Winter of Love – Destination

IMG_20140109_2Winter of Love – Destination

Cast: Luna Park, Lee Jinki

Genre: family, romance

Rating : PG 13

Author: Patty

Patty sih gak banyak omong. Cuma mau bilang, monggo dibaca…….

 

Wanita mungil berambut hitam sebahu ini menyapu rambutnya yang penuh dengan butiran salju. Nafasnya tersengal-sengal. Dapat terlihat gumpalan uap dingin keluar dari mulutnya. Dia menunggu dan menunggu di halte persimpangan jalan itu. Tempat dia sudah berjanji dengan orang yang dia sayangi untuk bertemu dan pergi menghabiskan malam natal bersama. Dia menggosokan kedua telapak tangannya, mencoba mencari kehangatan dan mempererat syal tebal pemberian dari kekasihnya itu.

~trrttt

Sudah 30 menit. Tidak biasanya kekasihnya membuatnya menunggu. Biasanya dia malah terlebih dahulu datang.

Telpon genggamnya bergetar. Gadis ini tersenyum dan yakin kalau pacarnya yang menghubunginya.

“Ya.. lama sekali…” keluhnya manja.

“Luna…”

Wajah gadis yang dipanggil Luna ini berubah saat didengarnya itu bukan suara kekasihnya. Melainkan suara Ayah kekasihnya.

“Mir sudah tiada. Di..Dia kambuh saat ingin pergi menemuimu. Kankernya tiba-tiba menyerang. Dan.. tidak bisa diselamatkan lagi. Kau kemarilah nak.” Ucap Ayah Mir dengan nada bergetar. Luna masih tidak bisa menyaring kata-kata dari orangtua Mir. Airmatanya langsung mengalir tanpa isakan. Dia masih mengambang. Matanya tertuju pada gumpalan salju di jalanan tepat didepannya. Dia tak menghiraukan kendaraan atau bus yang lalu-lalang disitu. Seharusnya dia sudah menghentikan salah satunya dan pergi. Dia hanya terduduk di kursi halte dan diam. Masih menatap salju.

Tiba-tiba hujan yang sangat deras turun. Dia tidak bergeming. Dia tidak mengeratkan baju hangat ataupun syalnya. Tidak peduli dengan udara yang ekstrim itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah kekasihnya yang pergi bahkan tanpa melihatnya untuk terakhir kali.

“Kau tidak apa-apa kalau nanti tidak ada aku?”

 

“carilah kebahagiaanmu yang sebenarnya, Luna”

 

“Tujuanmu bukan denganku. Kau tahu itu.”

 

“Jangan pernah menyangkal hatimu sendiri”

Luna terus mengulang kata-kata Mir 2 hari yang lalu. Terakhir kali mereka bertemu. Entah apa maksud Mir. Tapi, dia seolah-olah menyuruh Luna untuk pergi dari kehidupannya. Mencari kebahagiaan lain. Mereka tidak bertengkar. Mir mengatakannya dengan halus sambil merangkul pundak Luna dan berjalan di tepi pantai yang sangat dingin di akhir tahun. Luna tahu kalau Mir terkena kanker hati. Dia orang pertama yang diberitahu Mir. Tapi dia tidak menyangka Mir akan benar-benar meninggalkannya. Secepat ini. Hanya dalam 1 tahun mereka berhubungan.

Sebuah baju hangat cokelat tebal membungkus badan Luna, menambah kehangatan dari baju hangat sebelumnya. sarung tangannya di lapis dengan sepasang sarung tangan wol berwarna ungu, warna kesukaannya. Telinganya yang telanjang kini ditutupi dengan penutup telinga hangat berwarna senada. Luna tak bergeming. Airmatanya telah bercampur dengan hujan yang terkena padanya karena tiupan angin. Dia tak menghiraukan orang yang memakaikan semua itu padanya.

“Kau bisa sakit, bodoh.”

Luna menatap keatas. Melihat senyum malaikat itu. Orang yang selalu memeluknya saat dia butuh kehangatan. Orang yang selalu memperhatikannya dari jauh untuk memastikan dia baik-baik saja saat bersama Mir. Dan orang yang selalu menjadi pembelanya saat banyak anak yang membullinya di Sekolah karena berpacaran dengan murid setampan Mir.

“Mir menghubungiku…” ucapnya. Sukses membuat mata Luna membulat tak paham dan kaget.

“Saat aku sedang menyetir. Sesaat sebelum dia meninggal.” Luna masih tak bergeming. Masih menatap kedua mata cipit itu.

 

 

“Hyung, Luna sedang menungguku di halte dekat panti, bisakah kau pergi melihatnya? Aku pikir badanku tidak bersahabat. Dadaku mulai sakit. Pergi lihatlah dia. Aku takut dia kedinginan menungguku. Bawa dia pulang kalau aku benar-benar tidak muncul.”

Pria manis berambut blonde ini tersenyum dan kini mengambil tempat duduk tepat disamping Luna. Dia memegang kedua tangannya.

“Ayo temui Mir. Dia tidak akan mungkin dimakamkan sebelum bertemu dengan orang yang dia cintai. Berhenti menangis. Dia tidak menyukai airmatamu. Dia berpesan itu padaku.” Ucapnya halus sambil mengeratkan syal Luna.

“Hmm.. kajja!”  dia berdiri dan langsung menarik tangan Luna. Membukakan pintu mobil untuknya. Saat duduk dibangku kemudi, dia kembali memegang tangan Luna. Ingin memberikan sedikit kekuatan dan kehangatan untuknya. Luna hanya diam dan menatap keluar jendela. Dia sudah tidak menangis sekarang. Tapi sakitnya masih terasa. Dia hanya berharap dia bisa segera melihat kekasihnya itu.

***

Mir masih terbaring di kamar pasien saat Luna tiba. Semua keluarga sudah ada disana. Dan saat mereka melihat Luna tiba, mereka keluar dari ruangan itu.

“Masuklah, ucapkan salam perpisahanmu dan setelah itu kita akan memakamkannya.” Ucap Ibu Mir sambil menangis.

Luna hanya diam dan memasuki ruang itu. Dia terpukul melihat kain putih yang membungkus penuh badan orang yang dia yakin pacarnya itu dari kepala hingga kaki. Menandakan kalau dia benar-benar telah tiada. Dia membuka kain itu perlahan dan menatap wajah Mir yang putih pucat. Ketampanannya masih tetap disana. Dia bahkan meninggal dengan wajah yang sedikit tersenyum. Membuat Luna semakin sakit dan menyangka dia benar-benar ingin meninggalkan Luna. Diapun kini memukul-mukul dada mir dengan pelan. Tangisannya memecah keheningan ruangan.

“Babo! Mir babo! Kau sengaja meninggalkanku hm? Kau tahu aku hidup sendiri dan sekarang harus jadi apa aku tanpa kau? Waktu pelulusan kau bilang kita akan menikah dan kau akan menafkahiku! Pembohong!”

Luna menyandarkan kepalanya di dada Mir dan menangis sekencang-kencangnya. Sekitar 1 jam di dalam ruangan itu, Luna kini mereda. Dia hanya duduk diam sambil memegang tangan dingin pacarnya itu.

Hingga dia disadarkan oleh secarik amplop yang terselip dibalik bantal. Luna menariknya dan membaca tulisan “untuk Luna” di luarnya. Dengan gemetar dia membukanya dan membacanya perlahan.

Luna yah, kau baik-baik saja? Aku menulis ini tepat saat kau menerima cintaku. Aku tidak tahu kapan kau akan membacanya. Yang jelas aku tahu suatu saat kau akan membacanya saat aku sudah tiada.

 

Mianhae.. Jeongmal mianhae. Aku meninggalkanmu seperti ini. Kau tahu kan kalau kanker tidak bisa disembuhkan. Aku memang bodoh membuatmu menjadi pacarku. Walaupun aku tahu aku akan meninggalkanmu.

 

Luna yah, Aku minta maaf aku mengambilmu dari dia.  Aku minta maaf aku yang sakit ini selalu egois didepannya. Walaupun dia hyungku, dan aku tahu kau mencintainya, aku selalu mengutamakan diriku. Dan aku tahu dia selalu mengalah karena menyayangiku.

 

Aku pernah melihatnya menangis dikamar saat tahu kita telah bersama. Hatiku sakit. Tapi lebih sakit lagi kalau harus melepasmu. Jadi aku tidak ingin melepasmu. Aku tahu aku laki-laki pengecut dan takut untuk melihat kebahagiaan orang lain. Mianhae…

 

Kau ingat saat kita bertemu waktu tahun ajaran baru SMA? Kau menabrak hyungku dan menumpahkan kopi panas diseragamnya. Mukamu memerah karena malu. Karena kau tahu hyungku adalah ketua osis yang terkenal. Dia meneriakimu dan aku yang membelamu. Oh ya, Aku tidak menyangka kita akan sekelas.

 

Aku juga tidak menyangka kau tidak mempunyai orang tua dan bisa masuk di sekolah itu karena beasiswa. Tapi aku senang. Sikapmu yang tegar, polos, dan lucu itu membuatku menyukaimu. Kita menjadi semakin akrab. Sayangnya hyungku selalu mengganggumu setiap kalian bertemu. Aku tahu sikapnya dibuat-buat. Dia hanya ingin mencari perhatian darimu. Didepanmu saja dia terlihat seperti seorang badboy. Tapi kalau tidak ada kau, sikap murid teladannya keluar. Haha

 

Aku sangat sakit saat mengetahui kau sudah berpacaran dengannya saat kelas 2. Aku tidak menyangka orang yang selalu mengusilimu bisa membuatmu menyukainya. Kalau aku tahu, aku tidak akan menjadi pembelamu dan malah menjadi pengganggumu agar kau menyukaiku.

 

Aku memang licik membuatmu simpati padaku dengan memberitahukan penyakitku. Aku akui itu. Tapi sisi positifnya adalah kau menjadi perhatian padaku. Orangtuaku juga menyukaimu setiap kau kerumah dan membawakan bubur untukku. Aku sadar jarak antara kau dan dia semakin menjauh karena aku. Aku pernah mendapati kalian berkelahi didapur karena aku. Aku terpukul melihat kekecewaan hyungku. Dan aku tidak menyangka aku akan pingsan didepan kalian karena itu.

 

Semakin hari fokus mu hanya untukku dan membuatnya marah. Aku tahu itu. Aku merasa bersalah pada hyung saat aku sengaja mencium bibirmu saat dia memasuki kamarku. Aku tahu kau kaget dan marah, tapi aku hanya ingin kalian berdua putus.dan aku berhasil. Mianhae..

 

Aku tidak menyangka kau akan menerima cintaku saat aku menyatakannya 3 bulan kemudian. Walaupun aku tahu kau tidak sungguh-sungguh saat mengatakan kau juga mencintaiku, tapi aku senang.

 

Luna, dengarkan baik-baik. Saat aku benar-benar dipanggil Tuhan, kembalilah padanya. Aku tidak tahu saat itu kau benar-benar sudah mencintaiku atau tidak, tapi kembalilah padanya. Tujuan hidupmu bukan denganku, tapi dengannya. Kalau dia benar-benar tidak memiliki penggantimu selama kita bersama, itu berarti dia benar-benar mencintaimu. Kembalilah dengannya, jagi. Ini permintaan terakhirku untuk kebahagiaanku yang sesungguhnya, dan kebahagiaanmu. Bukan keegoisanku lagi. Kalau kau melakukannya, aku bisa beristirahat dengan tenang. Annyeong.. aku yakin kita bisa bertemu lagi di surga nanti.

 

Saranghae…

Mir

~~

Luna melipat surat itu dan menyeka airmatanya yang sedari tadi mengalir. Dia terisak.

“Babo! Aku memang mencintainya, tapi aku menyayangimu lebih dari apapun.” tangis Luna.

Tanpa dia sadari, orang yang mengantarnya tadi terus berdiri dibelakang tempatnya duduk. Orang itu meneteskan airmata dan pergi dari situ dalam diam.

***

3 bulan kemudian.

“Sedang apa?” tanya Luna pada pria yang sebenarnya mengisi hatinya itu. Dia sedang berada dirumah Mir. Lebih tepatnya orangtua Mir memintanya keluar dari panti asuhan dan tinggal dengan mereka atas permintaan Mir. Walaupun mereka tetap mengijinkan Luna untuk membantu anak-anak panti. Mereka betul-betul menyayangi Luna.

“Jangan menggangguku. Aku sedang serius belajar. Besok aku ada diskusi dan dosenku sangat sensitif pada kesalahan kecil.”

“Cih. Aku bahkan tidak mengganggumu atau menanyakan soal dosenmu. Singkirkan pantatmu dari lantai! kau tidak lihat aku sedang menyapu?” ucap Luna sinis.

“Kau tidak lihat aku sedang belajar ?” pria itu memperlihatkan bukunya dengan wajah risih.

“Kenapa harus belajar diruang tamu? Kenapa tidak belajar di meja belajarmu dikamar? Kenapa harus menggangguku? Tadi aku memasak, kau bermain laptop didapur. Aku belajar diruang nonton, kau datang dan memainkan PS3 mu. Dan sekarang aku menyapu, kau malah duduk dengan sejahtera dilantai. Kau betul-betul menyukaiku sampai harus seperti itu, Lee Jinki?” tanya Luna sambil berkacak pinggang menatap pria bernama Jinki itu penuh kemenangan. Dia memang benar dan membuat muka Jinki memerah.

“Siapa bilang aku menyukaimu. Itu dulu. Percaya diri itu tidak bagus, miss.” Jinki mengumpulkan semua bukunya dan lari kembali kekamarnya dengan muka yang masih merah.

“Berbohong itu tidak bagus, Mister!” teriak Luna saat Jinki memasuki kamarnya.

“Mir, kau tahu? Kakakmu kini menjadi anak-anak lagi. Dulu saat aku pacaran denganmu, dia betul-betul baik dan perhatian. Apa karena dia sudah tidak punya saingan makanya sikapnya kembali seperti saat kami pertama kali bertemu? Dia betul-betul membuatku kesal. Walaupun itu membuatku selalu senang didekatnya sih. haha”

“Yah! Jangan menghayal! Cepat kekamarku setelah selesai. Ada yang ingin aku katakan. Cepat sebelum Ayah dan Ibuku pulang dan memarahimu karena mendapatimu melakukan pekerjaan ahjumma.” teriak Jinki yang kembali keluar kamar hanya untuk mengatakan itu.

“Arrasseo babo..” Luna menggeleng dan melanjutkan kegiatannya.

***

“Ada ap…?” saat dia memasuki kamar, dia kaget karena Jinki sudah menyambutnya dengan pelukan erat.

“He.. Hey. Oppa! Ada apa denganmu? kenapa memelukku seperti i..” ucapannya terhenti lagi saat Jinki mengecup bibirnya dengan sangat lama dan menutup matanya. Jantung mereka berdua berdegup kencang saat melepas ciuman itu.

“Jadilah pacarku, Luna..” bisiknya saat menempelkan dahi mereka berdua. Mukanya memerah. Bergitupun Luna.

“Aku bahkan belum putus dengan pacarku, Oppa.” Ucap Luna sambil tersenyum kecil.

“Pacarmu itu memberikan ijinnya untukku, dongsaengie.”

“Berhenti memanggilku seperti itu Lee Jinki. Atau aku tidak mau menjadi pacarmu.” Luna menjauhkan dirinya dan berbalik menuju pintu. Jinki langsung menariknya lagi kedalam pelukannya dan tertawa.

“Haha.. Arrasseo.. Gomawo..“ ucap Jinki dan mengelus kepala Luna dalam pelukannya. Perlahan Luna tersenyum dan balas memeluknya.

“Mir, kau bisa lihat dari sana? Dia kembali padaku. Jangan cemburu. Dalam drama, yang licik selalu kalah dan yang baik selalu menang pada episode terakhir. Haha. Aku akan menjaganya untukmu, Saeng.”

“Gomawo Mir. Aku benar-benar bahagia bisa memeluknya seperti ini. Aku benar-benar mencintai Jinki. Jangan marah, aku juga menyayangimu.”

 

Winter of Love – Destination

***END***

How is it? Curahkan komenmu untuk ff satu ini. Pengennya bkin cerita yang bener” heartbreaking, tapi kok turned out like this? Haha. Ya benar-benar gak bakat bkin sad story. lol

KOMENNYA SANGAT DIHARAPKAN.

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Winter of Love – Destination

  1. Lee Jinyeong

    Uda lama gk baca ff lunew (´▽`ʃƪ)
    Suka sama Jinki yg usil ke Luna pdhl dia cinta~
    Mir licik banget sih~ masa pacar hyungnya direbut..
    Bener kata Jinki, dlm drama yg licik bakal kalah,, rasain tuh Mir~ *ditabokMir*😄
    Yg penting LuNew bersatu! (^▽^)

    Ditunggu ff LuNew berikutnya~
    Author-nim, fighting!!! ^^

  2. Glaze Donut

    Bagus bgt thor ffnya…
    Tapi baca ff ini bingung mau nyalahin mir atau onew ‘-‘ tpi kayaknya yg salah mir deh,huahahaha /plak >.<

  3. Annisa Kpopers

    Keren!!!! ><

  4. Huweee…. mereka balikan setelah Mir bener” meninggal gitu? Baguslah… Lunew >^<
    Salah satu Pairing Favorite ku…

    Daebak FF

  5. zia

    kerenn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: