Inverse

Summary: Yin dan Yang selalu memenuhi segala aspek di semesta. Termasuk dalam kehidupan manusia. Ada kalanya bahagia, dan tak jarang banyak menimbulkan kesusahan. Ini hanyalah sekumpulan kisah yang membuktikan bahwa tak semua cerita bisa berakhir dengan indah.

 

Romance/Angst | SHINee & f(x) | Oneshot

PG-15 rated. Beware of the content.

The idea originally came from my head, but the characters belong to their families and God itself.

 

Inverse © Park Sooyun

 

 

 

 

 

Ontoria

 

Terjerat

 

Impresi pertama memang bisa menipu, ya? Terkadang aku menyesal saat kuingat betapa mudahnya aku jatuh ke dalam pelukanmu saat melihat impresi pertama yang kudapatkan tentangmu. Pemuda yang ramah, baik, murah senyum… Semuanya sempurna. Atau anggap saja begitu.

Hubungan kita berawal dari hubungan senior dan junior di kampus, lalu berkembang menjadi persahabatan hingga akhirnya aku terikat denganmu dalam hubungan cinta. Semuanya berlalu dengan sangat cepat hingga aku tak sadar―bahwa aku mulai terjerat oleh obsesi anehmu.  

Aku tahu seluk-beluk kehidupanmu yang tidak terlalu mulus itu. Kau lahir dalam keluarga broken home. Tanpa seorang ayah. Ibumu yang seharusnya merawatmu justru pergi meninggalkanmu dan kakak perempuanmu. Akhirnya tinggalah engkau dengan kakakmu yang menggantikan peran ibumu. Semuanya bertambah buruk ketika kakakmu terlibat dalam kecelakaan bis beberapa tahun silam. Dalam sekejap, kau menjadi kesepian.

Sekilas aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tahu benar bagaimana rasanya kesepian, karena aku juga pernah merasakannya. Begitu kita menjadi dekat, kau mulai terbuka padaku terhadap masa lalumu. Kau bercerita bahwa selama ini kau tidak punya seorang teman pun. Seolah tak ada yang peduli terhadapmu. Lalu kau tersenyum padaku, dan berterima kasih karena ada seseorang yang mau peduli denganmu.

Kurasa, saat itulah aku terjerat dan kau mulai memunculkan obsesi anehmu. Yaitu obsesi untuk memiliki diriku seutuhnya.

Semuanya berawal saat aku berkata bahwa aku akan mengikuti lomba menari pertamaku dan aku akan melakukannya bersama seorang rekan laki-laki. Kau langsung mengerutkan dahimu begitu mendengarnya, lalu perlahan membujukku supaya tidak melakukan hal tersebut.

Kau bilang, “Bukannya aku tidak suka kau menari, tapi aku tidak percaya pada laki-laki itu. Lagipula, apa kau mengenalnya dengan baik?”

Meskipun aku dan laki-laki itu pernah berlatih beberapa kali bersama di studio latihan, tapi aku memang belum terlalu mengenalnya. Jadi, kuturuti apa perkataanmu.

Semakin lama, permintaanmu semakin naik level saja. Saat aku berkata akan mengurus proyek bersama teman laki-lakiku, kau kembali melarang, mengatakan alasan yang sama dan entah kenapa aku mengikuti perkataanmu. Begitu juga untuk yang ketiga kali, keempat kali hingga akhirnya aku lupa sudah yang keberapa kali kuturuti obsesi anehmu itu.

Lama-lama aku merasa lelah. Kehidupanku seharusnya bisa kuatur sendiri. Aku memang mencintaimu, wahai Tuan Posesif. Tapi seterjerat apapun diriku denganmu, aku ingin bisa berjalan sendiri.

Rasa lelah itu semakin terasa nyata. Hingga akhirnya aku sadar telah berada di depanmu dengan kata-kata yang menggantung di lidahku―hampir meluncur begitu saja jika aku tidak tahan.

“Kau punya waktu untuk bicara?”

Pertanyaan itu hanya kau jawab dengan senyuman khas dan anggukan kecil dari kepalamu.

“Ada apa?”

Keraguan sempat merayapi hatiku. Bukannya aku takut untuk menyampaikan apa yang kurasakan. Aku hanya bertanya-tanya apa yang akan kaulakukan saat mengetahui isi pikiranku.

“Hari ini aku akan melatih beberapa penari baru di studio―”

“Mereka laki-laki?”

Persis seperti apa yang kupikirkan. Belum kuucapkan semuanya, namun kau sudah memotong pembicaraanku seolah-olah aku ini anakmu.

Aku menghela napas. “Sebagian dari mereka adalah laki-laki.”

“Bukannya aku ingin melarang, tapi…”

Heh, itu sudah termasuk kategori ‘melarang’, ‘kan?

“…aku hanya khawatir padamu.”

“Tak perlu khawatir. Aku sudah dewasa,” Sekuat tenaga aku berusaha meyakinkanmu. “Lagipula mereka tak akan macam-macam. Rekanku yang lain juga akan hadir di sana.”

“Tapi―”

“Kau tidak perlu takut,” ucapku. “Aku akan baik-baik saja. Kau percaya padaku, ‘kan?”

Matamu meneliti tiap sudut wajahku. “Masih banyak kegiatan lain yang bisa kau ikuti.”

“Tapi kegiatan yang bisa kuikuti hanyalah menari!” desahku. Lama-lama aku tidak bisa menahan rasa kesal yang tersimpan di dadaku. “Aku tidak bisa seperti ini terus.”

Ketika kulihat gelengan dari kepalamu, aku langsung sadar bahwa tak ada cara untuk meyakinkanmu.

Menyerah, aku memutuskan untuk pergi. Namun sebelum aku benar-benar melangkah, kau mencengkeram pergelangan tanganku dan menyeretku ke pelukanmu.

“Kau tidak boleh pergi!” serumu. “Jika aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh!”

“Apa yang terjadi padamu?” tanyaku sambil berusaha untuk melepaskan diri. Namun pelukanmu bertambah erat. “Kenapa kau jadi seperti ini?”

“Aku tidak ingin kehilanganmu.”

“Kau harus percaya padaku!”

“Terakhir kali aku percaya pada perempuan, perempuan itu duduk di sampingku sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya, esok kemudian dia meninggal! Aku tak ingin hal itu terjadi lagi padaku.”

Air mataku menetes. “Lepaskan… Aku janji tidak akan pergi.”

“Kau memang tidak akan pergi. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukannya.”

Ya Tuhan, karma macam apa yang kumiliki hingga aku terjerat dengan pria macam ini yang terobsesi denganku?

 

 

 

 

Jongna

 

Takdir

 

Rasa sakit kembali mendera tubuhku. Kepalaku terasa pusing, perutku mual dan aku tak dapat menggerakkan kedua kakiku. Alhasil, aku tidak berpindah tempat dari posisiku semula. Tergeletak di lantai dan hanya beralaskan karpet. Keadaan ini jauh lebih baik. Kemarin aku tergeletak di tempat yang sama tanpa selimut. Kedinginan dan hanya membuat luka di tubuhku terasa makin sakit. Dan mengetahui kau yang tak ada di dekatku membuat batinku makin sakit.

Sekuat tenaga aku berusaha untuk duduk.. Tanganku meraih dinding di belakangku dan aku berusaha untuk berdiri. Nafasku terengah-engah. Selimut yang menutupi tubuhku jatuh ke lantai dan alhasil kesunyian dapat menikmati ketelanjanganku. Buru-buru kuhampiri lemari dan mengambil baju, kemudian lekas memakainya.

Angin dingin bertiup dari arah utara, masuk melalui sela-sela ventilasi. Aku yang hanya berselimutkan baju tipis menggigil, lalu bergerak ke arah tempat tidur dan meringkuk di atasnya. Kutekuk kedua kakiku dalam-dalam dan sebisa mungkin membuat diriku nyaman. Ketika aku menoleh ke arah jam dinding, jarum-jarum yang bergerak teratur itu membuatku sadar bahwa kau akan datang sebentar lagi.

Kupalingkan wajahku. Aku tak tahu, kedatanganmu adalah sesuatu yang harus dirayakan atau justru dikutuk. Beberapa tahun yang lalu aku memang ingin mengabdikan diriku padamu sebagai seorang istri. Aku yakin bila memang inilah takdirku―hidup bersamamu.

Sayangnya, mungkin ini menjadi takdir terburukku.

Hampir aku tak pernah merasakan perlakuanmu sebagai seorang suami. Jikalau pernah, pasti sudah lama sekali karena aku sama sekali tidak ingat. Justru yang kuingat adalah kelakuanmu yang tak terkendali bagaikan seekor binatang. Setiap malam kau pulang dengan sebotol soju di tanganmu. Pandanganmu menyapu seluruh ruangan dengan buas, seolah-olah mencari obyek yang dapat menjadi sasaran kemarahanmu. Dan tangan kirimu yang bebas menarik bahuku lalu menghempaskan tubuhku yang lemah ini dengan keras ke arah tembok. Biasanya saat hal itu terjadi, aku berada dalam keadaan setengah sadar. Namun satu hal yang kutahu, dengan beringas kau melucuti seluruh pakaianku. Sekiranya aku tak perlu apa yang terjadi selanjutnya.

Aku tak keberatan hal itu terjadi, karena ikatan kita sebagai suami-istri mengijinkannya untuk terjadi. Namun tidak bisakah kau melakukannya dengan segenap perasaan cinta yang dulu pernah kaukatakan padaku? Bukan hanya dengan amarah yang ingin diluapkan atau sekedar nafsu belaka.

Ada kalanya hidup terasa sulit hingga membuat kita hampir tak yakin untuk menjalaninya. Dan kurasa, masa-masa itu sedang kita rasakan. Aku tahu tuntutan dunia yang begitu berat mungkin membuatmu benar-benar hampir menyerah. Aku tak akan melarangmu untuk berhenti melangkah bila kau sedang lelah, beristirahatlah wahai suamiku. Kau boleh kehilangan harapan, tapi tolong… jangan sampai kehilangan moralmu sebagai manusia.

Entah kau pura-pura lupa atau memang karena saking lelahnya kau memutuskan untuk tidak peduli lagi padaku. Dulu kita pernah berjanji untuk menjalani kehidupan bersama-sama dan menghadapi segala kesusahan berdua layaknya suami-istri lain. Lalu kenapa kau tanggung semua beban itu di pundakmu tanpa membaginya denganku hingga akhirnya pundakmu cedera?

Kala senja hampir kembali ke peraduannya, di saat itupula kau datang. Derit pintu yang memberitahu bahwa kau telah datang. Tak seperti biasanya, kali ini kau kembali bukan dengan amarah di wajahmu atau botol soju di tangan kananmu, namun seberkas luka lebam di pipimu. Naluriku sebagai seorang istri muncul. Aku pun bangkit dan berusaha untuk mendekatimu. Namun sekali lagi―kau menghindariku dan tetap menyimpan beban itu sendirian.

“Kenapa dengan luka itu?” tanyaku.

Kau tidak bergeming.

Aku mendekat. “Katakan padaku. Apa yang terjadi?”

“Hanya masalah kecil yang terjadi antara aku dan bosku,” jawabmu dengan raut wajah tak peduli.

“Jangan katakan bila sekarang kau bekerja dengan mafia!”

Dengan penuh amarah kau mendorong tubuhku ke dinding dan menekannya dengan tubuhmu. “Tidak usah ikut campur, Perempuan! Aku sedang berusaha untuk menafkahimu!”

“Ada banyak pekerjaan, tapi kenapa kau memilih yang paling rendah?” tanyaku sambil berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeramanmu.

“Kau kira gampang mencari pekerjaan?” bentakmu. “Karena kebakaran setahun yang lalu, harta kita habis semua dan aku tak bisa melamar pekerjaan karena tak ada ijasah yang bisa digunakan!”

“Itu bukan alasan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar!”

Amarahmu semakin memuncak. Dengan keras kau mencengkeram bahuku dan mendorongku ke arah tempat tidur. Aku menyadari, bahwa moralmu yang telah terganti oleh naluri hewan akan muncul tak lama lagi.

Kau mencium bibirku dengan kasar. Tak mau kalah dengan peringaimu yang begitu buruk, aku berusaha untuk melepaskan diri. Perlakuanmu makin kasar. Di saat yang sama, aku merasakan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadaku. Rasanya jantungku seperti tertusuk jarum.

Tak ayal, aku memegangi dadaku. Rasa nyeri itu kembali menyerang. Aku mengerang di bawah tubuhmu yang masih saja tak peduli dengan keadaanku. Kini dadaku terasa sesak. Dalam sekejap aku tidak bisa bernafas. Mataku membelalak lebar. Mulutku megap-megap tak karuan.

Sepertinya kau mulai menyadari kesakitanku yang tiba-tiba ini. Kau berhenti dan memandangiku dengan syok. Aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi padaku. Kesadaranku turun jauh dan mataku setengah terpejam. Yang sadari kemudian adalah langit-langit berwarna putih dan suaramu berserta seseorang yang tak kukenal.

“Apa yang terjadi padanya, Dokter?” Aku dapat mengenal suaramu. Namun yang tak kukenal adalah kekhawatiran yang tersirat di suaramu, karena kau hampir tak pernah menunjukkannya padaku.

“Istri Anda terkena serangan jantung mendadak.”

“Tapi dia tidak menderita penyakit jantung.”

“Ini bukan serangan jantung biasa, melainkan SADS atau Sudden Arrhytmia Death Syndrome. Sindrom ini bersifat genetis dan menyebabkan jantung mengalami gangguan, bahkan berhenti mendadak. Tim medis kami akan berusaha sebaik mungkin.”

“Selamatkan dia, Dokter. Kumohon, selamatkan dia!” pintamu. Aku dapat merasakan getar di suaramu dan getar itu terdengar begitu asing bagiku.

“Kami akan mengambil peralatan dan menyiapkan ruang operasi bila dibutuhkan. Mohon tunggu sebentar.”

Mataku yang setengah terpejam kini sepenuhnya terpejam. Kekuatanku habis hingga membuka mata pun terasa sangat sulit.

Kudengar suara terisak. Hei, apakah itu suaramu?

“Jangan pergi… Kumohon…” isakmu. “Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Tolong, tetaplah di sini…”

Rasanya aku ingin menangis. Namun badanku benar-benar sudah tak dapat bergerak. Satu-satunya yang kini dapat kulakukan hanyalah mendengar. Mendengar suara tangisanmu dan merasakan setetes air yang terasa dingin di kulit tanganku.

“Aku mencintaimu… Tolong, jangan pergi…”

Kata-kata itu terdengar begitu indah bagiku yang hampir sekarat. Aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun, sejak kau kehilangan seluruh harapanmu beserta moralmu.

Aku pernah berpikir mungkin takdirku adalah dengan bersamamu. Takdir itu terasa begitu buruk. Namun sekalipun pahitnya hampir tak dapat dilupakan, setidaknya aku mendengar serangkaian kata yang membuktikan bahwa masih ada moral sebagai manusia di dalam benakmu, masih tersisa kasih sayang dan kepedulianmu padaku.

Setidaknya aku dapat merasakan kebahagiaan saat kau kembali menemukan jati dirimu sebagai manusia. Sebelum akhirnya mataku menjadi buta sepenuhnya dan telingaku benar-benar tuli.

Dan aku tak bisa bangun lagi.

 

 

 

 

 

 

Keyber

 

Konsep Tentang Tali

 

Gagal lagi. Entah kenapa aku selalu gagal.

Meskipun aku sudah memikirkan segala kata-kata yang akan kuucapkan padamu, namun nyatanya hal itu sudah tak berguna lagi. Rasanya aku ingin meninju diriku sendiri yang tak mampu untuk menolakmu.

Ini adalah yang kesekian kalinya kau datang padaku. Dengan wajah tertekuk, bibir yang melengkung ke bawah, mata yang berkilat-kilat memohon… Suatu ekspresi yang selalu kau jadikan senjata saat menginginkan sesuatu dariku.

Awalnya aku menggeleng saat kau memulai lagi kebiasaanmu. Namun wajahmu yang terlihat makin sedih membuatku tak tega. Dan pada akhirnya, aku menyerah juga. Pertahananku runtuh. Idealismeku seratus persen hancur. Sekarang aku total menjadi budakmu lagi.

Lengkungan indah di wajahmu terbentuk, membuatku sadar bahwa lengkungan itulah yang membuatku tak mampu untuk berkata tidak padamu. Ekspresi sedih sama sekali tidak cocok untukmu.

Sepertinya senyumanmu telah menjadi suatu obsesi aneh bagiku. Lengkungan itu begitu indah, apalagi bila dipadukan dengan dua pasang matamu yang memiliki eyesmile terindah di muka bumi. Rasanya, kedua hal itu menjadi candu dan aku ingin terus melihatnya. Aku tidak mau kedua hal itu terganti oleh ekspresi yang dapat menyakiti hatiku.

Kekesalan segera menguasai diriku begitu melihatmu melambaikan tangan, membalikkan punggung lalu dengan ringannya meninggalkan diriku yang terpaku sendirian di sini. Kurasakan hatiku marah, puncak ubun-ubunku terasa panas dan kedua tanganku mengepal dengan begitu keras.

Aku tidak tahu orang macam apa sebenarnya kau ini. Setahuku, kau adalah pemuda paling baik yang pernah kutemui, begitu ramah dan murah senyum. Aku selalu ada di sampingmu untuk membantumu, berusaha memenuhi keinginanmu dan bersikap layaknya seorang sahabat. Namun semua itu kau balas dengan sebuah kepolosan yang entah disengaja atau tidak.

Saat perahu tertambat pada sebuah tiang, memang sulit untuk melepaskannya. Namun bagaimana dengan nasib sang nahkoda yang mengarahkan perahu tersebut hingga akhirnya sampai di tujuan dan tertambat?

Kisah kita hampir sama seperti perahu. Engkaulah perahu tersebut, mengarungi lautan bebas seolah tanpa batas. Aku adalah si nahkoda malang, dengan susah payah mengarahkan perahu pada sebuah tujuan lalu berusaha untuk menambatkannya di sana. Sedangkan tempat yang dituju adalah dia, seseorang yang selalu kau kejar tanpa lelah, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya akulah yang mengarahkanmu pada tujuan tersebut.

Menjadi nahkoda adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Mengawasi keadaan laut, bersiap-siap saat badai datang dan berusaha untuk tetap membuat perahu dalam keadaan terapung.

Mungkin aku memang gadis sok berani yang ingin menyelamatkan dunia, padahal dia sendiri sedang diincar oleh musuh jahat. Mungkin aku sok ingin selalu melindungi perasaanmu, paahal perasaanku sendiri sedang tak menentu karena dirimu yang entah kapan akan mulai melihatku.

Aku ingat saat kemarin kau berkata akan mengajakku ke sebuah pameran buku di kota. Rencana itu sudah sangat aku antisipasi. Inilah saat yang kutunggu-tunggu, saat dimana hanya ada aku dan kau, tanpa dia yang selalu kau sebut-sebut. Namun aku langsung patah hati begitu tadi kau menemuiku dan membatalkan rencana tersebut.

“Coba tebak?” Kau berkata dengan sangat semangat. Melihat kilatan di matamu sudah membuatku tahu apa yang terjadi. “Tadi pagi aku tidak sengaja bertemu dengannya di jalan dan dia mengajakku untuk belajar bersama. Bukannya aku tidak ingin pergi denganmu, tapi kau tahu sendiri ‘kan aku sudah menanti saat-saat seperti ini sejak lama? Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendekatinya. Aku janji hanya kali ini saja aku membatalkan rencana kita. Jangan marah, ya?”

Hanya kali ini katamu? Lalu bagaimana dengan rencana minggu kemarin, bulan lalu dan setahun lalu yang juga kau batalkan karena alasan yang sama?

Seharusnya aku bisa mencegahmu dengan berkata ‘tidak’. Apa susahnya mengucapkan kata tersebut? Aku telah mempersiapkan diri untuk menolak segala idemu yang bertentangan dengan kehendakku. Aku ingin menikmati momen yang hanya dihabiskan denganmu. Meski status kita hingga saat ini adalah sahabat, aku ingin berjalan di sampingmu, mengobrol tentang hal-hal konyol hingga bosan tanpa perlu kau menyebut namanya di hadapanku. Hanya itu yang kuinginkan, lalu apa susahnya kau berbuat seperti itu?

Aku tahu dia adalah temanku saat Sekolah Dasar dan kau memintaku untuk mengenalkannya denganmu. Aku tahu kau begitu tertarik dengannya. Aku tahu diriku begitu lemah di hadapanmu hingga aku tidak bisa menolakmu! Itu kenyataan yang menyedihkan dan begitu kubenci.

Dadaku terasa sesak. Aku tidak bisa melakukannya lagi. Sudah dua tahun aku berada dalam kondisi seperti ini.

Dengan segenap kekuatan, aku berjalan menyusulmu. Kau berhenti dan menoleh saat aku memanggil namamu.

“Aku… tidak bisa,” kataku pelan.

Tidak ada respon yang kau berikan. Kau hanya diam sambil menatapku heran.

“Aku tidak bisa seperti ini terus. Jujur saja, aku lelah. Yang kuinginkan hanya menghabiskan waktu bersamamu tanpa kau menyebut namanya. Terakhir kali hal itu terjadi adalah dua tahun lalu. Aku… benar-benar tidak bisa.”

Matamu melebar seolah menyadari sesuatu. Namun sebelum konflik makin meruncing tidak jelas bagai cerita opera sabun, aku membalikkan badan dan segera pergi.

Aku tidak ingin menjadi egois dan melihatmu sedih karena tidak dapat bersama orang yang kau sukai. Tapi aku juga tidak bisa selamanya berkorban demi orang yang selama ini kucintai.

Seutas tali yang menahan sebuah beban juga perlahan dapat menjadi aus. Dan kurasa, akulah tali tersebut.

 

 

 

 

 

Minstal

 

Saksi Bisu

 

Entah kenapa hidupku terasa begitu buruk. Tak punya keluarga, uang sepeser pun tak punya dan kini aku terjebak pada seorang pemuda yang hanya memperdulikan dirinya sendiri. Sebenarnya aku bisa saja lari dari keadaanku yang sekarang, mencari tempat baru dan mencoba untuk membenahi hidupku. Namun seberapa keras aku mencoba, aku tak dapat meninggalkan pemuda itu. Yaitu dirimu sendiri.

Usiamu dua tahun lebih tua dariku. Seharusnya usia yang lebih tua menjadikanmu pribadi yang lebih dewasa dariku, namun nyatanya kau terus berpikir dangkal dan kelakuanmu terlihat begitu kekanak-kanakan. Bertingkah kolot, keras kepala, memikirkan kepentingan pribadi, tak pernah menghargai orang lain dan marah-marah begitu keinginanmu tidak terpenuhi.

Terkadang aku heran mengapa aku bisa bertahan dengan orang sepertimu.

Hampir bertahun-tahun lamanya aku terkurung di apartemen tua ini, tanpa peduli dengan hidupku sendiri dan lebih mementingkan dirimu yang tak pernah melihatku. Rasanya aku menjadi saksi bisu atas semua tindakanmu yang ceroboh dan tak masuk akal.

Aku tak akan pernah lupa bagaimana kelakuanmu yang suka bermalas-malasan di pagi hari, menonton televisi di siang hari, lalu malamnya keluyuran entah kemana dan kembali pada dini hari.

Setahuku kau memiliki banyak kesempatan untuk mengubah hidupmu yang kacau ini. Kemampuanmu bermain basket benar-benar menakjubkan, tapi kau tak mau bergabung dengan klub manapun karena kau tidak mau membuang tenagamu. Jika kau ingin melakukan sesuatu yang mudah, kenapa tidak menjadi model saja? Wajahmu tampan dan aku yakin banyak desainer yang ingin menjadikanmu sebagai model mereka. Setidaknya itulah pemikiranku.

Aku memang tak punya apa-apa untuk diperjuangkan sekarang. Sekolahku putus di tengah jalan dan rasanya tak ada harapan lagi selain tinggal bersamamu. Dulu aku merasa sering menggantungkan diri padamu. Tapi sekarang giliranmu yang bergantung padaku.

Hampir tak ada hal-hal benar yang kaulakukan. Semuanya aku yang mengerjakan. Mengurus rumah, memasak, bahkan aku pula yang berusaha untuk melunasi hutang-hutangmu yang menumpuk karena kebiasaanmu yang suka berhutang di bar. Aku ingin mengatakan hal-hal yang dapat membuat semangat kembali, memotivasimu untuk mengejar apa yang dulu pernah kau impikan.

Meskipun kau adalah pria paling buruk di dunia, namun entah kenapa aku justru jatuh cinta padamu. Cinta memang buta, namun tak kukira akan sebuta ini. Mungkin seleraku benar-benar payah dalam hal cinta, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin mengembalikan dirimu seperti yang dulu. Aku ingin berhenti menjadi saksi bisu yang hanya bisa menonton kehidupan monotonmu.

Saat aku tengah membereskan dapur seperti biasanya, tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka dengan sangat keras. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi dan aku langsung bergerak menuju ruang depan. Kulihat dua orang pria sedang membopongmu yang terlihat babak belur. Keringat dingin langsung mengucur dari dahiku.

“Pemilik bar menghajarnya karena dia terus berhutang,” ujar seorang dari mereka.

Kedua pria itu meletakkanmu di atas sofa tua dan pergi begitu saja. Buru-buru aku mendekatimu.

Luka lebam menghiasi kedua pipimu. Matamu bengkak sebelah dan darah mengalir dari sudut bibirmu. Ya ampun, betapa mengerikannya dirimu sekarang. Rasanya aku ingin menangis. Kenapa kau tak juga sadar? Kenapa kau tak mau berjalan ke arah yang lebih baik?

“Sudah kubilang supaya kau berhenti berhutang,” kataku pelan.

Kau membuka matamu lalu tersenyum seolah meremehkanku. “Heh, pukulan seperti ini tidak terasa apa-apa.”

“Mungkin sebaiknya kau berhenti berhutang dan mulai mencari pekerjaan,” sahutku sembari berharap perkataanku dapat meresap ke dalam hatimu.

“Untuk apa aku capek-capek bekerja? Aku lebih memilih dipukuli dan mendapatkan minum secara gratis.”

Jawaban itu sama sekali tak kuperkirakan. Entah apa yang masuk ke dalam pikiranmu, namun kau benar-benar telah kehilangan cahaya kehidupan.

“Tidakkah kau ingin mengubah kehidupanmu supaya lebih baik?” tanyaku.

“Jangan menasehatiku, Anak Kecil!” bentakmu.

Aku tersentak dan mundur beberapa langkah. Air mata menggenang di sudut mataku.

“Kau bukan siapa-siapa, jadi jangan asal bicara!”

Bukan siapa-siapa, katamu? Jika benar begitu, lalu siapa yang selama ini mengurusmu, memberimu makan, membayar hutang-hutangmu dan menanggung begitu banyak beban dengan menjadi saksi bisu yang terus menonton kehidupanmu yang kacau itu?

Bertahun-tahun aku menyaksikan drama hidup yang ingin sekali kuubah ceritanya, namun hatimu terlalu keras dan diriku terasa lemah untuk mengatakannya. Luka di hatiku menumpuk begitu banyak karena aku tak berdaya untuk melakukan sesuatu padamu.

Jikalau kau tidak ingin mengubah hidupmu sama sekali, setidaknya kau bisa menghargai diriku yang selama ini mengurusmu! Akulah tempat dimana kau menggantung hidupmu!

“Pergi dari hadapanku!” serumu. “Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi.”ju

Amarahku memuncak dan membuat kepalaku hampir meledak. Aku menyentakkan kedua kakiku lalu berteriak, “Baik, aku akan pergi! Jangan sekali-kali memintaku kembali karena kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri!”

“Dasar Wanita Jalang! Jangan hadir di hadapanku lagi, bahkan di makamku sekalipun!”

Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat. Air mata menetes dan mengalir di pipiku. “Jika kau mati, silakan gali kuburanmu sendiri!” Aku berbalik, pergi dari apartemen tua itu dan tak pernah kembali lagi.

Kini sudah saatnya aku berhenti menjadi saksi bisu yang menyaksikan never ending drama yang terjadi di tempat itu.

 

 

 

 

 

Taelli

 

Menyesal

 

Waktu berlalu hingga aku tiba di masa sekarang. Masa lalu terasa begitu menyenangkan, sekaligus memabukkan. Saking memabukkannya, aku jadi ingin kembali ke masa lalu. Mencoba untuk melakukan hal yang tak kulakukan sejak dulu.

Secara umum, hidupku terlihat bahagia. Orang-orang mungkin menganggapku sebagai anak paling beruntung―berparas cantik, memiliki orangtua yang kaya raya dan hampir seluruh kebutuhanku terpenuhi. Namun, nyatanya hidupku tak sesempurna yang dikatakan orang-orang.

Aku rela menukar seluruh harta yang kupunya demi mengulang masa lalu. Berapapun harganya, aku ingin sekali membeli mesin waktu, memutar mundur jarum kehidupan dan memunculkan keberanian yang dulu tak kupunyai. Tapi sebanyak apapun uang yang kumiliki, sekeras apapun aku berdoa supaya aku bisa kembali masa lalu, nyatanya hal itu tak terjadi. Karena apa yang telah dilukiskan oleh garis kehidupan tak akan pernah bisa diubah.

Terkadang aku menyesal kenapa aku tak melakukannya sejak dulu. Kini semuanya terasa terlambat dan kau pun perlahan mulai pergi dari hidupku.

Satu-satunya hal di dunia yang dapat melengkapi kebahagiaanku adalah kehadiranmu di sisiku. Kau adalah teman baikku―dan mungkin akan terus begitu selamanya. Status sebagai teman tak akan bergeser atau naik ke pangkat yang lebih tinggi.

Kulihat kau yang sedang tersenyum di altar. Seorang perempuan turut berdiri di sebelahmu, menggamit lenganmu dengan mesra dan nampak sangat bahagia. Oh, tentu saja dia merasa bahagia. Jika aku menjadi dirinya, maka aku akan merasakan hal yang sama.

Sebisa mungkin aku mencoba untuk tegar. Namun perih ini begitu menusuk. Dan yang paling menyakitkan, perih ini ditimbulkan oleh diriku sendiri sehingga aku tak bisa melampiaskannya. Mungkin satu-satunya cara untuk menghilangkan sakit ini adalah dengan mengatakan hal yang telah kusimpan selama sekian lama. Tapi apakah mungkin aku bisa mengatakannya―mengatakan bahwa aku mencintaimu walau kau telah terikat dengan wanita lain beberapa saat yang lalu?

Badanku bergetar. Penyesalan benar-benar menyesaki dadaku. Air mata mengambang di ujung pelupuk, siap untuk membanjiri pipiku jika saja aku tak memiliki pertahanan yang tangguh.

Aku tak pernah tahu mengapa aku tak bisa memunculkan keberanianku, bahkan hingga di saat terakhir muncul. Harapan telah kandas dan aku tak dapat berbuat apapun.

Ketika kau mulai bergerak dan mencium pengantin wanitamu, seketika hatiku langsung hancur. Aku menutup mataku sejenak, berusaha untuk menghalau pemandangan yang begitu menyakitkan hatiku. Sekali lagi, sebilah pisau bernama penyesalan kembali menghujam batinku.

Jika saja aku memiliki keberanian, maka semuanya tak akan berakhir seperti ini. Sekalipun pilihan terakhirmu tidak jatuh kepada diriku, aku akan tetap merasa bahagia. Setidaknya penyesalan tak memenuhi diriku hingga aku merasa menderita begini.

Kulihat kau turun dari altar dan berjalan ke arahku dengan sebuah senyuman. Badanku langsung terasa kaku. Kau berhenti tepat di hadapanku.

“Terima kasih sudah datang,” katamu. “Kau benar-benar sahabat yang baik. Kini hidupku terasa benar-benar lengkap. Keluarga, sahabat dan seorang istri.”

Aku berusaha untuk tersenyum. Tak lama kemudian, air mata yang sejak tadi kutahan turun begitu saja. Pertahananku jebol.

“Kenapa menangis?”

Kuusap air mataku menggunakan punggung tangan. Aku tertawa kecil untuk menutupi luka yang memancar dari mataku. “Aku bahagia karena kau sudah menikah.”

“Terima kasih.” Tiba-tiba saja, kau memelukku. Namun pelukan itu sebatas dari seorang sahabat.

Air mataku kembali turun. Logikaku terus berteriak, supaya mengatakan semuanya karena mungkin ini adalah waktu yang tepat. Namun aku tetap tak bergeming di dalam pelukanmu.

Kukira semuanya akan berakhir dengan begitu menyakitkan. Namun begitu kau akan melepas pelukanmu, suatu keberanian yang selama ini tak kumiliki tiba-tiba saja muncul dari dalam diriku.

Hal yang selanjutnya terjadi adalah aku berjinjit lalu membisikkan sesuatu di telingamu. “Bahagiakan istrimu. Maaf baru mengatakannya, tapi… aku mencintaimu.”

Setelah kata-kata itu terucap, aku buru-buru melepas pelukanmu, membungkuk lalu meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu. Kulihat matamu melebar seolah meminta penjelasan, namun aku hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Sebuah senyum kelegaan tanpa disertai sedikitpun sesal.

 

 

 

The End

 

 

 

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , , , | 14 Comments

Post navigation

14 thoughts on “Inverse

  1. achan gimbelz

    uwoooooowwww… miris amat yaak ceritanya ??? *garukkepala -_-
    dibikin sequel kayanya seru niih thor ! haahaaa ^^v

  2. ~ Annisa ~

    Reblogged this on ANNISA's WORLD.

  3. Ddulli~ & Taemni~

    huaaaa……. so sad >.<

    T_T hiks

  4. miris😦
    feel nya dapet bnget pas bgian MinStal, TaeLli, ma JongNa..
    ff nya daebak!

  5. cerita’y miris banget paling dapet fell’y pas TaeLli😦

  6. @larasdearnetta

    AAAAA AKU MENYESAL UDAH BACA FF INI YA TUHAAANNN >< /nyesel tapi tetep baca? .-.
    thor sumveh ye tulisan tangan lu… aaahh mengkudeta hatiku.. membuat kontroversi hati ini semakin menjadi dan menciptakan labil ekonomi dimana2 /?
    aku paling suka part nya jongna… ah sumpah itu aku beneran mau nangis :')
    lanjutkan thor…
    ehm..
    sebenernya aku paling cocok sama ff ginian.. lumayan buat olahraga hati xD

  7. Aduh plis banget…. bikin sequel dong buat minstal ahh gantung bangeetttt ㅠㅠㅠㅠㅠ
    Butuh kelanjutannya aaaaaa

  8. zefanya

    Uwooo.. Semuanya bikin nyesekk >o< … Feel nya dapet , sebenernya pengen nangis tapi…………..gak bisa! Yesss ! Keep writing ya .. Hwaiting!

  9. HANJJJIIIIIIRRRRR NYESEK BACA NYAAAAAAAAA ToT tapi……… KEREN MIN FF-NYA!! DAEBAAAAAAAK /dibekep/

  10. Paling suka yang keyber..
    Kata” nya rapi banget..
    Suka.. Suka..

  11. cheny

    Sad ending.. Tapi bagus… (Y)

  12. dyahh

    behh. Apapun genrenya taelli paling ngefeel di otak dan hati saya😥. Bikin sequel boleh tuh😀

  13. Annisa Kpopers

    Kayaknya ceritanya sedih ya thor? #plakk

  14. dvapril

    Ceritanya bgus tp miris T.T
    Baru kali ini baca ff yg lain gitu selain romance bikin diabetes (?) Ini bner2 jjang (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: