Black Pearl [Verse 5.1]

Summary: Karena bagi mereka, kelima gadis itu sangatlah berharga. Bersinar layaknya mentari, tersenyum layaknya bunga yang bermekaran, memberi melodi indah layaknya nyanyian burung-burung. Because those girls are their beautiful black pearls…

 

Romance/Drama | SHINee & f(x) | Multichapters

PG rated.

 

The idea originally came from my head, but the characters belong to their families and God itself.

 

Black Pearl © Park Sooyun

 

 

 

Verse five for Taelli.

 

Rasanya berat sekali untuk menginjakkan kaki di tempat asing seperti ini. Meskipun ia telah berpindah-pindah sekolah sebanyak empat kali dalam hidupnya, tetap saja ia tidak terbiasa dengan keadaan dimana ia diharuskan untuk bertemu orang-orang baru. Ia benci hal seperti itu. Ia benci dirinya sendiri. Ia benci dengan kenyataan bahwa ia sering di-bully teman-temannya dan hal itu pasti akan terjadi lagi di sini, di sekolah barunya. 

Beberapa orang siswa meliriknya, mungkin merasa asing dengan dirinya. Ia menundukkan wajahnya, memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan memainkan jari-jarinya dengan gelisah. Dimana guru yang telah berjanji untuk mengantarnya ke kelas? Tadi ia pergi ke ruang kepala sekolah dan kepala sekolah bilang ia akan dijemput oleh wali kelasnya.

Setelah beberapa saat menunggu, seorang wanita berumur empat puluhan menghampirinya.

“Lee Taemin-ssi?”

Taemin mengangguk.

“Namaku Kang Yoora, wali kelas sebelas IPA enam. Silakan lewat sini, Taemin-ssi. Kelasmu ada di lantai dua gedung D. Tiga ruangan dari tangga. Aku akan mengantarmu ke sana.”

“Te-terima kasih.”

Taemin mengikuti wali kelasnya dari belakang. Sekolah ini nampak seperti sekolahnya yang dulu. Dari bentuk gedung, cat ruang kelas, bahkan tanaman yang ada di taman sekolah—semuanya persis sama. Ia berdoa dalam hati, semoga penghuni sekolah ini tidak sama seperti penghuni sekolahnya yang dulu.

Nyonya Kang Yoora berhenti di depan sebuah pintu. Dia membukanya kemudian masuk. Taemin mengikutinya dari belakang. Kelas itu nampak tenang. Kebanyakan siswanya sudah duduk di tempat masing-masing. Hanya beberapa anak saja yang berkumpul di belakang, kemudian mereka buru-buru kembali ke tempat duduk mereka saat menyadari ada guru yang masuk.

“Anak-anak, kita kedatangan murid baru dari Incheon.”

Beberapa murid nampak terkejut. Taemin dapat mendengar mereka berbisik-bisik. Rata-rata berkomentar betapa jauhnya ia pindah.

“Silakan perkenalkan dirimu.”

Keringat menetes dari dahi Taemin. Ia membungkukkan badan lalu berucap dengan susah payah, “Na-nama saya Lee Taemin. Mohon kerja samanya.”

“Baiklah, Taemin-ssi. Kau bisa duduk di belakang, dekat jendela.”

Sambil mencengkeram tasnya erat-erat, Taemin berjalan dengan cepat ke kursinya. Ia duduk dengan terburu-buru hingga kakinya tersandung mejanya sendiri. Tidak ada yang memperhatikan, kecuali orang yang duduk di sebelah kanannya.

“Hati-hati,” katanya. Pemuda berbadan tegap itu menunjuk meja Taemin. “Meja itu memang sering menelan korban.”

Taemin meneguk salivanya. “Te-terima kasih atas peringatannya.” Pemuda itu hanya mengangguk dan segera mengabaikan Taemin. Taemin menghela napas diam-diam. Ia mengambil buku dari dalam tasnya dan berusaha untuk tetap fokus pada pelajaran yang baru dimulai.

 

***

 

“Lee Taemin-ssi, mengapa kau tidak mengisi kolom ekstrakurikuler?”

Pertanyaan sang wali kelas membuat Taemin tergugup. Sebagai murid baru, ia diwajibkan mengisi data diri. Dan salah satu elemen yang ada di sana adalah pilihan ekstrakurikuler. Taemin selalu memiliki masalah dengan ekstrakurikuler di sekolah yang ia tempati. Terakhir kali ia bergabung dengan Klub Penelitian di sekolah lamanya, ia hanya dijadikan kacung yang bertugas memindahkan barang-barang dan membersihkan ruangan klub. Akan lebih baik jika ia tidak bergabung dengan ekstrakurikuler manapun.

Nyonya Kang kemudian menjelaskan, “Bergabung dengan salah satu ekstrakurikuler adalah kewajiban setiap siswa di sekolah ini. Kami menggunakan sistem penilaian dimana kegiatan ekstrakurikuler menjadi salah satu komponennya. Intinya, kegiatan ekstrakurikuler dapat menunjang nilaimu di rapor.”

Tanpa dijelaskan pun Taemin sudah mengerti akan hal itu. Ia menunduk. “Sa-saya masih bingung ingin bergabung dengan klub mana.”

“Aku mengerti hal itu,” kata Nyonya Kang. “Kau baru pindah kemari jadi pasti kau belum tahu ekstrakurikuler apa saja yang ada di sini. Ada lima belas klub yang bisa kau ikuti. Klub Melukis, Klub Sains, Klub Sastra—”

Ia tidak ingin mengikuti semua klub itu.

“—Klub Penelitian, Klub Memasak, Klub—”

Bisakah Nyonya Kang membiarkannya sendiri?

“—Klub Judo, Klub Tenis dan Klub Tari.”

Sontak, Taemin mengangkat wajahnya. Apakah tadi beliau menyebut Klub Tari?

“Uhm, anu—bisakah Ibu menjelaskan tentang Klub Tari?”

Nyonya Kang mengetuk-ngetukkan bolpoinnya di dagunya. “Klub Tari berada dalam binaan Lee Hyukjae songsaenim. Jika kau ingin bergabung, kau bisa menghubungi anggotanya.”

Hampir saja Taemin menghela napas. Rasanya ia enggan untuk berinteraksi dengan orang yang tidak dikenalnya. Berbicara dengan wali kelasnya saja sudah membuatnya cukup gugup, apa lagi dengan orang asing? Meskipun ia ingin sekali bergabung dengan Klub Tari, namun ketidakpercayaan terhadap dirinya sendiri membuat Taemin berpikir seribu kali.

“Saya akan memikirkannya,” balas Taemin pelan. Ia segera pergi dari kantor guru.

Ya Tuhan, sungguh hari yang berat.

 

***

 

Bunyi bel sekolah benar-benar membuat Taemin lega. Ia tersenyum kecil sambil membereskan buku-bukunya. Seluruh beban dan ketegangannya hampir menguap seluruhnya. Taemin menghirup napas dalam-dalam. Kini yang harus dia lakukan hanyalah berjalan keluar menyusuri lorong dan melewati gerbang sekolah. Hanya itu, simpel dan mudah.

Saat Taemin mengangkat tasnya, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia berbalik. Ternyata pemuda yang duduk di sebelah kanannya.

“Besok akan ada ulangan harian. Pelajari materi tentang metabolisme,” kata pemuda itu. Dia lebih tinggi beberapa senti dari Taemin. Badannya tegap dan ekspresi wajahnya benar-benar kuat. Taemin bertambah gugup. Ia hanya berharap pemuda ini tidak akan menindasnya.

“Oh, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Choi Minho,” kata pemuda itu sambil tersenyum ala gentleman. “Senang bertemu denganmu, Lee Taemin-ssi.”

“A-aku juga. Terima kasih atas infonya.” Taemin buru-buru membungkuk sembilan puluh derajat.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.” Minho pun keluar dari ruang kelas itu.

Taemin menepuk dahinya. Ya ampun, yang tadi itu benar-benar mendebarkan. Ia kira Minho adalah penindas, tapi setelah mendengar gaya bicaranya, ia tahu betul kalau Minho hanyalah murid cool yang tidak suka mencari keributan. Sekali lagi, Taemin menghela napas lega. Ia benar-benar mensyukuri kenyataan bahwa ia mendapatkan tempat duduk yang ‘aman’.

Sambil menikmati kelegaan yang luar biasa, Taemin membawa tasnya di punggung lalu berjalan ke luar. Sekolah sudah agak sepi. Hanya ada beberapa siswa yang masih berkeliaran. Ia baru saja akan keluar dari gedung sekolah saat seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

“Taemin hyung~!”

Ia berbalik dan melihat seorang pemuda berlari ke arahnya. Taemin menyipitkan mata, kemudian tersenyum. Itu adalah sepupunya, Kim Jongin.

“Jongin-ah,” sapa Taemin. “Kau bersekolah di sini?”

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukannya aku sudah memberitahumu sebelum kau pindah kemari?”

Taemin tertawa kecil. “Eh, benarkah? Aku lupa, hehehe.”

“Ya sudah, lupakan saja. Aku memaklumi ingatanmu yang seperti kakek-kakek itu. Oh ya, kau sudah bergabung dengan salah satu klub?”

“Belum. Memangnya kenapa?”

Mata Jongin langsung berapi-api. “Kalau begitu, bergabunglah dengan Eternity Dance Club! Klub ini memiliki prestasi dan fasilitas yang paling lengkap di sekolah ini. Kami punya ruang latihan sendiri dan tiap tahunnya, kami meraih medali di kompetisi nasional. Bagaimana? Hebat, ‘kan?”

Taemin mengusap belakang lehernya. “I-itu hebat sekali. Tapi aku belum berpikir untuk bergabung dengan klub manapun.”

Jongin terlihat sedikit terkejut. “Oh, benarkah? Kukira kau akan langsung setuju karena aku tahu betul kau suka sekali menari.”

Perkataan sepupunya membuat Taemin merasa sedikit tidak nyaman. “Entahlah, aku masih agak ragu,” balasnya dengan pelan.

Dengan senyum penuh pengertian, Jongin menepuk pundak Taemin. “Tenang saja. Anggota klub ini adalah anak-anak yang baik. Kurasa kau akan menyukai mereka. Ah, bagaimana jika kau kuajak ke ruang latihan kami? Sekalian saja kita battle!”

“Memangnya tidak apa-apa jika non-anggota masuk ke sana?”

“Tidak apa-apa selama kau bersama anggota klub.”

Taemin tersenyum. “Ayo kita ke sana.”

Kedua pemuda itupun pergi ke ruang latihan klub tari.

 

***

 

“Apa kau sudah menentukan pilihanmu?”

Ia menghela napas. “Ya, songsaenim. Saya… bergabung dengan Klub Tari.”

“Oh, itu bagus! Aku sempat khawatir karena sudah seminggu sejak kepindahanmu, kau belum juga menentukan pilihan. Dengan ini, semua data murid-murid kelasku sudah selesai dan tinggal dimasukkan ke dalam database sekolah. Kau boleh pergi, Lee Taemin-ssi.”

Taemin pamit kepada wali kelasnya lalu kembali ke kelasnya dengan langkah lemas. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan sepupunya kemarin sore.

“Aku sudah mendaftarkanmu sebagai anggota klub, jadi hyung tidak usah khawatir!”

Justru ia khawatir sekarang. Taemin mendesah. Kenapa sepupunya melakukan itu tanpa memberitahunya lebih dahulu? Sejujurnya, Taemin senang ia bisa bergabung dengan klub tari. Mungkin di tempat itu ia bisa mengembangkan apa yang telah menjadi passion-nya sejak kecil. Tapi bagaimana dengan anggota yang lain? Jongin tentu saja menerimanya dengan senang hati, namun belum tentu yang lain akan begitu. Ia sudah pernah merasakannya. Biasanya, anggota klub yang tidak bergabung sejak awal akan dikucilkan dan perlahan menjadi korban penindasan anggota yang lain.

Ingin sekali Taemin terbebas dari kecemasan seperti ini. Rasanya benar-benar tidak enak. Ia ingin melakukan hal-hal yang disukainya tanpa perlu mempedulikan reaksi orang-orang yang tidak menyukainya. Ia ingin mengembalikan kepercayaan dirinya yang hilang. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa ia juga punya sesuatu yang dapat dipamerkan dan dibanggakan.

Tapi rasanya hal itu susah sekali diwujudkan.

Taemin duduk di bangkunya dan mengikuti seluruh pelajaran sambil menahan kegelisahannya. Setelah bel tanda pulang berbunyi, ia cepat-cepat membereskan bukunya, menyambar tasnya lalu pergi dari situ.

Saat menuruni tangga, ia berpapasan dengan Jongin.

“Hai, hyung,” sapa Jongin. Taemin menyadari bahwa ada yang aneh pada Jongin hari ini.

“Hai.”

“U-uhm,” Jongin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ingin minta maaf karena telah mendaftarkanmu tanpa seijinmu. Seharusnya aku bilang dulu padamu. Pokoknya, aku minta maaf sebesar-besarnya.”

Taemin tersenyum. “Tidak apa-apa. Sebenarnya, aku telah mempertimbangkan untuk bergabung dengan klub tari. Terima kasih sudah mengijinkanku untuk bergabung.”

“Apa benar tidak apa-apa?”

Ia hanya mengangguk.

Jongin menghela napas. “Syukurlah. Kukira kau marah padaku.”

“Kapan jadwal latihannya?”

“Biasanya kami berlatih tiap Jumat sore. Tapi, berhubung pembina kami sedang berada di luar kota, kami berlatih sendiri-sendiri. Kau bisa menggunakan ruang latihan kapanpun yang kau mau.”

 

***

 

Ruangan itu nampak benar-benar sepi. Tidak ada siapapun di sana. Taemin berjalan mengendap-endap di lorong sekolah. Ia berjalan dengan normal setelah memastikan bahwa hanya ia yang berada di sana. Ia menyentuh gagang pintu ruang latihan lalu membukanya secara perlahan. Taemin masuk ke dalamnya dengan hati riang.

Tanpa buang waktu, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungkannya ke pengeras suara di sudut ruangan. Beberapa saat kemudian, musik pop beat mengalun. Taemin melakukan beberapa gerakan pemanasan sebelum akhirnya mulai menari. Ia mengawali tariannya dengan gerakan popping yang ringan. Saat tempo musik makin cepat, ia melakukan gerakan tangan yang cepat dan rumit, lalu dilanjutkan oleh putaran balet dan sedikit break dance.

Taemin menatap bayangan dirinya di cermin. Ia tersenyum lebar. Musik membuatnya lupa dengan sekelilingnya dan hanya memperparah kecintaannya terhadap tari. Sosok yang terpantul di cermin itu benar-benar membuat Taemin merasa bangga. Ia memiliki sisi yang berbeda.

Saat berhadapan dengan orang-orang, yang ia rasakan hanyalah ketidakpercayaan diri yang selalu menyiksa dirinya. Namun saat musik mengalun, hasratnya akan tari meluap begitu saja hingga mengalahkan ketidakpercayaan dirinya. Ia akan bergerak begitu ada musik. Tari adalah sesuatu yang sangat dicintainya. Batinnya akan bergetar setiap kali ia menari.

Tiga menit kemudian, tempo musik melambat hingga akhirnya benar-benar berhenti. Taemin mengakhiri tariannya dengan begitu indah. Meskipun napasnya terengah-engah, ia begitu bahagia. Saat ia menatap cermin, yang dilihatnya bukan hanya bayangannya saja. Ada seorang gadis yang berdiri dengan mulut ternganga di pintu ruang latihan.

Taemin membalikkan badannya dan kegugupan langsung membanjiri dirinya.

“Wow,” ucap gadis itu. Dia nampak terkagum-kagum. “Yang tadi itu bagus sekali.”

“Te-terima kasih,” balas Taemin singkat. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan barang-barangnya.

Gadis itu berjalan mendekatinya. Dia berambut hitam panjang, berparas manis dan memiliki tinggi badan di atas rata-rata. Meskipun senyumannya nampak ramah, Taemin tetap tidak dapat menghilangkan kegugupannya. Ia merasa sangat awkward.

“Apa kau anggota baru yang diceritakan Jongin?” tanya si gadis.

Taemin menyambar tasnya. “A-aku harus pergi.” Tanpa buang waktu, ia segera meninggalkan ruang latihan.

“H-hei!” Gadis itu berusaha mengejarnya. “Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud menganggu latihanmu.”

Namun Taemin telah menghilang.

 

***

 

Kejadian tiga hari yang lalu masih menghantui Taemin. Seharusnya ia tidak lari seperti pengecut pada hari itu. Gadis itu hanya ingin menyapa anggota baru dari klubnya. Ingin rasanya Taemin memaki dirinya sendiri. Sepertinya kini ia tidak hanya kehilangan kepercayaan dirinya, namun ia juga dihantui oleh ketakutan akan orang lain. Ini sangat parah. Ia tidak mau menjadi orang yang kelewat pemalu hingga disangka anti sosial. Taemin menelungkupkan kepalanya di atas meja.

“Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan itu membuat Taemin mengangkat kepalanya. Ia menatap Minho yang ada di sebelahnya dan berusaha untuk tersenyum. “Y-ya.”

Minho mengangguk-angguk. “Kukira kau sakit atau apalah.” Pemuda itu kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri di mejanya.

Kembali Taemin menelungkupkan kepalanya. Guru Matematika yang seharusnya mengisi jam terakhir tidak masuk karena ada rapat mendadak di kantor guru. Kini ia sedang menanti menit-menit terakhir sebelum bel tanda pulang berbunyi.

Taemin mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Ia ingin kembali ke ruang latihan. Sangat jelas bahwa tempat itu adalah tempat favoritnya di sekolah ini. Tapi bagaimana jika di sana ia bertemu dengan anggota yang lain? Cepat atau lambat, pasti ia akan berhadapan dengan mereka saat latihan rutin dimulai. Mungkin ia harus pergi ke ruang latihan sepulang sekolah nanti. Dan yang pasti, ia tidak boleh kabur kali ini jika bertemu dengan anggota yang lain. Yah, minimal menyapa mereka.

Di saat Taemin tengah mengumpulkan tekadnya, bel berbunyi. Murid-murid yang lain bersorak kegirangan dan langsung menyambar tas mereka, kemudian keluar dari kelas itu. Taemin keluar paling belakangan. Ia memutuskan untuk mengerjakan tugas Kimia terlebih dahulu. Barulah sekitar dua puluh menit kemudian, ia keluar. Ia berjalan menyusuri lorong dengan tenang, menuruni tangga, keluar dari gedung D dan berjalan menuju gedung E yang berada di bagian belakang sekolah.

Ruang latihan klub tari berada di lantai satu gedung E. Letaknya ada di ujung lorong. Awalnya ruang latihan dibangun di gedung C, namun karena sering dianggap mengganggu kegiatan belajar mengajar, kepala sekolah memindahkannya ke belakang.

Setibanya di depan ruang latihan, Taemin langsung membuka pintunya tanpa pikir panjang. Musik yang mengalun di dalam ruangan itu langsung menghantam telinganya. Ia mendongak dan melihat gadis yang ditemuinya tiga hari lalu berada di dalam, sedang duduk di tengah ruangan sambil menyeka dahinya. Tiba-tiba, gadis itu menoleh ke arahnya.

Taemin agak terkejut, kemudian menunduk dan bergumam, “Maaf.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah selesai latihan,” kata gadis itu.

Tanpa sadar, Taemin membalikkan diri dan meninggalkan ruang latihan. Ia berbelok di sudut lorong dan bersembunyi di balik tangga gedung E. Taemin mengutuk dirinya sendiri. Sekali lagi, ia membiarkan dirinya menjadi pengecut. Seharusnya ia tidak langsung kabur seperti tadi.

Taemin memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak ada alasan untuk merasa takut. Ia masuk ke dalam ruang latihan, tapi tempat itu sudah kosong. Taemin menghela napas, ia merasa sedikit menyesal. Ia melihat sesuatu tergeletak di lantai dan berjalan ke arahnya, kemudian memungutnya.

Sebuah notebook kecil berwarna merah cerah. Di sampulnya tertulis C.S.: Super Classified.

Pasti milik gadis itu.

Taemin agak ragu, tetapi pada akhirnya ia menaruh notebook itu di dalam tasnya. Tentu saja ia harus mengembalikan benda ini kepada pemiliknya.

 

***

 

Minggu ini benar-benar minggu yang melelahkan. Empat ulangan harian dalam tiga hari berturut-turut. Belum lagi ditambah dengan tugas yang menumpuk, sungguh menguras tenaga murid manapun. Termasuk Taemin.

Bahkan saking sibuknya, ia sama sekali belum berlatih menari. Padahal biasanya ia berlatih menari di kamarnya setiap hari. Taemin duduk di depan ruang kelasnya. Sebenarnya kelas telah bubar lima belas menit yang lalu, tapi ia tidak langsung pulang. Ia memutuskan untuk mampir dulu di ruang latihan klub tari dan ia sedang menunggu hingga gedung E benar-benar sepi. Namun bukan hanya itu yang membuatnya tinggal di sini.

Taemin membuka bagian depan tasnya dan mengeluarkan sebuah notebook berwarna merah cerah. Ia menemukan benda ini beberapa hari yang lalu, tapi ia belum juga menemukan pemiliknya. Setiap jam istirahat ia akan pergi ke kantin dan berharap bertemu gadis itu, tapi nyatanya tidak demikian. Ia tidak mungkin berkeliling sekolah karena jam istirahat sangatlah pendek, sedangkan sekolah ini luasnya tidak terkira.

Sambil mendesah, Taemin bangkit dari kursi. Tangannya masih memegang erat notebook itu. Ia berjalan menuju ruang latihan.

Sesampainya di depan ruangan, ia mendengar suara musik mengalun dari dalam. Taemin langsung berharap bahwa orang yang ada di dalam adalah gadis itu. Ia membuka pintu ruang latihan. Ternyata harapannya terkabul. Gadis itu sedang beristirahat di dekat pengeras suara.

Sambil berusaha untuk menenangkan dirinya, Taemin berjalan mendekati gadis itu. Ia berdehem.

Gadis itu mendongak.

“H-hai,” sapa Taemin dengan canggung. “A-aku menemukan notebook ini beberapa hari yang lalu di sini. Apa ini milikmu?”

Mata gadis itu langsung melebar. Dia berdiri dan tersenyum cerah. “Oh, terima kasih banyak! Aku kira benda itu jatuh di tengah jalan.”

Taemin menyerahkan notebook itu.

“Terima kasih, ya!” ucap si gadis dengan riang. “Apa kau anggota baru itu?”

“I-iya.”

“Selamat datang di Eternity Dance Club! Aku sangat senang ada anggota baru yang bergabung.”

Taemin membungkuk sedikit. “Mo-mohon kerja samanya.”

Gadis itu masih tersenyum. “Namaku Choi Sulli dan aku masih tingkat pertama.”

“Aku Lee Taemin, tingkat kedua.”

Sulli mengajaknya duduk di lantai dan Taemin mengikutinya. Ia masih tidak percaya bahwa ia sedang bersama dengan anggota klub yang baru dikenalnya. Tak disangka-sangka, ternyata Sulli sangat ramah. Meskipun masih agak canggung, Taemin berusaha terlihat senormal mungkin.

“Waktu itu kau menari dengan sangat hebat,” puji Sulli. “Bahkan menurutku lebih hebat dari Jongin, kekeke~”

Taemin tersenyum. “Bukan apa-apa kok.”

“Kau sekelas dengan Minho oppa, ‘kan?”

“Maksudmu Choi Minho? Ya, aku sekelas dengannya.”

“Aku harap kau tidak ketularan kakakku.”

Kedua alis Taemin bertaut.

Sulli terkekeh. “Kakakku punya masalah dengan perempuan, bahkan bisa dibilang dia anti terharap perempuan. Tapi itu masa lalu sih. Saat pertama bertemu denganmu, kau langsung pergi begitu saja. Aku kira kau ketularan kakakku.” (baca: Verse Four)

“I-itu—” Dalam sekejap Taemin langsung merasa canggung. Ia mengelus leher belakangnya. Matanya bergerak-gerak gelisah. “Sebenarnya, aku ini agak canggung dengan orang asing, jadi… begitulah.”

“Ah… Aku mengira kau ketularan kakakku atau marah karena aku telah mengganggu latihanmu,” balas Sulli. Dia tersenyum. “Kau tidak perlu merasa terburu-buru saat bertemu dengan orang asing. Santai saja. Toh mereka juga tidak mengenalmu. Selama kau tidak mencari masalah dengan mereka, semuanya akan baik-baik saja.”

Perkataan Sulli membuat Taemin tersenyum kecut. “Nyatanya tidak semua orang begitu,” gumamnya tanpa sadar.

“Hm? Kau mengatakan sesuatu?”

Buru-buru Taemin menggeleng. “Ti-tidak ada.”

Sulli hanya mengangguk-angguk. Dia menenggak minuman yang dibawanya. Beberapa saat kemudian, dia menoleh ke arah Taemin.

“Ingin berlatih bersama?”

Pertanyaan itu benar-benar membuat Taemin terkejut. Sebelumnya ia belum pernah menari bersama atau menari di hadapan orang lain. Meskipun agak ragu, Taemin menerima ajakan Sulli.

Musik mulai mengalun. Sulli langsung bergerak. Ternyata gadis itu cukup lentur. Pikiran Taemin masih kosong dan ia tidak tahu harus apa. Tapi musik yang menghentak membuat badannya tidak tahan untuk tidak bergerak. Perlahan, ia mulai menggerakkan tangannya, kemudian kakinya. Sesaat kemudian, badannya bergerak dengan sendirinya mengikuti irama musik. Sulli meliriknya dan nampak takjub.

“Wow, improvisasi yang bagus,” komentarnya sambil tersenyum. Dia berputar, melakukan split, bangkit lagi kemudian melakukan beberapa gerakan waving.

Taemin tersenyum melihat gadis itu. “Kau juga cukup bagus.”

“Terima kasih,” balas Sulli.

Mereka terus menari hingga musik berakhir. Beberapa saat kemudian, mereka tertawa.

“Menyenangkan sekali bisa berlatih bersamamu,” kata Sulli. Senyum tidak hilang dari wajahnya yang manis.

“Aku juga, Sulli-ssi.”

“Cukup Sulli saja. Omong-omong, mungkin kau harus mengajariku gerakan yang tadi.”

Kedua mata Taemin melebar. Kecanggungan yang sempat menguasai dirinya tiba-tiba terganti oleh suatu perasaan yang luar biasa. Perkataan gadis di hadapannya seperti menyulut sumbu semangat yang telah lama padam. Taemin merasa seperti telah menemukan napas kehidupannya kembali. Matanya mulai bersinar-sinar menyala, memancarkan apa yang sering disebut sebagai kepercayaan diri.

Taemin tersenyum. “Tentu, Sulli. Aku akan mengajari gerakan itu jika kau mau.”

 

***

 

“Kemarin aku melihatmu di ruang latihan bersama Sulli.”

Ia menyeruput minuman bersoda yang tadi dibelinya di mesin penjual minuman dekat kantin. “Ya, itu benar.”

Pemuda di sebelahnya tersenyum jahil. “Dan kalian sedang latihan. BER-DU-A.”

Sontak, wajahnya memerah. Taemin menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha untuk membalas perkataan sepupunya. “I-itu hanya latihan biasa. Kami berimprovisasi, itu saja. Tidak ada yang spesial.”

Hyung tahu apa yang berbeda?” tanya Jongin. Sepertinya dia sama sekali tidak mempedulikan penjelasan Taemin. “Tidak biasanya hyung mau menunjukkan kemampuanmu yang luar biasa itu kepada orang asing. Tapi apa yang kulihat kemarin? Kau menari bersama seorang gadis.

Wajah Taemin semakin memerah. Ia memang tidak terlalu bagus dalam menyembunyikan emosinya, apalagi jika menyangkut masalah perempuan. Kemampuan bersosialisasinya sangat jelek, jadi seumur hidupnya ia belum pernah dekat dengan perempuan. Bahkan sedekat dengan Choi Sulli seperti kejadian kemarin. Fakta itu membuat Taemin merasa malu.

Hyung, wajahmu merah sekali. Terkena flu di musim panas, ya?” goda Jongin.

Daripada membalas sepupunya yang memang jahil, ia lebih memilih untuk diam. Taemin bangkit dari kursi dan berjalan menuju mading yang berada tak jauh dari kantor guru. Ada banyak macam tulisan yang tertempel di sana. Puisi, cerita humor, berbagai pamflet berisi promosi ekstrakurikuler, dan foto murid-murid berprestasi. Ia memandangi foto-foto itu. Bibirnya tertarik ke atas membentuk seulas senyum. Ia berharap fotonya bisa terpajang di sana. Tapi tentu saja itu hanyalah sebuah harapan, batinnya. Mungkin ia tidak akan pernah bisa mewujudkan harapan itu.

“Taemin sunbae!”

Suara itu terdengar begitu riang. Taemin menolehkan kepalanya dan melihat Choi Sulli sedang tersenyum lebar ke arahnya.

“H-hai,” sapa Taemin.

Gadis itu mendekat. “Anneyeong,” Lalu dia beralih ke Jongin yang sedang menunggu di depan kantor guru. “Hai, Jongin! Sedang menunggu giliran untuk remidi, ya?”

“Sialan,” umpat Jongin.

Sulli terkekeh. Dia menatap Taemin. “Apa kau sibuk hari ini?”

“E-eh? Tidak kok. Memang kenapa?”

“Kau sudah berjanji untuk mengajariku gerakan yang kemarin.”

Ah, ternyata itu. Seulas senyum muncul di wajah Taemin. “Tentu. Tapi aku sedang menunggu Miho songsaenim yang sedang rapat di kantor untuk mengumpulkan tugas. Kau duluan saja, Sulli.”

“Baiklah. Sampai jumpa di ruang latihan!” Gadis itu melambaikan tangannya lalu melengang pergi.

Jongin bersiul-siul. “Tanpa embel-embel –ssi? Hm, menarik sekali,” godanya.

Taemin mencoba untuk mengabaikan sepupunya itu.

 

***

 

“Aku sudah dengar dari Miss Kang Yoora—”

Seorang anak laki-laki mengangkat tangannya. “Seharusnya Mrs., Sir, karena Yoora songsaenim sudah menikah.”

Guru itu menyipitkan matanya dan mendengus kesal. “Aku tahu itu, Sehun. Yang tadi itu hanya kesalahan bicara. Jadi, aku sudah dengar dari Mrs. Kang Yoora bahwa ada murid baru yang bergabung dengan klub ini. Itu kabar yang sangat bagus karena klub ini hanya punya tujuh orang anggota. Tapi aku tidak melihat murid baru itu. Dimana dia?”

Seluruh orang yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Kim Jongin. Jongin yang sedang sibuk memakan keripik kentangnya tersedak karena kaget tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Ia berdehem.

“Taemin hyung sedang berada di perpustakaan. Dia akan ke sini sebentar lagi.”

Tidak lama kemudian, pintu ruang latihan terbuka dan seorang pemuda masuk ke dalam ruangan. Dia menggumamkan permohonan maaf karena terlambat datang, kemudian duduk di sebelah Jongin.

“Baiklah, Anak Baru. Aku Lee Hyukjae, tapi kau bisa memanggilku Sir Thompson. Silakan perkenalkan dirimu.”

Si anak baru meneguk salivanya dan menatap wajah-wajah asing di hadapannya. Dia berdiri dan memperkenalkan dirinya. Lee Taemin, dari kelas sebelas IPA enam. Lalu dia duduk kembali.

Guru bernama Hyukjae itu tersenyum. “Baiklah. Pertama-tama, aku akan menjelaskan situasi yang sedang dihadapi oleh klub ini. Empat minggu lagi kompetisi nasional akan digelar di Seoul. Klub ini tentu saja akan hadir di sana. Aku harap kalian semua tampil dengan baik, karena aku telah dibuat pusing oleh kompetisi tersebut. Aku menghabiskan waktu selama sebulan untuk merancang koreografi. Dan menurutku hasilnya luar biasa! Jadi, tampilah sebaik mungkin!”

Semua murid bertepuk tangan, termasuk Taemin. Ia turut tersenyum melihat teman-teman satu klubnya yang nampak sangat bersemangat.

“Nah, kalian bisa latihan sekarang,” kata Hyukjae.

Jongin, Sulli dan kelima anak lainnya berdiri dan menyiapkan formasi. Sementara itu, guru pembina klub tari menghampiri Taemin yang masih terduduk.

“Taemin,” Pria berumur tiga puluhan itu duduk di sebelah Taemin. Dia berdehem. “Seperti yang kau tahu, kami sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi nasional. Dan tentang kompetisi itu, aku minta maaf bila aku terpaksa harus ‘mengabaikanmu’ karena fokus terhadap kompetisi itu. Sangat disayangkan bahwa kau baru pindah ke sekolah ini beberapa hari yang lalu. Jika kau melakukannya dua bulan lalu dan bergabung dengan klub ini, kau mungkin akan bergabung dengan mereka di kompetisi nasional.”

Seulas senyum terbit di wajah Taemin. “Tidak apa-apa, Songsaenim.  Saya tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Sungguh, bahkan saya tidak pernah berpikir untuk mengikuti kompetisi sebesar itu. Selama saya bisa menari, maka saya akan baik-baik saja.”

Sir Hyukjae mengangguk sambil tersenyum puas. “Terima kasih sudah mengerti, Taemin. Peraturan lomba mengatakan bahwa jumlah peserta tidak bisa ditambahkan. Anggota tim bisa saja diganti, tapi jumlahnya tidak boleh bertambah. Selain itu, bila aku tiba-tiba menambahkanmu… Well, kau tahu—” Hyukjae menggerak-gerakkan tangannya seolah hal itu dapat membantunya dalam menjelaskan alasannya.

“Saya mengerti,” kata Taemin.

“Syukurlah kalau begitu. Tapi tenang saja, kau bisa ikut berlatih atau duduk-duduk saja di sini. Terserah.”

Taemin mengangguk kecil, kemudian guru itu berdiri dan memperhatikan anak-anak didiknya yang tengah berlatih. Sebetulnya, Sir Hyukjae tidak perlu menjelaskan hal tadi kepadanya. Ia mengerti tentang posisinya di dalam klub ini. Ia hanya sekedar anggota yang baru bergabung beberapa hari lalu. Taemin sadar betul akan hal itu dan ia tidak akan memaksa teman-temannya serta gurunya untuk memasukkannya ke dalam tim. Bahkan ia tidak akan merasa iri bila mereka benar-benar tampil di kompetisi nasional. Bagi Taemin, kompetisi nasional rasanya menakutkan.

Helaan napas keluar dari mulutnya. Ia sadar bahwa jika ia tidak berubah, maka itu sama saja dengan menghalangi dirinya dari kemajuan. Namun mengingat hal-hal itu malah membuatnya makin takut. Mungkin lebih baik ia diam saja. Ya, mungkin itu yang terbaik.

“Taemin sunbae!” panggil Sulli. Gadis itu berputar dan melakukan beberapa gerakan break dance. “Ayo bergabung!”

“Bergabung saja jika kau ingin, Taemin. Jangan menahannya begitu. Aku tahu bagaimana rasanya menahan hasrat untuk menari. Rasanya gatal, ‘kan?” tambah Sir Hyukjae.

Taemin tersenyum. Ia berdiri dan mengambil posisi paling belakang. Diperhatikannya langkah-langkah teman-temannya. Kemudian, ia menirunya dengan sempurna.

“Wow, gerakan yang bagus, Sunbae!” seru salah seorang pemuda. “Omong-omong, namaku Shin Dongho. Salam kenal—uwaaa!”

Laki-laki bernama Dongho itu menabrak Sehun yang ada di sampingnya dan dalam sekejap formasi tersebut hancur lebur. Sir Hyukjae memelototkan matanya ke arah Dongho, sedangkan anak itu hanya tersenyum polos sambil menggumamkan permintaan maaf.

“Jangan kehilangan fokus, Dongho!” kata Sir Hyukjae.

Seorang pemuda lain menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dongho selau saja begitu,” Dia menghela napas kemudian menoleh ke arah Taemin. “Namaku Choi Junghong. Salam kenal.”

Taemin tersenyum kecil. “Se-senang bertemu denganmu.” Ia memperhatikan teman-temannya yang tengah menumpahkan kekesalan mereka pada Dongho.

“Semuanya, kembali ke formasi masing-masing!” Sir Hyukjae berseru dengan kesal. Pria itu mengambil posisi di belakang, di dekat Taemin, sembari mengawasi murid-muridnya.

“Maaf sudah mengacaukan latihan,” kata Taemin pelan.

“Tidak apa-apa, Taemin. Lagipula itu salah Dongho. Dia memang sering kehilangan fokus.”

Perlahan, Taemin tersenyum. Ia menatap teman-teman yang ada di depannya. Mereka memiliki hasrat yang sama dengannya dan jelas bahwa mereka mengerti akan dirinya. Saat ia menunjukkan kecintaannya akan tari, ia menerima serentetan kalimat kagum dari mereka. Ia sama sekali tak mendengar kata-kata penuh iri atau yang dapat melukai dirinya.

Seharusnya Taemin merasakan hal-hal itu sejak dulu, saat ia masih Sekolah Dasar. Jika itu terjadi, mungkin ia akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari yang sekarang. Tapi itu hanya khayalannya saja. Masa lalunya tetaplah suram dan rasanya hal itu akan terus mempengaruhi hidupnya.

Taemin menatap cermin dan tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan Sulli. Gadis itu tengah mencuri pandang dengan dirinya lewat cermin. Wajah Sulli memerah dan setelah itu dia mulai kehilangan keseimbangannya, lalu menginjak kaki seorang gadis di sebelahnya.

“Sulliiiiiii!!!” teriak Sir Hyukjae frustasi. “Jaga keseimbanganmu. Waktu tinggal sebulan lagi dan aku tidak mau ada Dongho kedua di timku!”

Gadis berparas manis itu berusaha untuk tersenyum penuh maaf, tapi mata Sir Hyukjae tetap berapi-api. Taemin akan tertawa, namun ia menahannya dengan segera.

“Dasar Sir Thomcat cerewet,” gumam salah seorang siswa.

“Siapa yang memanggilku Sir Thomcat?!”

 

***

 

Latihan kali ini sungguh menguras tenaga. Seluruh tim berlatih dengan sangat serius. Taemin memperhatikan anggota yang lain lewat sudut matanya. Meskipun ia tidak ikut maju di kompetisi nasional, namun ia turut merasakan semangat kawan-kawannya yang akan tampil di sana. Ia hanya tersenyum saat memikirkan hal tersebut.

Sir Hyukjae sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu. Beliau memerintahkan anggota untuk membersihkan ruang latihan dulu, setelah itu beliau pergi begitu saja. Seorang perempuan membersihkan kaca jendela dengan wajah tersungut-sungut.

“Sir Thomcat itu memang seenaknya saja!” omelnya. Gadis itu, yang bernama Jiyoung, menumpahkan kekesalannya pada kaca jendela yang sedang dibersihkannya. Kekuatannya makin beringas, hingga semua orang merasa bahwa jendela itu bisa saja pecah karena kekuatannya. “Seharusnya sebagai pembina, dia juga ikut bertanggung jawab atas ruangan klub ini!”

Gadis di sebelah Jiyoung yang lebih tinggi beberapa senti turut mengamini. “Itu betul. Sehebat apapun Hyukjae songsaenim, beliau tetap membuat jengkel anggota klub.” Dia menoleh pada Taemin yang sedang menyapu lantai. “Aku harap kau memaklumi beliau, Sunbae.”

“Ti-tidak apa-apa. Aku tidak terlalu keberatan,” balas Taemin. “Omong-omong, kenapa Hyukjae songsaenim menyuruh kita untuk memanggilnya Sir Thompson?”

“Bisa dibilang Hyukjae songsaenim agak fanatik terhadap film barat. Dan kurasa hal itu membuatnya merasa seperti keturunan Barat. Hah, abaikan saja fakta aneh itu.”

Jiyoung mengangguk. “Benar apa yang dikatakan Suzy. Guru itu memang aneh.”

Kedua gadis itu pindah ke sudut ruangan yang lain. Taemin tetap menggerakkan sapunya. Beberapa menit kemudian, kegiatan bersih-bersih yang dibenci oleh anggota klub itu pun usai. Jongin dan Sehun meletakkan alat-alat kebersihan secara sembarang lalu langsung pergi begitu saja. Sepertinya kedua anak itu punya rencana sendiri. Jiyoung, Suzy dan Dongho juga langsung pergi, hanya saja mereka menaruh alat-alat kembali pada tempatnya.

Tanpa terburu-buru, Taemin mengambil barang yang seharusnya dipertanggung jawabkan oleh Jongin dan Sehun, lalu meletakkannya di lemari peralatan. Ia berbalik dan melihat Sulli tengah menatap sebuah kertas yang tertempel di dinding.

15 hari menuju kompetisi nasional. Semangat! – Sir Thompson

Ia tersenyum samar dan menghampiri gadis itu.

“Kau tidak pulang?”

Sulli menoleh. “Oh, aku akan pulang sekarang.”

Sebuah pemikiran melintas di otak Taemin. Tiba-tiba wajahnya memerah dan ia mengusap bagian belakang lehernya dengan gugup. Ia berdehem. “Uhm, k-k-k-kau mau pulang bersamaku?

“Eh?” Sulli mengerjap. Dia memalingkan muka untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. “T-tentu saja.”

Taemin meneguk salivanya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan berusaha untuk terlihat cool. “A-ayo.”

Gadis di sampingnya mengangguk malu, kemudian mereka berjalan berdampingan. Sepanjang perjalanan, kedua anak itu hanya terdiam dan sibuk merenungi pemikiran masing-masing. Atau lebih tepatnya—sibuk menenangkan jantung mereka yang mulai berontak. Taemin meremas-remas jarinya di balik saku celana. Ia benar-benar tidak tahu keberanian macam apa yang bisa membuatnya mengajak seorang gadis untuk pulang bersamanya. Ini adalah pertama kalinya, jadi rasanya benar-benar canggung dan aneh.

Mereka berjalan menyusuri trotoar yang mulai ramai oleh pejalan kaki. Saat mereka melewati komplek pertokoan, Taemin melihat Dongho keluar dari sebuah toko kaset. Nampaknya pemuda itu tidak melihat mereka berdua karena dia langsung menyambar sepedanya begitu saja.

“Bukannya itu Dongho?” tanya Sulli.

“Itu memang Dongho.”

Mata Taemin mengikuti gerakan Dongho. Pemuda itu berhenti di pertigaan saat lampu merah menyala. Dia kembali memacu sepedanya ketika lampu berganti hijau. Gerakan sepeda Dongho lambat dan santai. Dia bersiap-siap untuk menyeberang saat sebuah mobil van menerjangnya dari belakang.

Pemuda itu roboh bersama dengan sepedanya. Sulli menjerit dan Taemin langsung menggeret gadis di sampingnya, lalu berlari ke arah sumber kecelakaan. Orang-orang berkerumun di sekitar Dongho dan beberapa di antaranya dengan panik menelepon ambulan. Taemin menerobos kerumunan itu dan berjongkok di sisi Dongho. Sulli ada di belakangnya.

Kepala pemuda itu mengeluarkan darah. Lecet-lecet terdapat di sekujur tubuhnya, namun yang paling parah adalah luka yang menganga lebar di lututnya. Dongho, yang masih setengah sadar, membuka matanya dan menatap Taemin.

Sunbae…” bisiknya. “Maaf. Gantikan aku.”

Terdengar suara mobil ambulan menjerit-jerit.

 

***

 

Akhir pekan benar-benar membosankan. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan  saat akhir pekan. Jalan-jalan di taman, pergi ke toko buku, atau berlatih menari. Tetapi Taemin justru terkurung seharian bersama sepupunya. Di saat Jongin sibuk mengoceh tentang sejarah munculnya anime Jepang atau ber-fanboy riang saat mengkhayal gadis-gadis anime yang cantik, Taemin hanya mendengarkan sambil lalu. Ia lebih memilih untuk menaruh perhatiannya pada koleksi komik Jongin.

Desahan keluar dari mulut Taemin. Untungnya ia tidak perlu mendengar ataupun meladeni obsesi Jongin terhadap anime lebih lanjut setelah ibu Jongin menghukum anaknya karena ketahuan mendapat nilai jelek di mapel Fisika. Jongin dihukum dengan tidak boleh bermain laptop selama seminggu. Kasihan, anak itu pasti akan langsung menggila.

Taemin keluar dari minimarket setelah membayar belanjaannya. Ia memasukkan kembalian yang diterimanya ke saku kemejanya. Matahari sudah berada di ufuk barat. Sinarnya membuat langit menjadi kemerah-merahan. Hari sudah sesore ini dan Taemin memutuskan untuk langsung pulang. Namun, saat ia melihat kedai kopi di pinggir jalan, ia mengurungkan niatnya. Mungkin mampir sebentar bukan ide yang buruk.

Ia menyeberangi jalan dan masuk ke dalam kedai kopi itu. Kedai kopi tersebut tidak terlalu besar, namun suasananya sangat nyaman. Lagu jazz jadul milik The Rat Pack memenuhi seisi kedai tersebut. Taemin baru akan mengambil tempat duduk di tengah ruangan saat seseorang memanggilnya. Ia menoleh. Alangkah terkejutnya ia mendapati bahwa orang yang memanggilnya adalah Sulli.

Gadis itu duduk di dekat jendela bersama seorang teman perempuannya. Dia melambaikan tangannya. Tak lupa senyum lebarnya yang khas menghiasi wajahnya.

“Bergabung dengan kami saja,” katanya.

Taemin agak ragu, apalagi ada orang asing di sana. Tapi menghindar juga bukan pilihan yang bagus, bisa-bisa nanti Sulli tersinggung. Akhirnya, Taemin mendekati gadis itu.

“Wah, kebetulan sekali,” kata Sulli. “Ah, perkenalkan. Ini temanku, Krystal Jung.”

Perempuan yang duduk di sebelah Sulli tersenyum pada Taemin. Nampaknya dia sebaya dengan Sulli. Rambutnya panjang dan tergerai hingga punggungnya. Raut wajahnya tegas, agak bertentangan dengan senyum yang terlihat ramah itu. Taemin balik tersenyum dan memperkenalkan dirinya.

“Ah, ternyata Anda adalah si Taemin itu,” kata Krystal. “Sulli sering bercerita tentangmu. Dia sangat mengagumimu dan memujamu bagai seorang idola, Taemin-ssi. Bahkan dari apa yang kulihat dari matanya, nampaknya Sulli mulai menyukai—”

“Kau ingin bergabung dengan kami?” potong Sulli. Gadis itu menyikut Krystal.

Taemin menggeleng. “Tidak usah. Aku akan duduk di tempat lain saja.”

“Tidak apa-apa, Taemin-ssi,” Krystal menimpali. “Tadi aku sudah berkata pada Sulli aku akan pergi pukul lima dan sekaranglah waktunya. Anda duduk saja di sini. Sulli pasti akan sangat senang.”

Wajah Sulli memerah. Gadis itu memutar matanya dan berpura-pura tidak mempedulikan perkataan Krystal. Pemandangan tersebut nampak jelas di mata Taemin, tapi bagi pemuda yang benar-benar buta soal perempuan, ia sama sekali tidak mengerti. How innoncent.

Krystal bangkit dari kursi kemudian tersenyum pada Taemin. “Sayang sekali aku harus pergi. Setelah bertemu dengan Anda, aku menyadari bahwa Anda adalah orang yang sangat menarik. Nampaknya Anda tidak tahu apa-apa, jadi Anda harus jadi sedikit sensitif, oke?”

Perkataan Krystal benar-benar membuat Taemin blank. Ia memandangi Sulli seolah-olah meminta gadis itu menjelaskan perkataan Krystal.

“Sudahlah, Krys,” ucap Sulli. “Sana, Minho oppa pasti sudah menunggu.”

“Aku pergi karena kakak perempuanku baru saja pulang dari New York. Sudah ya, aku pergi dulu. Enjoy this moment.” Gadis itu melengang keluar dari kafe.

Taemin duduk berhadap-hadapan dengan Sulli. “Sudah sejak kapan kau ada di sini?”

“Tiga puluh menit yang lalu,” jawabnya. “Kau ingin pesan apa?”

“Kurasa satu cappucino latte akan sempurna.”

Sulli mengangkat tangannya dan berkata pada pelayan yang sedang membereskan meja di dekatnya. “Satu cappucino latte.”

“Te-terima kasih,” kata Taemin.

Keheningan menyelimuti muda-mudi itu. Taemin hanya memainkan jari-jarinya dan sekali-kali melirik ke arah dapur, barangkali cappucino pesanannya akan diantar. Sulli menyesap kopi Americano-nya.

“Keadaan benar-benar kacau balau.”

Perkataan Sulli yang tiba-tiba membuat Taemin menatap gadis itu.

“Kecelakaan itu benar-benar mengerikan. Bukan hanya karena mengacaukan rencana yang ada, tapi Dongho juga jadi korbannya. Aku benar-benar merasa kasihan padanya,” Gadis itu mengambil jeda kemudian mendesah. “Keadaan tim juga sama tak baiknya. Hyukjae songsaenim sedang frustasi karena memikirkan keadaan Dongho dan tim. Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi kacau saat kompetisi tinggal dua minggu lagi?”

Perkataan Sulli membuat Taemin terdiam. Ia sangat mengerti perasaan Sulli dan anggota klub yang lain. Saat ia berkunjung ke rumah Jongin tadi pagi, anak itu memang terlihat normal. Bermain game, mengoceh tentang anime dan terus saja meledeknya. Namun saat mereka tengah mengobrol tentang Michael Jackson dan kehebatannya dalam menari, tiba-tiba saja Jongin terdiam. Mungkin anak itu teringat akan timnya dan khawatir bila mereka tidak jadi mengikuti kompetisi nasional, padahal mereka sudah berlatih sedemikian keras. Apalagi, sekolah ini selalu panen medali di kompetisi nasional. Jika mereka gagal hanya karena kekurangan anggota, mereka pasti akan merasa sangat bersalah sekaligus malu.

“Kami berencana untuk mengganti formasi, tapi akan sulit untuk menguasai formasi yang baru hanya dalam dua minggu,” Sulli menatap lurus ke mata Taemin. Dia terdiam seolah memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, dia melebarkan matanya. “Mungkin… mungkin jawaban masalah ini ada padamu, sunbae. Mungkin kau bisa melakukannya.”

Hah? Taemin nyaris saja melongo. Ia melebarkan matanya dan buru-buru menggeleng. “Tidak, tidak,” sahutnya. Ia menatap Sulli. “Aku tahu apa yang kaupikirkan tapi aku tidak yakin itu ide yang bagus. Kompetisi nasional tinggal dua minggu lagi dan aku sama sekali tidak siap.”

“Menurutku itu tidak masalah,” ujar Sulli. Kini matanya bersinar-sinar penuh harapan. “Lagipula kau juga ikut berlatih bersama kami sebelumnya. Dan aku yakin kemampuanmu sudah lebih dari cukup untuk bergabung dengan tim, Sunbae.”

Taemin mendesah dan menyetuh dahinya seolah-olah sedang berpikir keras. “Aku tidak tahu darimana kau mendapat ide itu, tapi… aku benar-benar tidak bisa, Sulli. Maksudku, kompetisi nasional adalah hal yang sangat besar dan aku bahkan belum pernah menunjukkan kemampuanku di hadapan orang lain.”

“Kau harus mempercayai dirimu sendiri,” Sulli berjuang keras untuk meyakinkan pemuda di hadapannya. “Kau bisa melakukannya.”

“Tapi kau tidak bisa memutuskan ini sendirian,” sahut Taemin. “M-maksudku, masih ada anggota yang lain. Bagaimana kalau mereka tidak setuju? Bagaimana dengan Dongho? Dia pasti menyesal jika gagal mengikuti kompetisi nasional. Jika aku mengambil tempatnya begitu saja, mungkin dia akan marah padaku.”

Sulli terdiam sejenak. “Itu memang terdengar sedikit egois. Tapi aku yakin kita bisa mencari suatu cara. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpikir.”

Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk membantah ide Sulli. Taemin memang payah dalam berdebat, apalagi dengan perempuan. Ia mendesah. Keadaan saat itu terasa agak canggung. Untung saja seorang pelayan datang membawakan pesanan Taemin. Setidaknya itu memberi Taemin sedikit waktu untuk berpikir. Ia menyesap cappucino-nya.

“Kenapa kau memberi kesempatan yang besar seperti ini pada orang yang baru kau temui dua minggu yang lalu?” tanya Taemin dengan nada pelan.

“Karena aku yakin pada kemampuanmu. Selain itu, aku dapat melihat passion-mu yang begitu besar terhadap tari. Terlihat jelas di matamu,” ujar Sulli. Gadis itu menatap Taemin dalam-dalam. “Sekarang giliran aku yang bertanya. Di saat ada orang lain yang yakin padamu, kenapa kau tidak yakin pada dirimu sendiri?”

Pertanyaan itu menohok Taemin, tepat di dasar nuraninya. Badannya langsung menjadi kaku, mulutnya terasa kering dan ia merasa dirinya menjadi kecil di hadapan Sulli. Taemin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari mendesah. Ia menatap kedua telapak tangannya. Keduanya bergemetaran.

Dari dulu ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pengecut. Tak punya kepercayaan diri, tak punya apapun untuk dibanggakan. Selama ini ia hanya bersembunyi di balik ketakutannya sendiri. Menjadi korban penindasan bukanlah sesuatu yang diharapkannya. Tapi perlakuan dan perkataan orang-orang yang dulu pernah menjadi temannya menorehkan sesuatu yang melukai harga dirinya, hingga akhirnya menurunkan kepercayaan dirinya hingga ke tingkat terendah.

“Kau ingin pamer atau bagaimana?”

“Menari seperti itu sih gampang!”

“Lihat. Bukumu ada padaku. Jika kau ingin mengambilnya, kau harus naik ke atas meja guru di depan kelas lalu menari di atasnya.”

Taemin memejamkan kedua matanya. Memori buruk itu kembali terngiang di kepalanya. Awalnya mereka hanyalah sekumpulan mimpi buruk yang selalu menerornya di malam hari, namun lama-lama menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Mereka menghalanginya untuk menjadi dirinya sendiri.

Dengan kedua kaki yang mulai bergetar, Taemin bangkit dari kursi.

“Maaf, Sulli. A-aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa,” katanya pelan. Ia meninggalkan gadis itu, mendekati kasir dan membayar pesanannya. Kemudian, Taemin melangkahkan kakinya menuju pintu dan segera kabur dari tempat itu. Sekali lagi, ia memutuskan untuk melarikan diri, menuju tempat persembunyiannya.

 

To Be Continued

 

 

A/N: Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena terlambat update. Sejak bulan Februari, saya sudah disibukkan oleh persiapan lomba jadi saya hanya bisa menyicil Verse 5 sedikit-sedikit. Maaf juga jika ternyata Verse 5 tidak sebaik yang readers harapkan. Maaf juga karena kepanjangan. Saya sudah berusaha untuk menjaga supaya tidak lebih dari 6.000 kata, ternyata setelah diketik nyampe lebih dari 10.000 -_-

 

RCL, ya.

 

 

 

Park Sooyun

Categories: Fanfiction | Tags: , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Black Pearl [Verse 5.1]

  1. reea

    bagus kaak bagus… saya suka🙂

  2. pattytaem

    Heran. Ff bagus kok ga dihargai. Bahasanya pun rapi.

    Uda lama(brpa tahun) sjak aq baca ff dri fellow author disini. Ga ad kerjaan sbnarnya.

    Tp tbh ff mu ini bagus loh. Ada value nya. Soal kepercayaan diri itu penting. Bagus bagus. Aq ga bca verse sebelumnya tp klihatannya smuanya connected critanya. Well walopun ga bca aq bener” bs nangkap critanya.

    Taemin mesti stop lari”an lah. Hadapin apapun dgn gentle. Itu sulli nya kan yg kasian. Cwe itu sensitive. Ntar salah pham lg dy krna sikapmu tuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: