Black Pearl [Verse 5.2]

Summary: Karena bagi mereka, kelima gadis itu sangatlah berharga. Bersinar layaknya mentari, tersenyum layaknya bunga yang bermekaran, memberi melodi indah layaknya nyanyian burung-burung. Because those girls are their beautiful black pearls…

 

Romance/Drama | SHINee & f(x) | Multichapters

PG rated.

 

The idea originally came from my head, but the characters belong to their families and God itself.

 

Black Pearl © Park Sooyun

 

 

 

Verse five for Taelli.

 

 

 

 

Semenjak kejadian aneh di kedai kafe tiga hari yang lalu, Sulli tidak bisa tidur nyenyak. Seharusnya ia tidak mengatakan hal tersebut di hadapan Taemin. Meskipun pemuda itu bisa membawa harapan baru bagi timnya, tapi ia juga tidak punya hak untuk memaksa Taemin supaya bergabung. Ia juga tidak bisa menjadi egois dan seenaknya memberi pertanyaan yang seolah mengatakan bahkan Taemin adalah seorang pengecut dan tidak yakin pada dirinya sendiri. Hal itu terlalu kejam untuk dikatakan kepada orang lain. 

Desahan keluar dari mulut Sulli. Gadis itu berguling ke sisi tempat tidurnya yang lain. Kemarin ia berusaha untuk menemui Taemin, tapi pemuda itu seperti menghilang ditelan bumi. Menurut kakaknya, akhir-akhir ini Taemin langsung keluar dari kelasnya begitu bel berbunyi. Padahal biasanya Taemin adalah murid terakhir yang keluar dari kelas. Sepertinya dia berusaha untuk menghindari Sulli.

Keadaan seperti itu benar-benar membuat Sulli tidak tahan. Ia tidak suka saat ia harus menjaga jarak dengan orang lain karena suatu konflik di antara mereka. Mungkin ia harus menemui Jongin. Dia pasti tahu bagaimana cara menghadapi Taemin. Atau mungkin juga Sulli bisa sekaligus mencari tahu seperti apa sosok Taemin yang sesungguhnya. Namun itu bukan tujuan utamanya. Meski Sulli merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Taemin, ia tidak akan mencari tahu jika si empunya rahasia tidak ingin supaya rahasianya diketahui orang lain.

Sulli bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi kontak Jongin.

“Jongin?” tanyanya saat panggilannya diangkat. “Kau ada dimana sekarang? … Di tempat penyewaan kaset? Aku akan ke sana. Aku ingin membicarakan sesuatu.”

Tak lama kemudian, Sulli langsung melesat pergi. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari rumahnya. Sulli berjalan dengan langkah cepat. Lima menit kemudian, ia melihat sosok seorang pemuda sedang berdiri di depan toko.

“Hai,” sapa Jongin. “Tumben kau meneleponku. Sepertinya ada sesuatu yang penting.”

“Itu benar,” Sulli membalas. “Apa kau tahu tentang keadaan di antara aku dan sepupumu?”

“Ah, maksudmu insiden di kedai kopi tiga hari yang lalu?”

Sulli mengangguk.

“Tentu saja aku tahu. Meskipun Taemin hyung adalah tipe orang yang suka menutup diri, sebenarnya dia sangat terbuka padaku. Apa yang ingin kau ketahui tentang hal itu?”

“Sebenarnya, aku ingin meminta maaf padanya,” Sulli mendesah. Ia benar-benar menyesal. “Aku tahu kata-kata itu tidak pantas diucapkan. Sepertinya aku terlalu berambisi untuk mengikuti kompetisi nasional itu.”

“Tim kita memang sedang kacau. Aku mengerti bahwa kita semua ingin agar tim tetap mengikuti kompetisi nasional dan jalan satu-satunya supaya hal itu terjadi adalah menambah orang baru ke tim. Namun aku juga mengerti perasaan Taemin hyung. Dia tidak ingin mengambil tempat Dongho begitu saja.”

“Mungkin kau bisa mengatakan sesuatu pada sepupumu itu,” kata Sulli. “Mungkin kau bisa membujuknya.”

Jongin buru-buru menggeleng. “Tidak. Kau tahu, pemikiran seperti itu juga pernah hinggap di kepalaku. Namun aku tidak mengatakannya, karena aku tahu akhirnya akan seperti ini.”

Kata-kata Jongin membangkitkan rasa penasaran Sulli. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Taemin.

“Apa maksudmu?” tanya Sulli. “Apa kau tahu bahwa dia akan menolak untuk mengikuti kompetisi nasional?”

“Kurang lebih.”

“Tapi tidakkah itu aneh?” Sulli menyentuh dagunya dengan tangan kanan. “Dia benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi dia berkata sendiri bahwa dia belum pernah menunjukkan kemampuannya di hadapan orang banyak. Bagiku itu sangat aneh, apalagi aku dapat melihat kecintaannya yang sangat besar pada tari. Aku bisa melihat itu dari matanya.”

Seulas senyum tersungging di wajah Jongin. “Padahal baru dua minggu, tapi kalian sudah bisa membaca hati masing-masing hanya lewat mata.”

Sekeras mungkin Sulli berusaha untuk mengabaikan perkataan itu.

“Tidak hanya itu. Aku juga merasa kalau dia menahan dirinya. Tapi aku tidak tahu kenapa.”

Jongin menghela napas. “Kalau kau lebih teliti, mungkin kau juga akan melihat ketakutan di matanya.”

Kedua mata Sulli melebar. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Jongin. Rasa penasaran tumbuh semakin besar di dalam benaknya. Kemudian ia bertanya lagi, “Ketakutan akan apa?”

“Tidak dihargai, pelecehan terhadap harga diri,” Jongin mengangkat bahu. “Hal-hal semacam itu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Taemin hyung telah menjadi korban penindasan sejak dia masih di Sekolah Dasar,” jawab Jongin cepat. “Aku tidak pernah merasakaan penderitaan semacam itu, tapi membayangkannya saja sudah ngeri. Dia selalu dianggap yang terlemah dan saat masuk ke SMP, semuanya bertambah buruk. Dia dilecehkan.”

Cerita Jongin membuat Sulli terdiam. Kini ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Kau tahu alasan kenapa dia pindah kemari?” tanya Jongin. Namun tak perlu waktu lama sebelum dia menjawabnya sendiri. “Karena dia mengalami penindasan yang jauh lebih buruk di SMA lamanya.”

Sulli memberanikan diri untuk bertanya. “A-apa yang terjadi?”

“Beberapa teman sekelasnya menyeret hyung ke ruang ganti siswa. Mereka mengambil barang-barangnya dan mengancam untuk menyekapnya di sana seharian usai pulang sekolah, kecuali…” Perkataan Jongin terhenti. Dia menghirup napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan, “Kecuali jika Taemin hyung menari dengan bertelanjang dada dan bersedia untuk direkam.”

Kedua mata Sulli melebar. Mulutnya terganga sedikit dan ia terlonjak ke belakang. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Taemin, namun ia tidak menyangka akan seburuk itu.

Jongin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pemuda itu menarik napas panjang dan melayangkan pandangannya ke langit kemerah-merahan di atasnya. “Penindasan itu membuatnya mengidap semacam sosial phobia. Tapi—” Dia menatap Sulli sambil tersenyum. “—sepertinya dia telah menemukan cahayanya kembali.”

“Apa maksudmu?”

“Bisa dibilang, kau adalah orang pertama yang bukan anggota keluarga kami yang pernah melihat Taemin hyung menari.”

Sulli menyentuh bagian belakang lehernya dan mengusapnya dengan gelisah. Wajahnya agak memerah. “Ah, begitu ya.”

“Taemin hyung pasti menganggapmu berbeda dari orang lain hingga mengizinkanmu untuk melihat dirinya yang sesungguhnya,” kata Jongin. Pemuda itu membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi. “Rumahnya ada di sebelah selatan, tiga blok dari sekolah. Rumah bergaya kuno dengan dinding dari bata coklat tua. Di pagarnya tertulis nomor tujuh belas dan kediaman Lee. Kau tidak akan tersesat.”

Seulas senyum terbit di wajah Sulli. Ia membungkuk sekilas. “Terima kasih, Jongin.”

“Tidak, tidak. Seharusnya akulah yang berterima kasih,” Dia melambaikan tangan. “Aku pergi dulu, ya.”

 

***

 

Langit sudah semakin sore dan embusan angin makin kencang saja. Namun ia tidak juga menggerakkan badannya dari situ. Hembusan napas keluar dari mulut Taemin. Pemuda itu menyandarkan punggungnya di kursi taman. Ia mengangkat wajahnya ke atas dan melihat langit yang nampak kemerahan.

Peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini membuat perasaannya kacau. Hampir ia tidak berani lagi menghadapi kenyataan yang ada. Sekolah, kegiatan klub, Jongin dan juga gadis itu. Setiap kali berada di sekolah, ia hanya berharap supaya bel tanda pulang berbunyi secepatnya. Sebisa mungkin ia menghindari tempat dimana ia memiliki kemungkinan untuk bertemu gadis itu.

Ia menatap kedua telapak tangannya yang bergetar. Hanya perkataan seorang gadis bisa membuatnya menjadi pengecut seperti ini. Taemin benar-benar benci keadaan seperti ini. Entah siapa yang harus ia salahkan—orang-orang di masa lalunya yang brengsek atau justru dirinya sendiri yang tidak mampu menangani ketakutannya. Trauma itu sudah menghantuinya terlalu lama—hampir sembilan tahun, dan belum bisa terhapus sepenuhnya dari pikirannya. Lama-lama Taemin dibuat lelah olehnya.

Saat sedang memikirkan tentang ia dan trauma masa mudanya, Taemin mendengar suara ibunya. Ia menoleh dan melihat ibunya berdiri di dekat pintu.

“Temanmu datang kemari,” kata ibunya.

Kerutan terbentuk di dahi Taemin. “Siapa?”

“Ibu juga tidak tahu. Dia perempuan, manis sekali wajahnya! Pacarmu, ya?” canda Nyonya Lee. Badan Taemin langsung kaku. “Kusuruh dia untuk menemuimu di halaman belakang. Ah, itu dia.”

Seorang perempuan berambut panjang dengan wajah yang sangat dikenalnya berdiri di belakang Nyonya Lee. Dia tersenyum kecil dan menggumamkan ucapan terima kasih pada ibunya. Lalu dia berjalan menghampiri Taemin dan duduk di sebelahnya.

Taemin membuang pandangannya dan menatap kedua kakinya. Kenapa gadis ini harus muncul di saat ia tidak siap?

“Aku datang kemari untuk minta maaf.”

Perkataan gadis itu tidak langsung dibalasnya. Ia memainkan jari-jarinya. “Tidak perlu, Sulli.”

Sulli menggelengkan kepalanya. “Seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Itu sangat tidak sopan. Maaf jika kau tersinggung.”

“Tidak juga. Lagipula apa yang kaukatakan itu memang benar,” gumam Taemin. Ia tersenyum lemah. “Maaf, ya. Aku memang agak mudah tersinggung.”

Gadis itu hanya menatapnya. Dia tersenyum lalu menggenggam tangan kiri Taemin yang bergetar. “Tidak apa-apa. Aku ke sini bukan hanya untuk minta maaf. Sebenarnya, aku telah mengetahui hal itu.”

Taemin menolehkan kepalanya. “Hal apa?”

Sulli menghela napas. “Tentang mengapa kau pindah sekolah. Hal-hal yang berhubungan dengan itu. Jongin mengatakannya padaku, meskipun aku tidak berminat untuk mencari tahu.”

Kedua mata Taemin melebar. Ia menghela napas panjang dan menutup sebelah matanya dengan tangan kanan. Lantas ia tertawa sinis. “Kalau begitu kau tahu bahwa aku ini hanyalah pengecut.”

“Menurutku kau bukan pengecut,” kata Sulli. “Kau hanya berusaha melindungi dirimu dari pengalaman buruk masa lalumu. Semua orang pernah melakukannya. Aku juga pernah.”

Perkataan Sulli membuatnya ingin tertawa. Gadis ini benar-benar polos dan lugas. Taemin menyadari kebenaran dari perkataan Sulli. Semua orang pernah melakukan hal semacam itu. Perbedaannya adalah ia melindungi diri dengan cara menjauhi, sedangkan orang lain melindungi diri dengan memakai suatu pelindung dan mencari solusi untuk masalah tersebut. Tapi tetap saja hal itu membuatnya disebut sebagai seorang pengecut.

“Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu?”

Tentu saja ia ingin, batinnya. Ia ingin melepaskan diri dari keterpurukannya akan masa lalu dan mengekspresikan dirinya sebebas mungkin. Ia ingin menjadi dirinya sendiri.

“Aku tahu kau ingin. Aku dapat melihatnya dari matamu.”

Ia langsung menoleh ke arah gadis itu dan menatapnya lekat-lekat. Dia tersenyum.

“Kau sangat mencintai tari, bukan? Tapi aku sering melihatmu menahan diri saat sedang menari.”

Seulas senyum terbit di wajah Taemin. Ia tidak tahu bagaimana caranya Sulli dapat membaca perasaannya seperti itu, namun ia senang. Setidaknya ia tidak perlu berbicara karena kemampuan verbalnya agak jelek.

“Aku minta maaf karena telah memaksamu untuk menggantikan tempat Dongho. Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi—” Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “—jangan berhenti menari, ya? Karena menari adalah passion dan hidup keduamu. Kau harus tetap memperjuangkannya. Mungkin aku ini sok tahu, tapi menurutku meninggalkan sesuatu yang sangat kita cintai rasanya jauh lebih menyakitkan dibandingkan dikurangajari oleh orang lain.”

Tak ada respon.

“Mungkin kau merasa bahwa hal tersebut adalah pengalaman yang sangat buruk. Tapi, apakah kau tahu apa fungsi sebenarnya dari pengalaman buruk itu?” Senyumannya melebar. “Mereka dapat menjelma menjadi memori yang tidak akan pernah kau lupakan. Sekarang pilihannya ada pada dirimu. Akankah memori itu kau jadikan sebagai semangat dan ajang balas dendam, atau justru menjadikanmu sebagai orang yang paranoid akan keterpurukan? Kau harus memilihnya dengan bijak.”

Taemin termenung. Sampai kapanpun ia memang tidak akan pernah menang bila berbicara pada perempuan. Kini ia merasa malu. Sulli setahun lebih muda darinya, tapi dia memiliki sikap dan pemikiran yang lebih dewasa darinya. Taemin memainkan jari-jarinya. “Apa kau tahu bagaimana cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri?”

Mendengar perkataan Taemin, Sulli tersenyum. “Untuk menjadi percaya diri, kau harus sukses dulu. Bentuk kesuksesan ada banyak. Sukses dalam menaklukan tantangan, sukses dalam mengendalikan emosi, termasuk sukses dalam melawan ketakutan di dalam diri.”

Hati yang semula kacau kini mulai terasa tenang. Taemin merasakan otot-otot tubuhnya melemas dan ketegangan di kepalanya mencair.

“Ayahku pernah berkata, ‘Aku hanya butuh satu kesempatan untuk menunjukkan diriku yang sesungguhnya’. Dulu aku hanya mengabaikan kata-kata itu, namun sekarang aku mengerti maksudnya.”

Kini Taemin merasa benar-benar tenang. Ia menghembuskan napas, menatap gadis di sebelahnya dan tersenyum.

“Sama-sama.”

Kedua alis Taemin bertautan. “Darimana kau tahu aku ingin berkata terima kasih?”

Sulli mengangkat bahu. “Entahlah. Kurasa aku sudah terlalu lama bersama-sama dengan Krystal, hehehe.”

“Hah?”

“Bukan apa-apa kok.”

“Baiklah,” balasnya. Ia kembali menatap kedua kakinya, lalu perlahan beralih ke tangan kirinya yang digenggam Sulli. Rona merah merambati wajahnya. Ia berdehem sambil menggerakkan jari tangan kirinya. Gadis itu tersadar dan buru-buru melepaskan genggamannya. Wajahnya turut memerah.

“Ma-maaf.”

“Ti-tidak apa-apa,” balas Taemin.

Kedua anak itu terdiam di bawah langit sore hingga Nyonya Lee menghampiri mereka dan menawarkan makan malam.

 

***

 

Dengan gelisah Taemin melirik jam tangannya. Hampir pukul tiga sore. Ia mengedarkan pandangannya. Sekolah sudah sangat sepi dan ia hanya melihat beberapa siswa kelas akhir yang masih sibuk mendekam di perpustakaan. Taemin menggerak-gerakkan kakinya, berharap itu bisa menghilangkan kegelisahannya. Beberapa menit kemudian, ia melihat Jongin dan Sehun.

Kedua anak itu menyapanya dan turut menunggu yang lain. Untuk mengusir kebosanan, mereka mengeluarkan PSP mereka dan bertanding game. Tak lama setelahnya, Junghong dan Sulli muncul dari balik gedung D. Disusul Jiyoung, Suzy dan Sir Hyukjae di belakang mereka.

“Semuanya sudah siap?” tanya Sir Hyukjae. “Kalau sudah, lebih baik kita berangkat ke sana sekarang.”

Semuanya kini berjalan ke arah tempat parkir dan masuk ke dalam mobil milik Sir Hyukjae. Beliau memarkirnya keluar dari sekolah, lalu melaju ke arah rumah sakit di tengah kota.

Kemarin klub tari mengadakan pertemuan di ruang latihan untuk membahas masalah kompetisi nasional. Semuanya sudah pasrah bila mereka tidak jadi mengikuti kompetisi nasional. Sir Hyukjae berkata bahwa kecelakaan Dongho adalah sesuatu diluar harapan mereka, jadi mereka harus menerimanya. Pembatalan itu akan disampaikan kepada Dongho. Maka, hari ini mereka langsung pergi menuju rumah sakit tempat Dongho dirawat.

Sesampainya di rumah sakit, mereka pergi ke kamar 408. Saat Taemin memasuki kamar tersebut, ia dapat melihat sesosok pemuda sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Pemuda itu menoleh dan tersenyum lebar ke arahnya.

“Hai, Sunbae! Hai, Teman-teman!” sapa Dongho. Keceriannya tidak hilang meskipun kaki dan tangannya diperban. “Oh, kau juga datang, Sir. Terima kasih.”

Sir Hyukjae tersenyum dan duduk di sebelah ranjang Dongho. “Bagaimana keadaanmu?”

“Sudah jauh lebih baik. Dokter berkata bahwa ruas-ruas tulang jari kakiku patah. Aku melukai tanganku saat membanting sepedaku ke arah trotoar, tapi aku tidak apa-apa.”

“Kau harus berhati-hati lain kali,” kata Sir Hyukjae. “Semoga kau cepat sembuh.”

“Terima kasih, Sir.”

Sir Hyukjae mengambil napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Dia menatap mata Dongho. “Kami datang ke sini selain untuk melihat keadaanmu juga untuk membicarakan tentang kompetisi nasional.”

“Ah, masalah itu.”

“Kau tentu tidak bisa menari dengan kaki dan tangan seperti itu. Mungkin kita harus membatalkannya.”

Dongho mengerjapkan matanya. “Membatalkan kompetisi nasional?”

Sir Hyukjae mengangguk.

“Tapi kita sudah berlatih selama hampir dua bulan,” kata Dongho. “Apa kalian ingin menyia-nyiakan usaha kalian selama ini?” Dia menatap teman-temannya.

“Tapi kau tahu sendiri peraturan kompetisi itu,” Junghong angkat bicara. “Jumlah anggota yang telah didaftarkan tidak bisa ditambah atau dikurangi.”

“Kalau begitu gantikan aku,” sahut Dongho.

Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.

Pemuda itu kembali melanjutkan, “Taemin sunbae bisa melakukannya.”

Seluruh mata tertuju ke arah Taemin. Ia mengerjapkan matanya lalu menggeleng keras. “Ku-kurasa itu bukan ide yang bagus. Aku bukan bagian dari tim.”

“Tapi kau adalah bagian dari klub,” balas Dongho. Senyumnya masih tersungging di wajahnya. “Aku percaya pada kemampuan sunbae. Sungguh. Bahkan gerakanmu yang luar biasa saat latihan beberapa hari yang lalu masih terngiang di kepalaku!”

Kedua tangan Taemin bergetar.

“Tolong gantikan aku, Sunbae.”

“Ta-tapi—” Taemin tergagap-gagap mencari alasan. “Bukannya itu tidak adil? Aku baru bergabung kurang dari tiga minggu yang lalu dan tiba-tiba aku menggantikanmu dalam kompetisi nasional. Itu egois.”

Senyum Dongho melebar. “Justru jika seluruh anggota tim menyerah dan tidak mengikuti kompetisi itu hanya karena aku tidak bisa hadir, akulah yang egois. Bukankah begitu?”

Taemin terdiam.

“Ayolah, Sunbae. Aku akan merasa sangat terhormat jika kau mau melakukannya.”

“Memangnya tidak apa-apa?”

Pemuda itu mengangguk. “Aku baik-baik saja. Lagipula aku masih bisa ikut tahun depan, hehehe.”

Keraguan menguasai hati Taemin. Ia kembali dihadapkan oleh ketakutannya. Kedua tangannya terus bergetar. Namun ia teringat akan perkataan Sulli dua hari yang lalu. Jika ia ingin menjadi dirinya lagi, maka ia harus mengalahkan ketakutannya. Taemin menghela napas panjang.

Aku hanya butuh satu kesempatan untuk menunjukkan diriku yang sesungguhnya.

Mungkin inilah kesempatan yang dimaksud.

“Aku akan bergabung jika anggota yang lain setuju—”

“Aku setuju,” potong Sehun.

Jongin yang berdiri di sebelah Sehun turut mengangguk. “Aku juga.”

“Begitu juga aku,” kata Junghong.

Suzy dan Jiyoung saling berpandang, lalu mereka berdua mengangguk bersamaan. Sir Hyukjae tersenyum melihat tingkah laku murid-murid didiknya. Beliau merasa bangga pada mereka, terutama pada Dongho. Tidak disangka ternyata anak yang terus membuatnya kesal karena kecerobohannya itu memiliki kedewasaan yang cukup tinggi.

“Kalau begitu sudah diputuskan!” Sir Hyukjae berkata. “Lee Taemin akan menggantikan Shin Dongho di kompetisi nasional.”

Seluruh orang bersorak. Jongin merangkul pundak sepupunya dari belakang dan berseru kegirangan. Taemin menolehkan kepalanya dan tersenyum ke arah seorang gadis yang berdiri di sebelah pintu. Gadis itu turut tersenyum kepadanya.

 

***

 

Kegugupan yang dari kemarin melanda kini makin membesar setelah melihat bangunan di hadapannya. Gedung milik Departemen Kebudayaan Korea Selatan di Seoul, begitu mewah dan besar dengan ratusan orang yang sibuk berlalu lalang. Mungkin nyalinya akan langsung menciut jika tidak ada teman-temannya di sini. Ia meneguk saliva dan melirik sepupunya. Jongin sedang sibuk memainkan PSP-nya. Meskipun kelihatan tenang, sebenarnya anak itu sama gugupnya dengan Taemin, ia tahu itu. Dari ketujuh anak, yang benar-benar tenang adalah Junghong. Dia hanya bersandar di dinding dengan headphone menempel di telinganya. Terkadang dia menggerak-gerakkan kaki atau tangannya. Sepertinya dia sedang menghafal gerakan.

Kompetisi baru akan diadakan setengah jam lagi. Mereka datang tiga puluh menit lebih cepat, itu pun karena perintah Sir Hyukjae. Beliau sedang mengurus administrasi dan berbagai tetek bengek lainnya di dalam. Setelah beberapa menit, beliau kembali.

“Kalian mendapat nomor urut 21,” katanya sambil mengecek jam tangan. “Lebih baik kalian masuk sekarang dan mencari ruang ganti.”

Mereka hanya mengangguk dan mengikuti guru mereka dari belakang. Taemin mengusap-usap tangannya yang terasa dingin. Ia benar-benar takut. Sekalipun ia belum pernah ikut kompetisi menari. Dan sekalinya ia ikut, kompetisi tersebut adalah kompetisi tingkat nasional. Rasanya seperti menantang malaikat pencabut nyawa. Taemin menolehkan kepalanya saat ia merasakan sebuah tepukan di pundaknya.

“Setelah musiknya diputar, kegugupanmu akan hilang,” kata Sulli sambil tersenyum.

Taemin menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Aku ingin cepat-cepat naik ke panggung.”

Langkah kaki Sir Hyukjae berhenti di depan sebuah ruangan. Dia membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya, diikuti oleh murid-murid didiknya.

“Baiklah, Anak-anak,” ucap Sir Hyukjae. Helaan napas keluar dari mulutnya. “Hari ini adalah hari yang telah kita tunggu-tunggu. Meskipun kita sempat mengalami gangguan, namun pada akhirnya kita dapat hadir di sini.”

Sang guru menatap murid-muridnya satu persatu.

“Latihan selama dua bulan harus kalian tebus dengan hasil yang baik. Kalian pasti akan kesal jika mengetahui bahwa kalian tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang sudah kalian keluarkan. Maka dari itu, tariklah napas dalam-dalam, kumpulkan seluruh semangat dalam tubuhmu hingga darahmu terasa mendidih. Gebrak panggung itu dan buat seluruh penonton serta juri tidak dapat melepaskan mata mereka dari kalian. Mengerti?!”

Aye, Sir!”

“Sekarang keluarkan seluruh peralatan. Kalian bisa menggunakan ruangan kecil di sana untuk berganti baju…”

 

***

 

“Ya Tuhan, penontonnya banyak sekali…”

Suzy mengintip dari balik backstage. Jiyoung yang ada di belakangnya langsung komat-kamit mengucapkan doa-doa. Sisa anggota tim ada di belakang. Beberapa di antaranya ada yang dengan serius mengulangi gerakan, sisanya berdiam diri untuk menenangkan diri. Taemin menghela napas dan menggetuk-ngetukkan jarinya di dinding. Terkadang ia mencuri pandang ke arah panggung lewat pintu backstage.

“Apa aku bisa melakukannya?” bisiknya pada diri sendiri.

“Tentu saja kau bisa,” jawab Jongin. Dia berdiri di belakang Taemin. “Hyung sudah melakukannya di depan keluarga, Sulli dan teman-teman yang lain. Aku yakin kau bisa melakukannya di depan penonton dan juri.”

Seulas senyum dimunculkan Taemin. “Terima kasih, Jongin.”

Suara riuh penonton terdengar. Tiba-tiba peserta yang lain masuk dari panggung ke backstage. Mereka terlihat senang dan lega karena telah tampil. Berbeda dengan tim Seoul High School yang langsung memasang ekspresi abu-abu saat mendengar pembawa acara memanggil mereka.

Mereka saling berpandangan lalu mengangguk. Meskipun ketegangan dan kegugupan belum menguap sepenuhnya dari diri mereka, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju panggung. Di sana, mereka bersiap mengambil posisi.

Jantung Taemin berdetak dengan kencang. Tadi ia sempat mencuri pandang ke arah penonton dan juri. Ia merasa tangannya mulai gemetar, tapi dengan cepat ia mengatasinya. Tidak boleh ada kata gagal saat sudah berada di atas panggung, batinnya. Saat musik mulai mengalun, tubuhnya langsung bereaksi. Dalam sekejap, musik menjadi satu-satunya yang berputar di kepalanya dan dunia ini terasa hanya miliknya seorang.

Taemin melakukan poppin’, lalu bergeser ke kiri sesuai dengan formasi yang telah diatur. Gerakannya makin beringas. Ia tidak lagi mempedulikan penonton, juri, atau bahkan masa lalunya yang menyakitkan. Satu-satunya yang dipikirkannya adalah serentetan gerakan yang telah diingatnya serta teman-teman di sampingnya.

Penonton sama sekali tidak bersuara. Mereka menatap tujuh orang yang sedang menari di atas panggung dengan wajah terkagum-kagum. Ketika musik mencapai pada puncaknya, barulah mereka bersorak. Mendengar sorakan itu, membuat Taemin makin kalap. Darahnya terasa mendidih dan ia merasakan semangat yang selama ini ditahannya selama menari.

Dalam tiga menit, tarian itu diakhiri dengan formasi yang sempurna. Penonton bertepuk tangan dan sebagian besar dari mereka memberikan standing applaus. Taemin bersama dengan anggota tim yang lain membungkukkan badan meski napas mereka terengah-engah. Mereka kembali ke backstage dengan senyum besar di wajah mereka.

“Yang tadi itu luar biasa!” kata Jiyoung.

Suzy mengangguk. “Ya. Aku tidak menyangka penonton akan riuh seperti tadi.”

“Bagian yang paling menarik adalah melihat Taemin sunbae menjadi begitu kalap,” kata Junghong sambil tertawa. “Aku belum pernah melihat seseorang menari dengan gerakan seperti itu. So passionate.”

Taemin hanya tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kerja yang bagus, Sunbae!” kata Sulli sambil tersenyum lebar.

Wajah Taemin memerah. “A-ah, terima kasih. Kau juga sudah berusaha dengan sangat baik.”

Tiba-tiba saja Sir Hyukjae muncul dari balik pintu. Ekspresi puas sangat terlihat di wajahnya. Dia bertepuk tangan sembari berkata, “Bravo! Kerja yang bagus, Anak-anak! Tadi itu sangat, sangat brilian!”

Ketujuh anak itu saling berpandangan lalu tertawa. Sir Hyukjae merangkul mereka satu persatu.

“Sekarang kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja,” kata guru itu.

 

***

 

Panggung yang semula sepi kini dipenuhi oleh seluruh peserta kompetisi. Mereka mengatur diri dalam barisan sesuai nomor urut tampil. Para juri tersenyum ke arah peserta. Di tangan mereka terdapat enam amplop yang pasti berisi nama pemenang. Si pembawa acara mendekati juri-juri dan mengambil amplop-amplop itu. Ketika itulah saat-saat yang telah ditunggu akan dimulai.

“Selamat datang di Kompetisi Nasional ke-47 yang diadakan oleh Departemen Kebudayaan Korea Selatan,” Si pembawa acara membuka acara tersebut. “Terima kasih kepada peserta yang telah tampil dengan sangat baik. Dan pada akhirnya, kita sampai pada penghujung acara, yang pastinya telah ditunggu-tunggu oleh semua peserta.”

Berada di situasi seperti ini membuat Taemin sangat tegang. Ia tidak henti-hentinya mengusap-usap tangannya yang terasa dingin. Terkadang ia melirik teman-temannya. Mereka juga sama tegangnya seperti ia.

“Di tempat keenam,” Pembawa acara itu berhenti untuk menambah ketegangan. “Selamat kepada peserta nomor tujuh belas!”

Taemin melirik tim tujuh belas. Ia turut tersenyum melihat wajah bahagia mereka.

“Lalu di tempat kelima—”

Waktu terus berjalan dan tim mereka belum juga disebut. Taemin menggerak-gerakkan tangannya dengan gelisah sambil berdoa dalam hati. Ia makin gelisah, begitu juga dengan rekan-rekannya.

“Dan yang terakhir, di tempat pertama—”

Taemin menahan napasnya.

“Nomor dua puluh—”

Ayo, ayo.

“—satu. Peserta nomor dua puluh satu!”

Rasanya Taemin tidak dapat mempercayai telinganya sendiri. Ia menatap teman-temannya yang tersenyum penuh kelegaan. Mereka berdiri, lalu merangkul satu sama lain. Salah seorang juri menghampiri mereka sambil menyerahkan piala.

Kelegaan dan kebahagian luar biasa yang belum pernah dirasakan Taemin membanjiri hatinya. Ia menatap teman-temannya, lalu ke arah penonton yang bertepuk tangan. Taemin mendapati dirinya tersenyum lebar. Sebelumnya ia tidak tahu bagaimana rasanya melihat seseorang mengapresiasi dirinya. Sesuatu di dalam diri Taemin bergetar. Ia memunggungi teman-temannya saat dirasakannya sesuatu mengalir dari matanya.

“Kau tidak apa-apa, Sunbae?”

Taemin buru-buru menyeka matanya lalu berbalik. “Ya. Aku baik-baik saja, Sulli.”

Gadis itu tersenyum.

Untuk seumur hidupnya, Taemin tidak akan pernah melupakan gadis di hadapannya ini. Senyumannya yang manis, sapaannya yang hangat dan kata-katanya yang mampu meluluhkan rasa takut yang selama ini bersemayam di dalam dirinya.

 

***

 

Akhirnya tugas yang merepotkan itu selesai juga. Meskipun sempat dibuat pusing, pada akhirnya ia bisa menyelesaikannya dengan cukup baik. Membagi waktu disaat-saat seperti ini memang agak sulit, ketika guru-guru menimpakan seluruh bebas tugas kepada siswa. Pemuda itu menghela napas sambil keluar dari kantor guru. Ia mengusap-usap rambutnya dan menghitung dalam hati. Masih ada sekitar tiga tugas lagi yang harus dikumpulkan.

Saat menyusuri lorong, secara tak sengaja matanya melihat majalah dinding di sisi kanan. Sebenarnya ia berniat untuk langsung pulang. Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat selembar foto berukuran A4 ditempel di bagian tengah. Bibirnya tertarik ke atas dan sebuah senyum terbentuk di wajahnya. Ia mencondongkan badannya dan menatap foto itu lekat-lekat, lalu beralih ke tulisan yang ada di bawahnya.

Tim Sekolah Meraih Juara Pertama. Dari kiri ke kanan: Lee Hyukjae (pembina), Kim Jongin, Oh Sehun, Bae Suzy, Park Jiyoung, Choi Sulli, Lee Taemin dan

Walau kejadian itu terjadi seminggu yang lalu, namun euforia kemenangan masih melanda seluruh anggota tim, bahkan seluruh sekolah. Terutama ia, tentu saja. Yang awalnya takut pada segala hal, bahkan untuk mengakui kemampuannya sendiri saja ia tidak bisa. Sekarang tak ada ragu di dalam dirinya. Masa lalu memang menyakitkan. Namun bila masa lalu terus dihindari, itu juga tak akan bisa menyelamatkan masa depan. Meskipun butuh waktu lama untuk menyadari hal itu, pada akhirnya ia bisa melakukannya.

Selama beberapa menit ke depan, ia terus menatap foto itu. Mungkin ia akan menghabiskan waktu sepanjang sore di lorong sekolah jika seseorang tidak memanggil namanya.

Taemin menoleh dan melihat sesosok gadis melangkah ke arahnya. Secara otomatis ia tersenyum.

“Sedang apa?”

“Tidak ada,” jawabnya. “Hanya melihat-lihat. Kau mau kemana?”

“Aku berencana untuk menjenguk Dongho. Kau mau ikut?”

“Tentu.”

Mereka berjalan bersama ke rumah Shin Dongho.

Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi. Kedua muda-mudi itu hanya terdiam sambil menikmati angin sore yang berhembus pelan. Lalu lintas sedang tidak ramai, jadi jalan sedang benar-benar sepi. Hanya ada beberapa taksi dan sepeda yang lewat.

“Bagaimana keadaan Dongho?” tanyanya.

“Makin baik,” jawab gadis itu. “Kemarin Suzy berkata padaku bahwa Dongho sedang dalam masa pemulihan. Tapi mungkin untuk bisa benar-benar pulih, butuh waktu yang agak lama. Aku pernah baca di suatu buku tebal milik Krystal bahwa tulang yang patah butuh waktu sekitar enam bulan untuk benar-benar pulih.”

Ia mengangguk-angguk. “Aku berharap Dongho akan baik-baik saja. Aku banyak berhutang padanya, Sulli.”

Sulli tersenyum. “Aku tahu itu.”

Taemin turut tersenyum. Ia mengarahkan pandangannya ke langit yang kemerah-merahan. Suara desau angin yang menenangkan menambah suasana di sepanjang trotoar yang dilalui kedua muda-mudi itu. Beberapa helai pohon yang gugur berterbangan dan jatuh di tanah. Rasanya seperti di film-film romantis yang selalu dianggap picisan oleh Taemin. Namun suasana seperti ini justru menimbulkan suatu ide di otak pemuda itu.

Ia berhenti.

“Ada apa?” tanya Sulli yang juga menghentikan langkahnya.

Taemin berdehem. “Kau ingat kedai kopi dimana kita pernah bertemu?”

“Tentu saja aku ingat.”

“Kudengar akan ada pertunjukkan jazz di tempat itu pada Sabtu nanti,” Nada bicaranya makin pelan. “A-apa kau mau ke sana… de-denganku?” Rasanya Taemin tidak berani untuk menatap gadis di hadapannya.

“Maksudmu seperti kencan?”

“Begitulah.”

“Tentu!” Sulli menjawab dengan cepat. Bahkan terlalu cepat. Menyadari hal itu, wajahnya langsung memerah dan dia memalingkan muka. “Ma-maksudku, aku mau. Lagipula itu saat akhir pekan.”

Taemin mengangkat wajahnya. “O-oke. Aku akan ke rumahmu jam tujuh.”

“Baik. Jam tujuh.”

Mereka tersenyum satu sama lain, sambil bergandengan tangan dengan malu-malu kemudian melangkah bersama.

Even in that risky moment when the storms come
Don’t turn the boat around, don’t stop the voyage
If I were to get scared by this and run away
I wouldn’t have even started

She’s my black pearl
The sun in the sky and the five oceans
Toward her, who shines brightly
In the thick fog, on top of the high waves
You faintly shine, my beautiful black pearl

The sun that is suspended in the sky
The infinite blue of the ocean, oh
Shine a dazzling light toward her beauty
She is my beautiful black pearl…

(EXO — Black Pearl)

 

End of Black Pearl

 

 

 

A/N: Maaf karena ending-nya aneh. -_-

Read and comment, please?

 

Categories: Shiny Effects | Tags: , , , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Black Pearl [Verse 5.2]

  1. akhirnya diupdet yaa. aku kemarin udah komen kok di note fb tapi karena lanjutannya muncul di email aku jadilah aku baca di wp.
    bener-bener bagus, sooyun-ssi. banyak sekali amanat yg bisa diambil dari ff ini menurutku. alurnya itu keren nggak terbiru-buru.
    endingnya sebenernya pengen ada momen taemin-sulli yg lebih lagi sih tapi nggak papa deh. akhirnya ya taemin bangkit juga. itu kasian banget taemin dibullynya.
    ah koreksi, pas sulli bicara sama jongin kok si taemin gantiin junhong? bukannya dongho? di bagian lain udah dongho kok. dan buat marganya jiyoung itu kang, bukan park. mungkin sooyun-ssi kelupaan ingetnya park jiyeon ya😀
    maaf kalo kebanyakan komen. ditunggu ff lainnya, keep writing~

  2. na

    Waaaahhhh ahirnya….aku paling suka minstal-taelli couple d shinyeffect…
    crt yg bagus thor…

  3. reea

    mereka unyu :3

  4. pattytaem

    🙂 ceritanya bener” bagus. Yg paling touching itu pas moment ikut lomba. Moment lahir kembali nya Taemin. Seneng dy bs brubah. Kata”nya sulli bener2 wise disini.

    Endingnya sdkit flash sih. Krna sblumnya mreka ga ad interaksi romantis or tanda”nya slain cm perasaan diri sndiri. Tp overall aq suka plotnya. Bagus🙂 bahasanya rapi bgt.

  5. Klee

    Akhirnya verse Taellinya muncul juga, masih satu chap lagi kan thor?
    Oiya yg heal one anothernya dongss thor cepetan dilanjut, udah kepo maksimal niiiiiih😀

  6. imut lho.. endingnya..
    aku bisa bayangin nuansa tempat ala ala drama korea hahahaha

  7. RMD

    waaahh… Taelli malu malu kucing hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: