Heal One Another [Part 7]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

 

 

 

PART 7 ― Decision

 

Angin yang berhembus membuat badannya sedikit menggigil. Ide untuk pergi ke Namsan Tower di saat angin sedang tidak bersahabat mungkin sedikit gagal. Tapi mereka sudah terlanjut sampai di tempat ini. Memutar balik justru hanya akan membuang waktu dan bahan bakar saja, jadi lebih baik perjalanan ini dilanjutkan. 

Krystal menepuk kedua tangannya. Jaket yang dipakainya memang cukup tebal, tapi angin seolah punya akal untuk menyusup masuk dan membuatnya kedinginan. Ia melirik Minho yang berdiri di sampingnya. Pemuda itu hanya melihat sekelilingnya sambil tersenyum. Sama sekali tak tampak jika dia kedinginan.

“Bagaimana kalau kita masuk saja?” usul Minho. “Badanmu menggigil begitu. Mungkin di dalam tidak sedingin ini. Atau kau mau pulang saja?”

Krystal menggelengkan kepalanya. “Tempat parkirnya lebih jauh daripada perjalanan ke menara. Lebih baik kita masuk saja.”

“Oke.”

Mereka masuk ke bangunan Namsan Tower. Di dalam sana memang suhunya tidak sedingin di luar, tapi tetap saja angin berhembus lewat ventilasi. Sambil mencoba untuk mengabaikan hawa dingin yang terasa, Krystal memutuskan untuk pergi ke lantai paling atas. Minho mengikutinya dari belakang.

Saat tiba di lantai paling atas, kerlap-kerlip lampu yang menerangi kehidupan malam kota Seoul terlihat. Krystal tersenyum, teringat bagaimana seringnya ia datang ke tempat ini bersama keluarganya saat akhir pekan datang. Kejadian itu sudah lama sekali. Dan kali ini adalah pertama kalinya ia kembali setelah kira-kira sepuluh tahun lamanya. Sambil merapatkan jaketnya, Krystal mendekati balkon.

“Indah, ya?” gumam Minho.

Gadis itu mengangguk.

Minho mensejajarkan langkahnya dengan Krystal. “Aku hanya pernah ke sini satu kali. Biasanya aku lebih banyak menghabiskan waktu di bawah, berburu makanan dan duduk di bawah pohon.”

“Tidak lengkap pergi ke Namsan Tower tapi tidak naik ke atas,” sahut Krystal.

Minho tertawa. “Itu benar. Mungkin aku terlalu memikirkan makanan saat datang kemari. Kau mau berkeliling?” Pemuda itu bertanya sambil mengulurkan tangannya ke arah Krystal.

Tangan yang terlihat pucat karena dinginnya malam itu dipandanginya dengan bingung. Semula Krystal hanya memandangi tangan tersebut. Namun, dengan segala tekad di dadanya, perlahan ia menyambut tangan itu.

Sambil tersenyum, Minho menggenggam tangan si gadis. Dia berbisik, “Pelan-pelan saja, Tuan Puteri.”

Krystal menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum dan menggenggam balik tangan Minho.

 

***

Sayang sekali, keindahan kota Seoul tidak bisa mereka berdua nikmati lebih lama lagi. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan dan Minho tidak mau membiarkan Krystal berada di luar hingga lebih dari jam delapan. Lagipula, gadis itu belum terbiasa dengan suasana malam yang ramai seperti di Namsan Tower.

Minho menggandeng Krystal keluar dari bangunan tinggi itu. Mereka berjalan ke arah tempat parkir di sebelah timur. Ketika melewati kerumunan yang kebanyakan terdiri dari laki-laki, otot-otot di bahu Minho menegang. Ia melirik gadis di sampingnya dengan sedikit khawatir. Namun Krystal hanya membalas tatapan itu dengan seulas senyum simpul, seolah mengartikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kekhawatiran itu lenyap dengan cepat saat ia melihat Krystal dengan tenang melewati kerumunan laki-laki tersebut. Mereka kembali melangkah dengan tenang ke arah tempat parkir. Saat meraih mobilnya, Minho langsung mengambil kunci di sakunya dan membuka pintu. Ia berpaling ke arah Krystal.

“Krys—” Perkataan Minho tertahan. Gadis itu tengah memandangi sesuatu. Penasaran, Minho mengikuti arah pandangan Krystal. Matanya menyipit ketika melihat sepasang muda-mudi tengah berjalan sambil merangkul bahu satu sama lain. Lalu ia kembali memandangi Krystal.

Cara Krystal memandang pasangan di seberang sana membuatnya tidak mengerti.

Tiba-tiba gadis itu berbalik.

“Oh, maaf,” katanya pelan.

“Tidak apa-apa. Ayo, kita pulang.”

Mereka masuk ke dalam mobil dan segera kembali ke kediaman keluarga Jung. Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua puluh menit, Minho menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bergaya minimalis.

Minho mengikuti Krystal dari belakang hingga gadis itu mencapai pintu rumahnya.

Gadis itu tersenyum.

“Terima kasih,” katanya.

“Tidak perlu berterima kasih,” balas Minho. “Aku senang bisa mengajakmu jalan-jalan.”

“Bukan itu… Maksudku…” Krystal menunduk dan terlihat sedang memikirkan kata-katanya. “Tidak hanya untuk hari ini, tapi semuanya. Terima kasih karena telah mencoba untuk membantuku dan tidak menyerah.”

Mata Minho melebar setelah mendengar perkataan Krystal yang tidak disangkanya itu. Ia tersenyum lebar lalu berkata, “Aku juga harus berterima kasih padamu karena telah memberiku kesempatan.”

Krystal mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Dia berjalan beberapa langkah ke arah Minho. Kedua alis Minho bertaut saat melihat sikap Krystal yang tiba-tiba terlihat kaku. Ekspresi gugup gadis itu juga membuatnya heran.

Tanpa disangka-sangka, Krystal membuka kedua lengannya dan memeluk Minho. Pelukan itu memang tidak terlalu erat. Gadis itu hanya menempelkan wajahnya di dada Minho, sedangkan kedua tangannya tertahan di sisi kiri dan kanan—mungkin dia masih ragu untuk bertindak lebih jauh. Meskipun suasana terasa sedikit canggung, namun pelukan itu justru terasa hangat dan menyenangkan.

Seakan sadar apa yang sudah dilakukannya, Krystal buru-buru melepas pelukannya. Wajahnya memerah dan dia terus menerut menyentuh leher belakangnya.

“M-ma-maaf,” ucapnya gugup. “Aku tidak tahu yang kupikirkan. Aku hanya… Uhm, susah menjelaskannya! Aku tidak sengaja, jadi—”

Minho tertawa. “Tidak perlu segugup itu, Krystal,” Ia mengacak-acak rambut gadis itu.

Wajah Krystal semakin memerah. Dia menggerak-gerakkan tangannya. “Y-ya sudah. Aku duluan, ya. Selamat malam!” Gadis itu langsung masuk ke rumahnya.

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah mobilnya. Tak disangka, seorang gadis serius, pendiam dan bahkan cenderung galak seperti Krystal bisa melakukan hal yang diluar dugaan seperti tadi.

Sambil mengemudikan mobilnya, Minho berpikir—tentang Krystal yang perlahan-lahan semakin terbuka pada dirinya dan masa depan apa yang kira-kira menanti mereka.

 

***

Bodoh! Benar-benar bodoh!

Tak puas dengan merutuki dirinya sendiri, Krystal mulai meremas-remas rambutnya. Sensasi panas masih terasa di wajahnya. Oh, dear… Kenapa ia bisa memeluk Minho tanpa menyadari tindakannya itu? Kini ia merasa benar-benar bodoh, seolah ia adalah perempuan yang suka mengambil tindakan lebih jauh.

Krystal menaiki anak tangga dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari biasanya. Saat sampai di atas, ia melihat kakak perempuannya sedang berdiri di pintu kamarnya sendiri yang terbuka.

Jessica terkikik. “Wah, wah. Yang baru saja berpelukan di depan pintu rumah. Romantis sekali~” godanya.

“Sudahlah, unni,” balas Krystal sambil pura-pura tidak peduli.

“Kenapa tidak sekalian berciuman saja?”

Wajah Krystal langsung memerah. “Unnie!” erangnya.

Namun Jessica belum puas menggoda adiknya itu. “Aku tidak menyangka kau yang mengambil inisiatif.”

“Aku tidak—”

“Sudahlah, Sica,” Tiba-tiba suami Jessica, Donghae, muncul dari belakang perempuan itu. Dia menepuk pundak istrinya. “Jangan goda Krystal terus. Lihat, wajahnya seperti mau meledak. Dan bukannya dulu kau juga yang pertama mengambil inisiatif?”

Jessica membalikkan badannya. “Jangan memutar balikkan fakta, Lee Donghae! Kau yang pertama mengajakku kencan.”

“Tapi kau yang pertama menciumku setelah dua tahun berkenalan.”

Melihat celah untuk kabur, Krystal segera melangkahkah kakinya dan masuk ke dalam kamarnya. Lama-lama ia bosan melihat pertengkaran konyol antara Jessica dan Donghae.

 

***

 

Mungkin yang dikatakan Jessica tempo lalu memang benar.

Wajah Krystal memanas ketika memikirkan perkataan kakaknya itu. Ia menunduk sembari mengaduk kari yang sedang dimasaknya. Akhir-akhir ini, minatnya untuk belajar memasak semakin besar saja. Dimulai dari ketidaksengajaan menonton acara memasak di televisi, Krystal terinspirasi untuk membuat masakan sendiri.

Setelah beberapa saat, kari yang sedang dimasaknya perlahan menggumpal. Krystal mengerjap lalu buru-buru mematikan kompor dan memandang masakannya yang gagal dengan sengit. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, kemudian menghela napas. Seharusnya ia mendengarkan nasihat ibunya.

“Jika kau ingin belajar memasak, mulailah dari yang paling mudah. Coba buat bibimbap atau dduboki,” saran Stephanie pada putri bungsunya itu.

Tapi saran itu diabaikan oleh Krystal. Kedua makanan itu dianggapnya terlalu biasa. Lagipula, ia pernah mendengar dari Sulli bahwa Minho adalah penggemar kari. Mungkin ia terlalu memaksakan diri.

Krystal mendesah dan membuka buku resep milik ibunya yang ia letakkan di atas counter dapur. Dibukanya halaman per halaman, sambil mencari resep yang kira-kira mudah untuk dikerjakan.

“Butuh bantuan?”

Suara ibunya membuat Krystal menoleh. Ia menghela napas lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Aku memang tidak berbakat memasak.”

Stephanie tertawa kecil. Dia menghampiri putrinya dan merangkul pundaknya. “Jangan menyerah begitu. Dulu Ibu juga tidak bisa memasak.”

“Aku begitu frustasi dengan resep-resep ini,” desah Krystal. “Semua step-nya sudah aku lakukan, tapi tetap saja kari yang kubuat menggumpal.”

“Itu karena kau memanaskannya terlalu lama. Ibu sudah bilang, ‘kan? Mulailah dari yang paling mudah.”

“Baiklah… Kurasa aku terlalu bersemangat dan ngotot.”

Perkataan sang anak membuat Stephanie tersenyum. Sebagai ibu, dia telah menantikan momen-momen seperti ini bertahun-tahun, momen dimana dia bisa melihat Krystal bertingkah layaknya gadis-gadis lain. Tersenyum, menikmati masa muda, jatuh cinta dan mulai melakukan hal-hal tidak biasa untuk lelaki yang disukai. Ah, tiba-tiba dia jadi teringat masa mudanya dulu.

“Ayo, Ibu akan membantumu membuat dduboki.”

Krystal yang semula agak kesal, langsung bersemangat kembali.

 

***

Sore yang tenang ini dihabiskan Tiffany Choi dengan duduk di ruang keluarga, membaca majalah favoritnya dan berusaha untuk mengabaikan kehadiran Sulli di sampingnya, yang tengah bermuram durja karena permasalahan ala remaja dengan pacarnya. Tiffany membalik halaman berikutnya dan baru akan membaca artikel berjudul menarik sebelum Sulli menarik lengan bajunya.

“Ada apa, Sulli?” tanyanya.

Gadis itu nampak cemberut. “Hari ini seharusnya aku pergi kencan dengan Taemin oppa. Lalu dia membatalkannya karena sedang tidak enak badan. Tapi saat aku pulang kerja, dia malah sedang berada di kafe dengan seorang perempuan!”

Tiffany menghela napas. Ia memandang anaknya dengan sabar. “Sulli-ah, mungkin saja perempuan itu adalah klien yang harus ditangani Taemin. Mungkin kliennya itu datang secara tiba-tiba dan ingin mendiskusikan masalah pekerjaan, lalu Taemin terpaksa berbohong padamu karena merasa tidak enak.”

“Tapi kenapa dia tidak bilang yang sesungguhnya saja?” Sulli makin cemberut.

“Bukannya dulu kau pernah curhat pada Ibu tentang Taemin yang sering sibuk dengan pekerjaannya? Jika dia membatalkan kencan kalian dengan alasan pekerjaan, apa kau bisa menerima alasannya?”

Sulli terdiam. Dia menundukkan kepalanya. “Itu… masuk akal.”

“Nah, sekarang tersenyumlah. Jangan tekuk wajahmu seperti itu, jelek sekali kelihatannya.”

Sebuah senyum lebar menghiasi wajah gadis itu. “Terima kasih, umma~! Aku benar-benar kekanakan.”

“Tidak apa. Itu namanya proses belajar—”

Perkataan Tiffany terpotong oleh suara bel pintu. Tanpa banyak omong, Tiffany bangkit dari kursi, berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu. Ia melebarkan matanya saat melihat siapa yang bertamu.

“Krystaaaaaaaal~!” sapa Sulli. Dia berdiri di belakang ibunya.

Krystal Jung tersenyum. “Selamat sore, Tiffany ahjumma, Sulli-ah. Aku datang untuk mengantarkan ini,” Dia menyerahkan kantung plastik bening berisikan tempat makanan.

“Wah, apa ini?” Tiffany menerimanya. Aroma khas dduboki langsung menguar dari tempat makanan tersebut. “Dduboki, ya? Pasti enak.”

Pujian dari Tiffany membuat Krystal tidak bisa menahan senyum. “Kuharap rasanya enak.”

“Kau membuatnya sendiri?” tanya Sulli. “Wow. Bahkan aku tidak bisa membuat dduboki.”

“Terima kasih banyak, Krystal,” kata Tiffany. Senyumnya melebar dan eyesmile-nya yang khas membuat Krystal terpesona. “Bagaimana jika kita memakannya bersama-sama? Sebentar lagi Minho—oh, itu dia.”

Krystal membalikkan badannya dan melihat sebuah mobil hitam masuk ke garasi. Tak lama kemudian, si pemilik mobil muncul dan berjalan ke arah pintu.

Oppa, lihatlah! Krystal membuatkanmu dduboki!”

Wajah Krystal memerah sedikit. “A-aku tidak membuatkan dduboki itu secara khusus untuk Minho oppa, tapi untuk kalian sekeluarga.”

Sebuah senyum jahil terbit di wajah Sulli. “’Oppa’? Wah, wah… Sepertinya kalian sudah resmi berpacar—”

“Tadi aku bertemu rekan kerjamu di jalan. Katanya kau harus menyerahkan rancanganmu malam ini juga,” Minho memotong perkataan Sulli.

“He?! Kemarin dia bilang deadline-nya lusa!” gerutu Sulli. “Masa bodoh, ah! Aku mau memakan dduboki buatan Krystal dulu.”

Tiffany hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya yang mulai konyol. Ia beralih pada Krystal. “Jadi, kau mau masuk dulu?”

“Tidak usah,” tolak Krystal halus. “Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa.” Dia menatap Tiffany dan Sulli bergantian. Lalu saat pandangan matanya beralih ke Minho, dia tidak dapat menyembunyikan kegugupan dan rona merah yang menjalar perlahan ke pipinya. “Se-selamat sore.” Gadis itu buru-buru pergi.

Mata Minho menyipit. “Kemarin dia nampak normal. Lalu kenapa tadi dia kelihatan gugup? Apa dia masih canggung padaku?”

“Krystal merasa gugup untuk alasan yang lain,” sahut Sulli.

Jawaban adiknya membuat Minho tidak mengerti.

Sulli menghela napas. Ia mengambil dduboki buatan Krystal dari tangan ibunya lalu membawanya ke dalam rumah. “Mengaku playboy, tapi tidak peka terhadap perempuan. Dasar playboy abal-abal.”

Tiffany tidak dapat menahan tawanya, sementara Minho memilih untuk mengabaikan perkataan adiknya yang tidak dapat dia mengerti.

 

***

“Bagaimana? Sudah pergi ke rumah Minho?”

Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Krystal tersentak. Ia sedang berada di kamarnya, mengerjakan berbagai desain untuk kliennya. Beberapa lembar kertas yang tadi dipegangnya berjatuhan di lantai. Sebelum ibunya masuk, ia benar-benar menaruh seluruh konsentrasi dan kesadarannya pada pekerjaan ini. Dan ketika ibunya bersuara, kesadarannya terpecah hingga ia tersentak kaget.

Dengan segera Krystal memungut kertas-kertas yang bertebaran di lantai. Dilihatnya ibunya berjalan ke arahnya.

“Maaf. Ibu membuatmu kaget, ya?” tanya Stephanie.

Krystal tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya terlalu berkonsentrasi.”

“Sepertinya Ibu menganggumu.”

“Tidak kok~” sanggah Krystal. “Aku hanya mengerjakan proyek baru. Deadline-nya masih lama, jadi aku tidak perlu terburu-buru.”

Stephanie turut tersenyum. “Omong-omong, bagaimana dengan masakanmu? Apa kau sudah mengantarnya ke rumah keluarga Choi?”

“Ya. Aku pergi ke rumah mereka saat Ibu sedang pergi—”

Perkataan Krystal terhenti saat ia mendengar suara derap langkah yang tidak asing. Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu dan melihat bayangan di celah-celah pintu bagian bawah. Sesaat kemudian, pintu kamarnya terbuka.

“Hai, Krystal,” sapa Yunho. “Sedang menyelesaikan pekerjaan?”

“Tidak juga,” jawabnya sambil menggeleng. “Hanya memulai proyek baru.”

“Ayah ingin—”

Tiba-tiba Stephanie langsung menggandeng lengan suaminya. “Sayang, kurasa ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.” Dia menggeret suaminya dari kamar Krystal.

Kedua alis Krystal bertaut melihat tingkah orangtuanya yang aneh. Lalu ia menggeleng sambil tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

 

***

“Kau ini kenapa sih?” tanya Yunho.

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Stephanie menyeret suaminya hingga ke ruang keluarga. Kemudian ia menatap suaminya. “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Pasti kau ingin membicarakan soal pernikahan itu dengan Krystal.”

Yunho mengangguk. “Memang itu yang ingin aku bicarakan dengannya. Lalu kenapa kau menyeretku ke sini?”

Entah suaminya yang kolot atau tidak peka terhadap anak gadisnya sendiri. Stephanie menghela napas. “Apa kau tidak menyadari perubahan pada diri Krystal?”

“Tentu saja aku menyadarinya. Karena itu, aku ingin membicarakan soal pernikahannya dengan Choi Minho.”

“Tidak seharusnya kita mendesak Krystal. Meskipun dia sudah mulai berubah, tapi tetap saja kita harus pelan-pelan saat membicarakan soal pernikahan itu. Krystal memang sudah bisa menerima kehadiran laki-laki, tapi aku merasa dia belum siap untuk menikah.”

Yunho terdiam. Lelaki itu mengelus dagunya dengan tangan kanan. Sesaat kemudian, dia mendesah. Mungkin merasa terpaksa untuk setuju dengan istrinya. “Kurasa kau benar, Stephanie. Sebaiknya aku tidak menyinggung topik itu untuk sementara waktu. Tapi masalahnya, aku juga merasa tidak enak pada Siwon. Seolah-olah aku terus meminta perpanjangan waktu darinya.”

Suami-istri itu terdiam untuk waktu yang cukup lama. Pada akhirnya, Yunho berkata dengan suara pelan, “Sudah hampir lima bulan sejak perkenalan mereka yang pertama. Padahal aku dan Siwon memperkirakan tiga bulan setelah perkenalan mereka akan siap. Bulan pertama untuk pendekatan, bulan kedua untuk pertunangan dan bulan ketiga untuk persiapan pernikahan. Tapi memang tidak semua hal yang diperkirakan bisa terjadi. Ya, ‘kan?”

 

***

Setelah ayah dan ibunya meninggalkan kamar, Krystal baru saja akan melanjutkan pekerjaannya kembali. Ia meletakkan kertas-kertasnya di atas meja saat mendengar suara tangisan Hyunwoo di kamar sebelah. Terdengar pula suara Jessica yang sibuk menenangkan anaknya. Mungkin ia bisa membantu kakaknya.

Krystal bangkit dari kursinya dan berjalan ke kamar kakaknya. Pintu kamar itu terbuka lebar. Jessica sedang mengganti popok anaknya sambil menyanyikan lagu-lagu yang tak kunjung membuat Hyunwoo berhenti menangis.

“Butuh bantuan?”

Jessica menoleh. “Krystal! Tentu saja. Bisakah kau membuang popok bekas Hyunwoo? Hanya terkena kencing kok.”

“Oke. Itu mudah,” sahutnya sambil mengambil popok yang ditunjuk Jessica lalu membawanya ke luar kamar.

Krystal berjalan menuruni tangga, lalu berbelok ke arah dapur. Di sana, ia membuka tutup tong sampah lalu melempar popok bekas yang dibawanya ke dalam sana. Sebelum meninggalkan dapur, ia mencuci tangannya di wastafel. Seusai itu, Krystal berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton televisi. Hitung-hitung beristriharat sebentar.

Saat akan berbelok menuju ruang keluarga, ia mendengar suara orangtuanya.

“…Karena itu, aku ingin membicarakan soal pernikahannya dengan Choi Minho.”

Langkah Krystal terhenti. Ia melirik ke arah orangtuanya lalu mundur beberapa langkah hingga badannya tersembunyi di belakang lemari buku besar.

“Tidak seharusnya kita mendesah Krystal. Meskipun dia sudah mulai berubah, tapi tetap saja kita harus pelan-pelan saat membicarakan soal pernikahan itu. Krystal memang sudah bisa menerima kehadiran laki-laki, tapi aku merasa dia belum siap untuk menikah.”

Seketika badan Krystal membeku.

Menikah?

Terdengar suara ayahnya. “Kurasa kau benar, Stephanie. Sebaiknya aku tidak menyinggung topik itu untuk sementara waktu. Tapi masalahnya, aku juga merasa tidak enak pada Siwon. Seolah-olah aku terus meminta perpanjangan waktu darinya.”

Krystal merasakan tubuhnya menggigil. Ia belum pernah memikirkan pernikahan usai kejadian tempo lalu. Yang ia lakukan hanyalah menjalani kehidupannya sambil mencoba untuk menaklukan fobianya, bukan berpikir akan masa depan. Lagipula, baru kemarin ia bisa membiasakan diri dengan Minho sepenuhnya.

Pikiran Krystal terlempar ke masa lalu. Ia ingat dulu ayahnya pernah memberikan tenggat waktu padanya untuk mengenal Minho. Kemudian beliau memberikan waktu lagi setelah kejadian itu terjadi. Dan mungkin sekarang Tuan Choi Siwon sedang bersabar menanti dirinya hingga siap untuk menikah dengan putranya.

Yang namanya kesabaran seseorang pasti ada batasnya. Bagaimana jika Tuan Choi mulai tidak sabar dan memilih untuk menjodohkan Minho dengan gadis lain? Ia memang mulai mencintai Minho, tapi… pernikahan? Ia sama sekali belum siap.

 

***

Ada yang disembunyikan gadis itu. Minho bisa melihatnya dengan jelas. Pandangan mata yang lebih sayu dari biasanya, sudut bibir yang tertekuk dan kerutan kecil di kening pertanda sedang memikirkan sesuatu. Awalnya Minho hanya menganggap hal itu biasa saja, mungkin gadis itu sedang memikirkan pekerjaannya. Tapi Krystal Jung bukan tipe orang seperti itu. Biasanya dia bercerita tentang pekerjaannya saat bertemu Minho, entah saat kerjanya bagus atau tidak. Tapi sejak bertemu setengah jam yang lalu, kata yang diucapkan Krystal sejauh ini baru, “Halo” dan “Apa kabar”.

Karena tak sabar melihat raut wajah Krystal yang berbeda dari biasanya, Minho bertanya, “Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

Gadis itu langsung menoleh dan tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa.”

Kerutan terbentuk di dahi Minho. “Tentu saja ada sesuatu. Raut wajahmu berbeda dari yang biasanya. Apa kau sedang terkena masalah di kantor?”

Krystal menggeleng.

“Masalah dengan temanmu?”

“Tidak,” sahut Krystal pelan.

“Dengan Sulli?”

Gadis itu menggeleng lagi.

Kerutan di dahi Minho perlahan menghilang. Lalu ia menatap gadis itu lekat-lekat. “Apa… masalah denganku?”

“Apa? Tentu saja tidak,” jawab Krystal cepat-cepat. Dia tersenyum lebar. “Ini tidak ada hubungannya denganmu, oppa. Sungguh. Hanya… masalah kecil.”

Ya, masalah kecil yang jelas menganggu Krystal, pikirnya. Meskipun bertanya-tanya, Minho tidak meneruskan keingin tahuannya pada Krystal. Mungkin gadis itu tidak ingin membicarakan masalahnya.

 

***

Asap yang mengepul dari pemanggangan membuatnya terbatuk pelan. Sudah cukup lama sejak ia memanggang daging dan mengikuti pesta barbekyu seperti ini. Krystal dan kedua orangtuanya diundang oleh keluarga Choi dalam pesta barbekyu di kediaman mereka. Tentu saja orangtuanya setuju.

Pesta barbekyu itu diadakan di taman tengah. Sebuah meja piknik dari kayu yang lebar ada di tengah-tengah taman dengan dikelilingi kursi panjang. Yunho dan Siwon sedang mengobrol di meja piknik, dan istri-istri mereka masih berada di dalam rumah untuk menyiapkan peralatan makan. Sulli sedang tak enak badan. Sejak Krystal datang kemari, gadis manis itu belum keluar dari kamarnya. Mungkin dia akan menyusul nanti. Sedangkan Minho berada di sampingnya, memperhatikannya membalik daging sapi.

“Rupanya kau cukup pandai memasak,” komentar Minho.

Krystal tersenyum. “Ini mudah. Lebih mudah dari membuat dduboki.”

“Tapi dduboki buatanmu enak.”

“Benarkah? Terima kasih.”

Minho termenung. “Bahkan sampai sekarang aku masih terngiang-ngiang rasanya.”

Perkataan itu membuat Krystal tertawa. “Ya ampun. Itu sudah dua minggu yang lalu.”

“Apa kau mau membuatkanku dduboki lagi?”

Rona merah menjalari wajah Krystal. Ia memalingkan wajahnya sedikit sehingga Minho tidak bisa melihatnya. “Jika kau meminta, aku akan melakukannya,” jawabnya pelan.

Sambil tertawa kecil, Minho mengacak-acak rambut Krystal. “Oh, aku lupa. Seharusnya aku menelepon rekan kerjaku untuk menyuruhnya mengurusi beberapa pekerjaan. Tunggulah di sini.” Pria itu masuk ke dalam rumah.

Krystal kembali memfokuskan daging-daging yang hampir matang itu. Ia mengolesi bumbu di atasnya, lalu membalik daging-daging itu. Bau harum mulai menguar, membuat perutnya makin lapar. Ah, seandainya saja kakaknya belum pulang ke Amerika, pasti dia akan heboh karena pesta barbekyu ini. Jessica adalah penggemar daging, bahkan suaminya tidak jauh berbeda. Sayang mereka dan Hyunwoo sudah pulang dua hari yang lalu.

Saat dirasanya daging itu akan matang beberapa menit lagi, Krystal masuk ke dalam rumah untuk mengambil piring. Ia melihat ibunya dan Stephanie masih sibuk mengeluarkan gelas-gelas.

“Aku ingin mengambil piring.”

Stephanie menunjuk lemari berisi piring-piring di dekat counter. “Ambil saja di situ, Sayang.”

Tanpa buang waktu, Krystal mengambil piring yang dibutuhkannya lalu kembali ke taman tengah. Ia menyeberangi dapur dan baru akan keluar dari sana ketika ia mendengar suara ayahnya.

“Maafkan aku, Siwon,” kata Yunho sambil menundukkan kepalanya. “Kurasa aku harus meminta tambahan waktu lagi.

Siwon hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Kawan. Aku mengerti bagaimana keadaan Krystal.”

Ketika mendengar namanya disebut-sebut, gerakan Krystal terhenti. Ia berdiri mematung di ambang pintu. Lalu ia menoleh ke belakang, ke tempat ibunya dan Stephanie sedang menyiapkan peralatan makan. Nampaknya posisi mereka terlalu jauh untuk mendengar pembicaraan Yunho dan Siwon, apalagi mereka bekerja sambil mengobrol. Krystal kembali menatap ayahnya dari ambang pintu.

“Seharusnya pernikahan itu terjadi tiga bulan setelah perkenalan, seperti yang kita rencanakan. Tapi karena insiden beberapa waktu yang lalu, aku terpaksa memintamu untuk menunggu.”

“Sudah kubilang itu tidak apa-apa. Well, aku memang berharap pernikahan itu akan segera diadakan. Makin cepat, makin baik. Sebenarnya, tujuanku menjodohkan Minho dengan putrimu selain untuk membuatnya normal kembali, kehadiran seorang menantu akan membuatku menjalani hidup dengan santai lagi. Kau tahu, sudah waktunya untuk mengharapkan seorang pewaris.”

“Wah, sekarang kau sudah berbicara soal cucu. Aku merasa sudah tua.”

Kedua pria itu tertawa.

“Yah, memang sudah saatnya, ‘kan?” canda Siwon.

Hampir saja Krystal menjatuhkan piring yang dipegangnya. Dahinya berkeringat dan kedua tangannya mulai bergetar. Sambil berusaha mengendalikan diri, ia berjalan  menuju pemanggangan dan membalik daging-daging yang ada di sana, sebelum akhirnya mengangkatnya dan menaruhnya di piring. Setelah itu, ia membawanya ke meja dan meletakkannya di atasnya.

“Oh, sudah matang rupanya,” ucap Siwon. “Kelihatannya lezat.”

“Kebetulan semua putriku adalah maniak barbekyu. Mereka juga pandai mengolahnya,” timpal Yunho. Dia tersenyum pada Krystal. “Duduklah, Krys. Kulihat ibumu dan Stephanie sedang berjalan kemari. Minho juga ada di belakang mereka. Oh, omong-omong bagaimana dengan Sulli? Dia tidak keluar?”

Siwon menggeleng. “Menurutnya cuaca sore ini terlalu dingin untuknya. Dia ingin sekali keluar, bahkan tadi dia sempat merengek. Tapi setelah Taemin meneleponnya, dia berhenti mengoceh dan berbaring dengan tenang di kamarnya.”

“Ckckck. Dasar anak muda jaman sekarang.”

Beberapa saat kemudian, Tiffany dan Stephanie datang dengan membawa peralatan makan. Krystal membantu mereka menata piring-piring dan gelas-gelas, lalu menuangkan minuman. Minho duduk berhadapan dengannya lalu membicarakan sesuatu yang berhubung dengan pekerjaan kantor dengan ayahnya sendiri.

Setelah semuanya beres dan siap untuk disantap, Tiffany dan Stephanie duduk di samping suami mereka masing-masing.

“Selamat makan~” ucap Tiffany sambil tersenyum.

Krystal menggigit barbekyu buatannya. Senyum terpasang di wajahnya saat ia mendengar pujian tentang betapa enaknya barbekyu buatannya itu. Saat Krystal sedang memotong bagiannya, diam-diam ia melirik Minho yang duduk berseberangan darinya. Pria itu mengunyah barbekyu dengan senyum kecil di wajahnya.

Tiba-tiba, Krystal merasakan suatu kelegaan yang aneh di dadanya. Untuk apa ia merasa khawatir dengan pernikahan itu? Ia begitu yakin Minho tak akan menyakitinya. Lagipula, ia juga mencintai Minho. Jika dipikir-pikir, kekhawatirannya terasa begitu konyol. Yang lalu ya sudah terjadi, untuk apa dipikirkan lagi?

Krystal memaksa dirinya untuk kuat, untuk merasa yakin. Bahwa menikah dengan Minho adalah pilihan yang takkan membuatnya menyesal.

 

***

Pesta barbekyu itu berlangsung dengan sangat cepat. Tak terasa waktu sudah berlalu hingga pukul tujuh malam. Krystal menikmati waktunya dengan Minho, walaupun ia agak sedih karena hanya bertemu sebentar dengan Sulli di kamarnya. Gadis itu terlihat sangat pucat. Kedua orangtuanya nampaknya juga menikmati waktu mereka. Yunho dan Siwon tenggelam dalam nostalgia mereka akan masa lalu di sekolah, sedangkan Stephanie mempromosikan bisnis butiknya dan Tiffany nampak tertarik dengan itu.

Krystal melemaskan otot-otot di bahunya. Ia baru saja sampai di rumahnya. Merasa bosan, ia memutuskan untuk menonton televisi. Ia berjalan ke arah ruang keluarga. Ternyata di sana orangtuanya sedang menonton film. Krystal berhenti sebentar. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberikan pendapatnya sendiri soal pernikahan itu.

“Ayah,” panggilnya.

Yunho menengok. “Duduklah di sini, Krys.”

Krystal mengangguk dan duduk di sebelah ibunya. Ia memainkan jari-jarinya dengan gelisah. “Sewaktu pesta barbekyu tadi, aku tidak sengaja mendengar obrolan Ayah dengan Siwon ahjussi.”

Perkataan putrinya membuat Yunho tersentak. “Kau mendengarnya? Maafkan Ayah. Ayah tidak bermaksud untuk membahas itu.”

“Tidak apa-apa. Jujur, aku merasa tidak enak pada keluarga Choi. Mereka begitu berharap padaku.”

Stephanie mengelus rambut putri bungsunya itu. “Sayang, kau sedang bingung. Ibu tahu itu. Dan jangan jadikan kebingunan serta rasa tidak enakmu itu untuk berkata ‘ya’.”

Terjadi badai di dalam otak Krystal. Perkataan ibunya membuatnya termenung. Ia memang mencintai Minho, jadi untuk apa merasa ragu dan khawatir? Ia juga sudah bertekad untuk mengalahkan fobianya dan inilah saat yang tepat untuk menguji apakah ia sudah benar-benar ‘sembuh’ atau belum.

Namun jika begitu, mengapa kekhawatiran masih belum hilang dari hatinya? Krystal merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak boleh begini. Ia percaya pada Minho dan keluarga Choi.

Krystal menghirup napas dalam-dalam. Berkali-kali ia mengatakan sesuatu pada dirinya sendiri, kalimat yang dapat membuatnya tenang. Ia mencamkan kata-kata itu dalam kepalanya: mungkin sekarang ia masih belum yakin tentang pernikahan itu, namun setelah ia menjalaninya, semuanya pasti akan baik-baik saja.

Aku harus memberanikan diri. Ayo Krystal. Kau bisa memaksa dirimu untuk siap akan hal ini.

Setelah mengalami perdebatan dengan dirinya sendiri, Krystal mengangguk mantap. “Aku siap dengan pernikahan itu.”

 

***

Pemuda itu berhenti menyesap kopinya. Dia mengangkat kepalanya, menunjukkan ekspresi terkejutnya.

“Kau serius?”

Gadis di hadapannya mengangguk. “Ya. Aku sudah membicarakannya dengan ayahku.”

Kekagetan belum sirna dari raut wajah si pemuda. Dia menatap gadis itu dengan sungguh-sungguh. Kedua alisnya bertaut dan keningnya berkerut. “Ayah dan ibuku memang pernah membahas soal itu, tapi aku tidak pernah sekalipun menjadi orang pertama yang memancing topik tersebut. Apa kau sungguh-sungguh, Krystal?”

Gadis bernama Krystal itu mendesah. Dia menggerakkan kedua tangannya dengan cepat, mungkin merasa tidak nyaman dengan si pemuda yang seolah tak percaya padanya. “Tentu saja aku serius.”

Si pemuda meletakkan cangkir kopinya. Seorang pelayan mendatangi meja yang terletak di ujung ruangan itu sambil membawa dua piring wafel.

“Pesanan Anda, Tuan, Nona,” kata si pelayan sopan sambil meletakkan kedua piring berisi dessert itu di atas meja. Lalu dia segera pergi.

Dengan tidak sabar si pemuda mencomot satu gigitan wafel dan mengunyahnya dengan cepat. “Bukannya aku tidak suka dengan pernikahan itu. Kau sendiri tahu bagaimana perasaanku padamu. Tapi… tidakkah ini terlalu cepat untukmu?”

“Ini memang cepat, tapi kurasa ini waktu yang tepat,” sanggah Krystal. “Minho oppa, aku sudah makin terbiasa dengan laki-laki dan aku yakin aku baik-baik saja. Lagipula, ini momen yang tepat untuk menguji apakah fobiaku sudah benar-benar pergi atau belum.”

Tiba-tiba Minho merasa tidak enak. Nada bicara Krystal yang menyiratkan bahwa dia tidak suka didesak membuatnya menyesal. “Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Aku hanya ingin memastikan bahwa jawabanmu atas pernikahan itu datang langsung dari hatimu, bukan karena pengaruh keluarga kita.”

Krystal tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Semuanya memang terasa sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu. Mungkin itu karena aku seirng menghabiskan waktu denganmu hingga tak terasa sudah beberapa bulan berjalan.”

“Ternyata kau bisa berkata cheesy.”

Pipi Krystal merona. Ia memukul lengan Minho pelan. “Aku tidak seperti itu.”

Minho tertawa. “Baiklah. Aku hanya senang atas apa yang telah kau katakan hari ini. Jika dipikir-pikir, aku sudah dua puluh enam dan sebentar lagi akan mewarisi Choi Corporation. Seorang istri memang sesuatu yang kubutuhkan saat perusahaan itu diwariskan kepadaku. Bahkan kemarin ayahku sempat bercanda dengan mengatakan ingin seorang cucu dariku atau Sulli. Dasar orang tua.”

Badan Krystal seketika membeku. Sepertinya Minho tidak menyadari dampak kalimat yang telah diucapkannya. Untuk menghadirkan seorang cucu, tentu diperlukan sesuatu untuk dilakukan. Sesuatu yang—

Krystal menundukkan kepalanya. Ia meremas tangannya erat-erat. Tidak. Ia harus menghilangkan bayangan itu. Jawaban ‘ya’ telah diberikannya kepada kedua orangtuanya dan keluarga Choi pasti juga sudah mendengarnya. Ia tidak boleh ragu hanya karena fobia ini. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Setelah ia menjalani pernikahan itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan…

Ya, ‘kan?

 

To Be Continued

 

 

A/N: Maaf update-nya lama. Beberapa waktu yang lalu, sempat terjadi perombakan yang saya lakukan di chapter ini, sehingga selesainya agak lama.

Saya berharap chapter kali ini alurnya gak kecepetan. Kalau ternyata kecepetan, tolong maafkan saya. ‘-‘

Ditunggu RCL-nya.

 

 

 

Park Sooyun~

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , , | 23 Comments

Post navigation

23 thoughts on “Heal One Another [Part 7]

  1. mila minstal sari

    hampir lupa m ff ini,hehehee..
    jdi ga sabar,bgaimana khidupan krystal stelah nikah,

  2. Wah keren thor.
    Cepet lanjut thor
    Hehehe

  3. Magdalena

    jangan lama2 plisss thor u.u oiya minho sama krystalnya masih agak kaku deh keliatannya kurang romantisnyaaaa haha~ next thor🙂

  4. jangan lama lama ya😦

  5. githapril

    akhirnya dpublish juga🙂
    paling suka adegan pas krys meluk minho, cutee~ bnget ><
    bikin senyum2 sendiri…
    lanjut thor!

  6. keren banget ffnya…
    Lanjut terus yah…

  7. Haesica Minstal elf

    Next min! Waaahh.. bagus banget. Min aku ngebayangin anaknya jessi sama hae itu jeno hihi.. jadi request ganti nama anaknya haesica dong di next chap.. gak apa apa kan?

  8. Suka banget sama nih FF, sukses buat senyum-senyum sendiri🙂

  9. phiaa

    km harus yakin krys kalau km udh gak phobia lagi dan dapat menerima minho seutuhnya,,, jangan ragu lagi ya… km pasti bisa…
    jangan lama2 ya min lanjutanya… ditunggu secepatnya

  10. parkyurin

    Udah nungguin ff ini lama banget, akhirnya muncul juga.. penasaran sama kelanjutannya!

  11. Duhhhh akhirnya dipost juga ini ff nya, ayolah minstal nya cepet-cepet nikah, dan krystal semoga bener-bener mencintai minho ya hehe. Lanjut nya jangan lama-lama thorrr

  12. Jungie

    aigo… gak sabar ngeliat minstal nikahh…
    haesica sempet2 aja bertengkar…

  13. RayOn

    Keren thor,, mian baru komen di part yg ini,, tpi bgus bnget kok ff-nya,, lanjutkan!!

  14. akhirnya lanjutannyaaaaaa~

    makin nggak sabar ama lanjutannya, jadi nikah kan ya ini hehehe

    lanjutannya di tunggu thor

  15. khalisha adelia aziza

    kaak lanjuut😦

  16. dara citra

    Lanjutt dong thorrr penasaran tingkat dewa nii plissss
    Author fighting ^ ^

  17. fathin afanti

    Lanjut thor, jgn lama” dong hehe. Bikin sequelnya jg dong buat taelli, gomawo😀

  18. This ff is daebak!!

    Ini part 8 nya blm ada ya?:/ penasaran bgt ak sma kelanjutannya

  19. ratri latifah

    ayo dong di lanjut

  20. lesdy

    alurnya gak kecepatan kok. ceritanya bagus banget. Ditunggu loh chapter selanjutnya. kalo bisa secepatnya🙂

  21. Haaaiii aku reader baru dan langsung ngebut baca ff ini. Cerita nya bagus dan menarik, lanjut part berikutnya dong..kan sayang kalo ceritanya ngegantung hihihi😀

  22. Afshn

    oh my, ini udah setahun lebih dan belum ada lanjutan? aku berharap banget ff ini bakal dilanjut lagi sampe selesai dan gak molor waktu postnya :v aku suka karakter krystal n’ i’ve waited for so long wkkks kabulkanlah permintaan reader mu ini ya Dearest Author🙂

  23. Anggita

    Thor,belum ada kelanjutannya yaa? Pdhl bagus banget ffnya,pokoknya next chapter aku tunggu ya sampe selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: