelan bersamaan dengan setetes air mata yang menetes di pipi kananku. Menghela nafas panjang dan kini menghembuskannya dengan berat. Aku bodoh. Aku tahu itu. Biarkan semua kebodohanku terkubur bersama dengan perasaanku ini. Hah. Selamat tinggal korea, selamat tinggal kalian semua. Ayah, Ibu dan.. kamu. Ya, Selamat tinggal buatmu.

***

Jung Soojung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi pesawat dan meremas kuat boneka katak yang diberikan sahabatnya. Dalam beberapa detik kedepan, pesawat Korea Airlines boing Y235Z ini akan segera take off menuju ke arah tujuannya. Jauh dari korea, jauh dari jangkauan orang-orang yang dikenalnya dan mengenalnya.

“Aku tidak akan melupakanmu Jungie.”

 

Soojung kembali membuka matanya mengingat ucapan orang itu. Ucapan yang menurut pendengaran dan penglihatannya, sangat berat keluar dari mulutnya. Soojung kembali meneteskan airmatanya. Kali ini dia terisak karena dia percaya diri akan suara engine pesawat yang sudah siap untuk terbang dan ‘mungkin’ bisa mengimbangi isakannya untuk mengalihkan perhatian orang. Dia sedih, dia kecewa, dia menyesal. Perasaan yang bercampur aduk itu yang membuatnya tak sanggup menahannya lagi.

“Goodbye Summer.. Goodbye Korea..”

I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

***

<<

“Jung Soojung, Choi Minho! Lagi-lagi kalian berdua berbicara saat guru sedang pidato. Aku memperhatikan tingkah laku kalian dari atas podium tadi. Kalian pikir acara pemilihan panitia perpisahan itu main-main? Kalian sudah kelas 3, mantan anggota osis juga, jangan memberi contoh yang buruk pada adik kelas!” ucap seorang guru sekaligus pembimbing OSIS di SMA ini. Minho dan Soojung malah hanya menahan tawa melihat wajah guru bahasa inggris mereka itu. Ya, memang pembimbing osis mereka itu sudah tua dan masih single, atau akrabnya disebut sebagai ‘perawan tua’. Dia sangat sensitif akan hal sekecil apapun, bahkan hanya saling lirik pun mungkin disebutnya ‘bergosip’.

“Kalian tertawa? Beraninya anak-anak ini. Pulang sekolah kalian dikenai hukuman piket kebersihan! Jangan pulang sampai seluruh ruang kesenian musik, tari, dan rupa sudah bersih. Kacanya harus di lap sampai bersih dan semua sampahnya di buang. Arrasseo?” tekan gurunya sambil menurunkan sedikit kacamatanya, memperjelas mata ‘besar’nya untuk menakuti dua orang yang sebenarnya punya mata lebih besar darinya.

Minho dan Soojung berdiri bersamaan setelah mendengar kata ‘usiran’ dan menutup pintu ruangan guru itu dengan pelan. Hitungan ketiga, mereka saling menatap dan kemudian tertawa lebar sambil saling memberikan ‘tos’ kepuasan.

“Siapa yang suruh kalian tertawa diluar sana huh!”

Minho dan Soojung dengan segera melesat dari tempat itu setelah mendengar gurunya mulai meraung.

***

I remember when we were yelled at for talking in the halls

I don’t know why it was so fun even when we were being punished

 

“Kau gila!” gadis ramping, cantik, dan berwajah oriental ini mendenguskan hidungnya sambil memakai sarung tangan dengan ‘terpaksa’.

“Yah! Siapa yang duluan mengupload fotoku di twitter dan membuatku jadi ejekan teman sekelas hm? Aku kan hanya kesal dan memarahimu. Mana ku sangka guru tak laku itu memperhatikan ketampananku dan cemburu pada kita.”

“Ya, ya, ya.. cepat sapunya! Ini sudah 1 jam tapi kau malah asik dengan lagu tidak jelasmu itu!”

“Jung Soojung, ini bukan lagu tidak jelas! Ini aku ciptakan khusus untuk festival nanti. Aku akan menyanyi. Coba sini kau dengar, aku merekamnya sambil main gitar.”

Soojung malah melemparinya dengan skop sampah dan menggeleng padanya.

“Aku sudah bisa membayangkan sejelek apa suaramu, lepas headsetmu itu dan sapu yang benar. Aku pergi buang sampah dulu!”

Minho langsung memberikan tatapan tak percayanya pada sahabatnya yang tega itu. Soojung bersiap mengangkat tong sampah yang berukuran setengah dari badannya dan dengan susah payah menyeretnya sambil menutup hidung. Ya, dia benci sampah dan segala macam hal berbau lainnya. Termasuk ketiak Minho. Apalagi kalau Minho sudah keringatan sehabis bermain bola kaki atau basket saat pelajaran olahraga. Soojung yang sahabat terdekatnya tiba-tiba bisa menjadi orang yang tak mengenalnya sama sekali.

Saat bergumul dengan kewajiban yang paling dia benci ini, dia merasa badannya terseret ke samping dan seketika itu juga pemilik tong itu bukan lagi dia, tapi Minho. Dia menatap Minho bingung.

“Kau bahkan hampir mati kalau aku bau sedikit saja. Sudah, biar aku yang buang sampahnya, kau kerjakan saja tugasku! Babo..” ucap Minho, mengelus rambut Soojung sejenak dan tersenyum. Soojung hanya memajukan bibirnya dan mengangguk menyetujui. Sebenarnya dia sangat senang, untuk kesekian kalinya ‘sahabat’ nya ini mengerti bagaimana dirinya.

***

After that day, we always.. Stuck together like the Astro twins,

You were me, and i was you

 

“Ya ampun Jungie! Itu saja tidak bisa kau jawab? Kau ini sebodoh apa sih?” ucap Minho yang hampir tidak terdengar, pada Soojung dan menggetok kepalanya dengan ujung pensil, mengambil kesempatan untuk berinteraksi saat ke-2 pengawas ujian sedang fokus untuk mengisi laporan jaga mereka. Minho mengeluarkan sedikit kertas ujiannya yang ada dibawah kertas soal dan memperlihatkan jawaban yang dia lingkari. Soojung tersenyum kecil dan mengintipnya tanpa menggerakan kepalanya. Mujur sekali dia duduk tidak jauh dari minho. Hanya terhalang seorang teman sekelas mereka, Key, yang duduk didepan Soojung. Dan Minho duduk tepat disamping Key. Mereka memiliki paket soal yang sama sehingga dia bisa menyontek seperti ini. Soojung sebenarnya pintar, tapi kalau urusan Matematika, Minho unggul darinya.

__

“Ya ampun kalian berdua, tidak bisakah berpisah semenit saja?” Taemin, sahabat Minho yang berbeda kelas dengan Minho dan Soojung merangkul pundak mereka berdua dari belakang saat kedua sahabat ini sedang asik bercanda dijalan menuju kantin sekolah. Hanya ada waktu istirahat 15 menit sampai mereka melanjutkan ujian nasional selanjutnya, Bahasa Inggris.

“Ya! Kau mengagetkanku saja! Mana Sulli? Belum selesai? Tumben kau cepat keluar. Ini matematika loh.” Ucap Minho. Mereka bertiga terus berjalan dengan Taemin menjadi perantara.

“Begini-begini nilai matematikaku yang tertinggi semester lalu! Molla. Dia beda ruangan denganku. Mudah-mudahan saja dia satu paket dengan anak baik dan mau membantunya. Soalnya dia bodoh kalau urusan hitung menghitung, sama seperti ‘pacarmu’. haha” tawa Taemin membuat suasana perjalanan menuju kantin menjadi garing mendadak.

Ya, untuk kesekian kalinya Taemin selalu menganggap Minho dan Soojung ‘pacaran’. Dia tahu kenyataan kalau 2 orang sahabat itu sebenarnya punya perasaan lebih, sehingga membuatnya selalu berbicara tanpa sadar dan menganggap mereka sepasang kekasih.

“Kami cuma berteman bodoh! Jangan menyebarkan gosip yang aneh-aneh. Dan aku tidak bodoh, hanya kurang mengerti saja” ucap Soojung dan langsung melangkah cepat, meninggalkan dua orang sahabatnya menatap punggungnya dalam diam. Minho menatap Taemin kesal. Tepatnya bukan kesal pada Taemin, tetapi kesal pada fakta ‘teman’ yang dia dengar.

“Mianhae.. Kali ini benar-benar tidak sengaja.” Taemin menepuk-nepuk pundak Minho.

“Hah.. berhentilah salah bicara. Dia selalu badmood untuk hal yang seperti itu.” Minho berubah murung dan berjalan pelan. Sesekali menghembuskan nafasnya berat sambil memainkan tangannya yang dia masukkan kedalam kantung celana. Menyusul Soojung yang sudah dari tadi sampai di kantin.

Taemin tiba-tiba menggeleng sambil tersenyum simpati.

“Kapan kau akan jujur padanya?” tanya Taemin. Dia yakin Minho mengerti apa yang dia maksud.

“Apa maksudmu?”

“Tidak usah pura-pura Choi Minho, kapan kau akan menyatakan perasaanmu pada Soojung? Sudah 3 tahun. Kita akan segera lulus. Apa kau yakin akan menyimpannya sendiri?”

“Aku kenyang. Aku ingin belajar sedikit. Kau tahu kan aku lemah dalam bahasa inggris. Kau temani lah Soojung makan.” Ucap Minho. Dia berbalik arah menuju ruang kelas di lantai 2.

“haish. Kau terlalu pengecut Minho. Tanpa kau katakan-pun, aku bisa tahu kau menyukainya. Ini sudah ke 325 kalinya kau menyangkal! Jangan sampai kau menyesal!” teriak Taemin yang dia yakin cukup untuk membuat Minho mendengarnya.

The FRIEND label is a label that i got to hate

The feelings i’ve hidden still remain as a painfull secret memory

__

 

“Hey..”

Soojung mendongakkan kepalanya kaget saat merasakan minuman kaleng dingin sudah menempel di pipinya. Dia sedang berkonsentrasi memikirkan desain panggung untuk festival perpisahan kelas 3, berhubung dia ditunjuk sebagai ketua seksi acara dan dimintai tolong oleh Sulli yang kebetulan seksi dekorasi. Sulli sedang sibuk mengurus peminjaman barang-barang untuk dipakai di panggung. Makanya hanya Soojung ‘sendiri’ yang berkutat dengan ide, berhubung anggota yang lain hanya mejeng nama saja di kepanitiaan tanpa sumbangsih sedikitpun.

“Istirahatlah sedikit, ini sudah sore.” Minho menyambung sapaannya dan duduk di samping Soojung setelah meletakkan minuman yang dibelinya di tangannya.

Mereka sedang berada di loteng sekolah. Tempat favorit mereka untuk makan siang. Menghabiskan waktu bermain bersama bahkan ‘beristirahat’. Bel pulang sekolah sudah 4 jam yang lalu berbunyi, tapi 2 sahabat ini sedang tidak ingin pulang dan hanya menghabiskan waktu di atas gedung. Karena mereka tahu, hari-hari kebersamaan mereka akan segera berakhir. Setidaknya itu yang ada di pikiran masing-masing mereka tanpa perlu mengutarakannya. Mereka akan segera mendengarkan pengumuman dan lulus. Saat ini saja kelas 3 sudah bebas dari kegiatan belajar, mereka hanya diwajibkan untuk mengisi absensi sekolah, setelah itu mereka bebas berkeliaran di sekolah ini sampai jam pulang sekolah asalkan tidak mengganggu kegiatan belajar adik kelas.

Soojung menuruti perkataan Minho dan melepas buku catatannya. Dia membaringkan badannya dan memanjangkan jangkauan tangannya kelangit, melebarkan telapaknya dan merasakan matahari sore yang terselip dibalik jemari mungilnya. Minho ikut berbaring. Dia menutup mata dan menggumamkan nada lagu. Lagu yang asing tentunya di telinga Soojung.

“Nada apa ini? Aku tidak pernah mendengarnya.” Soojung menurunkan tangannya dan menutup mata. Minho tersenyum.

“Kau lupa? Aku menciptakan sebuah lagu. Aku akan menyanyikannya nanti. Ini khusus aku nyanyikan untuk seseorang.”

Mendengar hal itu, Soojung membuka matanya. Dia tak berkata apa-apa, hanya terkurung dengan pemikiran klasiknya. Pemikiran yang sama dari dulu. Perasaannya sendiri.

“Seseorang itu siapa?” gumam Soojung pelan sambil membersihkan kukunya. Tak ada yang kotor disana. Dia hanya mencoba mencari kegiatan untuk menutupi keingin-tahuannya.

“Orang yang aku sayangi.” Jawab Minho. Tetap menutup matanya. Dia menyandarkan tangan kanannya di dahi, memperlihatkan pose andalannya kalau sedang ingin tidur. Dia hanya tidak ingin Soojung bertanya lebih jauh lagi. Dia selalu menghindari topik seperti ini, tapi tidak sadar kalau dia yang memulainya duluan.

“Ah.. kau menyukai seseorang? Haha. Aku bahkan tidak tahu. Kau keterlaluan Choi Minho, menyembunyikannya dari sahabatmu. Hmm.. Suzy? Atau mungkin Sulli?” Soojung mencoba berbasa-basi. Mengalihkan perasaan ‘sakit’ nya mendengar hal itu.

“Suzy? Aku tidak tertarik dengan adik kelas. Sulli? Kau ingin aku berkelahi dengan Taemin, pacarnya?”

Soojung tertawa garing.

“Hentikan Soojung!” teriak Minho dalam hati. Dia tahu Soojung ingin mengerjainya. Mempermainkan hatinya.

“Kau sangat dekat dengan Sulli waktu kelas 2, bahkan lebih dekat dariku, aku pikir dulu kau menyukainya dan mengalah pada Taemin.”

“Soojung, kau tahu ceritanya, kau berkata seolah-olah kau baru mengenalku dan dekat denganku tahun ini. Kau tahu semuanya dari A sampai Z. Kenapa aku dekat dengan Sulli, untuk membuatnya bisa dekat dengan Taemin karena dia meminta tolong padaku. Kau tahu!” Minho mulai mengeraskan suaranya, dia mulai duduk dan menatap Soojung yang hanya diam menatapnya sambil terbaring.

Cukup lama mereka hanya saling memandang penuh arti. Entah mereka ber-telephaty atau apa, yang jelas terlihat mata Soojung berair dan langsung  berdiri, mengalihkan pandangannya. Tidak ingin Minho melihatnya hampir menangis.

“Aku lelah,  aku pulang duluan.” ucap Soojung. Dia mengambil buku dan tas ranselnya kemudian bersiap pergi. Minho menutup mata sejenak melihatnya menjauh. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyambar tasnya secepat kilat dan berlari kecil mengejar Soojung.

“Ayo pulang sama-sama, babo.” Minho tersenyum kecil sesampainya disamping Soojung dan menjitak kepalanya. Seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka pulang naik taksi. Minho dan Soojung adalah orang berada, namun belum cukup umur untuk mengemudi. Dan lagi, mereka tidak suka di jemput oleh supir masing-masing, lebih puas bagi mereka untuk bisa pulang bersama dan bercanda diperjalanan dengan bebas.

***

“CHOI MINHO AKU LULUS! OH TUHAN!”

Soojung berlari ke arah Minho yang sudah dari tadi menerima amplop pengumuman dan dinyatakan lulus. Minho tersenyum lebar melihat Soojung yang keluar dari gedung dan membuka amplopnya bersama Sulli. Mereka lulus. Sulli langsung lari kepelukan Taemin, dan disanalah Minho yang berada disamping Taemin membuka tangannya untuk Soojung, dengan perasaan yang sangat puas Soojung memeluknya dengan erat. Minho bahkan memutar-mutarkan badannya. Membuat siswa-siswi yang lain hanya tertawa dan sebagian mengatakan mereka ‘berlebihan’.

Minho mengelus kepala Soojung pelan dan kembali memeluknya.

“Aku lulus Minho, kita lulus!” Soojung melepas pelukannya. Untuk pertama kalinya, Soojung menangis. Dia bahkan terisak seperti bayi. Saat itu juga jantung Minho kembali berdetak. Dia senang tapi sekaligus ‘tidak suka’ melihat Soojung menangis. Sakit. Ini hal yang kembali mengingatkannya akan kesalahan terbesarnya. Perasaannya.

“KAMI LULUS!!!”

Teriak Minho, Taemin, Soojung, dan Sulli di loteng sekolah. Mereka tertawa terbahak-bahak saking terlalu gembira dengan pengumuman barusan. Ya, selain Minho dan Soojung, Taemin dan Sulli pun sering ketempat ini. Ini adalah tempat kenangan mereka ber-empat. Dan selanjutnya akan menjadi tempat yang akan mereka rindukan pastinya.

Mereka membaringkan diri dan mengatur nafas. Ya, bagaimana tidak lelah. Mereka berlari dari lantai dasar hanya untuk ketempat ini(lantai 4) dan berteriak bersama. Sungguh taruhan ‘kelulusan’ yang konyol.

“Hah. Besok aku dan Sulli akan menerima pengumuman dari Universitas Sungkyunkwan via email. Mudah-mudahan kami di terima.” Ucap Taemin semangat, Sulli hanya menggeleng melihat pacarnya itu berbicara sambil ngos-ngos-an, sembari mengeluarkan minuman kaleng yang tadi dibeli Taemin untuk mereka.

“Kami mungkin minggu depan. Universitas Negeri Seoul pendaftarnya sangat banyak, aku bahkan tidak yakin kalau aku dan Soojung bisa diterima.” Sambung Minho sambil meneguk minumannya. Soojung tiba-tiba menjatuhkan kalengnya dan membuat semua isinya tumpah tak tersisa.

“Omo.. Soojung ah waegeurae?” tanya Sulli. Soojung hanya menatap minuman itu dengan tatapan kosong. Dia sedang memikirkan hal lain. Minho tahu itu tapi dia mencoba berpikiran positif. Mungkin Soojung sedang kurang konsentrasi. Dia langsung memberikan minumannya yang baru seteguk dia minum ke tangan Soojung.

“Minumlah punyaku. Dasar ceroboh.” Ucap Minho. Soojung tersadar dan hanya memberikan senyumnya.

“Ottokhae?” gumamnya dalam hati.

***

“Kau yakin tidak akan menyesal? Kau akan segera pergi dari korea. Minho bahkan tidak tahu tentang hal ini. Fakta kalau dia adalah sahabat terdekatmu dan tidak tahu apa-apa tentang rencana kuliahmu membuatku sedih. Soojung, ayolah. Jangan seperti ini.” Bujuk Sulli. Mereka sedang berada di kamar Soojung. Bersiap untuk pergi ke Festival perpisahan kelas 3.

“Jangan, dia akan membenciku. Minho hanya mendaftar di Universitas Seoul karena aku mengatakan aku akan masuk disana, aku bahkan bercanda dan menyuruhnya menemaniku kuliah disana. Aku tidak menyangka dia benar-benar mengikuti permintaanku. Tapi walaupun aku diterima disana, pendaftaranku di Harvard University di terima, aku tetap disuruh untuk kuliah disana.”

“Baiklah, setidaknya kau harus jujur padanya, jangan menggantung seperti ini! Kalian saling menyukai bodoh!”

Soojung menggeleng pelan sambil terus membedaki wajahnya.

Dia menatap foto-foto selcanya bersama Minho yang dia tempel di kaca riasnya cukup lama. Kemudian kembali fokus pada make upnya.

“Dia hanya menganggapku sahabat, tidak lebih.” Ucapnya. Sulli hanya bisa diam dan menyerah.

The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story.

***

“Selamat malam, terima kasih atas kesempatannya. Baiklah, aku akan membawakan sebuah lagu. Aku memberinya judul, Selene 6.23. Lagu ini adalah lagu ciptaanku sendiri dari kelas 2. Aku menciptakannya berdasarkan apa yang aku rasakan selama ini. Pengalaman pribadi. Untuk seseorang yang selama ini selalu ada disekitarku tetapi sama sekali tidak bisa ku jangkau walau aku sudah berteriak seperti apapun. Buat kamu, orang yang menjadi bulan itu, mudah-mudahan kau mengerti hal ini. Lee Taemin akan mengiringiku dengan Piano. Mudah-mudahan guru dan teman-teman semua juga terhibur dengan lagu ini.”

Sorakan para siswa dan siswi menggema di bawah panggung. Sebagian bersiul menyoraki ucapan penuh arti Minho tentang orang yang dia ‘sukai’. Sebagian siswi merasa terharu dan berteriak kagum. Berbeda dengan 2 orang yang berdiri di sudut belakang dengan memakai gaun biru dan pink. 2 orang sahabat yang mengerti apa maksud ucapan Minho. Yang satunya mengerti siapa gadis itu dan prihatin dengan hubungan mereka, dan satunya lagi merasa ‘percaya diri’ akan siapa wanita itu, tapi tidak ingin bermimpi terlalu tinggi dan takut kalau akhirnya yang ada dipikirannya ternyata ‘salah’.

Selene 6.23

Look at my eyes, I whisper alone as I look at you from far away

Just smile for me once, I can endure it just by seeing your face

If you are standing at the end of my life, if I can get closer to you

I can throw away everything and run to you

 

Though I extend my hand, though I extend it with all my strength,

I can’t reach you

It seemed like I got closer so I called you with a fluttering heart

But there’s no answer, I guess I can never reach you

 

Every day changes so quickly and you are warmly and brightly shining

I’ve never seen that turned back (your back) – is curiosity also part of my greed?

 

Since when did I start being with you? From the moment I opened my eyes and started to breathe

I was with you every night (we were together) but I can’t approach you

 

Though I extend my hand (hold my hand), though I extend it with all my strength,

I can’t reach you

It seemed like I got closer so I called you with a fluttering heart But there’s no answer (missing you),

I guess I can never reach you

 

Even if you tease me by saying this is foolish, I can’t turn this heart around

I shout out loud (shout out loud and call you), I get angry but it’s no use

I’m just one out of the many people that pass by you (pass by you)

I’m not special to you

 

Though I extend my hand, though I extend it with all my strength, (I can’t reach you baby) I can’t reach you

It seemed like I got closer (so I shout outloud and call you)

so I called you with a fluttering heart (I call out to you more)

But there’s no answer,

I guess I can never reach you

I guess I can never reach you

Tepuk tangan memenuhi gedung itu. Minho menutup mata setelah menyudahi lagunya, menahan tangisnya. Saat dia membuka mata mencari keberadaan orang dari lagu ini, dia terbelalak kaget saat melihat Soojung berdiri dengan mata berair dan berlari meninggalkan gedung. Dapat terlihat Sulli berusaha mengejarnya namun dihalangi oleh keramaian. Minho langsung turun dari panggung dan mengejarnya. Taemin yang baru saja menutup tuts piano dan berdiri, hanya bisa tersenyum pasrah melihat sahabat-sahabatnya ini.

Your Song on the last day of school festival…

 

Minho berlari ke loteng Sekolah, tapi dia tidak mendapati Soojung disana.

“Soojung ah, neon oddieya?” Minho berteriak mencarinya. Cemas sekaligus bingung akan reaksi Soojung mendengar lagu itu. Entah Soojung menyadari itu dia atau mengira itu lagu untuk orang lain.

“Kau tahu, saat musim panas, orang selalu pergi ke laut dan menikmati pemandangannya. Tapi aku malah menyukai laut pada malam hari. Musim panas pada malam hari di pantai sangat nyaman dan tenang, asal kau tahu. Haha. Ujung lautan tidak terlihat, dan ada pantulan bulan dan bintang disana.Joha!”

Ucapan Soojung sewaktu dia dan Minho berjalan-jalan di pantai saat liburan musim panas kelas 2 terngiang di ingatannya. Dengan secepat kilat Minho berlari, menahan taksi dan menuju pantai.

The flickering summer sea..

 

“Kenapa kau lari?”

Soojung sedang duduk di pantai dan melempar bebatuan kecil di laut. Angin berhembus sangat kencang membuatnya merasakan dingin. Balutan Jas yang tiba-tiba dipakaikan oleh Minho sukses mengagetkannya. Minho memburu nafasnya dan duduk disamping Soojung. Soojung hanya kembali menatap pantai dan mempererat jas Minho di tubuhnya. Dia menyukai bau parfumnya dan kehangatannya.

“Aku tidak lari.”

“Huh, jangan bohong. Aku melihatmu menangis..”

“Aku terharu dengan lagumu, itu saja. Aku tak menyangka sahabatku mempunyai suara yang bagus. Chukkae Choi Minho, sepertinya kau berbakat menjadi penyanyi. Kali ini aku memujimu!”

“Ah.. ‘Sahabatmu’. ‘Sahabatmu’ punya suara bagus dan kau baru menyadarinya. Kau keterlaluan.” Ucap Minho sambil tertawa paksa. Minho menahan emosinya. Dia ingin sekali berteriak dan menyatakan perasaannya tapi nyalinya terlalu ‘lemah’ untuk mengatakannya.

“Haha.. Mianhae.. Lain kali aku akan lebih sering memujimu kodok.” Ledek Soojung. Menyandarkan kepalanya di bahu Minho.

“Ya, akan banyak lain kali dan aku yakin kau akan semakin menindasku. Haha. Aku tidak akan meladenimu di kampus nanti kalau begi..”

“Tidak akan ada lain kali.” Potong Soojung. Minho tersentak, terdiam akan ucapan tiba-tiba Soojung.

“Maksudmu?” Minho menolehkan kepalanya, mencoba menangkap wajah Soojung. Soojung berhenti bersandar di bahunya dan menatapnya dalam.

“Mianhae, aku akan ke Amerika. Aku di terima di Harvard. Ayahku memaksaku kuliah disana dan aku tidak ada pilihan lain selain pergi. Mianhae, aku mengingkari janji kita untuk kuliah bersama. Aku betul-betul menyayangimu… sebagai ‘sahabat’ku. Aku tidak ingin kau kecewa. Mianhae. Aku tidak pernah mengatakannya karena aku takut kau akan mencari sahabat baru dan menjauhiku. Minho yah.. Mianhae.” Mata Soojung berair. Terlihat penyesalan disana. Dia memegang tangan Minho yang entah kenapa berkeringat.

Disisi lain, Minho menatapnya tak percaya, semua ucapan Soojung seperti tebasan pedang baginya. Semua usaha dan semangatnya untuk mendaftar dan kuliah di universitas itu hanya untuk Soojung sirna sudah. Orang yang ingin dia jangkau akan pergi jauh. Jauh dari jangkauannya. Kali ini benar-benar sesuai dengan lagu ciptaannya sendiri.

I Can Never Reach You – Selene 6.23

Minho tidak tahan lagi, dia menyesali semua kegagapannya, kebodohannya selama 3 tahun ini, yang akhirnya menghasilkan kekosongan. Matanya berair. Walaupun dengan bodohnya dia masih berusaha bersikap kuat sebagai lelaki. Menahan airmata nya agar tidak mengalir.

“Mi..Minho yah.. waegurrae? Kau menangis?” tanya Soojung tapi Minho tidak menjawab apapun. Badannya bergetar dan dia menutup wajahnya. Membuat Soojung tidak tahan dan langsung menyambar memeluknya. Menangis terisak.

“Mianhae.. Jeongmal mianhae..”

Our feelings that were precious because we were together

Like the deepening night sky, goodbye

***

You cried so much on the day before graduation

You held it firmly since you are a guy

Just like that hot summer when we couldn’t say what we wanted,

Goodbye

 

“Kau yakin tidak akan menyusulnya ke bandara? Dia berangkat pagi ini makanya dia tidak mengikuti upacara kelulusan. Dia sudah mengambil ijazahnya duluan. pergilah. Kejar dia dan utarakan perasaanmu.” Suruh Taemin.

Mereka baru saja mengikuti ceremoni kelulusan. Tanda tanya yang berkutat di kepala Minho terjawab sudah. Kenapa tidak ada Soojung, kenapa namanya tidak dipanggil saat pembagian penghargaan dan ijazah. Semua karena dia akan pergi. Meninggalkan dia yang masih bingung akan perasaan Soojung padanya.

“Pergilah Minho, 30 menit lagi keberangkatannya. Jangan sampai kau menyesal.” Sambung Sulli. Minho hanya menggeleng dan memasuki mobil yang sudah menjemputnya bersama orangtuanya yang juga menghadiri acara itu.

“Sudah berakhir.” Ucap Minho pada Taemin dan Sulli. Membuat pasangan ini hampir gila tak percaya melihat sahabat bodoh mereka.

What do I say, we didn’t have to play no games

 I should’ve took that chance, I should’ve asked for you to stay

And it gets me down

the unsaid words that still remain

The story ended without even starting

***

“Penumpang dengan nomor penerbangan Y235Z tujuan penerbangan Cambridge, Amerika serikat, silahkan melakukan check in.”

“Dia tidak akan datang. Soojung babo. Kau terlalu banyak bermimpi!” dia merutuki dirinya sendiri dan memantapkan dirinya memasuki gate keberangkatan. Sudah 3 kali dia berbalik kebelakang, berharap ada yang memanggil namanya, tapi tak ada satupun.

“Soojung, Jung Soojung!”

Soojung mendengar namanya di panggil. Dia tahu betul suara itu. Dan benar, saat berbalik, Choi Minho ada di luar gate. Mencoba masuk namun dilarang oleh petugas.

“Jaebal,Pak, aku hanya ingin memberikan ini padanya!” Minho memegang boneka kodok ditangan kanannya dan memohon hampir menangis pada petugas gate. Soojung menatapnya sambil menangis di balik pintu kaca. Bahkan petugas di dalam pun tidak mengijinkannya keluar.

“Gwaencanha Choi Minho. Gomawo sudah datang mengejar. Gomawo..” teriak Soojung. Walaupun tidak dapat terdengar jelas oleh Minho, tapi Minho bisa mengerti maksudnya. Minho hanya bisa menangis dan menggeleng terus menerus, tidak ingin Soojung pergi.

“Mianhae Minho yah.” Gumam Soojung pelan. Tapi Minho dapat membaca bibirnya.

“Aku tidak akan melupakanmu Jungie!!”

 

Teriak Minho. Membuat penghuni bandara memperhatikannya. Soojung mengangguk sambil menahan tangisnya yang kembali ingin meledak. Kemudian, panggilan bandara kembali mengingatkan Soojung dan dengan sangat terpaksa dia harus segera pergi untuk check in. Dia mundur dengan perlahan dan tetap melihat wajah Minho sampai orang itu hilang dari pandangannya.

“Saranghae..” ucap Soojung dan Minho bersamaan, ‘dalam hati’.

“Permisi, petugas bandara menitipkan ini pada saya untuk anda nona. Katanya ini adalah benda yang sangat berharga untuk nona. Dia tidak tega dan ingin menyampaikan pesan orang yang menitipkannya makanya dia meminta tolong menghubungi pihak pesawat. Apakah benar ini punya anda nona?” tanya pramugari. Soojung mengangguk cepat dan merampas boneka itu dari tangannya.

“Go..Gomawo..” ucap Soojung masih dengan mata sembabnya. Dia tidak menyangka petugas gate itu masih berbaik hati pada Minho dan dia.

FLASHBACK END.

Saat pesawat akan segera take off, Soojung kaget akan secarik kertas yang terselip di mulut boneka itu. Dia membuka dan membacanya perlahan dalam hati.

“Jung Soojung, jujur, aku punya sebuah perasaan yang selama ini membuatku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Bahkan di tulisan tangan inipun aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak tahu kalau kau punya perasaan yang sama denganku atau tidak. Tapi kalau iya, kumohon kau tunggu aku. Entah aku yang akan kesana atau kau kembali ke korea. tergantung takdir yang membawa kita kemana. Yang jelas, aku akan mengatakannya langsung padamu saat kita bertemu. Aku akan menunggu hari itu. Aku akan menunggumu. Mianhae, aku terlalu bodoh dan pengecut. Mianhae Jung Soo Jung. Mianhae. Aku memberikanmu boneka ini sebagai bukti saat kita bertemu nanti, dan kau masih membawa boneka ini, itu berarti kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Goodbye Soojungie. Mianhae. Gomawo.”

 

I’m sorry that this is a monologue

Oh, actually, I love you,

yeah If only our long-time hidden secrets were revealed

I would hold you in my arms

***

TAMAT

Bercanda…. hihi

5 Tahun kemudian.

“Ya! Kalian akan menikah? Yang benar saja, kalian baru setahun lulus bodoh! Selama ini aku tidak tahu apa-apa!” teriak Minho kaget dan tidak terima melihat kedua sahabatnya mengumumkan rencana pernikahan mereka.

“Jealous? Makanya cari pacar bung!” ledek Taemin sambil merangkul pundak Minho. Membuat Minho memutar mata dan melepas tangannya risih.

“Jangan menghinaku. Aku akan mencarinya, nanti.”

“Mencarinya atau menunggunya pulang? Kau terlalu melankolis dan pemalas. Untung-untung kalau dia masih sendiri. Kalau dia ternyata sudah berkeluarga? Apa kau akan terus duduk dan menunggu dengan bodoh saja disini? ” Ucap Sulli tajam dan langsung terarah di hati Minho. Minho mencoba mengacuhkannya, walaupun dia tahu itu benar. Sangat benar.

“Ya! Siapa suruh kalian hanya bergosip disini? Acaranya akan segera dimulai anak-anak bodoh. Dari dulu sama saja kebiasaan kalian.”

“Ah, Jeosonghamnida Songsaengnim!” mereka bertiga membungkuk meminta maaf bersamaan. Setelah guru itu pergi, mereka bertiga langsung tertawa.

Ya, hari ini adalah hari pernikahan. Dan yang akan menikah adalah mantan guru dan pembina osis di angkatan mereka. Ibu guru yang selalu dijuluki ‘singa tanpa taring’ dan ‘Perawan Tua’ itu akhirnya mendapatkan jodohnya. Karena ke 3 anak muridnya yang sebenarnya paling dia sayangi ini masih bergosip, akhirnya dia sendiri yang turun tangan memanggil mereka.

Mereka bertiga langsung berlari memasuki gedung karena takutnya.

“Taemin, Sulli, wait for me! Ya!”

Suara itu, panggilan nyaring itu membuat ke 3 sahabat ini tersentak kaget dan saling memandang. Terlebih pemilik mata besar itu. Mereka bertiga berbalik dan kaget luar biasa saat melihat gadis bergaun hijau gelap tanpa tali dipadukan dengan sepatu hitam bertabur perak dan rambut yang di kuncir indah memperlihatkan leher jenjangnya. Gadis ini tidak berubah. Apapun. Sama.

“Oh My God Jung Soo Jung!!!” teriak Sulli yang langsung berlari ke arah Soojung yang melambai pada mereka. Minho mematung. Bukan hanya kehadiran Soojung yang membuatnya kaget, tapi boneka kodok pemberiannya yang sedang melambai indah di tangan Soojung yang membuat kekagetannya itu mencair menjadi senyuman lebar.

“Ya! Kenapa kau baru datang? Babo. Aku merindukanmu bodoh!” teriak Minho, ‘dalam hati’. Dan segera berlari kearahnya menyusul Sulli dan Taemin.

END

So, how’s it? Cerita ini murni terinspirasi dari lagu f(x) di album terbaru mereka (jangan lupa beli ya,gak bakal nyesel) , Pink Tape. Goodbye Summer.

Mudah-mudahan kalian suka, sorry panjang. Abisnya saya tdk berbakat bkin ff oneshot.

Last but not least, TOLONG DIHARGAI FF SAYA YA🙂 berikan komen yang membangun. Gomawo. Buat yang tidak komen, satu kata saja dari Patty, “TEGA”.

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , | 22 Comments

Post navigation

22 thoughts on “I’m a fool, Goodbye Summer

  1. zalikachanchen

    KYAAAAAAA BAGUSSSSSS >.< SUKA BANGET BANGET BANGET BANGETTTTTT!!!!

  2. githapril

    wow, ffnya kerenn ><, jdi bete pas bca kata 'TAMAT' -_- tp eh ternyataa,, *lompatindah
    aq suka ceritanya, gbungan dri 2 lagu yg emang nyambungg bngett, pkokne 2 thumbs dehh, mksih udh bwt ff minstal sbaguss ini chingu, jgn bosen" nulis minstal yahh, d tunggu ^^b

  3. Magdalena

    Aaaaah ngena banget FFnya😦

  4. yeoppo noona

    Ahhhh
    princess soojung lagi cast nya.
    Hhha
    suka thorrrr
    aku kira endingnya bakal garing.
    Tappi trnyata endingnya keren, lebih suka ending kek gini.
    Hhee
    bingung banget ama sikap minho & soojung unnie. Uhft grgetan liat mereka bedua.
    Sorry thor, ga berbakat komen yang membangun. Kkkkk (_ _”)V

  5. anis

    asli.. keren bagus pake BGT pula
    *nangis d pojokan
    terus endingnya gmna???
    nggangtuuuungg.. kenapa si minstal ga di jadiin aja..
    aigooo… gemes sm minstal..

  6. hongshuna

    Bagusss… Aku suka bangett… Feelnya dapet! DAEBAK!

  7. sonexo

    Daebaaaak, suka jalan ceritanya haha
    Sequel dong sequel^^

  8. NBKpop

    suka banget😀 lagi thor, Minstal ya ya ya …

  9. Chika

    Kyaaa bgus bgt
    krya trus ya thor:)

  10. Milenia Fara Endira

    Whuaa… FFnya bagus banget thor…
    Aku aja bacanya sampai nangis…😥
    Hua…Bagus kok thor…
    Dibikin yang selanjutnya dong😉

  11. shortlegged

    suka bangeeeeeet~~~
    selalu suka baca cerita kalo minho.nya suka diem2 sama soojung.
    suka. banget.

  12. Taemin's

    Bagus bingitt sequel kalo bisa ya thor^^

  13. kya~
    aku nangis, thor. beneran!
    aigoo~, Minho oppa pengecut bnget sih #ditabokMinho
    ffnya daebak!
    sequel please, thor #puppyeyes

  14. minho oppa terlalu penakut nih buat ngakuin perasaannya!
    epep nya bagus+lucu,baru nyadar ada guru dengan ledekan perawan tua atau singa tanpa taring(?)…
    sequel ya thor!please..kalau gak di buat sequel jadi nge-gantung..padahal ceritanya bagus..#masang tampang muka aegyo ala yoogeun di hello baby SHINee

    NB:mian komennya banyak …hehehhehe

  15. kartika melia

    Wahhhh minstal<3 duhhh akhirnya krystal balik juga:)

  16. cheny

    Bagus (y) aku suka sama ff nya

  17. Ini Keren!
    Sungguh!
    Aku bahkan hampir menitikkan mata saat scene festival sekolah itu… (dan hampir membuncah di kata TAMAT T^T)
    Kisah ini mirip kisahku dan ‘dia’, haha
    Tapi tentu saja, ini lebih berkelas dibanding kisahku…
    Huks, tiba-tiba aku jadi tidak bisa mengontrol air mata lagi begitu aku mendengarkan Goodbye Summer setelah membaca ini

    Daebak!
    Terimakasih, telah membuat cerita indah ini, author-ssi!

  18. Annisa Kpopers

    Iuwowowowowowwuwowowowowowooo #gila. Serius. INI FF ANE LIKE MUCH *ngomong ape sih. Apalagi ane emang suka bingit ama goodbye summernya #gananya. Tapi kyknya Miss Patty naruh lagunya yg versi Ing. ya? Pantes ane cari cari kagak ada yang ada malah part amber yang emang pake bhs inggris separoh. T.T Ya wis lah

  19. Kok udah tamat sih chingu ?? Kurang panjang nih . . .
    Boleh tu dibuat sequel-nya . . .

  20. Nadia SonElf

    Jujur aku nangis bacanya😥
    Bagus ditunggu karya ff selanjutnya

  21. parkhyojin

    suka banget, aaaaaa
    ngak tau mau ngomong apa. apalagi pas bacanya sambil dengerin godbye summer rasanya keikut sama jalan cerita ff-nya
    joah

  22. yoonjunghae11

    Huaaa ceritanya ‘ngena’ banget ya 😂😂😂😂 hihihihi untung gak jadi friendzone mereka :’v huaaa ,aku sempet mau protes pas ada kata TAMAT itu,eh ternyata -_-
    Udh ah thor,gatau mau ngomong apaan lagi… 😂
    Semoga author.mau berbaik hati bikin sequel,huehue? Minstal jjang^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: