STICKY!

13754232_1072529562824989_5570395435361840579_n

STICKY!

 

Casting MINSTAL because i love them so much. Kaistal who? Minstal will always be my ship. Almost 8 years shipping them, i cant believe i’m getting old. Haha i’m a loyal shipper. And i’m proud with that.

 

Genre? Romance definitely, lil’ bit comedy here and there.

 

As for the RATING, it’s rated M aka “MATURE’. I guess u understand what i mean. There is smut, but not so much, dont worry.

 

Last but not least, do not plagiarize, people!

Just read in peace.

With love, Patty!

***

Desclaimer:

 

Pria ini gila. Gila akan Jung Soojung. Hati-hati!

 

 ***

 

Perkenalkan,

 

Aku Choi Minho, pria yang sangat yakin kalau dia akan menikah dengan Jung Soojung suatu hari nanti. Jangan tertawa. Waktu aku berumur 7 tahun aku pernah bermimpi menikah dengannya.  Umur 13 tahun aku bermimpi dia menciumku di bawah pohon natal. Saat mimpi basah pun, wajah Soojung ada dimimpi itu. Umur 15 tahun aku bermimpi dia membantu mengocok milikku agar keluar. Umur 17 tahun aku bermimpi kami melakukan hal erotis, dan terakhir hari ini, di umur ku yang sudah 25 tahun, oh sial aku sudah tua. Aku kembali bermimpi melakukan hubungan seks dengannya, bahkan sampai beberapa ronde. Sampai celanaku penuh dengan bekas sperma saat aku bangun. Kalau itu bukan petunjuk dari Tuhan, lalu apa? Tidak salah lagi dia pasti calon istriku. Dia sudah merebut perjakaku di alam mimpi. Dia harus bertanggung di dunia nyata. Begitu bukan? Kau bicara apa sih, Minho.

Ada satu hal yang aku sukai dari wanita ini. Yaitu fakta bahwa dia tidak menyukaiku. Sial. Haha. Aku sangat senang membuatnya marah dan melihat muka tak berbentuknya itu muncul kalau sudah melihatku. Tapi kalau kalian ingin bertanya kenapa aku sangat senang membuatnya marah? Karena aku mencintainya. Itu sudah menjadi rahasia semua orang. Bahkan dia pun tahu. Aku sudah di tolak 7 kali olehnya sejak kecil hingga sekarang. Sial sekali karena selera anak ini sangat tinggi. Haruskah aku operasi plastik menjadi Orlando Bloom atau Brad Pit? Anak itu menyukai mereka. Asal jangan Jhony Deep lah, aku juga heran kenapa dia menyukai orang gila itu.

 

“Choi Minho, keluar dari kamarku! kau manusia mesum hitam tidak tahu diri!”

 

Okay, teriak saja sepuasmu. Tapi apa harus ya, menyebut ’hitam’nya? Geez. Sudahlah, yang penting aku sudah melihat payudaramu. Sepertinya tambah besar tuh. Baguslah.

 

 

 

 

 

Aku keluar dari kamarnya setelah dia menendangku dengan terburu-buru, dia memakai piyama handuk saat ini. Siapa suruh keluar kamar mandi telanjang seperti itu. Kan kau sudah tahu aku sering menyelinap masuk tanpa izin. Ya iyalah menyelinap tanpa izin, Minho, sejak kapan menyelinap pakai izin. Haha.

 

Oh by the way, aku sudah duduk manis di meja makan sekarang. Karena Soojung sudah menendangku, aku kehabisan tenaga. Paling tidak aku harus menampung tenaga lagi. Dan tenaga itu hanya bisa ku dapatkan dari Om dan Tante Jung. My Superheroes.

 

 

“Kau berulah lagi Minho, tsk tsk. Kurangilah sedikit kenakalanmmu. Kau sudah 25 tahun.” Tante Jung mengomeliku dengan halus lagi. Ah aku sangat menyukaimu tante. Om Jung hanya menggeleng dan terus membaca koran sebelum mengangkat bicara.

 

“Choi Minho, sudah menyerah saja. Soojung masih betah dengan Sehun. Sudah satu tahun, kan mereka pacaran? Ini rekor pacaran terlama Soojung sepertinya.” ledek Om Jung.

Duh, Om. Sejak kapan ada kata menyerah di kamus modern Choi Minho? Aku hanya menggeleng santai dan mengambil dua potong roti tawar dan merebut selai kacang yang baru saja ingin di ambil oleh Om Jung setelah dia melepas korannya.

 

“Begini ya Om, sudah berapa kali aku bilang. Tuhan sudah menakdirkannya denganku. Coba Om pikir. Untuk gadis cantik sempurna tinggi semampai, putih, mulus, montok, berdada dan pinggul lumayan seperti Soojung, pria seperti apa yang cocok dengannya? Tak ada gambaran lain kan Om, selain seorang Choi Minho yang tinggi, tak terlalu putih, badan atletis, sehat dan kuat, bukan perokok, dan mempunyai sperma yang sehat ini kan? Om mau cari dimana lagi pria produktif seperti aku. Apalagi aku sangat terkenal di kompleks. Anak pemilik swalayan pula Om, calon anak mantumu ini. Mau cucu sempurna, pilihlah Choi Minho.” Aku langsung menggigit roti isi selai kacang itu dengan semangat. Om Jung hanya bisa menganga sebelum akhirnya tertawa melihatku.

 

“Ya ampun Minho, siapa yang mengajarimu sampai kau bisa gila seperti ini. Haha.” Tante Jung menyuguhkanku Cokelat panas dan membuka apronnya. Ikut duduk disamping Om Jung dan memakan sarapannya.

 

“Tante lupa? Ini kan hasil didikan suamimu.” Om Jung kembali tertawa dibuatku. Namun, sarapan keluarga bahagia kami terganggu dengan datangnya gadis yang kucintai. Anak kandung mereka.

 

“Mau kau ‘fitnah’ seperti apapun badanmu itu, aku tidak akan tertarik padamu kodok gila. Ma, usir dia. Kenapa dia selalu di ijinkan masuk ke rumah ini sih.”

 

Soojung menggerutu sebelum duduk disampingku dan mengambil sarapannya. Orangtuanya hanya tertawa. Mana berani mereka mengusir golden boy sepertiku, Soojung ah.

 

 

Ah, aku belum bilang kalau dia hanya memakai tank top dan hot pants kan? Rambutnya juga dia kuncir asal. Dia hobi memancingku. Anak ini. Tunggu saja kalau kita sudah sah. Aku hanya makan saja dengan lahap, tidak berniat meladeni perkataannya. Karena dengan begini dia akan semakin kesal.

 

“Oh Iya Minho, nanti sore kau istirahat saja. Kali ini biar Soojung yang mengecek swalayan. Kau santai saja jaga butik Tante, okay?” pinta Tante Jung. Aku menoleh ke sebelah dan wanitaku terlihat kesal, tuh. Bagaimana tidak, swalayan ‘kami’ itu sangat ramai pengunjungnya. Dan untuk mengontrol semua karyawannya termasuk gudang sampai ke lini depan alias para kasir, itu merupakan hal yang melelahkan. Soojung pasti kesal. Malam ini adalah malam minggu. Dia juga sudah ada janji kencan dengan si tinggi kurus tapi sialnya putih itu. Syukurlah. Orangtuanya selalu ada dipihakku. Tidak peduli sekaya apapun pacarnya. Haha.

 

***

 

 

 

Oh pasti kalian bingung dengan ‘silsilah’ keluarga ini dan kenapa aku sangat dekat dengan mereka. Singkatnya, kami bertetangga. Panjangnya, orangtuaku bersahabat dengan Orangtua Soojung. Mereka meninggal karena kecelakaan di umurku yang ke 10. Rumahku diwariskan untukku. Swalayan milik Ibuku juga diwariskan dan di manage oleh keluarga Soojung. Bisnis properti Ayahku pailit karena alasan ditinggal meninggal pemiliknya dan kalah bersaing di pasar. Tapi untungnya aku tidak kekurangan uang sama sekali. Jangan anggap remeh penghasilan swalayan besar itu ya saudara-saudara.

 

Butik pakaian yang disebutkan tadi adalah milik keluarga Soojung dan sesekali dibantu olehku. Kesimpulannya, kami keluarga, dan kami cukup kaya lah. Dan dengan begini bisa dibilang aku adalah calon anak mantu mereka. Mereka bahkan lebih sayang padaku dari pada pacar anak mereka tuh.

 

 

Kalau kalian menanyakan hal yang lebih spesifik dan serius lagi mengenai alasan sebenarnya kenapa aku benar-benar mencintai gadis ini tanpa aku harus bercanda, hanya satu jawabanku. Aku tidak tahu. Dia tumbuh bersamaku. Aku terikat dengannya. Dan perasaan itu muncul. Titik. Tanpa tambahan koma, apalagi garis miring.

 

***

Author POV

 

“Ayolah Jungie, kenapa kau harus menjaga swalayan? Bagaimana kencan kita? Hari ini ulang tahunku baby. Aku sudah menyiapkan semuanya padahal.”

 

Sehun membujuk pacarnya yang sedang bermuka menyesal itu dengan mata berbinarnya. Hari ini ulang tahun Sehun, jadi wajar kalau pria ini meminta perhatian pacarnya. Mereka sedang berdiri di samping mobil sport milik Sehun yang terparkir tepat di depan swalayan Minho.

 

“Sehun ah, aku juga sangat ingin pergi ke apartemenmu, tapi aku tidak bisa mengabaikan tugasku! Aku harus mengontrol kerja mereka. Maafkan aku. Tadi malam aku sudah menginap dan memberikanmu kejutan kan, aku sudah berusaha yang terbaik untukmu. Ayolah.”

 

“Kenapa kau tidak suruh saja si lelaki mesum itu menggantikanmu? Toh ini toko milik keluarganya kan? Enak saja dia memerintah keluargamu.”

 

“Kau tidak mengerti, Sehun. Dia bagian dari keluargaku juga. Hampir setiap hari dia bekerja disini. Dia selalu bekerja keras. Tapi, swalayan ini tidak bisa dikontrolnya sendiri, mengerti?”

 

“Oh jadi pada akhirnya kau akan tetap mengutamakannya dibanding apapun juga?” Sehun menggumam kesal.  Soojung hanya bisa menutup matanya lelah.

 

“Pulanglah, besok kita bertemu lagi. Aku sedang tidak dalam mood yang baik.” Ucap Soojung sebelum berjinjit dan mengecup bibir Sehun.

 

“Kau berjanji akan memberikannya padaku di hari ulang tahunku. Kau berjanji kalau kau sudah siap, kau akan melakukannya di hari ulang tahunku. Aku selalu menahan diri, Soojung. Dan sekarang giliran aku menagih hadiahku, kau beralasan seperti ini.” Lontar Sehun, kecewa. Soojung menatap mata pacarnya itu dengan serius.

 

“Apa tujuanmu pergi bersamaku hari ini hanya agar kau bisa berhubungan seks denganku, Sehun?”

“Kalau bukan itu lalu apa, Soojung? Kita sudah bersama selama satu tahun. Aku mencintaimu. Tapi kau tidak pernah mau melakukannya denganku. Aku ini juga pria yang butuh hal itu.”

 

“Maaf kalau aku sudah berjanji seperti itu. Aku lupa, Sehun. Tapi, kalau aku tidak bisa menepati janjiku hari ini, apa kau akan meninggalkanku dan mencari wanita lain, begitu?” tanya Soojung marah. Sehun menahan tawanya dan bersandar di mobilnya.

 

“Sudah berapa kali kau melakukannya dengan Minho tapi kau selalu menolakku? Kau sudah sering tidur dikamarnya begitupun sebaliknya dan kau pikir aku akan percaya kalau tidak terjadi apa-apa di antara kalian? Mungkin kau selalu beralasan padaku kalau kalian adalah keluarga dan tidur bersama sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, karena kau takut sendirian. Tapi apa kau tahu, aku bahkan pernah mendengar gosip dari teman kuliah kalau kau dan Minho adalah teman seks. Minho bahkan mengatakan pada teman-temannya yang seangkatan denganku kalau kau adalah calon istrinya dan dia sudah mengetahui seluruh celah dibadanmu tanpa satupun bagian yang terlewatkan. Kalian sudah bertunangan kan? Selama ini aku pura-pura tidak keberatan dengan sikap orangtuamu yang mengacuhkanku dan lebih memilih penjahat kelamin abnormal itu. Aku menahan kemarahanku karena aku mencintaimu. Tapi ini batasnya, Soojung. Aku tidak tahan dengan kebohonganmu. Dan orangtuamu aneh, tidak keberatan walau anak mereka selalu di ganggu oleh pria mesum dan gila seperti itu. Mereka baik-baik saja melihat anak mereka di leceh-“

 

#plak

 

Soojung menampar Sehun dengan sangat keras. Airmatanya mengalir. Dadanya sesak menerima hinaan itu. Lebih sesak lagi karena semuanya itu adalah fitnah.

 

“Aku memang membenci pria itu. Aku membencinya karena dia selalu menempel padaku. Aku membencinya karena dia selalu menghina semua mantan pacarku selama ini termasuk kau, Sehun. Dia selalu menghina orang yang aku sukai. Dia selalu menerobos masuk ke kamarku. Dia selalu mencuri sarapanku. Dia sering memecat karyawan laki-laki yang aku terima di swalayan ini karena cemburu. Dia sering memakai warna baju yang sama denganku dan bilang kalau kami serasi. Dia sering memamerkan kedekatan kami. Mengatakan kalau dia sudah melihat setiap inci dari tubuhku. Dia bahkan tidak takut menceritakannya pada orangtuaku sendiri. Dia mungkin bisa di juluki pria termesum yang pernah ada.-

 

 

 

Tapi perlu kau garis bawahi, Sehun. Kami tidak bertunangan dan aku masih perawan. Choi Minho tidak pernah meniduriku. Dia mungkin terlihat gila tapi dia sangat menyayangiku. Dia tidak pernah menyentuhku tanpa seizinku. Dan semua orang terdekat kami tahu akan sikapnya. Dia mungkin manja dan kekanak-kanakan tapi dia tidak benar-benar gila. Tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya untuk melecehkanku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya memang tidak sopan tapi itu hanya untuk membuatnya terlihat jelek dimataku. Dia selalu sengaja membuatku tidak menyukainya. Dia mungkin berkata kalau aku calon istrinya tapi sebenarnya dia tidak pernah memaksakan kehendaknya. Dia berharap aku mendapatkan pria yang tepat untukku. Minho bukanlah pria yang sep-“

 

“Cukup Soojung. Celotehanmu cukup untuk menjelaskan kalau kau sebenarnya mencintainya. Cih, pembohong. Kita putus. Terima kasih buat selama ini. Aku membuang-buang waktu mencintaimu.” Sehun menggeleng dan masuk ke mobilnya. Melaju saat itu juga.

 

Soojung bak diberi tebasan pedang. Baru tadi pagi dia bangun bersama Sehun setelah memberikan kejutan selamat ulang tahun bersama cup cake buatannya. Tapi hanya berselang beberapa jam kemudian, mereka akhirnya putus. Thanks to Choi Minho. Hubungan yang dia jalin selama satu tahun akhirnya kandas juga.

 

Nama: Jung Soojung. Umur: 22 tahun. Status: Perawan. Rekor pacaran: 1 tahun 3 hari. Skinship tertinggi: Ciuman dengan lidah, meremas payudara.

 

Kapanpun dan dimanapun, selalu Choi Minho lah yang menjadi alasan terhentinya rekor perkembangan hubungan Soojung. Ingin bertanya lagi kenapa Soojung sangat membenci pria itu?

 

***

 

“Sudahlah, banyak pria yang lebih berisi dari si Sehun sialan itu di luar sana. Di dalam sini juga ada. Coba perhatikan baik baik pria tampan disampingmu ini.” Canda Minho yang mencoba menghibur Soojung yang sedang menangis di kamarnya. Ini sudah lewat tengah malam dan Soojung masih saja menangis. Dan Minho malam ini menjadi si penyupply tissue di atas ranjang seperti biasanya kalau Soojung sedang bersedih. Mereka duduk berdampingan. Soojung duduk bersila sambil memeluk bantal. Sedangkan Minho duduk memanjangkan kakinya dan memegang sekotak tissue. Sepulang dari Swalayan tadi dia langsung naik ke kamarnya dan mengunci diri. Menangis dengan kencang. Orangtua Soojung yang tidak asing dengan pemandangan ini pun paham kalau kemungkinan anak mereka telah putus itu sangat besar. Karena Soojung sudah sangat langganan pacaran dan putus seperti ini. Untuk itu mereka segera menelepon Minho untuk secepatnya menutup butik dan menghibur anak mereka.

 

“Kali ini kenapa putus hm?” tanya Minho. Kali ini tidak mencoba untuk bercanda.

Soojung yang masih terisak, menatap mata Minho cukup lama dan kemudian kembali menangis dengan keras. Minho menggeleng sambil tertawa. Sepertinya mencoba untuk berbicara serius tidak akan pernah manjur bagi Choi Minho. Bercanda dan membuat Soojung kesal lah keahlian utamanya. Minho tidak berbakat menjadi Mama Laurens sang pemberi solusi.

 

“Sepertinya bola mataku mengandung bawang merah. Selalu saja membuatmu menangis kalau melihatku. Ini bahaya.” Gumam Minho pelan sambil memajukan bibirnya.

 

Soojung langsung menendangnya keluar dari kasur. Membuat pria ini menghiburnya benar-benar bukanlah solusi yang baik. Hanya membuat emosi Soojung semakin meledak karena pria inilah yang menjadi alasan utama kenapa semua hubungannya gagal.

 

Dan Sehun, Soojung sangat menyukai pria itu. Dia berhasil membuat Soojung nyaman. Tapi Soojung tidak menyangka kalau Sehunpun mengira dia sudah bukan perawan lagi karena kehadiran Choi Minho yang selalu menempel padanya. Dan karena semua tuduhan mereka tidak benar, Soojung merasa kesal karena dia harus terus membela Minho. Soojung tidak pernah mempunyai pilihan lain selain membela Minho di hadapan mereka semua. Wajar semua pria mengira kalau dia lebih memilih Minho. Dan Soojung membenci hal itu. Kenapa Choi Minho selalu benar. Dan kenapa fitnahan orang tentang pria gila ini selalu salah.

 

Minho yang terjatuh langsung berdiri lagi dan berkacak pinggang di depan Soojung yang masih menangis, namun kini dia sudah berbaring.

 

“Serius tidak mau aku menghiburmu? Aku pulang kalau begitu, okay? Malam ini tidur dengan Tante saja ya. Kebetulan aku harus menonton Arsenal VS Chelsea malam ini. Dan aku tidak mau diganggu dulu dengan suara tangisanmu. Kau tidak apa-apa kan ku tinggal sendiri, wanitaku?” tanya Minho.

 

Pertanyaannya  mungkin terdengar bercanda, tapi ini serius saudara. Ada pertandingan bola yang harus dia tonton. Soojung langsung melemparinya dengan bantal dan mengusirnya. Minho tertawa dan merapikan bantalnya dalam diam, membuang semua bekas tisu Soojung ke tong sampah yang ada di kamarnya, sebelum bersiap keluar.

 

Saat Minho memegang gagang pintu, Soojung tiba-tiba memanggil namanya. Minho tersentak, dia berpikir Soojung tidak mau dia pergi malam ini. Walaupun hatinya dilema harus meninggalkan pertandingan berharga itu, tapi dia siap kalau harus menemani Soojung malam ini lahir dan batin. Serius.

 

“Wae? Tidak mau aku pergi?” tanya Minho dengan senyum kemenangannya. Soojung berdiri dan menghapus airmatanya. Dia terlihat serius. Mukanya berubah dingin dan berjalan mendekati Minho. Minho gugup.

 

“Apakah ini saatnya Jung Soojung mendeklarasikan dirinya sebagai calon istriku? Mudah-mudahan Ya Allah!” gumam Minho dalam hati. Tapi sepertinya waktu Minho bercanda harus terhenti sesaat setelah Soojung membuka mulutnya.

 

“Minho, kau sudah berumur 25 tahun. Kau sudah mendapat gelar Master dalam bisnis management. Kau baru 3 kali berpacaran. Banyak mantan teman kuliahmu bahkan tetangga yang menyukaimu. Kau mapan. Tanpa mencari kerjapun usahamu cukup untuk menghidupimu. Kau punya rumah besar. Kau punya mobil pribadi.” Soojung menghentikan kata-katanya. Menormalkan nafasnya yang masih terisak.

 

“Apa maksud kata-katamu? Intinya, kau sudah siap jadi istriku, begitu?” Minho menyengir. Tapi Soojung malah menggeleng.

 

“Kau bisa hidup sendiri, Minho. Mau sampai kapan kau bergantung pada keluargaku? Sampai kapan kau numpang makan disini? Sampai kapan kau menganggap orangtuaku sebagai orangtuamu? Sampai kapan kau memaksaku untuk menjadi istrimu? Sampai kapan kau mengikatku? Sampai kapan kau membuatku menangis seperti ini? Sampai kapan kau mau mencintaiku dengan egois? Bisakah kau menjauh dariku? Aku lelah Minho, lelah. Aku lelah meladeni sikapmu. Aku lelah denganmu yang selalu mau tahu apa yang aku lakukan. Aku lelah denganmu yang bertindak melebihi pacarku. Aku putus dari Sehun karena salahmu. Kau membuat semua pria meragukanku. Kau membuatku menjadi wanita yang tidak bisa memilih dan dipilih. Kau membuatku gila, Minho. Kalau kau mencintaiku, bisa kau meninggalkanku dan tidak muncul lagi dihadapanku? Bisakah, Minho? Menghilang dari kehidupanku.”

Di akhir perkataan Soojung, airmatanya kembali mengalir. Berbeda halnya dengan Minho yang hanya bisa mematung. Kaget dengan semua yang Soojung lontarkan.

 

“Ah. Hahaha. Astaga pertandingannya sudah akan dimulai. Aku pergi dulu. Jaga dirimu, Soojung. Selamat tinggal. Love you!” ucap Minho ceria sebelum keluar dan menutup pintu kamar Soojung dengan perlahan. Beruntung dia keluar dengan cepat. Karena sesaat setelah dia menutup pintunya, airmatanya menetes tanpa dia minta. Minho menangis sambil tertawa karena tak percaya kalau dia bisa menangis. Dia langsung menyekanya dengan tangannya dan pulang kembali ke rumahnya. Tidak sebelum orangtua Soojung menahannya di pintu masuk.

 

“Minho, apa yang terjadi? Kenapa sudah mau pulang? Kau tidak menemaninya malam ini?” tanya Ayah Soojung. Minho tersenyum bak anak SD dan menggeleng manja.

 

“Dia sedang marah padaku Om. Tante, temani Soojung malam ini ya, nanti kalau emosinya sudah reda aku akan datang lagi. Aku pamit, Om, Tante!” ucap Minho sebelum memeluk dua pengganti orangtuanya itu dengan erat dan pulang kerumahnya.

 

***

 

Keesokan harinya,

 

Hari yang penuh kejutan. Tak ada yang menyangka hari ini akan datang. Hari dimana keluarga Soojung menjadi keluarga yang paling cemas di dunia.

 

“Aku tidak tahu, Pa! Ma! Aku hanya menyuruhnya menghilang dari hadapanku. Aku emosi! Aku tidak pernah berpikir dia akan benar-benar menghilang! Ma, kau tahu sendiri Choi Minho seperti apa! Dia tidak akan pernah bisa jauh dariku! Aku tidak berpikir perkataanku akan berdampak seperti ini! Aku pikir dia hanya akan mengurung diri dirumahnya untuk mengabulkan permintaanku beberapa saat saja!” teriak Soojung. Menangis. Mengapa menangis? Choi Minho meninggalkan mereka semua. Dan Soojung dimarahi oleh Ayah dan Ibunya. Dia pergi. Rumahnya kosong. Tak ada pakaian di lemari. Soojung dan keluarganya mempunya kunci seref rumah Minho begitupun sebaliknya. Ibu Soojung yang cemas karena Minho tidak datang sarapan dan makan siang, langsung pergi ke rumahnya untuk mengecek anak itu. Hasilnya, dia tidak ada sama sekali. Handphonenya tidak aktif. Padahal mobilnya ada di parkiran.

 

Mereka sangat cemas, karena sebelumnya Choi Minho tidak pernah pergi kemanapun tanpa memberitahukan kepada mereka. Kemanapun, entah ke luar kompleks untuk beli makanan, bermain bola atau basket, bahkan berbelanja pakaian, sampai ke luar negeri atau berkencan dengan pacarnya sekali pun akan di laporkannya. Kali ini berbeda.

 

 

Soojung yang kini duduk di atas kasur Minho sambil menggigit kukunya terlihat ketakutan. Dia tidak menyangka kata “Selamat tinggal” yang di ucapkan Minho malam itu benar-benar serius. Dia takut Minho bertingkah bodoh. Dari kecil, Minho selalu melakukan apa yang di pinta Soojung selain menjauh darinya. Apapun itu. Bahkan waktu kecil Minho pernah terjatuh dari pohon karena Soojung menyuruhnya untuk menjatuhkan diri, agar Soojung mau mencium pipinya. Saat itu kaki Minho nyaris patah. Saat dewasa, Soojung pernah iseng menyuruh Minho untuk memutuskan pacarnya yang  sudah hampir dua tahun berhubungan dengan Minho, dan gilanya Minho mengabulkannya. Hari itu juga dia langsung putus dari wanita itu. Dan Soojung merasa bersalah karena Minho terlihat menyesal.

 

Sangat lama berkutat dengan kecemasannya, Soojung baru menyadari ada secarik kertas di atas meja rias Minho. Kertas itu di tindis dengan Iphone 6 gold milik Minho yang ternyata juga dia tinggalkan. Soojung langsung mengambil kertas itu dan membacanya.

 

Yo! Jung Soojung, aku pergi liburan sebentar ya. Toh kau tidak ingin melihatku lagi kan. Jadi aku ingin ke luar negeri dulu menghilangkan sakit hati. Haha. Siapa tahu aku bisa move on darimu. Kan keren! Apalagi kalau disana aku bertemu dengan wanita yang lebih bohay dan cantik darimu. Aku pasti bisa melupakanmu dengan cepat. Salam sama Om dan Tante Jung ya. Bilang aku tidak akan pernah melupakan mereka. Mereka adalah wakil orangtuaku dan aku sangat menyayangi mereka sama seperti orangtuaku sendiri. Mungkin aku bilang hanya “sebentar”, tapi sebenarnya aku tidak tahu kalau aku akan kembali atau tidak. Hehe. Aku harus menghilang dari hadapanmu. Itu target utama hidupku saat ini. Jangan kecewa ya kalau kau bukan target utamaku lagi. Sana cari calon suami yang terbaik untukmu! Yang jelas jangan Sehun ya!  Setidaknya yang lebih tampan dariku lah. Carilah pria yang kau cintai. Jangan lupa email aku kalau kau akan menikah nanti. Kau tahu kan alamat emailku. Aku pasti akan datang kalau kau yang mengundangku. Oh iya, aku pergi ke Paris. Itu kota impianmu kan? Maaf ya aku mendahuluimu. Siapa suruh mengusirku. Tenanglah saldoku masih cukup. Jadi tidak perlu khawatir aku akan tinggal dimana. Aku akan cari kerja disana. Swalayanku jaga baik baik ya. Jangan sampai bangkrut. Handphoneku, yah. Simpan saja lah sebagai kenang-kenangan! Jangan digadai loh ya! Aku hanya tidak ingin kalian menghubungiku. Jaga dirimu, Soojung. I love you. Always.

 

“Aku benci kau, Minho!” Soojung berteriak dan menangis. Orangtuanya yang berada di lantai bawah langsung berlari menghampirinya, memeluknya. Ayahnya membaca surat Minho dan hanya bisa bernafas panjang. Khawatir sekaligus lega paling tidak dia tahu anak itu berada dimana.

 

***

 

1 tahun kemudian.

 

 

“Pagi.” Sapa Soojung setelah merapikan Blazer abu-abu yang dipakainya sembari menuruni tangga. Rambut hitamnya yang sedikit dia potong dia gerai begitu saja. Memakai celana jeans hitam dan sneakers berwarna senada putih hitam. Soojung langsung mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas piano dan bersiap pergi.

“Tidak sarapan dulu, Soojung ah?” tanya Ibunya. Ayahnya hanya memberi kode ‘jangan’ pada Ibunya.

 

“Tidak, Ma. Aku pergi dulu.” Balas Soojung singkat.

 

“Kau tahu sendiri anak itu selalu saja mengingat Choi Minho kalau dia makan di meja ini. Jangan membuat ini semakin berat untuknya, Ma.” Nasehat Ayah Soojung setelah anak mereka itu pergi dengan mobilnya. Istrinya hanya membuang nafas pasrah karena kembali mengingat anak lelaki itu. Mereka mencemasannya. Sudah Satu tahun ini Minho tidak pernah menghubungi mereka. Sudah seringkali Ayah Soojung bahkan Soojung sendiri mengirim email padanya tapi tak ada satupun yang dibalas olehnya.

 

Bulan lalu adalah terakhir kalinya Soojung mencoba mengirimkannya email. Menanyakan keadaannya. Setelah itu, Soojung menjadi sangat kesal dengan Choi Minho. Dia membencinya. Sangat membencinya karena menghilang begitu saja dari hadapannya dan tak pernah memberikan kabar.

 

***

“Eonni, stok beberapa item ini sudah hampir habis. Apa aku order saja sekarang ke distributornya?” Salah satu staf admin swalayan Minho memperlihatkan list barang yang sudah hampir habis stoknya di gudang penyimpanan. Soojung berdecak kesal. Dia sudah hampir terlambat ke kantor tapi karena tidak ada Minho, setiap hari harus dia lah yang mengontrol tempat ini. Ayahnya sudah cukup sibuk sebagai Creative Director di salah satu perusahaan periklanan jadi tidak mungkin dia membebani Ayahnya.

 

Kadang Ibunya yang menggantikannya. Tapi Soojung selalu mengira kalau Minho bisa saja berbohong dan mungkin memperhatikannya dari jauh. Untuk itu kenapa dia selalu mengambil giliran Ibunya. Soojung hanya berharap dia dapat melihat Minho dari dalam swalayan ini. Tapi itu tak pernah terjadi.

 

“Uh kenapa tempat ini tidak bangkrut saja agar orang sial itu pulang dan marah-marah padaku! Tsk! Kenapa harus selalu ramai seperti ini!” Soojung menggerutu kesal mengutuk swalayan dua lantai ini. Bagaimana Soojung tidak kesal. Swalayan ini memiliki omset yang cukup besar. Hanya dengan dua lantai, swalayan serba ada ini selalu meraup keuntungan besar, mungkin karena letaknya yang strategis di tengah kota. Karyawannya kaget namun Soojung hanya tersenyum tipis padanya kemudian memberikannya izin.

 

“Orderlah sesukamu, kalau perlu habiskan saja uangnya.” Ucap Soojung singkat. Karyawannya tertawa.

 

***

 

“Hey jagi.” Soojung baru saja akan memasuki lift kantornya, langsung dirangkul oleh seorang pria berkaca-mata.

 

“Oh hey, Donghae Oppa.” Soojung tersenyum melihat pria tampan yang sekaligus rekan kerjanya tersebut. Tujuh bulan yang lalu Soojung mendapatkan panggilan kerja di salah satu Perusahaan terkenal yang bergerak di bidang pembangunan. Soojung menyukai pekerjaannya. Walaupun usaha orangtuanya cukup untuk menghidupinya, bukan berarti dia ingin menganggurkan gelar sarjananya.

Butik Ibunya sudah dia titip kepada sepupuya untuk di kontrol. Jadi, Soojung tidak mempunya beban pikiran lagi, kecuali satu, Choi Minho tentunya yang terus menjadi parasit di pikirannya.

 

Ah, benar. Donghae adalah pacarnya. Mereka mulai berpacaran 5 bulan yang lalu. Soojung juga bingung kenapa dia bisa menerima pria ini. Mungkin karena dia sangat baik. Ketampanannya adalah bonus.

 

“Nanti malam kita dinner bersama ya, ada yang ingin aku katakan.” Ucap Donghae sambil berpegangan tangan di dalam lift. Soojung tersenyum dan mengangguk.

 

“Baiklah.”

 

***

 

“Oppa.” Soojung tak bisa berkata apa-apa. Di sebuah restoran mahal yang hanya di booking untuk mereka berdua saja, tiga orang pemain biola yang berdiri tepat dibelakangnya memainkan musik yang sangat indah. Di hadapannya, Donghae memberikannya bunga mawar dan sebuah kotak Red Vevet yang terikat manis dengan pita.

 

“Soojung ah, aku tahu hubungan kita belum berlangsung lama. Tapi, selama beberapa bulan ini, aku yakin kalau kau adalah satu-satunya untukku. Kau ditakdirkan untukku. Kumohon, menikahlah denganku.” ucap Donghae halus setelah membuka kotak cincinnya. Soojung yang speechless hanya bisa berdiri dari kursinya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Cincin yang dia beli begitu cantik. Soojung terharu melihatnya. Tapi entah kenapa kata-kata Donghae tiba-tiba membuatnya teringat pada lelaki yang dia benci itu.

 

“Kau akan menikah denganku, Soojung ah.”

“Kita sudah ditakdirkan bersama.”

“Aku sudah malas mencari pacar baru, kau adalah satu-satunya untukku.”

 

Tanpa sadar, Soojung kembali menangis tersedu-sedu.

 

***

 

Paris

 

“Mr.Choi, bisa minta tolong kau membawakan file ini kepada Direktur Wales?” tanya seorang kepala divisi di perusahaan international tempat Minho bekerja.

 

“Ah, baik, Pak. Dengan senang hati.” Minho adalah seorang yang sangat telaten. Dia adalah Supervisor di perusahaan ini. Dan sejauh ini, dia masih menikmati pekerjaannya tanpa memikirkan hal lain.

 

“Hey, Choi. Letakan saja di mejaku.” Ucap Direktur mereka yang sedang bersantai di kursi tamu. Minum kopi tentunya. Kebiasaannya di siang hari.

 

“Baik, Pak.”

 

“Hey Choi, kau sudah 26 tahun kan? Belum ada niat mencari pasangan? Aku akan mengaturmu di blind date. Kebetulan anak perempuan dari Perusahaan Eagle masih single. Dia cantik. Wajahnya juga oriental. Sepertinya cocok denganmu.” Tawar sang Direktur yang ramah dan akrab dengan karyawannya itu. Minho tertawa dan menggelengkan kepalanya dengan sopan.

 

“Tidak, Pak. Terimakasih. Aku sudah mempunyai calon istri di Korea.”

Jawab Minho dengan senyumnya yang khas. Direkturnya terkejut.

 

“Benarkah? kau tidak pernah mengatakannya. Semua orang disini mengira kau single selama ini. Ternyata kami tertipu. Cepatlah menikah dan undang kami kalau begitu. Atau bawa calon istrimu ke Paris.”

Minho tertawa.

“Iya Pak. Aku akan membawanya ke Paris. Aku pasti akan memperkenalkan dia kepada kalian semua. Dia adalah wanita terindah yang pernah aku temui.”

Direktur Minho tertawa. Minho memang terkenal sebagai mood maker di perusahaan ini. Sepertinya dimanapun Minho pergi dan berada, dia selalu membuat orang tertawa. Tapi mungkin Minho tidak sadar, kalau kapanpun dia meninggalkan orang lain, dia juga selalu membuat orang  menangis.

 

***

Minho, yang kelelahan karena harus lembur hanya bisa membanting dirinya di sofa. Menatap langit langit apartemennya dalam diam. Berkutat dengan banyak pemikiran yang selalu datang dipikirannya setiap dia pulang.

 

“Satu tahun. Sedikit lagi selesai. Mudah-mudahan dia belum mencintai siapapun. Bisa mati aku kalau dia akan menikah dengan orang lain.” Minho tersenyum kecil sambil menutup mata. Tapi matanya terbuka lagi mengingat dia harus mengecek email dari Soojung. Hanya sekedar mengecek, bukan membalasnya. Dia hanya ingin tahu keadaan mereka, tapi tidak ingin memberitahukan keadaannya. Lagian dia sedikit kesal sudah satu bulan ini Soojung berhenti mengiriminya email.

 

Minho membuka laptopnya dan mengecek emailnya. Ajaib. Ada satu pesan masuk. Dan itu dari Soojung. Namun senyum Minho menghilang saat membaca satu kalimat singkat itu.

 

“Aku akan menikah. Besok kau harus ada disini. Kau bilang akan datang kalau aku sudah menemukan pria yang aku cintai. Kau sendiri yang menyuruhku mengundangmu.”

 

Wajah Minho terjatuh di kedua tangannya. Dia hampir gila membacanya. Soojung yang dia yakini akan menikah dengannya ternyata sudah menemukan orang yang dia cintai. Tamat sudah. Kali ini Minho benar-benar harus menyerah. Minho tertawa.

 

“Aku ikut bahagia Soojung ah. Wah, kau mendahuluiku. Selamat. Besok aku pulang.”  Ketik Minho sambil menangis terisak. Balasannya yang pertama dan terakhir untuk Soojung sebelum dia bertemu dengannya dan melihatnya menikah dengan orang lain.

 

Bagaimanapun gilanya sikap Minho, tetaplah dia hanya seorang laki-laki yang hanya mengenal satu cinta di hidupnya, Jung Soojung. Dia sangat menyayangi wanita itu. Wajar saja kenapa dia menangis. Seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk wanita itu. Dia pernah berpacaran lama dengan beberapa wanita, tapi yang dia rasakan pada mereka hanyalah perasaan peduli dan sayang, bukan cinta. Hanya untuk Soojung lah perasaan itu. Dia tidak menyangka rencananya untuk menjauh menuruti perintah Soojung malah membuat mereka semakin jauh. Soojung akan menikah, dan bukan dengannya. Dan disinilah Minho tahu kalau dia harus menyerah. Dia mungkin sering bercanda untuk menyangkal kenyataan. Tapi kali ini sepertinya dia tahu diri.

 

***

 

“Ya Tuhan, Choi Minho! Dari mana saja kau, anak nakal!” Teriak Ibu Soojung yang berlari dari dalam rumah saat melihat Minho berjalan di luar rumah masih dengan koper di tangan kanannya. Dia sangat terkejut melihat Minho setelah satu tahun tidak melihat anak ini. Ibu Soojung langsung memeluknya erat dan menangis.

 

“Kemari kau anak sialan!” teriak Ayah Soojung yang berdiri di pintu rumah. Melihat pemandangan dua orang yang berpelukan di teras itu. Matanya berair memandang mereka. Minho tertawa dengan mata berair kemudian melepas pelukan Ibu Soojung. Melepas kopernya dan berlari kecil menghampiri Ayah Soojung. Memeluknya.

 

“Aku rindu kalian, Om” ucap Minho dengan suara bergetar. Dan akhirnya tangisannya meledak di pundah Ayah Soojung. Memeluknya dengan erat. Ayah Soojung hanya tersenyum dan membuang nafas lega.

 

“Selamat datang kembali ke rumah, nak.” Ucapnya.

 

“Naiklah, Soojung menunggumu di kamarnya. Aku tidak percaya padanya saat dia bilang kau akan datang. Tapi Soojung begitu percaya diri kalau kau akan menepati janjimu. Pergilah, dia sedang bersiap-siap untuk mendaftarkan pernikahannya di catatan sipil.” Minho menghapus airmatanya dan tersenyum pahit. Tanpa sepatah kata dia naik ke kamar Soojung. Dia harus ikhlas. Asal Soojung bahagia apapun itu akan dia kabulkan. Dia terus menerus mengulang kalimat ini saat di bandara.

 

“Apa lihat-lihat? Ada yang salah dengan penampilanku?” adalah pertanyaan pertama Soojung sesaat setelah dia melihat Minho. Matanya berair melihat pria ini setelah setahun pergi tanpa berita.

 

“Uh. Hey, Soojungie. Lama tidak bertemu.” Gumam Minho gugup. Menggaruk kepalanya. Sesaat tadi dia ingin menangis karena merindukan wanita ini, tapi airmatanya tertarik kembali melihat wajah muram Soojung.

 

“Antar aku ke catatan sipil. Aku ingin mendaftarkan pernikahanku. Calon suamiku baru saja sampai dari bandara jadi kau harus menemaniku sekarang.” Soojung langsung menarik tangan Minho yang tidak tahu apa-apa dan berjalan cepat menuju ke luar rumah. Minho yang di bully seperti ini berusaha meminta pertolongan orangtua Soojung dari terkaman wanita ini saat melihat mereka di ruang tamu, tapi mereka hanya meminta maaf dan menyuruhnya menuruti perintah anak itu. Minho hanya tidak melihatnya saja, Soojung yang berjalan didepannya sebenarnya menangis.

 

Sepanjang perjalanan dengan mobil Soojung, Soojung hanya terus menatap ke luar jendela.

 

“Hey,aku masih jetlag. Kau tega membuat orang jetlag yang patah hati mengantarmu mendaftarkan pernikahan? Aku bahkan belum mandi loh.” Minho berusaha mencairkan suasana tapi tidak di gubrisnya. Akhirnya dia menyetir dalam diam.

 

***

 

“Nyonya Jung Soojung, giliran anda.”

 

Pegawai ditempat itu memanggil nama Soojung dan dia langsung berdiri dengan semangat. Membawa amplop form pernikahan yang sudah dia isi, tandatangan, dan cap sebagai persyaratan. Choi Minho yang melihat Soojung pergi menghampiri petugas itu hanya membuang nafas kesal bercampur sakit hati. Dimana sejarahnya kalian mengantar orang yang kalian cintai untuk mendaftarkan pernikahan mereka dengan pria lain? Saat kau masih jetlag dari perjalanan belasan jam di udara? Hanya Choi Minho mungkin. Dia hanya terus meminum Americano dinginnya sambil melihat-lihat koran yang tersedia. “Choi Minho, game over.” gumamnya untuk dirinya sendiri dalam hati sebelum berusaha move on dari kenyataan untuk sementara waktu dan fokus membaca koran yang membahas kasus korupsi.

 

 

“Tuan Choi Minho! Tuan Choi Minho!” Minho kaget berdiri dan Americanonya pun tumpah. Terlalu asik membaca koran sampai dia tidak sadar kalau petugas juga memanggilnya.

 

“Ah, saya?” Minho menghampiri Soojung yang masih berdiri di loket dan sedang memandang Minho dengan kesal.

 

“Tinggal anda yang belum memberikan cap sebagai suami. Semua wakil, orangtua dan istri anda sudah mengisinya. Tolong dilengkapi. Kalau tidak pernikahan kalian berdua tidak akan sah.” Jelas sang pegawai. Minho membulatkan matanya masih belum mengerti. Dia menatap Soojung meminta pencerahan. Soojung hanya memutar matanya dan balik memarahinya.

 

“Kau tuli? Sudah jelas kan, cap form itu! Suami sama sekali belum menandatangani dan memberi capnya! Bagaimana kita bisa sah kalau begini, bodoh! Apa kau tidak mau menikah denganku?” tanya Soojung kesal dan membuang muka. Mukanya memerah, sebenarnya.

 

Minho yang baru menyadari maksud dari semua ini hanya bisa meneteskan airmatanya sambil tertawa.

 

“Astaga, aku benar-benar bodoh!” ucap Minho pada petugas itu. Soojung masih membelakanginya. Minho menggelengkan kepalanya masih tak menyangka dan langsung mengisi form itu sambil menangis. Sentuhan terakhir yang dia berikan adalah cap sebagai tanda kalau mereka sudah resmi sepasang suami istri.

 

“Aku suami wanita ini sekarang?” tanya Minho menunjuk Soojung, masih tak percaya. Petugas itu tertawa dan mengangguk.

 

“Selamat atas pernikahannya, Tuan Choi, Nona Choi.” ucap petugas itu. Minho membungkuk sebelum menyeka airmatanya dan langsung merangkul Soojung untuk pulang.

 

“Jangan merangkulku, kodok gila! Kau bikin lalu!” Soojung berusaha melepaskannya tapi Minho mempererat rangkulanya sambil berjalan.

 

“Kau tidak bisa melepaskan dirimu, Nyonya Choi. Banyak yang harus kau jelaskan padaku. Kau tidak bisa lari setelah mengerjaiku seperti ini gadis manis!”

 

Sepanjang perjalanan pulang, Soojung kembali membuang muka dan terus melihat keluar jendela. Tapi kali ini ada yang berbeda, Minho terus menggenggam tangan Soojung, istrinya yang sah. Minho hanya diam dan terus tersenyum. Masih tidak menyangka dia sudah menikah dengan istri idamannya. Jung Soojung pun sama sekali tidak protes dengan tangan Minho.

 

“Ah sial, aku sangat merindukanmu Soojung!” ucap Minho keras sambil mengelus tangannya. Soojung menyembunyikan senyumnya dan membuang nafas lega. Sesampainya di depan rumah, Soojung akhirnya angkat bicara.

 

“Jangan disini.”

 

“Hm? Maksudnya?”

 

“Turun dirumahmu, bodoh. Aku selalu tinggal disana selama ini.” Gumam Soojung pelan. Minho menangkap maksudnya dan langsung berputar di parkiran dan berpindah ke sebelah, rumahnya sendiri yang sudah lama tidak dia tinggali.

 

***

 

“Nah sekarang kita bebas berbicara. Jelaskan padaku, Nyonya Choi.” Minho duduk di sofa ruang tamunya dan memangku orang yang telah menjadi istrinya sambil memeluknya. Sesekali dia mengelus pipinya dan merapikan rambutnya yang terus saja terjatuh. Muka Soojung sangat merah tidak tahu harus memulainya dari mana. Namun akhirnya dia berani mengatakannya.

 

“Kan kau sendiri yang bilang kau akan pulang kalau aku sudah menemukan orang yang aku cintai. Dan aku harus mengundangmu. Aku mengikuti apa yang kau katakan. Aku sudah menemukan cinta itu. Dan akhirnya aku menyuruhmu pulang karena aku harus menikah denganmu. Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Aku percaya diri kalau kau tidak punya pacar di Paris sana. Kau kan tergila-gila padaku.” Terang Soojung, menatap mata Minho dengan percaya diri. Minho tertawa melihat sikap wanita yang dia cintai ini kemudian menyentilnya pelan.

 

“Lain kali jangan seperti ini ya. Aku bahkan belum melamarmu dengan layak. Kau tega menikahi orang yang masih lelah dan terkena jetlag setelah perjalanan panjang.” Soojung tersenyum dan mencium bibirnya singkat. Minho sedikit kaget dan ingin merasakannya lagi.

 

“Maaf. Lain kali aku tidak akan mengulanginya. Aku janji aku hanya akan menikah sekali saja!” ucap Soojung manis. Minho tertawa terbahak bahak dan memeluknya. Istrinya begitu menggemaskan. Dan beberapa saat kemudian, Minho yang masih memeluknya, menyandarkan kepalanya di pundak Soojung dan menutup matanya.

 

“Maafkan aku karena pergi meninggalkanmu selama ini. Kau tahu kan aku hanya seorang yang penurut.”

 

“Aku tahu.”

 

“Kita akan pindah ke Paris. Kota impianmu.”

Mata Soojung melebar dan melepas pelukan mereka. Memegang kedua pundak Minho.

 

“Kau serius?”

Minho tersenyum dan menempelkan kedua hidung mereka sambil menutup mata.

 

“Sebenarnya selama satu tahun ini aku membuat rumah impian yang selama ini kau inginkan. Kau ingat, waktu SMP kau pernah menggambar sebuah rumah idaman? Kau bilang kau ingin tinggal di paris dengan rumah seperti itu. Kau menangis karena gambarmu itu hilang. Aku yang mencurinya. Walaupun gambarmu acak-acakan, aku selalu menyimpannya karena suatu hari aku ingin mengabulkannya untukmu. Dan rumah itu hampir selesai. Mahal sih.” Celetuk Minho di akhir perkataannya. Soojung mengangkat wajahnya dan tersenyum. Menangis.

 

“Aku mencintaimu, Choi Minho.” Ucapnya tulus. Ini pertama kali dalam seumur hidup Choi Minho mendengar pengakuan dari wanita yang sangat dia cintai. Kalau ini bukan surga, apa lagi.

 

Minho langsung memegang kedua wajah Soojung dan mengecup bibirnya singkat. Sebelum akhirnya kembali mencium bibir Soojung. Menikmati ciuman mereka dengan cukup lama sebelum akhirnya Minho mulai menciumi leher istrinya itu. Tangannya mulai melepas kancing kemeja yang dipakai Soojung sambil kembali mencium Soojung dengan penuh gairah. Dia sangat menyukai bibir wanita ini. Sudah lama dia ingin menciumnya. Pernah satu kali Minho mencuri ciuman pertama Soojung saat masih SMA. Minho mengecup bibir gadis itu saat masih tertidur kemudian melarikan diri karena takut ketahuan. Untungnya tidak ada yang pernah tahu akan hal itu dan Minho juga tidak berani mengatakannya apalagi mengulanginya.

 

Saat kemeja Soojung terlepas dan tersisa bra nya saja, Minho tersenyum menatapnya.

 

“Ternyata perkiraanku benar. Dadamu bertambah besar. Hehe. Akhirnya semua mimpiku akan terkabul sekarang juga. Siap-siap Soojung, kita sudah sah! Resepsi pernikahannya gampang, yang penting itu makanan pembukanya. Benar tidak?” tanya Minho iseng sambil mulai membuka bra itu. Soojung yang mendesah akibat sentuhan Minho memukul bahunya pelan.

 

“Bukannya kau lelah, Minho? Kau tidak mungkin bisa melakukan semua yang terjadi di mimpimu itu hari ini kan.” Protes Soojung, Minho hanya tertawa sebelum menempelkan bibirnya ke payudara istrinya yang sudah menegang. Soojung mendesah nikmat.

 

***

 

Banyak hal yang mereka lakukan sebelum akhirnya saat yang paling di antisipasi sekaligus ditakuti oleh Soojung datang juga. Minho gugup. Dia memegang miliknya dan mengarahkannya ke lubang vagina Soojung. Soojung sudah terbaring di sofa dengan kedua kaki yang sudah terbuka lebar.

 

“Ah, Minho! Sakit!”

 

“Ah, sedikit lagi, Soojung!”

 

“Sakit! Minho! Ini sakit!” Soojung meringis menutup mata. Minho mencium bibirnya. Dia juga sedikit ketakutan melihat Soojung yang kesakitan. Mereka berdua berkeringat. Sama-sama bodoh akan hal ini. Kalau soal menonton film porno dan melakukan masturbasi, sudah sering dilakukan Minho sendiri. Tapi, melakukannya dengan orang yang dia cintai, dia gugup dan takut untuk menyakitinya. Beberapa kali Minho mencoba mengeluar-masukkan miliknya sampai akhirnya Soojung terlihat mulai nyaman dan mengikuti permainannya. Kelamin mereka akhirnya cocok untuk satu sama lain.

 

“Ah. Soojung ah. Ini tidak seperti yang ada dimimpiku. Tapi, Ah! Sial. Aku senang kau menjadi istriku! Ah! Ini hebat Soojung. Kau mengelilingiku dengan kencang! Ini lebih baik dari yang aku duga.”

Minho memajukan pinggulnya dengan ritme sedang dan mulai mengangkat kedua kaki Soojung di pundaknya. Ingin melakukannya lebih dalam lagi.

 

“Ini luar biasa, tapi ini sakit, Minho. Uh!” desahnya keras.

 

“Ayo lakukan bersama Soojung.” Soojung mengikuti pinta suaminya itu dan mulai memaju mundurkan pinggulnya. Dia mulai merasakan sensasi terbaik dari berhubungan seks dan mulai mendesah tak karuan. Ini adalah hal terindah dalam menjalani hubungan intim, Soojung sekarang mengerti kenapa pasangan kekasih suka melakukan ini.

 

“Ah, Minho! Lagi! Lebih cepat!”

Minho tersenyum dan mengabulkan permintaan istrinya.

 

Sore itu, mereka melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali di atas sofa Minho yang tak berdosa itu. Sofa itu kini memiliki noda merah. Minho merenggut keperawanan Soojung di umur Soojung yang ke 23 tahun. Minho akhirnya mengeluarkan cairannya di dalam vagina Soojung secara nyata. Bukan mimpi belaka. Dan itu adalah hal yang paling luar biasa baginya. Dia senang karena melakukan hal ini dengan wanita yang dia cintai. Terlebih, dia senang akhirnya memiliki wanita ini seutuhnya.

 

 

END

 

***

 

“Huh, kenapa handphoneku penuh dengan foto selca mu? Apa kau tidak merasa terlalu berlebihan, istri? Oh Tuhan! Wajah tampanku kau musnahkan? Mana folder folder fotoku? Ya!” Minho yang baru melakukan temu kangen dengan Iphonenya yang dia tinggalkan di korea kaget dengan memori hp nya yang hampir full dengan foto Soojung sehari-hari. Banyak juga rekaman Soojung yang memarahi bahkan memaki Minho untuk cepat pulang atau menyuruhnya mati saja kalau tidak mau pulang.

 

“Aku tahu kau sangat mencintaiku. Tapi jangan iphoneku yang kau nistai.”

 

“Sudahlah Minho, jangan mempermalukan istrimu terus.” Ucap Ayah Soojung. Ibunya tertawa.  Soojung hanya memakan sarapannya dengan santai, tak mau menggubris suaminya itu. Minho masih serius melepas kangen dengan gadgetnya itu dengan terus mengomel.

 

“Nah, nah, apa ini? Ya! Siapa suruh kau berfoto dengan pria lain di hp ku?” Minho mulai sensi saat melihat beberapa foto Soojung bersama pria berkacamata. Foto mereka cukup mesra. Ada yang berpelukan bahkan  ada foto dimana Soojung mencium pipi pria itu.

 

“Ah, itu pasti Donghae kan, Soojung? Anak itu begitu baik saat kalian pacaran.” tanya Ibu Soojung. Soojung memberikan kedipan ‘jangan mebahasnya’ pada Ibunya tapi sudah terlambat. Minho kini menatapnya tajam, siap menerkam.

 

“Donghae orang kaya loh, Minho. Mobilnya Ferarri! Bayangkan!” sambung Ayah Soojung mengompori. Soojung menatap kesamping dengan perlahan, langsung disambut suaminya yang kini mengangkat alisnya bak bos yang perlu penjelasan.

 

“Marah? Ayolah. Kami sudah putus. Dan itu karena kau. Saat dia melamarku kau langsung muncul seperti setan dan mempengaruhi pikiranku. Kami juga hanya berpacaran beberapa bulan. Lagian sekarang kita sudah menikah. Tinggal hapus saja kan.” Ucap Soojung membela diri. Memakan sandwichnya. Minho tertawa sinis dan menggeleng.

 

“Begini ya, istri. Aku tidak marah kau pacaran dengannya. Aku marah karena aku lebih tampan darinya. Kan sudah kubilang di surat itu. Kalau cari pacar harus lebih tampan dariku!” Ucap Minho sebelum mencubit pipi istrinya gemas. Ayah dan Ibu Soojung hanya tertawa melihat mereka berdua.

 

“Sudah-sudah. Ini sudah jam berapa. Berhentilah bertengkar. Kalian harus mencari gaun pengantin untuk resepsi kan!” potong Ibu Soojung. Adu mulut pun berakhir dengan sendirinya.

 

***

 

Saudara-saudara, ternyata Minho tidak pernah salah. Dia mengatakan Soojung akan menjadi istrinya dan dia benar. Maaf Minho, kami sempat meragukanmu.

 

THE REAL END

****

 

 

Woops, DONE! Gimana saudara-saudara? Apa ff nya cukup sebagai permintaan maaf Patty yang hiatusnya keterlaluan? Sibuk kerja guys. Kadang udah malas nulis. Tapi kemaren libur panjang jadi iseng nulis and senengnya bisa bkin ff comeback yang ga seberapa ini. Terakhir aku nulis WARM & COLD minstal. Dan aku juga senang respon untuk ff itu banyak di blog.

Oh by the way, mungkin kalian udah lupa Patty tapi please komen ya. Ffnya kyanya kepanjangan. Mudah-mudahan saja kalian ga bosan ya. Saya capek ngetiknya TT. Jadi mudah mudahan dihargai lah.

Bye bye!

 

Twitter: @Patty19992

IG: @Pattytirz

Facebook: Patricia Tirza Lapoliwa

 

 

Categories: Fanfiction, Shiny Effects | Tags: , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “STICKY!

  1. Suka banget dengan ff nya. Mengobati rindu akan minstal. Update lagi ya cerita baru tentang minstal. Di tunggu.. semangat..

  2. patty emang keren dah!!! selalu dibikin speechless sama ff karyamu.. semuanya bagussss!!! jadi bingung apanya yg dikomen. wkwkwkk

  3. Bela

    Nangis bacanya…. kesenengan akhirnya rinduku terbalas sama minstal:”) walaupun 4 tahun penantian minstal sedikit terusik pas april mop kmrn :” seneng bgt kak akhirnya bikin minstal lg:”

  4. Gatau kenapa aku nangis :”)

  5. dvapril

    Waaahhh… akhirnya ada ff minstal.
    Daebaaaakkk ff nya..
    Ditunggu ff minstal berikutnya🙂

  6. Ampun thor ini ff lucu ngakak yadong ah campur aduk lahh karakter minstal jd lucu bgt yaaa apalagi minho tuh somplak abis hahaha ditunggu ff yg lain yaa thorrr keep writing moah

  7. Aku suka kesel kallo ka patty ngepost ff. Suka baper saya kak. Baper loh kak tanggung jawab kakk😢 jd kangen minstal elah kangen shineefx juga eh tp we wont never see taelli again kalo gini caranya;_; kaaa suka lah ff kaka intinya. Kak taelli juseyooo;;) hihii

  8. kak pattyy~ ><
    udah lama ga baca ff karya kak patty :"D ffnya bagus loh, diksinya jg bagus jadi nyaman dibaca. feelnya kerasa banget. aku kangen minstal huhuhu T^T
    kak, kalo ada waktu luang buat ff minstal atau taelli dong ya ya ya /puppy eyes/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: